Skip to content

Ngomongin Investasi Bareng Michael Yeoh — Transcript

Diskusi mendalam tentang investasi dan trading bersama Michael Yeoh, fokus pada emotional intelligence dan strategi pasar modal.

Key Takeaways

  • Emotional intelligence sangat krusial dalam investasi untuk menghindari keputusan emosional yang merugikan.
  • Investasi harus diperlakukan sebagai permainan dengan aturan yang jelas, bukan sekadar taruhan atau tebak-tebakan.
  • Overtrading dan ketergantungan pada adrenalin dapat merusak hasil investasi jangka panjang.
  • Mengelola risiko dan tahu kapan harus berhenti atau menyimpan uang adalah kunci keberhasilan investasi.
  • Tekanan sosial dan FOMO seringkali menyebabkan investor mengambil keputusan yang tidak rasional.

Summary

  • Michael Yeoh berbagi pengalamannya sebagai trader dan investor sejak 2011.
  • Investasi dipandang sebagai permainan yang memerlukan pemahaman aturan, bukan sekadar tebak-tebakan.
  • Pentingnya emotional intelligence dalam mengelola investasi dan menghindari keputusan impulsif.
  • Perbedaan mindset antara bermain game online dan investasi di pasar modal.
  • Risiko overtrading dan sulitnya berhenti trading karena efek psikologis dopamin dan adrenalin.
  • Kesalahan dalam investasi tidak bisa dihindari, yang penting adalah mengelola kerugian agar tidak lebih besar dari keuntungan.
  • Pengaruh tekanan sosial dan FOMO terhadap perilaku investasi yang agresif dan berisiko.
  • Manajemen risiko yang baik termasuk tahu kapan harus diam dan menyimpan uang dalam aset yang lebih aman.
  • Komunitas dan mentorship sebagai sarana belajar dan berbagi pengalaman dalam investasi.
  • Pasar modal selalu berfluktuasi, namun secara jangka panjang cenderung kembali ke level tertinggi.

Full Transcript — Download SRT & Markdown

00:00
Speaker A
Hari ini kita bersama Michael Leo, seorang trader dan investor. Betul ya? Betul sekali. Dari tahun berapa tuh?
00:09
Speaker A
2011, 12 Mas Radit. 2011 itu sudah 14 tahun lah kurang lebih. Berarti pas umur-umur 20, 20-an awal.
00:17
Speaker A
Karena gua tahunya el masuk ke pasar modal karena teman-teman pada main game dan lu enggak ngerti.
00:22
Speaker A
Gua enggak ngerti itu gimana maksudnya? E gua ngelihat waktu kumpul-kumpul tuh tiap hari kan kita dari umur belasan sampai 20-an ngumpul tiap hari ngopi, seumur pada main game tuh COC lah segala macam lah Mobile Legends lah. I Mobile Legend betul.
00:36
Speaker A
Gua nanya ini ujungnya ke mana? Nanti bisa dapat skin, bisa upgrade. Terus ujungnya ke mana? Ujungnya ke mana? Gua selalu nanya gitu. Enggak ada menurut gua. Meskipun akhirnya gua salah karena saat ini tuh banyak YouTuber game yang sukses gitu.
00:49
Speaker A
Benar. Tapi itu kan ee 1% 2% kali ya. Iya. 1% 2% dan zaman gua waktu itu belum ada YouTuber dari gamer.
00:57
Speaker A
Jarang banget. I dan lu ngerasa kalau di game dia naikin level, karakternya naik level, orangnya belum tentu.
01:04
Speaker A
Orangnya belum tentu. Kenapa enggak lu aja yang memperlakukan kayak game? Yes. Kita aja jadi karakter diri kita, kita bentuk diri kita.
01:11
Speaker A
Oh. Jadi lu memperlakukan diri lu kayak nanti ada naik level ini, naik level. Yes. Yes. Sampai saat ini masih berarti pasar modal itu begitu lu masuk lu merasa, "Oh, daripada gua main game online, mending gua main game yang ini."
01:22
Speaker A
Yes. Betul. Artinya secara mindset lu memperlakukan itu sebagai sebuah game juga seperti sebuah permainan. Iya.
01:27
Speaker A
Oh, cuman di kalau di umum kan kita tidak bilang kayak main saham kan main saham, main investasi enggak boleh sebenarnya.
01:34
Speaker A
Cuman memang kalau kita memperlakukan tempat kerja kita itu seperti bermain, energi kita bakal bagus kan.
01:40
Speaker A
I e kita enggak bakal capek tuh kalau ada masalah. Kita justru willing to solve the problem.
01:46
Speaker A
Oke. Jadi main di pasar modal itu bukan artinya lu menjadikan itu kayak semacam tempat ee tempat buat betting dan lain-lain ya, bukan main itu kan.
01:57
Speaker A
Tapi main artinya you know the rules, you know the game, maka lu bisa coba cari keuntungan di pasar modal dengan berbagai macam perhitungan yang lu punya gitu, bukan tebak-tebakan kan.
02:08
Speaker A
Karena banyak orang ke pasar modal tuh nebak. Iya nebak. Problemnya itu people investment do the forecasting. Mereka mau tahu besok saham apa yang naik, tahun depan kira-kira yang hype apa. Minwal kita hanya perlu bereaksi sebenarnya kita perlu merespon terhadap apa yang
02:24
Speaker A
terjadi. No forecasting boleh, tapi contoh ya kayak kita forecasting harga minyak. Heeh. Yang bilang harga minyak turun institusi-institusi gede tahun lalu banyak. Yang bilang naik juga banyak.
02:36
Speaker A
Oke. Jadi forecast itu always to coin ahead. Selalu plus ada yang minusnya. Jadi, forecasting tuh is always kita akan selalu salah.
02:45
Speaker A
Yang benar itu kejadiannya bagaimana kita ngerespon salah enggak apa-apa. Wow. Oke. Ee itulah kenapa banyak orang kalau belajar kan buku-buku analisa tuh banyak tuh mau teknikal kek, mau fundamental kek, semua orang mungkin baca buku yang sama.
03:00
Speaker A
That's about IQ kan. E di IQ money. Tapi banyak jarang orang bahas soal IQ money alias bagaimana hubungan emosional kita, kecerdasan emosional kita terhadap uang.
03:10
Speaker A
Oke, a lot of people don't have that. Jadi mereka berinvestasi itu maaf nih ya, karena ngelihat media sosial banyak yang pakai mobil sport, banyak yang hidupnya mewah banget. Pengin seperti itu.
03:21
Speaker A
Kecerdasan emosionalnya terhadap uang tuh motivasi dia open rekening tuh beda. Oke. Dia bukan mau explore diri dia, dia membuktikan atau mau sama dengan orang lain.
03:31
Speaker A
Tapi apakah itu yang jadi tantangan lu juga ketika lu ada kayak grup berbayar juga kah?
03:36
Speaker A
Grup berbayar sih enggak. Ee lebih ke apa? Ada mentorship kah? Mentorship ee lebih ke kita punya komunitas.
03:42
Speaker A
Oh komunitas. Apakah itu juga yang lu lihat di komunitas el ketika orang banyak beberapa yang masuk kayak apa nih akan naik, apa yang akan naik? Oh, itu banyak tuh kayak gitu. Dan dan saya punya PR sampai saya ngelihat bahwa stock market
03:56
Speaker A
itu dalam investasi kita akan selalu salah, kita akan selalu buat kesalahan. Bagaimana caranya biar kesalahan itu tidak lebih besar dari yang benar?
04:05
Speaker A
Oh, dan dengan itu yang kita perlukan apa? Ternyata emotional intelligence. Oke. Saya temukan banyak sekali, Mas Radit, orang yang berinvestasi di bursa saham yang menggunakan metode berbeda sekali dengan saya.
04:16
Speaker A
He. Dan berhasil jauh lebih besar dari saya. Oke. Dan juga dengan metode yang amat berbeda dengan orang ini, yang berhasil juga ada.
04:25
Speaker A
Tapi dari semua orang itu saya temukan satu kesamaan. Apa tuh? Emotional intelligence-nya terhadap uang itu baik. Mereka punya trauma atau mereka punya dendam yang sudah selesai.
04:36
Speaker A
Mereka sudah selesai dengan diri mereka. Jadi mereka menganggap uang it's just number gitu loh. Bukan sesuatu yang mereka perlu kejar ya. Karena saya menemukan bahwa orang yang terlalu ambisi ngejar uang sebenarnya dia bukan ambisi.
04:47
Speaker A
Heh. Dia takut ketinggalan dari orang lain. Fomo. Dia formal. Dia menumpuk energi ketakutan itu yang dia enggak sadar dia terus limpahkan ke dalam strategi dia.
04:57
Speaker A
Buku-buku yang dia baca selalu yang soal agresif-agresif. Ee buku yang dia baca sampai mengakibatkan ee mengabaikan risiko dan berujung jatuh. Kalau konkretnya gimana? Kalau realitanya gimana? Eh, apakah artinya misalnya ini orang sudah baca banyak buku, dia udah pintar, udah bisa
05:13
Speaker A
ngitung nilai wajar apa segala macam, udah bisa narik-narik garis. Ee ketika di market eh kalau dia masih emotional intelligence-nya masih belum oke, maka manifestasinya apa? Dia akan lebih gampang dibisikin orangkah atau ketika turun dia malah hajar lagi apa gimana?
05:30
Speaker A
Dia dia selalu mengabaikan risiko. Oh, jadi ee matanya itu selalu terbuka sama sesuatu yang ee seandainya ada risiko dia akan denial. Ini contoh ya jatuh pertama kali ini murah turun lagi ini murah ini murah ini murah ini murah
05:43
Speaker A
ini murah beli terus beli terus beli terus sementara tidak lihat kondisi sekarang ada saatnya lu harus diam kan ada saatnya lu harus simpan ee ee cash cash l ada saatnya lu harus simpan di sesuatu yang asetnya jauh lebih tetap
05:55
Speaker A
atau jauh lebih safety. Oke. Dan karena kenapa? Karena orang ee selalu merasa dikejar waktu, selalu merasa kayak tahun segini gua sudah harus berhasil. Tahun segini gua harus sudah punya rumah, harus sudah punya uang 1 miliar, harus sudah punya
06:07
Speaker A
10 miliar. Dan itu ngebuat investasi mereka selalu dikejar-kejar seperti seolah kayak tidak ada hari esok. They thre for living ya. Sementara yang mereka lakukan seperti living for trade gitu, kebalikan gitu loh.
06:22
Speaker A
Oh, living for trade tuh dia dikonsumsi sama trading sehari-harinya. Itu enggak bagus. Itu tidak bagus.
06:28
Speaker A
Jelas. Jadi masalah dari trader itu satu yang paling susah enggak trading tahu kapan harus berhenti. Itu paling susah loh.
06:38
Speaker A
Oh iya sih. Iya sih. Iya. I ya paham paham paham. Karena karena dopamin kita, adrenalin kita yang setiap hari lihat harga bergerak itu otomatis kita secara psikologi akan dipancing untuk selalu ada posisi. Selalu ada posisi. Kita harus kalahkan ini. Kita harus bisa
06:51
Speaker A
dapat yang gede. Kita harus merasa pintar, merasa jago. Dan itu 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun dibentuk selama 10 tahun tiba-tiba harus diam. Pasti kayak enggak enggak bisa begitu.
07:00
Speaker A
Kemarin tuh gua ada buka puasa di rumah kan. Oke. Terus ada satu orang nyamperin gua gitu gitu. Terus dia cerita-cerita, "Bang Radit, 10 tahun ini gua habis ee melihat ulang investasi-investasi gue.
07:14
Speaker A
Dia juga enggak perse trader ya, tapi dia juga ya kadang dia nge-swing juga segala macam. Cuman dia udah banyak ikut kelas lah apa segala macam. Dia cerita gitu lagi sharing-sharing aja. Eh, gua ng-etrack back 10 tahun semua kegiatan
07:27
Speaker A
investasi, kegiatan trading yang gua lakuin. Ternyata pas gua hitung-hitung setelah 10 tahun itu dia jual, dia beli, dia tan segala macam itu minus R juta.
07:36
Speaker A
Oke. Dia enggak enggak ke mana-mana. Iya. Bahkan minus R juta lagi. Nah, terus dia cerita apa gara-gara gua ini ya gara-gara turun dikit beli nanti orang bilang ini jual. He.
07:47
Speaker A
Dan dia kadang ngelihat, "Oh, ada sempat untung gede." Iya. Habis itu tapi itu kan porsi da
08:00
Speaker A
Indonesia itu terjadi di aku bahkan Mas Radit. Oke. Selama 5 tahun awal aku berinvestasi 2011 sampai 20151 aku plus nol. Jadi aku hitung nih uangku contoh R juta 5 tahun kemudian R juta lagi sempat jadi 30 40 juta lalu kemudian
08:15
Speaker A
minus balikbalik lagi 10 juta sempat naik sempat ini lu sempat cash sempat cash out gitu-gitu kenapa ini bisa terjadi karena secara psychologi eh kita kalau santainya eh emotional intelligence itu soal kalau kalau dari buku Ken Honda dia bilang itu
08:29
Speaker A
namanya container money. Kalau bahasa Indonesianya tuh wadah uang. Jadi setiap orang pasti punya getaran resonansi, vibrasi, energi terhadap uang. Nilai uang tertentu setiap orang beda-beda.
08:40
Speaker A
Contoh, pengeluaran aku 1 bulan Rp50 juta. Ketika aku mendapatkan uang 1 bulan di atas R juta, saya mulai deg mulai gemetaran tuh. Nah, itu artinya wadah saya Rp50 juta. Hm.
08:51
Speaker A
Nah, ketika saya berinvestasi contoh dengan modal 200, 300, saya dapat Rp50 juta. Otomatis sudah kesenangan.
08:58
Speaker A
Ujung-ujung akan takut kehilangan Rp50 jutanya meskipun profit. Iya. Seandainya kalau los gimana? Sama juga kalau R00 juta saya sudah minus R juta. Udah mulai takut juga karena ini biaya bulanan saya.
09:09
Speaker A
Oh. Ujung-ujung setiap dia dapat profit Rp50 juta dia jual. Setiap dia entry minus R juta dia juga bakal jual. 1 2 3 tahun 10 tahun bakal 50-50 BP. Ah itu gimana cara nge-hack-nya biar ee ketika turun resikonya dibatasin ketika naik
09:28
Speaker A
dilupakan. Makanya saya enggak setuju kalau seandainya contoh dapat tanah warisan nih, jual. Saya ee ini Bapak saya punya tanah nih, jual tanahnya 5 M 10 miliar. Saya langsung invest, wadah uang kamu belum tentu sebesar itu.
09:41
Speaker A
Oke. Ujung-ujung malahan bisa habis. Jadi, kamu perlu meningkatkan wadah uang secara bertahap alias kalau bahasa ee kalau bahasa spiritualnya mungkin ya, itu resonansi kita terhadap uang gitu loh. Getaran kita, energi kita terhadap uang.
09:56
Speaker A
Oke. Oke. Jadi, kita harus tahu angka kita sendirikah. dan angka orang berbeda, setiap tahun berbeda. Nah, kebanyakan orang tidak sadar angka ini dan angka ini enggak berubah-berubah akhirnya.
10:06
Speaker A
Oke. Kalau dulu aku kehilangan R juta, takut banget, Mas Radit. Nah, ini tahun ini bulan kemarin. Nah, saya minus R miliar mungkin kayak biasa aja karena saya saya tahu hack itu, saya ketemukan angka, saya ketemukan pola itu dan saya solve.
10:19
Speaker A
Kondisi market sekarang. He. Berarti posisi lu lagi floating, lagi floating minus. Lagi floating minus. Eh, itu angka pasti jauh lebih gede daripada yang sebelum-sebelumnya dong.
10:28
Speaker A
Jauh, jauh. Dan I'm really fine. Enggak apa-apa juga ya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Mungkin agak kecewa, agak awalnya agak agak stres sedikit, tapi enggak enggak enggak ngerusakin hidupku.
10:39
Speaker A
Oke. Dengan kondisi makro kita sekarang menurut lu gimana? Eh, it's very hard to talk about makro saat ini. Karena eh kita ketahui Trump itu saat ini memang salah satu crazy people di di dunia. enggak jelas yang ya dia saat ini tuh memang
10:54
Speaker A
e saya cukup meyakini target utamanya itu adalah China ya mulai dari dia naikin tarif Vietnam karena paling gede.
11:01
Speaker A
Ternyata Vietnam itu selama ini jadi negara transferiper China paling gede. Nah kemudian yang kedua dia tangkap presiden Venezuela.
11:08
Speaker A
Venezuela itu diketahui yang nyuplai minyak paling besar ke China. Sekarang terakhir ke Iran. Nah Iran selat Hormus itu 20% oilnya ke China. Jadi memang ini tahun 2026 ini tahun di mana negara-negara besar merebut berusaha mengambil energi. Mereka mau dapat eh
11:25
Speaker A
source of commodity yang murah. Nah, makro dan ini ngebuat sebenarnya ya Mas Radin kita sebagai komoditi country diuntungkan sebenarnya.
11:33
Speaker A
He. Asal harga oil tidak terlalu tinggi. Oke. Yang artinya ini akan mengebuat harga nikel lumayan naik, harga CPO mulai naik, kemudian batu bara sebagai subsidiatory daripada oil itu mulai naik, which is kita kayakan batu bara.
11:45
Speaker A
Oke. Cuman memang namanya berisiko ST market kena dulu dengan ee dolar yang udah 17.000 terus oil yang juga makin naik. Apakah itu nanti jadi impas atau malah jadi kurang? Karena itu pasti membebani APBN EU kan.
12:00
Speaker A
Betul. Betul. Makanya ee terakhir tapi terakhir Presiden Prabowo mengatakan dia tidak akan melakukan cut MBG. dia akan cut ee terhadap ee biaya-biaya yang lain seperti infrastruktur, belanja APBN yang lain.
12:12
Speaker A
Oke, outlook lo masih oke nih berarti. Eh, I think we need to wait still wait and see until Janu, Februari, Maret, April. Maret, April. Mungkin di Q2 kita akan better. I I really I really I really eh believe that karena saat ini
12:28
Speaker A
negara emerging market eh tahun lalu 2025 yang paling perform selain Korea itu adalah Bovespa. Bovespa itu bursanya Brazil.
12:38
Speaker A
Oke. Brazil itu negara komoditi. Hm. Mirip seperti Indonesia. Naiknya 48%. Oh wow. Nah. dan tah dari sebelum crash eh Trump ini dari Januari itu mereka Januari aja Mas Radit 18% Januari aja.
12:55
Speaker A
Jadi saat ini ETFETF yang naik itu bukan ETF dari Green Energy, tapi dari commodity. I see.
13:03
Speaker A
Eh jadi memang saat ini memang ada commodity cycle. Oke, jadi memang ada perebutan harga komoditas di mana kita ketahui juga Trump itu salah satu presiden yang pro terhadap eh old commodity bukan bukan green energy.
13:17
Speaker A
Padahal kalau dilihat dari 2 tahun setahun lalu ekspektasi banyak orang tuh lebih ke barang-barang konsumer ya yang akan manggung ya. Tapi ini gara-gara Trump rada-rada nih.
13:27
Speaker A
Eh selain gara-gara Trump bahwa ternyata demand demand demand power kita tuh kurang. consumption dari lokal kita kurang ngebus karena ekonomi kah?
13:35
Speaker A
Karena ekonomi. Yes. Dolar cukup tinggi, kemudian pabrik-pabrik kurang open gitu loh. Dengan spending di MBG itu enggak cukup ya untuk di trickling down ke masyarakat.
13:45
Speaker A
Kita perlu lihat Q1, Q2 ini kan dari MBG apakah efeknya cukup ada. Tapi saya cukup sebenarnya saya kan tinggal di Pontianak nih Mas Red I.
13:52
Speaker A
Kalau kita keliling nyari mobil box, mobil Grand Max gitu enggak ada loh. Habis untuk MBG.
13:58
Speaker A
Oh iya iya. Kemudian toko-toko buah segala macam banyak yang tutup karena mereka supply MBG.
14:04
Speaker A
Oke. I really hope the number is reflecting. Yes. But ini kan baru 1 2 3 bulan ya.
14:10
Speaker A
Kita perlu Q1 lihatnya gimana. Jadi lu tetap cautiously optimistic lah ya 2026 ini ya.
14:16
Speaker A
Betul. Iya. Within within all the crash kita selalu balik all time high. Oke. Oke. Nah, karena ee kalau profil gua sih lebih ke gua sih mengkategorikan gua kalau di bibit itu kan ada itu kuesioner-kesioner itu gua sih mengkategorikan diri gua moderate.
14:30
Speaker A
Meskipun kalau gua dari dulu ee instrumennya apa itu buat tujuan keuangannya. Karena diajarinnya dulu gitu kan dari zaman bawina tuh.
14:38
Speaker A
Ee cuman semakin ke sini gua semakin tahu sih appetite gua kayak gimana. Pasti nomor satu gua risiko dulu sih.
14:45
Speaker A
Yes. Jadi jadi resikonya dulu gitu bukan keuntungannya. Makanya kadang kalau gua main ke Leon, gua bilang kayaknya end game gua tuh mau bikin porto dividen pensiun yang net yield-nya sekitar 7,5% itu gua bilang ke Leon gitu. Di luar
15:00
Speaker A
capital gainnya itu aja orang juga udah ribut kan kayak terlalu kecil kali gitu. Kapan kayaknya, kapan kayaknya gitu segalanya. Cuma kan lagi-lagi tujuannya kan memang bukan buat jadi kaya gitu, tapi untuk menuhin gaya hidup pas lagi pensiun. Kalau menurut lu pribadi untuk
15:16
Speaker A
orang-orang yang mungkin profi resikonya juga lumayan moderat ya, yang ngelihat situasi tidak menentu kayak gini itu instrumen-instrumen seperti apa yang sebaiknya ada di porto mereka tuh dalam jangka panjang.
15:28
Speaker A
Heeh. Investor yang selalu perform, yang selalu melipat gandakan keuangannya justru bukan yang dapat return di atas 30, 40, 50%. Oke.
15:39
Speaker A
Justru yang rata-rata mungkin kalau di luar agak beda ee 10% 15% itu termasuk moderat.
15:45
Speaker A
Nah, kalau kita mungkin mendekati 10 jadi 10 15% konstan itu justru yang selalu ending well di ujung. Banyak sekali F manager yang ada di Amerika atau di Eropa atau di Jepang Korea 1 tahun dia bisa dapat contoh 80%
16:01
Speaker A
70% tahun depan minus 30% karena prof resikonya memang agak besar. Oke. Kemudian itu diteruskan 5 tahun, 6 tahun, 7 tahun.
16:10
Speaker A
Oke. Dibanding yang 15% atau 10% konstan setiap tahun, dia multiply it very big. Kalau constant berarti harus ada elemen fixed income-nya juga.
16:19
Speaker A
Harus ada elemen fixed income. Oke. Nah, tapi kalau di di yang nonton nih mereka juga harus tahu dulu ya sebelum masuk ke saham kan lu kan paling paling sering kan ngobrolin di saham kan. He.
16:30
Speaker A
So lu masuk ke sana profil resikonya ada juga dong orang yang enggak cocok buat saham. Sudah pasti ada dong. Pasti ada, pasti ada.
16:36
Speaker A
Oke. Misalnya dia yang resikonya loris gitu, udah pasti enggak bisa masuk ke saham. Kalau menurut sebenarnya gini, tadi kembali ke gini, Mas. Mas pernah ngomong di Leon dapat 7,5 ribut kan semua ribut. Kapan kayanya?
16:47
Speaker A
Aku coba aku kan berhadapan dengan retil udah mungkin 67 tahun nih. Berhadapan dengan retil orang Indonesia ya, retail Indonesia lagi bayangkan di forum stokbit lagi. Bayangkan.
16:58
Speaker A
Iya. Lagi jadi saya coba bedah coba cari tahu kebanyakan mereka punya trauma masa kecil yang mereka enggak sadar. Oke.
17:04
Speaker A
Jadi, eh kalau dari e ada salah satu filsuf psychologi namanya Karjung. Yung ya? Ya, Yung. Karjung dari bukunya Ion, dia mengatakan seperti ini. Setiap orang tuh punya shadow. Shadow itu kan bayangan.
17:17
Speaker A
Shadow itu sisi gelapnya kita. Dan bagaimana shadow ini terbentuk itu dari masa kecil dari orang tua kita, ajaran orang tua kita, ee guru kita atau teman tetangga kita yang ngasih tahu ini enggak boleh, ini boleh. Oke. Contoh saya sebagai kalau saya ambil shadow
17:32
Speaker A
saya, ayah saya kan cukup keras. H dia dia kerja perkapalan. Dia punya kapal dia kadang perbaikinya perbaiki sendiri. Dia ngelihat turun sendiri gitu.
17:40
Speaker A
Jadi setiap dia pulang kadang badannya kotor langsung nyatat. Besok pagi sudah pergi. Terus kita jadi punya waktu keluarga jadi agak kurang. Jadi saya melihat itu setiap saya ngobrol sama dia, kita harus kerja.
17:52
Speaker A
Oke. Uang harus dihemat. Saya rasa uang harus dihemat itu menjadi shadow hampir semua. masyarakat di Indonesia punya uang harus ditabung, punya uang harus disimpan.
18:02
Speaker A
Karena di masa kecilnya itulah kecil itu. Akhirnya begitu besar saya melihat orang yang contoh maaf-maaf kayak dia ngepost sedikit flexing lah gitu. Dia pakai mobil sport atau naik bisnis class, barang branded langsung kayak kita alergi, ih apa sih?
18:18
Speaker A
Hmm. Nah, itu shadow saya bekerja tuh. Oke. Dan dan karena media sosial, perkembangan media sosial 3 4 5 tahun ini, shadow orang itu semakin kebuka.
18:26
Speaker A
Oke. Kita ngelihat media sosial dengan gampang kita lihat kehidupan orang lain. Benar atau enggak kita enggak tahu.
18:32
Speaker A
Tahu. Nah, akhirnya ini membuat disrupsi ini semakin jauh dan ini membuat distraksi sosial kita yang terlalu besar.
18:39
Speaker A
Pemerintah China sadarakan ini. Makanya bahkan drama Cina aja CEO eh seorang seorang driver jadi CEO sudah enggak boleh loh.
18:47
Speaker A
Oh iya enggak boleh kan sekarang sudah enggak boleh. Drama Cina kan banyak tuh seorang pelayan ternyata nyambar jadi CEO. Oh, bilang kayak begini-begini udah enggak boleh.
18:57
Speaker A
Oh wow. Influencer yang sedikit flexing aja stop enggak boleh. Benar lagi. Ah, di itu kenapa? Karena mereka sadar bahwa shadow ini jadi dan akhirnya Mas Radit next dari shadow itu ada namanya shadow projection.
19:10
Speaker A
Oke. Jadi saya menilai orang lain dari berdasarkan shadow saya nih. Coba kita tantang orang kan eh kita kasih contoh mereka. Teman-teman yang nonton di sini coba sebutkan atau tulis tiga orang yang paling kalian enggak suka.
19:23
Speaker A
Heeh. yang kalian paling sensitif, kalian paling enggak suka. Tiga orang ini pasti punya kesamaan. Apa itu?
19:28
Speaker A
Apa itu? Nyentuh titik sensitif dari diri kalian. Oh. Dan sebenarnya bukan orangnya yang salah, kitanya yang punya shadow yang kita proyeksikan ke orang lain.
19:37
Speaker A
Oke. Dan ini ngebuat Mas Radit selama saya belum sadar shadow saya ini, teman-teman saya tuh orang-orang yang sederhana-sederhana.
19:44
Speaker A
Oke. Kalau ada satu aja yang pakai jam Rolex atau enggak pakai tas LV, kita langsung, "Ih, apaan sih lu?" Padahal enggak salah kan?
19:51
Speaker A
Betul. Enggak salah kan dia pakai jam Rolex. Kalau memang dia mampu, dia memang suka sama barang itu, dia hobi, kita langsung menjauh. Terserah kita langsung menjauh.
19:59
Speaker A
Mikirnya, "Ih, sombong lu. Ih, lu bukan bagian dari gua." Dan itu membuat kita capek.
20:05
Speaker A
Dan itu yang ngebuat kebanyakan di sini ya. Mungkin karena banyak idol mereka atau enggak yang mereka perhatikan di media sosial adalah cari uang itu seolah-olah mudah, beli mobil itu gampang, cari duit di market mudah.
20:18
Speaker A
Sehingga kalau ada yang counter kayak kita tiba-tiba sebutin 10% itu sudah cukup sebulan apaan sih? Kapan kayaknya gitu.
20:25
Speaker A
I see. We need to realize what your shadow. Karena artinya pun eh shadow shadow kita kalau misalnya kita enggak ngerti tindakan-tindakan kita kan menjadi tidak rasional kan ya.
20:38
Speaker A
Tidak rasional. Yes. Makanya Karjung bilang seperti ini, Mas Radit. What irritates you? What apa yang mengiritasi kamu terhadap orang lain? yang pandangan kamu terhadap orang lain akan membuat kamu semakin jauh dari diri kamu yang asli.
20:49
Speaker A
Iya. Itu itu itu quot paling terkenal dari Karjung. Oke. Quats keduanya adalah dia bilang seperti ini. Lanjutannya sebuah pohon yang bisa menyentuh surga, tumbuh naik ke surga akarnya harus menembus neraka.
21:03
Speaker A
Hm. Itu sebuah metafora dari dia. Bahwa kalau kita mau mendapatkan pengembangan diri yang sempurna, kita harus tahu luka-luka kita, shadow kita. I see.
21:13
Speaker A
Nah, kebanyakan orang tidak tahu seperti itu. Jadi, akhirnya salah. Kayak contohnya saya, Mas. Karena shadow saya dari ngelihat orang tua saya itu kita jadi orang harus kerja keras, enggak bisa santai-santai.
21:24
Speaker A
Jadi, setiap dulu market jelek, Mas. Saya langsung ambil quote, Mas. Paling sering saya pos ambil quote.
21:29
Speaker A
Ambil quotes. Terus saya saya pos bakal seperti ini. Pelaut yang handal tidak lahir di laut yang tenang gitu loh. Kena kita harus bertarung gitu loh. Market jelek, lu harus tetap analisa cari mana yang terbaik gitu. Padahal secara probability
21:42
Speaker A
aja udah udah mengecil kan market seperti sekarang. Contoh saham yang naik hari ini ada enggak? Ada tapi mungkin probabilitasnya cuma 5% secara data aja lu harusnya mundur.
21:52
Speaker A
Paham? Nah, setelah saya sadar shadow projection saya, Mas, saya akhirnya enggak pakai quote itu lagi karena saya pikir laut yang benar tuh enggak akan melaut kalau seandainya lagi ada badai.
22:01
Speaker A
Oh, iya makes sense. Iya, makes sense kan. Makanya hati-hatilah terhadap siapa yang kalian idolkan, quats-quats yang kalian pakai.
22:08
Speaker A
Contoh dulu saya selalu ngerasa kayak waktu saya sombong tuh Mas Radit, "Bearful when others greedy." Oh, waren buff, waren buffet. Koreksi market 1% 2% semua takut kita harus beli ujung-ujung minus 30%.
22:21
Speaker A
Karena saya juga mikir kalau kita berani di saat orang takut, sometimes kita takut mungkin mungkin artinya kita takut ketinggalan, kita takut kalah.
22:29
Speaker A
I see. Walaupun logika pada saat itu semua orang takut gua yang berani, tapi ternyata ada elemen takutnya juga. Iya, ada juga ada gua yang ke market.
22:39
Speaker A
I see. Nah, jadi begitu kita realizuh lebih sempurna menurut saya. Lebih lebih clarity. Kita punya clarity yang cukup cukup cukup cukup besar untuk mengarungi Bu ee dunia investasi.
22:53
Speaker A
Gua gua gua ngelihat lu tuh kayak ee porsi behavioralnya, psikologisnya tuh lumayan lumayan dalam ya, lumayan banyak ya. Karena pada akhirnya mungkin itu yang paling penting ya. Jadinya itu yang paling penting. Yes.
23:06
Speaker A
Karena kalau kalau gua ngobrol sama lu sama yang lain kayak kita ngomongin soal analisa segala masing-masing orang kan punya jurus-jurusnya sendiri ya.
23:14
Speaker A
Tapi kan ternyata psikologis ini yang menjadi nomor satu ya. Lu boleh sekolah ke mana aja, belajar apa aja. Kalau lu enggak bisa ngatur kejiwaan dan psikologis lu susah susah. Iya ya pasti amsong-amsong juga ya.
23:26
Speaker A
Amsong-amsong juga. Iya karena ee shadow-shadow itu yang kita selalu memproyeksikan secara salah. Oke. Dan uniknya seperti ini, Mas Rad. Iniak bisa diajarkan secara general. Kita sendiri harus tahu karena show saya berbeda, show Mas Radit berbeda, teman-teman yang ada di sini pasti
23:40
Speaker A
berbeda. Teman-teman harus tahu shadownnya apa. Di film Netflix ada satu yang dulu terkenal banget dia sempat di film Netflix itu lama. Nama judulnya kalau enggak salah Billians tahu nonton.
23:51
Speaker A
Jadi eh pemeran utamanya kan Bobby Exel Rod pemilik HCH Funter salah satu yang top di Nasdak.
23:57
Speaker A
Iya. Sering enggak Bobby buat kesalahan? Iya, sering sekali tapi hatnya tetap naik. Ini contohnya banyak. Waren Buffest buat kesalahan di Covid banyak sekali. Katy Wood buat kesalahan banyak sekali.
24:08
Speaker A
Katy Wood lagi. Charlie Manger buat kesalahan banyak sekali. Tapi dalam film billion key person-nya dari company itu bukan Bobby.
24:15
Speaker A
Hm. Tapi Wendy Roads. Hm. Psikiaternya. Iya. Benar. Benar-benar ya. Karena dia bisa menemukan clarity potensi dari setiap orang.
24:23
Speaker A
Hm. He. Itu yang teman-teman harus miliki. I see. Penyadaran bahwa aspek psikologis ini ternyata sepenting itu berarti ee di tengah perjalanan lu kah menjadi investor trader gitu ya?
24:34
Speaker A
6 tahun aku dapat baru baru lu dapat pencerahan itu kan. Yes. Oke. Karena nih nyambung juga ee gua kan sama bibit udah lama ya dan kalau di bibit kan kita bisa tahu profit resiko kita ya walaupun self assessment kan
24:48
Speaker A
itu ada yang ee low riserat atau high ris. Loris itu kalau dibibit dia ada RDPU atau pakai obligasi negara juga bisa. Kalau yang moderatnya dia ada reksa dan obligasinya atau pendapatan tetap sama yang ee high risknya itu kan
25:03
Speaker A
ada di saham. Saham. He. Nah, kadang-kadang banyak orang tuh ini baru pertama kali nih benar-benar baru pertama kali mau nyemplungin kaki ke investasi udah tahu profilnya low tapi karena dengar dengar dengar dengar saham ini saham itu masuknya ke saham
25:17
Speaker A
tetap aja masuk ke saham. Menurut lu gimana tuh? Kita kita mulai dulu dari paling yang low ris kah? Kalau kalau memang apa tit di sana apa gimana?
25:26
Speaker A
Seharusnya lihatnya resiko dulu. I see. Karena begitu kamu menyadari resiko kamu semaksimal apapun karena tidak ada uang ini Mas Rajit pasti setuju. Tidak ada nilai uang apapun yang word untuk kesehatan mental kita.
25:38
Speaker A
Oh iya sih. Hm. Kebanyakan manusia tuh punya wadah uang R3 juta tapi penginnya R miliar.
25:44
Speaker A
Hm. Jadi begitu resikonya sudah nembus R juta, maksa. Karena mikirnya 3 miliarnya itu, enggak mikir yang R juta itu.
25:51
Speaker A
Iya. I akhirnya apa? Ee energi ketakutan disimpan terus lama-lama meledak itu. Hm. Jadi memang saya benar-benar menyarankan ini sekitar 2 tahun lalu saya buat konten saya beli FR91 kalau enggak salah.
26:04
Speaker A
Oke. 6% something sampai sekarang saya masih pegang. Oh wow. Dan itu surprisingly wow. Ternyata ibaratnya ee kita nukar waktu kita dengan uang gitu loh.
26:14
Speaker A
Oke. Kebanyakan mereka enggak nukar waktu kalian dengan uang loh. Kalian jual waktu kalian demi uang. Ya kan?
26:19
Speaker A
Betul. Sementara kalau RDPT kemudian fix rate ini benar-benar uang yang kerja untuk kalian. Meskipun dengan rate yang kalah dengan saham tapi kalau kalian sadari ini nanti kita bisa tampilkan simulasinya.
26:31
Speaker A
Oh ada simulasinya. Ada ada simulasinya. Mau dong, mau dong. Nanti tampilin ya. Iya. Ditampilin.
26:36
Speaker A
Oke. Dalam jangka panjang return yang bisa membuat kita wealthy. He yaitu kurang lebih 7 8 10 15 cukup.
26:47
Speaker A
Hmm. Karena once lu ngejar 300% 400% itu artinya mindset lu pasti berubah. Paham ya? Resiko lu pasti lebih gede.
26:56
Speaker A
Sometimes lu terjungkal itu bisa habis semua. Karena begitu lu naikin target dari 10 ke 20 aja, itu ada resiko yang harus kita bayar kan untuk nyampai 20 kan.
27:05
Speaker A
Pertanyaannya apakah hidup yang apakah itu hidup yang lu pengin? Yes. Betul. Untuk resiko itu tiap tahun lu ambil atau kalau kayak gua 7,5 aja ya udah kan sisanya gua bisa kerja ngapain aja kan ngelakuin apa yang gua pengin gitu kan.
27:19
Speaker A
Nah, ini di sini kita lihat ini kita ngambil real cas loh ya. Kita enggak enggak ngambil simulasi ngada-ngada gitu. Ini real cas ketika IHSG bullish.
27:28
Speaker A
Oke, dari bulan November sampai Desember kan masih sempat cukup bullis itu. Kalau seandainya alokasi aset kita itu adalah 80% obligasi negara, 20% saham, which is kalau aku punya Rp1 miliar 800 juta fix rate tuh 20% saham.
27:45
Speaker A
Oke. Nah, itu memang terlihat bahwa ee return kita rendah 1,4% doang. Oke. Yang kalau kebalikannya 80% saham, 20% fix rate, kita bisa dapat tiga kali lipatnya almost. Oke.
27:58
Speaker A
Atau 2 k. Oke. But we know market is unpredictable. Seketika indeks MSCI mengeluarkan status pengawasan untuk Indonesia, kita koreksi. Kemudian Trump tiba-tiba mengumumkan perang, market koreksi. Nah, bagaimana return dari Januari sampai Februari? Ini 2 bulan.
28:18
Speaker A
2 bulan. Kalau seandainya 80% itu kita masuk ke saham. Oke. 20% obligasi. obligasi kita minus 3,8%.
28:29
Speaker A
Tapi dengan fix rate bantalan kita kalau kita putar 80800 juta di fix rate, 20% di saham itu hanya minus 0,9%. Is it a problem? Jelas.
28:40
Speaker A
Saya rasa jelas tidak. Iya. Karena cuma 0 koma sekian. 0 koma sekian. Nah, pertanyaannya seperti ini. Tapi kalau IHSG bullis kan saya ketinggal ya. Kamu dikejar siapa? dikejar dirimu sendiri kok atau dikejar ekspektasi lu kok gitu loh. Karena pada ada suatu penelitian
28:54
Speaker A
dari Chicago kalau enggak salah atau Michigan saya lupa. Kebahagiaan orang terhadap uang itu ada mentoknya.
29:01
Speaker A
Kalau dari Amerika tuh 100.000 US Dar ya alias R,5 miliar. Di atas itu nilainya sama aja. Mungkin kita dapat R juta senang, R juta makin senang, R00 juta makin senang. Tapi di atas R,5 miliar itu sudah sama aja.
29:13
Speaker A
Hm. H sisanya itu adalah ego untuk dapatin segitu maksudnya ya dari hasil ini di atas itu. Di atas itu tuh sudah tidak sudah tidak akan membuat kamu lebih bahagia. Oke. Ee berarti artinya bukan serta-merta siapa yang nonton harus
29:26
Speaker A
punya 80% obligasi, 20% tangan, tapi lu cocokin sendiri aja nih sama lu. Secara flooring resiko lu, segimana, komposisi obligasinya ya sudah disesuaikan sama faktor resiko yang yang lu bisa terima. He.
29:43
Speaker A
Ee kalau komunitas lu itu kan semua pasti untuk di saham kan? Yes. Ee membernya ada berapa?
29:49
Speaker A
26.000 kurang lebih. 26.000 semuanya aktif bertanya dong. Apa enggak? Enggak semua lah ya. Ee yang 26.000 enggak bisa dua arah.
29:59
Speaker A
Tapi Oh bisa ada satu komunitas lagi ya yang dia punya kapital lebih gede. Nah itu isinya 4.000 orang. Nah itu aktif bertanya.
30:07
Speaker A
Kapital lebih gede aja 4.000 orang ni isinya aktif bertanya. Aktif ini. Ini seru nih. Karena tadi lu ngemisahin ada yang kapital lebih gede sama yang buat publik ya secara umum ya.
30:17
Speaker A
Menurut lu apa pembeda secara mindset atau perilaku atau pertanyaan dari orang yang umum ini yang publik ini 22.000 ini dengan orang yang punya kapital gede 4.000 yang kapital gede mereka merasa lebih punya responsibility terhadap uang mereka sendiri. They don't blaming. Itu
30:34
Speaker A
yang saya salut. Enggak enggak nge-blame lu. Maksudnya enggak ngeblaming gua. Kebanyakan yang punya yang lebih yang yang umum lebih banyak pertanyaannya tuh lebih terlihat they don't mature karena dilihat dari ee jenis-jenis pertanyaannya. Contoh ini kenapa saya merugi?
30:51
Speaker A
Contoh Oh, ini udah ini sama apa yang besok naik? Itu paling sering tuh. Nah, malas malas ya. E makanya saya putusin waktu itu saya cut aja lah. Saya enggak buka pertanyaan. Nah, cuman saya share advice saya bahwa there is something
31:05
Speaker A
that you need to solve dan itu bukan soal market. It's about yourself. Begitu lu udah makanya ada yang bilang gini, ada kan banyak narasi bilang gini, R miliar pertama tuh paling susah di atas R miliar tuh sudah mudah. Alasannya
31:18
Speaker A
kenapa? Karena di angka tertentu kita akan merasa uang itu berharga dan kita akan merasa diri kita wory.
31:23
Speaker A
Ketika kita merasa itu, energi yang kita kumpulkan itu akan semakin baik. Jadi kita tidak ngoyo lagi.
31:28
Speaker A
Oke. Kebanyakan orang yang kalau di tempat saya tuh dia punya minimal R00 juta sampai R miliar.
31:34
Speaker A
Itu itu yang 4.000. Yang 4.000. Ada juga yang let's say ada yang 10 miliar 15 miliar.
31:39
Speaker A
They feeling they feel they feel they have responsibility about their money. Jadi apapun yang saya sampaikan dia tidak percaya buta.
31:45
Speaker A
Oke. Kalau dari Buddhisme itu namanya ehipasiko. Jadi saya datang saya sampaikan kamu tidak percaya buta. Kamu buktikan sendiri benar. Kalau cocok silakan kalau tidak tidak masalah. H.
31:54
Speaker A
Jadi, tingkat emosional seseorang, intelij seseorang memang ada pengaruh dengan jumlah uang yang dia pegang.
32:00
Speaker A
Oh, sometimes kalau seandainya sudah disampai di angka tertentu, kamu akan jauh lebih responsibility, oke?
32:07
Speaker A
Kamu akan jauh lebih berhati-hati, kamu akan lihat sesuatu tuh dari kerangka berpikirnya. Ketika kamu melipatkan duit R00 juta, PLP, kamu simpan di kasino aja sebenarnya bisa gitu kan. Dijudiin bisa, tapi mereka enggak mau.
32:20
Speaker A
Tapi yang punya R juta mungkin di kasino, mereka mau. Hmm. mereka bukan bagaimana R0000 juta jadi miliar gitu contohnya.
32:30
Speaker A
I see. Berarti berarti maksud lo adalah kalau lu datang dengan sebuah tesis ee ee dan lu kasih tahu ke mereka, mereka tuh enggak serta-merta ngikutin tapi melihat logika di balik kenapa lo milih.
32:42
Speaker A
Mereka menelusuri itu tuh kok kenapa kayak gini? Apa alasannya lu ceritain? Oh mungkin dia enggak beli itu. Tapi dia pakai pemikiran itu buat yang lain.
32:50
Speaker A
Buat yang lain. Betul sekali. Dan itu saya dan I'm very happy. Jadi itu alasan komunitas dua kenapa saya buat dua arah karena I'm learning from them to.
32:59
Speaker A
Bahkan ada saham-saham yang saya enggak tahu. Dia ceritain kok ini deviden sekian ini tahun depan pemerintah bakal sekian. Oh benar juga ya. Kita benar-benar benar plep. Nah kita sharing bareng. Mau ikut silakan tidak juga enggak masalah.
33:10
Speaker A
Ee bagaimana dengan ini dividen investing kalau buat lu melihat market yang lagi kayak gini? Is it menarik? Eh saat ini sebenarnya dari November sampai Desember eh saya sering podcast sama IDX memang sudah terlihat ada akumulasi yang dilakukan oleh institusi cukup besar.
33:29
Speaker A
Ini ini cuma teman-teman cek ini podcast kan tanggal berapa tuh? 16 Maret. Oke cek 1 bulan atau 1 seteng bulan dari kemarin. Net foreign buy itu disambak Mandiri.
33:39
Speaker A
Hm. UNTR Astra Telkom Aadi. Hm. Which is itu dividennya hampir double digit, Mas Radit.
33:47
Speaker A
Wow. Mandiri tahun lalu bagi IPS 450. Logikanya di harga 4.500 double digit selama 10 tahun tidak pernah.
33:55
Speaker A
Jadi, tidak pernah double J. Jadi contoh teman-teman punya R miliar plop beli Bank Mandiri di 4.500 setiap tahun dapat 10%.
34:03
Speaker A
H 10 tahun pasti balik modal dong. He. Masa sih 10 tahun Bang Mandiri enggak ada naiknya? 10 tahun loh.
34:10
Speaker A
Nah, which is itu kita bicara logika tapi mereka enggak mau 10%. Mereka munya 1000% 100% kapan kayanya. Nah, itu sadari dulu shadow-nya kalian, projection-nya kalian. Nah, di situ kalian bakal mulai lebih lebih data daripada emosi.
34:25
Speaker A
Padahal 10% tuh gede banget. Very big. Saya saya beli Bank Mandiri. gede banget loh itu saya beli Bank Mandiri simpan tapi saya memang masih ada cash yang bakal saya fight untuk IHSG karena I have a competence untuk ngelihat timing.
34:39
Speaker A
Oke. Karena kalau kita lihat di saham-saham dividen luar aja 3% aja udah istimewa udah gede.
34:47
Speaker A
Udah istimewa itu 3%. Betul. Betul. Berarti memang menurut lo pribadi ada opportunity untuk dividend investing.
34:53
Speaker A
Ada opportunity untuk dividen investing karena koreksinya bursa saham kita di oke ekonomi kita memang tidak maju, tidak naik gitu loh, tidak naik pesat tapi koreksi bursa sahamnya terlalu jauh ee sehingga menciptakan gap yang terlalu jauh. Bank Mandiri kuartal masih
35:07
Speaker A
bertumbuh meskipun melemah pertumbuhannya tapi IPS yang dia bagikan proyeksinya masih 400 sampai 4.500 sori 400 sampai 450 which is Bank Mandiri di bawah 4.000 itu sudah pasti 12%. 13% dividen.
35:21
Speaker A
Kemarin gua ngelihat ada ada satu pas gua cek di stock bit tuh ada satu perusahaan emang lagi gua pegang juga dia tahun ini ee gua kan menghindari ngomongin emiten ya di tahun ini dia naik hampir semuanya naik dia
35:34
Speaker A
revenue-nya naik segala macam profitnya juga naik tapi harga sahamnya tuh turunnya bisa 15 17% buat gua tuh opportunity banget tapi artinya adalah di itu realita market kita sekarang ya bahkan perusahaan yang memang growing pun yang bertumbuh pun secara baik pun
35:50
Speaker A
disikat disikat habis juga ya karena market ris kita lumayan liquidity kita kurang. Oh oke.
35:55
Speaker A
Karena ee kalau seandainya memang saat ini semua regulator bekerja dengan baik, kemudian komunikasi kita juga baik, masa sih 10% ditinggalin, Mas?
36:06
Speaker A
Itu itu clear loh. Bank Mandiri kurang apa gitu loh. Ya kan? Dan banyak benar juga sih. Benar juga sih.
36:11
Speaker A
Dan banyak loh, banyak loh bukan cuma Bank Mandiri, United Tractor, Astra, Telkom itu ADI itu high devid semua.
36:18
Speaker A
Adaro itu high dividen semua. Bahkan kalau tahun-tahun lalu Mas, ada kan yang 30% 20% ada.
36:24
Speaker A
Iya bayangkan. Ada ada. Oke. Ee kemarin saya juga lagi ngerapiin kan karena memang memang baru 2 tahunan ini saya benar-benar mikirin ee porto saya buat pensiun. H jadi mulai mulai bangun cara cara paling baik tuh apa ya buat pensiun nanti?
36:41
Speaker A
Kayaknya sih dividen investing sih jadi menarik apalagi harganya juga lagi kayak gini. Cuma saya ngubek-ngubek juga tuh di bibit ada reksadana. Reksadana campuran juga performanya juga lagi oke banget. Ee saya saya juga lagi lihat-lihat reksadana USD di bibit juga
36:58
Speaker A
dia. Ada yang juga reksadana US eh reksadana global yang USD di China juga ada tuh dibibit tuh. Jadi ee banyak ini ya banyak instrumen-instrumen yang kita bisa lihat untuk kita cocokin sama profil kita, kita sukanya apa kira-kira gitu ya. Dan
37:12
Speaker A
aku set agak setuju tuh, Mas, kalau Rexa karena kebanyakan orang mau investasi ke saham luar itu kan punya kendala.
37:19
Speaker A
Heeh. Kenapa enggak beli reksa dananya aja gitu loh. Itu benar juga. Saya pribadi udah ngitung sih dari teksnya kalau misalnya kita beli di broker luar kan ada pajaknya lagi segala macam 30 ya.
37:31
Speaker A
Ee dia progresif sih sesuai sesuai ini kita. Heeh. Sesuai bracket kita. Dividennya pun juga kena ee 30% tapi dia punya weight holding sama Indonesia eh punya treaty sama Indonesia 15%. Heeh.
37:42
Speaker A
Artinya pun juga kalau dihitung sama pajak-pajaknya berat. Iya. Kayaknya masih bisa lebih masuk akal ya kalau mau hitungitung sendiri ya. Lebih masuk akal di reksadana global USD dibibit ya kalau menurut saya pribadi. Karena saya sempat ngitungin juga sih.
37:56
Speaker A
Kalau ada yang mau punya exposure hedging ke USD kali ya di luar ya. Oke. Buat lu sendiri, buat lu pribadi, kesalahan-kesalahan utama ee investor-investor kita apa gitu? Kalau menurut lu tadi kan enggak enggak merhatiin ris. Ya.
38:11
Speaker A
Ada lagikah yang lain yang kalau lu bisa teliti, bisa lu lihat. Aku pernah pernah pernah buat sebuah tesis bahwa you can do concentrate eh portfolio karena begitu itu resiko karena resiko untuk concentrate portofolio itu terlalu besar.
38:27
Speaker A
Oke. Saham lu cuma satu contoh. Oke. Semuanya di saham satu. Tapi aku agak ketampar Mas Radit karena ada juga yang berhasil berhasilnya luar biasa lagi dengan melakukan metode itu.
38:36
Speaker A
Satu saham. Satu saham. Oh wow. Jadi, jadi stand sekarang apa? Nah, jadi I found that there is no wrong and right in investment.
38:45
Speaker A
I see. You must know yourself and then you will find your way. Dan dan saya tetap temukan saya tidak bisa concentrate. I do concentrate sekitar 2 3 bulan lalu habis, Mas Radin.
38:57
Speaker A
Eh, enggak habis sih. Jadi, eh I got I got profit 2025 itu saya kali 4.
39:02
Speaker A
Oh wow. Wah, gila kali empat karena I I pretty aggressive. Eh, sedikit pakai leverage, sedikit pakai pakai pakai. Ini saya enggak anjurkan ya, karena ini ris pribadi saya.
39:13
Speaker A
Tapi begitu market jelek plus 4 saya kali 4 saya sisa dua. Oh, ujung-ujungnya masih plus 100.
39:22
Speaker A
Oke. Tapi mental saya kena. Oke. Mental saya rusak karena lu sudah ngebayangin itu yang tidak lu aktualisasikan. Betul. Saya sudah mikirkan uangnya bisa buat beli rumah di sini, terus anakku bisa sekolah sampai lulus. Habis itu seketika 1 minggu kan koreksi belum belum belum
39:38
Speaker A
belum ini benar-benar enggak balik loh. Iya benar-benar enggak bisa nih kita lihat mental kena dan akhirnya I think that's not works. Dan itu ngebuat kayak seandainya saya tidak berubah, seandainya saya tidak sadar shadow saya bakal revens.
39:52
Speaker A
Eh saya sudah pernah plus 400 pasti bisa plus 8 pasti saya timpa. Oke. Tapi akhirnya saya putusan, "This is the time for me to wait and see. This is time for me to feel grateful about what I got." meskipun udah kehilangan 50%
40:05
Speaker A
dari total profit. I see. Oke, kalau gaya lu sendiri gimana? Karena kan gua kan bukan profesional investor atau trader ya.
40:13
Speaker A
Maksudnya itu ee kerjaan gua tuh yang lain gitu. Nah, kalau lu pribadi kan berarti kan hampir 100% waktu tenaga dan usahanya kan di trading atau investing.
40:23
Speaker A
Yang selalu gua penasaran adalah gimana caranya lu ngambil buat kebutuhan sehari-harinya. Heeh. Ee apakah dan dan dan berapa yang lu invest balik ke sal ngerti enggak sih maksudnya?
40:35
Speaker A
Kapan lu harus ambil buat kehidupan itu gimana sih? Iya. Iya. Ngerti gimana kalau kalau gimana?
40:40
Speaker A
Jadi gini dulu aku tidak pernah melipat gandakan uangku di stock market Mas Radit dan itu salah.
40:45
Speaker A
Oke. Jadi dulu biaya kebutuhanku sebulan mungkin di rumah R juta atau Rp15 juta. Udah R juta gua ambil. Tiap ada R juta gua ambil. Tiap ada R juta ku ambil.
40:53
Speaker A
Ujunjung kapitalku enggak bertumbuh. Aku salah. Akhirnya begitu aku sudah sampai certain amount of money, berapapun pendapatanku di stock market tidak aku ambil ke pribadi, tidak aku pisahkan dengan kehidupan pribadi.
41:05
Speaker A
Oke. Berap pun keuntungannya ya, berapapun keuntungannya. Oke. Lalu dapatnya dari untuk pribadi. Jadi aku selalu merasa bahwa investment itu is not about stock market only. Kalau kita punya otak seperti ini menurutku itu kacamata kita kuda. Kita enggak ngelihat ke kiri dan
41:20
Speaker A
ke kanan. Kita juga harus bangun real sektor. Tahun lalu aku tahun lalu aku baru beli tanah dan itu salah satu keputusan terbaikku menurutku.
41:28
Speaker A
Heeh. Aku beli tanah di BSD dan aku bakal bangun rumah untuk anakku tinggal. Oke.
41:32
Speaker A
Dan I think ya itulah hasilnya kelihatan. Kalau kita selalu punya ee mindset angka harus selalu gulung.
41:38
Speaker A
Kapan kita berkontribusi sebenarnya? Kapan maksudnya kapan kapan ee kapan hasilnya kelihatan? Iya. Karena karena esensi dari kita berinvestasi bukan mendapatkan sebanyak-banyak banyaknya. Tapi bagaimana kita menikmati uangnya.
41:51
Speaker A
Nah, itu dia tuh. Berarti artinya lu tetap ngambil tanpa dibudgetin kah? Tanpa dibudgetin sesuai kebutuhan.
41:57
Speaker A
Karena tiap tahun kan kebutuhan kita beda-beda. Oke. Dan dan saya meyakini wadah uang setiap orang tuh berbeda. Kalau dulu saya beli mobil R200 juta takut. Nah, mungkin kalau sekarang kalau kita beli mobil dengan kapital yang tertentu, mungkin beli R miliar masih biasa aja gitu loh.
42:12
Speaker A
Nah, jadi kita janganlah belanja sesuatu yang melebihi dari kapasitas kita hanya untuk membuat orang lain terimpresi.
42:18
Speaker A
Oke. Dan itu agak berbahaya karena kebanyakan orang belanja dalam buku apa? The Art of Spending Money ya, Morgan Hosel terbaru itu ya.
42:26
Speaker A
Nah, itu ada satu quotnya tuh yang paling paling yang paling bagus menurut saya. Kalau seandainya kamu tinggal di satu pulau, tidak ada orang sama sekali di situ, tapi kamu bisa dapat semua fasilitas itu, kamu beli mobil Ferrari enggak?
42:39
Speaker A
Hm. Kamu pasti beli sesuatu yang memang hanya untuk kebutuhan kamu, kan? Kenapa kalau di kota kamu beli Ferrari?
42:45
Speaker A
Karena kamu pengin bukan mengimpres dirimu, mengimpres pandangan orang terhadap dirimu. Oke. Nah, itu itu yang selalu saya hindari. Jadi, kalau ketika saya beli barang ini biar orang lain mandang saya beradaah. ini biar orang lain ngelihat saya kah atau untuk utilitas saya. Nah,
43:02
Speaker A
karena saya punya anak perlahan-lahan saya ngerti bahwa belanjalah yang memang sesuai utilitasmu. Berarti setelah punya anak pandangan sebagai investor trader berubah juga ya?
43:11
Speaker A
Berubah perlahan. Yes. Oh. Nah, ee udah punya target kapan selesainya enggak? Karena kan pasti ini kalau ngegulung ngegulung ngegulung terus kan pasti lu punya nominal yang besar sekali kan.
43:22
Speaker A
I will do dividend investing. Jadi ee pada akhirnya Iya. pada akhirnya. Oh, mungkin di angka tertentulah. Di angka tertentu di mana saya ee ketika karena dividend investing tuh di atas 6% sudah quite good ya kan.
43:36
Speaker A
6 sampai 10% itu sudah very good. Nah, di mana saya yakin bahwa 10% dengan uang saya ini PLP itu bisa memenuhi keuan tiap bulan.
43:43
Speaker A
Iya. Ah, setahun deh gitu loh. Nah, setahun sudah cukup ya udah habis itu sisanya kita ngelakuin hal yang kita suka.
43:49
Speaker A
Karena kalau kita terpressure terus kapan nyampainya? Karena kita nyebar energi ketakutan gitu loh. Paham? Paham. Paham.
43:55
Speaker A
Kita investasi belajar sana kalau ikut kelas ini, ikut kelas itu. Tapi kita belajarnya tuh atas dasar ketakutan.
44:02
Speaker A
Oke. Tapi kalau kita udah contoh uang uang uang tenangnya sudah dapat nih kita belajarnya dengan hati yang senang.
44:08
Speaker A
Mungkin dengan kelas yang sama pun hasilnya bisa berbeda jauh. I see. Oke. Nah, opportunity-opportunity apa nih dalam menjelang Q2 menurut lu yang kita bisa cermati di market?
44:20
Speaker A
pertama eh saat ini kan indeks MSCI itu masih melakukan revisi terhadap Indonesia. Case ini pernah terjadi di India dan di Hongkong.
44:27
Speaker A
Saat itu ending going well. India sempat terkoreksi 32%, Hongkong terkoreksi 18%. Tapi setelah itu mereka tebus all time high karena strukturalnya sudah benar. If MSC mensetujui apa yang diajukan oleh Bursa Efek dan OJK maka I will eh saya cukup yakin we will go
44:45
Speaker A
back into higher. Oke. Meskipun perang masih berlangsung setelah perang. Setelah perang dan yang akan naik itu mestinya saham-saham yang memang punya fundamental cukup baik.
44:55
Speaker A
Nah, salah satunya adalah yang membaikkan dividen cukup besar. Jadi, ini menurut saya nih 2025 dan 2026 itu opportunity paling besar itu untuk beli saham-saham dividen. Karena nanti begitu likiditas QI sudah jalan, likiditas masuk pulih, kita enggak bisa lagi dapat
45:09
Speaker A
saham dengan dividen yang sama. Jadi harga SAM itu kan naik turun, tapi kondisi R kan perlu waktu untuk berubah ya kan. Nah ini saat-saatnya Bank Mandiri bagi 400 dividen. Yang lain-lain juga boleh diceklah teman-teman IPS per saham dengan harga
45:25
Speaker A
sahamnya yang mendekati double digit banyak. I see. Nah itu peluangnya tuh. Oke berarti peluangnya di situ ya.
45:31
Speaker A
Heeh. Oke. Berarti kecil banget dong kemungkinannya Fronter market. Enggak dong. I wis so di bawah 1% dong.
45:38
Speaker A
Please jangan. Enggak mungkin lah ya. Please jangan banget. Eh, terakhir yang masuk tidak ada saham yang dari eh sori tidak ada negara yang dari emergen market ke frontier. So far selama ini belum pernah. Seandainya Indonesia masuk ke frontier pun kita itu
45:53
Speaker A
40% waiting-nya karena kita gajah gitu. Tapi tetap aja berkurang gitu loh. Dan jangan dongaklah enggak jangan dong.
46:01
Speaker A
Oke, kita masuk ke pertanyaan-pertanyaan nih. Kalau ini dari member YouTube gue seru-seru nih pertanyaan nih. Saya kemarin sempat sempat ngintip juga. Oke.
46:11
Speaker A
Dari Yoga Arsana K my gimana caranya kembaliin mental ketika habis los besar? Aduh, gimana nih? Ini ada yang kena badai juga nih kayaknya nih.
46:22
Speaker A
Eh, a lot of people having lost. Dia ngelakuin dia e panik kemudian segera ngelakukan revenge strength. reveng straight itu yang paling sering.
46:30
Speaker A
Oke. Yang berujung sebenarnya kamu bawa energi ketakutan untuk digulung kan. H yang what what you need to do is e find your come, find your mindfulness.
46:40
Speaker A
Kemudian mulailah fight dengan uang kecil lagi. Boleh enggak kalau dia uninstall aja? Boleh enggak? Stop.
46:47
Speaker A
Boleh enggak nih? Bolehlah sebentar bolehlah. Berarti lupa password. Jangan uninstall bentar buka di web ya. Buka di web boleh. Benar. Benar.
46:55
Speaker A
Benar benar. Buka di web Stockbit. Cari di stream. Oke, dari Morpheus. Kok kita lagi beruntung mendapatkan dua market crash dalam 3 bulan, MSI dan US Iron dan mengakibatkan harga ISG turun banget. Is this the new normal buat harga ISG
47:09
Speaker A
menjadi rendah atau justru ini harga bottom yang pas buat masuk? Jadi itu kayak kayak lebih kayak janjani nih new normal nih kita dihargainnya begini. Is ee enggak, ini enggak normal.
47:20
Speaker A
Oke. Karena IHSG pernah terbukti menyentuh angka 9.000 kan saat ini kan 7.000. Oke. 9.000 ke 6 ke 7.000 itu baru 2000 poin.
47:29
Speaker A
Sebenarnya dari crash ya biasanya kita koreksi itu pernah sampai 50%. Uh. Yang which is seharusnya secara teori ya kita harusnya di 4.000-an atau mendekati 5.000. Sebenarnya ini belum tapi di angka 5.000-an that's very kompetitif untuk kita.
47:44
Speaker A
Oke. 5 IHSG kalau di 5.000 PE-nya itu jadi lebih murah dari Hangseng. Di 9.000 memang PE dan PBV kita cukup mahal.
47:52
Speaker A
Hm. Tapi di angka 6.000 something PE kita udah salah satu the chepest di Asian.
47:58
Speaker A
Oke. Which is which is jadi menarik gitu kan. Jadi menarik makanya jangan setiap koreksi artinya beli belum tentu having spare time lah. Karena yang namanya rebound itu kan biasanya ada Vsap recovery. Vsap recovery itu terjadi kalau kejadian super ekstrem. Contohnya
48:13
Speaker A
di COVID. Bahkan di COVID aja secara jangka panjang itu Wet. Jadi koreksi naik koreksi lagi naik bikin bantalan baru rally. Oke, jadi stock market itu seperti kapal tuh.
48:24
Speaker A
Dia bukan kayak begini bisa langsung naik. Dia gini muter pelan-pelan naik. Perlu waktu. Oke. Kayaknya banyak pertanyaan kayak gini karena mungkin banyak investor atau trader yang baru masuk pas kemarin kali ya. Langsung kena ya.
48:39
Speaker A
Iya kan? Samsam kong lu kan naik memicu banyak orang buat masuk tuh. Karena saya tahu pribadi kiri kanan saya ada yang malah jadi masuk gara-gara ngelihat itu dapat bisikan-bisikan saham kong lu, saham kong lu gitu. Mungkin begitu kena crash pertama kali ya
48:52
Speaker A
stresnya dari babon laut. Kenapa sih kenapa sih lu harus Kenapa nama lu babon laut?
48:58
Speaker A
Jika investor global harus memilih antara Indonesia, India, dan Vietnam untuk alokasi jangka panjang, menurut KMY, apa argumen terkuat yang membuat Indonesia menjadi pilihan utama?
49:06
Speaker A
Bagus-bagus pertanyaan gua. Very good. Bukan komunitas saham loh ini. By the way, bagus loh pertanyaan kalian.
49:12
Speaker A
Very good. Eh, India itu Nifty. Nifty itu ee saat ini PE-nya tuh cap ratio ya.
49:19
Speaker A
C. Jadi PIE yang kita tarik selama 10 tahun itu termahal di Asian. Tiga termahal. Jadi Taiwan, ee Korea, sama Afrika itu yang termahal.
49:31
Speaker A
Oke. Nah, lucunya India jadi begitu ada satu saham masuk ke konstituen MSCI inflow-nya enggak gede, Mas Radit.
49:38
Speaker A
Oke. Karena bagi investor luar, India itu sudah mahal. Oke. Kalau kita ngomong Vietnam berpeluang kalau seandainya dia masuk ke dalam emerging market. He.
49:47
Speaker A
Jadi saat ini Vietnam tu frontier market. Tahun lalu kalau kita beli saham di Vietnam hari Senin, kita bisa jualnya tuh di Rabu. Jadi dia T plus 2.
49:56
Speaker A
Iya. I e kita beli enggak bisa enggak enggak real time gitu sampai sekarang juga sekarang jadi 1 seteng. Tahun ini bakal jadi 1 hari.
50:03
Speaker A
Mereka sedang mempersiapkan sistem ya sistem agar mereka bisa masuk ke dalam emerging market. Jika itu terjadi bakal ada inflow besar ke Vietnam.
50:10
Speaker A
Nah itu gimana tuh? Jika itu terjadi, itu akan terjadi e terjadi atau enggak saya enggak tahu.
50:15
Speaker A
Selama Indonesia tidak turun ke frontier market, kita at the lowest saat ini kita punya 1,2% ya waiting ya.
50:24
Speaker A
Kurang lebih banyak loh perusahaan fundamental yang berpotensi untuk masuk ke dalam konsentuan MSCI. Dari harga sekarang aja banyak masuk.
50:33
Speaker A
Hm. Banyak ya? Iya. Iya. Dan itu waiting kita mungkin bisa 2 sampai 3%. India 12%. Oke. Nah, untuk pertanyaan juga banyak soal saham juga.
50:43
Speaker A
Eh, tapi kalau menurut lu pribadi ee kira-kira orang yang cocok untuk alokasinya mayoritas di obligasi which is to mungkin SBN atau FR itu tipe orang kayak gimana sih sebenarnya?
50:55
Speaker A
Kebanyakan 30 50 40 ke atas ya. 30 50 ke atas itu mungkin bisa ya ngelihat.
51:01
Speaker A
Kebanyakan betul dan kebanyakan amount of money mereka ya mungkin mereka punya uang di atas 500 atau R miliar. Oke.
51:07
Speaker A
Karena which is contoh 6% dari 1 miliar itu R0 juta. Hm. S dibagi 12 5 jutaan something. Dan itu udah di atas UMR Jakarta dan kupon dapat terus.
51:19
Speaker A
Kupon dapat terus dan ada potensi pemangkasan suku bunga harga ada potensi naik. Oke. Dan kalau misalnya butuh likuiditas juga bisa dijual kan?
51:26
Speaker A
Dijual cepat banget. Oke. Cepat banget. Makanya you should consider about this at some point gitu.
51:32
Speaker A
At some point at the level of your amount of your money gitu. Oke. 30, 50 mungkin orang yang profi resikonya juga moderat kali ya.
51:39
Speaker A
Moderat. Yes. Oke. Atau mungkin baru-baru mulai atau udah punya anak gitu. Punya anak ya buat dapat bulanannya itu kan.
51:45
Speaker A
Iya. Oke. Kalau buat lu pribadi ee pernah kayak gitu juga kah? Nyimpan banyak di obligasi. Habis itu begitu ada opportunity lu cairkan untuk masuk ke market atau gimana tuh?
51:57
Speaker A
2 tahun lalu, 3 tahun lalu saya beli fix rate dan sampai sekarang enggak jual.
52:00
Speaker A
Oh, yang tadi diceritain. Iya. Dan itu salah satu keputusan terbaik menurut saya karena ee bukan cuma soal uangnya ya. Kalau uangnya dibanding dengan return saham tahun lalu itu beda jauh.
52:10
Speaker A
Oke. Tapi itu ngebuat mental saya ya untuk tidak impulsif melakukan pembelian secara besar-besaran. Oke.
52:19
Speaker A
Dan justru ketika market lagi bullish seperti itu, saya tidak jual loh. Oh. Saya enggak jual. Saya simpan karena ini untuk ngejaga mental saya bahwa kita harus tetap waras gitu loh.
52:28
Speaker A
I see. Kita harus tetap waras. Eh, dari kita ngomongin mental nih. Gua pengin tahu dong, pernah kena mental yang seperti apa Michael Yoh ini? Pernah pernah sampai ngurung diri, sampai diajakin makan sama istri enggak mau atau momen kena mental lo tuh apa yang paling lo
52:45
Speaker A
ingat? Iya, pernah itu 3 tahun lalu. Heeh. Ee saat itu capital saya masih belum terlalu gede. Modal saya belum terlalu gede. Saya lost hampir R miliar dalam 1 hari.
52:55
Speaker A
1 hari. Jadi ee itu saya kumpulkan mungkin 1 bulan kali ya kemudian hilang 1 hari saya ke gereja. Ke gereja bererejanya masih belum sore tuh sudah tutup tuh. Saya buka pintunya saya nangis saya muntah-muntah di situ. Tapi kemudian kemarin saya hilang itu mungkin
53:12
Speaker A
10 kali lipatnya. I I'm fine. Oh tapi yang dulu hilang 1 M itu maksudnya udah realize kah atau masih udah realize itu realize makanya itu kena mental banget sampai muntah-muntah segala macam. Dan saya sadar di situ bahwa tidak ada satupun uang yang untuk
53:28
Speaker A
jika itu ditukar dengan kesehatan mental sampai muntah. Muntahnya muntah kosong gitu loh. Karena aku punya gert rasa melambung ke gereja untuk dapat ketenangan.
53:36
Speaker A
Berarti aja gitu doa aja gitu. Yes. Itu kayak momen very low ya. Engak enggak mungkin kan aku konten. Wah w oke. Ini Mas Radit doang nih nanya nih.
53:49
Speaker A
Nah tapi itu kan jadi learning experience. Jadi learning experience. Nah, itu alasan kenapa di mana pun aku muncul, aku selalu katakan, "Coba lihat, tapi tolong lihat resikonya," gitu loh.
53:58
Speaker A
Iya. Itu dia tuh orang tuh kadang enggak mikir selalu ada resiko ee di atas sebuah keuntungan tuh ada risnya.
54:05
Speaker A
Heeh. Ee aduh gua gua tuh karena baca buku apa gua lupa deh. Itu pertama lu harus pikir resikores resiko. Jadi kepatri di kepala gua tuh harus resikonya dulu lu. Kalau dibibit kan reksa dana sama aja ada drawdown kan.
54:18
Speaker A
Ada drawdown. Lu lihat aja tuh drawdown-nya berapa persen tuh. Masih masih banyak enggak tahu loh drawdown tu apa.
54:23
Speaker A
Oh I mereka kayak saya punya uang R juta bisa jadi R00 juta tuh kapan itu? Ingat loh R juta bisa jadi R juta juga loh.
54:30
Speaker A
Iya. Lu lihat-donnya aja kalau lu bayangin itu minusnya segitu muntah kosong juga kan. Iya betul. Kalau lu sampai muntah kosong begitu udah enggak artinya wadah uang lu kurang besar lu. Lu invest itu berdasarkan ego, berdasarkan willingness kamu, FOMO kamu.
54:44
Speaker A
Oke. Oke. Eh, kita dua pertanyaan terakhir ya buat Welion nih. Seru banget nih kedatangan lu nih. Jauh-jauh dari Pontianak loh. Makasih loh. Langsung balik lagi kan habis ini langsung balik lagi malam ini dari Warmwood_TC.
54:57
Speaker A
K Michael kalau orang yang income-nya dalam bentuk USD mana yang paling strategis? Nyimpan dana tersebut dalam bentuk dolar atau dirupin aja? terutama baru yang buat baru nabung dalam bentuk reksa dana dan saham tapi jumlahnya masih kecil income. Oke, income dia USD kan kita
55:12
Speaker A
perlu tahu kena pajak apa enggak. Kalau enggak kena pajak ya lu mesti invest di Indonesia lah.
55:16
Speaker A
Karena kalau income lu USD lu bawa keluar nanti lu tarik balik pajaknya gede lu.
55:22
Speaker A
Pajaknya gede ya kan. Lu lu lu juga jadi kontribusi ke negara lebih kecil kan. Tapi memang itu sih ee pajak-pajak investasi di luar itu yang yang kita enggak tahu ternyata gede banget gitu. Apalagi pajak warisan. Jadi kalau di USD itu
55:38
Speaker A
warisan itu kan kena pajak ya. Iya. Warisan di luar tuh di Amerika kena pajak dari sananya 40%.
55:42
Speaker A
Oh 40%. 40% Bro. Gila hilang setengah dong. Iya hampir setengahnya. Oke. Oke. Ee hampir-hampir setengahnya di di Amerika. Makanya makanya itu yang ngebuat banyak orang mungkin jadi kayak gitu juga ya. I.
55:55
Speaker A
Nah, tapi lagi-agi Reksadana Global USD kan di bibit juga ada ya. Jadi bisa bisa coba kalau mau hedging ke sana ya lihat aja.
56:01
Speaker A
Dan terakhir ini ada pertanyaan tadi dari bubur ayam naik haji enggak? Bubur ayam naik tukang bubur itu. Bubur ayam nih temannya babon laut kayaknya.
56:13
Speaker A
Oh, apa kesalahan fatal yang pernah membuat mental lu down biar kita enggak masuk kesalahan yang sama?
56:19
Speaker A
Iya, itu tadi kesalahan fatal yang tadi sudah ceritain ya. Iya. Ngelihatnya di atas enggak ngelihat di bawah. Kita sudah mikir, kebanyakan orang investasi itu langsung mikirnya gini, Mas Radit. Pengin beli rumah, pengin beli mobil, pengin jalan-jalan ke luar negeri, pengin biayain bokap,
56:32
Speaker A
enggak salah sebenarnya. Tapi begitu lu masuk ke situ, itu market enggak peduli. Market enggak peduli sama emosi lu.
56:39
Speaker A
Nah, itu kebanyakan orang ee ngebawa emosi itu ke dalam investment. E sayangnya orang market tuh tidak peduli sama itu.
56:47
Speaker A
Oke oke oke. Jadi, banyak orang itu melihat kayak investasi itu hanya soal angka, soal return. R miliar gede, 10 miliar mungkin R juta kecil, R miliar gede, 10 miliar gede. Mereka lupa investasi itu bukan cuma soal angka, tapi itu harapan hidup
57:01
Speaker A
orang, biaya hidup, biaya kesehatan orang, biaya pendidikan anak. Iya. Iya. I dan itu harus lu pangkas di awal ee lu lu invest. Nah, dari situ lu bakal clarity tuh.
57:12
Speaker A
Kalau gaya investasi lo atau trading lo sendiri itu gimana sih sebenarnya? Pertama, aku ngelihat makro.
57:17
Speaker A
Ngelihat makronya dulu. Yes. Lihat makro. Apa pengaruhnya ke Indonesia? kira-kira apa yang mendapat keuntungan. Kemudian kita itu namanya kan up to bottom, up to down. Kemudian kita bottom to up itu bakal ketemu tuh tengah kalau kita bikin kurva bulat gitu. Ini bottom to
57:32
Speaker A
up, ini up to bottom. Di tengah kan pasti ada tuh emiten yang didukungkan dari itu. Contohnya sebenarnya tahun ini dari Januari, dari Desember sampai Januari nikel itu kan naiknya kencang 19%. Company-company nikel laporan keuangan tuh double digit semua.
57:46
Speaker A
Heeh. Kita lihat brok, kita lihat TA, akumulasinya bagus, TA-nya bagus, itu sama-sama nikel bertahan.
57:52
Speaker A
Hm. Nah, itu salah contoh salah satu investmentku. Berarti lu gabungin semuanya ya? Gabungin semua. Yes. Karena semua saling berkaitan kan.
58:00
Speaker A
Tapi gimana caranya? Berarti ketika lu lihat ee dari atas dari makro ee gimana caranya lu menentukan bahwa oh ini nikel nih yang nanti akan naik atau lu justru pas sudah mulai naik lo masuk atau gimana tuh? Biasanya engak ada dua cara untuk konfirmasi.
58:16
Speaker A
Kita lihat ini nikal bakal naik tapi saham nikalnya enggak ke mana-mana enggak ada akum ya udah. Oh, I kita enggak nemu enggak nemu enggak nemu kurva yang di tengahnya itu kan kan kita berarti oke enggak semua samnikal naik memang enggak semua diakum
58:28
Speaker A
enggak ada ada yang juga enggak liquid berarti ini dicoret dicoret nah kemudian eh ini ada mulai ada akum nih ah kita mulai lingkar nih udah mulai ada akum dia mulai sideways secara teknikal oke flow-nya bagus equity mulai masuk uang mulai masuk nah
58:42
Speaker A
itu kita bisa tuh jadi dari 10 emiten nikel mungkin jadi lim jadi tig jadi dua lalu satu doang masuk ke Porto dan lu jualnya ketika yang lain pada jualan juga kah?
58:52
Speaker A
Enggak. Ee pertama kalau kita jual ketika yang lain jual atau kita jual ketika kita merasa cukup, we will never know.
58:59
Speaker A
E Nvidia itu naiknya 2.800% kalau enggak salah ya kan. Kita bakal selalu kejual lebih awal. Siapa yang nyangka Bitcoin bisa segini kan?
59:07
Speaker A
Iya. Nah itu alasan kenapa ada yang mengatakan learn to lepas gitu. Kita harus belajar untuk melepas. Jadi contoh saya masukin R miliar I itu jadi 2 miliar bagi sebagian orang cukup kan?
59:20
Speaker A
Hm. Tapi kalau ternyata sahamnya bisa naik sampai 10 miliar gimana? Heeh. Jadi begitu sudah sampai 2 miliar angka itu kita lupakan. Ambil ambil yang menurut kamu sudah cukup atau bagi kamu kayak R00 juta cukup tarik sisanya biarkan ya. Makanya let your profit run.
59:35
Speaker A
Oh. Let your profit run. Sebenarnya tuh kamu jangan terikat sama profitmu. Jangan sering-sering dilihat nanti gatal mau jual. Oke, selama dia masih flow-nya masih bagus, ininya masih eh apa makronya masih mendukung, it's worth for you to keep. I
59:49
Speaker A
see. Berarti berarti tetap lu kalau flow-nya mulai kering baru lu kepikiran jual. Mulai kepikiran jual. I nah dan aku sedikit ada buat kesalahan nih.
59:58
Speaker A
Kenapa tuh? Aku enggak nyangka di Q1 seperti itu. Flow masih lumayan bagus, masih belum jelek, tiba-tiba dem dem gitu. Karena kan extreme case gitu ya.
60:07
Speaker A
Oh. Iya. Ya kan ada faktor tradi lah ya. He emang emang rada-rada ya kalau dipikirnya nyebelin enggak sih?
60:14
Speaker A
Nyebelin tahu. Iya benar benar benar. Orang lagi kayak baik-baik aja semua happy-happy aja tiba-tiba berulah lagi.
60:20
Speaker A
Sebenarnya kita enggak masih belum apa-apa loh dibanding Korea. Wah iya lagi. Iya Korea tuh minus 12% sempat tiga kali loh. Tiga kali minus 12%. Bayangkan Korea itu pemerintah Korea sampai mutusin kita harus suntik likuiditas ke dalam stock market 1000 triliun
60:36
Speaker A
sepertiga APBN kita. Bayangkan APBN kita 3.000 lebih pendapatan itu sepertiganya untuk sos market di Korea.
60:43
Speaker A
Gila. Gila juga ya. Oke, terima kasih Bro sudah main ke sini. Good luck buat semuanya. Eh, good luck juga katanya.
60:53
Speaker A
Eh, enggak tahu. Boleh diceritain enggak lu mau pindah? Boleh, boleh. Ya, katanya lu akan segera berdomisili di Jakarta. Semoga semuanya lancar dan sehat-sehat selalu.
61:02
Speaker A
Thank you semuanya. Yeah.
Topics:investasitradingpasar modalemotional intelligencestrategi investasiFOMOmanajemen risikoMichael YeohRaditya Dikakomunitas investasi

Answers

Frequently Asked Questions

Apa yang dimaksud Michael Yeoh dengan emotional intelligence dalam investasi?

Emotional intelligence dalam investasi adalah kemampuan mengelola emosi agar tidak membuat keputusan impulsif, memahami risiko, dan merespon perubahan pasar dengan bijak.

Mengapa Michael Yeoh menyamakan investasi dengan permainan game?

Michael Yeoh memandang investasi seperti permainan karena memerlukan pemahaman aturan, strategi, dan pengembangan diri secara bertahap, mirip dengan naik level dalam game.

Apa risiko utama yang dihadapi trader menurut Michael Yeoh?

Risiko utama adalah sulitnya berhenti trading karena efek psikologis dopamin dan adrenalin yang membuat trader selalu ingin aktif dan mengambil posisi, sehingga berpotensi merugikan.

Get More with the Söz AI App

Transcribe recordings, audio files, and YouTube videos — with AI summaries, speaker detection, and unlimited transcriptions.

Or transcribe another YouTube video here →