Skip to content

Kupas Tuntas Dividend Investing — Transcript

Raditya Dika membahas strategi dividend investing dan pengalaman menulis buku terkait investasi dividen untuk pemula dan investor jangka panjang.

Key Takeaways

  • Dividend investing memberikan passive income yang stabil dan potensi capital gain jangka panjang.
  • Pemilihan saham harus didasarkan pada analisis fundamental dan valuasi, bukan hanya karena produk dikenal.
  • Strategi ini cocok untuk investor yang ingin investasi jangka panjang dengan risiko lebih terkendali.
  • Menjaga cash sebagai cadangan penting untuk menghadapi volatilitas pasar.
  • Dividend investing dapat diterapkan di pasar domestik maupun internasional.

Summary

  • Raditya Dika memulai ketertarikan pada buku investasi setelah menemukan buku The Dividend Investor di Gramedia Melawai yang kini rebranding menjadi Gramedia Jalma.
  • Penulis buku, Jefferly Helian, awalnya bekerja di digital marketing dan menulis buku tentang dividend investing berdasarkan pengalaman investasi sejak kuliah.
  • Dividend investing dijelaskan sebagai strategi investasi yang fokus pada pendapatan dividen yang diinvestasikan kembali untuk menggulung nilai investasi.
  • Keunggulan dividend investing dibandingkan instrumen lain seperti SBN adalah potensi mendapatkan dividen plus capital gain dari kenaikan harga saham.
  • Raditya Dika memilih strategi dividend investing karena cocok untuk investasi jangka panjang dengan modal terbatas dan minim aktivitas trading.
  • Cara memilih saham dividend investing dimulai dari mengenali perusahaan yang produknya dikenal dan menilai valuasi serta potensi dividen secara selektif.
  • Diskusi juga mencakup pentingnya memahami fundamental perusahaan dan psikologi pasar dalam menghadapi fluktuasi harga saham.
  • Penulis buku menekankan bahwa dividend investing bukan hanya untuk saham blue chip, tapi juga bisa diterapkan pada saham second liner dan pasar luar negeri.
  • Strategi investasi melibatkan alokasi dana yang proporsional dengan menjaga cash sekitar 10-15% untuk antisipasi risiko pasar.
  • Video ini juga membahas kondisi pasar terkini, perbandingan dengan pasar luar negeri, dan tips akumulasi saham saat harga turun.

Full Transcript — Download SRT & Markdown

00:00
Speaker A
Sebagai seorang pencinta buku, jadi pas gua kecil, salah satu Gramia yang sering gua datangin adalah Gramedia Melawai.
00:08
Speaker A
Eh, biasanya gua berhenti naik bajaj itu berhenti di Melawai Plaza ke belakang terus ke Gramedia Melawai di belakang Melawai Plaza situ kan di Blok M. Nah, ternyata mereka kan udah rebranding nih jadi Gramedia Jalma. Jadi semenjak mereka rebranding, gua jadi sering main
00:26
Speaker A
ke sana. Makan di restoran Jepang dekat situ sama keluarga gua. Main ke sana beberapa kali lah. Terus mereka ada satu rak gitu, ada satu rak buku isinya tuh tentang saham, investing, dan lain-lain gitu. Jadilah gua lihat-lihat di sana beli buku apa ya, belilah gua
00:41
Speaker A
buku ini, The Dividend Investor ini. Karena kan memang gua lagi buat pensiun, gua memang ujungnya kan nanti dari dividend investing kan. Belilah gua baca-baca baca baca. Kayaknya seru juga ya kalau gua bahas ya. Jadi, gua memanfaatkan privilege gua [tertawa]
01:00
Speaker A
untuk punya podcast sebagai orang yang punya podcast untuk ngontak yang nulis nih Jefferly Helian Sound Free dan hari ini datang orangnya, bro. Gitu, bro. Jadi, bro, gua habis beli buku lo nih.
01:12
Speaker A
Thank you, thank you, Bang. Beli buku lo terus pulang ke rumah baca. Ada beberapa buku lain.
01:18
Speaker A
Iya. Gua beli gitu. Cuman salah satu yang kelar duluan ini gua baca. Kayaknya seru juga ya kalau gua share soal buku ini ke penonton-penonton gue karena kan di podcast ini lumayan seringlah kita ngomongin soal investasi juga. Nah, makanya gua datangin lo hari
01:35
Speaker A
ini untuk kita ngomongin soal dividend investing. Siap. Siap. Thank you, Bang Radi. Ini 2022 ya?
01:42
Speaker A
2022. Iya, kalau enggak salah bukunya kan 2022-2023. Iya. Segituan lah ya. Terus gua ngelihat profil lu sebenarnya dulu di digital marketing justru. Betul. Betul.
01:53
Speaker A
Kok bisa jadi menulis buku dividend investing sebagai seorang marketer sebenarnya? Oke. Jadi awalnya kerja aku kerjanya digital marketing, Bang Rit. Cuman karena hobi investasi dan emang sejak kuliah tuh sudah mulai menekuni investasi, mempelajarinya. Nah, terus by experience terus apa coba investasi
02:12
Speaker A
saham beberapa tahun. Nah, pengalaman-pengalaman itu insight-insight itu yang aku share di dalam bukunya ini. Jadi emang udah hobi investasi dari pas kuliah gitu. Oke.
02:21
Speaker A
Nah, ketika approach ini kan penerbitnya media ya. Media. Betul. Eh, itu approach-nya gimana? Apakah el datang ngasih bukunya sudah jadi? Karena kan di antara investor-investor lain kan el nih yang akhirnya diterbitkan sama penerbit gitu. Itu gimana approach-nya?
02:39
Speaker A
I. Nah, sebenarnya selain bekerja di digital marketing tahun 2012 tuh aku sudah nulis buku, Bang. Oke.
02:44
Speaker A
Jadi sejak SMA belajar sudah nulis buku tentang digital marketing. Nah, pas 2020-2021 kebetulan kan udah kenal sama editornya, redaksi, dan lain-lainnya. Jadi kepikiranlah waktu itu buat kayaknya kalau gua bikin buku tentang saham juga boleh ya mungkin dieksplore sama mereka
03:01
Speaker A
dikasih kesempatan gitu. Jadi aku udah propose idenya dulu sama gambaran bukunya kayak gimana, disetujui sama mereka, udah aku kerjain naskahnya.
03:10
Speaker A
Jadi emang udah nulis di LX dari 2012. Nah, dividend investing tuh enggak banyak yang ngambil opsi itu. Kalau investor-investor kebanyakan di Indonesia kan yang cuan-cuan, yang apa capital gain gede gitu. Kenapa lu arahnya ke dividend investing? Karena di Indonesia tuh banyak mengunderestimate potensi dividen, Bang. Contoh ya misalnya kita kalau ngomongin satu saham kayak saham batu bara misalnya, itu kan setahun bisa 12-13% yield-nya.
03:26
Speaker A
Kalau misalnya itu dijalankan secara konsisten 6 atau 7 tahun itu lu udah bisa balik modal dari dividen doang meskipun enggak setiap tahun 12%.
03:38
Speaker A
Iya, karena kan naik turun. Tapi ketika lu sudah balik modal dari dividen, investasinya kan udah balik nih, dia tinggal ngegulung aja. Nah, di situ kan potensinya kalau ngambil posisi buat jangka panjang ada hal menariknya di situ. Jadi dapat passive income-nya dulu,
03:46
Speaker A
modalnya sudah kembali, fluktuasi di market ya kita bisa lebih tenang menghadapinya gitu. Oke, kita back to terminologi dulu kali ya. Dividend investing itu apa?
04:01
Speaker A
Dividend investing itu jadi kan dari dua kata ya, dividen dan investing. Investing ya berarti proses investasi.
04:11
Speaker A
Tapi untuk dividen itu dividen kan apa? Bagian dari keuntungan perusahaan yang dibagi ke pemegang saham. Jadi investornya dapat dividen. Nah, dividennya itu kan bisa di kita belanjain, dinikmatin, atau diinvestasiin lagi. Nah, dividend investing jadi dividen yang diterima itu
04:17
Speaker A
diinvestasiin lagi sampai nilai investasinya menggulung-menggulung dan makin besar gitu return yang bisa didapat.
04:33
Speaker A
Oke. Nah, banyak yang bilang bahwa dividen itu kan yang sustainable mungkin sekitar 7%, 6% gitu dan kelihatannya enggak gede gitu. Tapi argumen lu apa? Kenapa tetap memilih ini gitu? Memilih ini karena tergantung mungkin kelihatannya enggak gede. Tapi kalau boleh kita compare ya,
04:39
Speaker A
Bang, sama instrumen lain misalnya SBN gitu kan lu taruh di SBN dapatnya juga kan setelah pajak 6-7%.
04:58
Speaker A
Tapi oke memang modalnya aman tapi pas kembali ya udah kembali sesuai nilai yang kita tanamin. Tapi kalau di dividend investing selain lu bisa dapat 6-7% setahun ada possibility untuk sahamnya naik. Nah di situ bisa dapat bonus capital gainnya juga. Oke, berarti
05:05
Speaker A
artinya dari awal lu ke market sudah dividend investing kah atau sempat yang lain-lain dulu?
05:19
Speaker A
E, gua niatnya nabung jangka panjang kan karena kan mulainya [berdehem] pas habis kuliah terus kayak ya gua sadarlah modal waktu itu berapa sih anak kuliahan baru kerja gitu kan ya gua tabung-tabung-tabung aja dividennya ya lumayan makin
05:24
Speaker A
lama kan makin bertambah ya gitu. Contoh paling kayak let's say BRI ya. Misalnya BRI dulu waktu gua baru masuk market 2018 mungkin itu yield-nya setahun ya setahun mungkin 4%-an 3 sampai 4% waktu itu.
05:36
Speaker A
Oke. Sekarang kan ada kejadian ISG-nya koreksi saham-saham turun dalam tuh setahun bisa 10%. He.
05:51
Speaker A
Jadi kalau dapat dividen tiap tahun digulung lama-lama kan lumayan juga hasilnya gitu. Hm. Berarti sekarang dengan kondisi yang lagi pada turun ini lu lagi akumulasi juga kah atau?
05:57
Speaker A
Iya, gua tetap akumulasi karena kan ada budget investasi nabung-nabung rutin. Cuman gua akumulasinya enggak semua saham. Jadi saham yang emang gua prioritaskan untuk dibeli gitu.
06:10
Speaker A
Oke. Nah, berarti dari awal memilih dividend investing karena udah kerja dulu gitu kali maksudnya ya.
06:20
Speaker A
Sehingga waktu lo kan enggak gitu banyak buat trading gitu ya. Iya, betul. Dan karena gua banyak belajar juga kan ngelihatin kayak Warren Buffett dan sebagainya, dia pilihnya investasi. Jadi ya gua memilih jalan itulah gitu.
06:27
Speaker A
Terus di gua gua run through bab bukunya aja sih kalau kayak gitu. Mah tadi kan daya tariknya ya, daya tariknya apa itu dividend investing.
06:39
Speaker A
Kalau cara menemukannya gimana ini untuk masyarakat awam? Cara menemukannya pertama menurut gua cari dulu saham yang potensial. Yang potensial tuh apa?
06:47
Speaker A
Bisa cari saham-saham yang mungkin kita kenal ya sama perusahaannya gitu. Kayak paling gampang sehari-hari kita pakai produk apa sih kayak misalnya perbankan, bank yang dipakai apa semua di situ nanti akan kelihatan mana saham-saham yang potensial. Nah, habis ketemu listnya itu barulah
06:58
Speaker A
kita pilih yang paling bagus gitu, yang paling oke, dividennya bagus dan kriteria-kriterianya memenuhi itu yang kita pilih buat mulai investasinya gitu.
07:15
Speaker A
Itu buat pemula tuh meskipun enggak asal kita kenal barangnya kita langsung beli ya.
07:24
Speaker A
Enggak. Karena kan mesti pelajari dulu sama lihat valuasinya, Bang. Kan banyaknya kejadian saham yang produknya kita pakai sehari-hari tahu-tahu berapa tahun dia turun cukup dalam gitu harga sahamnya.
07:29
Speaker A
Ya itu mengkhawatirkan juga gitu kan. Jadi tetap ada seleksi lah yang dilakukan. Oke. Karena kalau kemahalan juga ngapain gitu kan ya meskipun tu sehari-hari kita lihat gitu. Heeh.
07:40
Speaker A
Nah kalau lu pribadi dengan buku ini terbit berarti banyak ngomongin soal dividend investing buat pemula juga kah?
07:50
Speaker A
Iya buat pemula dan karena kan gua punya YouTube Bang Kanala ID segmennya ada yang benar-benar pemula, ada juga yang udah investor u
07:59
Speaker A
Iya buat pemula dan karena kan gua punya YouTube Bang Kanala ID segmennya ada yang benar-benar pemula, ada juga yang udah investor udah bertahun-tahun, ada yang emang udah senior. Jadi macam-macam sih. Tapi untuk dividen investing memang khusus lebih step by step dari awal
08:14
Speaker A
untuk memula. Kalau sekarang indikasinya orang lebih banyak yang tertarik ke dividend investing kah atau masih sama aja kayak dulu?
08:21
Speaker A
Menurut gua kayaknya masih sama kayak dulu sih, Bang. Oke. Masih belum ini ya. Karena kalau kita lihat di medsos yang lebih ramai kan yang ya misalnya saham-saham yang naik sekian puluh sekian ratus persungan minggu gitu kan yang kayak saham-saham Konglo lah banyak
08:34
Speaker A
waktu du 2 tahun terakhir kan itu yang sedang jadi tren. Tapi lu pribadi enggak ke saham Kong lu?
08:40
Speaker A
Eh, jadi gua ada dua portofolio yang gua manage di pribadi gua sama yang di kerjaan. Eh, gua kan ada manage investasi juga tapi buat internal perusahaan gitu ya.
08:48
Speaker A
Nah, ada sedikit masuk ke saham Samkong lo tapi di bawah 10% mungkin 5% dari dana yang dimanage gitu. Tapi di pribadi gua murni value investing, fokus di nabung saham aja.
08:59
Speaker A
Oh, itu hanya buat ngikutin benchmark kali ya. Karena ISG kan kenanya ke situ ya.
09:03
Speaker A
Iya, betul. H. dan apa ee selain benchmark juga kan lagi ramai nih ada kesempatan juga buat kita ambil untung kalau buat trading kan di situ.
09:13
Speaker A
I see. I see. Oke. Nah ee terus bab berikutnya di bab di buku lo itu ada ngomongin fundamental juga.
09:21
Speaker A
Iya. Berarti itu penting banget ketika kita nyeleksi saham-saham di awal. Iya. Paling penting justru fundamental, Bang. Kalau menurut gua ya, baik lu trading atau lu invest mesti paham fundamentalnya dulu. Karena kan kalau misalnya trading kebanyakan ya mungkin orang cuma lihat chart tapi enggak
09:34
Speaker A
ngerti di balik itu tuh apa yang terjadi. Nah, gua berpandangan apa yang terjadi di chart itu tuh pasti ada hubungannya sama fundamental dan kedua psikologinya market. Nah, ini yang mungkin ee apa ya yang harus dilihat banget tuh kenapa fundamental penting.
09:49
Speaker A
Jadi di balik di balik saham apapun yang lu pilih kan pasti ada ada perusahaannya. Nah, itu fundamental buat mempelajari perusahaan itu.
09:55
Speaker A
Ketika kita bicara fundamental yang lu lihat apa? Katakanlah gua buka aplikasi ini sekuritas tuh kan ada banyak tuh kalau ada fundamental analanya tuh.
10:04
Speaker A
Iya. Ada ada variabel-variabel yang lu pick lah. Variabelnya kan banyak Bang kalau fundamental. Tapi kalau menurut gua paling penting tiga sih. Satu revenue atau sales. Kita buat lihat dulu ee [mendengus] perusahaan itu omsetnya berapa sih dan makin tahun tuh makin
10:18
Speaker A
bertambah enggak penjualannya. Itu yang paling penting. Pertama. Kedua, laba bersih. Kan kalau sales-nya naik terus tapi laba bersihnya staknan lama-lama growth perusahaannya terbatas. Jadi, gua lihat revenue atau sales, lihat ee laba bersih, net profit, sama gua biasa ngitung ee pertumbuhan laba perusahaan
10:36
Speaker A
itu 3 atau 5 tahun ke belakang. Karena yang paling krusial ya, Bang, menurut gua untuk menentukan kenaikan satu saham ya secara fundamental itu pasti growth perusahaan. Jadi, kalau perusahaannya menengah tapi lama-lama makin gede, makin gede kan value-nya akan naik. Ee harapannya harga sahamnya
10:50
Speaker A
juga naik gitu. Berarti artinya lu bikin prediction buat perusahaannya kan kira-kira gitu ya? Iya. kira-kira kita punya perkiraan lah ee tahun depan kayak gimana 2 tahun dan seterusnya.
11:00
Speaker A
Artinya lu ngelihat ee ketika lu menentukan satu perusahaan revenue-nya bertambah, gimana cara lu menentukan growth-nya dia ke depan? Apakah secara kualitatif lu lihat rencana-rencana manajemennya atau apanya?
11:14
Speaker A
Yang pasti kalau gua gampangnya biasa gini, Bang, lihat outlook mereka buat tahun depan gimana. Contoh paling gampang di perbankan ya kalau kita bicara satu sektor misalnya. Nah, tiap tahun itu kan biasa akan ada di-share tuh di presentasi outlook growth credit
11:27
Speaker A
mereka berapa gitu. Nah, mungkin kalau buat yang baru mulai kan pasti pusingnya buat ngelihatin itu. Tapi kalau makin lama kita ngikutin satu perusahaan, oh kayak contoh satu bank dia nargetin growth creditnya 10 atau 12% setahun.
11:39
Speaker A
Paling enggak kita bisa punya asumsi, oh kira-kira revenue-nya mungkin tumbuh segitu. Nah, paling kita cobalah bikin perkiraan kira-kira potensi net profitnya berapa untuk tahun depan atau 2 tahun ke depan. Tapi kan ini sifatnya asumsi ya, Bang. Harus tetap dilihat
11:52
Speaker A
tiap t e tiap 3 bulan, tiap kuartal supaya kita tahu, oh track enggak sih sama targetnya gitu.
11:58
Speaker A
Nah, jadi kalau misalnya gua pakai contoh case yang saat ini terjadi, saham banking kan banyak dijual-jualin itu banyak dilepas karena kan kalau kita lihat 2025 banyak yang turun profitnya gitu. Growth creditnya kan juga enggak terlalu kencang kan. Jadi
12:11
Speaker A
memang sektornya lagi ada challenging di situ gitu. Oke, berarti artinya eh lu memprediksi bahwa di banking pun juga enggak akan terlalu grow gitu ya untuk [mendengus] tahun ini mungkin ya kelihatannya. Cuman jangan lupa kalau di banking kan, Bang,
12:27
Speaker A
selain kita dari Grow Credit, ada juga bagian yang namanya ee beban pencadangan kerugian penurunan nilai, beban CKPN lah di bank kan.
12:35
Speaker A
Kalau ada 1 tahun atau satu momen beban itu bisa turun ee profitnya kan bisa naik lumayan signifikan gitu. banyak kejadian di saham-saham bank yang tahun ini misalnya dia bikin pencadangannya gede, tahu-tahu tahun depan turun 20 30% kan profitnya sudah otomatis harusnya
12:51
Speaker A
akan naik gitu. Oke. Karena cadangannya enggak terpakai gitu. Iya betul. Em, nah ketika lu bikin projection berarti di projection itu lu udah menentukan harga wajar sahamnya beberapa tahun ke depan gitu kira-kira ya? Iya, gua udah bikin gitu kan karena kan
13:05
Speaker A
banyak cara untuk e apa forecast nilainya berapa lah gitu kaliya atau paling gampang terutama kalau saham-saham murah ya, Bang, kayak yang PBV-nya 0,3 0,4 ya benchmark mungkin ke PBV 1 itu udah kebayang kan paling enggak wajarnya berapa gitu.
13:20
Speaker A
Oh, pakai pakai kalau PBV-nya satu harga wajar berapa gitu. Iya, kalau yang di bawah satu misalnya kan banyak ya caranya. Jadi macam-macam sih tergantung. Nah, berarti ee kalau kalau kita lihat lu dari awal lulus kuliah ya tadi ya?
13:33
Speaker A
Iya. Lulus kuliah sampai sekarang dengan strategi dividen investing lo ini kita enggak bicara capital gain lah. Kalau kita bicara hasil dari dividennya, el kira-kira per tahun berapa CAGR sepanjang el ketika lu sudah masuk?
13:48
Speaker A
Kalau CAGR ee gua enggak menghitung secara total pastinya ya, Bang ya. cuman beberapa ee karena kan gua tiap tahun tetap nambah tiap beli beli gitu ya.
13:59
Speaker A
Mungkin kalau dari result dari segi dividen sih pasti udah udah lumayan bertambah yang gua dapat ya.
14:04
Speaker A
Karena waktu baru masuk kuliah kan modalnya berapa terus modal makin bertambah. Untuk gambaran ee dividen yang gua dapat lah ya mungkin itu bisa kayak ya belum gede-gede banget lah tapi untuk meng-cover gaji. Jadi kayak lu kerja di kantor lu bisa dapat
14:20
Speaker A
dividen yang beberapa kali gaji kantoran itulah gitu. Wow. Berarti lebih gede dividen loh daripada gaji kantor ee saat ini ya.
14:27
Speaker A
Enggak tergantung kan gajinya di mana. Kalau kantornya maksud gua kalau untuk rate let's say UMR ya dividen yang gua dapat udah berkali-kali dari UMR gitu.
14:35
Speaker A
Ee tapi kalau dibandingin modal udah berapa persen dividen yield lu? Gua sebenarnya enggak terlalu gede Bang karena sekitar 6%-an. Karena gua bagi porto pribadi gua tuh dua. Satu di market Indo sama di market US. Eh, dulunya gua banyak dominan di Indo, tapi
14:51
Speaker A
by case di 2025 gua lihat ya kayaknya agak berat ya buat Indo. Akhirnya gua banyak alihin porto gua ke US. Nah, di US kan dividen yield-nya enggak terlalu tinggi. Jadi, makanya yang gua bisa usahakan tuh sekitar 5 sampai 6% lah
15:03
Speaker A
dari total portofolio pribadi gitu. Oh, bukan lebih menarik eh dividend investing di Indonesia ya kalau kayak gitu ya.
15:09
Speaker A
Kalau dividen pasti, Bang. Cuman kita kan pengin juga dong dapat capital gain kayak ee karena oke kita dapat dividen 10% 7 eh 7% 8% misalnya tapi di satu sisi kan kita pengin lihat juga di portofolio kita ada yang hijau. Nah
15:22
Speaker A
makanya gua cari market yang juga lagi growing yang lagi hijau gitu dan salah satunya market gitu.
15:29
Speaker A
Eh, kalau kita lihat market sih, gua ada beberapa hal yang pengin gua tanyain justru jadinya kayak yang pertama kan pajak dividen di US with holding-nya lumayan gede ya pajak 20 30% kalau enggak salah ya untuk ee jadi waktu kita terima dividen
15:44
Speaker A
kalau kita warga negara Indonesia tuh langsung dipotong 15%. Oh 15 justru karena ada perlu pakai treatity ya berarti ya. Ya, ada form kredit.
15:52
Speaker A
Iya, betul. Jadi, kita isi form itu gitu 15%. Cuman kan dividen enggak kita terlalu berharap sebenarnya kalau menurut gua di US kan karena paling dapat 2% 3% ya cuman sama kayak deposito lu taruh di Indonesia kan gitu.
16:03
Speaker A
Jadi lu berharap dari capital gain. Capital gain. Nah, itu dipajakin juga kan sampai kena pajak progresif tuh kalau enggak salah.
16:08
Speaker A
Iya. Kalau memang pajaknya cukup gede ya kalau di market ee apa kalau kita dapat income dari situ gitu. Jadi sebenarnya plus minus sih.
16:15
Speaker A
Oke. Lu udah ngitung kira-kira projection lu setelah dikurangin pajak capital gain dari US itu berapa enggak kira-kira ininya? E projection keuntungannya capital gain lu?
16:28
Speaker A
Projection gua belum hitung sih kalau sampai situ. Jadi karena gua banyak gua gulung Bang enggak enggak langsung gua realize itunya. Paling gua ada rilise sebagian kecil lah gitu untuk tarik.
16:38
Speaker A
Eh tapi mostly modalnya masih digulung terus di market US gitu. Berarti lu pakai ETF ya.
16:43
Speaker A
beli sahamnya langsung lewat platform-platform yang ya yang memudahkan kita l buat buat beli saham US gitu.
16:49
Speaker A
Oke. Oke. Tapi kalau melihat MSCI, melihat perang Iraq, I itu ke kondisi market Indonesia dari sisi lu gimana?
17:00
Speaker A
Ngaruh banget ya, Bang. Paling kita kelihatan mostly yang gua perhatiin hampir semua sektor kan kena. Yang yang hijau di situasi market ini ee yang gua lihat cuman dua di batu bara di apa saham batu bara sama sawit gitu.
17:12
Speaker A
Iya. Ee perkapalan pun gua lihatnya juga banyak turun. Nah, jadi imbasnya tuh ke semua sektor kecuali dua komoditas tadi.
17:19
Speaker A
Nikel pun juga sekarang sempat di Januari kan naik cukup signifikan tuh kalau saham-saham nikel sekarang juga udah mulai sideways dan agak koreksi-koreksi dia gitu. Jadi ngaruh banget sih ee terlepas langsung berpengaruh ke bisnisnya enggak. Tapi kan persepsi orang lagi perang enggak
17:34
Speaker A
pasti di mana-mana buat taruh duit di market itu mungkin cukup cukup challenging dan ada yang takut juga mungkin takut duitnya ketahan gitu. Dan kalau lu malah justru naruh di luar berarti gitu ya.
17:45
Speaker A
Ee gua naruh dari luar tuh udah mulai bukan dari tahun ini, dari tahun lalu banyaknya gua taruh.
17:50
Speaker A
Jadi gua separuh pindahin. Tapi yang di Indo tetap jadi kalau gua ada apa income bulanan gitu ya, terus ada yang gua sisihin buat investasi tetap nambahin di saham-saham indo. Karena banyak yang murah, Bang, gitu. Lebih murah dari 2 3
18:02
Speaker A
tahun lalu kan. Sayang kalau enggak dibeli gitu. Dengan dengan target buat dapat dividennya juga ya. Karena lu kalau ngitung dividen yieldnya jadi tinggi banget ya.
18:11
Speaker A
Tinggi banget. kayak saham bank bisa 78% kan gampang banget dapatnya sekarang. Kalau dulu kan mungkin waktu lagi di puncak-puncaknya kayak kita dapat 5% dari Sambang tuh udah udah bagus kan.
18:21
Speaker A
Sekarang bisa secara total bisa lebih dari 8% bahkan mungkin 10% ya lumayan sih itu berarti porto pribadi lo tadi yang lu bilang memang purely dividend investing.
18:33
Speaker A
Iya dividen dan ya gua keep jangka panjang. Ada yang trading tapi gua pisahin dikitlah buat buat eh trading mungkin 1 2 bulan gitu which is sekitar 6% tadi ya dividend dividend. Betul. In total ya. In total dari keseluruhan Porto.
18:48
Speaker A
Oke. Oke. Em menurut lo miskonsepsi terbesar masyarakat kita terhadap dividend investing tu apa sih sebenarnya yang mereka salah kaper yang mungkin ya menurut gua ngelihat dividennya tuh kayak cuman angka oh gua dapat 4% 5% misalnya atau 6% bahkan
19:04
Speaker A
ibaratnya gua taruh R juta yaah gua dapat cuma 6 juta setahun misalnya gitu kan. [berdehem] Jadi mengunderestimate ee return yang didapat di tahun itu gitu. Nah, padahal kalau lama-lama dikumpulin setahun misalnya 6%, 7%, 2 tahun sudah 14%.
19:18
Speaker A
Semakin lama lu di market kan semakin banyaklah return yang lu sudah dapat ya dari dividen. Selagi sahamnya enggak turun signifikan ee lu tetap modalnya terjaga, dapat return dan ada potensi saham itu akan tetap naik kalau kinerjanya bagus, perusahaannya bagus
19:34
Speaker A
gitu. Jadi kebanyakan mengunderestimate dividen sih yang gua lihat. Jadi melihatnya kayak sama malas nunggunya gitu, Bang. Kebanyakan orang kayak kayak mungkin teman-teman kita atau ya banyaklah orang ya gua nungguin setahun cuma dapat 6% [mendengus] gitu kan sementara yang lain
19:47
Speaker A
sudah pada terbang gitu. Pengin langsung untung ya. Iya pengin langsung kayak beli beli hari ini besok atau minggu depan udah harus hijau kan.
19:54
Speaker A
Iya iya iya. Dan ada dividen growth-nya juga ya. Maksudnya kayak kalau setahun portonya dividen growth-nya bisa 12 13% kan lumayan banget kan.
20:02
Speaker A
Iya. Dan nominal dividen yang kita dapat per tahun kan bisa tambah juga karena kan perusahaannya makin betul.
20:07
Speaker A
Makin untung juga. Iya betul. Mungkin PO rati-ya juga dinaikin naikin. Benar. Oke. Lu ada kriteria khusus enggak dalam memilih saham yang membagikan dividen?
20:15
Speaker A
Kayak tadi soal payout ratio, ada batas enggak? Kalau udah 100 lu enggak mau gitu? Misalnya payout ratio. Kalau khusus payout ratio ya, gua biasa lihat prefer sebenarnya yang kalau bisa jangan terlalu tinggi, jangan sampai 100%. Let's say 5060 lah.
20:29
Speaker A
Jadi ekuitas ee dividennya enggak dibagi seluruhnya, ekuitasnya kan naik. Terus dia kalau mau ekspansi atau apa, dia bisa andelin dari kas internal mereka kan tanpa harus ngambil utang.
20:38
Speaker A
right issue dan lain-lain gitu. Jadi secara preferensi preferensi 5060 itu menurut gua oke. Cuman kalaupun ada yang sampai 80 100% ya kalau bisnisnya bertumbuh gitu ya enggak enggak masalah juga gitu kan.
20:53
Speaker A
Ee sales-nya naik, e profitnya naik. Sama lihat kondisi industri sih, Bang. Gua lihat karena beberapa industri kan emang kapitalnya mesti gede kayak perbankan itu kan makin gede kredit yang lu salurin kan modal lu juga harus makin gede kan. He.
21:06
Speaker A
Nah, ee harus lihat si setiap sektor tapi beda kayak batu bara. Let's say misalnya komodi gitu yang enggak ada ekspansi buat hilirisasi apa, ya lu bagi 80 100% menurut gua wajar sih daripada duitnya di dalam perusahaan lebih baik
21:18
Speaker A
dibagi ke shareholder gitu. Jadi beda sektor ee treatmentnya beda-beda kalau menurut gua. Oke. Oke. Nah, ini kan buku 2022.
21:27
Speaker A
[tertawa] Iya. Terus lu kan ada ee di bab yang kees9 kan ada ilustrasi sederhana penerapan dividend investing sama contoh defending investing yang saya lakukan bab 9 dan 10 ini 2022.
21:42
Speaker A
Heeh. Dan di sini lu nyebut tiga saham nih. Iya. Which is ini bukan anjuran beli ya.
21:47
Speaker A
Ini gua baca doang nih. Karena gua pengin tahu thought prosesnya. He. Setelah 4 tahun.
21:52
Speaker A
Setelah 4 tahun. Iya. tahun ini di siapa tahu kan ada yang baca terus jadi ikutan beli kan kita kan enggak tahu juga kan.
21:58
Speaker A
I iya iya di sini ada lu nyebut BJTM which is lu pegang di pada tahun 202 lu nyebut SIDO lu nyebut Prodia PRDA.
22:07
Speaker A
Heeh. Nah, ada yang lu mau elaborasi enggak setelah 4 tahun. Setelah 4 tahun. Iya. Jadi mungkin kalau dilihat teman-teman BJTM kok harganya enggak enggak naik gitu ya. Terus juga Prodia. Nah, waktu itu kondisinya gua pegang itu. Tapi se gua tiap laporan
22:22
Speaker A
keuangan gua selalu review, Bang. Akhirnya ada yang di tengah perjalanan gua akan lepas. Contoh ya misalnya kita ngomongin kalau boleh ngomongin prodi laporan keuangannya kan turun profitnya.
22:29
Speaker A
Nah, di momen-momen kayak gitu untuk mencegah kegulung terus dan rugi makin gede misalnya harus dibikin apa sikap lah mau tetap dihold atau apa nih kita average down atau dilepas apa gimana gitu. Jadi oke dari semua itu yang semuanya gua lepas di tengah perjalanan.
22:45
Speaker A
Tapi ketika penurunan harga terjadi, masuk lagi. Kayak contoh BJTM waktu 2022 gua masih pegang tuh. Tapi ee setelah 2 tahunan gua akhirnya lepas BJTM, gua pindahin ke saham lain yang lebih potensial. Barulah di awal tahun ini gua mulai beli lagi BJTM.
23:01
Speaker A
Oke. Dia untuk dividend investing sebenarnya cukup cukup stabil ya. ya cukup stabil karena tahun ini mungkin ya mungkin yield-nya bisa 10% dulu kan mungkin masih 78% kan dia.
23:13
Speaker A
Jadi gua tetap lihat kondisi keuangan terbarunya lah performance perusahaannya gimana. Oke. Tiap quarter tuh lu tiap quarter gua selalu review tapi biasanya gua lihat setelah 1 tahun lah buat buat decide gitu.
23:25
Speaker A
Oke. Kalau Sido Sido case-nya kan dia juga waktu pandemi itu lagi kencang banget Bang Grut laba bersihnya. tiba-tiba ee 2022 dia masih tetap oke. Tapi 2023 kan ada penurunan ya kalau enggak salah atau dia udah terbatas growth-nya. 2024 akhirnya gua
23:40
Speaker A
lihat growth-nya udah terbatas gitu dilepas sahamnya gitu. Oke. Ee apa kalau ngelihat rati-ya juga mendekati 100% tuh jadi pertimbangan lu juga atau enggak?
23:50
Speaker A
Ee gua enggak terlalu lihat waktu itu. Cuman yang gua lihat itu laba bersihnya udah enggak terlalu signifikan pertumbuhannya. Dan waktu itu kan valuasi price earning-nya lumayan tinggi ya. waktu 2 tahun 3 tahun lalu tuh mungkin di 18 sampai 20 kan. Nah, ee begitu
24:03
Speaker A
growth-nya sudah staknan menurut gua valuasi setinggi itu agak agak kurang justifikasi lah. Maksudnya mahal tapi kok growth-nya kurang kencang nih gitu.
24:11
Speaker A
Itu consideration buat gua pindahin gitu dananya. Oke. Oke. Nah, cuman lu udah sempat dapat ee dividen dividen ya. Dapat gua pegang Sido tuh dari 2019 kalau enggak salah. Jadi sampai 2022 beberapa tahun nikmatin dividennya gitu.
24:25
Speaker A
H. Berarti artinya enggak buy and hold forever juga ya untuk saham-saham dividen ya kalau dalam kasus lo ya?
24:30
Speaker A
Iya tetap setiap tahun pasti gua review karena performance perusahaannya kan kadang lagi turun atau valuasinya udah terlampau mahal kalau growth-nya staknan tuh rentan ada penurunan harga saham yang dalam Bang itu untuk mencegah capital loss lah biar duit gua enggak
24:44
Speaker A
ketahan. Kalau katakan lu pegang sido terus dia naik sampai 40% 50% dengan perspektif dividend investing ee yang lu punya lu tetap akan lepas atau ya udah biarin aja gitu.
24:59
Speaker A
Dulu kalau bertahun-tahun yang lalu lah gua cenderung akan hold gitu kan. Cuman ketika gua ngelihat fluktuasi market 2 tahunan terakhir, kayaknya walaupun perusahaannya bagus, market Indo ini kan ya emerging market ya, rentan faktor eksternal. Itu satu yang bikin gua untuk
25:14
Speaker A
lebih antisipasi lah. Jangan sampai perusahaannya bagus tapi kena penurunan yang dalam kan sayang kapitalnya ketahan. Ee apa? Jadi kalau 40% gua akan lihat growth-nya di tahun itu berapa.
25:26
Speaker A
Oke, let's say misalnya dia naik 15% oke masih cukup bagus. Tapi begitu tahun berikutnya gua lihat di tengah perjalanan udah kayaknya berat nih buat naik 10 e 10% atau growth lebih tinggi lagi di situ gua akan mungkin consider buat lepas. Jadi naiknya udah
25:41
Speaker A
terlampau tinggi gua selalu bandingin sama berapa sih pertumbuhan laba yang terjadi di tahun itu gitu.
25:47
Speaker A
Oke. Pertumbuhan laba itu lu ngelihat dari IPS-nya atau ee net profit biasa gua lihat laba bersihnya.
25:53
Speaker A
Oke. Laba bersihnya. Iya. Eps juga bisa sih, Bang. Cuman kan kalau ada corporate action apa sound treasury nambah atau apa kan itu ngaruh ke EPS gitu.
26:00
Speaker A
I. Oke. Oke. Berarti ini udah outdated ya yang dibuku ini berarti untuk saham untuk pilihan saham untuk pilihan saham.
26:09
Speaker A
Lu ada rencana ee update ini kah? Tergantung mungkin gua usulin ke penerbit [tertawa] ya. Tapi buku gua yang ditulis tahun 2020 yang judulnya Happy Investor kalau Bang Radit sempat lihat itu lagi di-update dengan case yang lebih terkini gitu. Oke, berarti nanti ada
26:23
Speaker A
catatan-catatan yang lebih aktual. Iya, lebih aktual. Betul. Oke. Nah, em gimana kalau untuk dividen investing? Tapi pilihan saham-sahamnya apakah harus selalu blue chip atau second liner segala macam juga tetap bisa masuk?
26:38
Speaker A
Kalau menurut gua second liner juga bisa, Bang. Tergantung tadi kriteria utamanya kalau gua lihat growth perusahaannya selagi mau dia blue chip, mau dia second liner atau bahkan third liner ya mungkin yang enggak pernah kedengaran tapi laba bersihnya naik. itu
26:52
Speaker A
tetap potensial menurut gua karena labanya naik payout-nya stabil aja kan dividennya bisa lebih tinggi. Apalagi kalau payout-nya naik dividennya akan bertambah besar gitu.
27:00
Speaker A
Mungkin tergantung size juga kali ya. Kalau terlalu gede kan nanti enggak bisa keluar juga nanti.
27:05
Speaker A
Iya tergantung juga. Kalau duitnya gede susah juga gitu. Oke. Nah, ini ada beberapa pertanyaan dari YouTube member gua ee karena kan gua bilang iya mau ada lu datang nih bukunya ini. Ada yang mau nanya enggak gitu?
27:17
Speaker A
Ee gua bacain aja yang pertama dari Yoga Arsana. Ee ini member YouTube gua nih, si Yoga Arsana ini dia punya sertifikasi juga ee CTA kalau enggak salah dia. Dia nanya apakah ada apakah ada cara agar terhindar dari dividen trap?
27:37
Speaker A
Caranya tadi lihat dulu laba bersih dan growth perusahaannya. Karena oke dividen gede tapi 2 3 tahun enggak ada pertumbuhan laba bisa kena trap di situ sih. Capital capital gain hilang capitalnya ketahan kan gitu. Jadi tetap lihat growth perusahaan sih Bang
27:52
Speaker A
dan jangan beli pas mau bagi dividen kali ya. I pasti pasti pasti benar benar harganya biasanya naik sama cari yang murah Bang. Kalau sahamnya sudah terlampau murah mudah-mudahan dia enggak akan terlalu dalam turunnya. Tapi kalau sahamnya agak mahal ya, misalnya valuasinya udah
28:05
Speaker A
tinggi cenderung bisa kena trap gitu. Oke. Murah juga harus ditelusuri kenapa murah kali ya.
28:10
Speaker A
Betul harus dilihat. Oke. Terus dari Alex, kalau dividen dibelikan emiten yang bagi walau walaupun emiten tuh lagi turun, langkah tepat kah? Dia bilang maksudnya gimana nih? Kalau kalau dividennya dibeliin emiten yang bagi mungkin kita dapat dividen dibeliin emiten bagi
28:33
Speaker A
dividen juga walaupun emiten lagi turun langkah tepat kah kayak jawaban lo tadi kali ya iya tergantung kenapa turun dan lain-in dan intinya kalau kita sebagai investor yakin perusahaan ini bisa recover ya atau dia naik lagi ya lu beliin lagi.
28:47
Speaker A
Tapi kalau lu agak kurang yakin ya switch ke saham lain atau aset lain mungkin yang kayak contoh lu dapat dividen misalnya dibeliin emas atau apa diversifikasi juga kan jadi pintar-pintar aja di situasi dan kondisi pas saat itu terjadi gitu.
29:00
Speaker A
Lu ada satu emiten yang menurut lu ee pembelian terbaik hidup lo enggak? Ee ada beberapa pembelian terbaik.
29:10
Speaker A
Kalau gua bisa share mungkin di luar blue chip sih, Bang. Tapi kayak ini portofolio yang gua manage kayak ada yang di US apa Indo atau bebas.
29:19
Speaker A
Eh, boleh kalau US. Kalau US ya. Ini nih bukan ini ya, bukan saran membeli ya.
29:24
Speaker A
Satu Google. Oh iya sih. Lagi naik lagi tuh. Iya gua masuk 2025 yang gua cerita gua rebalancing cukup gede itu gua beli Google mungkin 140 150 kan kemarin sempat tembus sampai 320 kan ya itu 100% lebih. Terus TSM kalau yang di US,
29:43
Speaker A
Taiwan semiconductor gua lihat booming AI apa eh growth-nya bagus masuk ke sana mungkin average-nya di bawah 200 kan dia sempat udah sampai 300-an juga gitu.
29:53
Speaker A
Jadi capital Gnya cukup besar lah walaupun masih digulung. Kalau di Indo gua suka komoditas-komoditas kayak misalnya ee pernah dengar enggak DKFT?
30:02
Speaker A
DKFT enggak sih? Nah, Central Omega Resources ini enggak apa-apa ya sebut nama saham enggak apa-apa ni kita enggak menyaran ke orang ya. I dan dan tetap di K kan soalnya kan enggak ada yang tahu loh masuknya kapan anyway kan.
30:12
Speaker A
Iya. Nah, contoh kayak misalnya di DKFT itu dia emitted nikel ee apa nambang nikel waktu itu harga mungkin cuman 200 300 masuk pas dia sempat di titik tertinggi itu mungkin sampai 900-an.
30:26
Speaker A
Oke. Tapi kan average up tetap ya jadi kayak enggak langsung beli sekali terus tapi gua tetap nambah. At the end ya result-nya tetap lumayan capital gain-nya gitu. Ada juga di sawit misalnya TAPG Trip I kan sawit kalau lagi turun terus kita beli begitu
30:40
Speaker A
sawitnya booming lagi cukup besar juga kan keuntungan di situ. Berarti justru ee saham yang lu happy ini enggak necessary bagi dividen justru ya maksudnya bukan bukan dividenn yang utama berarti kan.
30:51
Speaker A
Iya dividennya itu bonusnya lah gitu. Kayak contoh di sawit TAPG kan dividennya tetap gede Bang lumayan bisa 89% lah kalau ee beberapa tahun terakhir gitu. Oke.
31:02
Speaker A
Kayak Google sama Taiwan semiconductor itu ee lu jadi konser enggak bahwa itu udah kemahalan? Karena kan Heeh.
31:09
Speaker A
banyak yang bilang lagi ada AI bubble juga kan. Pasti konsern, Bang. Cuman gua merasa apa ya e banyak yang bilang kemahalan, ada crash. Tapi kan enggak ada yang bisa prediksi. Gua cuman gua untuk memudahkan gua, gua berpatokan laporan tiap
31:21
Speaker A
kuartal. Kalau tiap kuartal gua lihat, oh ternyata sales-nya masih tumbuh nih, profitnya masih bertumbuh, gua masih punya keyakinan buat hold.
31:29
Speaker A
Tapi tetap di portofolio kan kita enggak semuanya all in, Bang. Tetap ada kita sisihin cash lah buat jaga-jaga gitu.
31:35
Speaker A
Jadi ee gua sih merasa selagi pertumbuhan labanya masih bagus, masih ada justifikasi lah buat kita pegang dulu gitu.
31:42
Speaker A
Hm. Meskipun dengan PI yang tinggi sekarang itu ada [berdehem] ekspektasi laba yang besar di masa depan.
31:47
Speaker A
Iya. Semua tergantung dia bisa hit ekspektasinya apa enggak kan. Ya betul. Karena kalau gua lihat walaupun pinya tinggi ya, contoh kayak waktu itu sempat e Taiwan itu mungkin 30-an, tapi dengan dia growth setahun itu bisa di atas 25%
32:01
Speaker A
30% PI-nya kan secara otomatis kalau sahamnya enggak naik dia langsung turun dari 30 mungkin ke 20-an sekian gitu.
32:08
Speaker A
Jadi tetap menurut gua masih wajar gitu. lu akan expect eh AI ini makin bisa deliver result-nya berarti ya untuk saat ini ya karena lu masih hold kan nih masih hold untuk paling enggak setahun 2 tahun ke depan gua masih cukup yakin sih
32:22
Speaker A
karena gua gampangnya gini Bang gua ngelihat eh emiten-emiten gedenya ya gitu kayak Google Microsoft dia kan budget spending KEX-nya itu gede tuh nah gua berpikir aliran uangnya itu kalau itu ngalir ke mana sih dia bangun data center kan at the end si TSM juga
32:36
Speaker A
yang akan ngerjain chipnya gitu kan di Taiwan jadi gua ngelihat guidance dari Kak apex-nya mereka aja. Mudah-mudahan result-nya deliver di situ, gitu. Jadi, gua benar-benar nekunin sih di dalam sektor industrinya itu supaya punya gambaranlah kira-kira apa yang terjadi setahun, du
32:51
Speaker A
tahun ke depan gitu. Karena perusahaan-perusahaan itu saling feeding satu sama lain ya pada akhirnya ya.
32:55
Speaker A
Saling. Betul. Tapi Google juga kan kemarin ngeluarin obligasi 100 tahun ya. Iya, 100 tahun.
33:00
Speaker A
Gila juga ya. Iya, gila juga. [tertawa] Lumayan ini ya mereka ya lumayan agresif ya berarti ya.
33:05
Speaker A
Iya. Nah, sama Google Bang. Gua, gua tuh punya pandangan valuasi PIE-nya yang sekarang ya, let's say ee 20-an lebih itu, itu kan dilihat dari laba sekarang.
33:14
Speaker A
Nah, kalau kita lihat kontribusi laba Google yang gede sekarang itu kan mostly dari advertising kan.
33:19
Speaker A
Jadi, potensial ee profit dari AI-nya itu mungkin belum kerefleksi sekarang. Tapi kan ibaratnya menurut gua masih dari bisnis konvensional ini ya, dari iklan ee Google Cloud juga growing kan. Jadi gua ngelihat valuasi sekarang oh dari result yang kemarin. Nah 2 3 tahun 4 tahun ke
33:36
Speaker A
depan apa yang terjadi kan tetap bisa kita review nanti. Itu yang bikin gua masih yakin buat nge-hold.
33:41
Speaker A
Artinya ekspektasi lu ada revenue stream baru dari AI yang which is consumer yang bayar.
33:47
Speaker A
Iya itu satu. Kedua, AI ini akan supporting bisnis-bisnis eh apa revenue source yang sudah ada. Kalau misalnya dengan adanya AI dia bisa satu efisien ya, kedua eh em ads-nya Google revenue-nya makin tinggi atau YouTube revenue-nya makin tinggi kan akan naikin
34:03
Speaker A
top line dia juga gitu. Hm. Kenapa lu enggak ke ETF SNP aja? Karena kan ee tujuh perusahaan gede kan yang mendominasi ETF-nya kan.
34:13
Speaker A
Iya. Karena gua sebenarnya tipe investor yang cenderung suka fokus, Bang. Jadi kayak di Porto US gua tuh cuma tiga saham Google, TSM, Nvidia gitu ya. Lalah pas kalau buat trading gua beli yang lain-lain, tapi buat invest gua benar-benar cuman fokus. Nah, kalau
34:26
Speaker A
ITF kan kepencar tuh. Heeh. Ya, buat modalnya biar lebih apa ya terfokus ya gua masukin di sedikit saham gitu. [mendengus] Oh, benar-benar incer dari emiternya itu growth-nya seberapa.
34:37
Speaker A
Karena lu conviction lu udah sebulet itu ya. Iya. Iya. Karena kalau gua masuk satu saham sudah harus yakin. Kalau enggak ragu-ragu nanti di tengahnya gitu.
34:44
Speaker A
Iya. Iya. Iya. Oke, dari Morveus, bagaimana cara menentukan harga wajar suatu saham dengan dividen per saham tinggi dengan DPS-nya tinggi?
34:54
Speaker A
DPS tinggi mungkin DPS-nya tinggi terus harga wajarnya berapa? Dia mau nanya, "Karena saya takut terjebak membeli saham dengan harga premium yang mahal." Heeh.
35:02
Speaker A
Sering banget dividen yial terlihat tinggi padahal harga sahamnya emang lagi turun. Bahkan ada perusahaan melakukan buyback saham supaya DPS-nya terlihat naik. Padahal mungkin kinerja bisnisnya stak. Nah, menurut lu gimana?
35:14
Speaker A
Menurut gua ee sebelum masuk pasti kita compare dulu valuasinya mahal murah atau wajar. Ee perbandingan antar sektor.
35:20
Speaker A
Jadi kalau misalnya lu masuk ke saham banking pernya katakanlah ee tinggi banget waktu itu misalnya 1415 kali.
35:27
Speaker A
Kita coba compare sama sesama saham bank atau enggak kalau perlu [berdehem] yang di luar negeri kayak gimana sih di US gimana? Di negara-negara lain gimana.
35:35
Speaker A
Nah kalau emang kita masuk pas lagi agak mahal ya itu warning sebenarnya di awal gitu. Eh, jadi tetap lihat dulu valuasi sahamnya sih sebelum masuk. Kalau misalnya terlalu mahal ya tadi akan kena trap-nya dividen bisa juga.
35:49
Speaker A
Sama lihat growth-nya lagi sih. Eh, kan kalau menurut gua ya buy back apa itu kan corporate action buat ngejagain lah.
35:56
Speaker A
Tapi kan at the end lu bisa naikin sales berapa, profit lu berapa gitu. Itu yang paling heu.
36:02
Speaker A
Oke. Terus dari bubur ayam, kenapa banyak yang prefer investasi jangka panjang di emiten yang kemungkinan capital gain bisa naik? ketimbang di emiten yang secara historis sudah pasti kasih dividen tiap tahunnya.
36:16
Speaker A
Mungkin maksudnya adalah kenapa kok banyak investor di Indonesia yang beli saham dengan harapan capital game naik padahal dia enggak bagi dividen kali gitu maksudnya ya. Heeh.
36:26
Speaker A
Ketimbang yang udah rutin ngasih gitu. Iya. Mungkin karena manusiawi. Manusiawi ya. Preferensi [tertawa] orang pengin dapat mungkin karena memang ya orang emang pengin kelihatan langsung gede aja kali ya.
36:36
Speaker A
Iya. kayak pengin di Porto tuh langsung hijau gitu, langsung naik gede signifikan kan. G kalau dividen kan proses tunggu dulu setahun gitu kan atau berapa bulan buat dia bagi dividen. Kebanyakan orang proses nunggunya itu yang PR kadang agak
36:50
Speaker A
Iya sih tapi semenjak gua lebih coba fokus ke dividen investing tuh kenaikan harga saham naik dan turun itu enggak jadi terlalu ee memusingkan lagi sih kalau menurut gua ya.
37:02
Speaker A
Iya. Dan buat gua yang kerjaannya di luar ini semua, di luar saham, malah lebih ringan buat gua untuk nyusun portonya sih kalau kalau buat gua pribadi.
37:11
Speaker A
Betul. Iya. Karena kan ada uang tunggunya juga gitu. Iya benar. Cuma lagi-lagi harus hati-hati ya.
37:16
Speaker A
Hati-hati kita tetap baca laporan keuangan tiap quarter juga sih. Oke dari Yudi Mahendra Brah cara filter sahamnya apakah pakai standar dividen yield dalam kurung dividen yield di atas 10% nyarinya susah benar.
37:34
Speaker A
Ee dua pertimbangan untuk ngejual saham tersebut. Ketiga, DCA aja atau punya target harga karena perhitungan dividen yield kan dengan harga saham juga. ya.
37:44
Speaker A
He. Oke. Itu gimana nih? Yang pertama filter sahamnya tadi sudah dijelasin sih dari lu ya di buku ini juga dijelasin ya jelasin. Betul.
37:53
Speaker A
Dari valuasinya dulu, fundamentalnya dulu. Ee cuma pertanyaan dia lebih ke bisa enggak filternya pakai dividen yield?
38:00
Speaker A
Kan kalau di aplikasi itu suka ada tuh betul kalau mau filter. Betul. Filter awal bisa, Bang. Tapi ee takutnya dia tahun itu bagi dividen gede, besok-besok eh tahun berikutnya enggak enggak gede gitu kan. Jadi itu filter awal doang bisa cari yang dividen
38:13
Speaker A
yieldnya tinggi gitu. Tapi gua biasanya enggak mulai dari dividen yield, gua cenderung dari growth dulu biasanya atau enggak dari valuasi. Gua cari yang udah benar-benar murah nih buat kan tadi bicaranya pengin yang hijau kan yang capital gain. Nah, cari yang bagus tapi
38:25
Speaker A
yang lagi murah banget. Jadi gua screening awalnya itu justru dari valuasi dulu mana yang murah-murah yang bagus baru berikutnya gua lihat ada dividennya enggak. Jadi prosesnya tuh tetap ngelihat mana yang murah dulu nih yang bagus dan murah baru dividen.
38:38
Speaker A
Takutnya dividennya oke tapi fundamentalnya kurang bagus atau bisnisnya lagi per ee lagi perform tapi tahu-tahu anjlok gitu kan. Jadi tetap bagus dan murah dulu gua screening awalnya.
38:47
Speaker A
Oke. Dan itu selalu lu bandingin sama PIR kah untuk valuasinya? Iya pasti pasti bandingin sama PIR.
38:52
Speaker A
Ee ee kalau dia di atas harga rata-rata eh dia di atas per rata-rata masih tetap masuk dengan catatan khususkah atau enggak sama sekali? Justru bisa jadi masuk asal gua benar-benar yakin sama si perusahaan dan kenapa dia lebih mahal. Jadi kayak benar-benar kita
39:07
Speaker A
gali dia diferensiasinya dengan perusahaan lain tuh apa sih? Kayak contoh di batu bara misalnya, oh yang emiten ini ee marketnya misalnya dominan ekspor, yang ini lokal, terus eh tipical produknya misalnya gitu. Jadi benar-benar digali apa yang bikin dia
39:21
Speaker A
beda sama pi-nya gitu. Kalau emang itu semua bagus ya mahalan dikit enggak apa-apa sih asal masih masuk ya di valuasi kita gitu.
39:29
Speaker A
Oke. Nah, yang kedua, pertimbangan untuk jual saham tersebut. Kapan sebuah saham dividen tuh dijual?
39:36
Speaker A
Eh, tadi ya, tadi lu sempat jawab juga sih ya, ada beberapa pertimbangan untuk ngejualnya ya. Kayak kayak misalnya kayak tadi yang saham pegangan lu ya pas lulis akhirnya jual juga.
39:49
Speaker A
Oke. Yang ketiga mending dca atau punya target harga kapan masuk? Ee kalau gua pribadi menilai tetap ee ada acuan harga dulu, Bang. Karena kalau di di CA kayak misalnya lu udah suka nih sama satu saham misalnya saham banking
40:02
Speaker A
apa gitu ya. Wah, pas lagi tinggi misalnya BRI misalnya di atas 6.000 lu DCA DCA terus lama-lama lu bisa nyangkut. Tapi once dia udah drop lumayan dalam nih kayak kondisi sekarang 3.300 di bawah 4.000 lah di situ gua
40:15
Speaker A
tanda kutip merem sih buat tutup serok gitu. Tapi once dia udah balik nih misalnya 4.500 5.000 ya kita consider lagi di kondisi saat itu gitu. tetap lihat sih acuan di momen itu. Karena kalau DCA terus ee average lu bisa
40:28
Speaker A
lumayan tinggi gitu ya. DCA pun juga harus lihat harganya. Betul. Lihat harga. Ee oke. Nah, terakhir nih buat Outlook ee kan Q1 udah lewat nih.
40:38
Speaker A
Heeh. Q2 ke belakang untuk market Indonesia menurut lu gimana? Em pandangan pribadi ya, Bang. Gua merasa masih belum belum kembali seperti 2 tahunan yang lalu sih mungkin karena enggak cuman dari murni fundamental emitent Bang, tapi juga ada persepsi ee dari investor
40:57
Speaker A
asing ya. Karena kan sebenarnya kalau kita lihat ya kayak saham banking blue chip kan banyak turun karena dilepas investor asing. Jadi mungkin mereka masih punya persepsi yang kurang bagus atau ada koncern gitu kan ke indeks kita atau ke emiten-emiten kita. Nah, kalau
41:11
Speaker A
masalah persepsi ini belum diberesin ee trustnya belum dapat lagi, mungkin mereka kan akan wait andc aja atau mereka mulai buang tipis-tipis lagi ya masih akan terjadi seperti ini, gitu.
41:22
Speaker A
Tapi begitu confidence-nya balik paling gampang sih gua tuh biasa tiap minggu ngelihatin e inflow outflow, Bang. Jadi, gua lihatin tuh net foreensal, net foreign buy berapa.
41:30
Speaker A
Dengan setiap minggu gua lihatin gua tuh udah gua bisa melihat tanda-tanda kapan confidence-nya mulai muncul lagi, kapan capitalnya mulai masuk lagi. Nah, kalau momen itu belum terjadi, masih terjadi outflow terus. kayaknya masih agak berat sih buat berharap ada kenaikan di
41:43
Speaker A
saham-saham terutama yang blue chip gitu meskipun Mei nanti kita tetap di emerging. Iya, tapi lagi-lagi ya gua harus lihat nanti tiap di momen itu seperti apa.
41:53
Speaker A
Hm. Karena ee yang gua khawatirin kalau ada downgrade rating itu kan itu efeknya gila sih. Itu sih ngeri [tertawa] sih.
42:01
Speaker A
Jadi mau lu perusahaan kayak gimana. Mudah-mudahan enggak sih ya. Mudah-mudahan enggak ya. kayaknya sih enggak sih [tertawa] kayaknya enggaknya langsung hening gitu kayaknya enggak sih mudah-mudahan sih ya sih itu bisa outflow-nya gila si gila-gilaan sih ok berarti kalau Portolo sekarang kayak
42:18
Speaker A
gimana nih komposisinya ee lu ada RDPU RDP kah? Enggak. Gua kalau duit-duit nganggur itu either taruh di RDN atau ya ada jugalah beli kayak SBN gitu kan. Tapi buat buat karena kan gua udah marit berkeluarga kan tetap butuh pegangan lah ya. Jadi
42:34
Speaker A
buat tabungan yang aman-aman aja lah gitu. Kalau gua taruh saham semua tiba-tiba crash semua kan. Pas kapan ada butuh ya susah juga.
42:41
Speaker A
Komposisinya berapa buat cash atau setara cash-nya? cash atau star tuh biasa gua jaga 10 sampai 15% lah.
42:47
Speaker A
Oke. Cuman kalau lagi kayak lagi perang misalnya kayak gini berusaha selain gua income gua sisihin ada yang mungkin gua rilise dikit gua tambahin lagi sampai 20% mungkin tapi biasa 10 15 lah.
42:58
Speaker A
Oke. Lainnya sisanya emas. Emas ada tapi buat nabung-nabung aja sih. Bukan yang benar-benar kejar return gitu.
43:05
Speaker A
Ee fisik berarti. Iya fisik. Ee sisanya saham Indo saham US-nya persenannya dari total per tuh.
43:11
Speaker A
Heeh. Mungkin ya kalau di tootal itu bisa 80% ada sih 80% di dari seluruh nilai portofolionya eh indo US-nya.
43:20
Speaker A
Oh sori. Maksudnya pembagiannya gua separuh-separuh Indo separuh US separuh gitu. Separuh. Wow. Dan di saham US saham tiga. Kalau di Indo sahamnya berapa?
43:29
Speaker A
Di Indo di yang gua pegang itu di banking ee cukup dominan di BCRI. Sama gua sempat ada keluar masuk juga ee kayak di apa batu bara sempat masuk tapi keluar lagi lebih ke trading. Nah. Hm.
43:42
Speaker A
Yang lagi gua lihatin banget sekarang tuh di properti sih, Bang. Oke. Sama-sama sektor properti karena murah dan begitu ekonomi balik ini ya atau suka bunga turun mudah-mudahannya gitu. Tapi gua cenderung lihatnya di rotasi sektoral kan kadang fan-fan itu kan punya pilihannya
43:58
Speaker A
lah di tahun ini mainnya apa. Nah, once momen property datang dengan valuasi yang udah lumayan murah kena capital masuk ke situ kan langsung ngangkat sahamnya. Tapi milih yang bagus sih di properti.
44:09
Speaker A
Hm. Eh, kan lu bilang lu juga manage sebuah fund. Bukan fun sih, lebih kayak jadi gua tuh kerja di finance perusahaan ee gua di bagian treasury-nya. Jadi kan ada capital-capital yang nganggur lah.
44:22
Speaker A
Nah, itu gua putar di saham gitu. Bukan bukan gua ngelola reksadana, enggak. Jadi kayak internalnya perusahaan lah gitu.
44:28
Speaker A
Oke. Jadi artinya uang nganggur perusahaan lu yang investasikan. Iya. Karena ee gua kan kerja sama sama ownernya, kebetulan kenal dan gua sempat kerja bareng.
44:40
Speaker A
Ee jadi gua dimintalah untuk manage ee capital-kapital perusahaan lah yang uang enggak kepakainya lah gitu. Daripada ditaruh di deposito atau SBN kan kalau ada yang ditaruh di saham buat beberapa tahun kan lumayan result-nya gitu.
44:52
Speaker A
Mm berarti lu deploy ke saham full kah dana perusahaan ini atau ada obligasinya juga?
44:58
Speaker A
Ada obligasinya tapi mostly sama tetap di karena kebetulan ownernya ini ee dia satu visi lah ya. cukup yakin di stock market itu bisa kenaikannya bisa bagus signifikan dan sama dipecah juga ada di Indo, ada di US, ada yang buat
45:10
Speaker A
trading ee bahkan ada juga di market-market luar gitu. Jadi enggak enggak hanya US Indo sih market luar tuh contohnya ee ini enggak apa-apa dibahas di podcast ee enggak apa-apa sih ada yang enggak maksudnya ee di luar dua pasar
45:24
Speaker A
itulah misalnya kayak contoh di stock market Dubai atau stock market mana karena kan ada akses ya ke situ gitu.
45:29
Speaker A
Hm. Berarti untuk ee kan beda banget ya ketika AUM yang lu pegang itu gede banget dibandingin mungkin katakanlah dana pribadi ya. Berarti pilihan sahamnya juga terbatas kah kalau mengelola dana institusi sebesar itu?
45:43
Speaker A
Em pilihannya otomatis dengan dana yang lebih besar kan bisa lebih banyak yang kita pilih ya Bang.
45:48
Speaker A
He. Ee tapi kriteria pemiluan sama sih mostly sama karena teknologi juga yang bagus, banking juga yang oke buat dividen. Sama yang second liner yang ada potensial growth tadi tetap masih bisa masuk berarti. Kayak tadi gua nemu DKFT APG itu kan karena
46:02
Speaker A
gua mengelola uang yang lebih besar lah. Jadi ada leluasal lah buat masuk-masuk ke emiten kayak gitu dan ternyata dapatnya lumayan di situ. Ada ekspektasi enggak dari perusahaan kayak wah return-nya sekian setahun gitu?
46:15
Speaker A
Per tahun sih enggak sih, Bang. Cuman kan kita review ya setelah berapa tahun kayak kenaikan di US stock market berapa, di Indo berapa. Ee sejauh ini oke sih. Jadi yang karena kan masuknya tuh udah dari beberapa tahun lalu, Bang.
46:25
Speaker A
Begitu rally di US ya saat ini walaupun ada koreksi-koreksi kita masih tetap posisi hijau sih ininya keuntungannya.
46:32
Speaker A
Artinya lo di kinerja lo dibandingkan sama benchmarknya kali di situnya ya. Iya betul. He dibandingin [berdehem] sama market lah biasanya.
46:38
Speaker A
Oke. Wow seru banget obrolan hari ini. Kalau misalnya ada yang mau tahu lebih banyak soal lu bisa ke mana?
46:45
Speaker A
Bisa nonton YouTube Kanala ID atau TikTok Kanala ID atau ke Instagram juga bisa sih, Bang.
46:51
Speaker A
Oke. Di Instagram lu di Kanal ID juga. Kanal ID juga. I. Thank you. Terima kasih sudah mampir ke sini. Terima kasih semuanya.
Topics:dividend investinginvestasi dividenRaditya Dikainvestasi sahamstrategi investasidivideninvestasi jangka panjangpemula investasifundamental sahampasar modal Indonesia

Answers

Frequently Asked Questions

Apa itu dividend investing menurut video ini?

Dividend investing adalah strategi investasi yang fokus pada pendapatan dividen yang diterima dari saham dan diinvestasikan kembali untuk menggulung nilai investasi dan mendapatkan return lebih besar.

Mengapa Raditya Dika memilih strategi dividend investing?

Raditya memilih dividend investing karena cocok untuk investasi jangka panjang dengan modal terbatas dan memberikan passive income yang stabil serta potensi capital gain.

Bagaimana cara memilih saham untuk dividend investing menurut video ini?

Cara memilih saham dimulai dengan mengenali perusahaan yang produknya dikenal, kemudian melakukan analisis fundamental dan valuasi untuk memastikan saham tersebut layak dan memiliki potensi dividen yang baik.

Get More with the Söz AI App

Transcribe recordings, audio files, and YouTube videos — with AI summaries, speaker detection, and unlimited transcriptions.

Or transcribe another YouTube video here →