Skip to content

MAKAM SUDAH DIGALI SEBELUM ADA KABAR M3N1NGG4L ⁉️

Pembahasan mendalam tentang kejanggalan kematian Brigadir AH dan kesaksian keluarga terkait kasus ini.

Key Takeaways

  • Ada kejanggalan serius dalam kematian Brigadir AH yang perlu diusut tuntas.
  • Keluarga korban mengalami trauma dan berharap keadilan serta kebenaran terungkap.
  • Perbedaan keterangan keluarga menambah kompleksitas kasus ini.
  • Pentingnya menjaga nama baik keluarga dan mempertimbangkan dampak sosial dalam penanganan kasus.
  • Kasus ini mendapat perhatian luas dari masyarakat dan media.

What the video covers

  • Video membahas kejanggalan dalam kematian Brigadir AH, termasuk luka dan kondisi tubuh yang mencurigakan.
  • Keluarga korban menyampaikan kesedihan dan harapan agar kebenaran kematian anak mereka terungkap.
  • Diceritakan kronologi awal keluarga mengetahui berita kematian dan reaksi emosional mereka.
  • Ada perbedaan keterangan antara anggota keluarga mengenai kejadian dan kondisi korban sebelum meninggal.
  • Pembahasan mengenai keputusan keluarga untuk tidak melaporkan kematian secara resmi dan mengurus secara internal.
  • Keluarga dan pihak terkait berusaha menjaga nama baik dan mempertimbangkan dampak sosial serta pekerjaan anggota keluarga.
  • Video juga menyinggung proses pengurusan jenazah dan larangan pengambilan foto di lokasi.
  • Terdapat diskusi tentang luka tembak dan dugaan adanya luka tembak tempel pada korban.
  • Keluarga berharap kasus ini dapat dikawal bersama agar kebenaran terungkap demi kemuliaan Tuhan.
  • Video menampilkan wawancara dan dialog emosional dengan keluarga serta pengelola kuburan.

Answers

Questions about this video

Apa kejanggalan utama yang ditemukan dalam kematian Brigadir AH menurut video ini?

Kejanggalan utama adalah kondisi luka dan tubuh korban yang menunjukkan tanda-tanda kekurangan oksigen dan luka yang tidak biasa, seperti tulang yang amblas ke dalam dan bekas jahitan yang membiru.

Bagaimana reaksi keluarga setelah menerima kabar kematian Brigadir AH?

Keluarga sangat terpukul dan mengalami trauma, mereka merasa kehilangan besar dan berharap kebenaran kematian anak mereka dapat terungkap dengan jelas.

Mengapa keluarga memutuskan untuk tidak melaporkan kematian Brigadir AH secara resmi?

Keluarga khawatir dampak sosial dan pekerjaan anggota keluarga jika kasus ini dilaporkan secara resmi, sehingga mereka memilih mengurus jenazah secara internal dan menjaga nama baik keluarga.

Full Transcript — Download SRT & Markdown

00:00
Speaker A
Ini kamu merasa ada kejanggalan. Kejanggalan seperti orang kekurangan oksigen. Oksigen di sini kan yang bekas jahitan itu ada yang biru. Kemudian ini, Bang, di bagian sininya [musik] kayak tulangnya ini masuk ke dalam. Ah, lembek.
00:11
Speaker A
Heeh. Lembek beda jebol gitu tulangnya amblas ke dalam. Menurut keterangan mereka, papanya Brigadir AH ini kan orangnya lumayan power.
00:19
Speaker A
Karena papanya bilang begini ke depan saya saat itu. Saya pertaruhkan ini. Saya enggak usah takut. Siapa yang berani tidak pernah ini kalah dalam kasus saya ikhlas asalkan Tuhan tunjukkan kebenaran kematian anak saya apakah ini memang di kalau ditunjukkan orangnya saya ikhlas.
00:45
Speaker A
Jadi ini kasus di mana seorang perempuan bernama Winda Lorenza ya. Iya. Yang diduga tapi keluarga tidak percaya kalau Winda ini berdiri begitu kan ya.
01:03
Speaker A
Jadi saya salam dulu. Mama bagaimana? Sehat in. Iya saya lihat ini [berdehem] tangan susah. Ee digerakkan ini kena stroke sejak kapan?
01:16
Speaker A
2018. 2018 18. Terus ada lagi masalah kayak begini. Iya. Setahun yang lalu sudah bisa jalan.
01:27
Speaker A
Kamu berarti adiknya ya? Iya. Oke mah. Coba cerita dulu eh apa yang dirasa dari kemarin boleh dicurahkan di sini. Silakan.
01:38
Speaker A
Yang saya rasakan sakit dengan kepergian putri saya ini. Karena dia adalah anak yang paling saya banggakan, saya harapkan.
01:54
Speaker A
Hm. Paling peduli semua tanggung jawab [mendengus] bisa ditanggung. Dia adalah penyayang. Dialah anak yang baik apalagi penyayang anaknya. Dia rela korban semua demi anaknya.
02:23
Speaker A
[tertawa] Mama tidak sangka. Emku tidak sangka sama sekali. Tidak duga. Tidak duga. [mendengus] Saya pikir ini awal yang baik.
02:44
Speaker A
[berdehem] sebelumnya ee saya juga bersama ee sebagian dari warga Indonesia itu yang ngikutin kasus ini mencapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya. Karena kemarin banyak sekali yang titip sama saya untuk mengangkat kasus ini dan menyampaikan bela sungkawa yang sebesar-besarnya karena ee banyak yang berempati dengan
03:09
Speaker A
apa yang dialami oleh kalian. Itu yang paling pertama. Kronologi bagaimana pertama kali kalian tahu?
03:17
Speaker A
Ee awalnya saya ditelepon, Bang. Heeh. Tanggal berapa itu? Kalau enggak salah hari Minggu itu tanggal berapa ya?
03:24
Speaker A
Tanggal duang. Tanggal du ya? Tanggal 2. Tanggal 22 tanggal tanggal 2 Agustus. Agustus. Lanjut. [mendengus] Ee saya itu lagi di Nias. Kebetulan saya kerja di Nias.
03:37
Speaker A
Saya ditelepon itu ee sambung tiga kayak telepon grup di situ. Ada mama saya, mama mama ya.
03:45
Speaker A
Ada empat. Ada empat. Ada mama saya. Ee bapaknya iman. Bapaknya iman dan imannya. Dan imannya suaminya. Iya. Suaminya.
03:54
Speaker A
Kemudian saya. Oke. Berempat ya. Oke. Kemudian kemudian saya dibilang ee sama abang ipar saya Ica ee sambil saut-sutun sama bapak iparnya. Ee tenang nugu, tenang.
04:05
Speaker A
Maksudnya nogu itu kan anak. Tenang, Nak, tenang kamu. Tenangan pikiran. Kenapa, Bang? Tenang. Saya tanya. Terus ditanya di mereka bilang sama saya ee kakakmu udah enggak ada lagi. Kakakmu udah enggak ada lagi. Gimana? Iya. Dia udah ambil pisau. Dia tekankan
04:19
Speaker A
kepalanya. [mendengus] Pasti syok itu. Syok. Mama saat dengar itu ini masih bisa bicara atau dia pingsan atau bagaimana?
04:29
Speaker A
Saya masih bisa bicara tapi saya sudah kacok. Pertama saya ditelepon. Heeh. Lama. Tapi baru saya angkat, baru saya lihat handphone.
04:39
Speaker A
Heeh. Dia bilang, "Mak, kenapa nak?" Satu nama anak saya itu di rumah itu kami panggil satu ee Winda sudah pergi.
04:52
Speaker A
Pergi ke mana? Karena saya posisi baru pulang gereja. Ibadah pergi ke mana? [berdehem] Dia sudah meninggalkan kita.
05:03
Speaker A
Meninggalkan ke mana? H kenapa Nak? Saya pikir pergi meninggalkan Mak. Hancur iman ini. Hancur. Kenapa?
05:13
Speaker A
Kagak satu sudah bunuh diri. [berdehem] Bunuh diri gimana? Saya bilang gitu. Langsung saya ma tenang dulu mak. Ma tenang dulu. Aku ini mah hancur. Kalau masalah aku sih gak masalah. Karena aku hanya karena bisa berima.
05:30
Speaker A
Hm. Saya bilang pertama saya, "Kau bisa kejadian ini terjadi, Nak? Kau bisa dia pegang pistol. Kenapa kamu kasih, Nak?
05:40
Speaker A
Saya tidak tahu, Mak. Karena saya mandi di kamar mandi sebelah. Terus rupanya dia di kamar mandi itu berdiri, Ma. Sedang mandi saya tiba-tiba ada suara tembakan.
05:54
Speaker A
Saya enggak tahu. Baru saya lihat. Rupanya si satu sudah ambil pistol. Kenapa kamu kasih? Kenapa kamu biarkan gak kamu langit? Enggak tahu, Ma. Karena saya di kamar mandi seolah ee apa pistol sudah diambilnya di atas di atas lemari katanya.
06:14
Speaker A
Diambilnya di atas lemari. Aduh nama dia kenapa gak bawa rumah sakit? Dia bilang tidak bisa mak nanti kena iman. Tenang dulu iman. Biar kita bicarakan sebentar lagi mama sama bapak biar ke sana ke toko bicara.
06:31
Speaker A
Saya bilang teleponlah kakak telepon si I telepon keluarga. Jangan dulu. Bagaimana dengan anak-anak? Iman hancur di pekerjaan kita pikirkan itu. Kalau saya gak masalah kata dia gitu tapi iman bisa kena ini karena bisa iman. Dia bilang jangan dulu m laporkan. Biar
06:49
Speaker A
datang dulu orang mama. Tiket mama biar diurus. Begitu datang bapak mamnya dibilang ke saya, "Bu, Ekak hancur makhluk kita. Kenapa si Loren diri dalam rumah? Kok bisa, Kak? Nangis saya masih stres, Kak. Kita telepon keluarga sudah ditelepon biar saya kak gini pikirkan
07:18
Speaker A
dulu. Kalau kita telepon keluarga, nasib anak-anak yang dua bagaimana? Bagaimana pekerjaan iman? Memang si iman ini tidak ada darah kalian dalam dirinya, tapi darah anak yang dua ini ada dalam kalian.
07:39
Speaker A
Yang sudah meninggal sudah meninggal. Tapi mari kita pikirkan yang dua ini. Saya bilang, "Bagaimana ini kan?
07:47
Speaker A
Kenapa gak dibawa di rumah sakit? Sudah meninggal. Kalau kita bawa di rumah sakit pasti si iman kena.
07:57
Speaker A
Dia bilang gitu. Jadi saya bilang, "Jadi bagaimana telepon anak saya? Saya balik-balikan ke sini saya gak bisa.
08:03
Speaker A
Bagaimana tiket kami?" Itu yang saya tiket diurus katanya gitu. Kakak mau pergi siapa yang berangkat? Saya sama si ikut si Michael anak saya no ikut. Saya bilang terus. Mereka bilang, "Kak, jangan cerita dulu siapa-siapa kita ini. K begini ini kan kalau kita bongkar di
08:24
Speaker A
depan pekerjaan rusa anak-anak dua bagaimana mereka kalau enggak ada apa-apa. Karena harus ada yang kita perjuangkan." Terus kalau kita kasih tahu ini aib, ini aib karena berdiri.
08:39
Speaker A
Saya bilang, "Bagaimana nanti anak-anak ini ke depan kalau tahu mamanya berdiri? Bagaimana juga pekerjaan bapaknya? Saya bilang, "Terserah aja, pasrah aja saya." Terus saya bilang, "Bagaimana pendeta kita tanam dia dengan apa? Kita pulang dulu." Tapi jangan kita lapor. Jadi
08:56
Speaker A
dibawa di rumah. Iya, di rumah. Ee jangan kita lapor. Bagaimana nanti kalau ada pendeta kita layakkan kita kubur langsung kita kubur. Tapi jangan dilapor karena pekerjaan sima.
09:08
Speaker A
Oh, begitu ceritanya. Jangan dilapor dulu. Jangan dilapor. Terus diurus tiket masing-masing kami mereka bilang sudah diri di situ saya sudah pas aja saya pikir saya benar meninggal sendiri heeh oh tadi awalnya pikir memang meninggal karena berdiri oke iya dibilang aib saya juga kacauah
09:30
Speaker A
iya saya gak yang penting dulu pikir saya saya pulang dulu mereka urus tiket dapat jam 8 dapat jam mereka bilang urus barangkali Lihat kami pulang ke hotel, kita sama-sama pergi.
09:45
Speaker A
Terus sempat dibilang bapaknya, "Tengoklah aku ini belum sebenarnya yang terluka di sini yang kena aib aku. Aku ada malu ada di Oh, ini ee bapaknya iman bicara begitu." Iya. Terus mamanya bilang, "Tenang, Kak.
10:03
Speaker A
Jangan kita lapor dulu. Kita layakkan aja karena anak-anak saya." Nah, mereka bilang ke saya ee bapaknya bilang, "Saya ini tadi baru nyampai di Jakarta.
10:20
Speaker A
Baru nyampai di Jakarta. Barusan aja sedang makan kan belum berapa menit udah dibilang sudah sendiri." Si Naomi. Naomi anaknya adik menantu saya, anaknya perempuan itu. Si Naomi sama mamaknya sudah hampir sebulan lebih di Jakarta. Saya baru sampai. Tapi dibilang tadi sama menantu
10:44
Speaker A
saya, bapaknya sama adiknya baru nyampe. Heeh. Yang duluan itu mamaknya di Jakarta. Iya. Tapi bapaknya bilang adiknya sama mamnya yang sudah duluan di Jakarta hanya dia yang barusan datang hari Minggu itu.
11:00
Speaker A
Apa maksudnya poin yang ini nih. Jadi saya kok ini, Bang alur ceritanya menurut si IH papa mamanya itu keterangannya sudah berbeda. Tadi kan disampaikan sama mama ini, mamanya si apa? Winda. Heeh.
11:17
Speaker A
Imam Imam tadi bilang sudah di sana kian. Nah, ini adalah keterangan baru sampai. Jadi, ada dua pers
11:29
Speaker A
Oke. Yang diasumsikan itu mengarah ke mana? Nah, kenapa keterangan ini bisa berbeda? Padahal kondisinya bersamaan.
11:38
Speaker A
Kondisi yang bersamaan kan si Brigadir IHA ini kan bertelepon sebelumnya ke mereka bahwasanya gitu ya, bahwasanya si apa? Mama dan si Naomi sudah di sana.
11:50
Speaker A
Gakak. Eh, mamaknya sudah di sana di Jakarta. Iya. Tapi bapakku sama adikku perempuan baru sampai tadi.
11:59
Speaker A
H. Tapi bapaknya jumpa ke saya, dia bilang, "Bapak mamnya yang sudah kian duluan hanya dia yang baru datang." Hm.
12:08
Speaker A
Itu. Heeh. Sudah. Tapi saya masih belum berpikir di situ. Saya kedua begitu di mobil kami jumpa di bandara ee dibilang ke saya, "Semua polisi semua sudah aman. Yang penting saya kuat ikutin Alur Raja." H.
12:29
Speaker A
kita ikutin aluk raja. Setelah itu ee nyampailah kami ada cerita cerita di jalan itu sampai kami di rumah setannya di rumah mereka karena biasa kan kalau ada orang meninggal ramai orang.
12:46
Speaker A
Heeh. Tapi kok enggak ada orang hanya beberapa. Saya tanya mana anak saya? Mana dia? Karena enggak ada mayat, gak ada orang di dalam. Hm.
12:57
Speaker A
Hanya di luar beberapa. H. Ica ikut waktu itu juga tidak. Hanya anak saya laki-laki bersama dengan orang tuanya tadi.
13:04
Speaker A
Ica ya. Heeh. Bersama orang tuanya tadi. Kami bersama dari Jakarta. Iya. Oke. K bilang tidak ada.
13:13
Speaker A
Kenapa tidak ada? Ee mereka bilang sudah di rumah sakit. Oke. Ah. Tapi mereka bilang pertama dari mobil itu di jalat si Loren ini jangan diotopsi ya. Kasihan kita di toko juga mereka bilang jangan diotopsi kasihan.
13:33
Speaker A
Masa dia sudah diri nanti dia dibelah-belah kasihan. Yang bilang itu mamnya. Mamnya dari iman.
13:40
Speaker A
Ah nanti dibelah-belah kasihan. Saya pikir iya. Ah. Tapi setelah sampai di mobil mereka bilang adiknya nelepon.
13:51
Speaker A
Ee mak adiknya yang hakim. Heeh. Adiknya Iman. Iya. Oke. Adiknya Iman. Saya dengar ditelepon itu wajib di apa?
14:01
Speaker A
Aopsi. Tapi sudah dilapor jadinya ke polisi karena bagaimana nanti surat kematiannya. Tadinya dibilang jangan dilapor ke polisi, di kebumikan saja.
14:12
Speaker A
Oke. [berdehem] Jadi wajib katanya diutopsi. Hanya sejauh itu saya saya bilang saya diam aja gak jawab apa-apa. Bingung, bingung.
14:21
Speaker A
Iya. Saya jam sampai begitu sampai di rumah eh belum lagi teleponan sama kani semua mereka dibilang adiknya sudah tante kani teman abangku semua sudah kita atur.
14:32
Speaker A
Yang penting tante ikutin alur aja. Kita pikirkan anak-anak bagaimana pengumuran kita layakkan. Nanti kalau sudah siap langsung kita kebumikan.
14:41
Speaker A
Heeh. Tapi hati kecil saya, saya bilang, "Saya lihat dulu anak sayalah ee masuk panggil keluarga." Tapi saya diam aja, saya sudah gak bisa saya kata-kata saya sudah lemah. Begitu nyampai rumah saya lihat ada beberapa ada yang pertama saya lihat hanya dua
15:01
Speaker A
perempuan. H pertama saya lihat sepi lebih ramai. Mana anak saya? Enggak ada ke mana? di rumah sakit.
15:14
Speaker A
Kenapa dia di rumah sakit? Kenapa belum di rumah? Boleh saya lihat? Tidak boleh. Tidak bisa lihat karena itu di tangan polisi.
15:25
Speaker A
Sebelum diperiksa semua, diperiksa dulu kamu diperiksa semua sebagai saksi. Tidak boleh ada yang melihat.
15:32
Speaker A
Oh, jadi tadi bilangnya jangan lapor polisi dulu, tapi kenapa sekarang bilangnya udah di kamar mayat ada di tangan polisi begitu? Kemudian mereka bilang harus dilapor karena ini sendiri bagaimana surat kematiannya nanti.
15:47
Speaker A
Oke. Terus itu ya itulah kami tunggu di situ setelah agak malam saya di bawah kota saya bilang ee boleh saya lihatlah tidak bisa. Oh, tetap mau mau lihat tetap tidak bisa dengan hati kecewa saya duduk di situ memang
16:11
Speaker A
entar dikasih minum saya bilang saya pulang ke rumah saya kebetulan ada rumah juga di Medan mereka bilang tidak di hotel saja di tempat kami.
16:23
Speaker A
Di antarlah kami di tempat penginapan mereka. Sampai di situ mereka bilang cepat-cepat. Kami satu malam itu ditungguin sama adiknya.
16:35
Speaker A
Adiknya adik laki, adik perempuan mamanya menantu saya di hotel itu ditungguin kami. Heeh. Begitu pagi-pagi dibawa lagi kami ke rumahnya.
16:45
Speaker A
Oke. Di situ terus kami tidak lihat-lihat jenazah. Tidak ada jenazah. Saya bilang, "Kapan kita lihat, Kak?
16:52
Speaker A
Belum bisa. kamu harus ee ee kuat harus nanti kita kebumikan ini langsung. Heeh. Dan lama kemudian ada saudara datang berdatangan.
17:05
Speaker A
Heeh. Mungkin ditelepon anak saya entah suami saya telepon. Mereka bilang itulah tidak. Waktu datang saudara saya mereka marah. Tidak ada hak kalian di sini.
17:19
Speaker A
Ngapain kalian datang di sini sama keluarga saya? yang berhak di sini hanya orang tuanya kandung. Ngapain kalian datang ke rumah saya? Dibilang bapaknya.
17:32
Speaker A
Terus di situ kami tidak boleh mengambil foto. Tidak boleh ada yang berfoto. Tidak boleh ada yang video apapun di situ.
17:40
Speaker A
Tidak boleh ada rekam-rekaman di situ. Oke. Pasti dihapus. sampai ada sedikit perselisihan, percakapan, ada ketegangan antara kakak saya dengan bapak Iman.
17:53
Speaker A
Heeh. Karena dibilang, "Siapa saja yang kalian datang ini semua baru dijelaskan kalau ini anak abang saya, anak kakak saya, menantu mama saya, cucu mama saya, tidak ada satuun orang lain situ baru ee diam-diam di situ bapaknya." Ee sesudah itu saya bilang saya sakit. H
18:15
Speaker A
saya memohon e kan saya jantung saya itu mungkin karena sakit terus sakit di sini semua terus kalau saya berapa sakit saya bilang saya sakit entah siangnya pada dari pagi saya sudah bilang saya sakit gak ada saya tolong tapi gak ada dikasih
18:37
Speaker A
ke rumah sakit cuma dia bilang ke saya diperiksa kamu kamu harus beri keterangan kamu satu-satunya beri tangan untuk mengambil mayat. Saya bilang, "Bagaimana dengan bapaknya? Dia tidak berhak karena sudah ditungguin dia. Dia enggak ada karena dia sudah buat laporan di Polres. Dia sudah
18:55
Speaker A
melapor. Saya bilang, "Itu kan anaknya, itu kan ee bapak dari anak saya. Saya tertekan situ makin jantung saya sampai adiknya itu datang kasih minyak sama saya. Saya terus adiknya bilang tetap saya harus diperiksa.
19:18
Speaker A
Datang polisi ke kamar berapa kali. Mamanya juga bilang, "Kamu kamu mau diperisa atau mayat ini busuk enggak diambil-ambil?" Saya bilang, "Kak, saya sakit nanti dulu." Belum bisa karena saya tahu sudah gemetar-gemetar.
19:37
Speaker A
Bapaknya masuk. Cara-caramu itu saya tahu. Ikutin aja jalurnya. Karena aku tahu kamu kita datang dari Jakarta beda badanmu, beda kamu. Setelah sampai sini dia bilang gitu. Cara-cara itu sama. Kamu jangan begitu.
20:03
Speaker A
Periksa kamu di kamar rumah mereka. Mereka datang karena aku disuruh kan aku dah dibuka baju sama pakaian dalam karena susah karena saya takut saya terus itu gimana busuk anak saya ee itulah diperiksa ditanya kamu bisa saya bilang saya coba tapi kamu sakit dibikin sakit
20:31
Speaker A
stroke semua saya apa yang sakit ini gak ada tapi tetap dibilang bisa itu. Tuh pingin sama anaknya di suruh pingin tepingin.
20:41
Speaker A
Oh, Icha sudah ada di situ? Iya, [berdehem] udah udah pas hari Senin besoknya. Oke. Kamu menyusul?
20:46
Speaker A
Iya, menyusul. Setelah itu sampai malamlah ada keributan situ. Tinggal kami. Saya bilang, "Saya pulang ke rumah kita." Tetap saya enggak dikasih.
21:01
Speaker A
Tetap saya harus tinggal di hotel merdeka. diantar lagi ke hotel mereka tidur situ. Kebetulan anak kakak saya saya bilang saya sakit. Saya bilang ini.
21:15
Speaker A
Mereka bilang tidak. Saya pulang ke rumah saya bilang tidak. Sudah malam. Sudah malam. Tapi karena kamu nurut aja karena besok diambil jen semua mamnya K marah Abah.
21:30
Speaker A
Saya bilang ke mana itu? besok dikebumikan saya mohon lagi kakak saya saya sampaikan kak bagaimana kalau mayat anak saya itu satu hari ajalah di sini biar ketemu ketemu dia.
21:44
Speaker A
Saya sampaikan pertama sama anak kakak saya mereka bilang tetap tidak bisa karena belum di formalin [berdehem] karena hanya di es bau bisa. Jadi sudah setelah Mama sampai di situ berapa hari itu tidak bisa lihat ee sama sekali totalnya
22:02
Speaker A
Minggu Senin Selasa. Oh, Minggu, Senin, Selasa. 3 hari sel? Iya. Selasa waktu jemput mayat di rumah sakit barulah mereka bilang sama saya, "Begini, kami tidak tahan. Kalau misalnya kamu mau lihat anakmu, boleh bawa anakmu. Tidak boleh di rumah
22:20
Speaker A
ini. Karena ada yang kami jaga, ada lansia dan ada anak-anak. Jangan sampai trauma kalau dibawa ini ke rumah. Jadi gimana kah? Begitu keluar dari rumah sakit langsung dikubur. Sudah disiapkan semua kubur peti mayat. Hati kecil saya lagi.
22:41
Speaker A
Saya bilang ke kakak saya waktu datang kakakku itu saya bilang kak tolong. Dibilang lagi seperti itu. Tidak bisa.
22:47
Speaker A
Yang bilang yang bilang siapa? Mamnya. Mam karena itu sudah bau busuk di tidak bisa diformalin katanya udah busuk.
22:58
Speaker A
Oke. Karena sudah mapar terus itulah saya bilang kak gimana enggak bisa. Tapi kalau lu mau bawa anak lu boleh. Tapi semua beban, semua biaya maupun menyangkut beban kalian nanti entah ongkosmu, entah ongkos danamu dan penguban, kami sudah tidak mau peduli lagi.
23:23
Speaker A
Silakan ambil mayat nanti kami enggak mengalami [berdehem] saya diam. Jadi malam itu saya bingung.
23:32
Speaker A
Makanya tengah malam saya bilang, "Saya pergi dulu. Saya mau pergi sebenarnya ke rumah kami, tapi di pasar harus ke hotel lagi mereka. Tiba-tiba anakku pagi kan satu malam sakit. Dibilang ayo mak ke rumah sakit. Kan kakak nanti dikubur
23:49
Speaker A
sekalian aja tas kita bawa ke rumah kita biar kakak yang bawa kita ke rumah sakit. Kami pesan mobil bawa barang mau ke rumah bawa barang ke rumah kami.
23:58
Speaker A
Keluar kami dari hotel. Adiknya sudah menunggu di bawah. Adik mamanya menantu saya. adiknya laki-laki yang setiap hari menunggu kami, membawa kami di hotel itu tetap ada dia bersama.
24:10
Speaker A
Bukan yang hakim kan? Bukan yang hakim. Itu hakim adiknya menantu saya. Kalau yang membawa kami di mobil, adiknya mertua anak saya.
24:20
Speaker A
He dibilang, "Ini om, mama dari semalam sakit, kami bawa dulu mama saya ke rumah sakit karena orang kakak saya sudah menunggu. kasihan ini dibilang kita pergi dulu ke rumah pagi ini kita sudah ditunggu. Iya, Om. Tapi saya selamatkan dulu ini mama saya. Dia
24:43
Speaker A
bilang anak saya entah apa lagi berdebat anak saya sama dia. Sehingga mobil yang sudah kami pesan ada di depan. Itulah kami naik. Sepanjang jalan itu kami ditelepon terus di oleh adik ee suami anak saya, adiknya perempuan.
25:00
Speaker A
Di mana kalian? Nuruk-nuruk aja. Dan ingatnya yang bisa mengambil saya dengar di L speaker yang bisa mengambil mayat hari ini adalah saya atas nama Naomi dan Yestina saya tidak ada yang bisa mengambil dan tidak ada yang berhak.
25:18
Speaker A
Cepat kamu pulang. Mama saya bawa ke rumah sakit. Kenapa harus berobat tempat lain? Dibayangkarkan nanti bisa berobat banyak di sana. Apa? Nurutlah ya. Nurut nurut nurutlah.
25:31
Speaker A
Ya. Ajalah. Jangan ini cepat. Dia bilang iya. Ee disebut nama iya Nomi nanti kan jumpa di rumah sakit juga kan.
25:41
Speaker A
Ya udah tunggu di sana. Kita jumpa sana kan sama aja. Tapi tunggu mamaku diobatin dulu.
25:49
Speaker A
Itulah cerita pergi kami ke rumah sakit. Akhirnya di situ bisa dapat bisa bisa lihat pertama kali.
25:59
Speaker A
Saya belum lihat anak saya dulu di situ. Di rumah baru bisa lihat. Pas di rumah sakit belum bisa lihat itu anak saya yang mandikan.
26:07
Speaker A
Oh I bisa lihat akhirnya setelah berapa hari akhirnya bisa lihat itu. Saya mandikan. Itulah perdebatan di situ. Keluarga dibilang masih keluarga saya. Kalau memang kamu ee kalian mau membawa ini si Loren menentu boleh tapi sembahyangkan dulu di rumah. Karena sesuai dengan adat kita,
26:29
Speaker A
agama kan diberkati dulu, didoakan dulu, terus adat kita kan di diadatin dulu, dilihat keluarga dulu, baru besoknya lah mereka tidak mau.
26:40
Speaker A
Mereka bilang, "Kalau kalian bawa ke rumah, mayat kalian ambil silakan." Itulah keluarga mengambil membawa ke rumah apa? Ke rumah pihak perempuan.
26:52
Speaker A
Ke tempat pihak perempuan. Di situlah setelah kami lihat terus ditanya karena kemarin mereka bilang enggak bisa lagi formalin harus dikubur.
27:01
Speaker A
Heeh. Ditanya keluarga rupanya anak saya bisa diformalin dan anak saya tidak bau. Mereka bilang sudah bau itu sudah busuk.
27:07
Speaker A
Yang ngomong siapa itu? Mamnya tidak bisa lagi diformalin karena sudah berhari-hari. Tapi ternyata ternyata bisa diformalin.
27:14
Speaker A
Yang ngomong siapa ini? Ini ee ada keluarga yang sudah sampai ke rumah sakit. Kemudian mereka tanya sama petugas di situ. Ternyata bisa. Petugas bilang bisa enggak ada masalah masalah ada masalah. Oke.
27:25
Speaker A
Itulah diformalin tidak ada bau anak saya. Oke. Itulah bermalam. Oh di situ akhirnya mama mama bisa ketemu itu yang ada di video itu ya yang mama menangis itu ya.
27:36
Speaker A
Iya situ tuh Pak Kapori Bapak Kapol Kibrat Bapak Rabowo presidenku tolong we anak kesayanganku we. Ada yang sudah banyak cakap e pas di dalam pas saya melihat jenazah kakak saya itu tidak bisa kita foto yang waktu di rumah sakit ya yang waktu
27:59
Speaker A
kamu mandikan ya kamu enggak boleh foto enggak boleh foto. Kamu enggak tanya kenapa enggak boleh foto?
28:04
Speaker A
Katanya larangannya peraturannya memang di dalam itu tidak boleh difoto. Oke. Kemudian kemudian ada keluarga yang memfoto disuruh hapus.
28:13
Speaker A
Keluarga siapa itu? Keluarga saya. Oke. Terus na yang suruh hapus itu Polwan sama ada di situ pakai baju bebas lah pokoknya petugas di situ.
28:21
Speaker A
Kamu yakin itu Polwan ya? Iya karena dia pakai baju polisi dan saya sudah tanya sama sepupu saya ini.
28:27
Speaker A
Oke. Kemudian kamu ee pas mandiin kamu bisa lihat tubuhnya dong. Bisa. Ah. Ada hal-hal yang kamu rasa aneh atau bagaimana?
28:36
Speaker A
Ada. Apa itu? Matanya lebam. Matanya lebam. Heeh. Kanan kiri. Kemudian. Nah, foto ini dapat dari mana? Kalau di sana enggak bisa foto sampai rumah.
28:48
Speaker A
Oh, di rumah tidak ditahan. Tidaklah karena sudah di di di keluarga saya sudah di pihakku.
28:54
Speaker A
Tapi mereka tahu kalau ini difoto. Izin. Tidak. Harusnya dari rumah sakit langsung dikebumikan. Heeh.
29:01
Speaker A
Itu harapan dari pihak keluarga laki-laki. Laki-laki. Tapi pihak keluarga Bapak G G Sawah dan Gasa dan Ibu Laya.
29:10
Speaker A
Iya. Maunya ini dibawa ke rumah keluarga besar G. Iya. supaya bisa didoakan dan lain-lain dulu kan.
29:15
Speaker A
Nah, pada saat itu akhirnya difoto. Makanya foto ini akhirnya beredar di sosial media kan.
29:19
Speaker A
Sampai di rumah. Setelah sampai di rumah Bang. Nah, ini kan ada jahitan, ada otopsi terjadi.
29:24
Speaker A
Betul kan? Betul. Betul. Coba terus tangan kuku biru. Saya mau cari yang mata dulu tadi dari penjelasan I. Oh, ini ya, Cak ya?
29:32
Speaker A
Iya. Mata lebam ini ya, Cak ya? Ini kamu lihat ini pas di rumah sakit ya?
29:36
Speaker A
Iya. Nah, kemudian kamu ada tanya enggak mata lebam ini kenapa? Ee enggak ada. Enggak ada saya tanya.
29:42
Speaker A
Oke. Terus kemudian apa lagi yang kamu lihat? Ini yang ditanya ini. Ini yang kami tanya.
29:47
Speaker A
Leher. Di leher itu kan ada jahitan itu ditanya sama kakak suu saya. Kebetulan kan kita berdua ini yang mandiin dia.
29:54
Speaker A
Ditanyain ini kenapa ya ada bekas jahitan? Iya. Ee ini katanya habis kena suntikan dikasih obat. Obat apa sampai bisa di jahit sebesar itu?
30:03
Speaker A
Oh dia bilangnya suntik. Suntik. Disuntikkan obat bukan otopsi. Bukan otopsi. Suntik. Suntik. Iya disuntik. Dikasih obat. Oke. Tapi habis itu dijahit.
30:13
Speaker A
Iya dijahit. Paham? Jadi aneh gitu kan. Oke. Kemudian [mendengus] ini kan yang di kepala.
30:21
Speaker A
Iya. Ini yang bekas tembak. Iya. Katanya. Nah, katanya tembak ini ya. Jadi dijahit kan?
30:26
Speaker A
Kan karena kan di sebelah sini katanya. Eh sini di sebelah mana? Kanan. Sebelah kanan.
30:30
Speaker A
Kanan sini ya. Ini yang penyebab ee penyebab beliau meninggal ya. Oke. Terus yang ini ah yang biru itu kita enggak ada tanya.
30:39
Speaker A
Petugasnya bilang, "Kak, ini biru ya karena mulai membusuk kata." Oh, yang jahitan di perut.
30:45
Speaker A
Iya, hanya di bagian atas pusarnya aja, Pak. Oke. Ini kan ada jahitan. Iya. [berdehem] Nah, di bagian atas puser ini dia biru.
30:54
Speaker A
Iya. Tapi yang lainnya enggak. Yang lainnya enggak. Enggak. Hanya di bagian atas pusarnya saja.
30:58
Speaker A
Terus dia bilang karena sudah mau mulai membusuk. Heeh. Oke. Terus ini yang kaki ah itu pas kita buka di rumah itu membiru. Terus sampai di sana juga pas ee di ruang otot eh di ruang ee apa ee jenazah memang biru-biru.
31:13
Speaker A
Biru-biru itu biru-biru bagaimana? Biru-biru kayak membusuk atau biru-biru enggak? Biru. Biru. Biru memar lebam.
31:20
Speaker A
Kayak ada benturan. Iya benar. Banyak titik begitu. Heeh. Benar. Nih ada beberapa titik kan?
31:27
Speaker A
Iya benar. Oke. Terus kemudian kuku kuku tangan. Iya. Itu kan sebagian menghitam, sebagian tidak. Kalau bagi kami di kesehatan itu seperti orang yang kekurangan oksigen.
31:38
Speaker A
Oh, kamu di kesehatan? Iya. Bidan. Oh, oke. Terus kemudian ini kamu merasa ada kejanggalan.
31:44
Speaker A
Kejanggalan seperti orang kekurangan oksigen. Oksigen. Terus ada di sini. Di sini kan yang bekas J itu ada membiru.
31:52
Speaker A
Iya. Jadi kamu merasa ada konektivitasnya. Oke. Kemudian kaki. Kaki ada biru ya. Lebam. Lebam.
32:02
Speaker A
Lebam. Terus apa lagi? Kiri juga gitu. Kaki kiri, kaki kanan. Kaki kiri, kaki kanan.
32:08
Speaker A
Iya, gitu. Oke. Kamu terus ada ininya. Kemudian ini, Bang ee di bagian sininya kayak tulangnya ini masuk ke dalam.
32:16
Speaker A
Oh, aku lihat ada di video. Lembek. Heeh. Lembek. Udah beda jebol [berdehem] gitu tulangnya. Amblas ke dalam di bagian titik tembakan. Enggak.
32:24
Speaker A
Sebelah kiri. Sebelah kirinya. sebelah. Oke. Jadi dia tembak di sini, di sini lembek nih.
32:30
Speaker A
Di sini yang amb ke dalam tulangnya. Tengkorannya tulang tengkoraknya ini. Jadi dia kan nembak sini.
32:35
Speaker A
Peluru kan ke sini ibaratnya kan. Nah kalau sebelah sini dia lembek nih. Tapi peluru tembus tidak?
32:41
Speaker A
tidak. Cuman ini ke dalam dia peot ke dalam. Peot ke dalam pas di sini lumayanlah.
32:46
Speaker A
Bukan di sini. Di atas. Oh di atas sini. Heeh. Heeh. Heeh. Di sini. Di sini. Di sini.
32:50
Speaker A
Di atas sini ya? Iya di sini. He enggak ya? Di sini. Apakah itu disebabkan oleh peluru?
32:56
Speaker A
Kenapa ke dalam? Iya kan? Jadi pertanyaannya begitu kan. Kenapa ke dalam? Apakah disebabkan oleh peluru? Kenapa itu yang menjangkan?
33:04
Speaker A
Oke. Nah, otopsi yang dilakukan aku lihat dari sini. Dari sini. Dari sini. Dari sini.
33:08
Speaker A
Heeh. Terus otopsi kami enggak dikasih tahu. Kami enggak ada diminta izin ditanya. Enggak ada dikasih tahu. Enggak ada di ee tidak diminta izin tidak sama sekali.
33:16
Speaker A
Ibunya tidak diminta izin. Tidak. Oke. Ini yang membuat jadi banyak sekali pertanyaannya gitu. Benar.
33:24
Speaker A
Apalagi yang membuat jadi baik. Nah, pada saat saya kan ee begitu sampai di rumahnya ee Iman saya tuh diizinkan naik ke lantai du.
33:34
Speaker A
Oke. Di tempat TKP itu kan di tangganya itu memang sudah ada garis polisi. Heeh.
33:40
Speaker A
Nah, di situ saya disuruh naik, saya disuruh ambil baju untuk persiapan pemakaman. Kedua, saya disuruh iman untuk mengambil berkas, berkas-berkas dia.
33:51
Speaker A
Saya sudah tanya di situ sama keluarganya, "Apa saya bisa naik ke lantai du?" Mereka bilang, "Enggak apa-apa, naik aja." Padahal situ sudah ada garis polisi. Nah, setelah saya naik, saya masuklah ke kamar.
34:04
Speaker A
Saya lihat di kamar ada bercakah. Hm. Menuju kamar mandi TKP. Kan saya masuk kamar nih. Nah, di dalam kamar itu ada kamar mandi.
34:18
Speaker A
Di depan di depan tempat tidur itu menuju ada garis darah begitu. Ada darah. Sedangkan informasinya meninggalnya di kamar mandi.
34:26
Speaker A
Di kamar mandi. Ee menembak dirinya di kamar mandi. Kamar mandi. [berdehem] Tapi saya melihat di kamar itu ada darah.
34:31
Speaker A
Kamu ya kamu ada foto? Saya enggak foto karena kita enggak dikasih foto. Dikasih foto. Bang itu menjadi tanda tanya.
34:37
Speaker A
Heeh. Dan begitu keluarga saya kan pada berdatangan tuh, Bang. Jadi ee [tertawa] keluarga saya ngomong sama tetangga [mendengus] dilarang. Saya disuruh sama Bapak Iman larang itu. Enggak usah ngomong-ngomong sama keluar e sama tetangga supaya tidak ke mana-mana mas.
34:54
Speaker A
Heeh. Atau mungkin ada suatu yang Iya. Saya enggak tahu. Pokoknya saya dilarang oke memarahi keluarga saya ngomong sama tetangga enggak boleh.
35:02
Speaker A
Nah, di situ saya nurut karena saya bertujuan saya harus lihat kakak saya dulu. Heeh. He.
35:08
Speaker A
Akhirnya kamu dapat lihat enggak? Lihat. Saya yang mandikan kakak saya. Oke. [mendengus] Itu yang tadi ya.
35:14
Speaker A
Ee izin Bang. Yang ini kan tadi keluarga bilang ada lubang di sini itu diperban.
35:21
Speaker A
Oke. Nah, di situlah keluarga melihat adanya lubang [mendengus] di bawah dagu yang dijahit dan memeru ya di itu tadi mau saya tambah sedikit. A. Oke. Jadi, jadi mungkin inilah yang membuat keluarga janggal dan kuku tadi berdasarkan Iya. berdasarkan [berdehem] analanya dia
35:39
Speaker A
gitu kan ya. Walaupun analisa ini kan belum bisa dipastikan tapi harus dilakukan penyelidikan. Kenapa? Kenapa aneh mesti diperban itu juga sih?
35:47
Speaker A
Iya. Nah, sekarang posisi mayat sudah dikubur atau masih sudah dikubur? Ya, berarti sudah dikubur. Nah, keterangan dari kepolisian kemarin saya kan lihat tuh pemeriksaan kita secara langsung kepada itu kita jumpai ciri-ciri luka tembaknya itu adalah luka tembak tempel. Saya
36:05
Speaker A
tidak ada melihat apa menjumpai tanda-tanda kekerasan hanya yang saya jumpai di situ tuh bekas bekas sayatan di tangan buka bekas luka yang lama warna coklat. Kalau keahlian kita kan tidak berhak membantah apa yang disampaikan ya forensik kan ya forensik kan Bang.
36:24
Speaker A
Tetapi pada intinya kita harus memang mintakan negara dalam hal ini nanti siapapun orang yang membantu agar ada dua keterangannya. Kalau hanya satu nanti kan seolah-olah sudah benar ataupun seolah-olah salah berbanding ya.
36:37
Speaker A
Iya. Jadi ada pembandingan. Nah dikarenakan kan bank saat penyampaian itu belum semua terwakilkan. dari foto-foto yang ada misalkan tuh dari punggung kaki kan ada yang biram tuh Bang biru kan itu menurut saya belum disampaikan itu kenapa terus ada bekas sayat-sayatan
36:58
Speaker A
kecil itu kenapaut di lutut itu kenapaut maksudnya kurang detail penjelasannya begitu Mas Iya maksudnya kan ee lagi seperti ini Bang Ded namanya orang kesehatan kan lebih paham meninggalnya berapa jam sebelum sebenarnya pada saat mau ditangan kan begitu. Terus
37:17
Speaker A
peluru tadi keterangannya dia tidak menembus kekurangan kekuatan. Heeh. Karena dihalangi tengkorak begitu kan maunya ee Pak Dokter Forensik menyampaikan kami kan masyarakat awam ini tidak paham kesehatan lebih detail agar berita di media itu tidak simpang siur kan gitu. I
37:38
Speaker A
dijelasin tuh misal mata ini itu dijelasin apa? Iya, ada pembuluh darah yang pecah, tetapi pangkal kaki itu, badan kaki itu ada yang biram dan kemudian lutut. Lalu kemudian yang ini itu belum semua terwakilkan dijawabkan sama dokter forensi yang kami
37:54
Speaker A
Oke. Berarti keterangannya masih belum jelas sehingga ini menimbulkan simpang siur. Karena kan kalau orang awam ngelihat kondisi wajah beliau tiba-tiba ada memardi mata orang kan bisa berpikir dipukul. I.
38:07
Speaker A
Tapi bisa saja mungkin ditimbulkan akibat efek daripada peluru yang masuk ke dalam kepala. He kan bisa aja ada dua POV tetap kan kita harus melihatnya begitu. Nah, mana nih yang benarul begitu kan dan poin-poin luka-luka yang lain kurang detail sehingga menimbulkan
38:24
Speaker A
banyak sekali berita yang kanan spekulasi kan spekulasi. Oke. Ditambah lagi tadi Icha melihat ada darah di itu di lantai di di depan pintu kamar mandi.
38:35
Speaker A
Iya. dari apa ee menuju kamar mandi lah kan. Tempat tidur nih. Tempat tidur. Oke. Heeh.
38:41
Speaker A
Ini tempat tidur. Kemudian di sini apa? Di sini kamar mandinya. Heeh. Sini kamar mandinya menuju ini. Dari sini ada darah.
38:49
Speaker A
Ada darah. Kenapa ada darah? Itu kan di gitu kan. Ada penjelasan dapat dari hal ini enggak? Saya enggak tanya. Saya enggak berani tanya Bang karena itu rumah orang. Saya mempertahankan saya harus lihat dulu. Oke.
39:02
Speaker A
Kemudian ada kejanggalan ee mengenai makam. Saya dengarnya informasi dari tim saya. [mendengus] Jadi kan ee rekan saya ini beserta keluarga kemarin kan setelah 3 hari di kesukuan Nias ya ada istilah tanam bunga ya dik.
39:19
Speaker A
Nah mereka ini kan tanam bunga gitu. Toh kan sekalian ziarah lah Bang. Ziarah. Kemudian dari keluarga juga sudah ada ngambil record diam-diam itu bertanya langsung ada pengelola kuburan dan ada penggali kuburan.
39:32
Speaker A
Bertanyalah kapan gitu kan, Bang. Nanti makanya saya sampaikan sama Bang Denso tadi ada dari peristiwa tersebut ada tidak ini tidak sejalan ceritanya semua ya kan. Nah, di situ mereka ini ng-record ng-record menurut keterangan pengelola kuburan di video itu nanti
39:52
Speaker A
boleh kita tunjukkan mereka ini siapa yang ngrecord mohon maf keluarga keluarga nanti ada ada dua deh Bang D keterangannya nanti kan keluarga keluarga termasuk saya ditanya kapan kalian menggali kuburan he kan begitu si penggali ada langsung menyampaikan minggulah
40:12
Speaker A
sebelum-sebelum terang matahari hari. Iya kan? Jadi si pengelola tadi kan ada pengelolanya nih, ada yang gali nih kan gitu. Di situ menyampaikan informasinya kami dari subuh sudah menggali di sini gitu. Ditegaskan sama keluarga lagi di video itu yang di sini
40:30
Speaker A
sebelum matahari kan? Sebelum matahari panas. Sebelum matahari panas itu jam 10, jam 11.00 gitu lah ya. Itu sudah ada yang digali kuburannya menurut video itu, Bang. Upung ada yang kemarin tua udah tua pokoknya yang kemarin datang waktu penguburan ada datang
40:49
Speaker A
ada ada. Oh iya yang pas penguburan ada ya Pak ya? Ada berdiri situ ada oh yang kemarin itu yang pasti informasi ke Bapak Minggu pagi itu. Oh bukan ini bukan Sabtunya nelepon gitu cepat kali orang Bapak galinya kami gali sebentar. Oh gitu gitu telepon
41:05
Speaker A
jam hari Minggu pagi ya sekitar jam berapa, Pak? Wah pagi ternyata pagi kam pokoknya hari Minggu Minggu kami sudah gali di sini hari Minggu pagi sudah menggali punya orang kita sudah pasang tenda enggak yang yang ini punya K
41:16
Speaker A
enggak ini kemarin pasang tenda bongkar tenda hari apa Pak kami kan ngubur kemarin hari Rabu hari Minggu hari apa ini hari apa hari Minggu mana bukan Minggu Senin sudah aku enggak masuk hari apa tuh Senin kita runut peristiwanya bertelepon
41:30
Speaker A
dengan mereka ini pukul 1400 lebih jam ya jam siang 30 hari hari Minggu tetapi Tapi, tetapi menurut keterangan di video itu sudah digali sekitar pagi jam 10-an sudah ada galiannya di situ sebelum matahari terbit.
41:46
Speaker A
Panas lagi itu keterangan dari video yang di-record sama Family. Ada videonya? Ada. Ada. Dan setelah ee kami tanya sama ee penjaga kuburan dan penggali ee kami tanya, "Pak, yang memesan kuburan siapa?" Ada opung itu. Terus kami tanya lagi ee ada enggak orangnya kemarin ada
42:07
Speaker A
ada kemarin ngomong di sini. Opung itu siapa yang memesan kuburan yang memesan kuburan pihak dari sana.
42:13
Speaker A
Tapi kalian enggak tahu siapa? Enggak Pak. Tapi di video itu ada, Bang di record, Bang. Itu keterangan pertama by video dari keluarga.
42:20
Speaker A
Rekan saya ini setelah mereka ziarah itu kan S sini, Bang. Mereka pulang, rekan saya ini masuk. Nah, rekan saya inilah yang ngrecord. Boleh diceritakan rekan saya ini ngrecord langsung.
42:30
Speaker A
Berarti ini mingguah meninggal ya jam . Bapak ya jam . Salam nyangkol minggu subuh rasanya pagilah dikabarin entar kami jam berapa subuh jam berapa itulah iya sambil langsung kami korek Senin belum masuk selasa belum masuk inilah dia masuk kan 3 hari juga kan
42:50
Speaker A
sudah pasti Bang tidak mungkin lagi itu si penggali kubur atau si pengelola membantah hal tersebut karena dua orang menerangkan jamnya itu di bawah sebelum matahari itu panas oke jadi si penggali kubur sama pengelola Bang pengelola di waktu yang berbeda
43:09
Speaker A
menjelaskan keterangan yang sama sama bahkan penggali lebih detail kami kalau menggali itu selalu di subuh sekitar jam .00 sampai di bawah jam sebelum matahari itu panas di atas.
43:21
Speaker A
Jadi mulai di subuh supaya sebelum matahari panas itu sudah sudah selesai. Kalau keterangan dari pengelola pengelola dikatakannya dari Minggu pagi itu saja, Bang.
43:33
Speaker A
Minggu pagi aja. Minggu pagi. Kalau tukang galinya dari mulai jam .00 jam 5.00 ke jam 0.00 kami sudah mulai menggali sampai sebelum matahari itu ada di atas.
43:43
Speaker A
Meninggalnya itu di dapat info hari Minggu jam . Jam .30.30 keterangan dokter mengenai waktu kematian sudah ada belum?
43:54
Speaker A
Itu belum ada kita mendengarkan kapan sih? Jam berapa sih meninggalnya? Heeh. Tepatnya meninggalnya kita belum ada mendengarkan itu. Entah kita yang itu yang menjadi simpan siur ya.
44:04
Speaker A
Iya Bang. Tapi Bang kan kita ada nih beberapa ee anggota kepolisian yang lepon mencoba gimana kita duduk gitu kan.
44:12
Speaker A
Iya. Itu sudah menjelaskan pukul 14.00 00 lewat itulah waktu meninggalnya si Winda Lorenza ini. Tapi kita enggak tahu, Bang, yang mana yang betul sampai hari ini. Kita enggak tahu informasi.
44:27
Speaker A
Benar, Bang. Nah, terus kejanggalannya lagi yang menurut kami ya, Bang, ya. Ini ibaratnya nih ini istri kita ini atau dikatakan simpangsurnya juga cerai.
44:36
Speaker A
Heeh. Nah, kalau kita nih enggak salah nih, kita lihat ada orang gak diri atau ditem atau menkan diri harusnya kan memberitahukan ke orang tuanya anaknya difoto lah.
44:45
Speaker A
Alangkah baiknya begitu ya, Bang ya. Ini enggak hanya berupa telepon. Di situ. Saya juga melihat teleponan dari si Brigadir IHA ini dengan Ibu He e Yestin ini.
44:55
Speaker A
Heeh. Kok enggak ada bukti gitu meninggalnya kenapa? Maunya kan difoto gitu, Bang. Meninggal difoto gitu. Ini kita sampai ini enggak tahu kapan memang jenazah itu dievakuasi dari lokasi, kapan jenazah itu diantar ke Rumah Sakit Bayangkara.
45:10
Speaker A
Kita enggak pernah tahu waktunya. Karena ayahnya sendiri pun seperti kebingungan ya. Waktu bapak itu datang ke Rumah Sakit Bayangkara, bapaknya itu enggak diperbolehkan langsung melihat [menangis] bapaknya. Aku bisa nangkap karena dari penjelasan Ibu tadi perkaranya itu adalah ini karena ada melibatkan
45:27
Speaker A
institusi kan dia bekerja di dalam sehingga ada ketakutan kan tadi kalau aku tangkap dari POV itu sehingga mengakibatkan informasi itu tidak terjadi secara transparan.
45:37
Speaker A
Benar. Nah, pertanyaannya adalah apakah betul-betul ee berdiri atau dibun ini kan yang menjadi keresahan orang dan terutama pasti keluarga kan itu poin paling besarnya. Nah, pertanyaan paling eh e dari sosial media yang eh kita dapat ada anak ya, anak kecil ee kalian
46:01
Speaker A
sudah lihat belum anak kecil yang Heeh. Katanya itu adalah anak dari Winda berarti cucu yang kemudian memberikan keterangan di situ.
46:10
Speaker A
Abang itu masuk kamar di situ. Abang melihat mami lagi tiduran sama papi. Tiba-tiba mami bilang, "Bang, tidur, Bang." Habis bilang kayak gitu, abang mau tidur. Tapi abang hadapnya hadap ke situ. Waktu abang hadap sana itu, mami meluk abang bilang, "Abang jadi anak
46:30
Speaker A
pintar ya, jadi anak kuat ya." Habis itu abangnya bilang, "Iya, udah mami langsung ke kamar mandi." Kita udah lihat dan kita sudah dengar.
46:41
Speaker A
Ee, Bang, tuh kan anak-anak, ya kan? Saya tidak membenarkan, saya tidak menyalahkan keterangan itu.
46:48
Speaker A
Heeh. Alangkah lebih bijaknya harusnya anak itu betul-betul disampaikan sesuatu yang memang imbuhan menyayangi orang tuanya.
46:58
Speaker A
He. Kalau yang kita dengarkan anak [tertawa] itu dia tidak melihat langsung. Begitulah keterangan di situ. Dia tidak melihat langsung melihat yang di video.
47:10
Speaker A
Sekarang ini kan Bang jadi simpang siur. Heeh. Kalau saya berpendapat, ayolah sama-sama penegak hukum kita sama-sama buka hati dan pikiran.
47:22
Speaker A
[mendengus] Jangan jadikan ini ajang spekulasi. [mendengus] Mari kita sama-sama buktikan, mari kita sama-sama berpendapat. Tapi yang logika karena belum terjawab. [mendengus] Belum terjawab siapa yang ada di kejadian itu.
47:39
Speaker A
Anaknya juga enggak boleh, Bang, melihat. Nah, anaknya sendiri pun enggak boleh melihat. Bahkan orang ibu ini belum diambil keterangan.
47:49
Speaker A
Pada saat itu kita asumsikan diri dulu. Video itu siapa yang merekam? Kita enggak tahu, Bang. Liar di media dengan tujuan apa. Kan pertanyaannya jadi ke belakang begitu.
47:58
Speaker A
Bisa juga ya. Duga-dugaan aja sih, Bang. Penggiringan opini. Heeh. Duga-dugaan aja kan gitu kan.
48:03
Speaker A
Iya. Kalau karena kalau sudah sampai di publik itu bangun narasi kan. [berdehem] Ini bukan ngomongin bangun narasi itu jelek. Enggak. bangun narasi ini kan pasti bisa benar bisa enggak gitu kan keterangan anak tersebut bisa benar bisa tidak tapi kan tujuan di-upload-nya ini yang
48:17
Speaker A
harus kita cari tahu kan sebenarnya karena ruangannya sebenarnya harusnya di ruangan hukum gitu kan nah keterangan dari si anak ini kan menimbulkan spekulasi lag betul yang akhirnya membuat posisi daripada pihak keluarga yang meyakini bahwa ini tidak meninggal secara alami itu menjadi
48:34
Speaker A
bisa terpojok kan betul ok tapi kita juga satu sisi enggak boleh ee kemud kemudian ee menuduh bahwa pihak kepolisian ini sudah pasti enggak beres, enggak bisa juga posisinya kan supaya akhirnya clear.
48:48
Speaker A
Heeh. Poinnya harusnya bagaimana? Apa yang harus dilakukan? Itu kan, Bang, peristiwanya kan ada matinya seseorang.
48:56
Speaker A
Heeh. Iya kan, Bang? Ketika ada seseorang negara dalam hal ini polisi tidak dilaporkan pun sudah mempunyai tanggung jawab melidik untuk melaporkan. Melidik itu namanya LP model A. Melidik semua itu kan begitu, Bang. Sekarang kan pertanyaannya kan simpel Bang.
49:14
Speaker A
Hm. Siapa saja orang yang sudah diperiksa? Kan kita enggak terkonfirmasi. Saya dengar katanya ee suaminya si imam ini sudah diperiksa. Betul.
49:25
Speaker A
Kita kan enggak terkonfirmasi langsung, Bang. Tetap hanya media-media saat ini yang berperang Oh, hanya berita aja.
49:32
Speaker A
Belum terkonfirmasi langsung. Belum ada bukti bahwa memang sudah diperiksa langsung. Iya. Jadi sesi pada saat itu setelah dikebumikan Bang kita kan di situ ada datang ada datang dari telepon ataupun surat ya Dek ya dari Polrestabes Medan yang menurut keterangan keluarga mereka
49:52
Speaker A
ini diminta datang ke sana tapi hanya boleh berempat. [mendengus] Oke. Papanya, mamanya si Grace Veronika ini terus adiknya. Heeh.
50:03
Speaker A
Kan gitu, Bang. Disuruh datang berempat. Oke, itu Polestabes yang suruh, Bang. Heeh. Dikarenakan dari peristiwa tadi sampai dengan pendapat-pendapat yang tidak sinkron semua ini berujunglah tanggal 6 kita buatlah LP model B.
50:18
Speaker A
Oke. Di Polda Sumut ya. Itu aku lihat beritanya. Heeh. Iya kan, Bang? Nah, pada saat penerapan pasal rekan saya ini juga ada sedikit argumen Heeh.
50:28
Speaker A
di Polda Sumut. Kenapa pasal itu tidak dimasukkan ke ee dugaan pembuangan berencana? Heeh. Dari SPKT dan PKET konseling mengatakan kan sudah ada LP model A dan juga sudah naik SP sidik.
50:46
Speaker A
Oke. Dan memang kita baca sudah naik sidik, Bang. Sesuai. Iya kan? Tapi di pasal yang kita baca itu, Bang, dia seperti membiarkan seseorang melakukan diri. Oke. Pasalnya pasal pembunuhannya ada. Pasal pembunuhan pasal pembunuhannya ada tidak tidak dibukakan ee pasal bahwa ada
51:03
Speaker A
dugaan bisa saja berencanaan berencana. Jadi seperti seolah-olah sudah dugaan pembuhan dan ee menghasut seseorang orang lain untuk melakukan gitu.
51:14
Speaker A
Oke, itu yang menjadi pertanyaan dari Oke. Yang akhirnya berdebat di situ. Iya. Itu di power stabis LP model A-nya kan, Bang? Kan? Nah, sampai hari ini kita sangat menghargai proses hukum, tapi kita juga minta minta kita nanti akan sampaikan juga nanti di Komisi 3.
51:33
Speaker A
Kita akan minta perkara ini yang di Polrestabes agar lebih independen ditarik ke Polda Sumut dan perkara yang kita laporkan Polda Sumut tarik itu ke barisk krim dikarenakan apa? Keluarga ini kan sudah nyata melihat ada upaya-upaya, tekanan-tekanan ke mereka.
51:52
Speaker A
[berdehem] Biar [mendengus] lebih terang, perkara ini dilimpahkan ke Polda. Perkara yang Polda kita minta baris krem turun, bentuk tim khusus dikarenakan ee menurut keterangan mereka dan media yang sajikan papanya Brigadir AH ini kan orangnya lumayan power menurut keterangan mereka
52:12
Speaker A
dan media. Iya. Begitu. Jadi, ada kekhawatiran. Iya. Karena bapaknya bilang begini, "Kehidupan saya saat itu saya perterukan ini saya demi anak saya.
52:24
Speaker A
Saya sudah siapkan untuk anak saya R00 juta untuk masuk ke abah. Enggak usah takut. Saya hukum apa?
52:34
Speaker A
Siapa yang berani tidak pernah ini kalah dalam kasus kota Medan ini? Ini diusuman ini.
52:44
Speaker A
Ini saya takut. Makanya saya dia bilang lagi, "Saya akan cari pengacara untuk anak saya. Saya kejar itu katanya." "Coba ini bilang gitu coba." Siapa tidak ada tidak ada yang bisa mengalahkan saya?
52:57
Speaker A
Saya ini sebenarnya walaupun kamu miskin, saya tidak pernah beda-bedakan ee apa untuk ee besan saya. Saya sudah terima kamu sekarang. Sebenarnya, Pak, dari awal pernikahan sudah ada keribut-ributan sebelum rujuk ini ceritanya anak saya itu bukan datang minta rujuk tembak
53:23
Speaker A
sendiri. Sudah 2 bulan dijemput mama mertuanya dari bulan Juni datang ke rumah mereka sampai anak saya ini meninggal. Dan sebelum dijemput itu anaknya dulu dijemput di akhir bulan.
53:36
Speaker A
Ada masalah di sini April belum ada masalah mereka. Karena kan saya enggak tahu urusan keluarganya sayanya.
53:43
Speaker A
Oke. Nah, alangkah baiknya case seperti ini memang dikerucutkan. Kalau memang tidak ada faktanya jangan sampai akhirnya melebar ke mana-mana.
53:50
Speaker A
Karena kalau sudah sampai di media ee di publik itu pasti akan banyak asumsi saling gulung gitu. Makanya ee saya ee mengundang tujuannya adalah menarik benang kusut itu supaya orang semuanya clear melihat.
54:03
Speaker A
Berarti kan perlu ada keterangan dari pihak ee Kapor ee Tabesnya Medan ya. Supaya ini akhirnya menjadi terang benderang. He. [mendengus] Dan tidak ada lagi kejanggalan dengan berpulangnya almarhum Winda ini sebenarnya.
54:17
Speaker A
Iya. Jangan dipindah, Pak. Dia dijemput ibu mertuanya. Langsung saya antar ke bandara. Pulang dari Jakarta mereka berdua. Saya serahkan anak saya, "Kak, saya perlu ini anak kita ya, Kak. Jaga ya, bimbing jadi anak-anak." Iya, katanya.
54:35
Speaker A
Ya, sampai mereka berangkat bersama dan suaminya yang meminta. [mendengus] Sebenarnya saya berat untuk melepaskan anak saya karena sebelumnya pernah perpisahan mereka itu ada KDRT pernah dia disorong kadang enggak dikasih uang dimaki, dihina.
54:53
Speaker A
Dari mana mama tahu itu? Cerita dia ke saya. Makanya saya izinkan dia pisah rumah [mendengus] karena hari itu pergi dari rumah mertuanya tanpa sandal, tanpa apa.
55:04
Speaker A
Oh. Kalau lihat dari rumah yang pertama itu itu ke ke rumah mama pergi ke rumah orang saya di jauh di Nias.
55:14
Speaker A
Jadi yang mama yang pertama kali itu. Makanya sebenarnya waktu terakhir dijemput anaknya pertama itu saya nangis-nangis sama suaminya. Jangan dijemput cucu saya. Karena kalau cucu saya ini diambil dua-dua sama mereka pasti anak saya ini sekarang ikut. Jadi saya terhormat
55:31
Speaker A
dengan itu dulu diselingkuhin. Heeh. Itu disampaikan aja yang ada riwayat KDRT, Bang. Coba disampaikan. Heeh. Ini adiknya lebih tahu ceritanya gimana itu yang perlu disampaikan.
55:44
Speaker A
Dulu sebelum saya pindah Nias mungkin [mendengus] karena saya dekat jadi kakak saya itu entah mungkin lagi berantem apa gimana. [mendengus] Dia bangunin saya itu di kamar. Kebetulan kita satu tempat tinggal. Saya tinggal bareng Iman sama kakak saya. He. [mendengus]
56:01
Speaker A
Dia datang ke kamar bangunin saya. Dua, dua, dua. Bangun. Kenapa? Bawa Marvel pergi. Bawa Marvel pergi, kenapa?
56:08
Speaker A
Karena paling sayang anak. Tolong dulu kat gitu. Kenapa enggak apa-apa tapi saya sudah lihat di sini yang biru-biru.
56:15
Speaker A
Kamu jelas lihat itu biru? Jelas. Tapi dia gak cerita dia diapain. Iya enggak cerita.
56:19
Speaker A
Dia tutup aja gitu. Dia cuma bilang bawa pergi Marvel. Jadi pada saat itu itulah saya bawa Marvel pergi. Setelah itu pas saya bawa Marvel pergi imannya ngecat maki-maki saya karena saya bawa Marvel pergi.
56:32
Speaker A
Oh, kamu dimarahin karena ikut campur. [mendengus] Kenapa kamu tadi saya lihat sedih? Apa yang apa yang di benakmu?
56:42
Speaker A
Saya kasihan. Udah dengan kejadian itu kakak [mendengus] saya difitnah sendiri karena minta rujuk karena minta rujuk karena memohon mengemis.
56:51
Speaker A
suaminya pan sudah 2 bulan di situ. [mendengus] Dan pada saat itu ada yang berkunjung ke waktu ke rumah duka, ada orang gereja yang berkunjung.
57:05
Speaker A
Mereka sering lihat si kakak bergereja dengan anak-anaknya, dengan suaminya. Bahkan pada saat kebaktian rumah tangga di dalam rumah itu, setelah anak saya, setelah balik kakak saya, mereka bilang, "Kakak saya ada di rumah itu mengikuti kebaktian rumah tangga.
57:21
Speaker A
di rumah itu dan sudah dikenalkan sama keluarga iman. Diumumkanlah pada saat kebaktian rumah tangga itu dibilang, "Ini anak kami yang telah hilang kemarin sudah kembali lagi." Boleh dikasih lihat foto Juli yang kakak ada berfoto almarhum yang sing biru.
57:41
Speaker A
Oh, ada fotonya? Ada. Bulan Juli itu dikirim ke mamanya ke kamu. [berdehem] Iya. Coba kasih itu ada waktu mungkin enggak sengaja enggak sadar itu nampak ada ada di situ sesuai dengan keterangan dia apa nanti kita nanti kita setelah ini.
57:57
Speaker A
Tapi poinnya sebenarnya adalah kalian apakah mengetahui kondisi ee rumah tangga mereka atau benar-benar Winda menutup ini semua.
58:07
Speaker A
[mendengus] Ada enggak keterangan-keterangan dari Ada cerita. Tetapi saya pikir mungkin karena baru ini apa?
58:18
Speaker A
Iya. Oh iya. Itu bulan berapa itu, Dek? Itu foto bulan berapa tanggalnya? Kasih tahu sama Bang [bernyanyi] ini kan sesuai dengan timeline dia cerita ke kami.
58:29
Speaker A
Ini ini tanggal 7 Juni dikirim Iman. Terus pas saya Iman kirim ke kamu ke mama saya.
58:37
Speaker A
Poinnya apa dikirim ini? [mendengus] Ee mah ini. Oh lagi ke gereja. Heeh. Saya tanggung 7 Juni.
58:43
Speaker A
Oh tapi dia enggak sadar di situ ada B. Heeh. Dan pada saat kakak saya mengajar ini di rumah Iman langsung bulan berapa? Kasih tahu juga bulan 11 Juni sudah di rumah si Iman mengajari anaknya. Ini juga ada sudah tinggal sudah rujuk.
58:57
Speaker A
Ee jadi kamu menduga ini banyak kekerasan yang terjadi kepada saudaramu oleh ee ee suaminya begitu. Tapi tidak terekspos dan [mendengus] tidak pernah si Winda menyampaikan langsung ke kalian. Dia tutup begitu. Kasih tahu ada kasih tahu Anda sebagian. Tapi [mendengus] saya
59:15
Speaker A
pikir masalah keluarga biasa. Iya. Terus nanti suaminya bilang, "Ma, begini gini gini gini." Ee si kakak satu saya telepon, "Nak, kenapa ma?" "Apa?
59:29
Speaker A
Apa sih? Apa ini si Iman ini? Ah, tahu Mama sakit enggak? L aman loh aku di sini mama pikirkan aku sudah sudah udah kayaknya kemarin itu baik tapi udah kayaknya ini mah udah enggak iya ini.
59:45
Speaker A
Saya bilang sabar ya nak rubah ya nak nanti dibilang ini ini ini ini. tanya anak saya, kamu memang begini, Nak?
59:54
Speaker A
Rubah kalau memang begini-gini [berdehem] begini begini itu apa ya? Kakak satu gak bisa diatur, uangnya habis. Ee ee dijual tasnya, dijual begini begini semua tasnya dijual habis ke sini ke sini ke sini. Saya bilang, "Nak, sabar ya." Oh, ini menurut keterangan iman.
60:14
Speaker A
Iman hari Sabtu itu. Tapi menurut ketenangan anak saya sebelumnya, Mak. Masa aku disuruh jual tas, jual ini, jual itu. Jadi saya bingung itulah mana yang benar.
60:25
Speaker A
Iya. Makanya saya selalu menegur anak saya supaya anak saya damaah. Iya. Saya bilang, "Nak, enggak boleh gitu ya kamu berbuat gitu ya, Nak.
60:35
Speaker A
Jangan begini ya. Apanya mama ini?" Kata gitu kok kayak gini gitu. Jadi saya bingung bingung bingung. Iya.
60:44
Speaker A
Tapi dari kata-kata si saya nasihatin anak saya, saya sampaikan nanti nak didik anak saya ya. Kalau memang dia seperti itu, kalau dia memang sakit, kalau memang dia kobatinya, sayanginnya.
61:00
Speaker A
Jadi dari kata-kata ziman ini saya seperti itu. Jadi sekarang ada pengajuan pemeriksaan ulang enggak?
61:08
Speaker A
Ee mungkin itu akan dilakukanlah, dilakukanlah. Ada yang harus dilakukan itu, Bang, ya. Heeh. oleh pihak kepolisian.
61:16
Speaker A
Heeh. Ya. Dan harapan keluarga juga sudah sepakat kemarin kita berembu, Bang. Heeh. Ya, ini harus dilakukan eksumasiah agar kasus ini terang ya, Bang, ya. Jadi masyarakat juga enggak blunder dengan pemerintahan sana sini kan gitu yang bisa.
61:29
Speaker A
Iya. Karena ini melibatkan nama baik juga. Iya. Nama baik anak saya, nama baik anaknya dan juga pasti anak ee nama baik dari keluarga mereka juga kan. Karena ini kan satu keluarga sebenarnya posisinya gitu.
61:39
Speaker A
Anak anak-anak korban gitu. Betul. korban. Karena kan supaya terang ini perlu di ee buka dengan transparan.
61:47
Speaker A
Jangan sampai ini akhirnya menjadi polemik yang berkelanjutan. Nah, kalau mama sendiri dari dalam lubuk hati yang paling dalam, mama ini yakin anak mama ini berdiri atau sebenarnya di ini keyakinan ya.
62:06
Speaker A
Keyakinan. Heeh. Seberat-beratnya masalah anak saya, sesulit-sulitnya hidup anak saya, sekalipun dia misalnya berkata begini, Bond, saya yakin anak saya tidak akan berani diri. Kenapa?
62:25
Speaker A
5 tahun ya berpisah dengan suami walaupun dengan problema dia pekerja keras. Kenapa dia tidak pernah bunuh diri?
62:34
Speaker A
ada kesempatan karena saya tidak bisa mengejar-ngejar dia. Kenapa dia gak bisa? Kedua, kalau memang anak saya mau berdiri, kenapa enggak dari awal dia datang ke sana dia bunuh diri?
62:51
Speaker A
Sudah 2 bulan baru dia i dibilang sendiri. Dan lagi anak saya adalah penyayang anak.
63:01
Speaker A
Apalagi dengan dia paling dan saya sudah berjanji i nak saya pulang di bulan 12 ke Medan sama kita pulang kayaknya kita lebih bagus bersatu lagi biar dekat anak-anak karena saya dengar dia diancam selalu sama anak-anak enggak dikasih lagi kalau
63:19
Speaker A
dia keluar serb sana itu mama pasti kan banyak berdoa belakang waktu ya banyak saya lihat Pak di situ berdoa lag saya lihat imannya nya besar.
63:32
Speaker A
Ada Tuhan jawab. Ada Tuhan jawab menurut saya. Tuhan selalu jawab dari semua saya datang di sini aja.
63:39
Speaker A
Tuhan jawab saya percaya. Saya hanya bilang begini. Kalau Tuhan memakai anak saya, kematian anak saya ini dengan sesuatu hal yang baik untuk pelajaran bagi setiap orang supaya tidak melakukan hal-hal serupa demikian kepada orang lain. Saya ikhlas asalkan Tuhan.
63:59
Speaker A
Tunjukkan kebenaran kematian anak saya. Apakah ini memang di kalau di tunjukkan orangnya saya ikhlas tapi kalau dia diri juga ampun dosa-dosa saya sebagai orang tua saya mohon ampun hanya itu aja. Awalnya tadi ini saya jujur saya ikhlas oke dikubur
64:22
Speaker A
bagus-bagus asal anak diletakkan di rumah aja. Mungkin tadi kalau enggak di rumah mereka, saya enggak bakalan buka ini karena kami dilarang lagi dikubur saja.
64:31
Speaker A
Tapi Tuhan jawab dengan anak saya tidak mereka terima. Di situlah Tuhan jawab mungkin doa saya karena dari Jakarta Tuhan kenapa begini?
64:41
Speaker A
Ada apa? Tapi saya mulai sekarang saya walaupun mulai saya Tuhan mungkin anak saya Engkau pakai sebagai alat. Tapi kalau memang ini Tuhan benar, jadilah kami ini semua saksi kebesaran kemuliaan-Mu kepada orang yang kecil ini. Karena saya tidak bisa melabangan
65:02
Speaker A
dengan jabatan pakat harta. Apalah dengan ini, apalah dengan adiknya ini. Dengan seorang panitra, kepala panitra, bapaknya, menantu saya, polisi. Kalau saya curigai mereka pengacara dan seorang hakim satu bapaknya kepala panitra sudah pensiun tanggal 6 Juni.
65:27
Speaker A
Kedua, anak ee anaknya pertama adalah menantu saya, polisi. Kedua, hakim, adik menantu saya, ketiga pengacara, keempat anaknya masih kuliah.
65:40
Speaker A
Seharusnya saya bilang, "Saya adalah mengadu ke mereka. Merekalah pelindung." Itulah kebanggaan saya tadinya. Saya pikir dengan orang kecil, mereka yang datang dulu ke saya meminta memohon anak saya ini kelas 2 SMA sudah mereka pinang dan memohon segala cara. saya
65:58
Speaker A
dulu dan dari pernikahan jadinya pada pasta pernikahan sudah ada ketidakcocokan. Saya tidak pernah cakapan sama mama mertua anak saya dari pernikahan menikah di gedung sampai dijemput anak saya baru percakapan pertama.
66:15
Speaker A
Jadi kalau memang Tuhan saya memang manusia yang punya dosa banyak kekurangan, tapi saya juga manusia yang tetap berdoa dan mau menjadi orang baik.
66:26
Speaker A
[batuk] Makanya [berdehem] segala sesuatu saya selalu perserah ke Tuhan karena Tuhan mengatakan tidak ada manusia yang sempurna. Makanya saya tahu saya selalu saya menghadap Tuhan dan biarlah kehendak Tuhan yang terjadi.
66:41
Speaker A
Amin. I biarlah kehendak Tuhan yang terjadi. Saya selalu percaya apapun yang terjadi di luar sana segala kebingungan, kebenaran akan menemukan jalannya. Tapi kita juga harus ee melihatnya dari dua sisi.
66:56
Speaker A
Iya. Supaya kita tidak terperangkap oleh pemikiran dan asumsi-asumsi kita, tapi kita menjadi cerdas oleh hikmat.
67:04
Speaker A
Iya, istilahnya begitu. Saya membantu mendoakan semoga kasus ini bisa segera terang. Amin. Dan yang paling penting kalau buat saya itu adalah ee transparansinya sih.
67:16
Speaker A
Iya. Supaya jangan ada yang akhirnya dirugikan, terzalimi atau terfitnah. Karena itu perkara-perkara yang buat saya perkara-perkara yang paling tidak baik gitu. Ini pertanyaan terakhir mungkin dari tim lawyer buat tim lawyer ya.
67:32
Speaker A
Ada berita beritanya di sini imbas Winda Lorensa saksi KPK kemudian ditemukan tewas usai diperiksa DPR usai usai diperiksa DPR minta dibentuk tim khusus. Saya enggak tahu nih beritanya keluar dari mana. Kalian sudah tahu belum?
67:46
Speaker A
E kita lihat postingan ada di Instagram lihat postingan itu tapi kita enggak tahu keluarganya enggak tahu kapan diperiksa.
67:56
Speaker A
Oke. Apa urusannya tiba-tiba jadi saksi KPK? Itu pertanyaannya kan gitu. Kalau kalau kami bank dari tim lawyer heeh kami ini fokus mendampingi ee ketidakpuasan pihak keluarga korban saya.
68:08
Speaker A
Oke. Paham. Yang kedua, jika memang ada isu-isu ya hari ini silakanlah KPK angkat bicara memang benar apa enggak biar terang. Jangan digiring-giring.
68:16
Speaker A
Apalagi ini mengingatkan, Bang ini kasus kematian dan kematiannya ini sangat tragis. Tragis Bang betul.
68:23
Speaker A
Nah, itu berita itu kayaknya perlu dicari tahu apakah ini berita hoaks, berita benar, siapa yang mengeluarkan berita ini. Karena saya kan juga beracu kepada hal itu.
68:33
Speaker A
Supaya semuanya menjadi jelas. Mama terima kasih banyak datang ke sini. Saya ikut mendoakan semoga Winda Lorenza almarhumah diberikan tempat yang terbaik di sisi Tuhan. Saya percaya Tuhan itu [mendengus] punya rencana-rencana yang kita tidak pernah tahu.
68:52
Speaker A
Amin. Cara Tuhan itu ajaib. Tuhan bekerja dengan secara ajaib. Saya dari Sumargo pernah mengalami banyak sekali perkara dalam hidup saya dan saya bersaksi Tuhan itu ajaib. Amin.
69:07
Speaker A
Tuhan itu maha besar, maha tahu, maha adil. Dan ketika keadilan itu tidak ada di bumi, menurut kita Tuhan akan datang dengan keadilan. Semoga terang ada untuk kalian dan [tertawa] mungkin ada sesuatu yang Winda ingin beritahu kepada kita semua
69:28
Speaker A
lewat kasus ini. Mari kita kawal sama-sama supaya ee ini menjadi terang untuk kemuliaan Tuhan.
69:38
Speaker A
Amin ya. Amin. See [musik]
Topics:Brigadir AHkematian misteriuskejanggalan kematianwawancara keluargapenyelidikan kasusCurhat Bang Denny Sumargokasus kontroversialIndonesiabela sungkawapengurusan jenazah

Get More with the SozAI App

Transcribe recordings, audio files, and YouTube videos — with AI summaries, speaker detection, and unlimited transcriptions.

Or transcribe another YouTube video here →