Perbandingan Toyota Fortuner 2.8 diesel dan Hyundai Santa Fe hybrid dari segi mesin, fitur, dan efisiensi bahan bakar di ekonomi saat ini.
Key Takeaways
- Mesin diesel Fortuner 2.8 GD masih unggul dalam tenaga dan torsi dibanding mesin diesel Hyundai 2200 cc sebelumnya.
- Santa Fe bertransformasi ke mesin hybrid turbo yang lebih efisien dan bertenaga untuk penggunaan urban.
- Harga bahan bakar yang tinggi membuat efisiensi mesin hybrid Santa Fe menjadi pertimbangan penting.
- Dimensi dan desain kedua mobil menunjukkan perbedaan fungsi dan target pasar yang jelas.
- Perbandingan performa dan biaya operasional menjadi kunci dalam memilih antara Fortuner diesel dan Santa Fe hybrid.
What the video covers
- Santa Fe dulu dikenal dengan mesin diesel halus dan irit, kini beralih ke mesin hybrid 1500 cc turbo.
- Fortuner menggunakan mesin diesel 2.8 GD yang bertenaga dan tangguh, cocok untuk medan berat.
- Santa Fe hybrid menawarkan tenaga total 235 PS dengan penggerak roda depan dan transmisi 6 percepatan.
- Perbedaan harga signifikan antara Fortuner dan Santa Fe, dengan Santa Fe lebih mahal.
- Dimensi Santa Fe lebih besar dari Fortuner, namun Fortuner lebih tinggi dan memiliki ground clearance lebih besar.
- Santa Fe lebih cocok untuk penggunaan perkotaan dan keluarga, Fortuner untuk medan berat dan kerja.
- Perbandingan performa dan konsumsi bahan bakar dilakukan dengan harga BBM terbaru Juni 2026.
- Video juga membahas detail fitur cuci mobil menggunakan mesin HL Premiere QL2750 dan keunggulannya.
- Desain eksterior kedua mobil sangat berbeda, Fortuner lebih SUV klasik, Santa Fe lebih modern dan kontemporer.
- Kesimpulan utama adalah apakah pergantian mesin diesel ke hybrid pada Santa Fe sudah tepat di kondisi ekonomi saat ini.
Chapters
- 00:00Perbandingan Mesin Diesel dan Hybrid Santa Fe dan Fortuner
- 03:40Demo Mesin HL Premiere QL2750 untuk Cuci Mobil
- 07:28Desain dan Dimensi Eksterior Fortuner dan Santa Fe
- 10:28Spesifikasi Mesin dan Performa Santa Fe Hybrid
- 12:59Perbandingan Konsumsi BBM dan Harga BBM Juni 2026
- 18:41Kesimpulan dan Analisis Pilihan Mesin Diesel vs Hybrid
Full Transcript — Download SRT & Markdown
Speaker A
Hybrid versus diesel. Yes. Jadi kalau kalian balik ke 10-15 tahun lalu ya, Santa Fe itu selalu menghadirkan harga yang sedikit lebih tinggi, fitur lebih banyak, kenyamanan lebih baik, dan mesin diesel yang lebih bagus. Yes, mesin 2.8 GD atau 4N15 yang dimiliki sama Pajero Sport dibandingkan dengan mesin diesel Hyundai 2200 cc yang dipakai di Santa Fe, Palisade sama Staria. Ah, kayak beda generasi. Dan ternyata pas kita pakai juga, gue pertama kali punya Santa Fe 2016 itu emobil tahun 2013 ya. Itu gue cinta banget sama mesinnya karena dia halus sekali ya. Getaran mesinnya halus, suara mesinnya halus. Udah gitu dia irit bertenaga. Tapi memang kalau kita lihat angkanya sekarang 2.800-nya 1 GD jelas lebih bertenaga, torsi lebih gede. Tapi power delivery-nya tetap enggak sesmooth mesin 2200 cc-nya Hyundai diesel ya. Event di Palisade gue masih ada ya. Tapi tiba-tiba cger Santa Fe terbaru keluar ya. Mesinnya berubah udah enggak pakai diesel lagi.
Speaker A
Pakainya apa? Mesin 1500 cc turbo hybrid yang membuat Santa Fe ini udah berbeda banget sama Santa Fe diesel sebelumnya.
Speaker A
Jadi enggak cuma beda body, mesin, powertrain, semuanya beda. Nah, sekarang pertanyaannya apakah langkah yang diambil benar dia mengganti mesin diesel menjadi mesin hybrid? Ya. Dan di 2026 ini harga Pertamax sekarang sudah 16.250, 50 per tanggal 11 Juni dan harga Pertamina Dex sekarang jadi 24.800. Jadi bedanya 8.000 per liter ya hampir 9.000 per liter. Nah kita akan adu. Tapi ini bukan cuma sekedar adu mobil. Kita adu bagaimana mesinnya dan kesimpulannya apakah Hyundai sudah benar mengganti mesin dieselnya menjadi mesin hybrid. Tapi
Speaker A
sebelumnya iklan dulu lewat. Dia mundur mundur [berteriak] [musik] nah masih di dua nih dan kali ini kita pakai Asia gini kita biasanya kalau mobil semakin disponsori oleh mesin H. Jadi karena mobil ini kotor banget baru sampai dari Jakarta, kita mau cuci dulu sebelum kita
Speaker A
bikin video. Nah, kita cucinya pakai ini. Mesin HL Premiere QL2750 True Detailer. Karena ini emang dibuat untuk kalian para profesional yang mungkin punya tempat cucian mobil ya kan cuci karpet atau apapun itu yang membutuhkan mesin tekanan tinggi. Dia
Speaker A
punya empat buah nozzle mulai dari yang paling kencang sampai yang paling lebar dan tekanannya itu besar sekali sampai 120 bar flow-nya itu 540 L/ Dan sekuat ini juga harus dipadu dengan selang yang kuat. Ini selang bukan selang biasa.
Speaker A
Tekanan maksimalnya sampai 150 bar dan ini juga panjang sekali sampai 15 m. Dan ini udah kita tes diinjak-injek sama mobil itu enggak masalah. Enggak bikin dia jadi bocor. Keren ya. Yuk, kita langsung sepert aja. Kita pakai nozzle ini yang paling lebar, yang paling
Speaker A
lembut ya. Saking kencangnya kita pakai nozzle yang paling ringan aja ya. Ini kita giniin terus.
Speaker A
Hah. Taruh sini. Terbang. Terbang dia saking kencangnya. Tuh bisa terbang seperti ini saking kencangnya semburannya dia juga udah otomatis sama suaranya untuk sebuah mesin kelas profesional dia sangat-sangat silent dan tentu saja bodinya dia sudah anti air seperti itu. Nah, ganti nozzle-nya juga
Speaker A
gampang banget. Tinggal kita tekan di sini ya. Taruh. Kita pakai yang hijau dah. Sudah kita biarkan sabunnya bekerja selama kurang lebih 1 menit. Sekarang langsung kita bilas saja.
Speaker A
Ini Santa Fe tuh ada ginian ya. Kita bisa masukin tangan naik ke atas. Nah, setelah atasnya bersih baru kita yang bawahnya.
Speaker A
Dan mengingatkan juga buat teman-teman, mesin HL juga bukan mesin [musik] semprot doang, tapi dia ada hand tools seperti ini, ada power tools, dan yang paling gue suka adalah ini nih, automatic T repair kit. Jadi buat teman-teman yang mobilnya belum pakai
Speaker A
ini repair kit ya, kalau misalkan kurang angin bisa ditambahin dan buat menambalnya juga ada dari sananya terutama hand tools kayak gini ya. Dia tuh [musik] punya garansi slack ganti baru. Jadi ini sekali bisa dipakai buat selamanya.
Speaker A
Jadi memang kedua mobil [musik] ini tuh beda kelas dan beda peruntukan apalagi kalau kita lihat harganya. Fortuner startingnya Rp584.500.500 untuk yang tipe G [musik] dan yang tipe paling tinggi yaitu GR Sport 4x4 harganya Rp789.600.000.
Speaker A
Nah, Santa Fe sendiri harga startingnya Rp739.300 dan tipe yang kita pinjam ini adalah Santa XRT dengan harga Rp932.400.000.
Speaker A
Artinya harganya udah beda ratusan jutaan dan [musik] juga harga Fortuner GR Sport tertinggi itu udah kayak harga Santa Fe yang paling murahnya. Tapi enggak apa-apalah karena sebenarnya yang ingin kita tonjolkan adalah apakah benar Santa Fe berubah dari [musik] diesel ke hybrid.
Speaker A
Nah, makanya itu kita adu dengan mobil yang memiliki mesin diesel terbaik untuk saat ini. Nah, Toyota Fortuner diesel dengan mesin 1GD-nya [musik] bisa dibilang ini mesin terbaik deh yang bisa kalian beli untuk mobil diesel sekarang.
Speaker A
Udah gitu, mesin ini juga terkenal tangguh dan punya reliability yang sangat bagus untuk mesin diesel.
Speaker A
Ngomongin eksterior, jelas keduanya kelihatan banget bedanya. Yang satu ladder frame, yang satu monocoque. Kalau kita ngelihat Fortuner itu kesannya emang SUV banget, ground clearance-nya tinggi. Udah gitu [musik] gap antara roda ke body itu juga jauh ya. Jadi kalau misalkan kita mau ganti ban MT itu
Speaker A
bisa banget harusnya di mobil ini. Dan mobil ini sebenarnya udah dari tahun 2016. Desainnya masih terlihat keren dan proporsional. Bahkan kalau misalkan kalian sekarang ke showroom sekarang udah punya model baru lagi dan ada Fortuner GR Sport yang desainnya jadi
Speaker A
ganteng banget. Sekarang kita ke Santa Fe dan kelihatan ya Santa Fe ini langsung terasa pendek [musik] dibandingkan dengan Fortuner.
Speaker A
Tapi kesan boxing-nya keren. Jadi kelihatannya outdoor ready banget gitu. Tapi memang desain belakangnya menurut gue kontroversi sih. [musik] Ada yang suka, ada yang gak suka. Beda sama Fortuner yang dilihat dari berbagai macam sisi itu mudah dicerna sama mata.
Speaker A
Kalau Santa Fe ini depannya keren, sampingnya keren, belakangnya hmm. Kalau kalian suka apa enggak, coba komen di bawah.
Speaker A
Tapi sebenarnya Santa Fe itu lebih gede loh dibandingkan dengan Fortuner. Panjangnya 4,83 m. Kalau Fortuner 4,795 m, wheelbase-nya 2,815 m, sedangkan Fortuner 2,745 m. Begitu pula juga dengan lebarnya. Santa Fe itu 1,9 m, sedangkan Fortuner 1,855 m. Jadi, sebenarnya Fortuner itu lebih kecil
Speaker A
dibandingkan dengan Santa Fe. Tapi kalau kita ngomongin soal tinggi, nah jelas Fortuner unggul karena dia 1835 mm tingginya dan ground clearance-nya 225 mm. Sedangkan Santa Fe dia lebih pendek.
Speaker A
Tingginya 1770 mm dan ground clearance-nya 176 mm saja. Jadi, sudah jelas dari dimensi dan desain Fortuner itu emang untuk medan berat, bisa dipakai buat kerja dan Santa Fe ini emang lebih diperuntukkan buat perkotaan, tapi tetap bisa dipakai outdoor sama keluarga.
Speaker A
Pertama kita start dari Santa Fe hybrid. Bayangin dari 2200 cc diesel sekarang jadi 1600 cc turbo hybrid. Tenaga mesinnya 180 PS doang ya dan tenaga total gabungan jadi 235 PS. 0 ke 100 diklaim hanya dalam waktu 8 detik saja.
Speaker A
Kencang ya. Dan dia penggeraknya front wheel drive, transmisinya enam percepatan. Dan kalau kita lihat dekat sini ya, karena dia hybrid, dia ada dua pendingin. Yang satu untuk pendingin mesin listriknya, yang satu lagi untuk pendinginan mesinnya. Jadi di sini ada
Speaker A
dua reservoir ya untuk radiator dipisah sama dia. Dan ini setup yang gue lebih suka dibandingkan dengan CR-V punya yang dia pakai mesin 2000 cc hybrid ya, enggak pakai turbo. Kenapa? Karena kalau kita lihat Zenix sama CR-V yang sama-sama
Speaker A
pakai mesin naturally aspirated enggak pakai turbo untuk 0 ke 100 dia tarikannya mantap kencang gitu kan.
Speaker A
Namanya juga motor listrik kerja di bawah tuh cepat. Tapi ketika di atas 100 km/h di situlah mulai terasa tenaganya underpower. Jadi di atas 100 kita mau nyalip mobil depan kita kencang. Nah, kalau enggak pakai turbo tenaganya begini langsung berasa kayak 2000 cc
Speaker A
biasa. Nggak terasa seperti mobil yang harganya segitu. Even kalau kita lihat CR-V yang hybrid sama yang turbo.
Speaker A
Ketika di atas 100 km/h lebih enak CR-V turbo dibandingkan dengan CR-V yang hybrid karena 2000 cc doang. Nah, yang ini karena dia 1500 cc turbo ya, tenaganya lumayan 180 PS.
Speaker A
pakai mesin naturally aspirated enggak pakai turbo untuk 0 ke 100 dia tarikannya mantap kencang gitu kan.
Speaker A
Namanya juga motor listrik kerja di bawah tuh cepat. Tapi ketika di atas 100 km/h di situlah mulai terasa tenaganya underper. Jadi di atas 100 kita mau nyalip mobil depan kita kencang. Nah, kalau enggak pakai turbo tenaganya begini langsung berasa kayak 2000 cc
Speaker A
biasa. Na enggak terasa seperti mobil yang harganya segitu. Even kalau kita lihat CRV yang hybrid sama yang turbo.
Speaker A
Ketika di atas 100 km/h lebih enak CRV turbo dibandingkan dengan CRV yang hybrid karena 2000 cc doang. Nah, yang ini karena dia 1500 cc turbo ya, tenaganya lumayan 180 PS. Enggak gede-gede amat sebenarnya untuk mesin turbo, cuman ketika dipakai di kecepatan
Speaker A
tinggi ini lebih berasa dan juga baterainya lumayan gede. Biasanya kalau beberapa mobil di Jepangan, hybrid-nya itu di bawah eh 1 kWh yang ini 1,67 kWh.
Speaker A
Jadi baterai lumayan besar dan garansinya 8 tahun atau 160.000 km. Jadi in terms of power train ini berbeda total dengan Santa Fe. Model sebelumnya pakai diesel. Terus untuk servis, mobil hybrid lebih mahal dong dibandingkan dengan mobil bensin? Ternyata enggak
Speaker A
juga. Gua tanya sama ke Hyundai Ciputat, Om Nirwan ya. E karena gua biasanya kalau servis ke sana nanya-nanyanya [mendengus] itu 3 tahun pertama servisnya gratis atau 60.000 km.
Speaker A
Kemudian tiap kelipatan 15.000 km itu sekitar R1,7 juta dengan kurs sekarang ya dan harga oli sekarang. Mungkin kalau ke depan harga oli naik lagi akan naik ya. itu di luar dari yang lain-lain.
Speaker A
Kalau misalkan ada kerusakan di misalkan di kapas remestiganti atau semacamnya. Tapi kalau untuk perawatan mesin sekitar 1,7 per 15.000 km. Nah, sekarang kita cek ke Fortuner. Tenaganya dibandingkan dengan yang 2.400 cc naiknya lumayan.
Speaker A
Yang 2.400 cc itu 150 PS ya. Yang ini jadi 204 PS dan torsinya 500 Nm. Artinya sekarang dia adalah mesin diesel dengan tenaga terbesar ya. Tapi jangan dibandingin sama Ford Everest atau Ford Ranger yang diesel yang tenaganya lebih
Speaker A
gede lagi. Untuk harga Rp00 jutaan ini tenaganya besar sekali bahkan melebihi Mitsubishi Pajero Sport. Tapi ada plus minusnya antara yang 24 yang lama ya sama yang 28 ini ya. 24nya juga masih dijual. Jadi yang 2800 cc ini dia
Speaker A
injektornya berbeda dan hanya bisa diisi sama Dex ya. Bahkan ee waktu kalian beli pertama kali itu kalau enggak salah masih enggak ya dulu pernah heboh kan disuruh tanda tangan bahwa hanya boleh isi Pertamina Dex, enggak boleh BBM yang
Speaker A
lain yang sulfurnya lebih rendah. Kenapa? Karena kalau injektornya kena, harganya pertama mahal. Tapi bukan cuma harganya yang mahal, enggak semua bengkel mau betulin. Ya, kenapa? Karena kalau mau copot si injektornya itu luar biasa susah.
Speaker A
Kalian cari aja di itu copot injector Fortuner 1GD. Udah abangnya naik ke atas. Duar duar. Jadi kalau pakai yang 2800 cc isi DEX aja, jangan isi solar.
Speaker A
Takutnya nanti oh tahun-tahun pertama masih aman, tahun berikutnya juga ya begitulah. Dan garansi pun juga hangus kalau kalian isi solar atau dexlite.
Speaker A
Jadi, makanya Fortuner yang sama-sama generasi ini ya, yang tahun 2016 sampai 2020 itu masih banyak peminatnya juga karena masih bisa diisi biosolar kalau kalian mau antri. Terus lanjut ya, ini mobil sebenarnya secara rancang bangun itu dibikin untuk durability, untuk
Speaker A
workhse, untuk kerja ya. Jadi platformnya sama IMV, sama kayak Hilux ya. Emang mobil bukan cari kenyamanan, tapi untuk kerja, untuk offroad berat ya untuk di pertambangan kayak misalkan contoh mobil ini masih menggunakan kipas dari Visco Fan bukan pakai electric fan.
Speaker A
Jadi kipasnya ini itu digerakin sama mesin dari krank diputar dia ngek gitu otomatis electric fan-nya enggak akan fail. Itu kayak mobil-mobil zaman dulu itu masih pada Visco fan ya, kipasnya diputerin sama mesin. Cuma mobil sekarang udah jarang yang kayak gitu.
Speaker A
Kenapa? Karena enggak efisien ya mesinnya harus gerakin kipas lagi. Udah gitu juga power steeringnya masih pakai hidrolik ya. Jadi kalau kita pakai itu setirnya masih berat ya. Oh berarti setirnya berat fun to drive dong. Enggak juga karena didesain bukan untuk fun to
Speaker A
drive, didesain untuk durability ya. Jadi kalau electric power steering itu kelemahannya biasanya setirnya agak oblak tuh steering ra listrik di and pinion-nya bebannya bertambah. Tapi kalau hidrolik dia enggak. Biasanya masalahnya adalah kebocoran ya. Jadi bisa diservis, ganti-ganti seal-nya aja
Speaker A
udah bisa jalan lagi. Dan kelemahannya juga dia sebenarnya ada versi yang GR yang paling tinggi ya, ada TSS-nya, Toyota Safety Sense yang bilangnya udah bisa sampai nyetir sendiri. Tapi sebenarnya enggak karena setirnya dia enggak bisa belok. Jadi kalau kita pakai
Speaker A
mobil ini yang versi ada TSS-nya, jalan di tol terus kita keluar dari jalur dia kan ngetengahin sendiri dia pakai rem jadi kayak tank belok tahu enggak? Kalau tank belok kan misalkan mau belok kanan nih yang kanannya direm sama dia biar
Speaker A
jadi muter. Nah, ini juga sama akhirnya apa? Enggak smooth dan enggak kepakai menurut gua. Jadi kalau misalkan dia mau bikin TSS yang benar, dia harus ganti sama electronic power steering biar beloknya itu pakai komputer dan pakai motor listrik. enggak pakai rem ya, jadi
Speaker A
kurang nyaman. Dan enggak cuma itu, pas lagi jalan kita keluar dia mau ketengahin sendiri, kecepatannya nurun.
Speaker A
Beda sama yang udah pakai electric power steering. Jadi emang secara perekatnya beda. Dan untuk servis, mobil diesel biasanya memang lebih mahal. Tapi ya sama kayak Yande, dia udah termasuk pakai tiker kalau kalian beli. Jadi kalau misalkan kita beli Fortuner 28 ya
Speaker A
gratis 3 tahun atau 60.000 km. Dan kalau misalkan free service sudah selesai, dia servisnya per 10.000 km. Nah, tiap 10.000 km itu biayanya untuk oli dan kawan-kawannya sekitar 3,1 juta. Ya, gua udah nanya ke Toyota Nasmoko, keluarnya angka segitu. Jadi, servisnya hampir dua
Speaker A
kali lipat dari Santafe hybrid. Tapi tergantung biasanya kalau udah di atas.000 1000 km itu baik Santafe atau Paliset atau Paliset atau Fortuner ya biasanya udah banyak item-item lain ya kayak misalkan part kkai kaki lah e shock breaker lah atau dari mesin ada eh
Speaker A
air filternya dan kawan-kawan itu suka ada plus-plin tadi. Jadi memang secara mesin Toyota memang dibuat untuk kerja untuk medan berat dan durability-nya sudah terbukti.
Speaker A
Sedangkan untuk Hyundai dengan mesin hybridnya sudah jelas Hyundai lebih mengutamakan efisiensi dan ramah lingkungan. Tapi ternyata mesin ini juga kencang, hanya saja hanya tersedia dalam pilihan front wheel drive yang all wheel drive-nya enggak masuk ke Indonesia.
Speaker A
Santafe hybrid ini itu enggak usah diadu dengan Fortuner ya, dibandingkan dengan mobil di kelasnya kayak let's say CRV Xtrail atau mobil Cina sekalipun yang fiturnya banyak dan kelihatan mewah empuk-umpukan. Ini interiornya menurut gua perfect ya. Jarang-jarang mobil interior warna hitam itu bisa dipandang
Speaker A
mata itu mewah gitu ya, bagus ya. Dan yang gua suka adalah dia ini meskipun layarnya besar, banyak kontrol yang bisa dilakukan dari layar ini. Dia tetap banyak tombol-tombol fisik yang kalau kita pakai itu benar-benar mudah gitu.
Speaker A
Jadi nih lihat nih AC-nya ada tombol fisik meskipun di sini kapasitif ya sampai ke kanan pun juga semuanya rameai sama tombol-tombol. Jadi kita enggak usah pusing kalau kita mau atur-atur ini. Jadi untuk atur-atur di mobil itu tuh gampang ya. Dan kalau misalkan kita
Speaker A
pengin atur yang lebih advance, yang enggak kita buka tiap hari, itu semuanya ada di layar. Gampang. Udah gitu kepraktisannya ini juga bagus banget ya.
Speaker A
Ini storage-nya banyak sekali ya. Dari di atas sini, di sini, di sini. Bawah ada lagi wireless charging-nya juga ada dua. Ada UVC-nya juga buat bersihin dan sampai ke belakang pun juga bagus. Dan kalau kita ngomongin kelegaan, kursi tengah, kursi belakang, atasnya juga ada
Speaker A
sunroof double kayak gini, emang benar-benar dibandingkan dengan Santafe sebelumnya ini naik kelasnya jauh ya.
Speaker A
Jadi kalau kita bandingin sama Fortuner seperti yang gua bilang tadi ke banting. Untuk akomodasi tengahnya dia lebih lega dibandingkan dengan Fortuner. Udah gitu kursi tengahnya juga sudah elektrik, ada zero gravity seat-nya juga. Nah, kalau untuk di belakang dia juga lebih regak
Speaker A
sebenarnya dari Fortuner. Tapi sayangnya untuk AC-nya dia enggak taruh di plafon, taruhnya di samping seperti ini ya. Pas kita masuk ke dalam Fortuner itu langsung beda nuansanya ya. Starter mesinnya masih terasa geter ya, suaranya berisik ya. Dan getaran mesinnya pun
Speaker A
juga masih berasa ya. Ini kita pegang tangan ya di setir, kaki ya sampai ke kursi. Ini masih berasa.
Speaker A
Cuma kalau dibandingin dengan mesin 2KD yang lama jelas ini udah lebih bagus, lebih kedap ya. Tapi tetap aja masih terasa terasa banget mesinnya. Kalau yang santap itu udah masuk nyalain. Kita sampai enggak tahu ini udah nyala apa belum sih kecuali dari meter display
Speaker A
clusternya yang udah nyala full. Dan kalau kita lihat interiornya seperti yang gua bilang tadi, ini benar-benar beda kelas. Udah gitu juga kita lihat desainnya juga masih klasik banget.
Speaker A
Terus rem tangan juga masih pakai model yang seperti ini ya. Ee bagus dong berarti buat offroad apa dan kawan-kawan pakai rem tangan yang bukan elektronic parking brake. Tapi menurut gua sih enggak juga karena eh lineand cruiser udah pakai elektronic parking brake kok.
Speaker A
Kan dibuat juga buat ee offroad ya. Terus juga kulit yang dipakai mulai dari kursi sama setir itu juga rasanya beda kelas ya. itu belum kita ngomongin fitur dan kawan-kawannya. Terus kalau kita ngomongin space tengah, space belakang, oh jelas Santa Fe lebih besar. Dan
Speaker A
ngomongin kepraktisan, tempat-tempat penyimpanan ini pun juga kalah dibandingkan dengan Santafe. Makanya gua bilang kita membandingkan Santafe sama Fortuner 28 itu agak sedikit enggak tega karena terasa banget perbedaan kelasnya ya. Mungkin kalau gua kasih yang tadi nilai itu 9,5 lah ya. ini mungkin
Speaker A
lima kali. Kalau untuk Fortuner memang bagian tengahnya dia enggak selega Hyundai Santa Fe. Dan untuk Fortuner ini di bagian tengahnya kita dapat entertainment yang ditaruh di atas plafon sini. Kalau yang versi terbaru dia sudah terhubung dengan T in touch.
Speaker A
Jadi bisa dipakai buat internetan. Kalau untuk di bagian belakang dia enggak selega Santafe sih dan kepala sama kaki agak sedikit mentok. Untungnya kita dapat AC di bagian plafon. Jadi terlihat lebih mewah bukan dari samping.
Speaker A
[musik] Terus kalau ngomongin fitur dia juga beda ya, tapi dia punya beberapa kesamaan dan ini yang menurut gua keduanya berbeda. Yang pertama dari Santa Fe, dia punya electric seat yang pakai memori kiri kanan dengan isi exit dan AC entry. Nah, tengahnya ada kursi
Speaker A
captain seat dan juga sudah elektrik pula tapi enggak ada otoman-nya. Dia juga punya seround view monitor dengan blind view monitor. Jadi kalau kita pakai lampu se ada nih layarnya buat pengganti spion. Ada dual bar charger juga. UVC sterilizer, electronic parking
Speaker A
brake, aplikasi bluink, audio dari Bose dan ini audionya bagus sekali. Dan audio Bosennya ini juga bagus karena dia sudah generasi kedua. Terakhir di malam hari dia juga [musik] punya ambiience light yang bikin jadi lebih syahdu. Nah, kalau di Fortuner tapi enggak ada di Santa Fe,
Speaker A
dia sebenarnya lebih ke fitur 4* 4 sih. Dan enggak cuma 4* 4, dia juga punya rear locking diferensial. Jadi memang kalau kita ngomongin soal fitur offroad yah, mobil ini [musik] keunggulannya di situ. Belum lagi kalau kita ngomongin mesinnya yang bisa dimodifikasi dan
Speaker A
ketersediaan part buat offroad ya. Kayak buat modifikasinya mulai dari kaki-kaki, ban, pelek sampai bumper besinya depan belakang witch dan kawan-kawan. Ini mobil memang banyak banget yang bisa dimodifikasi. Terus dia juga punya AC di plafon sampai baris ketiga, spion
Speaker A
digital untuk versi yang GR Sport dan juga ada rear seat entertainment-nya. Jadi memang Santafe dan Fortuner ini fiturnya sangat bertolak belakang ya.
Speaker A
Kalau Santafe memang lebih untuk kenyamanan. Kalau Fortuner memang lebih untuk offroad-nya. [musik] Jadi pas kita bawa Santape, dia tuh mobil yang menurut gua suspensinya agak unik karena dia kayak pakai suspensi dari Newtonian Fluid itu. Tahu enggak?
Speaker A
Yang kalau misalkan ini nih kayak permukaan dia tuh lembut kayak ager-ager. Jadi kita bisa e pencet gitu ya lembut. Tapi pas kita tonjok des dia langsung jadi keras kayak batu. Dia itu ayunannya enak dan dia masih punya travel yang cukup panjang gitu. Tapi
Speaker A
ketika kita pakai di kecepatan kencang, kita lewatin polis tidur, lubang itu kerasa dia langsung kayak kaku keras, dek dek gitu loh. Nah, itu terasa bagus ketika kita pakai di jalan kencang ya.
Speaker A
Jadi dia stabil ya dan ketika kena lubang, kena sambungan itu enggak goyang-goyang begini gitu pas gitu. Tapi pas kita lewatin jalan rusak cukup turning kecepatan maka kita akan mendapatkan ayunan suspensi yang pas.
Speaker A
Tapi kalau kita bandingin sama Fortuner ya jauh lah ya. Apalagi kalau kita udah setel audionya. Ini audio Bosennya. Ini kan Bose yang generasi berikutnya ya.
Speaker A
Next generation itu suaranya enak banget. Udah sekelas kayak Harman Cardon gitu. Tadinya tuh Bos itu agak ke bawah dia enggak premium-premium amat. Premium tapi belum yang premium ke atas gitu loh. Pas di Santa Fe Kona Palis terbaru bosinya tuh langsung des naik kelas.
Speaker A
Enak banget. Kacanya pun juga sudah double glass dan handling-nya bagus ya untuk mobil segede gini. Pedal Fnya juga enggak ada komplain. Nanti kita akan melakukan tes e bahan bakar di mana kita akan pakai Fortuner dan Santafe ini di
Speaker A
kota Jogja dalam kotanya. Jadi banyak gas rem, gas rem selama 1 jam kita nolin dapat berapa kilom dan habis itu kita akan bawa mobil ini jarak jauh besok ya dari Jakarta Semarang pulang pergi kita akan cek berapa konsumsi bahan bakarnya
Speaker A
ya. Tapi sebagai ini ya perbandingan kalian. Kemarin kita bawa ini dari Jakarta ke Klaten sekitar 500 kilo. Kita ngisi bensin di kilometer berapa Han?
Speaker A
102. 102 ya. Terus hari ini udah ngambil stock shoot segala macam. Kalau Fortuner kita matiin. Ini mobil waktu lagi berhenti banyak kita nyalain. Kenapa?
Speaker A
Karena enggak ada suaranya dan enggak bau kan. Lihat dong dari full setengah kurang dikit. Irit sekali. Hihiuy mantap ya. [tertawa] Tapi kalau kita eh baca dapat berapanya eh since revel ya. Since review-nya kita udah jalan 435,7 km dapatnya 15,6 km/l.
Speaker A
Harusnya bisa lebih irit lagi cuma karena yang gua bilang tadi, kita banyak dari tadi tuh nyalain mobil ini, tapi kita tinggal gitu loh. Kita ngambil stok shoot, mobilnya dalam keadaan nyala makanya turun. Harusnya mungkin sekitar 1617-an.
Speaker A
Nah, nyalanya 6 jam 54 menit kan. Harusnya 436 kilo. Itu enggak nyampai 7 jam.
Speaker A
Oke, ini kita masuk drive modenya ke sport dulu ya. Habis itu kita matiin stability control ada di sini. Oke, kita mau tes 0 100-nya dulu. Ini kita udah pindah ke drive modenya ke sport ya. Dia cuma ada Eco sama sport. Habis itu kita
Speaker A
mati sta control. Enak ya semuanya ada tombolnya nih. Sesuatu yang jarang kita temukan sekarang. Kita gas dulu aja.
Speaker A
Kita lepas. Uh kencang. Oh, suara mesinnya enak juga ya. Huh. Berapakah yang kita dapatkan?
Speaker A
Cuma tadi kayaknya agak nanjak dikit. Kita nyarain cruise control dulu. Oke, berapa tuh? 8,74 valid dalam satu kali coba ya. Artinya kalau kita coba lagi mungkin bisa dapat lebih bagus atau lebih jelek. Tapi benar klaimnya Hyundai sekitar 8 detikan dan
Speaker A
kita dapat 8,74. Kencang ya dan ini kita udah bisa pakai cruise control yang udah adaptif termasuk lan keeping assis-nya juga. Dan Hyunda itu kalau punya ada tips control ya, gua udah coba dari Ionic 5 even sampai ke kereta sampai ke Stargazer dia
Speaker A
tuh bagus. Jadi gua kalau dari Jakarta biasanya gua nyalain full udah gua santai di mobil ya. Jadi mobil ini pun juga sama. Ini yang gua bilang tadi nih.
Speaker A
Di tol suspensinya enak ya pas ya. Lu kencang juga enggak ajrut-ajrutan p Jogja Solo ini ya itu tol yang lumayan lompat sih enggak terlalu halus. Tapi di mobil ini halus.
Speaker A
Hah? Memang ini enggak usah kita ngomongin sama Fortuner, sama Santafe yang sebelumnya aja. Rasanya kayak upgrade-nya tuh jauh gitu.
Speaker A
H. Ya, sekarang kita bahas Fortuner. Nah, sekarang kita naik Fortuner. Dan Fortuner ini tuh di atasnya tuh kayak ada hijau-hijau gitu. Mata gua jadi hijau ya, kayak dari suku apa gitu [tertawa] ya. Ini 2800 cc ya. Getarannya dan
Speaker A
kawan-kawannya ya masih berasa masih diesel banget lah. Dia bukan diesel yang rasanya kayak diesel Eropa modern gitu ya. Jadi getarannya suaranya masih terasa diesel banget ya. Perdaman kabinnya juga kerasa beda ya.
Speaker A
Ya. Dibandingin Santa Fe ya. Dan dia ini 2000 RPM-nya tuh terasanya kayak 3.000 loh. Lumayan lumayan ngebas gitu ngong gitu.
Speaker A
Dan jujur ngomong ya nih di atas 100 lumayan larinya sebenarnya. E ke 120 lumayan cepat. Jadi dibanding yang 24 e upgrade-nya berasa sih. Cuma bukan yang kayak bakal melesat gitu. Enggak. Sama 2400 cc yang diap-remap lebih kencang sih menurut gua ya. Tapi ini pun ya
Speaker A
tanpa harus remap ya. Karena kalau kita remap pasti kan ada yang berubah ya. Eh, se smokeless-sokelessnya pasti tetap ada smoke-nya. Enggak mungkin bisa benar-benar lebih turun itu enggak. Kecuali kalau mau diturunin ee emisinya ya pastinya lebih lemot lagi
Speaker A
sih mobilnya sih. Oke. Nah, ini kita gas. Tuh, transmisinya juga masih pakai mikir gitu ya. Masih berasalah emang konvensional ini mobil.
Speaker A
Sekarang kita mau tes 0 ke 100-nya berapa ya. Kita menepi dulu. Tadi kita pakai AC di sana ya. Artinya kalau kita enggak pakai AC bakal lebih kencang lagi. Kita samain tetap pakai AC. Kita masuk di D. Eh, kita masuk ke
Speaker A
power mode. Kita reset dulu deh. Sport bukan power sekarang ya. Stability control juga kita matikan. Di mana stability controlnya ya? Matiin. Oh, ini diac dimatikan.
Speaker A
Oh, ini traction control doang dimatiin. Tapi kalau kita tahan lama traction control sama Nah, AC-nya juga mati. Cuma tulisannya tetap TRC doang. Oke, kita gas.
Speaker A
Eh, tenaganya kencang sebenarnya, tapi pas ganti giginya agak lambat. 100 100-nya agak telat ya. Jadi dia udah 100 lebih. Gap antara GPS sama ininya kayaknya agak agak beda. Coba kita lihat. Nah, ini kan kita 100 nih di sini. Kalau di Drag sebenarnya dia 92
Speaker A
jadi 100-nya di Fortuner itu deviasinya agak lumayan dia tuh 92 tapi ini 100 ya.
Speaker A
Kalau 120 berapa dia 100 ininya ya? Setirnya berasa banget leather frame-nya ya. Ini 120 di situ 111 agak lumayan bedanya ternyata. Jadi speed di GPS sama speed di speedometer dia agak lumayan bedanya.
Speaker A
Tapi oke sih. Yuk kita masukin ke Echo lagi ya. Nanti kita sampai Jogja kita sekitar 1 jam muter-muter aja terus di tempat yang macet. Kita pengen tahu dapat berapa kiloml. Tapi overall memang seperti yang gua bilang tadi, kalau kita bawa Santafe
Speaker A
sama Fortuner ya itu bedanya lumayan banyak ya. Rasanya kayak emang mobil yang beda beda kelas gitu. Dan ini nih kita bawa 80 di tol ini berasa ya beda ya [tertawa] dung dung dung dungnya itu berasalah leather frame-nya Fortuner itu ya begitu
Speaker A
memang. Lagi nih. Tuh, coba kita lihat berapa yang tadi. 10,87. Ini depannya agak sedikit turun ya. Jadi tetap Santafe lebih cepat 2 detik dibandingkan dengan mesin 1GD standar.
Speaker A
Oke, berasanya beda banget ya leather frame sama ini. Dan ketika kencang juga setirnya tuh agak lari-lari dikit gitu.
Speaker A
[musik] Nah, sekarang kita ada di Masjid Raya Almuttaqin habis salat asar depan Candi Prambanan persis. Nah, kita mau ke Jogja tapi kita muter-muter aja selama 1 jam ya. lebih dikit kali ya. Sekarang jam 16.26 ya, anggap aja kita startnya
Speaker A
16.30. Ini mau kita bentar kita mau reset dulu ya. Oke. Oke. Ini kita reset dulu ya.
Speaker A
Oke. Ini kita riset. Habis itu kita ke Santafe. Kita riset. Kita bawa yang Santafe. Mat bawa mobil ini. Ya. Jadi yang bawa si Rahmat.
Speaker A
Oke, kita reset sekarang ya. Set. Oke, yuk sekarang kita jalan ya 429. Kita langsung jalan keliling-keliling Jogja.
Speaker A
Karena Jogja ini sebenarnya kalau jam pulang kerja macet juga. Hampir sama kayak Jakarta. Cuma enggak sejakat lah karena Jakarta menurut gua agak outl ya, agak macetnya keterlaluan.
Speaker A
Eh, ini anggap aja kalian ada di Surabaya mungkin atau di mana ya, dalam kotanya kurang lebih kayak gitu. Let's go kita jalan.
Speaker A
[musik] [musik] [musik] Ini untuk Jogja sebenarnya gua agak kaget, ternyata tidak semacet itu. Tahu enggak kenapa gara-garanya? Kenapa kayaknya gara-gara pertama naik [berteriak] dan pertalit juga kalau kita lihat itu jarang di mana-mana ya. Jadi ee enggak banyak, cuma ada di jam tertentu dan
Speaker A
biasanya langsung antri panjang yah. Jadi seperti itulah dari tadi gua lihat jag bensin sepi. Ini Jogja biasanya jam segini harusnya lebih padat lagi. 1652 sekarang tuh kita nyampai di sini ya. Biasanya dari sana tuh macetnya tuh. Dan tahu enggak kita dapat berapa?
Speaker A
Tadi gua nyetir biasa aja, enggak gua irit-iritin, enggak gua ee apa namanya? Agresif juga gua pengen dapat yang sesua lah sama kita sehari-hari gitu ya.
Speaker A
Cuman kok kayaknya enggak sesuai sama yang sehari-hari gitu. Tahu engak dapat berapa? 37,8. Kita jalan 23 menit dapat 10 kilo ya.
Speaker A
Itu bukan lancar sih. 10 menit 23 kilo di dalam kota tuh ya biasa aja gitu loh.
Speaker A
Cuma 37 tuh kayak kok aneh sih. Gua berharap dapatnya dapat 116 115 gitu loh. 37 kok bisa. Dan ini kita timelapse ya. Jadi kalau kalian lihat di sini ada eh apa namanya? Action 5. Ya udah nanti kita lihat aja setelah
Speaker A
1 jam karena udah 24 menit udah hampir sejam. Udah, udah hampir setengah jam. Oke, kita tanya Rahmat. Mat, Mat.
Speaker A
Iya Bang. Dapat berapa kilometer perlit sekarang dari riset tadi? Sekarang dapat di 10,8. 10,8 ya. Oke.
Speaker A
Kita tiga kali lipatnya. Tiga kali lipat lebih irit lebih malah lebih dari tiga kali lipat. Wow, jauh sekali. Dan ini kita juga pakai mode di depan. Di sini juga mau deko. Tapi memang eh mobil hybrid itu ketika kita
Speaker A
lagi macet sampai yang benar-benar berhenti dia mesinnya akan stop, enggak nyala. Nah, terus juga apa bedanya m hybrid sama hybrid beneran gitu ya?
Speaker A
Kalau m hybrid itu cuma 48 volt biasanya. Jadi kayak dinamo starter yang digedein lah voltasenya, ampernya digedein. Terus dia kalau misalkan kayak auto start stop dia bisa lebih lama gitu.
Speaker A
Nah, tapi biasanya kalau pas lagi macet begini sampai benar-benar berhenti, AC-nya suka panas karena kompresornya masih diputar sama mesin, bukan diputar sama ini ya, motor listrik ya. Jadi kalau ee kompresor AC-nya mobil hybrid dia kayak AC di rumah gitu. Jadi
Speaker A
kompresor diputar pakai listrik. Nah, kurang lebih kayak gitu sih. Nah, turun nih 32,3. Tadi kenapa bisa irit banget ya? Gua juga bingung. Nah, ini mesinnya lagi nyala nih. Berasa nih. Nah, kalau mau lebih gampang lagi kita ini masuk ke
Speaker A
home ya. Kita bisa lihat mana sih yang EV-nya. Oh, ke sini hybrid. Nah, bisa kelihatan sekarang apakah mesin listriknya lagi nyala apa enggak ya? E, ini lagi ngisi dia. Tuh, ini after reviewing 15,6. Elektrik motor us 3,7 kW.
Speaker A
Yes, akhirnya sudah 1 jam dan kita mendapatkan 24,5 km/l dan kita menempuh 21,3 km. Artinya dalam 1 jam ya kita jalan sekitar 21,4 km/h ya. Ya sebenarnya ya macet sih ya dalam kota, cuma emang menurut gua ini Jogja
Speaker A
hari ini lagi enggak terlalu macet tapi kalau lihat average speed-nya jadinya pendek banget gitu. Sekarang kita tanya Fortuner dapat berapa. Mat, Mat, Mat.
Speaker A
Naik lagi. 24,7. Berapa kilometer perlit? Dapat di 10,3, Bang. Oke. Gua 24,3 tadi ya. Sekarang naik lagi jadi 24,5.
Speaker A
Cepat amat naiknya ya. Wah, selisih banyak banget. Dua kali lipat lebih penghematannya 2, seteng kali. Edian mobil ini tuh naik lagi 24,6. Cepat banget ya naik turunnya ya dia ya. Tapi tetap kalau misalkan digabungin sama tadi kita sama terakhir
Speaker A
refuel dapatnya 15,7. Tapi ini enggak bisa kita pakai. Eh, ini menurut gua terlalu irit sih. Harusnya enggak seirit ini ya. Tapi ya itu hasilnya seperti itu. Mau diapain lagi?
Speaker A
Kata bisa irit banget ya. Harusnya enggak siirit itu sih. Padahal kita bawanya biasanya aja nyantai. Bukan yang diirit-iritin, enggak di kenceng-kencengin juga enggak. Biasa aja. Udah yuk kita cari tempat makan.
Speaker A
Besok kita akan lanjut lagi. Ee kita antara mau ke Semarang atau ke Serragen pulang pergi ya. Kalau Semarang itu masalahnya berangkatnya naik, pulangnya turun. Kalau Sragen lurus terus tuh.
Speaker A
Oh iya benar. Heeh. Yaudah entar kita lihat gimana besok. [musik] Sekarang hari berikutnya kita mau berangkat dari kantor di Klaten. dulu bentar di Solo dan selama perjalanan dari tol kita akan stay di 120 km/h berdasarkan cruise control. Nah, karena
Speaker A
ini ada adaptifnya, ada smart cruise control-nya, yang ini enggak ada, maka Fortuner akan kita taruh di depan, ya.
Speaker A
Yang ini di belakang. Tapi gua setting jaraknya yang paling jauh biar enggak slip stream ya. Takutnya nanti slipstream curang kan. Tapi enggak usah pakai slipstream. Yang ajaib dari Santafe ini dia bodinya boksing kotak begini. Tapi coefficient of drug-nya itu
Speaker A
cuma 0,29. Jadi gua juga masih aneh sih. Bisa mobil sekotak itu tapi aerodinamis. Ya, yuk kita naik Fortuner dulu. Let's go.
Speaker A
Ya, jadi kita udah di tol ya dan ini kita menuju ke Solo dulu. Kita mau makan. Cuma tetap aja ya kita udah mikir set di 120. Kenyataannya tolnya lumayan padat ya. Jadi depan kita ada mobil sampai ada bus gitu. Dan kita sekarang
Speaker A
kecepatan di 110. Mat di situ kecepatan berapa Mat? Pengen lihat dong. Di sini kecepatan 100 bang.
Speaker A
Oke ya. Jadi kecepatan dia 100 di sini. Tadi 107-an. Nah sekarang makin lama makin turun. Sekarang berapa, Mat?
Speaker A
85 85 di sini 91. Jadi emang ini Fortuner deviasi kecepatan di speedometer sama reel-nya jauh banget ya. Tapi enggak apa-apa, baguslah karena kalau misalkan dibikin sama ya nanti orang pakai kan banyak yang ngebut. Nah, takutnya kera karena kecepatannya rasa kurang malah digas
Speaker A
lagi ditancep. Kalau 140 terata cuma 120-an kan rasanya lebih aman gitu harusnya di jalan. Anyway, ini mobil kalau di tol memang dibanding Santafe ya jauh lah kestabilannya, steeringnya ya beda banget gitu. Tapi memang jadi Fortuner itu memang dia basisnya dari
Speaker A
Hilux ya, mobil 4* 4 ya, buat ke tambang, off road dan kalau misalkan kalian pengin offroad yang lebih ekstrem itu aksesoris buat dia jadi lebih ekstrem lagi tuh banyak gitu. Lu bisa gedein bannya, kasih lift kit dan kawan-kawan ya. Jelas ketika dipakai di
Speaker A
bukan medan offroad di sini terasa kurangnya. Tapi kalau misalkan kalian beli mobil ini kemudian kalian modifikasi biar dapat ee kemampuan offroad yang lebih proper, maka ini mobil yang tepat. Cuma masalahnya banyak orang beli Fortuner itu justru malah enggak dimaksimalkan penggunaannya.
Speaker A
Artinya beli Fortuner malah dipakai buat harian ya, buat dalam kotak 2WD lagi, bukan yang 4WD.
Speaker A
[tertawa] Makanya ketika enggak harus sama Santa Fe, even sama banyak mobil pun juga secara kenyamanan, handling dan kawan-kawan tuh pasti kalah gitu loh.
Speaker A
Tapi kalau kita bawa ini ke medan offroad yang benar gitu ya, itu baru di situlah keunggulannya.
Speaker A
Luar biasa ini mobil. Jadi kayak ikan berenang, monyet memanjat. Tapi kita suruh kebalik gitu. kita suruh monyet buat berenang, ikan suruh manjat pohonnya enggak bisa ya. Begitu pula di mobil ini. Makanya ketika dia punya rasa berkendara yang dipakai harian dalam
Speaker A
kota itu ya rasanya seperti itu ya wajar karena emang bukan di situlah medannya si Fortuner ini.
Speaker A
Nah, kita pindah ke Santafe Fe ya. Dan ini kita di tol, kita pakai jarak yang paling jauh ya, distance-nya 4. Kenapa?
Speaker A
Biar gak dapat efek delgating-nya, slip streaming. Karena kalau slip streaming otomatis pasti lebih irit mobil ini. Ini kita harusnya 120 tapi ini cuma 114, 113 dari tadi ya, Mat. Mat.
Speaker A
Iya Bang. Itu cruise control 120. Iya 120 lebih enggak? Enggak kurang. Enggak lebih. Pas di sini dari tadi 115 116 emang ada deviasinya ya sepertinya gitu Bang.
Speaker A
Ini kita sudah ngikutin mobil depan dan kenapa kita set di 120? Biasanya mobil hybrid itu di luar kotak seperti ini. Di tol kita pantengin terus-menerus itu iritnya tuh tidak seberapa irit gitu karena mesin listrik sama mesin bensinnya dia nyala terus. Jadi dia
Speaker A
sambil ngecas, sambil ngegas ya kan. Dan ketika di kecepatan seperti ini yang lebih dominan adalah mesin bensinnya.
Speaker A
Makanya kita mau langsung di 120 aja. Tapi enggak bisa 120 dari ujung ke ujung karena kan ada kadang-kadang ke depannya ada bus, ada truk, kita harus ke kiri ke kanan ya biar dapat kecepatan optimal.
Speaker A
Jadi menurut gua ini kayak real life driving lah. Kayak kita nyetir di keseharian pas keluar kota itu kayak gimana ya. Jadi kita mensimulasikan benar-benar simulasi. Kalau misalkan kita simulasi cuma 80 gitu ya, ini pasti irit banget. Dipakai 80 km/h ini buat
Speaker A
dapat 120 gampang pasti gua yakin. Dan ini kita cek sekarang 17,5 km/l. Nah, itulah yang gua bilang kalau dipakai agak ngebut, mobil hybrid belum tentu bisa lebih irit dibandingkan dengan mobil diesel. Tapi nanti kita cek yang diesel dapat berapa ya.
Speaker A
[musik] [musik] [musik] Yes, akhirnya kita sampai juga di kantor dan sekarang saatnya kita cek berapa kilometer perlit setelah kita menempuh dari Klaten. Solo, Sragen, balik lagi ke Klaten. Yuk, kita mulai dari Santa Fe.
Speaker A
Kenapa? Karena kalau Santa Fe kelihatan berapa kilometer yang udah kita tempuh, ya. 18,0 km/l kita sudah menempuh 166 km dan sekitar 2 jam 57 menit. Huh, irit ya ternyata ya. Padahal kita pakainya 120 km/h set cruise control-nya ya. Meskipun
Speaker A
enggak nyampai 120 karena kita ngikutin mobil sebelah. Nah, sekarang kita cek berapa Fortuner ya.
Speaker A
Nah, kunci kontak on. Oke, ya. Kita dapat 12,6 km/l setelah kita reset pas berangkat.
Speaker A
Dengan hasil tes tersebut, ini perkiraan biaya BBM kedua mobil dengan pilihan BBM yang tersedia. Harga BBM ini mengacu pada harga BBM pada bulan Juni 2026.
Speaker A
Jadi setelah kita coba ya mulai dari dalam kota, luar kota, cuma yang dalam kotanya enggak tahu ya kenapa ini bisa irit banget. Gua juga enggak ngerti kayak kayak kurang valid gitu. Tapi hasilnya seperti itu. Enggak kita otak-atik ya.
Speaker A
Jadi bisa kita simpulkan memang seirit-iritnya mobil diesel masih lebih [musik] irit mobil bensin hybrid.
Speaker A
Enggak, enggak usah hybrid. Diturboin juga tetap lebih irit mesin bensin [musik] hybrid turbo. Ya memang kalau misalkan kalian compare antara kedua mobilnya ya memang beda kelas, beda harga dan menurut gua Fortuner sudah waktunya facelift ya dan katanya bentar
Speaker A
lagi akan ada facelift. Tapi untuk saat ini ya, kalau misalkan kalian ada pilihan SUV [musik] seven seater yang besar, kalau mungkin zaman dulu kita akan berpikir mobil-mobil macam gitu harus punya mesin diesel. Karena kalau pakai mesin bensin pastinya boros. Apalagi kalau misalkan
Speaker A
mau dibikin irit dia akan boyoko. Dan untuk zaman sekarang menurut gua lebih relate mesin bensin yang hybrid di mana dia enggak cuma irit di luar kota, tapi dalam kota. Bahkan iritnya sih [musik] agak keterlaluan kemarin itu. So far
Speaker A
menurut gua Hyundai udah tepat banget. Dia mengganti mesin diesel 2200 cc yang gua sangat suka itu dengan mesin bensin hybrid. Semoga ke depan mesin-mesin bensin hybrid [musik] seperti ini akan banyak di Indonesia. Karena mesin bensin hybrid ini enggak cuma irit dan
Speaker A
bertenaga, tapi dia juga ramah lingkungan. Itu aja mungkin vlog kita kali ini. Buat teman-teman yang pakai Fortuner diesel ya dan [musik] pakai Santafe hybrid, coba komen di bawah seperti apa rasanya dan bagaimana merawatnya. Sampai jumpa [musik] di video berikutnya. Bye bye.
Topics:Toyota FortunerHyundai Santa Femobil dieselmobil hybridperbandingan mobilefisiensi bahan bakarmesin turboSUV Indonesiaharga mobil 2026review mobil Indonesia











