Review lengkap Wuling Axion, SUV plug-in hybrid dengan jarak tempuh 1.000 km, desain proporsional, dan fitur canggih untuk pasar Indonesia.
Key Takeaways
- Wuling Axion menawarkan alternatif SUV plug-in hybrid yang praktis dan efisien untuk pasar Indonesia.
- Desain dan fitur interior sangat kompetitif dengan sentuhan modern dan kenyamanan tinggi.
- Varian PHV memiliki keunggulan jarak tempuh hingga 1.000 km, cocok untuk perjalanan jauh.
- Versi EV memberikan performa lebih responsif dan hening dengan torsi besar.
- Mobil ini dirancang dengan proporsi yang pas untuk kondisi jalan dan garasi di Indonesia.
What the video covers
- Wuling Axion adalah versi SUV dari Wuling Darion dengan dimensi lebih kecil dan ground clearance lebih tinggi, cocok untuk pasar Indonesia.
- Tersedia dua varian powertrain: EV full electric dan PHV plug-in hybrid, dengan perbedaan desain grill dan pelek.
- Eksterior Axion mengusung desain SUV yang mengotak dan proporsional, dengan aksen ventilasi fungsional untuk pendinginan rem.
- Bagasi elektrik dengan konfigurasi tiga baris kursi yang bisa dilipat rata, cukup untuk kebutuhan perjalanan jauh.
- Interior mirip dengan Darion, menggunakan material soft touch dan fitur canggih seperti layar 12,8 inci, panoramic roof, dan pengaturan kursi elektrik dengan ventilasi.
- Kursi baris kedua luas dengan armrest, AC, USB A dan C, serta kemampuan maju mundur dan reclining, namun tidak tersedia konfigurasi captain seat.
- Baris ketiga cukup untuk penumpang dengan pelipatan tip and tumble, meski ruang kaki agak terbatas dan tanpa colokan USB.
- Varian PHV menggunakan mesin bensin 1500 cc dipadukan motor listrik dan baterai 20-an kWh, dengan jarak tempuh hingga 1.000 km dan transmisi DHT.
- Varian EV lebih responsif dan hening dengan torsi 300 Nm, meski bodi cukup besar sekitar 4,7 meter.
- Handling cukup stabil dengan suspensi agak kaku di belakang, radius putar sesuai ukuran, cocok untuk jalanan Indonesia.
Chapters
- 00:00Pengenalan Wuling Axion sebagai SUV alternatif Darion
- 00:53Perbedaan desain depan antara varian PHV dan EV
- 02:04Desain eksterior belakang dan aksen chrome
- 02:56Perbedaan pelek antara varian PHV dan EV
- 03:54Bagasi elektrik dan konfigurasi kursi
- 04:52Desain interior dan fitur utama
- 05:36Fitur pengaturan dan kenyamanan kabin
- 06:32Kursi baris kedua dan ketiga serta kenyamanan
- 09:27Spesifikasi mesin PHV dan jarak tempuh
- 10:34Performa dan handling varian EV dan PHV
Full Transcript — Download SRT & Markdown
Speaker A
Kalian tertarik sama Woling Darion, tapi mobilnya gede banget, 4,9 m, gak muat di garasi kalian. Dan lagi-lagi Darion MPV dia ground clearance-nya cenderung lebih rendah. Tapi Woling punya alternatif satu lagi, bukan Darion tapi Axion. Ini adalah versi SUV dari Woling Darion.
Speaker A
Dia punya ground clearance lebih tinggi dan secara dimensi dia sedikit lebih kecil atau sedikit lebih pendek.
Speaker A
Kayaknya paling cocok untuk pasar Indonesia. Detail seperti apa? Kita cari tahu. Langsung kita bahas yang paling unik dari si Axion ini adalah bagian eksteriornya. Dan yang paling gua suka sebenarnya di antara dua mobil ini, kebetulan di sesi ini kita punya dua
Speaker A
varian. Yang satu varian EV-nya atau full electric vehicle, yang satu lagi varian PHV-nya. Tapi gua pribadi gua lebih suka varian PHV-nya. Kenapa?
Speaker A
Depannya beda. Bukan beda desainnya ya, tapi beda dia grillnya dikasih lubang-lubang untuk pendinginan radiatornya. Sedangkan versi EV-nya semuanya lebih polos. Ini jadi lebih kelihatan SUV karena dia blackout semua di sini dikasih aksen-aksen lagi, jauh kelihatan lebih keker dan mengotak. Yang
Speaker A
ini tampil kayak Mitsubishi beneran loh, mirip Mitsubishi. Seriusan nih, lihat englal tuh mengingatkan gua sama fase depannya ator. Coba lihat deh yang itu juga sama mengotaknya, cuman karena dia agak polos jadi lebih kelihatan kayak EV atau kayak mobil-mobil Tiongkok EV biasanya. Untuk
Speaker A
varian yang two tone ini dia tersedia di kedua powertrain. Jadi ada yang untuk EV, ada yang untuk PHV. Cuman pilihan warnanya cuman dua. Yang ini biru bawahnya, atasnya putih. Yang satu lagi bawahnya putih, atapnya hitam. Malah sekilas mengingatkan gua sama
Speaker A
aksen-aksen mobil-mobil Eropa kayak Citroen atau Renault ini, jadi enggak Tiongkok-Tiongkok banget jujur aisanya. Kita lihat lagi. Nah, perbedaan signifikan itu dibandingin si Darion. Si Axion ini punya karakter yang lagi-lagi SUV banget. Di belakangnya dia lebih mengotak tapi enggak terlalu panjang
Speaker A
overhang belakangnya, dia cenderung lebih pendek ya. Di sini juga dia agak miring masih dia kasih aksen chrome di sini yang gua pribadi bukan selera gua karena agak chip ya. Kalau menurut gua di sininya cuman bagian ke belakangnya sini jauh
Speaker A
lebih proporsional dibandingin si Darion. Ya, sekarang kita lihat detailnya. Lampunya sebenarnya sama siluet sininya percase banget sama si Darion. Si Axion ini untungnya kalau menurut gua ya, kalau Darion dia kelihatan MPV yang mengotak. Kalau dia karena dia punya stand kelihatan
Speaker A
kotaknya ini malah lebih kelihatan jadi proporsional. Detail lampunya bagus ya. Di sini kayak ada aksen chrome-nya, ada detail lampu sini. Proyektornya juga di sini. Layering-nya sih cukup bagus dan kalau kita geser ke sampingnya, profilnya lagi-lagi sama persis sama
Speaker A
saudaranya yang MPV. Agak apa ya? Kayak dipotong gitu loh. Wheel arch-nya tebal, gede. Bannya sendiri dipakai ukuran 18 inci, peleknya tuton gini. Dia profilnya 215/55.
Speaker A
Nah, perbedaan signifikan antara si versi PHV dengan versi EV-nya ada di pelegnya. Jadi kalau PHV desain pelegnya seperti ini, yang EV desainnya lebih apa ya? Lebih membumi, lebih elegan. Ukuran bannya sendiri masih sama. Di bagian belakangnya penggunaan lampu yang sama
Speaker A
dengan si Darion. Tapi untungnya lagi-lagi profilnya dia bikin beda khas SUV karena dia cenderung tinggi ya.
Speaker A
Atasnya juga tinggi. Tulisan Axion dan PHV-nya juga ditaruh di sini. Dan Axion-nya itu bukan EX ii Oon atau AT ION. Bukan Axion bukan. Tapi Axion Explore Indonesia. Jadi uniknya yang gua mau highlight ya kecuali Bingo ya, Woling itu selalu punya nama-nama yang
Speaker A
berbau Indonesia. Almas, eh Convero, Darion, Axion, Cortes. Udiklah. Jadi enggak kayak merek Tiongkok. Oh ya, untuk eksteriornya ada tambahan sedikit di sini. Lubangnya benar-benar bisa buat ventilasi ke arah ban atau mendinginkan bagian ban atau bagian pengereman. Jadi enggak cuman gimik-gimik doang ya,
Speaker A
dibikin aksen seperti ini. Bagus. Oke, cukup detailnya. Sekarang kita lihat bagian bagasinya. Dia sudah elektrik.
Speaker A
Kak. Uh, lumayan juga. Lagi-lagi konfigurasinya tiga baris ya. Dia punya 1 2 3 baris sampai bagian belakang bisa dilipat flat. Kalau kalian lihat sini ya, dia bisa dilipat flat. Bahkan kalau dilipat flat gini kalian bisa naruh satu golf bag di sebelah sini, satu koper dan
Speaker A
masih bisa duduk di sebelah sini. Jadi practicality-nya sebenarnya biarpun secara dimensi dia lebih kecil daripada Darion, tapi ini sih lebih dari cukup ya. Apalagi kalau buat jalan jauh. Oke, sekarang kita masuk ke dalam interiornya si Axion.
Speaker A
Secara desain sebagian besar gua berani ngomong ini mirip banget sama Darion. Yang gua notice perbedaan paling utama adalah di kisi-kisi AC-nya. Dia desainnya cenderung lebih apa ya mengotak, lebih berdiri, lebih keker karena sesuai dengan trahnya dia sebagai sebuah SUV. Tapi sisanya detail-detail
Speaker A
seperti layarnya, dashboard-nya, detail-detail kisi-kisi AC di sini, center konsolnya, itu semua bahkan sampai setirnya itu semua mirip sama si Darion yang menjadi basisnya.
Speaker A
Untuk detail-detailnya juga cukup bagus ya. Di sini dia sudah pakai soft touch. Biarpun di sini masih ada plastik. Di sini soft touch. Soft touch. Soft touch juga eh sampai detail-detail di sini ya di handel-nya terus sama ada kayak
Speaker A
garnish-garnish lainnya. Sangat-sangat bagus kalau menurut gua buat ukuran mobil seperti ini. Cuman memang pemilihan material terutama baterai plastiknya masih agak sedikit chip sih kalau gua bilang. Tapi balik lagi nanti kita akan lihat harganya yang akan di launching ini nanti berapa. Apakah
Speaker A
value for money-nya nanti kita bisa lihat. Cuman kesan pertama mobil ini menurut gua tidak mengecewakan.
Speaker A
Lanjut ke detailnya lagi. Pengaturan lampu dan wipernya segala macamnya sudah auto. Di sini ada tuas transmisi. Di sini ada tombol-tombol juga ya buat audio. Buat 360 kameranya.
Speaker A
Ada wireless charging di sebelah sini, dia bisa 50 watt. Bagus. Ada tombol-tombol manual untuk AC. Masih ada di sini untuk pengaturan kipas dengan pengaturan suhunya, bagus. Benar-benar bagus. Floating center console di sebelah sini ya. Kalian bisa naruh barang-barang
Speaker A
sebelah sini. Di sini juga masih ada center console lagi yang ada ventilated-nya. Cup holder, eh apa namanya? Glove box. Di bagian atasnya kalian juga bisa menemukan panoramic roof yang gede banget. Tombol-tombol pengaturannya beserta tombol-tombol lampunya juga bisa kalian akses dari
Speaker A
sini. Untuk interior, PHV dan EV punya desain interior yang sama. Dan tambahannya lagi, kalau kalian duduk di baris pertama di bagian penumpangnya ini, pengaturannya sudah full elektrik juga. Maju mundur biarpun dia enggak bisa naik turun. Dan semua kursi di
Speaker A
baris pertama atau baris depannya ini bisa kalian atur ventilated-nya dari layar 12,8 inci-nya. Ini canggih dan nyaman.
Speaker A
Nah, sekarang kita di baris keduanya si Axion dan baris keduanya kalian lihat ya, lebar mobilnya 1,8 m lebih lebarnya. Jadi dia lebar. Di sini juga masih bisa dapetin armrest dan duduk bertiga tuh nyaman banget. Cukup banget karena dia lebar dan tebal. Di sini
Speaker A
kalian masih bisa dapatin AC, USB A dan USB C loh dapat. Dan menariknya lagi ini juga masih bisa maju mundur tuh. Plus tentu saja reclining sampai begini reclining-nya. Kisi-kisi AC kalian dapatin di sebelah atas kanan dan kirinya.
Speaker A
Cukup nih. Ini benar-benar mobil buat perjalanan jauh. Tapi sayangnya kalau dibandingin sama kakaknya MPV Si Darion, kakaknya tersedia dalam konfigurasi captain seat. Tapi si Axion ini tidak tersedia dalam konfigurasi captain seat.
Speaker A
Jadi dia seven seater murni 2 3 2. Kita lihat baris ketiganya. Kita masuk ke baris ketiganya. Pelipatan kursinya sudah tip and tumble tuh. Jadi dia bisa langsung ke situ. Jadi masuk lebih gampang ya. Ini jujur ini paling mundur. Jadi
Speaker A
kalau dilipat kejepit sih gua. Kejepit ini gua. Jadi kayaknya harus agak didorong dikit nih.
Speaker A
Tolong diaturin kameramen. Kalau gak saya kejepit kameramen. Slidingnya yang di depan. Ah, terima kasih. Nah, ini kalau dimajuin dikit. Jadi kalau dengan postur gua 174, kalau ini enggak dimajuin dikit, kaki gua sih kesiksa banget.
Speaker A
Baris ketiganya ya. Di sini.
Speaker A
kalau kalian duduknya enggak terlalu gimana-gimana banget kayak gini ini cukup. Dan sayangnya lagi di baris ketiga ini enggak ada colokan USB sama sekali. Padahal di beberapa mobil Tionkok zaman sekarang tuh udah ada.
Speaker A
Tapi kalian masih bisa dapetin kisi-kisi AC sampai baris ketiga yang bisa dikontrol dari baris kedua. Jadi enggak ada e pengontrolan sendiri ya buat trip-trip dekat-dekat sih ini lebih dari cukup baris ketiganya.
Speaker A
Nah, untuk penggeraknya sendiri dia pakai motor listrik penggerak roda depan tentu saja. Powernya 150 kW atau sekitar 2011 HP untuk si versi EV-nya ya. Dia menghasilkan torsi 310 Nm disandingkan dengan baterai sebesar 69,2 kWh dan CLTC-nya atau range-nya itu
Speaker A
konon mencapai 530 km. Kita lihat colokannya sudah AC dan DC. Dan varian corokannya sudah menggunakan CCS2.
Speaker A
Namun untuk varian PHV-nya dia pakai mesin bensin 1500 cc disandingkan dengan motor listrik dan baterai berkapasitas 20-an kWh konon range-nya bisa sampai 1000an km. Transmisinya tentu saja DHT direct hybrid transmission dan dua-duanya sudah dilengkapi dengan colokan atau charging port CCS2. Jadi
Speaker A
ngecasnya bisa cepat. Untuk ADAS-nya dia juga udah lengkap banget. Seperti biasa dia ada kamera di sini dan sensor-sensornya. lankeeping, adaptive cruise control, intelligent driving assist, forward collision warning, blind spot dan segala macam ada itu udah ada jadi standar di kedua varian, baik
Speaker A
varian EV maupun varian PGV-nya. Nah, di kesempatan first impression review kali ini juga kita dapat kesempatan buat test drive tipis-tipis si Xion ini. Gua penasaran banget karena kalau Darion itu 4,9 m gede banget. Ini cuma 4,7an meter alias lebih lincah, lebih komplek.
Speaker A
Seberapa enak nyetirnya? Yuk, kita cari tahu. Oke, sekarang kita nyobain yang EV. Seperti ini kuncinya. Sekarang mari kita coba rasanya seperti apa. Yuk, kita cari tahu.
Speaker A
Nah, begitu tadi langsung tekan gas ya dibandingin versi PNGV, versi EV ini jauh lebih w tuh jauh lebih narik gitu ya. Padahal mobilnya enggak kecil-kecil banget, 4,7an meter segede Innova. Tapi karena dia pakai power trend EV yang torsinya gede 300-an Nm, jadi jauh lebih
Speaker A
responsif. Tuh, suspensinya gimana? Impresi suspensinya jujur aja enggak sampai kerasa-kerasa banget ya. Di sini sih dia anteng-anteng aja. Cuman ya sama seperti versi PV-nya. Gua ada komplain sedikit soal setirnya. Setirnya agak blend banget. Enggak enggak terlalu akurasinya, enggak terlalu gimana-gimana
Speaker A
banget tuh. dia agak lambat responnya, tapi balik lagi buat jalanan dalam kota jadinya ini jauh lebih aksesible buat orang-orang. Jadi, kasarnya ibu-ibu juga nyetir ini enggak terlalu susah gitu kan ibaratnya.
Speaker A
Oke, di sini turunan kita disuruh nyobain auto vehicle hold-nya. Jadi auto vehicle hold-nya bisa buat turunan kayak gini nih. Kita tahan sampai dia nyala terus kita lepas. Dia masih nahan bentar baru kita gas lagi baru dia jalan. Tuh,
Speaker A
tuh. Dan depan sini ada polisi tidur ya dikit ya. Nih kita rasain bantingannya. Oke. Oh, sebenarnya sih agak kaku ya belakangannya sih. Sebenarnya enggak empuk-empuk banget. Tapi di satu titik menurut gua itu jadi lebih bagus buat stabilitas. Gua benar-benar penasaran
Speaker A
banget nih kalau mobil ini nanti dibawa keluar seperti apa feel-nya. Kalau di dalam sini kita test drive lapangan parkir kayak gini ya enggak terlalu kerasa banget tuh. Ke depan bagus ya.
Speaker A
Bahkan di jalanan kayak gini biasanya wungngung di sini enggak enggak kedengaran sama sekali. Lagi-lagi karena ini varian EV yang jauh lebih kedap dan enggak ada engine-nya.
Speaker A
Oke, kita naik. Ini bisa kalian rem dikit nih biar afh-nya nyala lagi. Tuh, begitu dilepas dia langsung bisa lagi wit. Dia malah nyepin karena ketahan. Oke, kita belok. Nah, di sini pentingnya mobil dengan ukuran yang pas untuk pasar Indonesia. Karena
Speaker A
jalanan kita kan enggak gede ya, bener deh. Jadi, mobil dengan ukuran 4,7 m seperti ini menurut gua tuh kayak udah ukuran maksimum untuk pasar Indonesia.
Speaker A
masih gampang di manuability-nya. Nah, di sini kita juga e diminta mencoba kamera 360-nya gitu kan. Jadi dengan begini kita nyalakan kameranya, kita akan dapat parkir paralelnya seperti itu. Kita udah langsung bisa lihat seperti apa h. Biarpun gua enggak
Speaker A
bisa, ternyata gua enggak lulus kuliah ini. Kuliah les setirnya. kayaknya gua enggak lulus deh.
Speaker A
Enggak sih, cuman gara-gara dia kurang miring aja tadi. H. Nah, tuh dia langsung bisa kelihatan sejauh apa atau kondisi di sekitar mobil ini seperti apa. Tuh, jadi jauh lebih gampang tuh manuvarability-nya. Jadi jauh lebih gampang ya kan? Oke, kalau
Speaker A
udah selesai kita mundur. Lagi-lagi gua masih bisa ngelihat K di belakangnya seperti ini. Dan kita maju.
Speaker A
Nah, ini enaknya nih. Mobil dengan size segini ini tuh buat keluarnya tempat parkir itu enggak sulit tuh. Kan udah langsung kita keluarnya tempat parkir dengan gampang. Padahal ini kayak cuman space-nya enggak gede-gede banget. Ini yang gua kangenin dari mobil-mobil
Speaker A
dengan form facttor sebesar ini. Oke, lanjut. Di depan kita ada U-turn. Kita buktikan bahwa size dust meter.
Speaker A
Tuh, lihat di depan pada muter-muter balik dan ada selalum dikit. Kita lihat entar selalumnya seperti apa. Yang enggak bisa kencang-kencang banget sih sebenarnya.
Speaker A
Tapi tuh nih nih nih depan kita nih. Biarkan dia dulu yang muter. Tuh, kira-kira seperti itu radius putarnya si Axion.
Speaker A
Ah, kita ambil langsung. Tuh, gua sekali ngambil doang tuh. Dapat dong, Wi. Nice, nice, nice. Dapat dong, asli dapat itu. Nah, kita salum sedikit ya. Gua punya masalah dengan setirnya jujur aja. Setirnya agak responnya enggak terlalu yang seperti yang gua
Speaker A
harapkan. Ya, biarin konnya gua hajar. Oke. Tuh. Bantingannya juga cukup lah ya. Intinya sih dari first drive kita ini di lapangan parkir ini, gua sih ngerasa si Xion ini punya apa ya namanya ya? Punya modal yang lebih dari cukup
Speaker A
buat bertarung di pasar Indonesia. Asal pricing-nya nanti pas di segmennya. Dan tadi juga gua sempat cobain yang varian PHV-nya. Driving dynamicnya enggak beda jauh dengan si versi EV-nya.
Speaker A
Cuman lagi-lagi versi EV lebih hening, lebih responsif dibandingin versi PNGV-nya yang masih mengadopsi mesin bensin.
Speaker A
Oke, sekarang kita sampai pada kesimpulannya first impression dan mini drive si Woling Axion. Jadi, mobil ini menawarkan sesuatu yang berbeda dari kakaknya si Darion. Kalau Darion tampil dalam bentuk MPV yang besar, dia tampil dalam bentuk SUV yang jauh lebih komact,
Speaker A
mid SUV yang jauh lebih aksisible untuk jalanan Indonesia. Feature-feature-nya juga enggak ada masalah sama sekali. Dia feature-nya sudah lengkap, adasnya segala macam lengkap dan range maupun baterai maupun PSV-nya juga mirip dengan si Darion. Balik lagi, harga pada saat
Speaker A
video ini dibuat belum ada, tapi gua punya harapan bahwa ini harganya harusnya terjangkau biar banyak orang yang bisa mengakses mobil ini. Karena mengingat balik lagi ya, di kelas segmen mid SUV di Indonesia saat ini yang EV 7 seater itu enggak ada lawannya. Jadi di
Speaker A
celah situkah Wooling action ini bisa main. Oke, mungkin sekian kesimpulan kali ini. Thank you sudah nonton. Kalau kalian suka video ini, klik like, subscribe, tekan tombol lonceng untuk tahu video-video terbaru dari Autonet Mix. Audi Sign dari Top Golf Pat. Bye
Speaker A
bye.
Topics:Wuling AxionSUV plug-in hybridmobil listrik IndonesiaWuling Darionmobil keluargamobil 7 penumpangmobil hybridreview mobil Indonesiamobil listrikAutonetMagz











