Raditya Dika bersama Hilman Ferdinand membahas perjalanan bisnis properti dan YouTube channel Arsitektur Indonesia selama pandemi.
Ask about this video. Answers come from its transcript only — with the timestamp, so you can check them.
Generated from the transcript and can be wrong — check the timestamp.
Key Takeaways
- YouTube dapat menjadi alat efektif untuk promosi bisnis properti terutama saat pandemi.
- Bisnis desain and build menggabungkan jasa arsitektur dan konstruksi untuk efisiensi.
- Adaptasi dan konsistensi penting dalam membangun channel YouTube dan bisnis.
- Flipping rumah dan pengembangan perumahan adalah strategi utama Hilman dalam bisnis properti.
- Kesiapan, keberuntungan, dan pemahaman pasar sangat menentukan keberhasilan bisnis properti.
What the video covers
- Hilman Ferdinand adalah entrepreneur, arsitek, dan pemilik channel YouTube Arsitektur Indonesia.
- Channel awalnya fokus review rumah dan berkembang saat pandemi karena proyek konstruksi terhenti.
- Perusahaan Hilman adalah desain and build, menggabungkan jasa desain dan konstruksi.
- Pandemi Covid-19 menyebabkan penghentian proyek dan pengembalian pekerja dengan cara unik.
- Mereka memulai YouTube sebagai cara bertahan dan promosi bisnis properti dengan modal sederhana.
- Raditya dan Hilman membahas tantangan awal membuat video, termasuk komentar negatif dan adaptasi gaya bicara.
- Bisnis properti yang dijalankan termasuk flipping rumah dan pengembangan perumahan di BSD.
- YouTube menjadi alat penting untuk pemasaran dan membuka peluang klien baru.
- Diskusi juga menyentuh peluang dan risiko dalam bisnis properti serta pentingnya kesiapan dan keberuntungan.
- Hilman berbagi pengalaman pribadi dan strategi dalam mengelola bisnis properti dan konten digital.
Chapters
- 00:00Perkenalan dan latar belakang Hilman Ferdinand
- 02:59Penjelasan bisnis kontraktor desain and build
- 05:59Pengalaman awal membuat konten YouTube selama pandemi
- 08:54Tantangan dan respons terhadap komentar negatif
- 12:54Strategi dan perkembangan channel YouTube Arsitektur Indonesia
- 15:33Bisnis flipping rumah dan pengembangan properti
- 18:21Peluang pasar properti dan pemasaran melalui konten digital
- 20:41Pengalaman pribadi dan tips sukses bisnis properti
Full Transcript — Download SRT & Markdown
Speaker A
Hari ini kita bersama Hilman Ferdinand, seorang entrepreneur, arsitek, dan pemilik YouTube channel Arsitektur Indonesia. Terima kasih sudah mampir ke sini.
Speaker A
Halo, Mas Radit. Rumah daerah mana? Daerah Bintaro. Cuman kita lagi bangun di BSD nih.
Speaker A
Lagi bangun di BSD. Karena kan sekarang El mulai masuk ke developer rumah ya. Iya.
Speaker A
Berapa tahun terakhir itu? Sejak 4 tahun terakhir kayaknya ya. 4 tahun terakhir gitu. Sejak kita punya YouTube channel lumayan meledak, kita mulai beraniin diri untuk jadi developer sendiri.
Speaker A
Oke. Oh, gue establish konteks dulu ya. Arsitektur Indonesia itu kan sebuah YouTube channel. Itu isinya apa?
Speaker A
Awalnya itu review-review rumah aja. Jadi kita tuh mikirnya kan zaman dulu waktu kita mau bikin ini, wah ini ada Fitra Eri, nih ada Ritwan Hanif di mobil gitu. Sedangkan di rumah kan belum ada.
Speaker A
Ya udah kita coba-coba aja. Tapi sebenarnya itu juga kecelakaan sih, Mas Radit. He gitu. Jadi waktu awal itu kita kan sebenarnya kontraktor rumah mewah. Jadi kita kerjain rumah di Kelapa Gading, kita ngerjain rumah di Kayu Putih, habis itu kita juga ada workshop furniture kan segala macam. Nah, waktu pandemi itu tiba-tiba semua pekerjaan kita harus diop. Oke.
Speaker A
Kenapa diop? Karena kalau di rumah-rumah elit kayak gitu kan pasti Pak RT-nya lebih parno tuh.
Speaker A
Oke ya kan? Jadi RT-nya tetangga juga parno. Semua orang parno lah. Apalagi zaman yang pertama-pertama kan seram banget ya Covid ya. Akhirnya ya udah kita harus pulangin 120 tukang waktu itu total.
Speaker A
Oke. Dan itu mulanginnya seru sih. Jadi kita mulanginnya tuh pakai truk sampah gitu, Mas. Jadi kita masukin truk sampah bayar Rp500.000 seorang.
Speaker A
Oh iya. Habis itu di perbatasan itu sampahnya di belakangnya mereka gitu. Jadi ketika dibuka kan zaman itu kan enggak boleh keluar Jakarta kan.
Speaker A
Oh karena enggak boleh keluar. He cuma kan kita Heeh. mau gimana kerjanya kan. Jadi akhirnya mereka pulang bayar Rp500.000 seorang lewat truk sampah. Nah, habis sampai gitu kan di rumah kita bingung biasanya ngurusin kerjaan terus mau ngapain nih gitu kan.
Speaker A
Biasanya bikin rumah sekarang enggak boleh punya project apapun. Enggak ada projek apapun dan projectnya sebenarnya berhenti di tengah kan.
Speaker A
Ada yang lagi baru genteng apa segala macam gitu kan. Sakit kepala tuh waktu itu.
Speaker A
Sakit kepala, sakit kepala banget. Sampai zaman itu ya orang pada bikin nanam-nanam bayam kan zaman itu.
Speaker A
Betul betul betul. Nanam bayam, nanam kangkung segala macam lah. Ngocok Dalgona. Ah macam-macam. Zaman eh zaman itu ya zaman itu separah itulah. Jadi akhirnya ya udah kita coba dari kantor daripada bingung ya udah kita jalan deh ke mana nih? Ke itu aja ke rumah developer gitu ya.
Speaker A
Jalan ke rumah developer. Rumah developer bawa kamera. Waktu itu masih pakai S7 Samsung. Eh boleh kan nyebut merek ya?
Speaker A
Enggak apa-apa. Ya udah kita udah shoot-soot segala macam ya udah upload sesimpel itu aja.
Speaker A
Oke. Tapi waktu itu kita juga bilang kan nih kalau misalnya kita bikin YouTube kayak gini ada perjanjian lah gitu. Paling enggak 30 episode baru pensiun lah.
Speaker A
Enggak, enggak ngerti maksudnya apa tuh. Jadi kita kalau kita mau masuk YouTube itu waktu itu boleh kita masuk YouTube. Cuma kita udah tua nih kalau cuma bikin satu habis itu kita enggak upload lagi entar dibilang apa sama orang kan. Jadi kita harus janji dulu nih kalau kita mau bikin 30 episode habis itu enggak laku baru kita bubar ya udah gitu komit nih.
Speaker A
Lu ngomong ke tim maksudnya ke teman-teman ya di perusahaan kontraktor itu. Iya. Coba satu-satu ya.
Speaker A
Perusahaan kontraktor itu apa sih sebenarnya? Kontraktor itu kalau di gua kan desain and build.
Speaker A
Heeh. Jadi ada klien datang ke gua, dia minta dibikinin rumah, habis itu kita gambarin. Habis kita gambarin ya kita hitungin RAB-nya, rancangan anggaran biayanya, habis itu ya udah kita bangunin gitu.
Speaker A
Nah, kontraktor itu bagian yang ngebangun atau lu gambar dan lu bangun termasuk? Kalau desain itu kan konsultan.
Speaker A
Oh. Kalau build itu kontraktor. Oke. Nah, kalau kita kan desain and build. Oke. Oke. Artinya ketika lu bicara tadi lu perusahaan kontraktor sebenarnya lu perusahaan konsultan dan konstruktinya.
Speaker A
Oh. Jadi lu satu paket gitu. Satu paket desain and build sebutan orang sinilah ya.
Speaker A
Oke. Di perusahaan kontraktor itu ketika lu mencetuskan bikin YouTube He. Itu datangnya dari mana? Maksud gua kan ada banyak hal lain yang mungkin kalian bisa lakuin gitu.
Speaker A
Maksudnya kenapa YouTube pada saat itu dan kenapa ide-idenya dari lu soal itu? Ee sebenarnya dulu kita pernah nyoba bikin YouTube juga. Heeh.
Speaker A
Iseng-iseng lah bikin kayak apa namanya masak-masak gitu. Pernah pernah pernah bikin namanya Bineka Rasa Indonesia gitu.
Speaker A
Pakai semen atau Belinda waktu itu iseng aja gitu. E kenapa YouTube masak? Ee ya karena dulu kita baru pindah rumah, habis itu kita ada dapur ya semua orang waktu itu bikin YouTube kan.
Speaker A
Oke ya. Ngelihat Mas Radit juga lah kan. Wah nih banyak orang bikin YouTube ya. Kita bikin YouTube lah gitu. Tapi ya itu cuman 5 episode, habis itu kita enggak lanjutin gitu. Jadi kita cukup mengerti sama video-videoan lah gitu. Karena kan kalau arsitek juga kita mesti ada dokumentasi kan. Jadi kita cukup mengerti tentang video-videoan lah dan apa untuk edit-editnya gitu.
Speaker A
Karena kalian lagi enggak ada pekerjaan, kalian mau bikin YouTube ini datang dari El. Bikinlah yang paling gampang nih yang lowest hanging fruit itu kan datang ke developer tempat lu ngerjain konstruksinya kan.
Speaker A
Hmm. Iya kan maksudnya ngreview itu kan karena itu paling gampang tinggal nelpon dong. Iya tinggal nelepon lu datang yang di depan kamera pertama lu gua langsung tuh ya langsung lu ya langsung.
Speaker A
Heeh. Dan kaku parah sih itu gimana perasaan kaku parah. Dan gua kaget sih karena kan di hidup gua tuh setiap hari cuman pendek sendal jepit karena kan emang gua adanya di konstruksi kan dan enggak penting-penting banget juga penampilan gitu. Jadi di YouTube pertama itu episode pertama gua pakai sendal Mas. Oke.
Speaker A
Dan itu dikomenin orang, dikomenin orang, "Lu enggak sopan lu di YouTube pakai sendal gitu." Enggak sopan di YouTube pakai sendal.
Speaker A
Iya, gua baru tahu tuh zaman itu ya kita kan enggak ngerti kayak gitu-gitu karena kita kan bukan anak entertainment lah gitu.
Speaker A
Betul betul betul. Kok bisa begini ya pertanyaannya? Habis itu zaman itu juga karena kan enggak bisa potong rambut dong.
Speaker A
Heh. Jadi gua yang motongin istri gua nih Belinda kan potong gitu lah. He. Bentuknya mungkin jelek gitu. Ada komennya nih barber lu udah mati nih?
Speaker A
Gitu. Itu gua kaget banget sih, ternyata di dunia YouTube ini orang komen tuh bisa segitu semaunya. Itu salah satu yang bikin kaget sih.
Speaker A
Kaget kaget. Masuk hati enggak? Mm ya, tapi sekarang ya udah enggak sama sekali sih.
Speaker A
Ketika awalnya masuk hati, apa yang membuat lu jadi apa? Kayak lu hapusin komennya, lu balas komennya.
Speaker A
Enggak, enggak. Gua mikir gini, Mas. Gua kan pengusaha dari awal pasti tekanan banyaklah.
Speaker A
Kalau kita ngelawan jadinya enggak asik juga. Ya, gua bilang aja sama di gua komen waktu itu yang dibilang barber lu udah mati ya segala macam. Gua bilang ya ini kan lagi zaman COVID. Gua jawab baik-baik lah gitu. Lu balas chatnya, balas komen nih. Balas komennya tapi baik-baik aja.
Speaker A
Oke. Setelah lu kaku di video pertama itu tim lu pada bilang apa? Kayak kayaknya kita cari host lagi atau semangat semangat bisa gitu.
Speaker A
Dulu tuh problemnya gini kan gua setiap ngomong itu gua misalnya ini ada meja nih bagus ya kan gitu ini ada ini ya kan ya kan ya kan gua banyak banget.
Speaker A
Heeh. Gitu. Dan gua ngelihat teman-teman juga komen nih, "Lu ngomong banyakan yakannya lu kayak Betawi gitu kan." Jadi ya mesti diperbaikin satu-satu lah dari situ. Habis itu yang gua coba gua ngelihatin Fitra Eri ngomong sih gua lihat gimana dia menggal-menggal kalimat dari satu ke satu tempat.
Speaker A
Oh lu nontonin Fitra Eri. Heeh. Gue tontonin gimana sih caranya nge-host kayak begitu. Walaupun gua ngerti knowledge-nya gitu kan cuma kan gimana cara menggal-menggalin kata-katanya gua ngikutin dia sih banyak.
Speaker A
Berarti video kedua sudah ada perbaikan kah? Video kedua lumayan. Vide
Speaker A
Ee dulu tuh problemnya gini kan gua setiap ngomong itu gua misalnya ini ada meja nih bagus ya kan gitu ini ada ini ya kan ya kan ya kan gua banyak banget.
Speaker A
Heeh. Gitu. Dan gua ngelihat teman-teman juga komen nih, "Lu ngomong banyakan yakannya lu kayak Betawi gitu kan." Jadi ya mesti diperbaikin satu-satu lah dari situ. Habis itu yang gua gua coba gua ngelihatin Fitra Eri ngomong sih gua lihat gimana dia menggal-menggal kalimat
Speaker A
dari satu ke satu tempat. Oh lu nontonin Fitra Er. Heeh. Gue tontonin gimana sih caranya nge-host kayak begitu. Walaupun gua ngerti knowledge-nya gitu kan cuma kan gimana cara menggal-menggalin kata-katanya gua ngikutin dia sih banyak.
Speaker A
Berarti video kedua sudah ada perbaikan kah? Video kedua lumayan. Video ketiga lumayan. Video kelima gua berpikir kita kayaknya enggak bisa cuman ee review property aja, kita mesti sharing knowledge gitu tentang gimana cara beli rumah pertama.
Speaker A
Karena gua pertama kali beli rumah tuh umur gua 25 tahun. Heeh. Dan itu gua ceritain gimana caranya dan ternyata untung gitu kan.
Speaker A
Ternyata untung. Masih untung ee ternyata beli rumah semakin muda itu ee lebih baiklah. Oh. KPR-nya berapa tahun waktu itu?
Speaker A
Waktu itu 20 tahun. Wow. 20 tahun. E rumahnya R25 juta. Oke. Habis itu gua cicil di R2.200-an.
Speaker A
Oke. Oke. Udah. Udah lunas kah? Kan bisa di lunasin di tengah-tengah tuh. Di 10 tahun ke depannya dari 25 berarti umur gua 35 tuh gua jual rumah itu. Tapi gua renovasi dulu.
Speaker A
Oh kalau ee berarti dilunasin dulu baru boleh dijual ya? Atau gimana sih? Biasanya kalau rumah KPR tuh enggak usah dilunasin kan dia tinggal over kredit aja.
Speaker A
Oh bisa gitu overredit. Oh, nanti harganya dicocokin dicocokinitu dengan sisa kredit yang harus dia bayar.
Speaker A
He. Oh I itu menarik sih rumah itu. Jadi, rumah itu gua beli R25 juta, Mas.
Speaker A
Iya. Heeh. Habis itu gua cicil kan Rp2.200 gitu. Berarti kan setahunnya itu sekitar hampir R3 juta lah.
Speaker A
Oke. I kan berarti gua udah nyicil itu udah 10 tahun. Nyicilah 10 tahun. Oke.
Speaker A
Berarti udah sekitar Rp300 juta ya kan plus DP-nya segala macam. Zaman dulu mungkin 30 plus lah R50 juta gitu. Habis itu gua renovasi habis di 500.
Speaker A
Heh. Berarti udah gua total ngeluarin rumah itu 850. Utang gua masih ada 150. Oke.
Speaker A
Ya kan baru setengah jalan kan. Iya. Habis itu gua jual 1,8. Oh wow. He. Itu emang kerjaan gua sebenarnya sebelum jadi developer sekarang ini flipping kan. Beli rumah tua bangun jual. Beli rumah tua bangun jual.
Speaker A
Kurang lebih kayak gitu. Oh. Berapa besar keuntungan yang pernah lu dapat dari flipping rumah ini?
Speaker A
Gua pernah record gua ya. Heeh. Beli R juta. Beli R00 juta. Betulin R50. Betulin R 250. Heeh.
Speaker A
Jual 1,9. Wih, dalam berapa tahun? Gua enggak pernah flipping itu misal flipping ya, kita beli bulan Januari, kita selesai di bulan Agustus paling 1 bulan setelah itu pasti hilang sih.
Speaker A
Gua belum pernah lewat 2 bulan hilang. Pasti hilang artinya pasti ada yang beli. Pasti ada yang beli.
Speaker A
Oh. Heeh. Selama lokasinya tepat. Gua cuma sekali-sekalinya tuh waktu itu di daerah sini juga gua bareng sama teman gua beli tanah, bangun rumah mewah. Karena waktu itu teorinya tuh kalau kalau mau jualan rumah either yang murah banget atau yang mahal banget.
Speaker A
Kata dia sih teorinya gitu dulu tuh. Terus gua gua bikin Heeh. cukup mahal pada saat itu. Terus lama gua nunggu ada 8 bulan 9 bulan kali kayak gua kayaknya gua enggak mau lagi deh gua bilang kayak hampir setahun lah pokoknya. Tapi
Speaker A
untungnya banyak enggak? Masukin masukin berapa? Keluarin berapa? Ee X aja lah. X ya. Y berapa? Mungkin 1 seteng kali lah.
Speaker A
1 seteng kali masukin satu dapat setengah lah gitu maksudnya. Cuman kayaknya buat gua kayak kayaknya gua enggak enggak bisa deh gini-gini gitu setelah I nunggunya kelamaan terus punya perasaan bahwa ada yang datang terus enggak jadi.
Speaker A
Ada yang bilang punya bisnis ini, bisnis ini ternyata enggak punya. Karena P. Tapi itu kan bukan urusan kita, urusan agen dong.
Speaker A
Ee nah ya pokoknya ada cerita soal itulah. Intinya adalah gua suka dikasih tahu soal progres. He.
Speaker A
Dan selalu progresnya hampir jadi, enggak jadi, enggak jadi. Itu gua kayak kayak gemes sendiri gitu loh.
Speaker A
Iya. Mestinya enggak usah dikasih tahu tahunya pas terima duit aja kayaknya gitu ya. Tapi kan udah berapa kan enggak semua orang sabar.
Speaker A
Benar benar benar kayaknya enggak cocoklah buat gua waktu itu. Berarti pas awal-awal itu house flipping jadi sumber penghasilannya lumayan ya.
Speaker A
Lumayan. Gua sampai bisa mulai jadi developer itu setelah 18 kali flipping. Oh. Lokasinya di Bintaro lah gitu. Haal mati gitu. Jadi kadang-kadang gua beli rumah tuh bahkan enggak ngelihat tempat ya tahu nama jalannya aja harganya murah.
Speaker A
Ya udah langsung beli. Langsung beli. Gimana cara lu bisa nemu ee properti yang harga murah tanpa harus keduluan orang. Kan biasanya kalau murah orang-orang yang juga level pengetahuannya sama kayak lu pasti udah bungkus duluan. Kalau di gua sekarang
Speaker A
kan karena semua marketing properti di Bintaro kenal gitu. Jadi setiap karena ada reputasi juga setiap ada rumah murah tuh pasti gua yang ditawarin duluan sebelum dia naik sebelum sebelum bukan maksudnya sebelum dia kasih ke jual di rumah 1 2 3 atau di
Speaker A
mana segala macam dia kasih tahu gua duluan. Kenapa? Karena ee mereka tahu kalau kita tuh emang pemain flipping dan kita ada cash-nya untuk itu gitu. Jadi kita ya mungkin koneksi juga kali ya. koneksi yang pelan-pelan dibuat gitu. Tapi dulu di awalnya kalau buat
Speaker A
teman-teman yang mau mulai itu sebenarnya paling gampang ee gua dulu waktu itu mulai sama Belinda setiap Sabtu sama Minggu tuh kita muterin ke rumah-rumah gitu satu-satu kanvasing Bintaro.
Speaker A
Bintaro ada tulisan dijual gua telepon dijual telepon gitu. Gilili dan itu ee awalnya kan pasti deg-degan juga Mas ya. Sama kayak ke sinilah ini kan juga deg-degan awalnya ya. Jadi ya awalnya deg-degan juga nelepon habis itu orangnya rese. Mungkin ada kasus
Speaker A
perceraian atau apa segala macam. Jadi pas dia telepon juga agak rese, habis itu telepon lagi, telepon lagi, telepon lagi, telepon lagi. Mungkin dulu tuh kita sampai nelepon 100 kali, 10 tuh yang benar-benar kita ajak ketemu satu yang kita beli gitu.
Speaker A
Masalah peluang aja kan, masalah probabilitas. Probabilitas berarti itu paling gede tadi R00 juta kali untungnya ya dalam sebulan ya tadi itu enggak dong, kan ada bangunnya juga.
Speaker A
Bangunannya 6 bulan kan. Oke. Kan beli lu beli rumah nih satu lantai lu bikin dia jadi dua lantai.
Speaker A
Oke. Habis itu lu jual. Oke. Jadi sebulan tuh maksudnya sebulan setelah jadi. Sebulan setelah jadi pasti hilang gitu.
Speaker A
Kalau lu kan tadi 7 8 bulan setelah jadi baru hilang apa gimana? Iya benar benar benar benar benar benar.
Speaker A
Jadi terasanya lama karena ada bangunnya juga kan. Jadi lu terima duit baru hampir 2 tahun gitu.
Speaker A
Iya benar. Oh oke. Pernah rugi enggak house flipping? Enggak. Enggak pernah sama sekali pernah rugi.
Speaker A
Karena emang kita setelah probabilitas 1101 itu hampir enggak mungkin rugi kan. He. Jadi sebenarnya cara beli rumah second yang paling murah itu paling simpel ya, Mas. Kita tuh tinggal ee telepon-teleponin satu-satu gitu. Habis itu kan kita tahu nih yang ini nih
Speaker A
tanahnya 112 bangunannya 45. Yang ini tanahnya 112 bangunannya 50. Yang ini 90 tanahnya yang ini 40 gitu kan segala macam gitu.
Speaker A
Nah itu rumah bekasnya itu kita hargain aja semua misalnya Rp3 juta kita hitung. Oke ya kan misalnya ee rumahnya 45 gitu. 45 dikali Rp3 juta gitu sekian gitu kan.
Speaker A
Habis itu harga tanahnya kita bagi kan ketahuan harganya kan. Heeh. Jadi begitu lu nelepon 10 10 biji itu lu tahu mana yang paling murah kan? Dan itu yang lu telepon lebih serius gitu.
Speaker A
Lu ajak ketemu, lu ajak apa segala macam. Itu butuh skill nego juga berarti ya untuk nurunin harga mereka.
Speaker A
Kalau rumah kayaknya negonya juga enggak bisa gede-gede banget sih. Oh berarti lu udah tahu nih kalau dia ngasih harga sekian ini orang kemahalan enggak worth it buat gua kejar.
Speaker A
Iya bisa begitu. Atau kalau gua nafsu banget karena gua yakin lokasinya bagus. Kadang-kadang gua telepon misalnya dia jualnya R miliar gitu ya. Habis itu gua duluan yang nelepon kan. Ya udah saya beli deh 900 cash gitu ya kan. Habis itu
Speaker A
2 hari kemudian Belinnya nelepon ya 950 deh gitu. Habis itu Iwang telepon 980 deh gitu.
Speaker A
Banyak juga ya nelepon lu ya. Iya enggak enggak maksud gua nelepon-nelepon e gini gini sornya kan nelepon ke orang ya. Jadi misalnya ee gua beli 900 eh gua e ini rumah R miliar ya udah gitu gua nawar duluan 900 gitu. Dia nelepon
Speaker A
8,5 ya kan. Dia nawar ee satu lagi 800 gitu. Habis itu seminggu kemudian gua nelepon dia dengan 900 gua jadi pahlawan. Biasanya dilepas di rumahnya.
Speaker A
Tapi dia enggak tahu kalau kalian satu tim gitu. Engak lah. Oh, tapi minimal dia punya pembanding.
Speaker A
Iya, minimal kan ada pembanding. Minimal nafsunya dia untuk menjual jadi besar gitu kan. Wah, rumah gua udah ada yang mau beli nih gitu.
Speaker A
Oh. Kalian pernah enggak nelpon orang yang sama tapi sebelah-sebelahan? Mmm. Ya, sering. Bilang segini, bilang segini ya. Tapi itu trik aja lah gitu kan ya.
Speaker A
Kan kita semua pengin dapat harga yang lebih murah kan. Oke. Oke. Karena kan enggak mungkin juga kita nawar nawarnawar begini gitu kan susah kalau enggak ada pembanding.
Speaker A
Oke. Pernah enggak lu beli rumah lelang? Enggak pernah. Kenapa? Takut. Takut. Takut. Ee kan gua sering ngelihat tuh kalau rumah lelang biasanya harganya miring banget.
Speaker A
Betul. Ee masalahnya gini, kita kan enggak berangkat dari orang yang ee punya lah gitu. Jadi kita tahu arti uang itu seberapa pentingnya buat kita. Kita enggak mau itu sampai hilang kan. Kita ngumpulin ini susah sekali gitu. Oke.
Speaker A
Nah, kalau di lelang itu ee ada proses pengusiran juga. Kadang-kadang kan fisiknya masih dikuasain sama orangnya.
Speaker A
Emang mungkin tanahnya udah lu pegang gitu secara legalitas gitu. Nah, ngusir-ngusirnya ini segala macam gua enggak punya kemampuan dan enggak punya kemampuan lah untuk kita.
Speaker A
Kalau emang harus kita yang ngusir bukannya ada official yang ada yang ngurusin. Cuman kan biasanya kalau lihatnya di TikTok aja kan juga sampai didatangin bawa-bawa. Oh, kalau el dapetin rumah lelang dan udah legal menjadi punya el, orangnya udah enggak
Speaker A
ada, udah pergi dari rumah itu, lu tetap lu mau ngambil kalau harganya miring? Apa tetap juga jadi hati-hati? Lu masih hati-hati.
Speaker A
Masih hati-hati sih kalau gua ya. Kalau kan orangnya sudah cabut. Iya. Sekarang menurut gua sekarang masih untung kok.
Speaker A
Kan enggak perlu seraka banget kan. Oh. Enggak perlu nyari margin yang tinggi banget. Iya gitu. Yang penting kan kalau flipping itu sebenarnya gini, Mas Radit.
Speaker A
Kalau buat kita yang arsitek ya, desain and build ya, kita kan nge-build nih, misalnya 1 tahun itu dapatlah tiga rumah apa empat rumah nge-build.
Speaker A
Iya. Kadang-kadang ee tahun ini 4, tahun depan cuma dua kan kemungkinan begitu kan. Nah, tapi tukang kita kan sudah ikut kita bertahun-tahun, enggak mungkin kita enggak ada kerjaan kan.
Speaker A
Tapi dengan adanya flipping ini, kita jadi punya proyek tetap buat mereka untuk nahan mereka tetap kerja. Oh, karena mereka ngerjain rumah flip.
Speaker A
Heeh. Kalau enggak kita ee harus nyari tim tukang baru lagi. Nanti dia cabut, habis itu enggak ke kita lagi. Kita mesti ngajarin lagi masang kloset.
Speaker A
Hm. Kan PR kan. Oke. Heeh. Kalau dari beli dan bangun margin yang masuk akal buat flipping rumah tuh berapa sih?
Speaker A
30% lah. 30% atau 30%? Ee kebanyakan gua 30 sama 40. 30% lah. Jadi sebenarnya sama aja kayak keuntungan jadi kontraktor kan. Cuman bedanya e rumah itu didesain sama lu sendiri ya kan enggak perlu ada persetujuan lu nih sebagai sebagai customer gua gitu
Speaker A
kan. Oke. Jadi gua enggak enggak enggak perlu wah istri saya suka ini, bapak saya suka ini segala macam. Gua tinggal bangun aja gua tahu gimana yang laku ya udah jadi lebih cepat di situnya.
Speaker A
Berarti margin gua kemarin dapat 50% tuh istimewa dong. Istimewa. Ee makanya masuk akal jualnya lama kali ya.
Speaker A
Iya 2 tahun berarti kan setahun 25%. Oh, lumayan loh, Mas. Mak sense sih. 25% banyak kan?
Speaker A
Mak sense. Mak sense. Iya. Kalau dibaginya 2 tahun gitu pembandingnya jadi banyak tuh 25%. Gua bisa mikir bisnis yang mana yang bisa datangin 25% kan.
Speaker A
Daripada naruh BBCA sekarang atau BMRI ya kan. Ini lagi pada sedih semua nih mukanya nih.
Speaker A
Dividen tapi lumayan ya lumayan dividen. Lumayan lumayan. Oke, berarti ketika gua mau tarik agak jauh dulu deh. He.
Speaker A
Ee karena kan gua sih ngelihat lu sebagai orang yang awal ee awalnya lu kerja kalau enggak salah di perusahaan kan jadi karyawan. Berarti jadi karyawan.
Speaker A
Karyawan sekarang entrepreneur kan. Iya. Nah, gua mau narik perjalanannya itu tuh. Ee berarti awalnya lu kuliah arsitek?
Speaker A
Gua kuliah arsitek Trisakti. Oh, di Trisakti. Habis itu lu kerja di BUMN kalau enggak salah.
Speaker A
BUMN. Jadi ee zaman dulu waktu kita lulus itu di jam di di umur-umur gua ya H itu ee pilihannya tuh kalau enggak kita kerja di konsultan, kita kerja di konsultan di Singapura.
Speaker A
He. Yang keren-keren ya konsultan konsultan di Singapura. Konsultan maksudnya konsultan arsitek? personal arsitek ya maksudnya lu ikut ke konsultan arsitek-arsitek yang terkenal gitu habis itu atau lu konsultan di Singapura atau lu ee kerja di bank maksudnya keluarkeluar dari
Speaker A
arsitekturnya gitu atau ya kerja di BUMN kayak gua gini waktu itu. Oke. Akhirnya lu kerja BN BUMN ini karena waktu itu gua sebenarnya waktu kuliah kan sebenarnya udah kerja Mas. Jadi gua tuh eh grafic desainernya majalah laut music magazine itu tuh
Speaker A
punyanya si Rid Sleng gua ngerjain grafic desain biasa terima duit habis itu gua juga udah bikin 3D artis jadi orientasi gua waktu kuliah tuh udah duit kan oke jadi gua enggak mau kerja di konsultan dengan gaji yang kecil
Speaker A
oke gua menc gua mencari ee di mana yang gajinya lumayan karena zaman sekarang sampai zaman dulu itu gajarnya kecil banget kan di bawah loh kalau lu ikut konsultan kalau ikut konsultan orang gitu Jadi kayaknya gue cari yang lain deh gitu.
Speaker A
Nah, gue carilah masuklah ke Pertamina itu. Ternyata di Pertamina gue jadi pegawai kontrak bukan jadi pegawai tetap tetap gitu. Walaupun gaji gua lebih besar daripada gaji-gaji ee konsultan.
Speaker A
Konsultan konsultan R juta waktu itu gaji gua R,5 juta. Jauh dong. Oke. Hampir dua kali lipat tuh.
Speaker A
Artinya tapi lu tetap tidak punya ke keamanan lah karena lu kontrakan. Betul. Betul. Di situ lu di bagian aset manajemen.
Speaker A
Oh, ngurusin asetnya Pertamina. Ngurusin asetnya Pertamina yang berupa properti. Berupa properti. Oh. Tapi bukan properti aja sih. Misalnya ee Pertamina itu satu lantai mau ganti ee denahnya ruangan gitu ya. Itu gua yang ngurusin.
Speaker A
Oke. Sampai ee kalau misalnya ee direktur Pertamina mau ganti anduk gua yang ngurusin. Yang benar.
Speaker A
Iya. Habis itu itu termasuk pertam eh termasuk termasuk pekerjaan gua milih bunga gitu. Bunga itu properti bua. Iya dong.
Speaker A
Oh iya dong. Milih bunga. Iya yang ada di resepsionis itu emang enggak ada yang milih ya bareng-bareng set kerjaan tim gua begitu.
Speaker A
Oke sebelum lanjut gua mau bahas buku tulis yang gua pakai nih. Kalau kalian notice gua udah beberapa kali ganti buku tulis. Ini gua baru ganti jadi bisa bebas coret-coret poin yang mau gua tanyain ke tamu. Seperti bias buku tulis
Speaker A
yang gua pakai ini dari Jenia. Dia punya banyak pilihan alat tulis. Mulai dari buku tulis, pulpen, penggaris, spiral book, papan jalan, wah pokoknya banyak.
Speaker A
Bahkan sekarang ada spiral book A5 Pekat, A6 pastel, dan A7 pastel. Nih gua baru punya yang pastel. Jadi nanti kalau punya gua habis, gua mau pakai yang itu.
Speaker A
Nah, selain pilihannya banyak, desainnya juga simpel dan lucu-lucu, cocok buat gua. Semua produk Genia bisa dibeli di toko ATK terdekat atau di Ecoverst Genia Stationary Official. Buat info lengkapnya, cek aja Instagram @jenia_stationary.
Speaker A
Setelah lama di Pertamina, he cabutlah lu bikin si perusahaan design and construct ini. Iya. Jadi sebenarnya waktu di Pertamina itu ee Pertamina itu gua dulu waktu itu punya ee satu kerjaan Mas.
Speaker A
Heeh. Pertamina tuh punya villa di puncak ada tujuh apa delan villa gitu. Iya. Ee itu kita renovasi gua yang desain waktu itu.
Speaker A
Jadi ee karena itu mentanya buru-buru buat ulang tahun Pertamina ya kan. Jadi gua desain cepat habis itu segala macam ee mulailah itu dibangun sama kontraktor kan.
Speaker A
Nah dibangun sama kontraktor itu gua ikut ngawasin di situ. Jadi mulai mengerti gimana sih caranya bangun-bangun rumah segala macam. Bukan cuman sekedar desainnya doang.
Speaker A
Habis itu ee proyeknya berhasil. Selesai bos gua dapat kredit kan karena ee proyeknya bagus gitu kan. H eh dia gitu naik ke tempat lain. Nah, gua kan gak bisa ikut sama dia karena gua bukan karyawan tetap kan.
Speaker A
Oke. Nah, jadi akhirnya gua bilang sama dia, "Ni Pak, nih saya Bapak cabut terus saya gimana gitu kan." Akhirnya dia bilang ee ya kamu kan dulu waktu di CV e pernah ada gambar-gambar pom bensin. Karena dulu gua waktu kuliah
Speaker A
tuh suka bantuin dosen gua bikin 3D pom bensin. Oke. Nah, ya udah kamu ke manajer pom bensin aja masukin PT kamu ke sana gitu. Heeh.
Speaker A
Habis itu ya gua masuk ke manajer itu bawa nama bos gue ini malah ditanyain ya udah mana PT kau masukin deh segera gitu ya. Gua enggak punya PT kan zaman itu.
Speaker A
Akhirnya gua pulang ke rumah gua ngomong sama nyokap gua, gua punya tabungan R3 juta. Akhirnya bikin PT lah waktu itu.
Speaker A
Oke. Habis itu gua masukin deh. Setelah itu gue jadi konsultan pom bensin. Dibayar satu pom bensin itu Rp25uta. Sebagai konsultannya.
Speaker A
Heeh. Satu pom bensin. So itu artinya gambar kan? Gambar doang. Oh. Pasti orang mikir kan, oh pom bensin bentuknya bukan sama aja, tapi kan tanahnya bentuknya beda, Mas.
Speaker A
H. Jadi misalnya tanah Mas Radit bentuknya T gitu, ya udah gua bikinin gambar pom bensin yang sesuai di situ.
Speaker A
Layout ya kan maksudnya WC di mana gitu. He. Tapi kan bangunannya jadi lebih kalau tanah lu lebih gede kan bangunannya jadi lebih gede juga.
Speaker A
Oh. Heeh. Berarti PT sendiri waktu itu kan minimal berdua kan? Berdua sama bini gue.
Speaker A
Oh pada saat itu. Oke. Berarti ada untungnya juga ya kenal bos lu ya? kenal karena lu dapat ini kan dapat kayak e credentials gitu ya dapat referal referal betul betul ee nama bos gua tuh Pak Mardiono gitu gua itu salah satu
Speaker A
orang yang apa ya paling berjasa di hidup gua mungkin karena merubah nasib loh Mas gaji gua R,5 juta. Tiba-tiba gua dapat satu pom bensin Rp2,5 juta.
Speaker A
Sebulan dapat empat naik berapa kali gua sebulan 4 pop bensin lu gambar? Iya picknya itu sebulan 8 zaman itu 8 * 12,5 di zaman itu banyak banget itu banyak banget. Nah, sejak bos gua itu juga sangat berjasa buat gua karena
Speaker A
e waktu itu dia bilang begini sama gua, dia bawain gua ee koran ya. Koran. Habis itu diang, "Man, nih ada apa ee seminar properti. Seminar properti. Lu datang deh gini gini gini gini gitu. Gua telepon dong." Heh.
Speaker A
Seminar propertinya itu harganya R,5 juta mah satu kali gaji gua loh. Oke. Gua bilang, "Pak, lu gila aja, Pak, nih R,5 juta. Udah deh lu ikutin aja." Dia bilang, dia bilang gitu kan. Akhirnya gua ikutlah. Di situlah gua belajar
Speaker A
flipping. Di situlah gua belajar gimana caranya lu bisa bikin Indomaret lah, gimana bikin kos-kosan untung apa segala macam di seminar itu tuh.
Speaker A
Oh. Dari situ ee ditambah lagi dengan pom bensin yang udah lumayan banyak dapatnya ya gua mulai mainin propertinya dan praktik gitu kan.
Speaker A
Wow. Jadi sebenarnya ya dia berjasa banget sih buat gua. Berarti sebenarnya kalau lu mau keluar dari trap income lu pada saat itu bisa-bisa aja ya. Masudnya artinya orang lain pun kalau melakuin kayak lo masih make sense aja ya.
Speaker A
Mak sense selama ee kita mau coba dekat sama orang kan. Iya. Iya. Artinya kalau gua sih ngelihatnya bukan masalah lu dekat sama bos lu, tapi lu ngasih lihat kalau lu bisa dipercaya dan pekerjaan lu baik.
Speaker A
Iya maksudnya bos lu pasti ngasih referensi enggak sembarangan dong. Betul betul betul dong. Kalau lunya kalau gua aneh-aneh pasti juga dia enggak enggak mau jual nama dia lah gitu kurang lebih kan.
Speaker A
Iya. Artinya kalau lu jadi karyawan, lu juga harus perform. Artinya itu kan karena lu enggak pernah tahu siapa yang akan terkesan sama apa yang lo lakuin, siapa yang akan ngomongin pekerjaan baik lu.
Speaker A
Artinya itu kan ya keberuntungan kan kesiapan kan sebenarnya. Iya. Bertemu dengan kesempatan. Heeh. Wih, tapi pada zaman itu, Bro, 12,5* 8 mah gede banget ya. Lu ada kagetnya enggak pada saat itu?
Speaker A
Kaget. Apa duitnya lu? Kagetnya apa, Mas? Kita kan waktu kuliah itu enggak pernah di diajarin pajak kan?
Speaker A
Heeh. Iya. Jadi, lu yang lu yang terjadi adalah Pertamina tuh bayar gua R,5 juta plus 10% PPN.
Speaker A
PPN. Jadi sebenarnya gua suruh setorin sendiri. Tapi kan tapi gua enggak ngerti. Akhirnya gua makan duitnya.
Speaker A
Ee emang waktu itu pendapatan si PT lu udah udah masuk threshold yang harus kena PPN. PKP itu ee harus harus PKP dong.
Speaker A
Emang harus PKP. Harus PKP. Harus PKP. N jadi R,5 juta Pertamina ngasih gua Ruta plus Rp1.250 kan.
Speaker A
Oke. Nah, mestinya Rp1.250 itu gua setorin ke pajak sebagai PPN. Sebagai PPN ya kan?
Speaker A
Oke. Gua enggak tahu itu karena enggak ada yang ngajarin juga kan. Dan itu gua yakin banyak teman-teman juga enggak ngerti kan pajak kayak gimana kan.
Speaker A
Tapi akhirnya gua pakai tiba-tiba datanglah surat cinta kan. Iya, surat cinta. Habis itu gua mesti bayar sekitar berapa Rp0 jutaan gitu ya. Mana setoran lu gitu?
Speaker A
Mana setoran lu? Gua bilang loh itu bukan buat saya. Gua bilang dalam hati gua gitu kan. itu di luar potongan PPH berarti di luar.
Speaker A
Oh. Oh oke oke oke. Oh gua pikir lu masih bisa punya skema yang udah enggak bisa zaman itu udah ngadap aja habis itu minta maaf ya kan habis itu minta dicicil udah gitu aja.
Speaker A
Oke. Eh tapi lewat lah. Tap tapi itu kan setelah setelah sekian lama baru di diminta kan.
Speaker A
Iya. Tapi kaget-kaget di awal-awal apa tuh? Lu liburan kah? Oh enggak lu belanja barang hobi kah?
Speaker A
Enggak. E, gua tuh ngerasa beruntungnya karena sebelum gua keluar dan dapat pom bensin itu ya, Mas, ee gua disuruh datang ke seminar properti itu sama sama bos gua. Kalau enggak mungkin gua udah beli mobil, gua udah beli foya-Foya apa segala macam.
Speaker A
Itu merubah mindset gua ternyata ada sesuatu barang koleksi yang bisa dikoleksi tapi harganya bisa naik gitu, yaitu rumah gitu. Jadi gua sekarang ini sampai sekarang ya yang paling gua suka adalah beli beli rumah gitu. sampai sehari ini pun
Speaker A
sampai hari ini. Oke. Nah, lu datang ke seminar properti itu dengan uang yang lumayan banyak ya pada saat itu kan? Banyak sih pada saat itu. Baru mulai house flipping pertama kah?
Speaker A
Iya iya iya. Dari uang hasil konsultan dari hasil dari hasil p bensin ini. Oh. Dan gua bisa akhirnya gua bisa ee dp-in KPR-in dulu habis itu ya udah dibangun dijual bayar penaltinya.
Speaker A
H itu kan diajarin semua. Dan salah satu yang menarik juga di seminar properti itu kan kayak misalnya gua punya apartemen ni satu beli cuman GOP gitu kan. Habis itu mungkin DP-nya waktu itu sekitar cepek. Habis itu gua renovasi
Speaker A
interiornya habis sekitar R0 jutaan. Oke. Sekarang disewain udah sekitar 6 tahun ya R juta sebulan.
Speaker A
Jadi dia bayarin KPR-nya sendiri kan. Jadi gua punya apartemen dengan modal Rp170 juta. Heeh. jadi punya apartemen gitu karena cicilannya dibayarin dari cicilan dibayarin sama si orang yang nyewa. Nah, itu kan salah satu yang diajarin di seminar properti kan.
Speaker A
Hm. Ee DP awal berapa untuk si apartemen ini? Cepek lebih waktu itu. Itu DP awal.
Speaker A
He habis itu gua renovasi kan kan gua ada workshop furniture ya kita isi kitchen setnya segala macam R jutaan gitu.
Speaker A
Dari proyeksi lu, dia akan lunas di tahun ke berapa sampai fully dibayarin KPR-nya sampai habis?
Speaker A
Mm 8 tahun. Oh, 8 tahun. Sekarang sudah tahun keen tinggal 2 tahun lagi. 2 tahun lagi. Apartemen katanya banyak yang orang kesulitan nyawain. Cara lo gimana supaya dia tetap full?
Speaker A
Ee gunain interior desainer. Hm. Itu penting sih artinya. Kalau dari foto-fotonya interior yang cakep cakep ya kan. Habis itu pemilihan materialnya juga karena lu hubungin interior desainer, dia akan pilihin ee material-material yang awet gitu. Jadi lu juga enggak cepat ganti-ganti.
Speaker A
Berarti interior desain tuh penting banget ya. Penting banget. Arsitek penting banget. Jadi zaman sekarang kan orang bilang kan eh properti itu enggak liquid gitu katanya gitu kan.
Speaker A
Tapi kok ee di pengalaman gua, gua enggak pernah jual rumah lebih lama dari 1 bulan. Jadi menurut gua arsitek itu membantu membuat apart ee properti itu menjadi liquid.
Speaker A
Oke. Karena interior desain sepenting itu. Interior desain dan arsitek sepenting itu. Jadi arsitek rumahnya bagus, flow-nya bagus, desain ee denahnya menarik, ditambah lagi interior desainernya mantap. mestinya sih berarti lu masuk ruangan ini pengin lu bobol kali ya iya lagi langsung ya si Belinda juga
Speaker A
ok nah berarti kalau kalau cara lu itu adalah karena mungkin keterbatasan uang untuk ee bayar cash heeh lu KPR bayar DP renov begitu waktunya jual jual dan lu ketika lu sudah berhasil menjual properti itu, lu bayar penaltinya nya
Speaker A
dengan melunasi KPR semuanya di depan. Iya. Boleh kayak gitu ya berarti ya? Boleh kita terima duit dari pembeli dulu baru kita lunasin KPR tuh boleh gitu ya? Bisa gitu ya?
Speaker A
Mm bisa. Oh oke oke oke. Karena gua pikir itu KPR harus lunas dulu makanya pembeli mau terima sertifikat gitu-gitu.
Speaker A
Mm enggak lah kan ada di bank juga kan bank aman lah. Oh oke. Cuma setelah itu kan cuma satu kali pertama setelah itu kan ada uang.
Speaker A
Selanjutnya gua lebih suka beli cash aja langsung. Iya, karena lu mengeliminir dan apa penalti he segala macam apa ee administrasi ya kan.
Speaker A
Iya. Dan repot-repotnya itu semua. House flipping berkutat sekian lama sampai akhir tadi pandemi. He pandemi lu puyeng?
Speaker A
Puyeng. Puyeng banget Mas. Puyeng banget. 6 tahun yang lalu tuh. Heeh. 6 tahun lalu tahu-tahu nyolok hidung. Nyolok hidung tuh ya kan.
Speaker A
Iya. tahu-tahu juga udah 6 tahun jadi YouTuber. Ketika lu bikin YouTube yang el iklanin itu, bukan iklanin yang lu review itu adalah rumah-rumah developer.
Speaker A
He. Sampai kapan pada akhirnya rumah developer yang lu review terjual? Lu masih ingat enggak momen itu di mana gara-gara lu bikin video YouTube, rumah yang lu review tuh akhirnya ada yang beli gitu? Misalnya di awal-awal.
Speaker A
Gua kan bukan agen ya, berarti gua enggak dapat keuntungan dari aku apa enggak gitu.
Speaker A
Cuman kalau dari teman-teman developer ya pernah ada yang bilang dulu waktu e pandemi itu juga kan property lagi agak naik ya.
Speaker A
Heeh. Dia punya 200 rumah, gua datang hari Jumat, habis itu eh sori e video tayang hari Jumat, Jumat minggu depannya itu udah laku sekitar 100-an.
Speaker A
Uh, udah setengahnya habis tuh. Iya. Sampai jadi kita enggak tahu, tapi tanda jadi semuanya sudah masuk 100-an gitu. Jadi sebenarnya impact-nya cukup oke.
Speaker A
Nah elambil V agent berarti dari semua rumah yang review. Berarti intensi awalnya hanya untuk ada kegiatan di perusahaan loh atau apa tuh?
Speaker A
Satu itu nomor dua gua pikir kan ee pendapatan dari YouTube ada. Habis itu nomor tiga menurut gua adalah zaman gua kecil itu Mas ee kita tuh enggak punya akses majalah-majalah luar negeri atau apa referensi yang banyak gitu. Kalau
Speaker A
zaman sekarang ada Pinterest, ada segala macam kan. Gue cuman pengin masuk ke rumah-rumah yang mewah itu untuk nambah ilmu pengetahuan gua aja tentang ee apa sih yang material terbaru segala macam.
Speaker A
Dan ternyata itu ee banyak di apa ya? banyak membantu arsitek juga untuk mengetahui material-material terbaru dan jenis-jenis seperti apa yang laku gitu kan.
Speaker A
Jadi kan ee jadi buat bahan referensi mereka lah gitu dan buat gua juga buat kantor gua. Jadi kadang-kadang kita ngedesain, eh lu desain dapur itu miripin sama yang ini yang ini, gitu kan. Jadi kita tinggal buka bank data
Speaker A
aja. Oke. Heeh. Nah, begitu pandemi udah mulai surut, he konten-konten video lu kan naik tuh.
Speaker A
Heeh. itu banyak klien yang datang gara-gara lu bikin konten kah atau gimana tuh? Iya, lumayan. Dan klien sekarang itu gua enggak perlu ngejelasin terlalu panjang.
Speaker A
He. Kalau zaman dulu kan ee ya perkenalan dulu apa segala macam dia suka dites-tes dulu kan adu ilmu dulu kan. Karena kan iya dong. Karena kan klien-klien misalnya kayak Mas Radit gitu mungkin sudah punya rumah dua tiga biji gitu
Speaker A
pernah ngerasain bocor, udah pernah ngerasain ini, udah pernah ngerasain ini. Jadi enggak apa yang terjadi lagi apa segala macam. Klien dengan budget besar kan sebenarnya dia juga setengah-setengah arsitek lah karena kan dia sudah punya pengalaman banyak juga gitu,
Speaker A
punya tes juga segala macam gitu. Nah, sekarang kita sudah enggak perlu terlalu banyak adu ilmu gitu karena kan dia sudah ngelihat kita di YouTube kan kurang lebih itulah.
Speaker A
Itu masalah trust berarti masalah trust. Habis itu juga ee sekarang kita bisa lebih milih Mas gitu.
Speaker A
Kalau zaman dulu ya kita kan kadang-kadang kliennya resek, kliennya apa segala macam ya kita mesti telan semuanya kan atau kliennya lokasinya jauh gitu. Kalau sekarang kita benar-benar cuman yajakarta aja, Jabor Tabek aja. Kalau dulu kan gua sampai kerja Sumatera segala macam
Speaker A
demi dapat project. Demi dapat project. Klien rese yang seorang arsitek enggak suka tuh yang kayak gimana sih sebenarnya? Banyak mau itu?
Speaker A
Banyak mau budgetnya kurang. Maunya banyak ya. Standar sih. Keluar semua tuh kayaknya tuh keluar semua tuh.
Speaker A
Ee budgetnya standar tapi banyak maut tuh maksudnya kelihatannya dari mana? dari misalnya dia, "Aku maunya gini gini gini terus tapi lu bilang ya tapi ini agak mahal." Maksudnya kelihatannya dia budgetnya standar tapi banyak mau tuh bukannya kalau dikasih tahu ini harganya
Speaker A
mahal orang langsung back off ya? Enggak. Enggak juga. Gini misalnya kita sekarang kan bangun rumah itu R8 juta semer.
Speaker A
Oke. I kan konstruksi ya 78 juta semer gitu. Itu ada ada termasuk gambar enggak?
Speaker A
Enggak termasuk gambar sih Masak termasuk gambar. Oke. R8 juta ee itu ee spesifikasinya jelas tuh. Mungkin keramiknya di 8080 at 10000, habis itu pakai sanitnya ini, pakai ini apa ini segala macam gitu.
Speaker A
He. Nah, yang sulit itu adalah ee ketika dia maunya speknya lebih tinggi gitu kan, speknya lebih tinggi tapi harganya tetap di segitu gitu. Nah, itu susah tuh.
Speaker A
Itu ngebikin bangunannya jadi bentuknya sederhana aja kan. Hm. Gitu. Tadinya sebenarnya budget itu dengan R8 juta bangunannya agak unik sedikit gitu. Ee saniternya begitu, materialnya begitu kurang lebih kayak gitu. Cuman sekarang bangunannya jadi sederhana, habis itu ee dalamnya juga jadi sedikit lebih mewah
Speaker A
karena ngikutin kemauan dia. Tapi kan sebenarnya buat portfolio arsiteknya kurang oke karena kurang aneh-aneh dikit.
Speaker A
Oh itu menyebalkan buat arsitek. Oh karena karena kreativitasnya dia jadi dibatasi. batas. He. Oh, yang ideal itu berarti budget budgetnya tinggi ee dan mbebaskan arsiteknya bikin apapun dong.
Speaker A
Iya, cuma kan enggak banyak. Tapi dengan adanya YouTube kayak gini mulai datang tuh gua klien-klien yang begitu.
Speaker A
Ada enggak yang udah jadi terus marah-marah kayak kok digambar enggak gini gitu? Enggak lah. Kalau enggak mungkin karena gambar kita kan lengkap Mas.
Speaker A
Enggak mungkin. Oh, gambar kalau keluar dari kantor kita berapa ratus halaman ya? Tapi 100 halaman sih ada. Nah, kalau teman gua bangun tuh banyak yang banyak yang punya masalah sama kontraktor tuh.
Speaker A
Kenapa sih? Kan ada yang lemarinya copot lah. Ada yang teman gua tuh kemarin dari ngomel-ngomel di sosmet tuh.
Speaker A
Hm. Soal banyak sih ya. Heeh. Itu menurut lu gara-gara apa tuh? Ee bisa salah kliennya, bisa salah kontraktor. Ya, kalau dari klien salahnya di ee udah dikasih tahu ee pakai exel kayak gini pasti cepat copot nih gitu.
Speaker A
Ee lu turunin spek di Exel kan. Heeh. Ya udah mau begini begini begini gitu.
Speaker A
Begitu pintunya copot yang disah lain arsiteknya. Oh I see bisa gitu juga bisa gitu juga tapi bisa juga ee speknya begini si kontraktornya gaya hidupnya ketinggian dia mulai korup sedikit. Ya bisa juga kan bisa juga gitu ya.
Speaker A
Itu banyak sekali juga. Oh itu banyak banyak banyak. Gimana cara kita tahu ini kontraktor bundle atau tidak dari pertemuan awal atau pas diskusi tahunya tuh dari mana sih? Kelihatan sih dari orangnya juga.
Speaker A
Kalau diajak ngomong ee seraka apa enggak seraka kan kelihatan juga ya. Ah, gimana tuh caranya tuh?
Speaker A
Kalau kalau di kantor kita itu setahun itu ada batas ya, kita cuma ngambil enam gitu.
Speaker A
Heh. Nah, kalau lebih dari itu sebenarnya enggak ada kemampuan gitu. Enam project maksudnya. Enam project kita enggak mungkin lebih dari itu.
Speaker A
Berarti gua kalau hire kontraktor gua tanya dulu kali lu setahun project berapa? Setahun projjectnya di berapa, tukangnya ada berapa. Habis itu bisa dilihat juga dari dari jumlah orang di kantor ya.
Speaker A
Oke, gitu. jumlah orang di kantornya mungkin cuman 8 orang ya berarti kemampuan dia cuman 5 en project gitu.
Speaker A
Oh ya di kantor gua nih sekarang ber 14 gitu ya. Kemampuannya cuma enam gitu.
Speaker A
Kalau kurang dari 14 di kantornya kayaknya agak susah untuk desain and build ya. Oh. Nah kalau lu pribadi melimitasi desain and build setahun berapa?
Speaker A
6 7 segitulah. Begitu ada project masuk pasti lo tolak. Tolak. Oh lempar tahun depan kalau dia mau nunggu oke.
Speaker A
Oh tapi kan kebanyakan orang enggak mau nunggu ya. Kalau buat tahun ini udah full berarti.
Speaker A
Tahun ini full. full. Nah, makanya karena gua tahu gua enggak bisa gini loh, Mas. Sekarang tukang yang kita pegang aja sekarang udah 120 130 orang kan.
Speaker A
I kayaknya kalau gua nambah 80 orang lagi sih pecah pala gua. Mau gua nambahin banyak ee orang-orang lagi gitu segala macam juga pecah pala kan.
Speaker A
Enggak segampang itu. Enggak segampang itu gitu. Jadi makanya ee kalau kita mau ngembangin perusahaan kita ya jatuhnya harus ke flipping itu atau ke developer?
Speaker A
I see karena skalanya lebih gede. Skalanya lebih gede. K. Kalau developer itu yang kita bikin 16 kan bentuknya sama semua. Gua enggak perlu nerangin satu persatu tuh buat itu.
Speaker A
Hm. Gitu. Berarti sebuah perusahaan arsitektur, design and build, itu punya capnya tuh, punya dia punya batas ee pemasukan yang tergantung terhadap berapa orang di kantornya dia sebenarnya gitu kan logikanya.
Speaker A
Iya, kurang lebih kayak gitu. Dan lu kalau mau nge-break cap itu, mau nge-break batas itu lu harus bikin sebuah project yang bisa dalam skala yang masif.
Speaker A
I, which is developing, developing rumah. Atau emang lu emang mau serius jadi kontraktor dan lu emang emang punya kemampuan manage 500 600 orang kan enggak ada juga orang yang kayak gitu.
Speaker A
Cuman gua ngelihat gua enggak bisa kayak gitu. Kayaknya segini aja udah udah udah pecah pala gitu.
Speaker A
Ketika perusahaan kontraktor manage 500 orang berarti secara sistem tuh harus oke banget sih. Harus oke banget dengan HR yang bagus dan lain dengan SR yang bagus. Ee arsitek-arsitek yang digaji di atas UMR jadi happy kerjanya gitu kan.
Speaker A
Hm. Oh, kurang lebih kayak gitu dengan sipil-sipil yang digaji juga baik gitu kan. Teknik sipil maksudnya buat pengawas proyeknya segala macam.
Speaker A
Itu katanya sering ribut juga tuh antara arsitek sama teknik sipil ya sama sipilnya ya.
Speaker A
Enggak sih kalau di kita enggak. Karena ee kita kan ee desain ya udah kita kirim ke konsultan ee sipil kita, habis itu dia gambarin segala macam ya kita ikutin aja udah. Oh, soalnya ribut tuh biasanya kayak gambarnya gini kan. Ini sih enggak
Speaker A
mungkin nih gini-gini, tapi arsiteknya tetap pengin itu terjadi gitu. Iya mungkin ada aja. Mungkin karena arsiteknya terlalu idealis, masih muda kali bentuknya mau aneh-aneh. Ya enggak tahu juga gua karena dia belum tahu sulitnya kali.
Speaker A
Tapi gua enggak tahu. Tapi banyak juga arsitek-arsitek yang super idealis yang emang benar-benar bisa bertahan seperti itu kan juga oke-oke aja.
Speaker A
Oh, gitu. Cuman lu ada gitu enggak sih? Ada kayak misalnya datang ke sebuah perumahan di Bintaro terus ngelihat rumah terus bangunannya idealis banget nih orang nih. Ada suka kayak gitu juga tapi suka suka kayak gitu berarti nih kliennya banyak duit arsiteknya gila
Speaker A
match ketemu ya tapi kan hoki orang beda-beda Mas. Iya iya ya kan enggak semua orang bisa ketemu gitu.
Speaker A
Oke. Oke. Lu review-review rumah pandemi surut klien jadi makin banyak dong dari itu kan lu kontraktor rumah mewah. Betul enggak? He.
Speaker A
Tipikal kliennya tuh kayak apa sih? Ee klien-klien rumah mewah ini apa justru makin banyak duit mereka lebih apa makin dikit maunya?
Speaker A
Ee kalau kontraktor rumah mewah ya maksudnya gini, kalau rumah mewah itu ee kebanyakan orang kaya itu udah men-screening siapa yang mau bikinin rumah dia. Jadi udah enggak terlalu banyak ininya lah gitu. Dia tahu orang ini siapa, kemampuannya kayak apa segala
Speaker A
macam. Habis itu dia ketemu sekali pasti adu ilmu dulu satu dua kali. Kalau dia ngerasa cocok, selanjutnya akan enak terus.
Speaker A
Oke. Heeh. Kalau menurut gua jadi enggak banyak adu ilmunya gitu. Itu sih enaknya. He.
Speaker A
Tapi lu mesti lolos di adu ilmunya ya. Harus di screening dulu. Iya di screeningnya.
Speaker A
Ee proses screening apa yang paling memorable buat lu? Lu pernah dibawa ke restoran mahal kah? Lu pernah apa kah? Gua pernah dapat satu klien Mas ya.
Speaker A
Heeh. Ee kliennya itu benar-benar bapaknya udah suka banget sama gue. Tapi ibunya enggak tembus-tembus nih. Jadi ibunya ibunya tuh suka apa ya? E maunya ini loh, mau ini apa segala macam segala macam. Gua bilang, "Waduh, ini gawat juga nih. Ini kayaknya bukan masalah
Speaker A
desain aja nih. Kayaknya dia enggak enggak s aja kali gitu kan." Atau dia sama enggak s keinginan bapaknya atau apa segala macam kan biasa suami istri sama pasti ada ego-egoan lah.
Speaker A
Akhirnya gua ajak ngobrol si ibunya gitu di tengah-tengah gitu aja ngobrol-ngobrol. Ngomongin gosip Mas.
Speaker A
Gua kan baca koran banget sampai sekarang. Jadi gua ngomongin gosip waktu itu ada penyanyi sama baru selingkuhlah gitulah.
Speaker A
gosip artis lah gitu. Habis itu gua gosip-gosip gini gini gini. Eh ibunya nyambung tuh sama gua. Akhirnya suka kan berarti gua lolos screeningnya gitu.
Speaker A
Scrining kan macam-macam. Lu nyambung karena gua si artis. Iya dong. Kita sebagai arsitek itu e gua sampai sekarang sih di di rumah gua di Bintaro satu komplek tuh tinggal gua doang yang masih langganan koran Kompas.
Speaker A
Karena nyokap gua selalu ingetin lu harus punya banyak pengetahuan supaya lu bisa enak ngobrol sama siapa aja. Dan itu kepakai di situ.
Speaker A
Kepakai kepakai juga dikompas di bagian belakang doang kan. Oh iya. Oke, oke, oke. Gitu kan. Buka detik dikit. Ya udah.
Speaker A
Terus gara-gara lu bergosip sama dia akrab lancar lancar. Wow. Emang harus gitu kan jual jasa.
Speaker A
Oke. Oh, berarti ada gitu-gitunya ya. Berarti seorang arsitek yang baik itu harus jadi orang yang jago networking dong. Ya jago networking dan enak berteman kali ya.
Speaker A
Karena lu ngebangun rumah kan lu akan berteman sama dia 1 seteng tahun tuh minimal.
Speaker A
H. Chemistry. Chemistry. Chemistrynya ya kan. Nagi-nagi apa segala macam. Berarti kalian ada budget entertainment juga ya?
Speaker A
Enggak ada. Oh, enggak ada. Enggak ngajak ke mana? Golf gitu enggak? Enggak gitu-gitu ya.
Speaker A
Padel bareng gitu enggak ya? Karena kita emang udah nge-branding diri kita kan teknik aja gitu.
Speaker A
H gitu. Yang penting lu tahu gua kerja bener kok ketawa nih padel bareng mereka kayaknya main padel ya. Oke. He.
Speaker A
Terus lu dapat klien banyak. Eh nih soal houseing nih. H apa perubahan yang secara budget enggak terlalu mahal.
Speaker A
He. Tapi ketika lo taruh di rumah itu harganya bisa naik secara signifikan. Oke. Jadi kita ngelihatnya gini, Mas.
Speaker A
Eh let's say kita ngomongin Bintaro ya. Bintaro tuh pasti ada Discovery. Discovery itu satu satu kluster yang ok lah di sana.
Speaker A
He. Yang lagi jadi favorit gitu. Oke. Nah, habis itu kita punya ee rumah tuanya itu di daerah tetangganya dia yang lebih kurang baguslah gitu.
Speaker A
Harganya lebih murah tentu gitu kan. Nomor satu kita mesti ngambil denahnya Discovery dulu nih.
Speaker A
Denahnya Discovery. He denanya denahnya si lawannya ini gitu kan. Habis itu kita bikin ee mirip bukan mirip ya maksudnya spesifikasinya itu ada semua misalnya tiga kamar tidur plus dua kamar mandi gitu. Nah, habis itu Discovery ini kekurangannya apa? Enggak
Speaker A
punya kamar pembantu gitu misalnya ya. kita bikinin di sini. Oh. Oh, ini konteksnya sebagai lu developer ya, bikin rumah banyak gitu ya?
Speaker A
Bukan, bukan flipping. Flipping. Oh, ini flipping. Flipping. Jadi kita mesti nemuin developer besarnya itu bikinnya kayak apa sih gitu.
Speaker A
Oke. Jadi misalnya developer besarnya itu ee 3+ 1 gitu. Nah, kita di sini bikin 3+ 1 juga dong harus.Oke, ya kan? Enggak boleh spesifikasinya kurang dari ini dong.
Speaker A
Nah, dia enggak punya kamar pembantu nih. Kita bikin di tempat flippingnya kita punya kamar pembantu jadi lebih dong dari dia.
Speaker A
Oke. Habis itu harganya murahin gopek pasti hilanglah. I kan kayaknya gampang banget ya. Kayaknya gampang banget ya.
Speaker A
Iya. Nah, makanya dari awalnya lu mesti dapat rumahnya semurah mungkin. Tadi gua pikir jawabannya itu kayak ee tambahin aja kolam renang. Kolam renang tuh enggak terlalu mahal tapi kalau ada harga naik. Enggak gitu juga bisa juga kalau emang lokasinya emang di
Speaker A
tempat-tempat yang emang developer-developer di situ kayak di di sini kan banyak developer kecil-kecil juga nih. Kalau lu mau jualan kayak gitu kan mereka mungkin dalamnya ada kolam renang ya. Masa punya lu enggak ada kolam renang? Berarti kolam renang meja
Speaker A
kursi kali punya lu biar lebih laku. Turunin R juta, Rp00 juta pasti hilang lah.
Speaker A
Kolam renang meja kursi itu ee kolam renang sama jauzi gitu punya lu. Oh sama jauzi. Iya kan? Jadi udah udah dapat jacuzzi. Yang ini cuma dapat kolam renang. Harga lu lebih murah 300 pasti hilang lah.
Speaker A
Cuma masalahnya kan ee arsitek-arsitek itu enggak mikir ke properti ke situ gitu kan. Banyak orang enggak mikir ke situ.
Speaker A
Kalau yang gua tangkap dari lu, lu di fungsinya dulu sehingga lebih kompetitif. Iya. Secara fungsi.
Speaker A
Betul. Kayak kayak developer gua sekarang, gua sadar banget. E gua kan ada di pinggiran BSD yang gua bikin sekarang itu di belakang stasiun Cisauk.
Speaker A
Oke. Gua jual R,5 miliar nih sekarang. Satu. I kan gua gua sadar juga pasti gua kalah sama developer-developer besar dong.
Speaker A
Heeh. Makanya kalau lu beli di tempat gua nih ee kamarnya tuh udah empat, Mas.
Speaker A
Heh. Kamar mandi dua gitu. Developer lain tuh bikin kamar tiga. Oke. Jadi gua selalu ada kamar yang bisa jadi gudang atau kamar pembantu atau kamar kerja tambahan. Jadi empat ya kan? Oke.
Speaker A
Habis itu gua udah siapin e AC-nya. Jadi lu tinggal beli AC doang. Ee instalasinya udah gua pasangin.
Speaker A
Oke. Nah, habis itu nomor dua di tempat gua ee satu water heater udah pakai buat dua kamar mandi. Jadi lu tinggal beli water heater doang semuanya udah kesambung.
Speaker A
Oke. Dan udah bikin carpotnya dua. Seal kalau developer kan dia bianya bikin satu sebelahnya taman kan. Pada akhirnya semua orang pasti punya mobil dua kan.
Speaker A
Oke. Ya gua udah bikinin karpotnya dua. Oh. Nah habis itu udah gua bikinin juga kanopinya. Jadi kalau lu beli rumah gua, lu enggak perlu lagi ngeluarin duit-duit lagi untuk renovasi-renovasi tambahan yang lumayan. Bikin karpot, kanopi R juta, R juta enggak ada lagi.
Speaker A
H. Jadi kita mesti ada kelebihan di situnya. Jadi kalau kita mau bilang, "Oh, properti itu enggak liquid apa segala macam, mungkin cara kita memperlakukan propertinya yang bikin itu enggak liquid." Tapi artinya berarti ee cara lu mengkomunikasikan harus jernih dan masuk
Speaker A
akal buat yang calon pembeli dong. Karena kan kadang-kadang calon pembeli kan yang ngelihat cuman harga kan.
Speaker A
Betul. Begitu dia lihat wah ini lebih murah dikit atau ini fiturnya kayak gini. Tapi kan mereka enggak considerate bahwa oh gua bisa motong banyak di renovasi.
Speaker A
Itulah gunanya YouTube, Instagram, TikTok dan Oh, nyambungnya jadi ke situ. Konten marketing lu jalan jadinya.
Speaker A
Menarik. Kalau sekarang dengan content engine lo yang sudah jalan ini ee ketika lu develop sebuah kluster atau perumahan ee potensi terjualnya itu seperti apa?
Speaker A
Apakah dalam sebulan 2 bulan pertama udah pasti 60% habis, 70% apa? Gimana? Gua enggak tahu sekarang ya kan kita sama-sama tahu nih ekonomi lagi susah kurang bagus.
Speaker A
Susah. Heeh. Gua tuh udah baru mau nyampai ke tempat lu aja tadi baru parkir Belinda nelepon eh ditelepon sama orang nih semen naik 10% gitu kan. Gua enggak tahu nih berarti harganya tahun ini apa yang terjadi gua enggak tahu.
Speaker A
Tapi kalau yang udah terjadi dua kluster kita yang sebelumnya itu kita dari beli tanah sampai keluar itu 1 seteng tahun Mas. Oke.
Speaker A
14 rumah. Yang kedua itu 12 rumah itu kita 1 seteng tahun cabut, 1 seteng tahun cabut gitu.
Speaker A
Jadi kalau cabut tuh dalam artian ee cabut ya. Jadi udah udah udah udah semua terjual nguruslah ee surat-suratnya udah balik nama semua udah beres dan bahkan kayak misalnya kita bikin 13 rumah nih Mas.
Speaker A
Kita bikin 13 rumah ee sertifikat kan 14. Heeh. Karena kan ada jalan di tengah tuh. Oke.
Speaker A
Jalan di tengah itu kan jadi sertifikat ke-14. Iya. Nah, itu harus dikembalikan ke negara kan.
Speaker A
Oke. I kan. Nah, itu sampai kita urus itunya 1 seteng tahun tuh kita keluar sampai sampai situ gitu.
Speaker A
Oh. Bukan keluar yang benar-benar masih ada sisa-sisa gitu. Oke. Berarti total udah dua kluster yang di udah dua kluster sekarang.
Speaker A
Ini kluster yang ketiga. Ketiga. Ee udah sejauh mana yang kluster ketiga? Baru bikin rumah contoh.
Speaker A
Baru bikin rumah contoh. Baru isi interiornya ya. mau siap-siap pasarin. Cuman kita masih hitung-hitung harga sekarang kan.
Speaker A
Berarti cycle kalian tuh per 1 seteng tahun? 1 seteng tahun. 1 seteng tahun habis itu baru baru hunting tanah lagi atau sekarang udah punya ini slide-nya baru baru hunting lagi karena uangnya baru cukup segitu.
Speaker A
Oke. Tapi ee setelah sekarang kita sudah makin belajar mungkin yang ke depannya ini kita mau bikin sekitar 30-an karena menurut gua capek juga ya. Lu 16 baru 1 seteng tahun cabut. 16 1 seteng tahun cabut gitu kan. Sekalian aja 30.
Speaker A
Sekalian aja 50. Karena kerjanya sama aja Mas. 30 eh 50. 3050 lah gitu. Ee rumah lu udah pernah masuk YouTube arsitektur?
Speaker A
Nah, itu juga tuh. Nah, kenapa tuh? Rumah gua belum pernah masuk YouTube arsitektur. Rumah gua pribadi.
Speaker A
Iya. Lu keep it private atau bukan keep it private. Jadi gini, waktu kita bikin YouTube itu ee rumah gua itu adalah rumah barang-barang sisa. Gua kan ada workshop furniture.
Speaker A
Heeh. Jadi ee buat meja TV warnanya belang. He buat tempat tidur warnanya belang. Sisa-sisa HP-HPL yang ada di workshop gua bikinin aja. Jadi rumah gua tuh enggak bagus.
Speaker A
Oke. Nah, sekarang kan gua baru bikin baru beli tanah di BSD. He. Habis itu sekarang lagi dibangun. Itu yang dimasukin ke YouTube setiap progresnya dari mulai pondasi sampai mulai e masang bata. Sekarang kan posisinya lagi masang bata. Itu yang
Speaker A
tiap minggu kita update di YouTube. Oke. Heeh. Kalau rumah gue yang sekarang gua tinggalin enggak gua masukin.
Speaker A
Karena menurut lu ini jadi kayak sisa-sisaan yang lu tempel-tempelin lah gitu. Kurang bagus gitu.
Speaker A
Dan itu sebenarnya rumah flipingan gua. Kebetulan anak gua keburu lahir jadi gua tinggalin. Wah gitu.
Speaker A
Ee berarti rumah lo yang lagi dibangun ini selera lo banget dong. Mestinya iya? Mestinya iya.
Speaker A
Oh. Dan ini menarik juga karena ya ini sebenarnya gua juga enggak mau bangun rumah ini sih cuman karena kebetulan dapat tanah murah aja. Kok bisa kebetulan dapat tanah murah? Tuh konteksnya apa tuh?
Speaker A
Gini, jadi ee gua abang gua itu punya tanah di situ, mertuanya punya rumah di situ. Jadi kita sering main di daerah ini.
Speaker A
Daerahnya bagus lah, hijau-hijau gitu. Ee habis itu gua sering main ke situ, gua ngelihat ini kayaknya enak nih kalau gua punya tanah di sini dan punya rumah di sini gitu. Karena lingkungannya menurut gua sangat bagus gitu. Hm.
Speaker A
Habis itu ya udah setiap hari sampai sekarang sih gua masih buka rumah 123.com OLX Facebook Marketplace segala macam kan ngelihatin ada yang dijual apa enggak, apa ada yang dijual apa enggak gitu.
Speaker A
Nah, itu waktu gua ngelihatin tanah di situ tuh Rp16 juta, R5 juta, Rp juta. Tiap hari gua lihatin di bulan ke-elan Mas ada yang jual Rp9 juta.
Speaker A
Wah, kok bisa? Gua bilang ini aneh nih. Ini OLX error kali. Gua bilang kan gua suruh Belindepon ternyata ada barangnya. Ternyata orang ini enggak tahu dia, dia orang kaya banget lah punya banyak cavling di situ.
Speaker A
Dia enggak tahu harga sekarang. Hoki gua kan. Oh iya. Tapi gua 8 bulan tuh nyari di marketplace.
Speaker A
Berarti tanpa agen dong. Tanpa agent. Karena biasanya agen ngasih tahu tuh eh kemurahan bro gitu kan.
Speaker A
He itu tanah harganya kan 5 M. Heeh. Dipice sama bank del. Wow. Jadi gua bilang sama Berinda kemarin Berinda baru baru baru sombong sama gua kan nih gua ee dapat dapat enggak? Dia bilang, "Ni e kontraktor kita tahun ini cuan 2 M."
Speaker A
gitu. Habis gua bilang, "Ini gua beli tanah satu udah untung 3 M." Bercanda. Karena karena biasanya pral bank lebih murah dari harga jual. Ini kok bisa prel bank lebih mahal dan mahalnya lumayan loh.
Speaker A
Lumayan beda 3 M tuh jauh loh. Jauh jauh. Dan sekarang nih kalau lu makanya gua bilang ada orang bilang propertiy enggak liquid tergantung cara cara aplikasinya ya. Misalnya kita beli 5 M, Mas. Misalnya kita bangun lagi tuh rumah 5 M.
Speaker A
Berarti kan gua habis duit 10 M di situ. Heeh. Sebenarnya ee kalau yang ngerjain bukan kontraktor gua sendiri, berarti kan ada V untung kontraktor kan.
Speaker A
Berarti kalau orang yang ngerjain 7 M lah. Oke. I kan berarti 12 M tuh keluar ya kan? Berarti tanahnya 8 tambah bangunnya 7 15.
Speaker A
Sebenarnya gua cuma modal 10. Hmm. Untuk bikin itu. Hmm. Artinya lu mau jual lagi sudah pasti cuan.
Speaker A
Iya. sekarang. Masalahnya kalau jual 15 mungkin enggak secepat itu, tapi kalau gua jual 12 kayaknya sih bulan depan enggak punya rumah lagi gua.
Speaker A
Gua gua ngerti maksud lu sih. Ada ada rasa ada rasa senang lu ee lu menduduki sebuah aset yang menurut lu undervalued dan lu bisa dapat.
Speaker A
Iya, betul, betul, betul. Dan gua sama abang gua begitu karena abang gue juga hobi begitu. dia baru bukan flipping.
Speaker A
Jadi dia suka beli tanah-tanah murah juga gitu. Jadi kita suka bangga-banggaan lah di WA gitu. Nih, gua beli segini lebih murah lu lebih murah enggak gitu-gitulah. Dia beli di puncak nih.
Speaker A
Saudara lain yang di grup WA itu diam aja kali ya. Enggak cuman gua sama abang siapa tah.
Speaker A
Soalnya dia benar hoki juga. Dia baru di puncak nih beli 2.500 m. Nanti gua tunjukin videonya deh.
Speaker A
Keren banget tuh rumah ya kan cuman 2,1 m2 m 2.500. Lokasinya bagus di bawahnya Taman Safari. Kok bisa ini pas pandemi?
Speaker A
Oh, dia belinya pas pandemi. Tapi orang kan ngelihatnya cuman wah lu mah enak punya rumah bagus, ini bagus segala macam. Tapi waktu gua 8 bulan tiap hari guax R juta, 14 juta kapan sih gitu kan enggak ada yang tahu. Abang gua
Speaker A
ternyata di puncak itu dia sampai nginep-nginp ber muter-muterin terus gitu sampai satu-satu ketemu gitu.
Speaker A
Dia ketemunya berarti pakai spanduk kah atau bisik-bisik gitu? Ee dia samperin rewet-rewet di sekitar puncak. Eh, een-agen di sekitar puncak.
Speaker A
Rewet tuh sih ee rewat era apa? Egen properti. Oke. Oke. Ih, lu nemu yang R9 juta per meter gila sih menurut gua.
Speaker A
Gila. Gila. Lokasinya menarik. Lu pas malam-malam itu malam-malam nemunya malam-malam itu pasti kayak langsung keringat dingin kali ini.
Speaker A
Enggak gue enggak gua enggak keringat dingin karena ini enggak mungkin menurut gua. Enggak mungkin pasti nafsu banget ya.
Speaker A
Enggak mungkin gua bilang nih sampai gua bilang nih ah nih iklan 5 tahun lalu kali nih kan kadang-kadang suka iklan yang dulu-dulu keluar lagi. Heh. Terus habis itu paginya gua bilang, "Bel, nih coba deh tes aja lu telepon aja." Gua
Speaker A
bilang gitu kan telepon lah. Telepon sama dia. Woi ada nih. Gitu. Oh, yang benar lu. Habis itu gua langsung bergetar gua nih. Anjrit nih 5 M dari mana ini? Kan langsung mikir ke situ kan.
Speaker A
Ya udah kita samperin orangnya. Dan orang-nya itu dia bilang begini, "Kalau emang el mau nih tanah lu harus bayar Rp100 juta sekarang saat itu juga." Karena besok udah ada yang mau bayar Rp100 juta duluan. Gua timpa langsung jebret. Habis itu ya udah gitu kita ee
Speaker A
kita tapi tuh beneran enggak ada yang mau ya. Bisa jadi ya harganya murah banget semurah itu.
Speaker A
Dan itu kalau misalnya apa e akhirnya kan tadi mau gua KPR-in enggak mau gua bayar cash kan ya. Karena price-nya gede enggak e karena ya buat gua sayang aja ngapain duit cash 5 M buat beli tanah kan.
Speaker A
Oke. Yang lu enggak tahu mau diapain. Iya tadinya masih cuman yang penting punya dulu kan. He.
Speaker A
Ya udah akhirnya ee kita appraise ke bank. Cuma kan bank sedikit yang mau beli KPT kan. Kredit pemilikan tanah tuh sedikit dan ke kredit pemilikan tanah tuh cuma 8 tahun Mas. Hm. Bedanya di situ.
Speaker A
Oke. 8 tahun habis itu ya udah gitu. E yang keluar tuh bank-bank bank-bank daerah lah, Bank Jabar, Bang ini segala macam.
Speaker A
Bank-bank Mandiri yang gede-gede. BC enggak ada yang mau enggak ada yang mau itu karena dia masih PPJB juga.
Speaker A
Oke. Jadi belum belum SH lah. Masih PPJB-nya BSD lah. Oke. Berarti lu harus ngurus SHM-nya nantinya atau enggak? Tetap sertifikat itu lagi diurus sekarang.
Speaker A
Oh, gitu. Cuman ya akhirnya gua pikir-pikir tapi kan mereka sudah keluarin appresal ya. Jadi, gua tahu 8M itu bukan karena gua nyebut. Opressel banknya kan ada di gua.
Speaker A
Tapi lu 8 tahun nih. Kalau bank daerah itu kan bunganya gede banget kan. Hm.
Speaker A
Jadi akhirnya enggak gua ambil. Jadi gua akhirnya ya udahlah gua apa casin aja. Berarti lu bayar Rp100 juta hari itu, habis itu lu 1 bulan kemudian gua lunasin.
Speaker A
Lunasin R miliar ya waktu itu. He buset. Habis itu karena udah punya tanah bangun kali ya.
Speaker A
Iya. Berina pusing sendirian. Pusing, pusing, pusing. Kenapa lu jadi bangun rumah deh kayak gitu?
Speaker A
Iya karena menurut gua rumah ya tapi itu rumah boh hoki loh sekarang. Karena kan masuk ke YouTube kan.
Speaker A
Oh masuk ke YouTube segala macam konstruksinya jelas apa segala macam. Tiba-tiba ada klien kita datang habis itu ee kliennya cukup besar lah.
Speaker A
He ya udah Pak datang aja ke rumah kita ee karena rumah gua ini seberangnya Clubhouse kan.
Speaker A
Heeh. Benar-benar seberang ini club house. Jadi ini rumah gua nih Mas. Ini Clubhous. Ini lapangan tenis.
Speaker A
Enak banget sih lokasinya. Jadi, e gua ajak meeting di Clubhous ya udah enggak pakai lama-lama. Oke, bagus deal gitu aja. Jadi, kan ada ada bonafitnya juga lah di situ.
Speaker A
Ah, ini gua jadi panjang nih ngobrol sama lu. Aman ya? Enggak apa-apa. Santai aja.
Speaker A
Aman ya. Gua minum ya. Seru nih soalnya. Berarti ketika lu bikin rumah ini karena lu udah tahu ini under valued.
Speaker A
He. Apakah rumah yang lu bikin sekarang ini he itu di kepala lu juga? Kalau gitu desainnya enggak usah terlalu aneh-aneh supaya suatu hari benar bisa gua jadi jadi developer gua hari ini. Karena karena gini, kalau kita bikin terlalu
Speaker A
aneh banget, enggak selera semua orang, Mas. Paham gitu. Karena buat gua ee rumah yang bagus itu harus liquid. Itu nomor satu di di kepala gua. Bukan rumahnya harus bagus. Makin banyak orang suka, makin gampang dijual. Itu lumayan bagus
Speaker A
menurut gua. Oke. Kalau menurut orang lain terserah kan. Tapi lu enggak ada ada jiwa-jiwa senimannya dikit kayak ini idealisme gua akan ada di sini gitu.
Speaker A
Iya ada begitunya dan menurut gua tetap harus di mungkin karena gua dari kecilnya banyak ngurusin rumah developer ya jadi emang udah terbiasa juga tangan gua tuh ke situ gitu.
Speaker A
Paham paham paham. Gua mau bikin agak aneh dikit wah nih ngapain entar susah jual. Heeh. Itu kan udah mindset kan.
Speaker A
Jadi rumah-rumah klien gua ini sekarang itu juga banyak rumah yang gua kerjain buat klien gua itu di perjalanannya itu banyak orang datang nanya rumah itu dijual apa enggak. Hm.
Speaker A
Jadi menurut gua arsitek tuh ada ada macam-macam kelebihannya lah gitu. Ada arsitek yang emang bentuknya bisa unik banget satu-satunya yang lu punya gitu.
Speaker A
Ada juga yang bisa bikin rumah lu pasti selalu laku. Mungkin kayak model kayak gua. Ada juga yang emang modelnya seperti apa emang brutal apa segala macam bentuknya. Ya tergantung lu mau mililih yang mana.
Speaker A
Karena lu dari kuliah juga udah terbiasa di komission kali ya. Dengan lu gambar buat majalah itu lu udah biasa gitu ngelihat industri gitu.
Speaker A
Iya industri. Ini market kebutuhan market kayak gini gua bikinnya kayak gini. Kalau aneh susah, Mas. Kalau susah dijual kan paham sih.
Speaker A
Susah. Kayak gua punya punya workshop sekarang nih. Workshop furniture gua itu kan beli cuman 1,5 ee R,5 juta semeter.
Speaker A
He. Tanahnya 300 m. Daerah daerah belakang Bani Umar Bintaro. Oke. Ya kan? Ee itu ee harganya waktu itu berarti R50 juta kan?
Speaker A
H R50 juta gitu. Habis itu kita cicilnya itu sekitar R jutaan sebulan lah. 4,5 jutaan sebulan. Ya udah, e begitu udah jadi sekarang dia kan ngasilin bikin workshop furniture ya, bikin furniture-furniture kan gua dapat cuan dong dari situ ya kan. Berarti kan kalau
Speaker A
buat bulanannya mah gampang lah. Sekarang itu tiba-tiba di situ Mas. He emang bukan tiba-tiba sih gua biar heboh aja. Jadi sebenarnya ee gua udah tahu kalau di situ bakal ada tol.
Speaker A
Oke. Tolnya itu enggak nyampai sekilo ya kan. di situ gua tahu juga ee Bintaro tuh akan bikin botanika yang akan harganya di 3,5 sampai 5 an.
Speaker A
Oke. Ya kan ini workshop gua di belakangnya mereka. Sekarang yang tadi gua beli R,5 juta ada Rp juta semer. Sekarang sudah terlalu mewah untuk workshop. Terus apa yang terjadi? Gua mesti cari tanah yang lebih minggir lagi untuk workshop.
Speaker A
Mungkin gua beli 2.000-an sekarang yang gedean ya kan. Nah, yang ini nantinya bakal gua jadiin kos-kosan karena udah terlalu mewah di situ. I kan tuh terlalu mewah itu kan di kepala lu aja kan. Makudnya kalau lo jadiin workshop masih enggak
Speaker A
apa-apa dong. Dulu belum ada lampunya, Mas. Masih gelap-gelap. Heeh. Jadi lu bayangin segelap itu tempat itu.
Speaker A
Tapi gua tahu itu bakal bakal jadi sesuatu. Iya. Artinya kalau lu sekarang di sini sebelahnya udah ada kafe, udah ada rumah, udah ada apa udah udah ada perumahan, udah apa terlalu mewah lah tiba-tiba ada workshop furniture di situ. Iya kan?
Speaker A
Tapi engak apa-apa kalau sebelahnya kafe loh. Kalau lu mau bandel boleh-boleh aja dong. 100 me di situ ada padel. Nah ini terlalu mewah.
Speaker A
Terus ada poinya. Iya. Tiba-tiba ada bunyi ngek ngek ngek gitu kan. Mendingan lu jadi kos-kosan itu berarti kan sebenarnya e benar kata lu tadi. Jadi akhirnya semua rumah gua yang gua bangun pun juga gua harus bikin tuh seliquuid mungkin
Speaker A
ya. Ituudah ada di dalam darah lu sih. Iya harus kayak gitu untuk berpikir secara matematisnya ya.
Speaker A
He. Nah ee berarti lu akan ada kos-kosan kemungkinan bayangannya gitu. Nah ini kan kita beli nanti di jadi ada antara BSD sama Tenjo itu kan bagus tuh daerahnya.
Speaker A
Gua mau beli tanah mungkin 3.000-an di situ untuk minor gua sekarang. He ke situ. Nah, workshop gue yang sekarang bakal jadi kos-kosan kan?
Speaker A
Iya. Nah, yang ini nanti ini jadi workshop sementara nih. Paling 8 tahun lah. Oke.
Speaker A
Entar kalau dia udah ramai lagi gua jadiin kluster ya kan? Kan gitu kan. Lu bisa santai dikit enggak sih? Iya.
Speaker A
Lu mikirnya udah jauh banget pasti ya. E harus gitu kan. Oke, sekarang kasih kita tips ee kalau mau beli rumah di daerah mana saat sekarang-sekarang ini yang masih make sense?
Speaker A
Oke. Ee rumah tuh di kita kalau ngomongin rumah tuh harus ngomongin lokasi, lokasi, dan lokasi selalu kan.
Speaker A
He. Jadi, gua ambil sampling aja dua nih. Eh, ada yang namanya sunrise property, ada yang namanya sunset property. Enggak sunset gimana gini, kalau di Bintaro itu Bintaro Jaya itu dia punya tanah itu total 2.000 hektar.
Speaker A
He. BSD itu punya total 6.500. He. Bintaro itu udah dibangun ee sekitar 80% berarti sudah tinggal 400 hektar lagi.
Speaker A
I. Kalau di BSD itu dia ada di 6.000 hektar. He baru kebangun 3.500, dia masih punya 2.500 lagi.
Speaker A
Yang belum dibangun sama BSD aja itu segede Bintaro. Benar enggak? He. Asarnya gitu kan. Nah, sekarang lu pilihannya lu mau beli di lokasi makronya dulu. Kita ngelihat yang gedenya kan mau di mana? Di BSD atau di Bintaro.
Speaker A
Kalau di Bintaro ee ada faktor nostalgia dan kelangkaan di situ. Jadi ketika lu main flipping akan lebih bagus di Bintaro.
Speaker A
Heem. Karena langka kan barangnya. Oke. Kalau di BSD kan tanahnya masih banyak nih. Paham. ya kan?
Speaker A
Nah, kalau di Bintaro itu gua hitung-hitung itu sekitar 5 sampai 10% lah setahun naiknya.
Speaker A
Naiknya. He. Tapi kalau di BSD dia akan lebih susah jual nih kalau rumah second.
Speaker A
H ya kan karena kelangkaannya belum ada, developernya masih bikin terus kan. Iya. Kalau di Bintaro kan sudah mulai sedikit. Nah, tapi karena dia masih ada 2.500 dia bakal bikin CBDCBD baru dong.
Speaker A
Oke. Dia bakal ada mall baru, bakal ada apa sesuatu yang baru. Karena masih 2500 masih segede Bintaro Jaya nih.
Speaker A
Paham? ya kan berarti kenaikannya itu lebih dari 5 10% bisa 8 sampai 12% mungkin kalau tarik panjang kalau tarik panjang jadi lu sekarang tinggal milih yang mana nih mau BSD atau mau Bintaro itu dulu untuk dipilih Oh itu makronya kan
Speaker A
oke nah kalau menurut gua yang bagus adalah kalau emang lu punya duit 10 miliar misalnya 7 miliar lu ada di BSD 3 miliar mungkin ada di Bintaro.
Speaker A
Oh jadi punya dua nih. He itu paling safe tuh karena kalau paling gampang dijual kan di sini ada kelangkaannya kan.
Speaker A
Oke. Ini menurut gua ya. Nah. Oke, baru habis itu kita ngelihat yang bagian mikronya.
Speaker A
He kita ngomong probabilitas lagi kan di bawahnya ada sutet ya jangan dipilih ya kan dekat kuburan ya jangan dipilih.
Speaker A
Oke. Kayak gitu-gitu kan. Oke. Probabilitasnya gini. E ada orang yang enggak takut sama setan ya kan? Jadi dia mau rumah lu di sebelah kuburan ya enggak apa-apa.
Speaker A
Tapi kayaknya lebih banyak yang takut deh. Jadi kita jangan cari yang begitu kan. Oke.
Speaker A
Itu kita ngomong mikronya kan. Eh tapi ini konteksnya berarti buat flipping kan? Oh enggak. Konteksnya buat rumah tigal.
Speaker A
Oh. Karena karena lagi-lagi suatu hari mungkin lu mau jual gitu kan. Iya. Oh iya dong. Masa rumah lu mau 90 m terus kan pengin juga yang 150 200.
Speaker A
Oke itu maksud gua sih. Jadi jadi kita mesti ngelihat makronya dulu nih. Lu mainnya ke mana? Berarti lu ngelihat di situ bakal ada CBD atau enggak apa segala macam atau faktor kelangkaan tadi yang bikin dia jadi menarik gitu. Alam sutra kan juga
Speaker A
tanahnya juga tinggal sedikit nih. H dia makanya dia bikin Alam Sutra dua. Berarti kan ee faktor kelangkaan itu.
Speaker A
Jadi lu kalau mau flipping di Alam Sutra mah top lah. Nih gua kasih tahu aja.
Speaker A
Oke. Oke. Flipping dalam sutra ya. Oke. Oke. Karena kelangkaannya udah enggak ada. Flipping di Bintaro juga oke karena kelangkaan kan. Tapi kalau lu flipping di BSD agak berat tuh BSD masih punya.
Speaker A
Oke. Berarti flipping di Alam Sutra atau Bintaro itu juga tergantung lu bisa dapat harga bagus apa enggak kan.
Speaker A
Yes. Gitu. Tapi kan zaman sekarang banyak yang lagi bu kan itu kelihatan tuh di rumah 1 2 3 tuh kelihatan. Ini lagi turun semua kan harga-harganya. He.
Speaker A
Karena ee ya ekonomi kan ekonomi. Jadi ini saat yang tepat buat beli. Kalau gua sih sekarang lagi ngumpulin terus nih ngumpulin properti.
Speaker A
Oh iya sekarang karena harganya mulai mulai enak lah. Berarti Jaksel coret lah ya udah selesai ya Jaksel ya.
Speaker A
Overprice ya. Enggak juga. Tapi kalau dijual mungkin lebih gampang karena ada faktor kelangkaan kan. Enggak semua orang mau jual kan.
Speaker A
Lagi-lagi kalau lu bisa dapat harga bagus di jaksel. Iya ada faktor kelangkaannya Mas. Jadi orang yang bilang sunrise sama sunset tuh belum tentu ada yang lebih bagus.
Speaker A
Karena lu sunset langka kan berarti. Hm. Lu pribadi tidak akan keluar BSD Bintaro? Mm. Enggak sih.
Speaker A
Enggak ya? Enggak. Karena lu udah pahamlah permainan di situ ya. Nomor satu gua datang ke daerah Jakarta Selatan. Gua kan kecil sekolah gua di Hajinawi ya.
Speaker A
Heeh. Gua kemarin lewat si riwet banget ya. Riwe gitu. Riwe banget. Tapi kalau ke BSD kan rapi segala macam. Habis itu juga kantor kita juga di daerah situ.
Speaker A
Gua, gua cinta ini. Gua naksir Forestra gua yang ada ruko-rukonya itu yang gede-gede tuh cakep banget itu.
Speaker A
Menarik, bagus dan itu harganya juga oke kan. Ini di The Foresta ini ada Nava, ada Nava Park.
Speaker A
Tahu Nava Park? Iya. Rumah gua di atas Nava Park nih. Oh, jadi rumah lu di atas rumah lain?
Speaker A
Nah, jadi jadi kalau kalau lu kalau kalau kalau kalau yang gue suka ya, salah satu posisinya gini, Mas.
Speaker A
Ini kita ngomongin mikro lagi ya. Heeh. Rumah gua tuh depannya sungai, belakangnya bukit. Heh.
Speaker A
Kalau di Feng tok banget tuh. Oke. Lebih gampang dijual dong. Heeh. I kan. Jadi itu juga dipentingin. Jadi depan gua tuh sungai, belakang gua bukit. Di seberang sungai gua ini Nava Park yang seragam itu.
Speaker A
Tahu? Iya iya iya. Yang berapa? 10 M itu kalau salah. Iya. Jadi lu bayangin ee posisi yang bagus ini juga harus dipikirin di mikronya ketika kita mau beli rumah supaya dia gampang dijual nantinya.
Speaker A
Oke. Oke. Kalau misalnya tiba-tiba ada teman-teman yang ee Tionghoa gitu datang gitu kan tinggal ceritain belakang bukit depan sungai.
Speaker A
Oh, apalagi harganya. I ya lu bisa bisa kasih yang kompetitif ya karena lu belinya murah.
Speaker A
Iya menarik. Oke, kita ke pertanyaan ee ini kita sudah mau kelar nih. Kita ke pertanyaan para member. Banyak yang penasaran sama lu juga dari Acan. Bang Hilman, saya perhatikan tren rumah sekarang hampir semua berkiblat ke arah boksi modern dan
Speaker A
super minimalis. Apakah pergeseran estetika ini murni karena tuntutan efisiensi modal, biaya tukang dan maksimalisasi lahan yang makin sempit?
Speaker A
Terlalu kritis Anda Acan. Tapi benar dia. Benar ya. Oke, maaf. Dan bagaimana pandangan Anda terhadap klien yang di tahun 2026 masih idealis pengin bangun rumah gaya klasik Eropa Gothic atau Mediterania?
Speaker A
Apakah style ornamental seperti itu masih make sense secara biaya perawatan di iklim tropis kita? anak SMA nih yang nanya nih. Si AC sikat.
Speaker A
Gua pernah ada satu perumahan besar di Karawang ya, Mas. Oke. Gua datang ke sana ee viewersnya sejuta lebih kalau buat gua gede banget.
Speaker A
Oke. Viewers-nya gede gitu. Ee rumahnya lucu, rumah Jepang-jpangan begitu. Habis itu tiba-tiba gua dipanggil lagi ke sana. 6 bulan kemudian rumah itu enggak jadi dijual.
Speaker A
He padahal secara viewers bagus ee orang suka gitu. Ternyata orang Karawang enggak suka yang modelnya minimalis.
Speaker A
Akhirnya dibikinin yang model klasik. Hm. Jadi ee kalau masalah klasik apa enggak klasik itu tergantung orangnya juga.
Speaker A
H. Ada yang orang daerah tertentu lebih suka yang klasik, orang yang daerah tertentu mungkin enggak suka. Ada yang meang dari kecil mungkin dibeliin nyokapnya Istana Barbie, habis itu dia pengin punya Istana Barbie pas sudah gede kan bisa juga.
Speaker A
He. Tapi kalau kalau berpikir Mas Market Heeh. yang paling safe minimalis. Itu yang mau gua cerita di Karawang ternyata enggak laku.
Speaker A
Oh, market. Artinya kita bicara Mas Market itu tergantung tergantung daerah juga. Tapi kebanyakan di Indonesia ya tentu bentuknya kotak-kotak sederhana, atep, pelana biar murah tapi enggak gampang bocor gitu-gitu kan.
Speaker A
Hm. Nah, kalau el yang BSD ini yang lu beli dan lu bangun boky. Boki karena di sana sukanya gitu.
Speaker A
Di sana sukan gitu. Oke oke oke. Dari Supriari 666. Seram juga lu. Superius setan.
Speaker A
Mas arsitek, saya mau nanya, iklim di tempat saya panas. He. Kira-kira jendela dan atap berbahan apa yang bisa membuat rumah sejuk dan apakah warna cat dinding luar rumah berpengaruh juga?
Speaker A
Warna cat dinding luar tentu ngaruh. Kalau kita pakai gini, kalau kita punya rumah duak di atas, he ducknya itu kita cat warna gelap udah pasti gelap rumah. Eh, udah pasti panas rumah. He.
Speaker A
Jadi kalau kita ngedak di atas itu kalau bisa warnanya abu-abu muda banget. Berarti kan itu mempengaruhi juga ke seluruh dinding kan.
Speaker A
Oke. Jadi dinding yang warna putih tentu lebih adem daripada dinding yang warna gelap. Oh ternyata ngaruh ya.
Speaker A
Ngaruh. Habis itu kalau masalah jendela, jendela itu kalau mau punya duit pakailah double double glass.
Speaker A
Double glas itu gimana tuh? Jadi ada ada jendela eh ada ada kaca, ada rongga udara, ada kaca lagi.
Speaker A
Oke. Jadi matahari masuk dia kejebak di tengah ini dia enggak nyampai ke dalam. Oh bisa. mahal.
Speaker A
Oh, gitu. Kurang lebih kayak gitu sih. Teknologinya udah macam-macam. Tapi kalau duitnya engak enggak banyak dan udah terburu jadi si jendelanya, pasangnya kaca film.
Speaker A
Hmm. Kaca film di luarnya bantu tuh bantu. Tapi kalau mau adem banget satu rumah double glas.
Speaker A
Desainnya dari awal benar. Tritisannya juga bagus. Trisitisan apa? Ee topi-topian gitu. Oh, jadi topi-topian di antara jendela itu kalau matahari kan begini 45 derajat.
Speaker A
Kalau topi lu panjang kan enggak masuk. IC itu kan berarti desain berarti dari awal kalau mau rumahnya adem ya desain pakai arsitek.
Speaker A
Si arsiteknya harus tahu nih keinginan lu apa. Habis itu hindarin barat sama timur. Rumah gua ini ee yang lagi gua bangun sekarang yang punya gua itu agak kurang bagusnya karena dia ngadap barat.
Speaker A
He. Jadi di barat sama di timur tuh benar-benar gua tutup dengan cara ee fasadnya masif aja lebih masif.
Speaker A
Hm. Jadi enggak banyak jendela gitu. Jendela utama gede kiri kanan di utara dan selatan.
Speaker A
Hm. Jadi rumah lu tetap masuk matahari tapi enggak panas. Paham. Paham. Paham. Karena begitu trajektorinya matahari itu enggak langsung mantap di depan jendela lu.
Speaker A
Betul. Betul. Dan timur itu pagi-pagi tetap panas kan. Hm. Oke. Terakhir dari Mang RM. Mas Hilman, izin mau tanya kan setiap negara pasti punya arsitektur khas masing-masing.
Speaker A
Bagi Mas Hilman, arsitektur bangunan apa dan dari mana yang membuat Mas Hilman merasa terkagum-kagum? Apa enggak kayak ini gampang jual gitu aja kali kalau lu ya.
Speaker A
Iya. Menurut gua gitu sih. Iya. Tapi tapi kalau kalau gua pribadi rumah gua nanti ee sebelum sekarang Japani itu ngetren deh sebenarnya gua suka banget desain Jepang ya yang benar-benar clean dan gua enggak enggak pengin rumah kelihatan hangat
Speaker A
justru pengin kelihatan dingin gitu. Kalau di Jepang kan saking sedikitnya barang tuh dingin deh feelingnya gitu. Habis itu enggak banyak warna gitu. Warnanya satu ya dipakai buat semua gitu.
Speaker A
Ih berarti lu cocok dong sama gua. Gua suka yang kayak gitu juga. Gua suka kayak gitu. Gua enggak ribet kayaknya kayak yang gitu-gitu segala macam. Tembok rumah ada foto keluarga enggak?
Speaker A
Enggak, enggak. Gua enggak ngerti dong. Ngerti lah dia. Ngapain keren? Iya kan? Kok geleng dia.
Speaker A
Iya kayaknya enggak ngerti dia. Buat buat apa sih pamer-pamerin gitu ya? Enggak. Iya benar.
Speaker A
Kecuali kalau mungkin lu dilukis sama siapa gitu yang keren kontemporer. Enggak juga sih kayaknya.
Speaker A
Enggak juga. Bel jelek. Ah. Tapi ada yang kayak gitu tuh. Koko begitu. Ada ada aja.
Speaker A
Ada. Ada. Kalau negara enggak ada yang benar-benar jadi kiblat lu. Ya, kita lupakan soal ee Mas Market atau gampang dijual deh gitu.
Speaker A
Ada enggak sih yang yang desain perks yang lu suka gitu? Mm. Gua gua suka satu arsitek namanya Elding Oscarsen. Itu dari luar gitu. Ee ada juga arsitek-arsitek dari Jepang.
Speaker A
Tapi gua bingung juga sih, Mas, kalau ditanya kayak gitu. Soalnya waktu dulu gua ospek itu he itu gua sempat dipukulin sih gara-gara ditanya arsitek favorit lu siapa? Gua jawab Ciputra.
Speaker A
Gimana dong? Ya enggak salah dong gue. Iya enggak salah. Karena lagi-lagi tuh soal soal selera dan mindset loh kan.
Speaker A
Iya tapi gua suka arsitek Indonesia satu yang nama anak gua gua kasih nama dia eh Fredik Silaban yang bikin ee Istiqlal.
Speaker A
Oh karena gua suka aja dia keren kan. Benar-benar anak pendeta tapi bisa bikin masjid paling top. Oke. Dan istiqlal emang bagus sih.
Speaker A
Keren. Keren. Begitu masuk kan kayak buset. Dan gua juga gua juga kadang idealisnya juga.
Speaker A
Gua nge-YouTube tuh ke Istiqlal. Heh. Habis itu gua bahas semuanya gimana caranya dulu Bung Karno mau begini begini begini. Ini kenapa begini ini kenapa begini? Enggak laku ya nonton. Ah udahlah kanak enggak usah di idealis lah.
Speaker A
Nama anak lu itu eh iya apa? Frederik atau eh Fritz? Fritz. Ke nama kecil dari Frederick kan?
Speaker A
Saking sukanya loh ya. Suka gua. Maksud gua keren nih orang. Maksud gua e benar-benar tangganya tuh dihitung pakai Al-Qur'an segala macam.
Speaker A
Top lah. Keren, keren, keren, keren. Oke, siap. Kalau ada yang mau tahu lebih banyak soal lu bisa ke mana buat yang nonton?
Speaker A
Mmm YouTube Arsitektur Indonesia bantuin gua sejuta. Sejuta subscriber. Heeh. Susah banget kayaknya nih. Udah setahun terakhir ini kan susah banget, Mas. Nah.
Speaker A
Setahun terakhir ini ya? Iya. Parah sih. Iya. I 867.000 nih ya. Mudah-mudahan pansos sama Mas Radut ya kan bisa jadi 900 kali.
Speaker A
Makasih sudah mampir ke sini ya. Thank you semuanya sudah nonton. Thank you semuanya.
Topics:bisnis propertiRaditya DikaHilman FerdinandArsitektur IndonesiaYouTube channeldesain and buildflipping rumahpandemi Covid-19developer rumahBSD











