Ngaji filsafat MJS membahas moral fatigue (kelelahan moral): kondisi lelah mempertahankan perilaku baik akibat tekanan, ketidakadilan, dan minimnya penghargaan atas kejujuran.
Key Takeaways
- Moral fatigue adalah kelelahan dalam mempertahankan kebaikan, bukan berarti tidak lagi tahu mana yang benar.
- Kelelahan moral dapat dipicu oleh ketidakadilan struktural, pengorbanan tanpa penghargaan, dan paparan penderitaan yang terus-menerus.
- Kebaikan yang berkelanjutan memerlukan batas realistis, waktu istirahat, dan fokus pada hal yang berada dalam kendali kita.
- Introspeksi diri (muhasabah) perlu dilakukan dengan seimbang, tanpa menyalahkan diri secara berlebihan.
What the video covers
- Moral fatigue didefinisikan sebagai kelelahan dalam mempertahankan perilaku moral karena terus-menerus menghadapi tuntutan untuk berbuat benar di tengah godaan dan situasi yang menguras komitmen.
- Contoh konkret: orang yang selalu mengalah, memaafkan, dan berkorban namun justru dimanfaatkan; orang jujur yang kalah dibanding yang curang.
- Paparan berita kejahatan, korupsi, dan penderitaan secara terus-menerus dapat menyebabkan mati rasa moral dan hilangnya kepekaan.
- Konsep moral distress dari Andrew Jameton: mengetahui tindakan yang benar namun terpaksa tidak menjalankannya karena tekanan institusi atau situasi.
- Compassion fatigue menjadi bagian dari moral fatigue ketika kita terus terpapar penderitaan orang lain hingga terasa biasa.
- Idealisme berlebihan (target terlalu besar, tidak mengukur diri, tidak memberi ruang istirahat dan kegembiraan) membuat kebaikan terasa melelahkan.
- Kelelahan moral berdampak pada menurunnya empati, sinisme terhadap nilai dan tokoh, serta normalisasi penyimpangan di masyarakat.
- Perspektif filosofis dibahas, termasuk pandangan Hannah Arendt yang menilai banyak moral fatigue bersifat struktural.
- Solusi yang ditawarkan: memisahkan beban dalam kendali dan di luar kendali (circle of control dan circle of concern), menjaga istirahat, serta membangun komunitas dan simbol harapan.
- Pesan akhir: muhasabah (introspeksi) penting, namun bukan untuk menyalahkan diri sendiri secara berlebihan, dan kebaikan sebaiknya dijalankan dengan ikhlas karena Allah.
Chapters
- 00:00Pembukaan dan Pengantar Moral Fatigue
- 04:58Contoh-Contoh Kelelahan Moral dalam Kehidupan Sehari-hari
- 10:17Macam-Macam Kelelahan Moral dan Moral Distress
- 19:49Compassion Fatigue dan Idealisme Berlebihan
- 33:29Dampak Kelelahan Moral pada Individu dan Masyarakat
- 58:00Perspektif Filosofis: Arendt dan Lainnya
- 80:08Cara Mengatasi dan Menjaga Kebaikan Tetap Berkelanjutan
- 102:00Muhasabah, Ikhlas, dan Penutup
Full Transcript — Download SRT & Markdown
Speaker A
[musik] [musik] [musik] [musik] Baik bismillah. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil alamin. Assalatu wassalamu ala asyrofil anbiya wal mursalin, sayyidina wa maulana Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi wa man tabi'ahum bi ihsanin ila yaumiddin.
Speaker A
Amma ba'd. Bismillah mari kita lanjutkan lagi ngaji kita, belajar kita. [menghela napas] Malam hari ini kita ada di sesi ketiga dari paradoks moral.
Speaker A
Malam ini kita akan membahas tentang moral fatik, kelelahan moral. Nih, saya ndak tahu tiba-tiba saya pengin membahas ini karena mungkin banyak di antara kita yang sudah lelah jadi orang baik.
Speaker A
Sejak dulu jadi orang baik, kok ndak sukses-sukses. Kok kalah terus sama yang ndak baik-baik.
Speaker A
Oke, ya. Malam ini kita bahas untuk bahan kita muhasabah. Apa salah kalau kita lelah?
Speaker A
Atau tidak salah? Nanti kita lihat, ya. Apalagi di situasi hari ini. Inti se-ekonomi. Inti ya.
Speaker A
Situasi mau, ya. Apalagi situasi banyak saudara-saudara kita yang sedang sulit hidupnya. Ada yang kena asap, ada yang ngantri BBM, ada yang keracunan MBG, ada yang macam-macam, ya.
Speaker A
Ah, ternyata berat jadi orang baik. Mungkin begitu. Ya, kita belajar sebentar. Apa itu moral fatik? Apa itu kelelahan moral?
Speaker A
Dulu kita pernah membahas Biang Culhan [mendengus] dengan Burnout Society-nya. Oke. Kalau di Biang Culhan mungkin pertarungannya dengan arena sosial, arena budaya, arena politik.
Speaker A
Malam ini pertarungan itu ada dalam diri kita sendiri. Kelelahan itu masuk secara dalam-dalam psikis kita.
Speaker A
Kita awali definisi. Apa sih moral fatik itu? Moral fatik adalah kondisi ketika seseorang mengalami kelelahan dalam mempertahankan perilaku moral.
Speaker A
Jadi, lelah mempertahankan perilaku moral karena terus-menerus menghadapi tuntutan untuk melakukan hal yang benar. Sambil menahan godaan, memperjuangkan kebaikan, dan berhadapan dengan situasi yang menguras komitmen moralnya.
Speaker A
Ya, intinya lelah saat berusaha menjadi orang baik. Nah, kalau definisinya seperti itu, berarti moral fatik ini bukan orang yang ndak mau lagi melakukan kebaikan atau sudah ndak peduli dengan kebaikan.
Speaker A
Orang ini masih tahu mana benar, mana salah, mana baik, mana buruk. Tapi, mulai merasa berat untuk melakukannya.
Speaker A
Kemarin masih semangat berjuang, nah, menegakkan yang benar, kemudian menaklukan yang salah, tapi kok lama-lama jadi tambah berat.
Speaker A
Nah, ini yang disebut moral fatik. Contohnya ya, biar lebih gampang. Misalnya, ada orang yang selalu pengin jadi orang baik, memahami, memaafkan, menjaga perasaan, tapi kok yang dipahami, yang dimaafkan, yang dijaga perasaannya, malah dadi malah nyebeli malah kok malah dimanfaatkan. Kita terus, nek
Speaker A
cara Jawanya, kita dijarak. [mendengus] Tenang saja, kalau sama teman yang satu ini, nanti dimaafkan sudah ya, tenang saja. Kita dimanipulasi.
Speaker A
Kalau ada yang susah-susah kita yang harus berkorban, kita yang harus ngalah, kita yang harus memaafkan. Lama-lama kita sadar terus, lha kok aku terus yang kalah.
Speaker A
Lha kok aku terus yang harus memaklumi. Lha kok mereka enak terus, sementara saya bagian ndak enaknya.
Speaker A
Nah, ini mungkin ikut ngaji terus, "Tolong dong ambilin minum." Diambilin minum. "Aku duduk di tempatmu ya, kamu kan kuat." Aku terus, "Lha kok aku kalah terus ini lama-lama." Nah, kamu jengkel.
Speaker A
Minggu pertama oke, minggu kedua masih maklum, minggu ketiga agak berjuang, minggu keempat [menghela napas] sudah habis energi baikmu.
Speaker A
Nah, itu contoh pertama. Atau kalian yang ingin jujur, ingin adil, ingin tidak curang, tapi kok kalah terus.
Speaker A
"Nilai saya jelek terus ya Pak, padahal saya jujur. Teman saya yang curang, yang nyontek yang absennya palsu, yang apa, nilainya bagus." Terus kamu merasa, "Oh berarti kejujuran di sini ndak dihargai." Kamu sudah merasa begitu, "Lha ngapain kemarin saya jujur
Speaker A
kalau efeknya sepahit ini." Nah, ini mulai yang kita sebut moral fatik. Atau saking seringnya kita dengar berita jelek, kita dengar tentang penderitaan, kecurangan, korupsi dan lain sebagainya lama-lama kita ndak peka lagi.
Speaker A
Dulu kita dengar berita OTT KPK, wah kita kaget luar biasa. Wah, ada ya seru ini. Terus kamu gitu.
Speaker A
Kamu dengar berita pejabat ditangkap itu kan kamu hype luar biasa, viral se-Indonesia. Lama-lama kamu dengar berita OTT KPK, lah Pak biasa, Pak.
Speaker A
Ya sudah, ndak kaget lagi. Mungkin baru kaget kalau eh ternyata tetangga saya, eh ternyata teman saya, eh mungkin baru itu. Tapi kalau yang normal-normal, alah Pak biasa berita kayak gitu sejak puluhan tahun lalu sudah.
Speaker A
Ini mulai yang disebut moral fatik. Jadi tiap hari kamu terpapar berita kemiskinan perang korupsi penderitaan, lama-lama mati rasa.
Speaker A
Ndak ada rasanya. Oke. Kemarin ada berita keracunan, sebelumnya keracunan lagi, sebelumnya keracunan lagi. Sekarang berita keracunan itu biasa.
Speaker A
Bagi kamu ndak menarik lagi. Itu yang disebut mulai mati rasa. Jadi tiga contoh ini semoga membuat kita sadar yang disebut moral fatik.
Speaker A
Kelelahan moral. Ya ini contoh simpel saja ya, Bu. Setiap peristiwa kalian masing-masing mungkin beda-beda.
Speaker A
Kelelahanmu, tapi polanya ya sejenis ini. Jadi moral fatik itu ya kalau pakai quotes ya, orang itu biasanya tidak selalu meninggalkan kebaikan karena tidak tahu mana yang baik, terkadang orang itu menjauh dari kebaikan karena terlalu lelah menghadapi harga yang harus dibayarnya.
Speaker A
Saya baik kok malah korban banyak. Saya baik kok malah dapat pahitnya terus. Aku baik kok malah dapat sengsaranya.
Speaker A
Lama-lama orang lelah dengan kebaikan, enggak percaya lagi dengan kebaikan. Ini yang disebut moral fatigue.
Speaker A
Oke. Ah, kalau ini macam-macamnya. Apa saja macam-macamnya? Cuma ini teori ya. Kalau ini untuk teman-teman mahasiswa.
Speaker A
Pak, di buku apa, tokoh apa, Pak, ada uraian sejenis moral fatigue ini? Ya, kalau tokoh [menghela napas] kalian boleh cari beberapa tokoh yang saya sebut di sini ya. Teorinya, isinya moral fatigue ini dengan variasinya.
Speaker A
Yang pertama, kalian bisa ngambil Andrew Jameton. Konsepnya dia, istilahnya adalah moral distress. Moral distress itu tekanan moral.
Speaker A
Tekanan moral itu kalau di Jameton, [mendengus] orang tahu bahwa ini yang benar secara moral, tapi enggak bisa aku menjalankannya.
Speaker A
Mungkin karena alasan institusi, karena alasan situasi, karena alasan aturan yang sudah diperlakukan. Jadi, terus kita akhirnya tertekan.
Speaker A
Mas, kalau di sini ngelamar kerja yo harus punya orang dalam, misalnya. Lho, kamu tahu bahwa yang semacam itu ndak boleh. Kamu harus mempertahankan moralmu, harus jujur.
Speaker A
Sehingga melakukan itu kamu berat. Terus kamu tertekan. Karena di sini harus punya orang dalam atau yo pakai uang, misalnya. Terus kamu kamu melakukan itu biar bisa diterima, tapi kamu tertekan.
Speaker A
Sering-sering kamu tertekan, itu nanti disebut moral distress. Kamu terpaksa melakukan hal buruk terus-menerus karena apa? Karena situasi.
Speaker A
Kamu mau menghindar ndak bisa. Oke ya. Jadi, ini yang disebut moral dilema. Yo, kalian tahu sendiri ya. Di banyak momen kalian itu ndak bisa ini saya hindari.
Speaker A
Mau ndak mau ayo harus saya lakukan. Yang lain juga begitu. Atau aturannya begitu. Atau biasanya begitu.
Speaker A
Wajar, Pak, di sini kalau ada pilihan kepala desa, misalnya, ya bagi-bagi duit Pak. Terima saja lah, Pak, daripada ruwet itu.
Speaker A
Mau ndak saya terima gimana? Tak terima itu sesuatu yang salah. Ini ini dilematis. Tapi nanti kalau saya ndak nerimo, misalnya, tetangga-tetangga nganggap saya sombonglah, nganggap saya soklah, nganggap saya Akhirnya terpaksa saya terima, tapi sambil saya tertekan.
Speaker A
Ini yang disebut moral distress. Oke ya. Baik. Apalagi mungkin kalian ya. Situasi ketika kamu berhadapan dengan kekuasaan, misalnya orang yang kamu cintai atau orang yang kamu hormati atau orang yang posisinya lebih tinggi darimu.
Speaker A
Yang dia menginginkanmu berbuat buruk. Wah, itu berat. Misalnya dosenmu bilang, "Alah sudahlah kamu nyontek saja, aku pura-pura ndak tahu." Sebagai dosen misalnya lain. Itu kan dilema kamu.
Speaker A
Mau nyontek padahal tahu itu jelek, mau ndak nyontek kok ya eman-eman dikasih kesempatan. Kamu tertekan akhirnya.
Speaker A
Ini yang disebut moral distress. Terus-terusan tertekan, ya hasilnya moral fatigue, kamu kelelahan. Secara moral.
Speaker A
Terus teorinya Figley, Charles Figley. Dia punya konsep namanya compassion fatigue. Compassion itu kita sebut saja rasa yang lelah.
Speaker A
Kasih sayang yang lelah. Kenapa compassion fatigue ini bagian dari moral fatigue? Karena kelelahan terjadi ketika terus-menerus terpapar penderitaan orang, sementara kita ingin bantu mereka, lama-lama rasanya biasa.
Speaker A
Ya ya, mungkin kayak kalian yang tiap hari misalnya sering lihat kecelakaan, lama-lama kecelakaan itu biasa.
Speaker A
Kalian misalnya dulu tidak di Jogja sih, di kampung. Di kampung itu cowok sama cewek jalan berdua lewat tengah kampung bisa jadi berita nasional di kampung itu.
Speaker A
Ramai orang sak kampung. Tapi di Jogja ini situasinya berbeda. Tiap hari kamu lihat anak yang mojoklah, anak yang check in lah, anak yang terus lama-lama kamu ndak getar lagi lihat begitu.
Speaker A
Ah, biasa Pak gitu. Nah, mulai. Jadi ini compassion fatigue. Mungkin awalnya kamu tiap kali keberangkat ke kampus lihat berdua mojok pacaran. Awalnya kamu astagfirullah, astagfirullah. Kamu tiap hari begitu.
Speaker A
Istigfar kamu ndak. Ya Allah, anak-anak ini gimana sih? Kamu tuh gitu. Tapi lama-lama, tambah lama rasanya biasa sudah. Kamu malah nyari-nyari.
Speaker A
Mana ya biasanya di sini nih? Kamu malah nyari pengen tahu. Ini yang disebut compassion fatigue.
Speaker A
Karena terlalu sering terus mati rasa seperti saya sebut tadi. Oke, jadi manusia itu kan punya titik poin pembiasaannya sendiri.
Speaker A
Sesuatu yang berat dilakukan berulang-ulang bisa jadi ringan. Hal yang sama terjadi sesuatu yang buruk yang mungkin semula menghebohkan lama-lama jadi biasa kayak berita korupsi tadi lama-lama biasa Pak.
Speaker A
Ini yang disebut compassion fatigue. Nah, yang ketiga emotional burn out. Teori dari Kristina Maslach.
Speaker A
Emotional burn out itu mirip di yang culhan dulu ya, tapi ini sifatnya emosi, emosi kita dipermainkan terus sehingga kelelahan.
Speaker A
Kita kehabisan energi emosional. Jadi misalnya saking banyaknya momen, saking banyaknya waktu yang menuntut kita peduli, yang menuntut kita harus ikut terlibat, yang menuntut kita harus care dan lain sebagainya.
Speaker A
Sementara problem ini ndak selesai-selesai, pada akhirnya kita mengalami emotional burnout. Kita seperti lilin yang menerangi sekitarnya ketika ndak didukung oleh lilin yang lain, lama-lama kita akan habis.
Speaker A
Selesai, ini emotional burnout. Emotional burnout itu misalnya ya, saya ngajar kalian kayak gini ngaji filsafat.
Speaker A
Sudah 500-an sesi, kamu merasa kalau ditanya tentang filsafat saya ndak tahu apa-apa Pak, saya ndak bisa Pak, saya ndak. Lama-lama aku jengkel.
Speaker A
Lah terus apa gunanya aku sampai 500 sesi ini terus aku jadi bosen, aku jadi ndak semangat, aku jadi ndak gairah lagi, ini yang disebut emotional burnout.
Speaker A
Sama ya kayak di kan kadang-kadang ada konten itu ibu yang ngajari anaknya. Ini anak ini ndak dong-dong, diulang-ulang salah terus, diulang salah terus itu cuengkel ibunya ini, ini emotional burnout.
Speaker A
Nah kayak kalian nulis skripsi ngadep pembimbingmu, ngadep pertama Mas ini masih salah ya, kurang ini, diperbaiki." Diperbaiki yang diingatkan kemarin, begitu ngadep lagi, ada lagi yang salah, yang lain. "Oh, ini juga diperbaiki ya." gitu ya.
Speaker A
Dua kali kamu masih semangat, oke, diperbaiki. Balik lagi, ada lagi ternyata, tiga kali, empat, lima, enam kali. Pada akhirnya kamu, "Sudahlah, enggak skripsi-skripsian." Ini namanya emosional burn out.
Speaker A
Nah, kamu lelah. Semula kamu semangat nulis, semangat nulis, eh, sudah akhirnya dalam apa? ChatGPT saja.
Speaker A
Nah, karena kamu capek. Oke ya. Baik, ini macam-macamnya moral fatigue, macam-macamnya kelelahan moral. Sekarang kita pelajari sebentar akarnya.
Speaker A
Kenapa berbuat baik kok bisa melelahkan itu loh. Akarnya di mana? Yang pertama, yang jelas akarnya adalah kita lupa mengenali batas kita.
Speaker A
Manusia itu bisa lelah, bisa capek, bisa bosan, bisa kecewa. Tapi kita menganggap diri kita selalu semangat, selalu siap melayani, selalu siap mengabdi, selalu siap berjuang, selalu siap berkorban.
Speaker A
Pada akhirnya kita kepentok batas kita sendiri yang semula tidak kita sadari. Lelah lah kita.
Speaker A
Gitu loh. Kayak orang yang jatuh cinta pertama kali itu kan seolah-olah sudahlah pokoknya untukmu segalanya semua waktuku, semua tenagaku, semua itu dia ndak ngitung kapasitas dirinya.
Speaker A
Bahwa aku ya punya batas. Oke aku siap jemput pagi, tapi kalau aku sudah bangun ya.
Speaker A
Karena biasanya aku bangunnya jam 08.00 lah kuliahmu jam 07.00. Lah lah ini ini ngerti batas.
Speaker A
Kamu kecewa dengan dirimu jadi kelelahan karena kamu ndak ngitung dirimu terus kamu memaksa bangun pagi tiap hari nganter dia kuliah ya pada akhirnya ya kamu drop sendiri, kamu lelah terus kamu marahi pasanganmu.
Speaker A
Aku sudah korban berapa? Sudah dijemput pagi-pagi, beli sarapan aku ya yang nraktir sudah berapa kali sekarang ngungkit-ngungkit semua kebaikanmu. Itu ciri-ciri kamu sedang kelelahan.
Speaker A
[mendengus] Ya Jadi kita lupa batas kita, kita lupa mengenali bahwa kita ini manusia. Yang tenaga kita terbatas, kapasitas kita terbatas.
Speaker A
Yang bisa kecewa, bisa kecapekan. Bisa kehilangan harapan dan lain sebagainya. Jadi ini yang membuat kita lelah, kita lupa batas kita.
Speaker A
Yang kedua kita lupa sunatullahnya dunia ini. Yang kadang adil, kadang ndak adil. Kadang baik, kadang buruk, kadang positif, kadang negatif.
Speaker A
Itulah dunia ini, kadang naik, kadang turun, tapi kadang-kadang kita ini ingin mewujudkan sepenuhnya 100% keadilan sama sekali tanpa ketidakadilan.
Speaker A
Kebaikan sama sekali harus menang, ketidakbaikan harus kalah semua. Ini yang membuat kita lelah. Boleh menegakkan keadilan, memperjuangkan kebenaran, tapi sadarilah di dunia ini akan selalu ada ketidakadilan, entah dosis kecil atau dosis besar.
Speaker A
Kalau misimu, Pak, "Tujuan saya adalah memberantas semua ketidakadilan di muka bumi ini." Ya. Superhero saja enggak bisa.
Speaker A
Iya, kan? Buktinya apa? Musuhnya datang terus ganti-ganti. Hidup juga begitu. Satu problem ketidakadilan selesai, pasti nanti akan ada muncul lagi ketidakadilan di bagian yang lain dan akan terus ada begitu.
Speaker A
Kalau kamu lupa rumus ini, kamu akan kelelahan [tertawa] berjuang. Pada akhirnya kamu lemas, capek. "Capek saya, Pak, sudah berjuang tentang ini, ada masalah lagi, itu. Masalah itu baru selesai, muncul masalah ini lagi. Jadi, kapan saya istirahatnya?" Ya, kamu
Speaker A
ngapain kamu urusi semuanya terus-terusan? Jadi, kamu punya energimu sendiri, kamu punya batasmu sendiri, ukur itu.
Speaker A
Jangan memimpikan sesuatu yang tidak mungkin. Perjuangkan saja semaksimal yang kamu mampu, sisanya pasrahkan pada Tuhan.
Speaker A
Jadi, ini lebih nyaman daripada kalian mengharapkan, mencita-citakan sesuatu yang sulit dipenuhi. Saya ingin meluruskan semua orang yang sesat di bumi ini. Ah, ora iso.
Speaker A
Gitu loh. Enggak bisa. Akan selalu ada orang baik dan orang yang tidak baik. Kalau dulu kita belajar stoikisme kan begitu. Kata Marcus Aurelius kan begitu.
Speaker A
Manusia itu ya ada yang baik, ada yang tidak baik. Jadi, kalau pas kita ketemu orang yang tidak baik, ya sudah diterima saja. Oh iya sih, misalnya ketemu teman yang jahat, yang usil yang kamu tinggal keluarkan rumusmu. Oh, manusia itu memang ada yang baik, ada
Speaker A
yang tidak baik. Kebetulan yang di depan saya ini yang versi tidak baik. Biasa saja, enggak usah terlalu kaget.
Speaker A
Ada orang jujur, ada orang yang curang. Nah, ini versi yang orang ini versi yang curang ini.
Speaker A
Jadi, itu lebih meringankan. Makanya di Jawa itu ada peribahasa ojo gumunan, ojo kagetan. Oke ya. Ini loh Pak, dulu waktu kampanye ngomong apa, sekarang ngomong apa. Wis ket biyen, sejak dulu begitu itu kok kamu baru kaget sekarang.
Speaker A
Dulu janjinya apa, terus yang dipenuhi mana. Iya, sejak dulu juga begitu. Waktu kampanye berjanji, lah kok yang aneh itu kamu yang kaget.
Speaker A
Biasa saja sejak dulu begitu. Nah, jadi yang kedua ini sadari karakter dunia ini. Ya.
Speaker A
Baik. Kita lanjutkan. Yang ketiga. Ada orang-orang altruis yang berpikir memberi, berbagi, berjuang, dan lain sebagainya, tapi lupa dirinya sendiri.
Speaker A
Sehingga terus tiba-tiba saja dia drop, tiba-tiba saja dia kecewa, tiba-tiba saja dia merasa kalah, merasa lelah.
Speaker A
Pak, teman saya ini sejak dulu saya perjuangkan, saya bela, saya angkat-angkat, eh sekarang sukses. Saya dilupakan, saya dicampakkan. Nah, itu ya kadang-kadang kadang ndak ngukur diri kita.
Speaker A
Kita hanya mikir berbagi, memberi yang terbaik, dan lain sebagainya, tapi kita lupa memberi yang terbaik untuk diri kita.
Speaker A
Kita ndak memberi diri kita istirahat, kita ndak memberi diri kita kegembiraan. Itu yang membuat kebaikan jadi terasa sangat melelahkan.
Speaker A
Ini kan kan ada orang itu yang serius terus itu. Ya melelahkan. Hidup itu ya serius melakukan kebaikan, tapi ya ada istirahatnya, ada healing-nya, ada santainya.
Speaker A
Apa ya? Ya jangan kencang-kencang kalau ada temanmu sedang santai ya dibantu santai, dibantu healing.
Speaker A
Lha ini temannya sedang santai bergurau, kamu malah dalil. Jangan banyak ketawa. Ketawa itu mengeraskan hati, lha iyo.
Speaker A
Iyo jangan, lha ini orang sedang istirahat, iyo kalau situasinya berbeda kamu pakai dalil itu, tapi ini sedang bersenda gurau, sedang bersenang-senang, iyo biar saja dia ketawa. Biar saja dia menikmati waktunya, menikmati harinya.
Speaker A
Jadi, nanti ada temannya istirahat baru al waktu kasoif, lha alah. [tertawa] Iyo benar waktu itu kasoif, tapi ini waktunya santai, waktunya istirahat.
Speaker A
Nanti temannya baru rebahan sebentar sudah dinasehati, kita ndak tahu ya batas umur kita itu, kan bahaya.
Speaker A
Mbo iyo yang Jadi, ini yang kadang membuat kita kelelahan. Iyo kalau bahasa Indonesianya kita memforsir diri melakukan kebaikan.
Speaker A
Terus yang keempat apa yang membuat kita lelah ketika melakukan kebaikan? Kadang-kadang kita tidak punya prioritas, ingin melakukan semua yang baik dan semua kita bebankan dalam diri kita.
Speaker A
He agar ini kita selalu terlihat baik. Jadi ini tetap akarnya tidak mengenali diri tadi yo, segala macam kebaikan ingin dilakukan semuanya sekaligus tanpa paham kondisi diri, kenyataan diri.
Speaker A
Ini yang membuat kebaikan itu jadi sangat melelahkan. Itu loh. Saya sering bilang jalan kita jadi orang baik, termasuk jalan kita untuk dekat dengan Allah itu mungkin beda-beda.
Speaker A
Enggak harus sama. Itu loh. Oh, ada orang yang jalannya untuk dekat dengan Allah dengan salat malam.
Speaker A
Ini mesti enggak berlaku bagi satpam yang jaga malam. Dia punya jalannya sendiri untuk dekat sama Allah. Itu loh. Yang sini karena profesinya ulama, kiai terus dengan ceramah, dengan menasehati. Cuma yang sini karena beliau ini petani, ya cara mendekat dengan Allah dengan bertani
Speaker A
yang benar, yang jujur. Jadi setiap orang punya porsi, punya kapasitasnya. Yang mahasiswa ya dengan belajar.
Speaker A
Yang pedagang dengan berdagang yang benar. Ini ini. Jadi masing-masing ada kebajikannya. Tidak harus kemudian segala jenis kebajikan kita terobsesi dengannya tanpa melihat kenyataan diri kita.
Speaker A
Ini kadang-kadang kita begitu. Apalagi hari ini. Hari ini itu dengan fasilitas medsos kita hidup selalu membanding.
Speaker A
Eh. Teman saya keren ya, bisa salat malam, bisa puasa Senin-Kamis, bisa. Wah, saya ingin seperti itu sepenuhnya mulai besok. Lah, wong salat lima waktunya masih bolong-bolong.
Speaker A
Tapi kamu narget yang sangat besar, enggak ngukur dirimu. Akhirnya apa? Kebaikan jadi melelahkan. Kamu enggak bisa menikmatinya karena terlalu memaksa diri.
Speaker A
Dan yang kelima kenapa kebaikan itu bisa melelahkan kadang-kadang kita punya resiliensi yang rendah sehingga melihat masalah demi masalah berulang terus kita angkat tangan.
Speaker A
Enggak sanggup saya, Pak. Enggak bisa saya Pak. Dulu ada masalah itu, sekarang ada lagi.
Speaker A
Mungkin tahun depan ada lagi. Nah, terus kita jadi lemas, kita jadi ah sudahlah. Terserahlah mau ada apa tidak. Ini kita lelah sudah.
Speaker A
Dulu ada asap, tahun lalu ada asap, sekarang masih ada lagi asap. Gimana sih? Terus kita kan kelelahan terus. Ah, sudahlah, cuek saja.
Speaker A
Nah ini akarnya ya. Coba kalau teman-teman sudah mulai ada gejala-gejala moral fatik ini, ayo direm sebentar introspeksi ya, muhasabah dirinya. Saya ada di mana?
Speaker A
Oke, kita lanjutkan. Sekarang kita cek ciri-cirinya moral fatik. Yang pertama merasa lelah untuk terus berbuat baik.
Speaker A
Aku capek kalau harus terus memaafkan, aku capek kok aku harus terus memaklumi, aku capek harus pura-pura baik, aku capek.
Speaker A
Itu moral fatik berarti. Lelah, ya Allah, gitu. Moral fatik. Ciri kedua kecewa. Saya sudah jujur, sudah ikhtiar maksimal.
Speaker A
Ternyata yang lolos yang curang. Nah, ini ini kecewa sudah. Saya sudah sepenuh hati ibadah, hidupku kok susah terus ya?
Speaker A
Ini kecewa sudah. Oke. Saya sudah berdoa, saya sudah sedekah, tapi kok tetap enggak sukses ya? Katanya kalau sedekah itu bisa sukses, kalau berdoa pasti dikabulkan, ternyata tidak.
Speaker A
Kecewa. Tadi coba dicek ya, teman-teman sering menggunakan kalimat saya lelah apa saya kecewa? Ini berarti memang ada di kondisi moral fatic.
Speaker A
Yang ketiga, biasanya orang yang mengalami kelelahan itu pelan-pelan jadi sinis. Kalau lihat orang jujur, kita nganggap dia bodoh.
Speaker A
Kalau lihat orang tulus, kita nganggap dia konyol. Kalau lihat orang peduli, kita lihat dia sia-sia. Nah, ini kita mulai sinis.
Speaker A
Oke ya. Ada orang jujur, kita bodoh banget ya orang itu, kenapa se jujur itu, enggak mungkin sukses kalau jujur ini. Kita mulai sinis pada kebaikan.
Speaker A
Ada orang ngomong baik-baik, alah itu cuma teori sudah, sudah prakteknya enggak akan seindah itu, gitu. Kita mulai sinis.
Speaker A
Ada orang ngomong mari kita saling mencintai, kasih sayang sesama kita, salah preek itu, enggak ada yang begitu-begitu di dunia ini, kita mulai sinis.
Speaker A
Oke ya, jadi terhadap kebaikan kita sudah ndak percaya lagi. Oke. Wah, kita lanjutkan ya. Ini sudah mulai parah kalau sudah mulai ini. Terus.
Speaker A
Selanjutnya ada ciri lagi, menarik diri dari tanggung jawab moral. Aku ndak akan mau lagi memaafkan.
Speaker A
Sudah bolak-balik saya maafkan diulang terus. Nah, ini sudah mulai ndak mau tanggung jawab sudah.
Speaker A
Dulu aktif menolong, dulu mengingatkan yang tidak adil, memperjuangkan yang benar, sekarang memilih diam. Ndak mau lagi terlibat.
Speaker A
Bukan karena sudah ndak peduli, tapi karena sudah terlalu lelah. Capek saya Pak, sudah. Bertahun-tahun saya hadir demo misalnya.
Speaker A
Ndak ada hasilnya Pak, coba saya. Ah, terus kamu menarik diri. Sekarang ndak demo-demoan lah Pak saya.
Speaker A
Ini mulai putus asa, mulai menarik diri dari tanggung jawab moral. Ada lagi yang kemudian kompromi.
Speaker A
Waduh ini kalau saya jujur terus, ndak kebagian apa-apa ini. Yang lain ganas sekali korupsinya. Ah, ini kalau ndak cepat-cepat ikut korupsi ndak kebagian saya. Mulai kompromi.
Speaker A
Oke. Kemarin ndak curang, ah lah sekarang bohong sedikit-sedikit ndak apa-apa lah. Yang lain bohongnya luar biasa banyak.
Speaker A
Aman-aman saja itu, ndak diazab oleh Allah, malah saya yang pilek, saya yang greges. Dia enak sekali hidupnya padahal ngawur itu, salat juga ndak, tiap hari curang tiap hari. Nah, kita mulai seperti ini mental kita.
Speaker A
Jadi, mentalnya orang yang kelelahan, kita mulai kompromi. Dulu kita anggap salah, sekarang ndak apa-apa lah.
Speaker A
Ini kalau saya keras terus saya ndak kebagian apa-apa. Iya, dulu saya bujangan sekarang punya keluarga ya, punya anak ya, punya istri ya. Saya sudah mulai goyah dengan prinsipnya.
Speaker A
Efeknya lagi apa? Kita sekarang ndak peka terhadap kesalahan. Mas, itu dosa loh Mas melakukan itu.
Speaker A
Alah Pak, yang lain juga begitu Pak, lebih parah malah. Kita mulai ndak peka sudah.
Speaker A
Ndak boleh Mas itu, melanggar aturan. Alamak, kalau ndak ketahuan kan aman saja kalau Bapak diam saja aman kok ini.
Speaker A
Kita mulai ndak peka terhadap kesalahan. Dan yang terakhir, kita sudah tidak percaya lagi pada kebaikan.
Speaker A
Kita kehilangan harapan bahwa kebaikan akan membawa perubahan. Kita merasa yang tidak jujur juga bisa menang.
Speaker A
Yang baik bisa saja kalah. Perjuangan moral ndak ada gunanya. Ah, sudah ndak semangat lagi menegakkan nilai.
Speaker A
Ini cirinya moral fatique. Kelelahan moral. Semoga teman-teman tidak ada di sini ya. Heeh, karena kalau sudah ada di sini, apalagi di yang terakhir-terakhir tadi ya.
Speaker A
Kalian sudah apa, merasa ndak nyaman dalam kebaikan. Dan itu masalah sudah. Jadi, tragedi moral manusia bukan hanya ketika dia milih kejahatan tetapi juga ketika dia terlalu lelah memperjuangkan kebaikan hingga akhirnya membiarkan kejahatan tetap berlangsung.
Speaker A
Ini harus mulai waspada kalau ada gejala-gejala enam tadi ya, ciri-ciri moral fatik. Oke, baik. Kita lanjutkan.
Speaker A
Efeknya apa kalau banyak orang mengalami moral fatik? Kita lihat efeknya ya. Terhadap dirimu secara individu maupun terhadap masyarakat.
Speaker A
Pada individu ada efek yang pertama penurunan fungsi emosional. Kamu jadi lemas, kamu jadi serba kecewa.
Speaker A
Kamu tidak lagi penuh harapan, lebih pesimis. Ini efeknya. Jadi kalau kalian biarkan moral fatik itu berlama-lama ya hidup ndak nikmat lagi, ndak bergairah, ndak semangat lagi.
Speaker A
Yang kedua betapapun sebenarnya kalian orang baik hanya kelelahan saja. Maka kadang-kadang ketika kamu kelelahan kamu nabrak segala norma, segala aturan yang kamu tahu itu salah.
Speaker A
Yang terjadi apa? Kamu merasa bersalah. Ada rasa ndak nyaman dengan dirimu sendiri yang terpendam.
Speaker A
Diam-diam kamu benci sama dirimu. Ini dulu kita bahas di self love, bagaimana orang yang tidak peduli dengan dirinya, tidak menyayangi dirinya.
Speaker A
Kita siksa antara lain dengan melakukan yang salah-salah. Jadi ada rasa bersalah, ada sense of guilty. Saya tahu sebenarnya aku ndak boleh curang.
Speaker A
Tapi kok aku melakukan yang curang ya? Yang ketiga, biasanya orang yang lelah secara moral itu kecewa dengan lingkungannya, kecewa dengan masyarakatnya.
Speaker A
Kemudian mengisolasi diri, menjauh, menarik diri dari lingkungan sosial. Kalian hari ini mungkin ndak sadar melakukan itu.
Speaker A
Anak-anak hari ini kan citranya asyik dengan dunianya sendiri, kurang terlibat di lingkungan sosial. Mungkin juga karena bagian dari kelelahan moral.
Speaker A
Yang keempat, ini istilah menarik saya baru dapat tadi, kebas emosional. Kebas itu opo? Gringgingen bahasa Jawanya ya.
Speaker A
Saya tahu ada istilah gringgingen itu baru ada. Jadi kalau kamu duduknya ndak pas itu kan kakimu kebas.
Speaker A
Disentuh ndak terasa, cuma ya kalau dipaksa agak sakit kemudian. Jadi, kebas emosional itu kamu ndak peka lagi.
Speaker A
Daya empatikmu turun. Kamu lebih cuek, lebih apatis, lebih ndak peduli. Mungkin selama ini kamu serius menjalankan agama, tiba-tiba tokoh agamanya begitu.
Speaker A
Wah, terus kamu ndak percaya lagi. Sudahlah, sudahlah. Kamu jadi apatis. Jadi, kalau kamu disuruh, "Mok kamu itu jadi orang beragama yang benar, belajar ilmunya, dijalankan perintahnya, dijauhi larangannya." Terus kamu jawabnya, "Alah, Pak, buat apa? Yang sudah ahlinya saja kelakuannya kayak gitu." Kamu, kamu
Speaker A
sudah mulai ndak peka. Kesalahan-kesalahan bagi kamu biasa saja sudah semuanya. Ini yang dimaksud kebas.
Speaker A
Kemudian tadi, sinis pada apapun, termasuk pada dirimu sendiri, pada nilai dirimu sendiri. Kamu ndak percaya lagi pada kebaikan-kebaikan, kamu ndak percaya lagi pada nilai.
Speaker A
Kamu, kalau ada orang baik kamu, "Alah, itu pura-pura. Tunggu saja, itu belum dapat kesempatan saja." Nanti coba kalau dapat kesempatan, mesti yang dilakukan sama saja. Kita mulai begitu.
Speaker A
Dan tentu saja pada akhirnya karena kita ndak semangat, karir rusak, hubungan personal rusak, kesehatan mental rusak.
Speaker A
Diawali dari moral fatique. Ini yang secara individu. Kalau di level masyarakat, apa yang terjadi?
Speaker A
Normalisasi penyimpangan. Jadi ketika kesalahan dilakukan, alah semua begitu. Ini normalisasi penyimpangan. Yang menyimpang menyimpang, yang salah salah dianggap biasa.
Speaker A
Ndak apa-apa lah Pak begitu yang penting cuan, ekonomi. Nah ya semua begitu terusan. Ini namanya menormalisasi.
Speaker A
Ndak apa-apa Pak, ada yang dikorbankan, ada yang susah, yang penting ekonomi meningkat misalnya. Ini normalisasi.
Speaker A
Efeknya kemudian apa? Social trust runtuh. Orang kalau sudah lelah secara moral, dia ndak akan percaya.
Speaker A
Diberi program apapun, diberi solusi apapun. Alah Pak itu basa-basi saja. Alah Pak itu retorika saja. Alah Pak itu ndak percaya sudah.
Speaker A
Jadi ya kena trust issue sudah. Ya kan karena bolak-balik dibohongi, lama-lama sudah ndak percaya lagi dengan kejujuran.
Speaker A
Itu kan kayak ceritanya Upin dan Ipin itu kan. Yang sedang nungguin kambingnya. Karena sepi terus dia pura-pura ada serigala kan gitu.
Speaker A
Oh masih ingat ya? Ah. [tertawa] Iya kan usiamu masih aktif Upin dan Ipin. Pura-pura ada serigala, begitu orang kampung keluar ternyata enggak ada. Dia karena sepi saja sih pengin ramai-ramai orang.
Speaker A
Besok bilang gitu lagi ada serigala ternyata enggak ada. Besoknya ada serigala beneran, dia teriak-teriak orang enggak percaya.
Speaker A
Akhirnya kambing hilang gitu loh. Jadi hari ini mungkin banyak begitu kita sudah enggak percaya lagi. Kenapa?
Speaker A
Terlalu sering dibohongi. Terasi hilang sudah. Mungkin sekarang dia ngomongnya jujur tapi wong sebelumnya enggak jujur terus jadi orang tetap enggak percaya.
Speaker A
Oke, itu efeknya. Kemudian ada efek lagi yang lebih bahaya. Ditindas, dijajah, ditidak adili diam saja.
Speaker A
Biar sajalah Pak, suka-suka dialah mau apa. Sudah. Hancur-hancurlah sekalian Pak gitu. Ya sudah. Jadi dirusak, ditindas diam saja.
Speaker A
Kemudian yang nomor empat apatisme politik. Apatisme politik itu ya apatis sudah. Ditawari tenang saja sekarang dirancang program ini, program itu demi solusi ini. Alah, sama saja lihat saja nanti.
Speaker A
Sudah apatis. Jadi orang apatis itu sulit dikendalikan, sulit diajak terlibat karena dia sudah enggak percaya sama sekali.
Speaker A
Dibuatkan solusi seperti apapun dia enggak akan mau berpartisipasi. Karena di awali tidak percaya. Kenapa kok sampai enggak percaya? Ya karena sebelumnya dibohongi terus. Sebelumnya dia melakukan yang baik-baik ternyata hasilnya cuma dibohongi.
Speaker A
Kemudian jadilah apatisme. Akhirnya apa? Muncul fenomena namanya bystander effect. Bystander itu ada kejahatan tepat di depan matamu, kamu cuma lihat saja.
Speaker A
Kita sekarang jadi penonton saja. Enggak mau terlibat. Oh, itu loh ada korupsi. Oh, korupsi toh. Ini kita lihat saja. Oh, ternyata orang ini toh. Jadi kita begitu saja dan titik.
Speaker A
Ini yang disebut bystander effect. Jadi kita enggak mau terlibat memperbaiki, kita enggak mau terlibat meluruskan, kita hanya jadi penonton saja.
Speaker A
Tetangganya ada kesusahan apa ya kita cuma nonton. Kenapa enggak mau nolong? Pak, sekarang nolong repot Pak, nanti dipanggil-panggil kita malah kehilangan ini, kehilangan itu biar sajalah, sudah sekarang.
Speaker A
Kita hanya menyaksikan saja. Kita jadi penonton, ya sekali-kali komentator. Tapi kita enggak mau terjun langsung terlibat.
Speaker A
Mmm, bikin konten ayo kalau cuma ngomong, bikin tulisan pendek-pendek, tapi begitu harus terlibat enggak.
Speaker A
Repot nanti Pak, susah nanti Pak, jadi bystander effect. Kalau semua orang begitu, semua orang cuek, semua orang apatis.
Speaker A
Semua orang sudah ndak percaya lagi pada apapun, apalagi terus menormalisasi penyimpangan. Hancur masyarakat. Diawali dari kelelahan moral tadi.
Speaker A
Tentu saja orang yang cuek, apatis ini rentan dimanipulasi. Karena kamu diam saja, kamu cuek saja, ya orang kemudian memainkanmu.
Speaker A
Mungkin suaramu diklaim, mungkin kamu dibungkam diam-diam, nanti orang ngomong, "Ini saya bicara ini mewakili seluruh yang ada di sini ya." Padahal ndak mewakili, tapi kamu yang tadi diklaim namamu diam saja, aman sudah.
Speaker A
Itu yang terjadi. Jadi ternyata efeknya moral fatique, kalau tidak segera kalian atasi, ya secara individual ada efek-efek tadi, fungsi emosional turun, hidup dengan rasa bersalah, kamu ingin mengisolasi diri, kebas emosi, sinis meningkat.
Speaker A
Bisa saja kemudian berefek ke karir, hubungan personal, kesehatan mental. Di tengah masyarakat muncul normalisasi penyimpangan.
Speaker A
Sosial trust-nya hancur. Ndak peduli meskipun dijajah, ditidakadili apatisme bystander effect. Kelihatannya sederhana, cuma moral lelah kan rasanya moral itu sesuatu yang sifatnya di luar apa pertimbangan masyarakat umum yang besar, politik dan lain sebagainya ternyata efeknya bisa ke sana.
Speaker A
Apalagi hari ini di era digital. Ini tak kasih contoh ya efeknya ke digital. Ini moral fatiknya manusia hari ini di era digital.
Speaker A
Yang pertama digital cynicism. Nah, sekarang kalau kalian ada berita apa-apa, alah settingan gitu. Jadi digital cynicism, padahal itu mungkin benar tapi kamu alah itu settingan.
Speaker A
E ae mesti itu. E ae-nya keren sekali ya gitu. Kayak apa itu kalau di konten-konten kan sering orang bikin konten-konten hantu yang palsu. Wah, pocong lewat gitu kan yang palsu.
Speaker A
Mungkin ada salah satu postingan itu beneran tapi kamu sudah ndak percaya, itu settingan gitu.
Speaker A
Itu yang disebut digital cynicism. Atau desensitization. Ini sederhananya sensitivitasmu yang sudah mati. Kalian nyekrol berita, ada menderita, ada tragedi kemanusiaan tapi biasa saja itu.
Speaker A
Mungkin kalian sering ya kontennya sebenarnya konten lucu tapi isinya orang-orang yang sengsara. Ada yang naik sepeda tabrakan, jatuh berguling-guling, ada tapi kamu melihatnya sambil ketawa-ketawa.
Speaker A
Lucu. Desensitization. Ada peristiwa-peristiwa tragedi kemanusiaan seru, Pak. Ada bom jatuh, Pak, di Riyadh. Wah, orang haji lari semua, Pak. Lah, kamu cerita santai saja sambil ketawa-ketawa.
Speaker A
Kamu anggap seru. Yang ngalami di sana jungkir balik. Pak, ini, Pak, fotonya hutan terbakar itu bagus ya, Pak, fotonya. Jadi, kayak ada efek-efek sore gitu, Pak. Jadi, seru.
Speaker A
Lah, kamu senang sekali lihat itu. Yang kamu bahas fotonya malahan. Orang sana sesak sudah berbulan-bulan, hidup tidak sehat. Lah, kamu yang malah ribet urusan foto.
Speaker A
Desensitization. Oke ya. Jadi, kamu enggak punya lagi rasa kemanusiaan. Apalagi terus ada empati burn out.
Speaker A
Kamu sudah enggak bisa mengempati orang lagi. Kamu egois, yang kamu pikir dirimu sendiri. Atau ada yang sebaliknya, moral fatique.
Speaker A
Dilampiaskan dengan isolasi, nutup akun medsos. Karena muak dengan medsos, muak dengan ini itu sama sih menunjukkan moral fatique.
Speaker A
Kelelahan moral. Baik. Ini jadi setengah babak ya, teman-teman sekarang paham. Jangan-jangan kita semua hari ini mengalami moral fatique ini. Entah dosis kecil atau jangan-jangan dosis besar.
Speaker A
Ayo, kalau ada yang baca berita-berita banjir di sana, asap di sana, terus komentarmu alah, Pak, biasa, Pak, sejak dulu juga begitu. Ah, ini mulai.
Speaker A
Kalian kena penyakit moral fatique ini. Ah, itu hanya setting-an, Pak, itu ndak asli, Pak, itu pura-pura, Pak, pencitraan saja, Pak. Apa saja kamu anggap pencitraan, kemungkinan kamu sudah mulai apatis. Itu gejala kelelahan moral.
Speaker A
Ah, sekarang kita lihat perspektifnya para filosofi apa beberapa. Ini karena ngajinya filsafat, kita ambil beberapa perspektif para filosof.
Speaker A
Yang pertama Aristoteles dengan Nicomachean Ethics-nya. Dalam sistem etik-nya Aristoteles, moral fatique itu mungkin bisa kita baca sebagai sejenis krisis kebajikan.
Speaker A
Ada dua konsep yang nyambung. Yang pertama apa? Kalau menurut Aristoteles, yang namanya karakter itu sesuatu sikap mental, sikap batin yang diawali pembiasaan, sehingga lama-lama berakar.
Speaker A
Saya misalnya ingin jadi orang jujur, maka cara menanamkan karakter jujur itu dengan cara diulang, diulang, diulang, sampai lama-lama jujur jadi karakterku.
Speaker A
Kalau dia sudah jadi karakterku, dia keluar dari diriku secara otomatis. Di peristiwa apapun ya saya otomatis jujur. Kalau ndak jujur rasanya ndak enak, ndak nyaman.
Speaker A
Oke, ini kan teorinya Aristoteles. Berarti apa? Kok ada orang mengalami kelelahan moral, capek jadi orang baik?
Speaker A
Kemungkinan itu terjadi kalau pakai teori ini ya, ketika karakternya belum kokoh. Kalau karakter itu kokoh, kebaikan itu tidak melelahkan. Kenapa?
Speaker A
Dia keluar otomatis dari diri kita. Kalau karakter belum kokoh, kita melakukan hal baik itu berat, perlu energi besar.
Speaker A
Kemudian ketika ada halangan ini, halangan itu, jadi lebih berat lagi dan akhirnya kita kelelahan. Tapi kalau sudah jadi karakter kita, tidak berat. Justru kalau melakukan yang berlawanan, kita merasa ndak nyaman, ndak enak, dan berat.
Speaker A
Kalau saya terbentuk [tertawa] karakter jujur, jujur itu keluar begitu saja dari diri saya. Kalau diajak bohong, aku ndak nyaman dan berat.
Speaker A
Berarti apa? Moral fatigue tadi mungkin lahir dari orang yang karakternya belum kokoh. "Pak, saya bohong sajalah, Pak. Capek jadi orang jujur." Ya masih nyaman bohong. Berarti memang karakter jujurnya belum terlalu tertanam.
Speaker A
Berarti solusinya apa? Biasakan dirimu dengan kebaikan sampai jadi karaktermu, sehingga dia ndak mungkin goncang dan goyah lagi.
Speaker A
[mendengus] Itu kalau versi yang pertama. Versi kedua di teorinya Aristoteles juga manusia itu makhluk sosial, zoon politikon.
Speaker A
Yang kebajikannya dipengaruhi oleh sistem lingkungan tempat dia hidup. Saya sudah berkarakter baik, tapi lingkungan sekitarku isinya rusak.
Speaker A
Jadi, budaya sekitarku ya korupsi, ya tidak adil, ya putus asa. Ini kalau nabrak aku terus-menerus tentu saja akan sangat berat.
Speaker A
Itu diibaratkan orang berenang melawan arus terus, ya berat. Benar sih tadi saya bisa jadi orang jujur karena karakterku jujur keluar otomatis.
Speaker A
Tapi kalau masyarakatnya curang semua, bohong semua, jujur itu seperti aku tiap hari berenang melawan arus.
Speaker A
Tentu saja berat, gitu loh. Tadi kan menyalahkan diri kita, kenapa enggak dibiasakan sehingga jadi karakter.
Speaker A
Sebentar, itu benar sih, tapi kadang-kadang masyarakat, lingkungan, situasi memaksa kita jadi orang tidak benar, gitu loh.
Speaker A
Kayak dulu di Ronggowarsito kan amenangi zaman edan. Ketika kita ngalami zaman edan dilema, kita ini masih waras, enggak mau edan. Sayangnya, di zaman edan semua orang edan.
Speaker A
Di tengah semua orang yang edan, satu yang tidak edan kita, itu justru terbalik. Kita dianggap satu-satunya yang edan.
Speaker A
Di tengah semua orang yang korupsi, kalau satu-satunya kita yang tidak korupsi, yang aneh kita.
Speaker A
Terus kita tiap hari dilirik orang, diomong orang, itu makanya seperti orang berenang melawan arus.
Speaker A
Jadi kalau pakai teorinya Aristoteles, ini ya yang separuhnya memang manusia itu lahir dengan karakter pembiasaan, tapi jangan lupa kondisi lingkungan juga bisa menentukan.
Speaker A
Circle-mu juga bisa menentukan. Jadi tidak sepenuhnya salah individu. Kan kadang orang bilang "Saya lelah jadi orang baik." Terus "Ah, imanmu kurang.
Speaker A
Kamu itu harus ini." Enggak begitu. Lingkungan kita bisa ikut menentukan, gitu loh. Kita diseret terus ke sana pada akhirnya. Ini masalah.
Speaker A
Jadi ini perspektifnya Aristoteles. Baik. Ya, berarti orang yang lelah moral itu sedang mengalami paradoksnya moral, krisis kebajikan.
Speaker A
Ingin baik tapi ternyata masyarakat juga punya situasinya sendiri yang membuat kita kadang tabrakan. Oke, kita lanjutkan.
Speaker A
Kalau ini perspektifnya Camus. Absurdisme. Dulu pernah ya kita bahas. Camus menjelaskan kondisi manusia yang terjebak dalam ketiadaan makna.
Speaker A
[tertawa] Jangan bagi kamu ya, kalau pakai teorinya kamu moral fatik itu ya krisis makna sebenarnya dalam hidup manusia. Ketika seseorang mempertanyakan apa gunanya aku bermoral?
Speaker A
Toh bermoral juga malah dapat susahnya, sementara orang yang baik malah eh orang yang jahat malah dapat enaknya terus. Ini kan seabsurd itu hidup ini. Yang korupsi bahagia sejahtera sementara kita yang jujur sengsara. Lah kok begitu ceritanya? Tapi hidup ya
Speaker A
memang seabsurd itu kata kamu. Jadi kita ini seperti Sisyphus. Sisyphus itu dulu pernah kita bahas ya kamu ini.
Speaker A
Jadi dia dihukum oleh para dewa. Hukumannya apa? Dia harus mendorong batu ke atas gunung terus batunya dilepaskan ke bawah. Terus dia ke bawah nyusul batunya, dibawa ke atas lagi, terus dilepaskan lagi, ngelundung lagi ke bawah. Terus begitu. Hidup kita
Speaker A
itu seabsurd itu. Jadi tidak eksak, tidak pasti juga tidak selalu menyenangkan. Oke ya. Jadi keabsurdan itu terjadi kalau dalam konteks moral fatik ini ketika kita melakukan kebaikan tabrakan dengan dunia yang cuek, dunia yang tidak adil sehingga kita bertanya apa gunanya
Speaker A
saya melakukan kebaikan itu. Lama-lama terus kita lelah secara moral. Capek Pak, saya jujur. Sampai usia segini saya belum apa-apa, sementara yang kaya, yang punya jabatan, yang banyak korupsi, hidupnya kok enak-enak ya Pak.
Speaker A
Saya yang baik dapat apa? Ngapain saya harus sekolah, nanti tahu jadi pegawainya yang enggak sekolah.
Speaker A
Jadi ya kadang-kadang bos-bos itu enggak sekolah kamu, jadi atasanmu misalnya. Nah, seabsurd itu hidup ini.
Speaker A
Ya nanti kalau di kamu, jangan ambil dua jalan pintas. Yang pertama bunuh diri fisik, yang kedua bunuh diri filosofis.
Speaker A
Bunuh diri fisik tentu jangan ya, menyerah pada hidup. Makanya ada quotes yang terkenal dari kamu itu, "Hidup itu memang absurd, maka ingin bunuh diri atau ngopi saja." Nah, tawarannya jadi kalian milih ngopi saja ya, enggak usah milih opsi yang lain. Kalau sumpek ya
Speaker A
ngopi gitu. Kalau enggak punya uang ya gabunglah dengan temanmu yang sedang ngopi. Yang kedua bunuh diri filosofis. Bunuh diri filosofis itu kita melarikan diri dalam konsep-konsep dogmatis, konsep-konsep agama tertentu, janji-janji manis, nina bobok, atau kadang orang menyebutnya toxic
Speaker A
positivity hanya untuk menghibur diri kita. "Tenang saja, orang yang sabar pasti nanti sukses." Itu ya. Ini ini konsep ini bunuh diri filosofis.
Speaker A
"Insyaallah nanti ke depannya." Itu ini bunuh diri filosofis. Kenapa? Hidup ndak sepasti itu. Nanti kalau ternyata ndak terbukti kamu sukses, nanti kamu kecewa lagi loh.
Speaker A
Jadi ndak. Hidup ndak sepasti itu. Makanya ikuti saja ritmenya, se-absurd apapun. Jadi, jangan melakukan bunuh diri filosofis. Kamu pasti bisa.
Speaker A
Kamu pasti mampu. Kan sering begitu motivator-motivator itu. Kalau punya niat baik, alam semesta akan mengikutimu jadi baik.
Speaker A
Kayak segampang itu. Tapi faktanya tidak. Hidup sekeras ini. Oke. Nah, lah terus gimana kata kamu?
Speaker A
Coba deh lakukan tiga hal. Yang pertama rebel. Yang kedua freedom, yang ketiga passion. Rebel itu lawan. Lawan itu se-absurd apapun hidup jalani.
Speaker A
Kayak Sisyphus tadi. Harus naik dorong batu, terus batunya digelindingkan ke bawah. Orang sudah putus asa melihat itu, tapi yo nikmati saja, jalani saja.
Speaker A
Makanya kata kamu tak tulis di bawah itu, kita harus membayangkan Sisyphus itu bahagia. Lah gimana Pak caranya memberontak menjalani begitu saja? Ingatlah freedom.
Speaker A
Jadi, kita itu kan sering tertipu oleh target besar, harapan besar. Padahal hidup ini besar. Padahal hidup ini tergantung kita memaknainya. Maknai saja yang positif, yang enak, yang nyaman, meskipun itu kecil.
Speaker A
Saya membayangkan Sisyphus tadi kan, absurd sekali itu. Mendorong ke atas, jatuh ke bawah. Itu kalau dia membacanya, "Ah, seru ini kayak olahraga ini, seru ini." Bisa saja begitu.
Speaker A
Daripada yang lain ada yang mikir masa depan, ada yang mikir apa kayak saya ini enak dorong batu turun, ya turun lagi, dorong lagi ke Ini memaknai hidup.
Speaker A
Kita bebas memaknai hidup versi kita. Terserah kita maknai apa, wong hidup ini tentang makna, jarang hanya tentang fakta.
Speaker A
Wah, sayang Mas Yo ndak dapat jabatan, ndak wah wah wah wah. Malah ndak repot saya.
Speaker A
Kalau punya jabatan tambah ruwet, tambah repot. Ini kan makna dari kita, gitu loh. Yang satu ndak dapat jabatan merasa hidupnya hancur, yang sini malah senang.
Speaker A
Kenapa? Cara memaknai. Cara memaknai itu ada di tangan kita. Kita bebas, bebaslah memaknai hidup, menentukan cara hidup tanpa harus dibebani oleh harapan, ideal, tujuan.
Speaker A
Kadang-kadang kalau di kamu kan disebut manusia itu kadang ya ditipu oleh harapan besar, ekspektasi besar.
Speaker A
Mari kita wujudkan negara yang gemah ripah loh jinawi. Ndak sek berat. Bagi orang tertentu gimana caranya hari ini masih makan, besok juga masih bisa makan, kan gitu saja. Ndak sebesar gemah Ini yang dimaksud kita bebas kok memaknai hidup kita.
Speaker A
Tapi kadang-kadang kita memaknainya terlalu agung, terlalu besar, terlalu ideal, sehingga kita kecewa. Terus kelelahan.
Speaker A
Itu loh. Ah, kalau saya ndak mikir jauh-jauh Pak, yang penting nah begitu. Itu lebih santai daripada mikir terlalu besar.
Speaker A
Dan yang ketiga passion. Passion itu gairah hidup. Caranya apa? Menikmati detail momen, hal kecil apapun yang ada di hadapan kita.
Speaker A
Ini passion. Jadi malam hari ini di masjid ini ya dinikmati di masjid ini. Kadang-kadang kita itu ndak bisa menikmati momen, pikiran kita terlalu ke depan atau tertinggal di belakang.
Speaker A
Orangnya ada di sini, tapi pikirannya di kampus besok. [menghela napas] Ah, besok tugasku presentasi.
Speaker A
Pak Faiz ndak selesai-selesai ini. Ndak jadi. Nah, pikiranmu di sana, ndak bisa menikmati momen saat ini.
Speaker A
Kita sering begitu. Pas di kampus, di kelas juga ndak menikmati momen, yang dipikir nanti malam kafe mana ya enaknya nanti malam.
Speaker A
Jadi kita ndak Nanti di kafe juga ndak mikir menikmati kopinya, tapi menikmati besoknya lagi atau menikmati masa lalu.
Speaker A
Terbayang mantan ya di sini. Kira-kira malah ndak menikmati kopi yang sekarang, tapi pikirannya di masa lalu.
Speaker A
Kehilangan gairah hidup. Kita kehilangan passion. Kita ndak ndak punya rasa. Maka kita harus membayangkan Sisyphus bahagia. Hidup ini absurd, tapi itu bukan alasan untuk kita tidak bahagia.
Speaker A
Ini yang sering membuat kita kelelahan itu ini. Ini versi kamu ya. Lanjut. Ada perspektifnya Hannah Arendt.
Speaker A
Nah. Apa sih konsepnya Arendt yang berhubungan dengan moral fatigue? Kata Arendt, sebagian besar moral fatigue itu ya adalah persoalan struktural.
Speaker A
Ya, meskipun istilah moral fatigue tidak disebut definitif. Tapi kalau kita baca pakai perspektifnya Arendt, yang pertama ada konsepnya dia namanya banality of evil, kejahatan yang dianggap biasa, dinormalisasi.
Speaker A
Jadi, yang dilakukan itu jahat sih, tapi pas ditanya, diinterogasi, "Lah kok kamu bisa melakukan yang jahat itu?" "Loh, saya kan cuma anak buah. Saya menjalankan perintah atasan." "Lah, memang aturannya begitu. Aturannya enggak jelas sih, saya nafsirkannya begini mau saya."
Speaker A
Jadi, yang semula itu jahat terus dianggap biasa karena dianggap sesuai aturan, karena dianggap ini perintahnya pimpinan, karena dianggap ini. Ini yang disebut banality of evil.
Speaker A
Akhirnya apa? Ya, orang baik jadi sakit dong. Orang baik tersakiti karena ternyata yang jahat-jahat dianggap normal, dianggap benar.
Speaker A
Ya, itu konsep banality of evil. Yang kedua, tekanan sistem, tekanan struktur. Jadi, orang sering energi mentalnya habis karena ditekan oleh sistem.
Speaker A
Sudah terlalu capek kerja, maka kalau diajak, "Yuk, protes yuk, yuk, ke jalan yuk." Enggak bisa.
Speaker A
Energinya habis, sudah dihabiskan oleh struktur, oleh sistem. Kan kadang-kadang teman-teman mengkritik ya, "Orang ini loh dulu kritis sekali, sekarang malah ya, sebaliknya." Lah, mungkin dia ada di ranah yang ada sistemnya.
Speaker A
Yang di sistem itu ada tekanan ini, ada tekanan itu, sehingga nah, menurutmu dia kemudian kehabisan energi untuk melanjutkan kritisisme-nya. Ini mungkin sejenis moral fatigue.
Speaker A
Akhirnya, orang yang habis energi ya, mau enggak mau bisanya memilih diam. Itu yang tadi ya, disebut bystander effect.
Speaker A
Eh. Nah, tentu saja solusinya bangun kondisi yang memungkinkan, sistem yang memberi ruang, mengurangi beban, dan lain sebagainya.
Speaker A
Misalnya, memastikan kondisi kerja layak memastikan eh, orang tidak menormalisasi keburukan, kejahatan, apapun situasinya buruk ya, buruk, jahat ya, jahat.
Speaker A
Diakui, kemudian diperbaiki, bukan di normalisasi. Oke, dapat tiga perspektif ya kita. Ada Aristoteles, Albert Camus, dan Hannah Arendt.
Speaker A
Terus bagaimana akhirnya kita mengatasi moral fatique ini? Ada [berdehem] beberapa yang bisa kita lakukan ya.
Speaker A
Yang pertama persona. Untuk diri kita. Bagaimana mengatasi lelah moral secara personal? Tentu saja kurangi segala paparan yang membuat kita tambah stres secara etis.
Speaker A
Kalau selama ini kita banyak dibingungkan oleh medsos, kurangi medsosnya. Lakukan digital detox. Kok ternyata yang membuat kita lelah itu circle kita sendiri yo, menjauh dulu dari circle.
Speaker A
Ini untuk meringankan beban kita. Jadi karena kita sedang kelelahan, maka hindari semua yang membuat kita kelelahan.
Speaker A
Yang kedua, pisahkan beban yang dalam kuasa kita dengan yang di luar kuasa kita. Jadi, nanti ada istilah circle of control dan circle of concern.
Speaker A
Nanti ada tiga sebenarnya. Yang satu namanya circle of influence. Jadi, di dalam hidup ini ada yang dalam kuasa kita, ada yang di luar kuasa kita, ada yang di luar kuasa kita tapi bisa kita pengaruhi.
Speaker A
Misalnya mengubah watakmu itu di luar kuasa saya, tapi saya bisa mempengaruhi sedikit-sedikit dengan nasehat, dengan tuntunan. Tapi aku ndak kuasa mengubah, yang bisa ngubah kamu.
Speaker A
Tapi aku bisa mempengaruhi. Jadi dalam hidup ini ada tiga hal. Ada yang bisa saya ubah, ada yang tidak bisa saya ubah, ada yang bisa saya pengaruhi.
Speaker A
Nah, kita-kita bisa mengklarifikasi ini nanti lebih enak. Kita yang kelelahan oleh masalah besar ketidak adilan bisa mengklasifikasi.
Speaker A
Oh, ini dalam kuasa saya, saya perjuangkan. Ah, kalau itu di luar kuasa saya, saya bisanya mendoakan saja, mungkin ada begitu.
Speaker A
Ini apa? Biar kita lebih ringan, biar tidak semua beban dunia kita panggul di pundak kita sendirian.
Speaker A
Nah, ini memulihkan diri kita secara personal. Kemudian boleh juga deh kalau sudah berat tetap perlu bantuan ahlinya, konseling.
Speaker A
Nyari teman yang bisa jadi support system yang kuat. Jangan teman toxic yang malah jadi masalah.
Speaker A
Tiap hari malah memberati kita terus. Nah, ini pemulihan personal. Ada lagi pemulihan sosial. Kalau ini yang besarnya di masyarakat.
Speaker A
Apa yang kita lakukan? Ya kalau untuk yang moral fetik sosial ndak bisa ya dengan ayo istirahat medsos, ayo meditasi mindful ndak bisa.
Speaker A
Harus lebih konkret. Apa itu? Yang pertama penegakan hukum yang tegas untuk yang melanggarnya. Ini dalam rangka apa? Biar orang percaya lagi dengan aturan.
Speaker A
Biar orang ndak lelah, Pak. Saya sudah capek-capek ikut aturan, ternyata yang ndak ikut aturan dibiarkan saja. Nah, ini kita jadi lelah moral secara Jadi, untuk mengembalikan trust apa? Tegakkan aturan.
Speaker A
Jadi kemudian yang kedua hadirkan simbol pemimpin moral atau gerakan sosial yang bisa menghidupkan harapan kolektif.
Speaker A
Untuk mematahkan ada istilah learned helplessness. Jadi, learned help- helplessness itu kita itu seringkali learned helplessness gini lho.
Speaker A
Sekarang gagal, terus kita perjuangkan, gagal lagi, terus kita perjuangkan, gagal lagi karena masyarakatnya sudah rusak. Lama-lama kita ndak percaya lagi kita bisa sukses.
Speaker A
Akhirnya kita ndak mau berjuang lagi. Kenapa? Pengalaman sebelumnya saya gagal terus Pak. Ini berarti apa? Masyarakat harus diyakinkan kita mungkin sukses lho.
Speaker A
Jadi, ada harapan sekarang untuk kita bangkit. Nah, untuk ini mungkin diperlukan tokoh, diperlukan lembaga, diperlukan simbol-simbol yang bisa memberi harapan.
Speaker A
Jadi, ini caranya ya untuk masyarakat. Yang ketiga, masyarakat harus dipintarkan. Literasi daya kritisnya harus ditingkatkan.
Speaker A
Biar ndak gampang dimanipulasi, ndak gampang dibohongi dengan informasi. Jadi, ini ini problem besar mungkin kalau di kita.
Speaker A
Di kita ini saya ndak tahu ya, mungkin teman-teman silakan didiskusikan. Di budaya kita itu orang baik sama dengan orang yang selalu patuh.
Speaker A
Sementara orang yang kritis, orang yang mempertanyakan itu citranya tidak terlalu baik. Bahkan mungkin ada dosen yang mahasiswa yang banyak tanya, itu mahasiswa cerewet.
Speaker A
Ndak positif. Mahasiswa yang baik itu yang datang awal, duduk di depan, mendengarkan dengan baik.
Speaker A
Inilah mahasiswa yang terbaik. Tugas-tugasnya beres dan lain sebagainya. Nah, [menghela napas] ya tentu saja wong zaman saya sekolah saja dulu begitu. Saya ingat saya SD itu yang mau pulang duluan ada anteng-antengan. Jadi, yang yang paling diam itu yang pulang dulu.
Speaker A
Berarti yang ndak diam pulang terakhir. Nah, ini mentality sih. Kita perlu masyarakat yang kritis, kita perlu masyarakat yang terliterasi.
Speaker A
Kenapa? Ya karena kekuatan inteligensi, kekuatan literasi membuat masyarakat jadi tangguh, ndak gampang dipengaruhi. Sehingga mereka secara moral kuat.
Speaker A
Dan yang terakhir menyediakan sarana hukum, sarana budaya bagi masyarakat untuk menyuarakan ketidak adilan, untuk menunjukkan ini jahat loh, ini buruk loh, ini tidak adil loh. Kenapa harus begitu? Jangan sampai orang terus-terusan tidak percaya dengan kebaikan.
Speaker A
Jadi kalau kita ndak percaya lagi dengan kebaikan, bahaya. Kenapa orang ndak percaya dengan kebaikan? Karena yang tidak baik, yang jahat difasilitasi terus.
Speaker A
Akhirnya kebaikan putus asa. Ya kayak tadi loh contohnya, saya Pak jujur terus, ternyata yang menang, yang sukses, yang tidak jujur. Lama-lama, lah kalau begitu ngapain saya jujur?
Speaker A
Orang terus ndak percaya dengan kebaikan, dan itu masalah. Jadi ini perjuangan ya. Ya ini kalau yang pemulihan sosial ini banyak mungkin di luar kuasamu yang ikut ngaji.
Speaker A
Ini yang punya kekuasaan lebih besar untuk menegakkan hukum, untuk melakukan reformasi, mungkin juga revolusi, mematahkan learned helplessness, kemudian membangun daya kritis, literasi, kemudian menghidupkan budaya, kritis warga yang menyuarakan ketidakadilan.
Speaker A
Eh, ini idealnya. Tapi kalau melakukan perjuangan semacam ini melawan moral fetic, ada beberapa tantangan yang harus kalian hadapi.
Speaker A
Ehm, ini tantangannya ndak ringan. Yang pertama apa tantangannya? Tentu saja perlawanan dari status quo.
Speaker A
Perubahan sosial itu tantangan paling berat dari status quo. Kenapa? Karena kalau kondisi sosial berubah, dia takut kehilangan privilege-nya.
Speaker A
Ini kalau berubah yang semula saya jaya, jangan-jangan jadi jatuh. Berarti apa? Dia akan berusaha agar perubahan tidak terjadi.
Speaker A
Kalau dia punya kekuasaan, ya akan menggunakan propaganda, intimidasi, pembungkaman, manipulasi, dan lain sebagainya. Akhirnya apa? Perjuangan untuk melakukan perubahan pasti akan gagal.
Speaker A
Nah, ini perhatikan ya, ini tantangan-tantangan kalau melakukan perubahan sosial. Yang kedua, formalitas tanpa perubahan substansi.
Speaker A
Kadang-kadang perubahan itu dilakukan dengan melakukan formalitasnya. Contohnya gini loh melakukan formalitas itu. Bikin komisi apa, bikin komite apa, bikin aturan baru apa?
Speaker A
Biar orang ndak protes lagi. Secara formalitas sudah melakukan sesuatu untuk melakukan perubahan, terus orang merasa sudah selesai.
Speaker A
Padahal dalam prakteknya tidak ada perubahan apapun. Terus masyarakat sadar, terus ah ini cuma janji-janji bohong saja. Akhirnya apa? Masyarakat tambah apatis.
Speaker A
Wis, berarti ndak mungkin kita jadi lebih baik. Wong yo pemerintahnya begini, rakyatnya begini. Wong yo ah sudah. Orang tambah apatis akhirnya.
Speaker A
Itu tantangan kedua. Tantangan ketiga. Polarisasi dan fragmentasi. Biasanya ketika ada perjuangan-perjuangan tadi mengatasi moral fatik tadi, selalu ada yang pro dan yang kontra.
Speaker A
Terus konflik antara pro yang kontra di blow up. Akhirnya energi masyarakat habis untuk saling menyalahkan.
Speaker A
Ndak jadi perubahannya. Dan yang terakhir adalah di tantangan resiko apa? Ekspektasi yang tidak realistis.
Speaker A
Nah, jadi perubahan itu perlu proses, ndak bisa langsung. Tapi terus kadang-kadang yang sedang melakukan perubahan ingin segera, ingin langsung berubah sampai akar-akarnya, ingin segalanya instan.
Speaker A
Yang terjadi apa kemudian gagal. Ketika gagal orang jadi kelelahan, jadi burn out. Terus orang nganggap kah ini para pejuang juga ndak kompeten.
Speaker A
Ndak bisa memperjuangkan kita. Lama-lama orang merasa ah memang kondisi ndak bisa diubah. Oke ya. Jadi ini beberapa yang terakhir tadi untuk level sosial.
Speaker A
Tapi masing-masing yang saya ucapkan ini silakan nanti kalian diskusikan ya. Ini bisa dibahas jauh lebih panjang.
Speaker A
Oke, sekarang kita kembali ke diri kita lagi. Yang tadi sudah lelah dengan kebaikan. Apa yang harus kita lakukan?
Speaker A
Jangan-jangan kita mulai kecewa dengan diri kita, jangan-jangan kita mulai ndak percaya lagi dengan kebenaran, kebaikan dan lain sebagainya.
Speaker A
Sekarang kita lihat ya rumusnya dalam tradisi Islam. Perspektifnya Islam. [mendengus] Ini ada beberapa hal yang menurut saya penting untuk kalian yang lelah secara moral.
Speaker A
Mungkin ada yang menuduh kok bisa lelah berarti kebaikan nya kurang ikhlas. Tidak lillahi taala.
Speaker A
Nah, mungkin kalian ada yang ngritik begitu. Iman nya kurang kuat. Padahal ikhlas itu bukan berarti tidak boleh lelah.
Speaker A
Ikhlas itu tulus nya niat. Bukan hilangnya rasa. Kita bisa tulus membantu orang lain tapi tetap kehabisan tenaga.
Speaker A
Kita bisa ikhlas berkorban tapi tetap terasa berat. Kenapa? Kita ini manusia biasa. Oke ya.
Speaker A
Jadi, kadang-kadang kita itu menyalahkan orang. Kamu kurang ikhlas, makanya terus terasa berat. Ikhlas pun bukan berarti ndak ada rasa berat.
Speaker A
Wong kita ini manusia. Saya, Pak, membantu nya ikhlas lho, Pak. Kok ya terus yang saya bantu mulutnya kayak gitu.
Speaker A
Sakit saya, Pak. Lah terus nanti sama penceramah nya, harusnya ndak sakit. Kalau sakit berarti kurang ikhlas.
Speaker A
Ndak begitu. Wajar manusia itu kebaikan nya direspon negatif terus ada rasa sakitnya. Bukan berarti ndak ikhlas. Sudah tadi diikhlaskan sepenuhnya lillahi taala.
Speaker A
Hanya saja kita ini manusia. Kadang-kadang ada unsur apa pengalaman langsung yang membuat kita berat dalam melakukan keikhlasan tadi.
Speaker A
Ini maksudnya apa? Jangan terlalu menyalahkan diri kita ketika kita tiba-tiba merasa lelah melakukan kebaikan.
Speaker A
Jadi, kadang-kadang kan ada orang itu, "Tiap bulan saya sedekah, Pak, ke tetangga sebelah yang kurang mampu.
Speaker A
Kok dia balasannya begitu?" Nah, terus kita kan kadang solusinya, "Kalau begitu ya sedekahnya kurang ikhlas." Sudah, sebenarnya mungkin sedekahnya sudah ikhlas, lillahi taala, dia ndak minta imbalan apapun.
Speaker A
Sayangnya ada peristiwa yang membuat dia tersakiti. Misalnya yang dibantu melakukan hal-hal yang menyakiti dirinya.
Speaker A
Nah, ini wajar saja, ndak apa-apa, kadang-kadang orang itu begitu. Jadi, berarti apa? Ikhlas bukan berarti ndak boleh lelah, boleh. Manusiawi, berarti apa? Istirahatlah.
Speaker A
Cari yang meringankan hati. Yang kedua, kita sering lelah karena "Saya melakukan kebaikan dengan sabar, ternyata orang masih menginjak-injak saya." Nah, coba diingat-ingat, sabar bukan berarti membiarkan diri terus-menerus disakiti.
Speaker A
Itu bukan sabar, itu konyol. Sabar itu bukan berarti kalau ada orang zalim kita diam.
Speaker A
Terus ada orang jahat kita ndak balas. Ndak begitu. Menjaga hati agar tidak dipenuhi kebencian itu penting, tapi menjaga diri agar tidak terus jadi korban juga penting.
Speaker A
Mungkin kalian masih ingat kata-katanya Konfusius. Jadi Konfusius ini suatu ketika ditanya oleh muridnya. Jadi muridnya ini eh berkata begini, "Wahai guru, kalau ada orang baik, saya balas dengan kebaikan.
Speaker A
Kalau ada orang jahat, saya balas juga dengan kebaikan. Saya benar kan, guru?" Kata dia.
Speaker A
Jawabannya Konfusius, "Enggak, kamu salah. Kalau ada orang baik, kamu balas kebaikan oke. Tapi kalau ada orang jahat, kamu juga balas dengan kejahatan, lama-lama orang akan lelah, seperti tadi ya, lelah moral tadi.
Speaker A
Nah, apa gunanya saya capek-capek mengikuti kebaikan kalau ternyata yang jahat pun dapat balasan baik." Nah, ini muridnya terus tanya, "Wahai guru, lah kalau begitu, yang benar bagaimana?" Kata Konfusius, "Kalau ada kebaikan, balaslah dengan kebaikan. Tapi kejahatan, balaslah dengan keadilan."
Speaker A
Jadi kalau ada yang jahat, yang zalim, respon dengan adil. Kalau ada haknya orang diambil, kalau ada orang diinjak ya urus sih sampai level adil.
Speaker A
Lah kalau yang jahat-jahat dibalas baik terus, orang enggak takut melakukan kejahatan, orang sembrono dengan keburukan.
Speaker A
Itu enggak bisa disebut sabar. Sabar itu enggak selalu konotasinya pasif, tapi juga aktif. Kalian berjuang menegakkan kebenaran apapun kesulitannya itu juga sabar.
Speaker A
Iya jadi kadang-kadang kan kita agak berlebihan kan kalau ada orang baik kita balas baik, yang jahat pun kita balas baik. Nah, kalau ada yang jahat ya beri keadilan, tegakkan keadilan.
Speaker A
Ini dawuhnya Konfucius. Tapi pelajaran ini tentang sabar sebenarnya ya. Jadi kadang-kadang kita itu ada kejahatan, ada keburukan kita diam saja alasannya sabar.
Speaker A
Ada ndak di sini ya karena kadang-kadang ada orang begini dikasih berita, "Eh, temanmu yang sana itu tiap hari ngomong jelek loh tentang kamu." Terus kita jawab begini, "Biar saja dia ngomong jelek tentang saya. Nanti dosa saya biar diberikan ke dia, pahala dia
Speaker A
biar diberikan padaku." Ya memang rumusnya mungkin begitu algoritmanya, tapi kan itu menunjukkan kita egois, kita ingin selamat sendiri.
Speaker A
Biar saja teman saya hancur, teman saya rusak. Kalau kita sayang dia bukan dengan cara membiarkan dia dengan kejahatannya. Ya kita ingatkan, ya kita tegur, ya kita luruskan kalau dia memang dalam jangkauan kita.
Speaker A
Jadi kamu kok ngomong jelek terus tentang aku? Penginnya gimana sih? Kita masih teman kan? Kan lebih aman daripada kita diam-diam sakit hati sambil mendoakan jelek, sambil kita nunggu limpahan pahala dari dia ke kita. Ini agak egois mikirnya kita.
Speaker A
Maka ayo ya kita ee salah rumus menyikapi yang buruk dan yang jelek tadi. Kemudian tawakal juga bukan berarti berhenti memperbaiki keadaan. Ada orang itu sudahlah tawakal saja, pasrahkan saja pada Allah. Iya, tapi tawakal itu kita tegakkan setelah ikhtiar.
Speaker A
Tidak bisa rumus di depan sejak awal tawakal. Lakukan yang bisa diperjuangkan, perbaiki yang bisa diubah, baru serahkan pada Allah sisanya.
Speaker A
Jadi, ya tetap kita tegakkan kebenaran. Mari kita bermoral. Jangan putus asa meskipun orang, Pak itu orang jahat kok enak terus. Tetaplah melakukan yang baik, ikhtiarkan semaksimal mungkin.
Speaker A
Hasilnya pasrahkan pada Allah. Ini tawakal. Jadi, bukan kemudian pasrah saja. Dan muhasabah bukan berarti menyalahkan diri.
Speaker A
Jadi, banyak orang muhasabah itu mencari salahnya diri. Oke, tapi bukan berarti untuk menyalahkan diri kita.
Speaker A
Kita menemukan salahnya kita dalam rangka kita bisa memperbaiki diri. Jadi, kesalahan itu bahan belajar.
Speaker A
Bukan alasan kita untuk membenci diri kita. Itu muhasabah namanya. Baik ya, teman-teman ini beberapa perspektif dari Islam, dari agama yang kadang-kadang kita salah pahami sehingga memperberat kelelahan moral kita.
Speaker A
Padahal rumusnya agama itu ya, sebenarnya membuat kita lebih ringan ketika mengalami tadi moral fatique.
Speaker A
Baik. Eh terakhir ini mungkin untuk kalian yang sedang lelah saja. Ada beberapa rumus, ya, untuk meringankan hatimu.
Speaker A
Yang pertama, untukmu yang sedang lelah, kamu tidak menjadi orang jahat hanya karena hari ini kamu lelah berbuat baik.
Speaker A
Kamu tetap manusia yang punya batas, bukan mesin kebaikan yang harus terus menyala. Enggak apa-apa sebentar-sebentar kita istirahat.
Speaker A
Enggak apa-apa kita healing, kita mencari kenyamanan diri sebentar. Kita tidak jadi jahat hanya karena kita lelah.
Speaker A
Yang pertama itu. Yang kedua, tidak semua masalah harus kamu selesaikan hari ini. Dunia tidak harus kamu selamatkan sendirian.
Speaker A
Istirahatlah sejenak, bukan karena kamu enggak peduli, tapi karena kamu juga layak dipedulikan. Jangan sampai kelelahan.
Speaker A
Kemudian, jangan biarkan orang-orang yang tidak baik mengambil sesuatu yang paling baik dari dirimu, yaitu kemampuan untuk tetap mencintai kebaikan.
Speaker A
Kamu boleh mengubah cara berjuangmu tanpa harus mengubah hatimu menjadi keras. Oke ya. Baik terakhir.
Speaker A
Engkau boleh lelah berjuang, boleh istirahat, bahkan boleh menangis karena dunia tidak kunjung berubah. Tapi setelah semua kelelahan itu jangan kehilangan alasan untuk tetap menjadi manusia yang baik.
Speaker A
Jadi enggak apa-apa lelah, enggak apa-apa rasanya ingin nangis saja, enggak apa-apa ada kecewa, ada jengkel.
Speaker A
Tapi tetap diingat ketika pilihan-pilihan hidup datang kembali, tetaplah pilih jadi orang baik. Ini akan membuat kita tidak menyesal pada akhirnya.
Speaker A
Oke, ya. Teman-teman, saya kira itu perjuangan kita malam ini selesai. Saya tahu. Oke, baik. Ini tentang moral fatique, kelelahan moral. Mungkin banyak yang hari-hari ini merasakan itu.
Speaker A
Enggak apa-apa, bukan aib bukan cela dalam dirimu. Kalau kalian merasa lelah jadi orang baik sadarilah paling tidak kita ini ternyata memang sebelumnya orang baik.
Speaker A
Hanya saja memang situasi dan kondisi yang tidak sesuai harapan kita sehingga kita merasakan kelelahan itu.
Speaker A
Tetaplah berjuang jadi orang baik. Kalian semua bernilai, berharga. Kadang ada orang bilang begini, "Ah, jangan sok merasa penting karena tanpa kita pun dunia ini akan baik-baik saja." Kalimat ini kalau jadi dasar kita untuk rendah hati, oke. Tapi kalau jadi dasar
Speaker A
untuk rendah diri, jangan. Setiap kita berharga. Mungkin kita ndak bisa mengubah putaran dunia ini, tapi kita bisa mempengaruhi sejauh yang kita mampu di ruang yang dalam jangkauan kita.
Speaker A
Mungkin kita ndak bisa mengubah putaran dunia ini, tapi kita bisa memilih, menentukan bagaimana aku berpartisipasi di dalamnya.
Speaker A
Jadi, betapapun kita ini manusia yang bernilai dan berharga. Iya, kalau kita ndak ada, dunia ini mungkin tetap berputar, tetap berjalan dan baik-baik saja.
Speaker A
Tapi, ingatlah kalau kita ada, mungkin kita bisa menyumbangkan sesuatu, berbagi sesuatu sejauh yang kita mampu.
Speaker A
Jadi, kita ini masih bernilai, masih berharga sebagai manusia. Oke, saya kira itu ya, teman-teman untuk malam hari ini. Minggu depan kita tema terakhir untuk paradok moral, yaitu moral disengagement.
Speaker A
Minggu depan agak berat karena ketika orang memutuskan, "Saya ndak perlu lagi bermoral, buat apa moral?" Kita lihat seperti apa konsepnya.
Speaker A
Oke, saya akhiri sekian kurang lebihnya mohon dimaafkan. Wallahul muwaffiq, wallahu a'lamu bishawab. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Speaker A
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Topics:moral fatiguekelelahan moralfilsafat moralmoral distresscompassion fatiguemuhasabahetikaHannah Arendtngaji filsafatkebaikan









![EMPUK SEHARIAN! Resep KUE KLEPON: Lembut, Kenyal, Lumer Di Mulut [Takjil] — Transcript](https://i.ytimg.com/vi/M2asgYKevVU/maxresdefault.jpg)

