Diskusi mendalam tentang kejujuran diri, personal branding, dan pentingnya meninggalkan teman yang tidak mendukung dalam hidup.
Key Takeaways
- Autentisitas adalah kunci dalam menjalani hidup dan berinteraksi dengan orang lain.
- Personal branding berbeda dengan pencitraan yang hanya untuk publik, penting untuk jujur pada diri sendiri.
- Sisi rapuh dan anak kecil dalam diri perlu diakui dan diberi ruang untuk ekspresi.
- Teman sejati adalah yang baik tanpa perlu dilihat orang lain, bukan yang hanya tampil baik di sosial media.
- Meninggalkan hubungan yang tidak sehat penting untuk kesehatan mental dan kebahagiaan.
What the video covers
- Pembicara membahas tekanan dari orang terdekat yang menuntut untuk kuat tanpa didengar.
- Perbedaan antara personal branding dan pencitraan di era media sosial dijelaskan.
- Kejujuran dan autentisitas sebagai keberanian untuk tetap jujur dalam berbagai situasi.
- Perbedaan besar antara sisi diri di depan kamera dan di rumah yang lebih rapuh dan tanpa topeng.
- Pengalaman masa kecil yang memaksa menjadi dewasa dan bagaimana sisi anak kecil masih muncul.
- Pentingnya teman yang baik yang tulus tanpa motivasi pencitraan sosial media.
- Diskusi tentang bagaimana emosi dan sisi anak kecil muncul dalam hubungan dekat.
- Refleksi tentang pola asuh masa lalu dan dampaknya pada ekspresi emosi saat dewasa.
- Cerita tentang kebahagiaan sederhana dan pemenuhan kebutuhan emosional yang tertunda.
- Pesan untuk meninggalkan teman yang memperlakukan kita tidak dengan tulus dan mendukung.
Full Transcript — Download SRT & Markdown
Speaker A
Karena kadang orang-orang terdekat juga menuntut aku untuk kuat, sehingga aku dituntut untuk hanya mendengar tapi enggak didengar. Jadi, aku adalah rumah, tapi siapa rumahku? Menjalani hidup itu enggak harus terus-terusan menemukan jawaban gitu.
Speaker A
Kita nanti menjalani hidup seperti apa, umur bertambah, kita ketemu sama orang baru, kita traveling [musik], melihat dunia dan sudut pandang baru, makna hidup kita berubah. Aku minta waktumu.
Speaker A
Aku minta kamu mendengarkanku. Ada dua perbedaan antara personal branding dan pencitraan. Aku bikin [musik] A B C D E FG. Aslinya aku begitu. Aku posting karena itu adalah bagian dari strategi personal brandingku. Tapi aku aslinya enggak kayak gitu. Di kamera doang aku kayak
Speaker A
gitu. That's pencitraan. Kenapa teman berkelas aku [musik] bilang adalah siapa dia di saat orang enggak melihat? Karena di zaman sekarang, di zaman sosial media, [musik] orang baik di saat ada mata yang melihat.
Speaker A
He. Orang bersedekah di saat ada mata yang melihat. Aku enggak mau teman itu. Aku mau orang baik di saat enggak ada siapapun yang melihat karena dia emang pure baik dari hatinya gitu.
Speaker A
Apakah di titik itu kamu merasa kamu 100% kesepian? Yes, aku kesepian karena Halo semuanya, kembali lagi di podcast Suara Berkelas. Hari ini spesial sekali karena kita kedatangan tamu berkelas, wanita berkelas. Ada Prilatu Konsina.
Speaker A
Hai, terima kasih atas introduction-nya tadi. [tertawa] Finally, aku bisa mengajak Prilatu Kina dan aku sempat bilang ke Pril kalau salah satu episode favorit aku di Suara Berkelas itu bareng Omara.
Speaker A
Iya. I dan kurang lengkap kalau cuma Omara yang datang ke [tertawa] sini. Aku maunya juga PR datang ke sini.
Speaker A
Favorit dia juga pas lagi ngobrol di sini. Wow. Iya. Dia cerita banyak banget. Thank you, thank you for coming. Dan sebelum kita bahas banyak hal, aku mau cerita sedikit. Tadi malam Suara Berkelas baru aja dapetin word dari Spotify.
Speaker A
Wah ye ya. Kita jadi number one education podcast di Indonesia. Dan terima kasih untuk teman-teman yang sudah support Suara Berkelas dari nol dan aku happy sekali sharing di sini bareng Pril.
Speaker A
Dan bagi teman-teman yang belum subscribe, langsung aja subscribe di YouTube Suara Berkelas dan follow kita di Spotify. Terima kasih ya. Selamat terima kasih PR dan senang banget aku ada momen ini.
Speaker A
Iya congratulation juga untuk kemarin FFI lancar. Oh iya alhamdulillah. Luar biasa luar biasa. Pril aku penasaran gimana sih kamu bisa mendefinisikan sisi authenticity kamu gitu.
Speaker A
Kalau aku ngelihatnya authenticity itu keberanian untuk tetap jujur di setiap aktivitas atau apapun yang kita jalani gitu ya. Misalnya kayak sebagai aktor kalau lagi di depan kamera kan kita meminjam hidup orang lain, meminjam logika orang lain. Tapi menurut aku bukan berarti
Speaker A
kita meninggalkan diri kita gitu. Justru di saat kita di depan kamera sebagai aktor itu tuh kayak perjumpaan antara dunia karakter dan dunia batinku gitu.
Speaker A
Dan tetap ada kejujuran di situ, tetap ada authenticity di situ. Begituun juga Pril yang di depan kamera podcast Suara Berkelas gitu misalnya ya. Ini adalah Pril yang lagi mau bercerita, lagi mau berdiskusi, tapi ini adalah tetap sisi Pril yang ada
Speaker A
di dalam diriku gitu. Jadi di setiap aktivitas ya aku tetap menampilkan kejujuran siapa diriku sebenarnya walaupun enggak semuanya ya karena manusia punya banyak sisi gitu beda lagi sama Pril yang kalau di rumah gitu. Jadi ya tergantung di mana pun aku berada tetap ada kejujuran
Speaker A
di dalamnya gitu. Hmm. Seperpa jauh jarak antara sisi Pril di rumah dengan Pril yang kita lihat di depan kamera gitu.
Speaker A
Kalau boleh terbuka di sini jauh-jauh. Jauh banget. [tertawa] Mungkin sekarang sudah agak lebih dekat mungkin ya.
Speaker A
Tapi jauh karena Pril di depan kamera itu kan Pril yang memang harus on terus.
Speaker A
He. Em harus ceria, harus bisa memberikan energi positif gitu. Sedangkan Pril di rumah adalah Pril yang tanpa kostum, tanpa label, H tanpa tuntutan dan ekspektasi orang.
Speaker A
Pril yang masih berproses, masih belajar, masih rapuh, dan Pril yang tidak sempurna gitu. H jadi ya memang lumayan jauh gitu. Pril yang bisa nangis, bisa ngerasa lelah, bisa ngerasa dirinya enggak cukup ya itu adalah Pril yang di rumah. Karena kalau
Speaker A
di depan orang kan pril-pril itu stay di rumah gitu, enggak enggak dibawa keluar rumah. Jadi ya cukup jauh. Makanya teman baru gitu yang misalnya tadinya melihat aku dari sosial media terus mengenal aku lebih dekat atau misalnya sama pasangan juga tiba-tiba melihat
Speaker A
lebih dekat. Pasti ada sisi-sisi yang baru mereka lihat dan baru mereka pahami gitu. Kenapa aku sejauh itu di rumah dan di luar gitu.
Speaker A
Hmm. Aku suka lihat postingan yang pernah aku ceritain ke kamu. Kamu pakai baju Doraemon itu dibeli oleh ibu kamu kan. He.
Speaker A
Tapi Omar juga komen kan kayak aku juga ngelihat dari sisi bahwa wah ini PR emang kelihatan banget masih ada kecil gitu loh. Ada anak kecil di dalam diri kamu yang mungkin aku lihat dari postingan itu gitu.
Speaker A
Apa kabar anak kecil itu dan kenapa dia masih happy terus sampai hari ini? Jujur ya anak kecil itu kadang naik ke permukaan dan lebih besar daripada Pril yang dewasa kadang-kadang kalau sama orang yang disayang.
Speaker A
Oke gitu. Dan Pril yang anak kecil itu sebenarnya lama tidak bersuara kan karena aku itu kerja dari kecil udah jadi kakak dari kecil. Jadi dari kecil itu memang dipaksa dewasa sama sistem gitu. Dipaksa dewasa sama lingkungan kerja karena dari
Speaker A
kecil aku sudah kerja dan dipaksa dewasa sama keadaan di mana aku adalah perempuan anak pertama yang punya adik dan zaman dulu kan didikannya kakak harus ngalah ya.
Speaker A
Iya sih kakak harus ngalah gitu. Kayaknya parenting zaman dulu sama zaman sekarang tuh beda banget gitu. Mungkin juga karena orang tua kita kan enggak terpapar sosial media ya. Jadi informasi yang mereka dapat untuk menjadi orang tua juga enggak sebanyak sekarang. Jadi
Speaker A
wajar aja kalau misalnya ada perbedaan pola asuh gitu ya. Nah, pola asuh zaman dulu kan kita ngerasain banget ya jangan nangis ngalah sama adik udah adik dulu gitu. Nah, jadi dari kecil si Pril yang kecil ini udah biasa memendam emosinya.
Speaker A
Enggak boleh nangis, enggak boleh cengeng, harus bertanggung jawab sama pekerjaan, biasa kerja sama orang-orang dewasa. Jadi dia banyak dipendem gitu dan banyak ditekan gitu si Pril kecil ini dari dulu. He.
Speaker A
Nah, sekarang di saat Pril yang sekarang itu punya kebebasan untuk bisa berekspresi di depan orang-orang yang dia sayang, di depan pasangan, di depan orang tua, Pril yang kecil tuh jadinya naik ke permukaan dan justru lebih mendominasi. Jadinya perilaku aku bisa
Speaker A
kayak anak kecil banget atau bahkan bisa muncul di saat-saat yang aku enggak mau Pril yang kecil ini muncul. Misal di saat aku bertengkar atau di saat aku berbeda pendapat sama pasangan gitu. Karena aku nyaman sama pasanganku dan aku ngerasa
Speaker A
Pril kecil ini aman. Dia muncul ke permukaan. Akhirnya pengelolaan emosiku tidak seperti Pril yang dewasa.
Speaker A
Hm. Aku jadinya mau ngucapin apa, tapi karena Pril yang kecil lagi dominan malah jadinya nangis, malah jadinya tantrum gitu. Jadi ya jujur Pril yang kecil kadang suka mendominasi di saat-saat yang aku enggak pengin. Tapi aku paham kenapa dia suka muncul. Karena mungkin
Speaker A
dia enggak cukup muncul di saat aku masih kecil. Karena di saat aku masih kecil, aku harus bertanggung jawab sama banyak hal gitu.
Speaker A
Iya. Dipaksa dewasa oleh sistem, oleh kerjaan, oleh keadaannya. Wow. Itu really sekali sih ketika kamu ngomongin tentang kadang event aku hari ini ada sisi anak kecil yang tiba-tiba muncul dan kalau diingat lagi oh mungkin ketika waktu kecil aku enggak dapetin
Speaker A
itu. Iya. Sesimpel waktu kecil aku mungkin enggak bisa dapetin PS2 misalnya. Iya. Jadi ketika aku beli PS5 dengan uangku sendiri hari ini kayak oh happy dong.
Speaker A
Aku sampai hari ini masih suka beli mainan. Really masih suka beli mainan. Sampai Omara tuh pernah cerita, "Aku pernah nonton live TikTok kamu, apa live Instagram kamu.
Speaker A
Kamu iseng lagi mainan ember sihir." Terus aku bilang, "Ya karena dulu waktu kecil enggak mungkin aku dibeliin mainan mahal." Karena kan waktu aku lahir, papa mamaku tuh belum semapan di saat ad...
Speaker A
Oke. Jadi, adikku mendapatkan mainan-mainan itu, cuma aku udah enggak suka mainan karena udah gede kan.
Speaker A
Jadi, udah enggak dapat mainan lagi gitu. Jadinya aku tuh sekarang kalau ngelewatin toko mainan aku beli boneka atau aku beli ember-ember sihir lah atau mainan-mainan anak zaman sekarang. Dan itu bikin aku happy banget walaupun cuma dipajang di rumah gitu ya. Tapi aku
Speaker A
happy aku punya dan aku rasa itu Pril yang kecil tuh yang lagi pengen gitu dan aku mencoba untuk tetap memenuhi itu sih.
Speaker A
He. Tapi tadi ketika kamu cerita itu aku ngelihat ada sisi yang rapuh di fase dewasa gitu kan.
Speaker A
He. Kayak it's ok kalau kita emang rapuh. Kalau kita being funnerable, terutama kalau kamu datang ke suara berkelas, aku enggak pernah ngelihat kamu tuh sebagai wah Pril yang punya nama besar gitu, tapi Pril yang manusia biasa.
Speaker A
He. Ada enggak fase kamu rapuh, fase kamu kayak di titik terendah, kemudian kamu mulai belajar, kamu bangkit, dan even enggak ada yang memahami kamu gitu. Dan kalau ada let me know di tahap apa seorang PR bisa di fase itu.
Speaker A
Ada banget sih. Makanya ini aku nulis buku ee ada tiga fase retak, luruh, dan kembali utuh. Ini fase-fase yang juga pernah aku rasakan di dalam hidupku gitu. Kalau aku boleh melepas semua topeng dan label yang ada di dalam
Speaker A
diriku, jujur retak luru dan kembali utuh itu dekat banget sama hidupku gitu. Fase retak tuh di saat aku sangat-sangat lelah tapi harus tetap berjalan.
Speaker A
Fase di mana aku ngerasa aku sangat susah untuk dicintai. Fase di mana aku ngerasa banyak orang-orang yang menyukai diriku tapi tidak menyukai hidupku gitu.
Speaker A
Hmm. He. Jadi, oke. Fase-fase di mana aku ngerasa aku tuh enggak bisa diterima sepenuhnya, itu tuh fase-fase retak banget dan menjadi PR gitu ya, yang harus ee memenuhi ekspektasi orang, yang harus ngertiin orang lain. Karena kalau kita enggak
Speaker A
ngertiin orang lain, kita akan dianggap sombong atau akan dianggap egois. I itu tuh sulit banget. Karena kayak semua orang bersandar kepada aku.
Speaker A
He. Tapi aku enggak punya tempat bersandar gitu. Semua orang mempunyai harapannya kepada aku, tapi aku bisa berharap kepada siapa sih? Nah, itu adalah fase retak gitu. Ada komentar-komentar negatif dari orang atau bahkan dari orang yang pernah menjadi teman dekatku
Speaker A
atau pernah ada di hidupku gitu ya. Melontarkan kata-kata yang menyakitiku dan membuat aku tuh seperti kehilangan nilai di dalam diriku gitu. itu ada di fase retak di puisi pertamaku itu ee waktu itu aku dibilang kalau aku itu seperti kain pel yang lusuh. Kain
Speaker A
pel yang lusuh. Kain pel yang lusuh. What does it mean? Karena di saat aku bekerja gitu ya, aku kan full banget memberikan energiku untuk pekerjaanku gitu. Memberikan energi untuk pekerjaanku. Aku mencoba untuk 100%. Aku enggak mau mengecewakan karyawan dan perusahaan. Jadi aku 100%
Speaker A
gitu bekerja. Tapi mungkin di saat aku habis bekerja, aku ketemu sama teman-teman, energiku tuh udah habis.
Speaker A
H karena kan pasti ketemu habis kerja ya. Ya, habis kerja kita ketemu sama orang, ketemu sama teman-teman, energi energiku tuh udah habis sehingga aku tuh kayak enggak punya ruang untuk orang tuh bercerita kepada aku atau aku udah enggak punya ruang lagi untuk orang bisa
Speaker A
bersandar kepada aku karena aku pengin juga bersandar kepada orang, tapi orang berharapnya aku tuh selalu ada buat mereka gitu dan aku harus bisa terus kuat gitu. Dan akhirnya sempat lo tuh kayak kain pel yang udah lusuh tahu enggak kalau pulang kerja terus ketemu
Speaker A
sama orang karena energi lu tuh udah habis jadi kayak enggak ada sisa buat kita enggak ada sisa untuk kita cerita juga malas karena mau cerita sama lo juga kelihatannya capek gitu mau cerita sama lo tentang hidup kita juga kita
Speaker A
mikirnya kayak ya hidup lo juga lebih lebih susah dari kita gitu jadi lu kayak enggak ngasih ruang untuk orang tuh rapuh pas sama luk mengagetkan kalimat itu.
Speaker A
He he. Karena aku ngerasa orang-orang di sekitarku itu berharap aku bisa terus menjadi rumah mereka gitu tanpa memberi tempat yang nyaman untuk pulang ke diri aku gitu.
Speaker A
Jadi aku adalah rumah tapi siapa rumahku? Apa rumahku gitu di mana tempat nyaman yang aku juga bisa menjadi rapuh gitu.
Speaker A
Karena kadang orang-orang terdekat juga menuntut aku untuk kuat sehingga aku dituntut untuk hanya mendengar tapi enggak didengar. Itu adalah fase-fase yang aku rasakan dietak gitu. Jadi, aku ngerasa sangat sendiri, aku ngerasa terus-terusan menikmati kesedihanku sendiri gitu. Jadi, banyak banget
Speaker A
puisi-puisi di mana aku lagi sendiri, lagi di ruang yang sunyi, lagi ngerasa sedih, tapi aku ngerasa enggak punya tempat untuk cerita gitu. Karena di saat aku cerita, kalimat yang paling sering aku terima gitu adalah ya masih mending loh gitu.
Speaker A
Wow. Itu sih wah itu berat sih. He. Kita kan enggak bisa menilai masalah orang tuh dari materi.
Speaker A
Di oke kita melihat orang itu punya segalanya. He. Punya uang. He. Tapi ya pasti Tuhan itu adil. Tuhan akan ngasih masalah yang sesuai dengan levelnya dia.
Speaker A
Yes. Yes. Tapi bukan berarti dia enggak sedih, bukan berarti dia enggak bisa jadi manusia.
Speaker A
He. Aku sering dibecin kalau misalnya aku lagi nangis, temanku gitu atau apa, aku dibercandain ya, lu nangis tapi rumah lu marmer. [tertawa] What is it really teman kamu atau cuma?
Speaker A
Iya, orang-orang gitu. Misalnya aku cerita lu nangis juga besoknya lu bisa beli tiket ke Itali terus lu nangis di komo dan aku ngerasa kayak ya iya sih tapi bukan berarti gua berhenti nangisnya kan berarti gua tetap nangis dong berarti tetap ada emosi
Speaker A
sedih di situ yang harus ditampung dan harus didengar nah itu adalah fase-fase retak di mana aku benar-benar ngerasa sendiri gitu karena aku ngerasa kayak aku itu enggak pantes sedih aku enggak ngerasa posisiku sebagai pril atau konsina itu adalah manusia yang paling enggak
Speaker A
pantes sedih, paling enggak pantes terpuruk. Karena kalau aku terpuruk berarti aku enggak bersyukur. He, itu adalah fase retak. Jadi, sangat-sangat sulitlah fase-fase itu.
Speaker A
Dan akhirnya lahirlah menjadi sebuah puisi-puisi gitu. Yang pasti kalau puisi-puisi kan ada bunga-bunga dan sajak-sajak di situ yang mungkin enggak 100% menggambarkan kondisiku, tapi memang ya udah aku sembunyikan aja perasaanku lewat puisi-puisi dan sajak-sajak yang ada di fase retak itu gitu.
Speaker A
Terus baru aku ke fase luruh gitu. I di mana di fase luruh tuh aku berusaha untuk meluruhkan semua perasaan-perasaan yang aku tuh ngerasa aku enggak pantes untuk dicintai atau aku enggak pantes untuk sedih atau aku tetap berdiri di
Speaker A
tengah-tengah ccle pertemanan atau lingkungan yang emang membuat aku ngerasa seperti itu terus. Jadi di fase luruh tuh aku berusaha untuk meninggalkan hal-hal yang udah enggak layak lagi bersama aku gitu. orang-orang yang mungkin tidak memberi ruang untuk aku.
Speaker A
Standar terhadap diriku sendiri. Standardku untuk diriku sendiri yang mungkin terlalu tinggi karena ekspektasi orang itu aku coba tinggalkan orang-orang yang udah enggak baik lagi.
Speaker A
Kesedihan-kesedihan atau rasa-rasa insecure yang merasa diriku itu tidak bernilai. ya, aku coba luruhkan gitu dan coba berani untuk melangkah dan menerima bahwa aku ini cuma manusia biasa sama kayak yang lain. Perbedaan kita adalah profesi. Profesiku adalah figur publik
Speaker A
yang dilihat sama orang, tapi aku tetap manusia. Itu di fase luruh gitu. Fase yang juga sulit karena banyak sekali diskusi aku dengan diriku sendiri.
Speaker A
Y, apa sih yang aku mau? Apa yang aku kejar? di dalam hidup ini gitu.
Speaker A
Apa ekspektasiku terhadap diriku sendiri? Apa makna hidup yang ingin aku cari? Gitu. Itu banyak banget diskusi dan ruang kosong yang aku isi sama diriku sendiri gitu. Mempertanyakan diriku lahirlah fase luruh gitu.
Speaker A
Sampai akhirnya fase itu berjalan terus-menerus. Aku merasa sekarang itu hopefully aku ada di fase kembali utuh gitu. kembali utuh bukan fase di mana aku itu menjadi pril yang dulu atau pril yang lebih baik, tapi sebenarnya fase kembali utuh
Speaker A
adalah fase di mana aku akhirnya menerima menerima penderitaan yang aku lewati, perjuangan yang aku hadapi, bahwa itu adalah proses yang membuat kita sebagai manusia itu harusnya merasa cukup gitu. Karena perjuangan itu sendiri adalah kemenangan. H itu fase kembali utuh gitu. Dan
Speaker A
sebenarnya ee fase kembali utuh tuh mengingatkan aku juga sama buku yang aku baca ee bukunya Albert kamu yang The Myth of Cisifus.
Speaker A
Iya. I di mana kamu bilang ya hidup itu kayak mendorong batu besar ke atas bukit hanya untuk melihat batu itu tergelinding lagi ke bawah terus kita angkat lagi ke atas.
Speaker A
Tapi keberanian kita untuk terus lanjut dan menemukan makna untuk diri kita sendiri dan menerima absurditas tugas dan proses yang kita alami di dalam hidup. Ya, itu adalah kemenangan gitu dan keberanian kita melewati hidup dan itu adalah tanda bahwa kita sudah
Speaker A
menemukan makna di dalam hidup ini. Bukan berarti kita harus menyerah, tapi justru kita bisa menemukan makna walaupun di atas penderitaan gitu.
Speaker A
Makanya di dalam buku The Meet of Sevt kamu bilang kan kita harus membayangkan bahwa sifers itu happy, sivers itu bahagia. Di saat dia dikasih tugas yang sangat absurd untuk terus-terusan mendorong batu besar, dia tetap melakukannya. Memilih untuk melakukannya, tidak memilih untuk mati
Speaker A
aja gitu. Tidak memilih untuk kenapa enggak mati aja, kenapa tetap menderita? ya. Karena ternyata di proses penderitaan itu dia menemukan makna baru.
Speaker A
Nah, itu yang akhirnya aku membuat aku merasa ya ini adalah proses kembali utuh gitu. Di mana diriku bisa menerima bahwa perjuangan yang aku alami adalah proses aku untuk menjadi utuh dan proses aku untuk menemukan makna kehidupan versi diriku sendiri
Speaker A
gitu. Dan jadilah akhirnya buku retak luruh dan kembali utuh. Di zaman kreators ekonomi kayak sekarang semua orang berlomba-lomba untuk hasilin cuan dari dunia digital. Tapi faktanya enggak semua orang tahu bahwa kita bisa menghasilkan uang dari satu website builder doang. Kita bisa jualan kelas,
Speaker A
bikin digital produk, book konsultasi, sampai bikin ebook, bikin tulisan-tulisan atau karya-karya kita dijual langsung dan orang semuanya bisa ke sana untuk langsung check out di sana. Jadi kita bisa sambil tiduran 24 jam kita tidak harus mengontrol website builder tersebut, tapi uang bisa tetap
Speaker A
masuk dari karya kita. Aku bakal kasih solusinya. Solusinya ada di link ID atau link kitai Linkit sejak tahun 2022. Dan itu memudahkan sekali kalau kita sebagai kreator menghasilkan uang dan semua orang bisa akses karya kamu di sana.
Speaker A
Misalnya kamu penulis kayak aku, kamu bisa bikin ebook, even orang-orang bisa konsultasi sama kamu dengan bikin appointment di sana dan mereka bisa menentukan jadwalnya menyesuaikan dengan jadwal kita sebagai penulis. Bahkan yang menariknya meskipun kamu belum punya produk digitalmu sendiri, kamu bisa
Speaker A
affiliate produk orang di Linkitin dan itu luar biasa banget. Banyak kreator-kreator di luar sana enggak punya produk sendiri tapi bisa hasilin 2 digit, 3 digit per bulan di Linkin. So, bagi teman-teman yang belum bikin linkit-nya, tunggu apaagi? Langsung
Speaker A
bikin sekarang. Wow, luar biasa Bril ya. Aku appreciate banget karena dari cerita retak luruh dan kembali utuh itu bakal sangat relate sama anak 20-an yang nonton ini sih.
Speaker A
Karena aku penasaran sekali kenapa banyak orang kelihatan punya karakter yang kuat. Akhirnya terjawab di balik itu berat sekali hidupnya, penderitaannya banyak sekali. Dan aku tidak heran kenapa banyak orang yang terlahir lebih dewasa, lebih siap dalam segala hal gitu. Karena
Speaker A
aku selalu ngelihat ujian apa yang sudah dia lewati gitu. Ya, tapi kan enggak banyak yang berpikir kayak kamu ya. [tertawa] Iya.
Speaker A
Kadang orang melihat kesuksesan orang itu kan ya hanya di permukaan saja gitu. I tentu orang kadang lupa bahwa ada proses dan ada banyak penderitaan atau pengorbanan yang mungkin orang itu sudah lalui gitu.
Speaker A
Dan mungkin pengorbanan dan penderitaan itu yang membuat orang itu pantas kan akhirnya mendapatkan apa yang dia punya sekarang. Heeh.
Speaker A
Cuma ya aku rasa enggak banyak orang yang aware akan hal itu. Mungkin karena juga kemajuan teknologi yang akhirnya membuat orang bisa melihat hidup orang lain hanya dari 30 detik atau 15 detik video.
Speaker A
Ee orang sudah merangkum hidup orang itu seperti apa dari apa yang dia posting tanpa tanpa berpikir bahwa ya itu hanya hanya sesuatu yang ingin ditunjukkan aja, tapi kita enggak pernah tahu apa yang terjadi di belakang kamera gitu kan. H
Speaker A
everyone's wants to trophy but no ones want to feel the suffering behind the scene.
Speaker A
Y aku juga tadi ketika kamu bilang kamu aku ingat conversation aku juga dengan Naomara ketika aku mengcord lagi kata-kata itu. To live is to suffer to survive is to find some meaning the suffering. It bagian dari perjalanan hidup gitu. Kalau kita cuma
Speaker A
menjalani hidup itu flat dan ngelihat dari sisi materialistis doang, aku yakin banyak orang lebih suffer harusnya.
Speaker A
Iya. Kita menjalani hidup seperti itu. Menjalani hidup itu enggak harus terus-terusan menemukan jawaban gitu.
Speaker A
He. Kita terus bergerak tapi dunia ini sebenarnya diam saja gitu. Kita enggak akan pernah menemukan jawaban absolut apa sih makna hidup buat kita gitu. Iya.
Speaker A
Ya, karena makna hidup akan terus berubah. Kita nanti menjalani hidup seperti apa, umur bertambah, kita ketemu sama orang baru, kita traveling melihat dunia dan sudut pandang baru, makna hidup kita berubah. Jadi, enggak harus kita menemukan makna dan makna itu enggak
Speaker A
harus absolut gitu. Makanya kalau aku ditanya sama orang, "End game kamu tuh apa sih?" I don't know.
Speaker A
Aku enggak tahu endgameku apa. Iya. yang aku tahu adalah aku harus terus menjalani hidup ini.
Speaker A
Sebagaimanapun hidup ini memberikanku penderitaan atau proses yang aku tidak ingin lalui, ya tetap harus aku lalui gitu. Enggak tahu end game-nya sampai mana. Yang jelas aku pengin menjalani hidup sesuai dengan makna yang aku ingin cari terus memberikan impact dan yang paling
Speaker A
penting hidup dengan integritas gitu. Jadi ya kalau ditanya end game-nya apa, I don't know. Aku kalau ditanya what is your end game? Well, I don't know. Bukan berarti aku enggak punya rencana dalam hidupku, tapi memang end game itu akan
Speaker A
terus berubah. I gitu. Ya, aku tadi ingat juga kata-kata kamu ketika kamu bilang bahwa kamu mah kalau nangis besok bisa ke Itali, besok bisa ke mana aja gitu.
Speaker A
Pertanyaan simpel, kenapa semua itu harus dikaitkan dengan sisi materialistis? Ya, kayak lu sedih ya konteksnya harus dipeduliin sisi sedihnya itu ya. He bukan apa-apa tuh konklusinya bahwa lu sedih, lu banyak uang.
Speaker A
Iya. Iya. Lu lagi stres tapi lu banyak rumah. Iya. Menurut kamu itu kenapa? Apakah karena orang-orang tersebut yang ngejah punya trauma dengan finansialnya atau dia pernah punya luka dengan sisi materialistisnya atau seperti apa? Kalau dari POV Brilan sekarang
Speaker A
menurut aku karena banyak orang yang merasa kebahagiaan itu bisa dicapai dengan uang. He. Dan banyak orang yang mengaitkan orang itu sedih dan menderita karena dia tidak punya uang. Jadi, selalu mengaitkan kesedihan dengan kemiskinan gitu ya.
Speaker A
Dia sedih, dia enggak bisa makan karena dia miskin gitu. Jadi ketika ada orang yang terlihat kaya atau punya banyak uang dan dia sedih, ya enggak pantes.
Speaker A
Karena lu kan punya uang. Money can buy happiness. Jadi sebenarnya di sistem kita enggak ada enggak ada apa ya, enggak ada anggapan uang tidak bisa membeli kebahagiaan.
Speaker A
Sebenarnya setiap orang pasti berpikir uang bisa membeli kebahagiaan. Makanya banyak orang yang mengaitkan kesedihan itu dengan materi.
Speaker A
Which enggak apa-apa ya, karena semua orang punya penderitaannya masing-masing. Aku tidak akan pernah mungkin bisa membandingkan kesedihanku dengan orang-orang yang enggak bisa makan di luar sana.
Speaker A
Hm. Enggak mungkin bisa. Dan aku bersyukur aku bisa makan. Aku bersyukur aku bisa tinggal di rumah yang nyaman.
Speaker A
Aku tidak akan pernah bisa membandingkan penderitaanku dengan penderitaan mereka. Hm. Karena aku tidak bisa membandingkan, ya jangan juga emosiku dibandingkan sama emosi yang enggak ada kaitannya gitu loh menurutku.
Speaker A
Hm. He. Makanya ketika aku dibandingkan dengan emosi-emosi orang lain, aku sedih, lalu tiba-tiba aku dibandingkan dengan orang yang lagi kelaparan, itu kan enggak enggak nyambung, enggak berkoneksi gitu.
Speaker A
Aku sedih misalnya karena aku enggak punya teman, terus aku nangis, lalu dikaitkannya, "Ya masih mending lo bisa makan. Ada orang miskin yang enggak bisa makan. Enggak nyambung. Aku sedih karena aku enggak punya teman, yang ini sedih karena enggak bisa makan."
Speaker A
Enggak apple to apple. Enggak apple to apple. Tapi orang-orang biasa menyambungkan kesedihan itu dengan materi.
Speaker A
Padahal ada juga loh orang yang mungkin hidupnya pas-pasan, tapi dia bahagia sekali karena keluarganya utuh banyak.
Speaker A
Dia mungkin enggak tahu besok mau makan apa, tapi dia bahagia karena orang tuanya selalu ada buat dia.
Speaker A
Dia bahagia karena dia punya teman-teman yang melihat dia sebagai dia, bukan sebagai apa yang dia punya. He.
Speaker A
Tapi ada juga di sini orang yang sedih banget, bergelimang harta, tapi sedih karena orang tuanya enggak pernah ada buat dia. Orang tuanya sibuk kerja. Dia sedih karena dia enggak punya teman yang tulus. Karena teman-temannya mau sama dia kalau dijajanin doang.
Speaker A
Ini kan ada dua perbedaan hidup di sini. Kita enggak bisa membandingkan kesedihan dia sama kesedihan yang ini dong. Karena background hidupnya sudah berbeda gitu ya. Cuma mungkin orang-orang itu tadi biasa mengukur kebahagiaan itu lewat materi yang kita punya sehingga bobot
Speaker A
emosinya itu enggak dilihat. He, makanya banyak orang yang kurang berempati gitu. Jadi, ya menurut aku harus banyak apa ya, harus banyak-banyak melihat hidup orang lain, berempati sama hidup orang lain dan enggak cuma melihat itu dari permukaan aja sih gitu.
Speaker A
Hm. Kurang berempati. Tadi kamu juga sempat ngebahas tentang bagaimana sisi pertemanan yang mungkin mereka berharap harus pulang ke Pril untuk bercerita gitu, tapi mereka tidak ingin mendengarkan atau memahami kamu yang mungkin lebih struggle juga gitu.
Speaker A
Apakah di titik itu kamu merasa kamu 100% kesepian karena tidak ada lagi orang yang mendengarkan kamu, memahami memahami kamu di fase kamu retak gitu. Dan kalau iya di fase retak itu kamu kesepian, gimana kamu menghadapi fase itu?
Speaker A
Menjalani dengan diri kamu sendiri, dealing with it, dan keluar sebagai sosok pril yang lebih kuat?
Speaker A
Yes. Aku kesepian karena aku ngerasa aku itu seperti lahir untuk menjadi solusi. Wow. Tapi Anas itu itu bagus dan dalam sekali.
Speaker A
Karena aku ngerasa aku lahir anak pertama gitu ya. ada apa-apa sama adikku, pasti orang tuaku akan konsul kepada aku untuk gimana nih ya adik kamu menurut kamu gimana? So, aku harus ngasih solusi gitu. Lalu aku dilihat mungkin lebih sukses gitu
Speaker A
dibandingkan teman-temanku yang kerjanya bukan figur publik. Sehingga ketika mereka punya masalah, mereka akan cerita ke aku karena mereka merasa aku lebih superior, aku lebih pantas untuk memberikan solusi. Ya udah aku ngasih solusi orang curhat apa aku kasih solusi, gitu. Aku enggak pernah
Speaker A
memperlihatkan aku sedih. Jadinya orang bisa sedih ke aku karena aku enggak pernah sedih. Gimana sih caranya biar enggak sedih? Jadi aku ngerasa kayak kenapa ya aku tuh selalu diharapkan untuk terus memberikan solusi.
Speaker A
Hmm. Begitu pun juga di perusahaan misalnya ada krisis. Kebetulan aku kerjanya memang handle krisis. Emang krisis handling. Kita sebagai CMO kalau ada krisis apa harus kita perhatiin tuh press rilisnya gimana, PR movement-nya gimana. Jadi ada krisis larinya ke aku.
Speaker A
CMO itu C-nya krisis. [tertawa] Benar. Benar. C-nya krisis gitu. Di pekerjaan kita nge-handle krisis. Kalau ada krisis larinya ke kita. Di pertemanan larinya ke kita karena kita dianggap superior. Jadi kita bisa lebih memberikan solusi.
Speaker A
Di keluarga aku anak pertama ya pasti kalau ada apa-apa diskusinya ke anak pertama dulu kan.
Speaker A
Gitu. Jadi ya aku ngerasa aku tuh selalu diharapkan memberikan solusi. Lalu siapa yang memberikan solusi terhadap hidupku gitu. Nah, di situlah aku ngerasa sangat-sangat kesepian gitu. Dan akhirnya yang bikin aku kuat adalah aku bisa kok ngasih solusi ke orang lain. Aku pasti
Speaker A
bisa ngasih solusi ke diriku. Enggak harus pertolongan itu dari orang lain. Coba dari diri sendiri gimana caranya gitu.
Speaker A
Terus ketika kita butuh orang lain, jangan pernah takut untuk ask for help. Iya. Jadi bisa jadi itu salahku kan karena aku mungkin enggak pernah menunjukkan sisi rapuhku gitu. Nah, akhirnya di fase retak itu di saat aku ngerasa kesepian, aku juga mengevaluasi
Speaker A
diriku. Akhirnya aku mulai memperlihatkan emosi-emosi rapuh tersebut ke depan orang tua, ke depan sahabat-sahabat dan juga akhirnya aku berani menunjukkan sisi rapu ke depan pasangan.
Speaker A
Hm. He. Dan jujur ee pasanganku yang sekarang yang akhirnya berhasil merobohkan tembok itu. Karena biasanya aku ke pasangan pun temboknya tinggi sekali. Karena aku ngerasa kayak belum tentu jadi pasangan selamanya. Enggak usah dia tahu hidupku 100% gitu.
Speaker A
Oh wow. Ada ada mitigasi itu. He. Kerjanya kan selalu nge-handle krisis, selalu ngebuat mitigasi, list of risk.
Speaker A
Jadi kan kebawa kehidupan personal gitu. Nah, akhirnya di saat aku di faseet retak ini ada sosok pasangan omara gitu yang akhirnya aku jadinya mulai terbuka gitu. Berani menunjukkan sisi rapuh, berani menunjukkan sisi yang enggak pernah aku tunjukkan sebelumnya yang
Speaker A
akhirnya sekarang aku bisa menemukan tempat pulang yang selama ini aku butuhkan gitu. Itu bagus sekali. Dan aku anak pertama juga merasa kan aku sempat nulis di buku keduaku. Ada sertifikat penghargaan untuk anak pertama. [tertawa] Aku setuju banget sih.
Speaker A
Selama ini tuh mungkin minim support. Iya dan kita bisa nge-handle itu sendiri. Dan aku mau kasih sertifikat ya siapa tahu enggak ada yang mau kasih sertifikat itu ke kamu. Kama [tertawa] boleh banget loh aku ngasih sertifikat itu.
Speaker A
Mau juga ya? Mau juga sih. Tapi aku aku suka sekali kata-kata yang kamu tadi being funnerable itu kayak seorang PR yang pertama kali mungkin aku lihat kamu bing voraable gitu ya. Kayak kamu rela untuk nangis di depan orang
Speaker A
tuamu, di depan pasanganmu, di depan teman-temanmu. Dan tiga kata kunci yang berat, ask for help. Enggak semua orang yang kelihatan kuat ya. Karena kita selama ini sudah capek banget jadi anak pertama yang kuat. Kuat banget. Heeh.
Speaker A
Kita minta tolong itu titik yang terkesan kayak kita buka topeng selama ini. Iya. Iya.
Speaker A
Dan kita kayak nyerah sama pendirian kita selama ini gitu. He. Tapi sebenarnya jangan dilihatnya kayak gitu gitu. Aku ngerasa kita juga harus sadar bahwa kita tuh juga udah banyak memberi kok.
Speaker A
Enggak apa-apa untuk sekali-sekali menerima gitu. Hidup enggak harus terus memberi ke orang lain. Kita juga boleh menerima kekuatan, menerima energi, menerima pertolongan dari orang lain.
Speaker A
Dan itu bukan berarti kita kalah, tapi sebenarnya itu menandakan bahwa kita adalah manusia biasa, gitu. Kalau kita mau diakui kita manusia biasa, kita juga harus berperilaku seperti manusia biasa.
Speaker A
Jangan kayak Wonder Woman atau Superman terus gitu kan. Nah, itu yang aku pelajari sih selama aku berproses yang aku tulis di buku Retak Luruh ini.
Speaker A
He ya, aku bakal baca sih buku Retakeluh dan Kembali Uth. H really, kalau terkesan kehidupan kamu ini sibuk banget ya, CMO ngurusin hal lain segala macam, sekarang juga punya Y dan harus buka open trip lah segala [tertawa] macam. Banyak banget. Banyak
Speaker A
banget gua lihat kesibukan seorang PR gitu. Pertanyaan simpel, gimana caranya kamu bisa ngasih 100% waktu kamu untuk keluarga, pasangan, dan temantan kamu yang sebenarnya gimana cara akhirnya kamu 100% kamu enggak lagi datang dengan aduh kok capek banget kerja gitu. Kamu ada di sana 100%
Speaker A
presence. Aku enggak akan pernah bisa kasih 100%. Dan aku juga kita harus menerima bahwa enggak setiap saat kita 100% gitu. Dan enggak apa-apa kalau kita lagi enggak 100% karena belum tentu orang yang kita temui juga 100% kok.
Speaker A
Oh enggak. Malah kalau kita ketemu sama orang-orang yang beneran nge-support kita, dia tidak akan datang dalam 100%.
Speaker A
Aku juga tidak datang dalam 100%. kita bertemu untuk saling recharge untuk membuat satu sama lain jadi 100%. Aku ngelihatnya jadi kayak gitu gitu.
Speaker A
Karena kalau kita datang 100% itu kan juga sama aja kayak kita menutup menutup sisi rapuh kita gitu kan ya. Apa bedanya mereka sama publik yang har ngelihat kita di sosial media yang harus ngelihat kita 100% terus gitu.
Speaker A
Jadi di saat aku sama keluarga ya justru aku enggak 100% bertemu sama mereka untuk membuat aku 100%. Aku ketemu sama mereka ya, di saat aku lagi capek, aku curhat, aku minta dipeluk sama mamaku, minta dielus-elus. Kemarin aku pulang ke
Speaker A
rumah, akhirnya udah lama enggak pulang. Aku minta disuapin karena kayak, "Mah, suapin dong, aku lagi malas makan." Disuapin sama mamakku itu. Aku enggak lagi 100%. Tapi karena aku enggak 100%, mereka memberikan energi dan memberikan kekuatan. Jadinya aku 100% aku juga memberikan kebutuhan
Speaker A
yang mungkin mamaku butuh juga. Mamaku mungkin kangen sama aku yang minta disuapin, kangen sama aku yang manja. Jadinya kan kebutuhan kita masing-masing terisi karena kita datang enggak berharap mendapatkan 100% dari orang dan enggak berharap ngasih yang 100% tapi kita
Speaker A
menjadi manusia yang jujur aja gitu. Sama halnya dengan aku ke pasangan gitu. Kalau misalnya aku berharap datang ke Omara 100% apa bedanya sama Omara ngelihat reels a day in my life aku di Instagram yang aku 100% banget gitu.
Speaker A
[tertawa] Apa bedanya gitu. Justru aku datang ke dia di saat aku 50% dan aku mengeluh mengeluh kesah dan meminta sesuatu ke dia gitu. Kayak aku minta waktumu, aku minta kamu mendengarkanku, aku minta kamu elus-elus aku dong, kepala aku, gitu. Nah, justru
Speaker A
tidak menjadi 100% tidak menjadi sempurna. Itu yang membuat hubungan kita semakin lekat justru sama orang-orang terdekat gitu. Karena kita benar-benar menjadi manusia seutuhnya gitu.
Speaker A
I deeply deeply love that. Itu bagus banget. Itu bagus banget. April aku appreciate itu bagus dan kayaknya pertama kali aku dengar dari orang ketika aku tanyain hal 100% ini gitu.
Speaker A
Karena aku enggak pernah pakai POV ketika baterai aku lagi lemot. Aku enggak pernah pakai POV baterai aku lagi 60%. Aku mau ketemu orang untuk nge-charge at least dapat 80%. Aku enggak pernah kepikiran seperti itu.
Speaker A
Oh ya. Aku kepikiran bahwa aku harus dapat 100% untuk ketemu sama orang-orang di sekitar aku gitu. Karena kalau enggak aku bisa jadi kayak enggak 100% ada di sana. Tapi kalau kamu buka kacamata aku dengan kalimat tadi, it's makes sense. Mak sense banget.
Speaker A
Kali gini emm kayak setiap orang itu kan punya kebutuhan ya. He. Dan pasti orang juga senang kan merasa dibutuhkan. Kamu pasti senang kalau ngerasa dibutuhkan sama orang tuamu atau kamu juga pasti senang kalau ngerasa dibutuhkan sama pasanganmu. Kalau
Speaker A
pasanganmu datang ke kamu 100%, rasa dia butuh kamunya juga udah enggak ada karena dia udah 100%.
Speaker A
Hm. Tapi kalau misalnya pasanganmu jujur datang ke kamu enggak 100% dan akhirnya dia membutuhkan kamu, kan kamu juga senang. Akhirnya kamu juga ya ketambah energinya. Sama kayak aku datang ke mamaku 50% aku minta disuapin.
Speaker A
Mamaku senang banget nyuapin aku karena ngerasa kayak, "Yey, my baby girl is back." He.
Speaker A
Aku juga senang disuapin sama mamaku karena aku merasa disayang sebagai anak kecil lagi. Akhirnya kita saling mengisi dan semakin kuat hubungan ibu dan anaknya.
Speaker A
Wow. Bayangin kalau aku datang 100% aku udah gak butuh disuapin mamaku lagi. Paling aku cuma jadinya ngobrol kayak orang dewasa sama mamaku. Belum tentu itu yang mamaku butuhkan. Bisa jadi mamaku kangen sama aku yang kecil.
Speaker A
Benar sekali. Jadi kita harus ngelihatkan dari perspektif itu gitu. Sama aja kayak kepasangan gitu.
Speaker A
Kalau Omara datang ke aku udah 100% terus dia kayak ya udah cerita aja kita jadi kayak orang dewasa. Ya udah kita akhirnya diskusi sebagai dua orang dewasa. Tapi kalau Omara datang ke aku, dia lagi capek, aku jadi punya energi
Speaker A
untuk kayak mau aku bikinin bread pudding, your favorite bread pudding. And it makes me happy bisa dibutuhkan seperti itu gitu. Atau kita mau nonton, kita mau apa. Karena kita sebagai manusia juga pasti senang kalau punya kalau ada rasa dibutuhkan.
Speaker A
Dan menurut aku penting untuk kita menyadari hal itu supaya kita juga bisa memberikan apa yang orang lain butuh juga gitu.
Speaker A
Iya. Dan cara efektif untuk merusak sisi itu yaitu dengan bilang bahwa masih mending lu gitu.
Speaker A
Itu cara paling efektif untuk merusak hubungan. Iya. Ya. Dan itu yang dari baterai kita tadi 50% nol lagi.
Speaker A
Iya. [tertawa] Masih mending gue aja. Heeh. Iya. Itu sedih banget sih kalau misalnya lagi cerita kayak ya masih mending ya lu gitu.
Speaker A
kayaknya enggak ada yang mending atau enggak ada yang lebih baik atau lebih buruk deh. Di saat kita merasa sedih ya kita sedih enggak enggak pengaruh gimana kita sedihnya atau enggak pengaruh bagaimana apa yang kita punya gitu ya.
Speaker A
Kita tetap sedih. Heeh. Jadi ya aku juga lumayan sedih dan frustasi sih ketika banyak orang-orang publik karena banyak aku lihat juga di komen gitu-gitu yang juga enggak punya empati itu melupakan bobot emosi karena lebih mengingat faktor materi yang orang itu punya yang
Speaker A
akhirnya banyak orang-orang ngerasa enggak pantas sedih menyembunyikan lukanya gitu. maunya hidupnya sempurna karena takut kalau enggak sempurna nanti digituin sama orang, dijudge sama orang. Dan itu juga terefleksi pas aku ngposting di TikTok itu pertama kalinya aku nge-posting kayak gitu.
Speaker A
Aku ngposting aku enggak ee enggak terlalu makan benar 2 hari. Oke. Jadi dalam 2 hari tuh aku cuma makan 3 sendok. Habis itu udah asupan kaloriku dalam 2 hari jelek banget gitu. It's not healthy. Tapi karena aku lagi burn out
Speaker A
sama pekerjaan, jadinya makan aja enggak ketelen gitu. Aku tuh tipe yang kalau stres enggak bisa makan. Kan ada orang yang stres eating justru kalau stres makan. Kalau aku stres ngelihat makanan aja enggak mau.
Speaker A
Cuma mau minum. Minum aja dikit-dikit gitu. Setiap orang punya responnya yang beda-beda ya terhadap stres. Terus aku posting, aku akhirnya bisa makan. Setelah 2 hari aku enggak makan karena burn out.
Speaker A
Pas aku posting, aku kira postingan aku itu bisa menguatkan orang-orang yang juga lagi ngerasa burn out. Oh, Pril aja yang selama ini posting happy-happy dan pekerjaannya kayaknya mapan, settle, dia bisa loh ngerasa burn out. Berarti gue enggak apa-apa kalau gua ngerasa burn
Speaker A
out. Gua enggak sendiri. He tujuan aku tuh itu pengin orang-orang tuh ngerasa enggak sendiri kalau mereka lagi burn out.
Speaker A
Tapi ternyata komen-komennya sangat beragam. Komen-komennya kayak ya PR burn out tetap kaya. I Pril aja kaya burn out. Terus kayak makanya jangan fokus sama dunia. Hidup itu enggak cuma soal dunia harus pikirin akhirat juga.
Speaker A
Ada yang komen kayak gitu tiba-tiba langsung ke agama mengejku keimananku terhadap akhirat. karena aku terlihat ee ngejar dunia terus gitu.
Speaker A
Iya. Ee makanya jangan kebanyakan ngejar dunia. Lihat tuh ee orang yang enggak jaga kesehatan nanti tiba-tiba sakit nanti tiba-tiba ini. Dan akhirnya aku kayak "Wow ternyata benar gitu." Enggak cuma orang-orang di sekitarku aja yang membuat aku itu ngerasa enggak pantes
Speaker A
untuk sedih. Heeh. Ternyata publik pun juga membuatku ngerasa aku enggak pantes untuk sedih karena komen-komennya mereka kayak tidak mewajarkan seorang Pril atau Konsina bisa burn out dan enggak makan 2 hari.
Speaker A
Padahal Pril punya uang untuk beli makanan enak. [tertawa] Iya iya iya. Oke. Yang kira ngetu kayak oh my god aku sedih banget ngebaca komennya gitu. Tapi ya udahlah aku enggak mungkin hapus lagi postingan itu. He.
Speaker A
Aku biarkan aja postingan itu ada dan silakan aja orang bisa komentar apa gitu. Yang penting orang-orang yang lagi burn out bisa ngerasa enggak sendiri karena postinganku gitu.
Speaker A
He. Emm. Dan ya akhirnya aku tahu bahwa rasa empati kita ini masih kecil banget ya gitu ya. Jadi, ya semoga dengan kemajuan teknologi, dengan podcast ini orang bisa meningkatkan lagi sisi empati mereka sih gitu.
Speaker A
Setuju, setuju, setuju. Dan aku juga enggak heran kalau aku baca komen, Lesi, ada komen-komen yang terkesan negatif itu adalah refleksi dari apa yang mereka alami.
Speaker A
Refleksi atau dunia di kepala mereka. Dan ketika tadi misalnya mereka bilang bahwa lah Pril lagi berod, kenapa enggak mampu beli makanan enak?
Speaker A
Biasanya tuh orang lagi lapar juga itu. [tertawa] Mereka juga pengin lagi beli makanan enak.
Speaker A
Iya. Iya. Pokoknya apapun postingannya negatif aja gitu. Kayak misalnya lagi posting kebahagiaan, habis itu kayak ada yang komen biasanya yang posting-posting bahagia gini kehidupannya enggak bahagia atau semua akan pret pada waktunya? Sering enggak baca?
Speaker A
Itu sering. Itu sering. Benar. It's crap mentality. Iya. It's crap mentality. Kayak sedih banget gitu di saat orang lain bahagia.
Speaker A
Karena kita enggak bahagia, orang lain enggak boleh bahagia. Orang lain harus merasakan apa yang aku rasakan. Dan itu kan mentality yang enggak sehat gitu.
Speaker A
Dan harusnya dia itu bisa mengevaluasi dirinya. Kok gua gini ya, kok gua enggak bisa senang ya ngelihat kesuksesan orang lain?
Speaker A
He. Kok gua punya crap mentality ya? Kenapa ya? Gitu. Supaya kita bisa terus evaluasi diri. Jangan ada orang bahagia entar juga putus.
Speaker A
Kayaknya dalam banyak hal aku sering ketemu orang seperti itu gitu. Kayak lu mau buka bisnis enggak lama. Paling lu memulai sesuatu ah itu mah paling 3 bulan 2 bulan udah udah udah udah stop udah apapun ketika orang merintis
Speaker A
kita akan dianggap bodoh kita akan disalahpahami dan orang akan meragukan kita gitu karena mereka pernah mengalami itu dan refleksi dari luka dan gagal mereka itu akan dilempar ke orang lain.
Speaker A
Iya. Tapi kan itu adalah berarti cara penyelesaian yang tidak baik gitu. He. Ketika orang ketika orang mengalami kegagalan lalu dia lempar kegagalan itu ke orang lain, pokoknya orang lain harus ngerasain juga.
Speaker A
Itu kan berarti ada penyelesaian yang enggak selesai dengan baik terhadap dirinya sendiri. He. Karena ketika ketika aku ngerasa menderita, aku enggak mau orang menderita juga. Justru ketika aku misalnya buka bisnis A terus aku mengalami krisis gitu atau aku rugi gitu terus ada
Speaker A
temanku yang pengin buka bisnis yang sama. Enggak mungkin aku bilang kayak lu 2 bulan tutup. Enggak mungkin dong. Aku malah akan memberikan mereka advice terhadap pengalamanku. Aku akan bilang kemarin gue tuh ngalamin krisis gini gini gini. Nanti lu kalau buka please
Speaker A
udah bikin mitigasinya ya. Jadi nanti kalau masalahnya datang ke lo, lo bisa meng-handle itu lebih baik dari gue.
Speaker A
Semoga sukses, semoga baik-baik aja. Justru kita kan harusnya menasihati orang untuk enggak terjun ke lubang yang sama-sama kita, untuk enggak menderita juga gitu ya. Karena kita sudah selesai sama diri kita, kita udah ngerasa cukup dan kita enggak butuh enggak butuh validasi dari
Speaker A
orang lain atau enggak butuh validasi dari penderitaan orang lain. Hm. Kita menderita, orang lain menderita juga. Tuh kan benar. Kenapa kita harus mencari validasi dari penderitaan orang lain gitu?
Speaker A
Iya. Nah, orang-orang tersebut harus bisa aware sih sama apa yang mereka alami. Harus juga berani ask for help karena ya pasti ada terapi-terapi atau ada solusi yang harusnya mereka bisa jalankan gitu.
Speaker A
Hm. Aku penasaran sih apa the biggest insecurity seorang Pril itu? Apa yang bikin kamu kayak enggak nyaman atau merasa tidak percaya diri ketika ngelakuin sesuatu?
Speaker A
Biggest insecurity selalu menjadi pertanyaan yang sangat menarik kalau ditanya biggest insecurity. Karena to be honest with you, I have a lot. Aku punya banyak insecurity, tapi yang paling besar adalah a quiet fear of not yet living up the truest version of my life of myself.
Speaker A
Ada ada rasa ketakutan di mana aku tidak bisa menjembatani diriku yang aku tunjukkan di dunia dan juga diriku yang aku temukan di saat aku sendiri.
Speaker A
Aku takut enggak bisa, aku takut bingung menjalani hidup dan akhirnya aku kehilangan diriku sendiri. Itu sih yang paling aku takut gitu.
Speaker A
Dan itu sudah kita bahas dari awal tadi. Kita ngebahas bagaimana jembatan penghubung antara kamu di rumah dengan kamu di depan kamera dan itu sudah berproses lebih dari 10 tahun.
Speaker A
Iya. Kamu mencoba untuk tidak ingin terlalu sempurna juga. Iya. Dan kalau iya kamu kelihatan 100% di depan orang terdekat kamu, ya mending mereka lihat reels kamu di Instagram gitu ya.
Speaker A
Iya. Tapi kita enggak setiap hari kuat. Aku bisa ngomong ini sekarang mungkin karena aku lagi kuat, tapi di saat kita lagi enggak kuat kan rasa ketakutan itu akan lebih besar dan akan lebih menguasai kita gitu. Rasa insecure itu gitu ya. Aku juga
Speaker A
sebenarnya insecure banget kalau aku tuh enggak cukup untuk orang-orang yang ada di sekitar aku atau aku mengecewakan mereka sih gitu aja. He.
Speaker A
Karena dari kecil aku sudah hidup di atas harapan orang lain. I tentu sebijak-bijaknya aku masih ada rasa takut dan rasa insecure kalau aku tidak bisa memenuhi ekspektasi itu gitu.
Speaker A
Hm. Kalau aku akan mengecewakan mereka. Dan tentu trauma-trauma atau fase-fase retak yang tentu masih ada di dalam diriku itu aku takutnya naik lagi ke permukaan dan akan menguasai insecurity aku gitu.
Speaker A
Kayak misalnya aku misalnya takut enggak cukup buat Omara misalnya. I kenapa aku bisa ngerasa aku insecure banget enggak cukup buat Om Mara? Ya karena di masa lalu banyak orang yang bilang kalau aku enggak cukup.
Speaker A
Hm. Dan akhirnya orang-orang tersebut udah enggak ada lagi di hidupku. Mereka memilih untuk meninggalkanku gitu.
Speaker A
Nah, itu kan yang jadinya membuat aku insecure. Aku udah cukup belum ya buat orang tuaku? Aku udah cukup belum ya buat pasanganku? Aku udah cukup belum buat fansku?
Speaker A
Hm. Aku udah cukup memberikan mereka alasan belum ya untuk nge-fan sama aku. Kenapa ya mereka nge-fan sama aku? I'm so insecure about that. Dan mungkin orang enggak ngelihat gitu ya kalau aku insecure karena orang pasti akan ngelihat ya elah lo PR.
Speaker A
Bahkan aku sering ditanya Pril rasanya apa sih pas bangun tidur ngaca terus lo tuh Prilatu konsum. [tertawa] Lucu ya pertanyaannya ya.
Speaker A
Aku Pril rasanya apa sih lu bangun tidur terus lu ngaca gila gua prilon Sina terus aku kayak hah?
Speaker A
[tertawa] apa ya rasanya gitu. Tapi akhirnya membuat aku jadi ngerasa unik ya. Orang bisa punya pandangan itu berarti kan orang melihat hidupku tuh sempurna banget.
Speaker A
I jadinya orang ngerasa kayak gila enak banget ya bangun tidur Pril. Iya gitu kan.
Speaker A
Iya kayak aku suka ngelihat jokes gitu kalau ada bayi lahiran terus ee dia itu orang tuanya artis gitu. Oh iya enak banget lahir pas tahu orang tuanya siapa gitu kan.
Speaker A
Iya iya iya. It's so funny gitu. Karena berarti orang itu emang ngelihat hidup orang dari fasadnya aja gitu. Menolak untuk benar menelusuri lebih dalam lagi gitu.
Speaker A
Benar. He. Dan aku ya kalau untuk lucu-lucuan dan aku juga enggak mau menjelaskan terlalu panjang karena mungkin itu enggak terlalu dekat sama aku kayak gimana rasanya PR lu pas ngaca ee ternyata lo prilat kons oh I feel so
Speaker A
good. Aku cuma ngomong gitu aja sih. I feel so good ya. Why not gitu. Tapi ya kalau ditanya sama orang yang dekat atau ditanyaya sama orang yang pengin aku share, aku akan bilang kayak ya jadi Pril bukan hal yang mudah gitu.
Speaker A
I ada banyak proses, ada banyak ee perjalanan yang mungkin enggak terbayangkan sebelumnya gitu. Heeh.
Speaker A
Jadi, pas aku lihat diriku di kaca, justru aku harus berusaha untuk udah aku udah cukup kok, aku udah cukup kok buat orang lain.
Speaker A
He, enggak apa-apa untuk enggak sempurna gitu, enggak apa-apa untuk ee menjadi diriku sekarang gitu. Malah banyak afirmasi-afirmasi yang menguatkan diriku gitu. Bukannya sombong karena aku bangun tidur adalah prilaku konsina gitu.
Speaker A
Malah kadang aku berpikir, gimana ya kalau aku bangun tidur, aku adalah Pril, tapi bukan Pril atau konsena yang orang kenal, tapi Pril yang mungkin kerjaannya kantoran gitu.
Speaker A
H yang mungkin ada yang mungkin kerjaannya enggak di depan layar gitu. Apa ya yang aku rasa aku bisa mengisi kekosongan yang aku rasakan kalau aku perilat konsun enggak ya gitu. Aku bisa aku enggak kesusahan cari pacar enggak ya?
Speaker A
Oh. Oh, oke oke oke. Aku enggak kesusahan cari teman enggak ya gitu. Iya iya benar. Aku sempat mikir gitu juga.
Speaker A
Kayak kalau kita lepas topi mungkin topi fame, topi nama besar kita. Iya. Kalau aku jalan di sana aku jadi aku apa adanya gimana ya?
Speaker A
Iya. H. Dan kalau aku bukan perilat konsina kira-kira orang ngedekatin aku tuh karena apa ya?
Speaker A
Oke [tertawa] ya. Oke. Aku waktu itu semphas itu sama Jerom dan Oh iya kayak ngomongin tentang hubungan transasional kan. Terus dia bilang, "Kalau kita bukan kita yang sekarang orang mau ngobrol sama aku karena apa?" Ya, itu pertanyaan bagus banget sih.
Speaker A
Iya. Karena apa ya? Gitu. Jujur ya, namanya juga perempuan gitu ya. Dan aku rasa banyak perempuan laki-laki di luar sana juga ngerasain ini. Ini bukan kita enggak bersyukur ya, Guys. Tapi kita pasti punya insecurity di mana kita ngerasa
Speaker A
jelek. Pasti pas pasti gitu ya. Mau mau kita dipuji sama orang cantik kek, tapi pasti kita kalau ngacak, "Kayaknya gua jelek deh, kayaknya gue gendutan deh." Itu udah wajar banget. Mau perempuan, mau laki-laki pasti pernah ngalamin itu.
Speaker A
Pasti. Nah, aku tuh pernah ngerasa cowok tuh ngedekatin aku karena aku perilat konsina apa karena aku cantik ya? Aku cantik enggak sih sebenarnya?
Speaker A
Jadinya tuh kita punya perasaan itu gitu. Orang tuh ngedekatin karena cowok itu ngerasa ya udah gua mau ngedekatin sosok Pril atau Kina. Tapi di mata mereka aku menarik enggak ya?
Speaker A
Di mata mereka aku cantik enggak sih? Apa mereka ngedekatin karena aku udah menjadi sosok aku udah menjadi tokoh si Prilatu Konsina ini. Tapi secara fisik aku menarik enggak sih buat mereka? Ya pastilah kita sebagai perempuan ada rasa itu
Speaker A
pastinya gitu kan. Karena ya kadang kita dikasih pujian. Pernah enggak sih kamu dikasih pujian tapi kamu enggak mau dipujinya itu? Hm.
Speaker A
Misal aku ngobrol sama orang, aku dipujinya kayak kamu pintar banget. Tapi di dalam hatiku aku maunya dipujinya cantik.
Speaker A
[tertawa] Lagi dekat sama orang gitu terus kayak kamu pintar deh. Tapi cantik enggak sih aku? Gitu kan.
Speaker A
Namanya juga perempuan gitu. Ada insecurity-insecurity dan pertanyaan itu gitu. Kalau aku bukan sosok perilonsina.
Speaker A
Heeh. Cowok ngelihat aku berpenampilan seperti ini menarik enggak sih buat mereka? He. Apa yang membuat mereka mau ngedekatin aku?
Speaker A
Hm. Ada gitu pertanyaan itu. Iya. Dan itu jadinya aku tanyain ke Mara gitu kayak Iya. [tertawa] Kamu tuh kenapa ngedekatin aku? Kamu kenapa naksir sama aku?
Speaker A
Heeh. Dan ketika dia menjawab sesuatu yang aku mau, aku udah ngerasa cukup. Hm. Ya. Soalnya kamu cantik. Yes, finally.
Speaker A
Iya. [tertawa] Iya. Terus dia dia terus dia nyambung cantik di wajah dan cantik di pikiran. [tertawa] Biasanya colol gombal gitu kan.
Speaker A
terus kayak ye finally gitu. Dan akhirnya kan orang kayak bukannya lebih bagus dipuji pintar ya atau bukannya lebih bagus dipuji kalau lo itu orang yang dewasa ya.
Speaker A
Ya kadang kita penginnya dipuji cantik aja gitu gitu karena ya namanya juga kita kadang berusaha menjadi perempuan yang cantik dan apa kan juga pengin dilihat kayak gitu juga gitu. He.
Speaker A
Nah, itu yang ngebuat aku kayak, "Oh, jadi kamu tuh ngelihat aku karena cantik ya?" "Ya, kan aku waktu belum ngobrol sama kamu, aku enggak tahu kalau kamu itu sepemikiran sama aku. Aku enggak tahu kalau kamu tuh baca buku. Aku enggak
Speaker A
tahu kalau kita baca buku yang sama." Jadi, ya aku ngedekatin kamu buuse you're cute.
Speaker A
Yeay. Gitu. Jadi, aku ngerasa oke finally ada yang suka sama aku tanpa embel-embel aku baca buku lah, tanpa embel-embel aku pintarlah, tanpa embel-embel aku dewasa gitu. Karena ya tanpa embel-embel itu aku menarik enggak sih gitu kan kita juga pengin tahu itu
Speaker A
ya gitu. Ya udah makanya aku udah terafirmasi gitu. Jadi kalau aku bukan perilaku kondisina kamu tetap naksir aku enggak kalau ngelihat aku di jalan. Ya tetap oke.
Speaker A
[tertawa] Lucu lucu kalian itu udah itu tetap tetap ya. Oke oke oke. Jadi kalau aku bukan perilaku toinnya yang followersnya segitu tapi kamu buka Instagram aku, kamu tetap mau dekatin aku enggak?
Speaker A
Tetaplah kan fotonya tetap foto kamu kan. You're cute. Oh, oke. Oke. Udah, udah terafirmasi keinseuran itu [tertawa] Pril. Tadi ketika kamu ngomongin tentang gimana rasanya bangun pagi melihat ke cermin dan kamu adalah Pril consinam, aku sempat kepikiran satu hal. Aku kepikiran
Speaker A
bahwa hanya kamu yang bisa jadi pril tok Kina. Maksudnya he kamu punya beban itu, kamu ngelewati fase itu dan kalau ada orang lain dia jadilah PR really. Belum tentu dia bisa.
Speaker A
Tapi kamu bisa jadi PR really. Am I mean? I ya ya. Itu itu emang anugerah Tuhan sih. Itu emang anugerah Tuhan diberikan ke sosok kita individu kayak kenapa Nabi diturunkan karena dia akan jadi khalifah manusia jadi khalifah. Itu
Speaker A
sebenarnya khalifah untuk kita sendiri gitu. Kayak he hanya gue yang bisa jadi host seara berkelas. Hanya Pril yang bisa jadi Pril gitu.
Speaker A
Iya. He. Dan semua orang enggak bisa. Dan semua orang harusnya bisa berpikir seperti itu juga gitu. He.
Speaker A
Bahwa dia adalah dirinya dia dengan segala beban yang dia punya. Ya, cuma dia yang bisa hadapin, cuma dia yang memang pantas ada di situ.
Speaker A
He. Supaya itu juga memberikan bahan bakar semangat buat kita juga ya. Itu memberikan bahan bakar semangat loh buat aku pas kamu ngomong gitu. Cuma kamu yang bisa jadi perilaku konsiner itu membuat aku berpikir, "Oh ya oke, oke berarti
Speaker A
aku I'm doing good." gitu. Karena dari sejak awal conversation sampai sekarang aku bisa ngelihat bahwa ini orang kayak puluhan tahun jadi anak pertama dia kelihatan kuat di keluarganya dan dia berani untuk ask for help itu transisi hidupan dan mungkin kalau orang bisa
Speaker A
nuduh kamu lu berubah pril berubah padahal lu berkembang. Iya. Iya. Iya. Banyak sih yang bilang kayak melihat perubahanku setahun ini gitu.
Speaker A
Dulu yang biasanya aku enggak bisa bilang enggak, sekarang aku bisa bilang enggak gitu. Dulu yang aku selalu memikirkan kebahagiaan orang lain dulu.
Speaker A
Sekarang aku memikirkan kebahagiaan dan kewarasan diri aku dulu. He. Karena aku yakin kalau aku memikirkan kebahagiaan orang lain tapi akunya enggak bahagia, ya gimana aku bisa memberikan energi yang positif terus. gimana aku bisa terus memberikan kebahagiaan yang benar-benar jujur gitu untuk orang lain
Speaker A
gitu dan aku kehilangan makna diriku dong untuk aku menjalani hidup gitu. Jadi ya aku benar-benar sekarang akunya waras enggak kalau menjalani ini? Akunya bahagia enggak kalau menjalani ini.
Speaker A
Kalau enggak ya it's your time to say no gitu. Jadi orang tuh ngerasa ada perubahan itu gitu. Aku bisa bilang enggak, aku bisa bilang enggak suka.
Speaker A
aku bisa lebih tegas dan tentunya orang-orang dekatku yang menunggu nunggu momen ini senang akhirnya dia bisa bilang enggak juga gitu. [tertawa] Akhirnya dia bisa nolak juga. Kadang Omara tuh bisa yang kayak I'm so proud of you. Kenapa? Buuse you say no.
Speaker A
I so kayak thank you gitu. Tapi buat orang-orang yang mungkin selama ini berharapnya kita bilang iya terus merasa kita jadinya memberontak kan.
Speaker A
Hm. He. Wah, dia sekarang udah berubah dia. Udah I udah jadinya emosinya lebih negatif gitu. Makanya kan butuh orang-orang yang tepat gitu untuk ya bisa bersama kita ya. I'm so proud of you karena lu udah berkembang, bukan berubah ya.
Speaker A
Iya. Thank you. Really aku yakin semua orang berkelas pasti punya teman yang berkelas. Dan untuk jadi teman berkelas, kita harus jadi individu yang berkelas dulu, gitu.
Speaker A
He, pertanyaan simpel. Kalau aku dan kalau Pril itu buka pendaftaran untuk jadi teman berkelasnya Pril, percatannya apa aja biar aku bisa daftar? [tertawa] Hm. Teman berkelas ya.
Speaker A
Kalau misalnya ngelihat, kalau misalnya ngedengar kata berkelas, aku itu jujur enggak pernah menyambungkan kata tersebut sama profesi pencapaian atau apapun yang orang itu punya. Tapi teman berkelas buat aku adalah bagaimana dia berperilaku di saat tidak ada yang melihat.
Speaker A
itu berkelas buat aku. Karena ketika tidak ada orang yang melihat dia tetap menjadi orang yang baik, tetap menjadi orang yang ingin memberikan yang terbaik, ya itu adalah teman yang tulus buat kita. Dan kita sangat membutuhkan teman-teman seperti itu, gitu. Enggak
Speaker A
peduli ada yang melihat, enggak peduli menerima balasan, tapi tetap menjadi orang yang baik gitu. tetap menjadi orang yang bisa mendengarkan, tetap bisa menjadi orang yang memberikan ruang walaupun enggak ada tuntutan dia harus memberikan ruang gitu. Jadi ya teman berkelas bukan yang profesinya
Speaker A
apa, kaya raya, punya uang, sekolah di mana, sekolah di IVX atau apa, enggak. Tapi siapa dia ketika enggak ada orang yang ngelihat?
Speaker A
Siapa dia ketika enggak ada kamera gitu. Wow. Gitu. Aku langsung bikin course L dari apa yang kamu bilang. [tertawa] The only habit that really matter is the habit no one see.
Speaker A
Y karena kalau kita berbuat baik terus ada kamera terus diposting tapi aslinya kita enggak kayak gitu. Apa bedanya kita sama pejabat yang lagi mau nyalek atau pejabat yang lagi berusaha membersihkan namanya karena kerusakan yang dia buat? Apa bedanya
Speaker A
kita sama mereka? Oke. Menyinggung ke sana ya? [tertawa] Kayak enggak ada bedanya dong gitu.
Speaker A
I kecuali kalau kita beneran kayak gitu terus kita posting karena kita mau menyebarkan kebaikannya itu beda.
Speaker A
He ada dua perbedaan antara personal branding dan pencitraan. H aku bikin A B C D E FG aslinya aku begitu aku posting karena itu adalah bagian dari strategi personal brandingku. Tapi aku aslinya enggak kayak gitu. Di kamera doang aku kayak
Speaker A
gitu. That's pencitraan. Itu dua hal yang orang harus tahu gitu. Jadi kenapa teman berkelas aku bilang adalah siapa dia di saat orang enggak melihat? Karena di zaman sekarang, di zaman sosial media, orang baik di saat ada mata yang melihat.
Speaker A
He. Orang bersedekah di saat ada mata yang melihat. Aku enggak mau teman itu. Aku mau orang baik di saat enggak ada siapapun yang melihat karena dia emang pure baik dari hatinya gitu.
Speaker A
Itu yang aku mau untuk jadi temanku gitu. Keren sekali. Keren sekali. Mungkin aku bisa percaya diri bilang, "Oke, aku lolos kualifikasi untuk jadi teman berkelas [tertawa] April." Pertanyaan simpel lagi, apa conversation yang harus kita punya?
Speaker A
Gitu. obrolan apa yang harus kita miliki yang bisa butuh waktu mungkin lebih dari 5 jam kita masih happy ngobrolin itu terus dengan Pril gitu. Conversation apa yang lu senangi?
Speaker A
Jujur ya aku sama sahabat-sahabatku kita tuh ngobrolin hal yang random banget. H ada waktunya kita ngobrolin hal-hal yang berat kayak gini. Kayak aku sama Omara waktu kita masih berteman.
Speaker A
Kita itu ngomongin hal kayak gini bisa sampai 5 jam. Tahu-tahu udah malam. Kita bahas Freud. H bahas Albert kamu [tertawa] bahas teori apa gitu sampai 5 jam.
Speaker A
Tapi setelah kita sudah ngomongin itu, kita menertawakan hidup. Kita bisa ketawain video-video lucu. Kita bisa ketawain perilaku-perilaku orang. Kita bisa punya cerita lucu yang bisa bikin kita ketawa dan enggak mungkin kita ceritain ke orang-orang lain gitu. Kita bisa jadi
Speaker A
diri kita yang serius tapi bisa jadi diri kita yang konyol juga gitu. Itu sih karena aku sama teman-temanku pun gitu gitu. Kayak kemarin aku akhirnya ketemu sama sahabatku lagi yang dia sekarang LDR sama aku karena dia jauh tinggalnya ikut suaminya terus dia
Speaker A
ke Jakarta. Kita ngobrolin hal yang serius banget. Ngobrolin soal rumah tangga, aku ngobrolin soal pekerjaanku, ngobrolin gimana dia ngurus anak. Tapi setelah itu kita ketawa enggak berhenti ngetawain celotehan anaknya todler yang lagi ngikutin lagi jadi beo gitu ngikutin apapun yang orang omongin.
Speaker A
Terus kita ngetawain orang. kita ngetahuin bercandaan-bercandaan yang kayaknya enggak mungkin kita posting. Kayaknya kalau diposting bisa viral gitu ya. Jadi kita omongin dan kita ketawa jadi diri kita sendiri gitu sih. Jadi ya conversation jadi manusia aja enggak perlu ada label apapun gitu. Habis ini
Speaker A
nanti mungkin pas offcam aku kasih tahu bercandaan-bercandaan apa. [tertawa] Yang tahu cuma teman-teman di sini doang.
Speaker A
Bercandaan-bercandaan apa yang aku suka bercandain sama teman-temanku gitu. He sebelum kita masuk KN mungkin dari aku penasaran sekali sih.
Speaker A
Kalau kamu ingin meninggalkan warisan ya di hidup ini, kamu tuh ingin dikenal meninggalkan apa gitu kayak karya apa, warisan besar apa yang mungkin dua generasi berikutnya tuh masih tahu nama Prilaina Gu.
Speaker A
Hm. Jujur ya, aku punya kemauan yang mungkin lebih sederhana dari yang kamu duga. Iya, let me know.
Speaker A
Aku enggak mau dikenal sebagai figur publik yang tenar, terkenal, riuh, tepuk tangan. Enggak sih. Aku benar-benar di saat aku harus meninggalkan dunia ini, aku pengin dikenal sebagai manusia yang pernah memberikan kebaikan. Enggak harus kebaikannya merubah dunia, tapi at least
Speaker A
kebaikan itu pernah menghangatkan hidup orang lain gitu. He. Itu aja menurut aku udah cukup gitu. Aku pernah hidup menjadi manusia yang juga pernah merasakan rapuh, yang pernah disakiti menyakiti memaafkan berproses, pernah mencintai dan dicintai. Dan semua proses itu walaupun isinya adalah
Speaker A
penderitaan, adalah kemenangan untuk aku karena aku sudah menjadi manusia yang seutuhnya. Itu sih yang aku ingin tinggalkan ketika aku enggak ada lagi di dunia ini. Mm tentu karya-karyaku, bukuku, film-filmku adalah penting.
Speaker A
I, tapi itu adalah yang aku kerjakan gitu, bukan bagaimana aku menjalani hidup sebagai manusia.
Speaker A
Jadi, ketika aku meninggalkan dunia ini, tentu aku inginnya orang tuh kalau ingat namaku, oh ya, dia orang baik. Oh, ya. Dia pernah menghangatkan hidupku di sini. I dia pernah membuat aku merasa lebih baik walaupun cuma satu atau dua orang yang
Speaker A
pernah merasakan itu, itu berarti buat aku gitu. I aku termasuk salah satu orang itu hari ini.
Speaker A
Thank you. I [tertawa] makasih teman-teman berkelas sebelum kita lanjut podcast ini, aku cuma mau bilang info spesial khusus untuk kamu. Mulai hari ini, kamu sudah bisa join membership resmi suara berkelas. Kamu bisa dapetin eksklusif sumun dari episode-episode favorit aku di suara berkelas dan setiap
Speaker A
bulannya bakal ada akses eksklusif buat kamu ngelihat behind the scen podcast suara berkelas seperti obrolan aku dengan narasumber off the record dan hal menarik lainnya yang bakal aku share khusus untuk membership ini. Jadi kalau kamu merasa podcast suara berkelas
Speaker A
mengubah cara pandang kamu melihat dunia, feel free untuk join membership suara berkelas atau klik link di deskripsi. Sampai jumpa dan jadilah bagian dari perjuangan dan perkembangan suara berkelas.
Speaker A
Pril tiga pertanyaan dari teman-teman suara berkelas. Pertanyaan pertama dari EQMN_4P_2809. Ini kayaknya bukan second account akun, ini akun ke-10 ya.
Speaker A
[tertawa] Susah banget, Kak Pril. Cara agar bisa menstabilkan selalu kondisi emosional pikiran kita dengan mental yang kuat di tengah kondisi yang tidak menentu.
Speaker A
Iya. Emm, di saat lagi enggak stabil, ini caraku ya. Pasti setiap orang punya cara yang beda-beda. Di saat lagi enggak stabil, aku memilih untuk mundur selangkah dan mencoba untuk tarik nafas dalam-dalam untuk kita mengenali emosi itu, gitu. Karena kadang kita ngerasa
Speaker A
kesal, kadang kita ngerasa marah, tapi juga enggak tahu kenapa sih kita bisa semarah ini gitu.
Speaker A
Kenapa sih emosi kita bisa enggak stabil? Kadang karena kita lupa nanya nanya kabar ke diri kita sendiri gitu.
Speaker A
Diri kita nih lagi apa kabar gitu, lagi capek kah, lagi lelahkah, lagi enggak sanggup kah gitu. Dan ya kita harus jujur sama emosi yang kita rasain gitu.
Speaker A
Jadi kalau aku lagi enggak stabil biasanya aku tarik mundur dulu. He. Tarik nafas, coba rasain emosi yang dirasain itu apa dan kenapa ngerasain itu. Ketika kita sudah tahu akar permasalahannya apa, baru coba kita cari solusinya, gitu. Dan itu pasti enggak
Speaker A
mudah. Ada orang yang menarik diri butuh berhari-hari untuk tahu, butuh berhari-hari untuk jadi stabil lagi. Ada orang juga yang karena udah terbiasa, aku lumayan terbiasa mensabilkan emosiku. Jadi cukup tarik nafas sejenak 2 jam aja aku untuk mikirin cari tahu
Speaker A
kenapa sih emosi aku bisa semarah ini atau seenggak stabil ini. Baru aku cari solusinya gitu. Tapi ya enggak apa-apa berproses aja. Semakin lama kita sering melakukan itu, berdiskusi sama diri kita sendiri semakin cepat juga kita bisa menstabilkan emosinya gitu. Itu adalah
Speaker A
caraku ya. He gitu. Aku suka sekali kata-kata mundur selangkah. Hm. Untuk lebih dewasa 10 langkah kali ya.
Speaker A
Iya. Benar. Benar ya. Kayak kita kalau lagi enggak stabil, kita kan berhubungan sama orang juga, berkomunikasi juga jadi enggak baik kan.
Speaker A
Daripada kita enggak baik sama orang lain, kemudian kita mundur selangkah dulu gitu. It's ok untuk menunda ya.
Speaker A
Enggak apa-apa untuk menunda. Setuju. Setuju. Pertanyaan kedua dari Muhammad Afdol. Aku penasaran cara Pril me-manage uangnya dan jelaskan ke kita dong. The best way to spend your money in your 20s.
Speaker A
[tertawa] Aku adalah orang yang sangat suka menabung. Oke, aku sangat suka menabung dan emm di saat uang bertambah belum tentu lifestyle harus bertambah.
Speaker A
Penghasilan naik, lifestyle belum tentu terus naik gitu. Ee aku menghabiskan 20-anku ini bekerja dan menabung.
Speaker A
menunda hobi-hobiku yang sekiranya membutuhkan pengeluaran dan kesenangan-kesenangan yang membutuhkan pengeluaran banyak demi tujuan yang lebih fundamental. Jadi misalnya di umur 20-an aku bekerja, aku menabung. Tujuannya apa nih? Oke, aku mau punya rumah sendiri karena kalau aku menunda punya rumah, properti dan harga
Speaker A
tanah akan semakin mahal. He. Lebih baik tujuan rumah itu diprioritaskan gitu supaya kita punya aset, supaya kita punya properti. Jadi di umur 20-an aku nabung untuk tujuannya beli rumah dan beli tanah. Tentu aku harus mengorbankan hobi divingku, hobi
Speaker A
mancingku jalan-jalanku metim-eku. Karena itu semua membutuhkan uang. Diving butuh uang untuk beli tiket pesawat, alat, semua. Liburan juga gitu.
Speaker A
Itu semua aku tunda dulu, aku tabung untuk aku beli aset kayak gitu. Ketika aset sudah tercapai dan kita terus bekerja, uang udah bisa lebih stabil, cash flow-nya, baru kita bisa melakukan kesenangan-kesenangan itu, gitu. Jadi, aku tuh banyak menunda kesenangan
Speaker A
sebenarnya. Oh really? Untuk aku punya tabungin dan punya aset. Tapi bukan berarti aku tidak melakukan kesenangan sama sekali. Hanya saja aku memilih kesenanganku.
Speaker A
Kesenangan yang sekiranya butuh uang banyak, ya kita tunda dulu. Tapi kan bukan berarti kita tidak senang-senang.
Speaker A
setuju. Senang kita nongkrong di kafe mengeluarkan uang Rp100.000, Rp200.000 itu juga senang. Ngobrol sama orang juga senang tanpa harus mengeluarkan uang banyak. Tapi kalau mau senangnya grande banget ya itu nanti ketika kita sudah secure sama tabungan, cash flow dan juga aset
Speaker A
yang kita punya gitu. Jadi aku tuh ngatur uang aku punya beberapa basket gitu. He ada yang untuk nabung, ada yang untuk investasi, operasional, dan senang-senang.
Speaker A
operasional itu seperti ya operasional kita sehari-hari bayar bensin, gaji karyawan, makan, kebutuhan sehari-hari lah yang sangat primer gitu. Terus ee itu udah harus diamanin gitu. Investasi kalau kita punya uang lebih, taruh di investasi yang nanti kita akan taruh di
Speaker A
manapun kita mau investasi investasi kecil maupun investasi besar gitu. He. Tabungan juga yang di mana di dalam tabungan itu juga ada dana-dana yang bisa kita keluarkan untuk dana darurat gitu. ya belajar dari COVID kemarin gitu.
Speaker A
Kita enggak pernah tahu musibah yang akan datang, tapi at least kita punya dana yang bisa kita keluarin untuk dana darurat untuk bantu keluarga atau untuk bantu diri sendiri gitu.
Speaker A
Jadi ya enggak apa-apa untuk menunda kesenangan tapi bukan berarti kita tidak melakukan kesenangan sama sekali, cuma memilih kesenangan yang sesuai dengan budget gitu kali ya.
Speaker A
Iya. Dan dengan penghasilan aku yang sekarang, aku enggak naikin lifestyleku sih. Aku tetap naik pesawat dengan tiket ekonomi.
Speaker A
Kayak ketika enggak perlu-perlu banget beli tiket bisnis, ya enggak usah enggak gitu. Kalau aku bisa duduk kayak kayaknya cuma pengin ke ee Jepang 7 jam enggak apa-apa 7 jam ekonomi he tinggal tidur aja apalagi flight malam tinggal tidurin aja enggak masalah.
Speaker A
Nanti sampai Jepang kita tinggal pijit gitu. Iya. Iya. [tertawa] Daripada harus mengeluarkan uang tiga kali lipat atau empat kali lipat untuk duduk di kursi bisnis.
Speaker A
He gitu. Jadi ya aku enggak apa-apa ke Jepang atau ke Korea yang enggak harus puluhan jam duduk di kursi ekonomi. Dan aku tidak pernah menjadikan barang yang aku pakai atau liburanku atau kursi pesawatku adalah identitas diriku.
Speaker A
Oh iya. atau kelas hidupku gitu. He, aku enggak butuh validasi dari situ gitu. Jadi walaupun aku duduk di kelas ekonomi aku enggak masalah. Aku enggak takut orang nganggap aku, "Ih, kok PR duduk di kelas ekonomi sih? Aku enggak
Speaker A
akan peduli orang ngomong gitu gitu." He. Aku misalnya pun mancing pakai kapal nelayan yang udah reot gitu, biasanya kan kita kan mancing enggak enggak harus terus-terusan pakai yat ya. Kadang kita pakai perahu nelayan gitu. Ih, kok prili mau sih kotor-kotor gitu ya. Aku enggak
Speaker A
peduli karena aku enggak menjadikan apa yang aku pakai atau liburanku atau caraku menikmati hidup adalah identitas diriku gitu atau kelas sosialku. Enggak.
Speaker A
Iya, itu bagus. Aku suka sekali. Dan kayaknya kamu orang pertama yang berani speak up itu sih di sini kayak ya maksudnya selama ini aku tidak pernah mendetailkan tentang gimana status sosial seseorang itu mendefinisikan barang yang dia pakai.
Speaker A
Oh iya enggak sama sekali atau produk yang dia gunakan gitu. Karena selama ini orang kan bakal ngejak suka kamu yang kamu pakai itu pasti barang yang branded dan mahal gitu.
Speaker A
Iya. Iya. Padahal aku setuju sekali even baju murah aku pakai kalau itu dipakai oleh kita ya bisa jadi kelihatan mahal.
Speaker A
[tertawa] Bisa jadi. Bisa jadi. Ee ini TikTok Shop ya. Iya kelihatan mahal kalau gu pakai gitu.
Speaker A
Atau sebaliknya ada orang yang mungkin sorry for saying kelihatannya enggak kurang menarik. Kalau dia pakai baju mahal juga masih kurang menarik gitu.
Speaker A
Ya, dan di saat aku beli barang branded itu karena aku suka sama barangnya, bukan karena bukan karena aku mau orang melihat aku pakai barang mahal itu gitu. Aku beli tas mahal ya emang aku suka sama tasnya gitu. Bukan berarti aku
Speaker A
pengin orang ngelihat aku pakai tas ini gitu ya. Enggak gitu. Aku enggak pengin kayak gitu juga. Aku beli barang mahal karena aku suka karena aku yakin barang mahal itu bisa menjadi investasi dan awet gitu. He.
Speaker A
Jadi, ya karena aku suka barang ya, bukan karena aku pengin orang melihat aku pakai barang itu atau aku pengin validasi dari barang itu ya.
Speaker A
Karena aku harus beranggapan bahwa aku lebih besar dari barang yang aku pakai. Jangan sampai barang lebih besar daripada kita gitu.
Speaker A
Bagus sekali, Pril. [tertawa] Itu mengingatkan aku dengan bukunya Morgan Husel yang The Psychology of Money yang dia bilang dia bilang bahwa ketika kita naik mobil mewah, kita kirain orang bakal kagum sama kita. I padahal orang memikirkan bahwa andai dia
Speaker A
juga naik mewah itu kan. Iya. Iya. Itu orang pikirin seperti itu sih. Jadi bukan kayak jarang orang yang mikir kalau kita naik mobil mewah itu dia kerjanya apa ya? Itu dia ngapain ya?
Speaker A
Tapi coba gue kayak gitu. Jadi bisa jadi orang enggak peduli sama kamunya atau siapa yang nyetir. Orang peduli sama mobilnya gitu. He.
Speaker A
Jadi ya aku enggak mau mencari validasi dari barang sih, tapi dari apa yang aku lakukan dan apa yang aku bisa lakukan untuk society gitu. Impact apa yang aku bisa berikan kepada orang lain gitu ya.
Speaker A
Bagus sekali. Kita ke pertanyaan ketiga. H dari RDAR, R I C SDAR. Gimana caranya meluluhkan seorang wanita yang idealis, independen, dan mandiri ya? Penasaran? Hehe. [tertawa] Harusnya n kearah.
Speaker A
Kasih dia ruang. Hm. Gitu. Kasih dia ruang untuk dia. Enggak harus terus-terusan ada untuk dirinya sendiri atau enggak harus terus-terusan mandiri gitu. Karena kadang orang tuh lupa ya kita itu mandiri, idealis, itu belum tentu ini yang kita mau. Bisa jadi ini karena kita dipaksa
Speaker A
oleh sistem gitu. Kayak aku mandiri ya karena memang aku harus mencari uang untuk diriku sendiri.
Speaker A
Aku harus membiayai diriku. Aku harus membantu orang tuaku. Aku mandiri memang karena itu tadi aku anak pertama yang di mana aku diharapkan menjadi pilar keluarga gitu.
Speaker A
He. Tapi apakah aku mau jadi princess? Maulah. Tapi kan enggak bisa. Sistem mengharuskan aku menjadi perempuan yang mandiri gitu.
Speaker A
I. Jadi, ya kalau kamu mau ngedekatin cewek-cewek yang mandiri gitu, kasihlah dia ruang untuk dia bisa minta tolong.
Speaker A
He. Untuk dia akhirnya bisa merasakan juga dilayani gitu. Bukannya cuma melayani orang doang gitu.
Speaker A
Dan itu sebenarnya yang juga dikasih sama marak aku gitu. Di saat aku biasanya ngapa-ngapain sendiri, di saat aku sama dia, ya dia akan memberikan aku pertolongan gitu untuk aku bisa istirahat walaupun sejenak gitu.
Speaker A
Istirahat dari label kemandirianku gitu. Bahwa aku bisa enggak mandiri dan enggak apa-apa. Karena kadang perempuan yang mandiri di saat dia enggak mandiri dia merasa itu salah gitu karena sudah biasa menjalani hidupnya seperti itu kan. Nah, jadi di sebenarnya kita-kita ini butuh
Speaker A
ruang penerimaan dari orang lain bahwa enggak apa-apa loh untuk enggak mandiri, enggak masalah gitu. Kamu tetap perempuan seutuhnya walaupun kamu enggak mandiri dan kamu tetap perempuan yang baik walaupun kamu enggak mandiri. Kita butuh ruang itu selama ini kita enggak punya
Speaker A
ruangnya makanya kita jadi mandiri. Iya sih. Tapi karena kita dikasih ruang akhirnya kita bisa manja. Akhirnya kita bisa ee bisa jadi anak kecil, bisa jadi bisa minta tolong gitu, bisa tiba-tiba melemah.
Speaker A
Aku sama Omara bisa tiba-tiba enggak bisa buka tutup botol. Padahal kalau enggak ada dia aku ngangkat tangki, [tertawa] ngangkat tangki diving sendiri gitu sama dia kayak berat gitu ya.
Speaker A
Karena akhirnya kita punya ruang untuk minta tolong, punya ruang untuk lemah gitu sih. Jadi kamu harus menciptakan ruang itu kalau mau ngedekatin perempuan-perempuan mandiri. I aku jadi ingat pacarku sendiri kayak kalau enggak ada aku kayak serba keluar gitu. Tapi
Speaker A
ketika aku tas ringan aja harusnya aku yang bertanggung jawab untuk mengangkat gitu loh. Iya. Ya ampun aku enggak ada dia sakit aku enggak ada Omara. Aku datang ke UGD siapa yang sakit? Aku hm perut udah sakit ya. Asem lambung udah
Speaker A
sakit. Aku datang ee dengan terpopoh-popoh gitu kayak siapa Mbak yang sakit? Aku yang ngantterin siapa?
Speaker A
Enggak ada. He. Suntik aja terus sama di infus aku harus kerja lagi habis ini. Terus aku nangis sendirian di di bilik UGD itu.
Speaker A
Iya. Aku nangis sendirian karena aku ngerasa kayak aduh capek banget ya harus kuat lagi sakit tapi harus lanjut kerja tapi ini tanggung jawab. Aku nangis lagi diinfos sampai dikasih oksigen sama susternya gitu. Kayak nangis.
Speaker A
Bisa aku kayak gitu. Tapi kalau ada Omara kayaknya asem lambung jadi kayak wah tersakit gitu.
Speaker A
Kayak enggak bisa ngapa-ngapain gitu. [tertawa] I minta ditemenin, minta disuapin, minta di apa. Padahal enggak ada dia. Aku bisa jalan ke UGD sendiri, nangis sendiri.
Speaker A
Tapi kalau sama dia tiba-tiba kayak langsung enggak bisa apa-apa gitu ya. Ternyata aku merindukan juga sosok atau ruang di mana aku bisa mengeluh juga gitu.
Speaker A
Hm. Kalau ada yang tanya gimana jadi Pril itu salah satu parknya tadi jalan sendiri ke Gri dan dituntut untuk besok kerja lagi gitu tuh.
Speaker A
Iya. part no one [tertawa] mungkin dokter-dokter dan suster-suster yang kemarin ngelihat aku nangis di UGD bisa nonton ini dan iya sih itu aku yang masangin infus gitu.
Speaker A
Alright Pril aku senang sekali ngobrol sama kamu hari ini. Sebelum kita tutup the worst advice yang pernah kamu terima.
Speaker A
The worst advice yang pernah aku terima adalah emm kalau kamu tetap standarnya kayak gini, standarnya tinggi, kamu enggak akan pernah nemuin pasangan. Jadi, kamu harus nurin standar kamu kalau kamu mau nemuin pasangan. Itu advice yang paling buruk yang pernah aku terima. Karena aku
Speaker A
ngerasa kalau kalau aku nurunin standar berarti aku dapat pasangan yang emang sesuai dengan standar yang sudah aku turunin dong. Kalau aku maunya nemuin pasangan sesuai dengan standar yang sudah aku set buat diri aku, karena aku sangat tahu value yang aku pantas untuk
Speaker A
dapatkan, kenapa enggak? Tapi kayaknya menjadi perempuan di sini tuh kita harus melemah dulu, harus turun dulu standarnya untuk dapat pasangan. Menurut aku itu jadi manjain pasangannya ya karena atau malah itu malah merendahkan laki-laki menurut aku. Jujur setuju ya.
Speaker A
Nasihat yang aku terima itu bukan merendahkan perempuan, tapi merendahkan laki-laki. Karena berarti laki-laki itu bisanya sama perempuan yang standarnya rendah dong.
Speaker A
He. Berarti kalau laki-laki bisanya sama perempuan yang standarnya rendah, laki-lakinya juga rendah dong. Iya.
Speaker A
Dan orang tuh enggak sadar dengan ngomong kayak gitu sebenarnya merendahkan laki-lakinya bukan merendahkan perempuannya gitu. Untungnya aku tidak pernah percaya dan tidak pernah tergoyahkan sama advice itu.
Speaker A
He. Aku tetap punya sandaran yang tinggi terhadap diriku gitu. Aku pengin punya pasangan yang kayak gini, yang kayak gini, yang kayak gini. Kalau enggak ketemu ya enggak apa-apa. Kalau emang aku harus menikah umur 30-an ya enggak apa-apa. Tapi aku tidak mau menikah
Speaker A
dengan orang yang salah. Untungnya datangnya di umur yang tidak terlalu tua. [tertawa] Keren, keren, keren, keren. Nih nih senyum-senyum nih tadi Omar gitu.
Speaker A
Iya, itu bagus banget. Aku dapat insek yang seru banget hari ini dan aku senang kalau lihat kamu makin berkembang dan terima kasih. Terima kasih sudah membiarkan aku bersuara.
Speaker A
Iya, karena aku jarang sekali bisa bersuara dan menunjukkan sisi-sisi yang ini gitu. Karena aku punya ketakutan ya.
Speaker A
Aduh, takutnya kalau ngomong gini gimana? Takutnya kalau ngomong gini gimana. Tapi aku ngerasa di suara berkelas aku juga dikasih ruang untuk menjadi diriku seutuhnya gitu.
Speaker A
I ya. Terima kasih. Aku pendengar yang baik. Terima kasih [tertawa] loh. Iya. Aku juga senang sekali ngobrol sama orang berkelas. Terima kasih pergi sehat terus dan aku happy sekali lihat kamu berkembang.
Speaker A
Terima kasih. Terima kasih semuanya. Sampai jumpa. Yeah.
Topics:autentisitaspersonal brandingpencitraanteman sejatikejujuran diriemosimasa kecilhubungan sehatself healingmedia sosial











