Video membahas hari sangar atau pantangan tahun B (1960) dalam tradisi Jawa untuk menghindari memulai urusan besar pada waktu kurang baik.
Key Takeaways
- Hari sangar dalam tradisi Jawa adalah hari yang dipantang untuk memulai urusan besar demi kehati-hatian.
- Terdapat dua sistem penanggalan hari sangar yaitu aboge dan asapon yang berbeda dalam penentuan hari.
- Menghormati tradisi leluhur adalah bagian penting menjaga warisan budaya tanpa harus percaya mutlak.
- Perbedaan pandangan terhadap tradisi harus disikapi dengan bijak tanpa mencemooh atau merendahkan kepercayaan lain.
- Budaya Nusantara sangat beragam dan perlu dijaga kerukunan antar suku dan ras.
What the video covers
- Video membahas hari sangar atau pantangan tahun B (1960) dalam tradisi Jawa.
- Hari sangar adalah hari yang dianggap kurang baik untuk memulai urusan besar seperti pernikahan, pindah rumah, atau usaha baru.
- Ada dua versi perhitungan hari sangar yaitu aboge dan asapon yang digunakan masyarakat Jawa.
- Hari sangar aboge meliputi Galengan Tahun (Kamis Legi), Tali Wangke (Sabtu Pon), Sangar ing Tahun (Rabu Kliwon), dan Jati Ngarang (Sabtu Legi).
- Hari sangar asapon meliputi Galengan Tahun (Rabu Kliwon), Tali Wangke (Jumat Paing), Sangar ing Tahun (Selasa Wage), dan Jati Ngarang (Jumat Kliwon).
- Hari-hari tersebut dianggap kurang baik bukan karena pasti membawa musibah, tetapi sebagai bentuk kehati-hatian dan menghormati tradisi leluhur.
- Video menekankan pentingnya menghormati kearifan budaya dan tidak mencemooh kepercayaan orang lain.
- Setiap suku dan ras di Nusantara memiliki budaya masing-masing yang harus dihargai demi menjaga kerukunan.
- Pemirsa dipersilakan memilih untuk mengikuti atau tidak mengikuti tradisi ini sesuai keyakinan masing-masing.
- Video disampaikan dengan bahasa Jawa halus dan penuh salam budaya untuk menjaga nilai-nilai tradisi.
Chapters
- 00:00Pembukaan dan salam budaya
- 00:36Pengantar hari sangar dalam tradisi Jawa
- 01:30Pentingnya menghormati kearifan budaya
- 02:01Penjelasan dua versi hari sangar: Aboge dan Asapon
- 02:38Hari sangar versi Aboge
- 03:17Hari sangar versi Asapon
- 04:47Makna dan penggunaan hari sangar dalam kehidupan
- 05:27Sikap bijak terhadap perbedaan budaya dan tradisi
- 06:26Penutup dan salam dari Fitri Ika
Full Transcript — Download SRT & Markdown
Speaker A
Salam rahayu, salam sejahtera, salam budaya. Assalamualaikum. Halo dulur. Mudah-mudahan sehat selalu, nggih. Lancar selalu rezekinya dan selalu dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Esa. Amin. Dulur, tayangan kali ini saya bahas mengenai hari sangar atau pantangan tahun B, nggih. Tahun 1960.
Speaker A
Ee barangkali panjenengan memerlukan hari-hari yang dipantangkan di tahun B. Nggih, ini untuk keperluan hajat besar panjenengan, nggih, bagi yang tetap melestarikan tradisi Jawa, nggih.
Speaker A
Wilujeng rahayu, sugeng midangetaken. Dulur, tidak semua warisan leluhur lahir tanpa alasan. Dalam tradisi Jawa dikenal adanya hari-hari yang dianggap sangar atau kurang baik atau dipantangi untuk memulai urusan besar. Karena itulah sejak dulu, nggih, masyarakat Jawa, apalagi yang kejawen, memilih untuk tidak
Speaker A
menggunakannya. Bukan karena hari tersebut pasti membawa bencana atau musibah, loh dulur, melainkan sebagai bentuk ikhtiar dan kehati-hatian. Berdasarkan ilmu titen yang diwariskan secara turun-temurun.
Speaker A
Mengenai percaya atau tidak, itu pilihan masing-masing, nggih dulur. Namun memahami dan menghormati kearifan budaya yang telah hidup selama berabad-abad juga merupakan bagian menjaga warisan leluhur.
Speaker A
Dulur di sini saya sampaikan dua versi, nggih, yaitu aboge dan asapon. Karena di masyarakat Jawa itu ada yang tetap menggunakan petongan aboge, tetapi ada juga yang sudah berpindah ke asapon.
Speaker A
Nah, untuk itu bagi panjenengan yang ngugemi aboge maupun asapon, itu panjenengan bisa menyimak, nggih, atau mungkin panjenengan mengambil kedua-duanya.
Speaker A
Ee silakan terserah panjenengan, nggih. Ee, baiknya menurut panjenengan, nggih. Dino sangar atau pantangan di tahun B ini dimulai dari 1 Suro 2026 sampai menjelang 1 Suro di 2027 mendatang. Nggih. Baik dulur. Untuk tahun B ya, perhitungan
Speaker A
aboge dino sangarnya ya yang pertama galengan tahun, ya. Galengan tahun ini adalah lahire tahun atau miwiti tahun, ya. Itu kan dimulai pada Kamis Legi, nggih. Makanya disebut BMIS.
Speaker A
Nah, Kamis Legi ini hari yang tidak digunakan untuk segala urusan besar atau kepentingan yang besar, nggih. Bagi sebagian masyarakat Jawa yang mempercayai bahwa hari tersebut adalah hari yang kurang baik karena Dino Sangar Galengan tahun.
Speaker A
Kemudian yang kedua adalah tali wangke. Taliwangke itu adalah 3 hari setelah satu Suro, dulur, dan itu jatuh pada Sabtu Pon.
Speaker A
Kemudian yang ketiga adalah sangar ing tahun atau tahun sangar atau entek-entekane tahun. Ini jatuh pada hari Rabu Kliwon.
Speaker A
Dan yang keempat adalah Jati Ngarang. Jati Ngarang ini, dulur, adalah awal satu Suro di tahun dal, nggih. Ini tidak dipakai juga ya karena masih tipa’e atau masih mambu atau masih membekas, ya.
Speaker A
Carane no bar ditinggal pindah je anget gitu, loh dulur. Jadi ini tidak dipakai juga untuk kepentingan atau urusan besar yaitu Sabtu Legi, nggih. Nah itu tadi, nggih dulur, kalau untuk aboge galengan tahunnya Kamis Legi, tali wangkinya Sabtu Pon, kemudian sangar
Speaker A
ing tahunnya Rabu Kliwon dan jati ngarangnya Sabtu Legi. Berikutnya untuk asapon, dulur, galengan tahunnya itu Rabu Kliwon.
Speaker A
Kemudian tali wangkinya Jumat Paing, sangar ing tahunnya Selasa Wage. Kemudian jati ngarangnya Jumat Kliwon.
Speaker A
Pada hari-hari tersebut di tahun B dianggap kurang baik, dulur, untuk keperluan misalnya mau mengadakan hajatan besar, ya, pernikahan atau lamaran, pindah rumah, kemudian mendirikan atau mulai pembangunan, memulai usaha baru, atau memulai usaha yang dianggap penting.
Speaker A
Alasannya, dulur, bukan berarti diyakini hari tersebut membawa musibah atau bencana, ya, melainkan sebagai bentuk kehati-hatian dan mengikuti tradisi leluhur menurut pandangan pelakunya.
Speaker A
Silakan berbeda pandangan. Bagi sebagian orang ini budaya, bagi yang lain mungkin tidak relevan. Tidak semua warisan leluhur harus dipercaya mutlak, nggih. Tetapi tidak semua juga harus dihina atau dicemooh.
Speaker A
Jadi, dulur bijak menyikapi setiap tradisi karena kita hidup di Nusantara yang berbineka tunggal ika.
Speaker A
Ya, jadi setiap masing-masing suku dan ras itu memiliki budayanya masing-masing. Jika memang tidak mengikuti budayanya dikarenakan mungkin tidak sama dengan kepercayaan atau keyakinannya, tidak masalah. Tetapi jangan sampai membuat perpecahan, nggih, dengan mencemooh atau mengolok-ngolok suatu kepercayaan tertentu.
Speaker A
Jika dirasa bermanfaat silakan diambil. Jika tidak silakan ditinggalkan. Baik dulur, demikian yang saya sampaikan. Mudah-mudahan bisa diambil baiknya dan dibuang jeleknya.
Speaker A
Nggih. Saya Fitri Ika. Salam rahayu.
Topics:hari sangarpantangan tahun Btradisi Jawaabogeasaponbudaya Jawahajat besarkepercayaan leluhurtiten JawaFitka Channel











