Skip to content

Psikolog NO 1 Bongkar Jebakan Mental Yang Diam-Diam Kontrol Hidupmu Tiap Hari | Thinking Fast & Slow

Video mengupas jebakan mental yang mengontrol hidup kita berdasarkan buku Thinking, Fast and Slow karya Daniel Kahneman.

Key Takeaways

  • Otak manusia didominasi oleh Sistem 1 yang cepat dan hemat energi, tapi sering gegabah dan bias.
  • Jebakan mental seperti WYSIATI membuat kita terlalu cepat mengambil kesimpulan berdasarkan informasi terbatas.
  • Efek halo dan bias substitusi adalah contoh nyata bagaimana Sistem 1 mempengaruhi penilaian dan keputusan kita.
  • Sistem 2 yang logis dan kritis malas bekerja sehingga sering tidak aktif dalam pengambilan keputusan sehari-hari.
  • Mengenali dan memahami bias kognitif dapat membantu kita mengaktifkan Sistem 2 untuk keputusan yang lebih baik.

What the video covers

  • Daniel Kahneman, psikolog pemenang Nobel Ekonomi, membuktikan otak kita sering terjebak bias kognitif yang mengontrol keputusan sehari-hari.
  • Otak bekerja dengan dua sistem: Sistem 1 yang cepat, otomatis, dan emosional, serta Sistem 2 yang lambat, logis, dan membutuhkan usaha.
  • Sistem 1 sering mengambil jalan pintas yang disebut jebakan mental, seperti bias WYSIATI (What You See Is All There Is) yang membuat kita cepat menyimpulkan tanpa data lengkap.
  • Contoh jebakan WYSIATI termasuk efek halo, di mana kesan positif pada satu aspek mempengaruhi penilaian aspek lain tanpa bukti kuat.
  • Sistem 1 juga suka mengganti pertanyaan sulit dengan pertanyaan yang lebih mudah dijawab, sebuah bias substitusi yang sering tidak kita sadari.
  • Kahneman dan Amos Tversky melakukan riset mendalam untuk mengungkap bagaimana bias ini mempengaruhi pengambilan keputusan dan persepsi kita.
  • Video ini mengajak penonton memahami cara kerja otak dan mengenali jebakan mental agar bisa mengaktifkan Sistem 2 saat dibutuhkan.
  • Jebakan mental ini berdampak pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari penilaian orang lain, keputusan penting, hingga persepsi masa lalu dan pengalaman.
  • Kesadaran terhadap bias kognitif membantu kita mengurangi kesalahan berpikir dan membuat keputusan yang lebih rasional.
  • Video ini merupakan ringkasan dan penjelasan dari buku Thinking, Fast and Slow yang sangat berpengaruh di bidang psikologi dan ekonomi perilaku.

Answers

Questions about this video

Apa itu jebakan mental WYSIATI menurut Kahneman?

WYSIATI adalah singkatan dari 'What You See Is All There Is', yaitu kecenderungan Sistem 1 untuk mengambil kesimpulan cepat berdasarkan informasi yang tersedia tanpa mempertimbangkan data yang tidak ada.

Bagaimana perbedaan Sistem 1 dan Sistem 2 dalam otak manusia?

Sistem 1 bekerja cepat, otomatis, dan emosional tanpa usaha sadar, sedangkan Sistem 2 lambat, logis, dan membutuhkan usaha serta konsentrasi untuk mengambil keputusan yang kompleks.

Mengapa kita sering terjebak dalam bias kognitif sehari-hari?

Karena Sistem 1 yang hemat energi mendominasi pengambilan keputusan sehari-hari dengan cara cepat dan instingtif, sehingga sering mengambil jalan pintas yang menyebabkan bias dan kesalahan logika.

Full Transcript — Download SRT & Markdown

00:00
Speaker A
Kenalin Daniel Kahneman. Beliau adalah psikolog pemenang hadiah Nobel Ekonomi yang berhasil membuktikan kalau ada bermacam jebakan mental yang mengontrol hidup manusia tiap harinya. Pelakunya otak kita sendiri.
00:19
Speaker A
Ya, kamu enggak salah dengar! Diam-diam kita kena sabotase sama pikiran kita sendiri.
00:37
Speaker A
Kahneman menghabiskan puluhan tahun buat meneliti cara kerja otak bareng sahabatnya, Amos Tversky. Mereka akhirnya sampai ke kesimpulan kalau otak manusia itu sebenarnya enggak rasional, pemalas, dan penuh cacat logika. Istilah kerennya adalah bias kognitif alias jebakan mental.
00:55
Speaker A
Kalau selama ini kamu kira hidupmu sepenuhnya ada dalam kendalimu, kamu salah besar. Berbagai jebakan mental diam-diam buat kamu melakukan hal aneh tanpa kamu sadari. Mulai dari salah nilai orang, salah jawab pertanyaan sampai sok tahu tentang masa depan.
01:13
Speaker A
Semuanya Kahneman bongkar dalam bukunya yang berjudul Thinking, Fast and Slow. Setelah nonton video ini, kamu bakal lihat cara kerja otakmu yang sesungguhnya. Dan yang enggak kalah penting, kamu bakal tahu cara melawan jebakan-jebakan mental yang selama ini sudah mengontrol hidupmu. Selamat
01:27
Speaker A
datang di Layar Kertas. Dan video ini akan mengupas tuntas berbagai jebakan mental yang diam-diam mengontrol hidupmu tiap hari dari buku Thinking, Fast and Slow karya Daniel Kahneman. Siap-siap karena habis nonton video ini caramu melihat isi kepalamu sendiri enggak
01:47
Speaker A
bakal sama lagi. Dua tokoh utama: sistem 1 versus sistem 2. Sebelum kita masuk ke jebakan-jebakan spesifik, kamu harus kenalan dulu sama dua tokoh utama di dalam kepalamu.
02:05
Speaker A
Menurut Kahneman, cara kerja otak kita enggak sesimpel itu. Ada dua sistem yang selalu berebut kendali. Supaya gampang, Kahneman nyebutnya sistem 1 dan sistem 2. Coba lihat gambar ini. Waktu kamu lihat ini, apa yang terjadi? Kamu enggak perlu mikir. Habis lihat sebentar juga
02:24
Speaker A
kamu bakal langsung tahu kalau dia lagi marah. Kamu bahkan bisa nebak dia bakal teriak kasar. Itu terjadi otomatis, cepat, dan tanpa usaha. Inilah tanda kalau sistem 1 yang lagi kerja dan pegang kendali otakmu. Sistem 1 ini ibarat insting. Dia cepat, emosional,
02:35
Speaker A
dan kerja secara otomatis. Dia itu kayak autopilot kalau di pesawat. Sekarang coba kerjain ini: 17 * 24.
02:47
Speaker A
Nah, beda kan rasanya? Kamu mungkin tahu caranya, tapi kamu harus berhenti dulu. Kamu harus fokus buat ngitung. Jantungmu mungkin berdenyut lebih kencang dikit.
02:53
Speaker A
Kamu ngerasa berat di kepala karena pas kerjain pertanyaan itu sistem 2 lah yang ngambil pekerjaannya.
03:10
Speaker A
Sistem 2 itu lambat, logis, dan butuh usaha keras. Dia ini kayak pilot yang harus ambil alih kemudi pas ada badai atau keadaan darurat.
03:28
Speaker A
Yang jadi masalah itu sistem 2 benar-benar malas. Dia maunya tidur terus. Kahneman bilang sistem 1 lah yang pegang kendali dalam sebagian besar hidup kita. Kenapa? Karena sistem 2 boros energi. Kalau kita pakai logika buat semua hal kayak milih baju, nentuin makan siang sampai nyetir mobil, kita bakal pingsan kelelahan sebelum jam 09.00 pagi.
03:35
Speaker A
Supaya kita tetap bisa beraktivitas normal, otak menyerahkan kendali ke sistem 1 yang enggak banyak makan energi.
03:51
Speaker A
Di sinilah kemudian masalah muncul. Sistem 1 itu cepat dan hemat. Tapi dia sering gegabah dan sok tahu. Dia sering ambil jalan pintas pas kita lagi mau buat keputusan. Jalan pintas inilah yang Kahneman maksud sebagai jebakan mental. Tiap hari kita semua kena jebakan mental ini. Bentuknya macam-macam.
04:13
Speaker A
Begitu juga dampaknya. Supaya kamu benar-benar paham, ayo lihat lebih dalam berbagai jebakan mental yang sering kejadian gara-gara si sistem 1 ini. Jebakan satu, WYSIATI.
04:31
Speaker A
Salah satu sifat paling bahaya dari sistem 1 adalah suka terlalu cepat menyimpulkan semua hal. Dia enggak sabaran, enggak suka hal-hal ambigu, dan mau dapat jawaban cepat. Kahneman kasih nama sifat ini WYSIATI singkatan dari "What You See Is All There Is" yang
04:49
Speaker A
artinya apa yang kamu lihat adalah semua yang ada.
05:07
Speaker A
Bagi sistem 1 yang enggak sabaran, data seadanya sama dengan data lengkap. Supaya lebih jelas, coba bayangin skenario ini. Kamu adalah seorang HR yang lagi mau wawancara calon pekerja. Kandidatnya
05:24
Speaker A
masuk ke dalam ruangan. Dia cowok umur 30-an pakai kemeja putih rapi, tas kulit coklat, dan kasih senyum sopan pas jabat tangan. Dalam 10 detik pertama, sistem 1 dalam otakmu bakal langsung buat kesimpulan.
05:42
Speaker A
Oke, orangnya profesional pasti kinerjanya bakal kompeten. Inilah contoh jebakan mental WYSIATI. Sebelum si kandidat ngomong apa-apa dan sebelum kamu tahu lebih dalam soal skillnya, kamu sudah buat kesimpulan cuma karena kemeja putih dan tas kulitnya. Padahal kamu masih belum
06:00
Speaker A
tahu kalau dia itu benar-benar kompeten atau bisa aja cuma menang di kesan pertama. Kahneman bilang kemampuan loncat ke kesimpulan ini sebenarnya adalah adaptasi evolusi
06:13
Speaker A
yang sangat efisien. Di zaman dulu kalau nenek moyang kita lihat semak-semak bergerak, lebih baik langsung lari daripada tunggu konfirmasi
06:29
Speaker A
ada harimau atau bukan. Yang lambat mikir kamu bakal jadi santapan lezat buat harimau itu. Tapi di dunia modern yang kompleks, mekanisme ini malah jadi masalah besar. Sistem 1 cuma peduli sama informasi-informasi yang tersedia saat itu juga. Yang enggak ada atau
06:44
Speaker A
enggak kepikiran ya enggak bakal dia pedulikan. Yang penting ceritanya itu nyambung. Soal akurasi itu mah urusan belakangan. Dalam bukunya Kahneman kasih contoh tentang kalimat sederhana.
06:56
Speaker A
An approach the bank. Habis baca mana skenario yang kamu pikirin? An pergi ke tepi sungai atau an pergi nabung? Kahneman pakai contoh kalimat ini karena kata bank yang ambigu dengan dua arti.
07:08
Speaker A
Kalau sebelumnya kamu lagi mikir soal sungai atau pergi mancing, otakmu bakal mikir artiin kata bank di sini sebagai tepi sungai.
07:28
Speaker A
Tapi kalau kamu lagi banyak pikirin soal uang, banknya jadi gedung tempat tabung.
07:47
Speaker A
Sistem 1 suka banget kayak gini. Dia bakal langsung milih satu interpretasi berdasarkan konteks terakhir. Dia enggak mikirin soal interpretasi alternatif atau berhenti karena kalimatnya ambigu.
08:10
Speaker A
Sistem 1 enggak kenal sama kata-kata ragu. Yang lebih parah lagi, jebakan WYSIATI ini buat kita lebih suka cari bukti buat dukung kepercayaan kita ketimbang cari hal-hal yang berlawanan.
08:32
Speaker A
Enggak percaya? Kalau ada orang yang nanya ke kamu, "Apakah Obama adalah presiden yang baik?" Otakmu pasti langsung mikirin momen-momen keberhasilan Obama. Tapi gimana kalau pertanyaannya apakah Obama termasuk presiden yang tidak bijak? Kamu bakal langsung nyari-nyari momen kesalahan Obama saat jadi presiden.
08:45
Speaker A
Pertanyaan yang beda ternyata punya pengaruh kuat dalam menentukan cara kita berpikir. Bentuk manifestasi paling kuat dari jebakan mental WYSIATI adalah efek halo. Efek halo adalah bias di mana kesan kita terhadap suatu
09:05
Speaker A
aspek seseorang mempengaruhi penilaian kita terhadap aspek lainnya. Kalau kamu suka sama seseorang, kamu bakal cenderung mikir dia juga pintar, baik
09:24
Speaker A
hati, dan kompeten tanpa perlu bukti apapun. Eksperimen klasik dari psikolog kawakan Solomon Asch nunjukin efek ini dengan jelas. Asch kasih deskripsi dua orang. Alan, cerdas, rajin, impulsif, kritis,
09:44
Speaker A
keras kepala, iri hati. Ben: iri hati, keras kepala, kritis, impulsif, rajin, dan cerdas. Sifat-sifatnya sebenarnya sama persis, cuma urutannya yang beda. Untuk menguji pandangan orang-orang, Asch pun bertanya pada partisipan tentang mana orang yang lebih baik.
10:01
Speaker A
Hasilnya orang melihat Alan jauh lebih positif. Mereka lihat sifat keras kepalanya Alan sebagai tanda kalau dia yakin sama kemampuannya karena dia cerdas. Sedangkan kecerdasannya Ben malah orang-orang lihat sebagai tanda bahaya karena dia iri hati.
10:12
Speaker A
Sifat yang muncul pertama kali mengubah makna sifat-sifat berikutnya. Ini lagi-lagi nunjukin kemalasan sistem 1. Kata keras kepala bisa berarti banyak hal. Tapi sistem
10:30
Speaker A
1 pilih interpretasi yang paling nyambung sama kata sebelumnya. Kahneman sendiri ngalamin efek ini pas lagi n...
10:44
Speaker A
Kejadiannya paling sering kita alami pas kita dapat pertanyaan susah. Seperti yang kita tahu, sistem satu itu maunya dapat jawaban cepat. Jadi daripada mikir lama buat jawab pertanyaan susah, dia diam-diam ngubah pertanyaannya. Enggak percaya? Coba simak cerita ini. Ada
11:02
Speaker A
sebuah negara yang mau ngadain pemilihan presiden. Sebut aja ini negara X. Sebulan sebelum acara, Badan Survei mau tahu opini masyarakat soal calon unggulan mereka. Salah satu orang yang kepilih buat wawancara adalah si John.
11:17
Speaker A
Nah, pas dia dapat pertanyaan apakah calon A adalah orang yang tepat buat jadi presiden? John kemudian jawab, "Sudah tentu [musik] calon A ini orangnya ramah dan berwibawa. Kalau kamu mengira enggak ada yang janggal dari jawaban si John, berarti sekarang kamu juga lagi kena
11:34
Speaker A
tipu sama sistem satumu sendiri. Coba pikirin lagi pertanyaan awalnya ini tentang apakah calon A cocok atau enggak jadi presiden. Walaupun kelihatan sederhana, ini sebenarnya adalah pertanyaan sulit. Untuk bisa nilai, kita harus tahu latar belakang, pencapaian, ideologi, bahkan sampai gaya
11:54
Speaker A
memimpinnya. tentunya bakal banyak makan waktu buat mikirin ini. Sisem 1 benci banget sama yang gini-gini. Supaya bisa jawab cepat, dia diam-diam ngubah pertanyaannya dalam kepala kita. Kalau dalam kasus si John, pertanyaannya bukan lagi soal apakah calon A punya kapasitas buat jadi
12:12
Speaker A
presiden, tapi malah jadi apakah saya suka sama calon A? Dan karena kebetulan John suka sama gaya calon A pas berdebat di TV, dia pun nyimpulin kalau calon itu memang cocok jadi presiden. Kahneman bilang bias substitusi ini adalah salah
12:29
Speaker A
satu trik paling licik dari sistem 1. Ketika kita dapat pertanyaan sulit yang enggak bisa kita jawab dengan cepat, sistem [musik] 1 diam-diam ganti pertanyaan itu dengan pertanyaan yang lebih gampang, terus malah jawab pertanyaan pengganti itu. Kita jadi merasa seolah bisa jawabnya. Padahal
12:46
Speaker A
aslinya itu jawaban buat pertanyaan yang salah. Salah satu bukti riset untuk bias substitusi ini adalah studi klasik mahasiswa Jerman soal kebahagiaan.
12:57
Speaker A
Dalam survei pertama, mahasiswa dapat pertanyaan kayak gini. [musik] Seberapa bahagia kamu dengan hidupmu? Berapa kali kamu kencan bulan lalu?
13:06
Speaker A
Hasil survei nunjukin kalau kolerasi antara dua jawaban pertanyaan tadi hampir nol. Itu artinya kencan bukan faktor yang masuk jadi pertimbangan mahasiswa pas mikir soal kebahagiaan hidup mereka. Nah, kemudian dalam survei versi kedua, urutan pertanyaannya dibalik. Jadi begini, berapa kali kamu
13:25
Speaker A
kencan bulan lalu? Seberapa bahagia kamu dengan hidupmu? Hasilnya jauh berbeda. Korelasi antara jawaban dua pertanyaan itu jadi tinggi banget. Pertanyaan soal kencan ternyata bangkitin reaksi emosional. Yang banyak kencan merasa lebih senang sama hidupnya. Yang enggak punya pacar merasa kesepian dan enggak
13:45
Speaker A
bahagia. Nyatanya hidup [musik] sudah tentu bukan cuma soal pacaran, ada karir keluarga kesehatan [musik] dan yang lainnya. Tapi karena mikirin itu butuh banyak waktu, sistem satu maksa mahasiswa ini untuk kasih jawaban pakai referensi pertanyaan pertama yang jauh lebih gampang.
14:04
Speaker A
Jadi walaupun kelihatan kaya jawab dua pertanyaan yang berbeda, jawaban mereka adalah untuk pertanyaan yang pertama aja. Proses substitusi ini sering banget kejadian tanpa kita sadari. Sistem dua yang malas malah makin memperburu keadaan karena akhirnya enggak mau cek dan cuma ngikutin sistem 1. Kalau kamu
14:23
Speaker A
pernah berada dalam keadaan yang mirip-mirip kayak gini, maka kamu wajib hati-hati sama jawabanmu. Beberapa contoh substitusi lain yang Kahneman masukin dalam bukunya adalah berikut. Pertanyaan awal, seberapa bahagia hidupmu akhir-akhir ini?
14:40
Speaker A
Pertanyaan pengganti, bagaimana suasana hati saya sekarang? Pertanyaan awal, seberapa populer presiden 6 bulan dari sekarang?
14:50
Speaker A
Pertanyaan pengganti, seberapa populer presiden sekarang? Pertanyaan awal, hukuman apa yang pantas untuk predator finansial? Pertanyaan pengganti, seberapa marah saya ketika berpikir tentang mereka? Untuk melawan memang butuh usaha yang ekstra banget. Pas dapat pertanyaan tentunya kita lebih senang kalau bisa jawab ketimbang
15:13
Speaker A
enggak. Nah, tapi kalau pertanyaan itu terlalu gampang buat kamu, itu adalah tanda kamu [musik] wajib curiga. Coba pikirin lagi baik-baik. Apa benar kamu jawab pertanyaan awal atau ternyata kamu jawab pertanyaan substitusi gampang dari si sistem satu?
15:32
Speaker A
Jebakan tiga, efek jangkar. Efek jangkar adalah jebakan mental di mana kita secara enggak sadar ngandalin informasi pertama sebagai patokan pas buat keputusan.
15:44
Speaker A
Informasi pertama ibarat jangkar yang membatasi estimasi kita. Walaupun kita mikirnya sudah pakai pertimbangan lain, keputusan [musik] kita enggak bakal jauh dari informasi pertama itu. Ini adalah jebakan mental yang sering orang manfaatin buat manipulasi kita.
16:00
Speaker A
[musik] Contoh yang paling umum adalah orang-orang sales. Coba bayangin kamu lagi cari handphone baru. Pas baru masuk toko, kamu lihat ada model keluaran terbaru yang harganya Rp10 juta.
16:12
Speaker A
Sales-nya terus datangin kamu dan bilang, "Ini model terbaik kami. Emang agak mahal sih. Kalau mau yang spek mirip tapi lebih terjangkau, ada model lain kok. Harganya lebih murah sekitar R jutaan aja kok." [musik] Tiba-tiba R juta terasa murah karena
16:28
Speaker A
kamu sudah ngelihat yang R juta tadi. Padahal sebelum masuk toko budgetmu sebenarnya cuma R5 juta. Inilah contoh efek jangkar dalam kehidupan sehari-hari.
16:39
Speaker A
Angka R10 juta sengaja mereka pasang di depan buat jadi jangkar di kepala pembeli. Semua harga setelahnya bakal kamu bandingin ke angka itu. Makanya R7 juta kerasa kayak harga yang pas.
16:51
Speaker A
Padahal sebenarnya ya lebih dari uang yang kamu siapin di awal. Trik ini populer banget di dunia sales dan retail. Makanya jangan heran kalau banyak toko yang taruh produk termahalnya di dekat pintu masuk. Mereka sebenarnya bukan ngareapin kamu buat
17:06
Speaker A
beli, tapi buat ngasih efek jangkar yang kuat supaya produk-produk lain kelihatan lebih murah. Kaneman bilang kalau efek jangkar adalah salah satu fenomena paling unik sekaligus mengerikan dalam psikologi.
17:20
Speaker A
Otak manusia sangat kesulitan buat keluar dari jebakan mental ini. Efek jangkar kerja otomatis bahkan ketika kita sudah tahu angka jangkarnya itu random dan enggak relevan. Untuk cubakan mental ini, Kahneman ngebuktiin langsung eksperimen yang dia jalanin bareng rekannya Am Stoverskiy di tahun 1974.
17:40
Speaker A
Eksperimen ini terkenal dengan sebutan tes roda keberuntungan dan jadi salah satu yang sering jadi acuan dalam dunia psikologi. Sesuai nama, awalnya partisipan bakal mutar roda angka yang bakal munculin angka random. [musik] Tapi sebenarnya angkanya enggak random-random banget. Mereka enggak tahu
17:58
Speaker A
kalau Kahneman dan Tverskiy sudah atur supaya angka yang keluar itu cuma angka 10 dan 65. Nah, setelah angka dari roda keluar, tiap partisipan bakal dapat pertanyaan yang sama.
18:09
Speaker A
Apakah persentase negara-negara Afrika yang ada di PBB lebih tinggi atau lebih rendah dari angka di roda? Berapa angkanya? Nah, di sinilah efek jangkar bekerja. [musik] Partisipan yang dapat angka 10 dari roda punya jawaban rata-rata 25%. Sedangkan buat yang dapat
18:27
Speaker A
angka 65, rata-rata jawaban mereka adalah 45%. Hasil ini nunjukin angka pertama yang orang lihat punya pengaruh yang sangat kuat. Efek jangkar ini bukan cuma sekedar fenomena laboratorium.
18:41
Speaker A
Psikolog Gregory Nordcraft dan profesor manajemen Margaret Neil mengundang agen-agen properti buat kasih estimasi harga jual sebuah rumah. Sebut aja rumah X. Tiap agen boleh tour keliling rumah dan dapat informasi lengkap soal kondisi rumahnya. [musik] Sebagai distraksi, Nordcraft kasih daftar harga rumah
19:00
Speaker A
random ke semua agen. Setengahnya dapat daftar yang isinya rumah-rumah harga tinggi. Sedangkan setengahnya lagi lihat daftar yang isinya rumah harga rendah.
19:10
Speaker A
Hasilnya efek jangkar terlihat jelas. Agen yang lihat daftar harga rumah mahal kemudian pasang harga jual tinggi untuk rumah X. Begitu pula sebaliknya. Selain buktiin efek jangkar, kasus ini juga kasih lihat kalau semua orang rentan buat jadi korban. Bukan cuma orang awam
19:28
Speaker A
kayak kita, orang profesional yang kerjanya sehari-hari jual rumah pun masih bisa kena. Temuan menarik lainnya adalah hampir semua enggak sadar kalau daftar harga rumah tadi punya pengaruh.
19:40
Speaker A
Cuma satu dari 10 agen yang sadar kalau dia memang pakai daftar harga sebagai salah satu bahan pertimbangan buat kasih harga ke rumah X. Bagian ini menunjukkan gimana efek jangkar bekerja di bawah kesadaran kita. Sampai sini kamu harusnya udah sadar betapa kuat
19:56
Speaker A
sekaligus berbahayanya jebakan mental yang satu ini. Hanya sadar aja bahkan belum cukup untuk melawan. Kamu harus punya disiplin dalam berpikir kritis yang bisa kamu dapetin dengan ngelatih kecerdasan emosionalmu.
20:10
Speaker A
Untuk mengetahui lebih lengkap, kamu bisa nonton di video tentang kecerdasan emosional ini. Jebakan empat, bias ketersediaan. Sistem satu punya kebiasaan buruk lain. Sesuatu yang gampang kita ingat adalah sesuatu yang sering muncul.
20:29
Speaker A
Kalau bahasa psikologinya sih sistem 1 suka artiin kemudahan mengingat suatu hal sebagai bukti frekuensi. Jebakan mental ini namanya bias ketersediaan.
20:38
Speaker A
[musik] Kahneman nguji sendiri jebakan mental ini. Dia jalanin riset dengan modal ngasih pertanyaan simpel ke para peserta. Coba pikirin huruf K. Apakah huruf K lebih sering muncul sebagai huruf pertama dalam kata-kata dalam bahasa Inggris atau sebagai huruf ketiga? Mayoritas orang jawabnya huruf
20:58
Speaker A
pertama. Mereka yakin banget. Alasannya karena gampang banget buat kita nyari contoh kata yang depannya huruf K.
21:06
Speaker A
Kitchen, key, king, kick. Coba cari kata yang huruf ketiganya, Kak. Otakmu harus kerja keras. [musik] Acknowledge, ask, lake, itu susah karena peserta lebih gampang ingat kata awalan K.
21:22
Speaker A
Sistem satu mereka pun langsung nyimpulin pasti jumlahnya lebih banyak. Padahal faktanya dalam bahasa Inggris huruf K jauh lebih sering muncul di posisi huruf ketiga dibanding posisi pertama. Kanan merasa ini jadi salah satu penyebab manusia sering salah membuat keputusan. Kejadian yang sering
21:41
Speaker A
terjadi memang mudah buat kita ingat, tapi hal ini enggak berlaku sebaliknya. Cuma karena kamu gampang ingatnya bukan berarti hanya karena sering kejadian.
21:52
Speaker A
Ada banyak faktor lain yang berpengaruh. [musik] Mungkin sekarang kamu mikir kalau jebakan ini termasuk sepele dan enggak akan berdampak banyak dalam hidupmu. Eksperimen huruf K tadi memang terasa enggak relevan, tapi coba dengar soal eksperimen berikut ini. Hasilnya akan mengubah pandanganmu soal dirimu
22:10
Speaker A
sendiri dan orang lain. Dalam bukunya, Kak. Haneman cerita soal eksperimen kontribusi suami istri. Awalnya peneliti nanya ke para suami, "Berapa persen kontribusimu dalam pekerjaan rumah tangga?" Lalu di tempat terpisah mereka kasih pihak istri pertanyaan yang sama.
22:28
Speaker A
Nah, pas hasil jawaban gabungan persentase suami dan istri keluar, hasilnya hampir selalu lebih dari 100%.
22:35
Speaker A
Kadang 120, [musik] kadang malah bisa sampai 140. Kenapa demikian? Apakah mereka sombong? Sudah tentu enggak. Ini adalah contoh bias ketersediaan dalam hidup sehari-hari. Si suami gampang banget buat ingat momen pas dia buang sampah atau benerin genteng. Tapi dia susah
22:55
Speaker A
banget ingat momen pas istrinya nyapu atau nyuci baju. Biasanya karena dia enggak lihat atau enggak perhatiin.
23:02
Speaker A
Sebaliknya si istri gampang banget ingat setiap kali dia masak atau ngepel. Tapi lupa momen pas suaminya kerja keras benerin genteng atau beresin kebun.
23:12
Speaker A
Karena kita lebih gampang akses ingatan sendiri. Kita jadi merasa kita melakukan lebih banyak daripada orang lain. Kita merasa dunia ini enggak adil. Kita merasa tim kerja kita malas dan cuma kita yang kerja. [musik] Padahal itu cuma bias di kepala kita sendiri. Orang
23:29
Speaker A
lain juga ngerasa mereka yang paling kerja keras. Sadar akan hal ini bisa nyelamatin karir atau hubunganmu dari pertengkaran yang enggak perlu. Selain itu, kamu juga bisa jadi lebih kebal sama hoa propaganda, atau berita yang suka berlebihan di media sosial.
23:45
Speaker A
Bayangin aja tiba-tiba grup WhatsApp RT kamu meledak. Ada broadcast berita soal penculikan anak di Jakarta Selatan.
23:53
Speaker A
Fotonya beredar ke mana-mana. Di sana terlampir video CCTV, mobil mencurigakan. Semua orang yang ada di grup pada panik.
24:00
Speaker A
[musik] Seminggu kemudian ada lagi berita serupa di Bandung. Terusnya dari Surabaya, grup WA makin ribut. Orang tua yang punya anak mulai panik berat. Kalau kamu salah satunya, pasti kamu jadi parno. Anak jalan 5 meter aja udah was-was. Kamu pikir
24:19
Speaker A
Indonesia lagi darurat penculikan anak. Tapi karena sudah nonton video ini, kamu seketika sadar kalau ini adalah jebakan mental dari otakmu sendiri. Kejadian penculikan yang belakangan buat heboh bikin sistem satumu kena bias ketersediaan. Karena sadar sama ini, kamu sekarang bisa berpikir kritis pada
24:38
Speaker A
season 2. Kamu pun cek data di BPS dan Polri. Hasilnya ternyata jumlah kasus penculikan anak sebenarnya enggak naik, malah relatif stabil, bahkan menurun dibanding 10 tahun yang lalu. Yang naik cuma viralitas beritanya karena sekarang semua orang punya smartphone dan bisa
24:57
Speaker A
berbagi di grup WhatsApp. Jebakan 5 bias [musik] masa lalu. Pas tahun 2021 kemarin, temanmu beli saham random di harga Rp10 juta. Sekarang nilainya udah naik banget sampai nyentuh Rp100 juta. Dia untung puluhan juta. Kamu pun penasaran terus tanya ke dia, "Kok kamu bisa yakin mau
25:18
Speaker A
beli waktu itu?" Terus dia jawab santai, "Wah, kalau itu sudah jelas. Saya sudah analisa semua yang perlu dan memang menjanjikan. Tinggal tunggu waktu aja sih buat naik nilainya. Sekilas jawabannya terdengar logis. Kelihatannya memang temanmu ini punya ilmu dan jago
25:35
Speaker A
analisis seputar saham. [musik] Tapi tunggu dulu, coba kamu ingat baik-baik keadaan pas tahun 2021. Pas itu wabah Covid-19 lagi naik-naiknya. Banyak kegiatan tersendat dan keadaan ekonomi jadi enggak nentu. Semua orang bingung ke mana arah pasar. Apa temanmu beneran
25:54
Speaker A
yakin karena jago analisis? Atau ternyata dia cuma beruntung aja. Terus sekarang cerita seolah-olah semuanya sudah sesuai prediksinya.
26:04
Speaker A
Kalau kata Kahnean, kemungkinan besar yang sebenarnya terjadi adalah skenario kedua. [musik] Otak manusia itu jago banget bikin cerita yang kedengarannya masuk akal setelah hasilnya keluar. Ini adalah jebakan mental bernama masa lalu.
26:20
Speaker A
Kahneman bilang pikiran manusia atau spesifiknya sistem satu itu ibarat mesin yang selalu menciptakan makna. Otak enggak suka sama ketidakpastian.
26:29
Speaker A
Jadi dia buat cerita supaya semua jadi masuk akal. [musik] Termasuk ya kejadian yang sebenarnya terjadi karena kebetulan. Sistem satu suka nulis ulang masa lalu kayak si pembeli saham tadi supaya dunia terasa lebih bisa kita prediksi daripada yang sebenarnya.
26:46
Speaker A
Selain Kahneman, ada juga ahli statistik Nasim Thalib yang ngebahas soal jebakan mental ini. Bedanya dia kasih nama jebakan narasi. Intinya sih mirip.
26:57
Speaker A
Manusia seringki memandang rendah faktor keberuntungan dalam kesuksesan. Kita lebih suka buat cerita kalau bakat dan nilailah yang berhasil buat kita sukses.
27:07
Speaker A
Salah satu contoh bias masa lalu paling populer adalah kisah sukses Google. Media seringkiali lihat kalau naiknya Google itu adalah hasil kombinasi berbagai langkah strategis dan pemikiran brilian pada pendirinya. Narasi memikat ini kemudian nyiptain ilusi kalau kesuksesan Google memang sudah pasti
27:25
Speaker A
sejak awal perusahaan itu berdiri. Tapi seperti yang kamu sudah duga, cerita Google penuh sama gejolak. Malah banyak langkah-langkah krusial enggak lepas dari faktor keberuntungan. Contohnya apalagi kalau bukan di tahun 1999.
27:41
Speaker A
Pas itu Larry Page dan Sergei Brin mau jual Google ke Exide seharga 1 juta US.
27:47
Speaker A
Tawaran itu kena tolak. Mereka terus nurunin harganya ke 750.000 US tapi CEO Exite tetap nolak. Siapa sangka penolakan ini justru jadi hal baik.
28:00
Speaker A
Google enggak jadi pindah tangan dan malah terus berkembang sampai sebesar sekarang. Kalau kita lihat kasus Google, Page dan Brin seolah melakukan tindakan gegabah karena mau jual perusahaan mereka waktu itu. Nah, di sinilah faktor keberuntungan yang jadi penentu. Mereka
28:17
Speaker A
beruntung tawaran mereka kena tolak sampai dua kali. Kalau enggak, mungkin mesin pencari terbesar yang kita kenal saat ini enggak akan pernah ada. Di sini faktor keberuntungan punya peran lebih besar daripada kompetensi pendiri.
28:32
Speaker A
Sayangnya hal ini jarang jadi sorotan. Dias masa lalu bisa jadi berbahaya karena sering orang salah gunakan untuk nipu. Contoh paling umum adalah orang yang jualan kelas palsu, khususnya kelas cepat kaya dari nol, sukses instan, dan semacamnya. Biasanya oknum bakal kasih
28:52
Speaker A
cerita suksesnya. Kisah perjuangannya dari awal terus berhasil dengan modal niat dan kemampuannya sendiri. Kamu pun percaya bukan karena ceritanya pasti benar, tapi lebih ke arah narasinya menarik dan masuk akal. Di sinilah sistem satu otakmu sudah kena bias masa lalu. Akhirnya kamu mutusin
29:13
Speaker A
buat ikut kelas berbayar buat dapat ilmunya. [musik] Habis itu kamu coba praktikin tapi hasilnya enggak sesuai.
29:20
Speaker A
Kamu pun bingung. Mungkin sebenarnya ilmunya enggak salah, cuma ada faktor keberuntungan yang enggak dia ceritain ke kamu. Dan celakanya faktor keberuntungan inilah yang sebenarnya buat dia jadi sukses. Untuk ngelawan, lagi-lagi kamu butuh bantuan sistem dua.
29:38
Speaker A
[musik] Kamu perlu cermati lagi kisah-kisah sukses yang beredar di internet. Coba berpikir kritis, kemudian perbanyak riset mandiri. Tiap ada cerita yang terlalu bagus, coba kamu tanya ke dirimu sendiri di mana bagian sebenarnya ada peran faktor keberuntungan.
29:59
Speaker A
Jebakan 6, rasa takut kehilangan atau lost aversion. [musik] Ini dia temuan besar Kahneman dan rekannya Amus Devski dalam dunia psikologi. [musik] Sesuai namanya, inti dari jebakan mental ini adalah manusia lebih takut kehilangan. timbang mendapatkan meskipun nilainya sama. Secara psikologis, rasa
30:22
Speaker A
kehilangan punya efek yang jauh lebih kuat. Inilah alasan kenapa kamu gampang kepancing beli barang yang tulisannya sisa satu atau diskon sampai jam 12.00 malam ini. Kahneman dan The First Key ngebuktiin soal adanya jebakan mental ini lewat eksperimen koin mereka. Di
30:39
Speaker A
sini setiap partisipan dapat sebuah penawaran. Simpelnya gini, kamu mau enggak taruhan pakai koin? Kalau sisi koin yang kamu pegang keluar, kamu bisa dapat uang 150 US. Tapi kalau enggak, kamu harus bayar 100 US Do. Nah, kalau mengacu ke teori ekonomi standar yang
30:57
Speaker A
mana manusia adalah makhluk rasional, harusnya semua pasti mau ikut taruhan koin. [musik] Karena secara matematis taruhan itu bakal buat kita untung. Tapi nyatanya manusia adalah makhluk emosional bukan rasional.
31:12
Speaker A
[musik] Karena itu hampir semua peserta enggak ada yang mau ikut taruhan koin Kahneman. [musik] Alasannya rasa takut hilang duit 100 US dollar lebih besar daripada rasa senang bayangin dapat duit 150 US dar.
31:25
Speaker A
Supaya taruhannya menarik, kebanyakan bilang hadiahnya minimal harus dua kali lipat. Biang kerok jebakan mental ini adalah sistem satu. Tapi ini bukan tanpa alasan. Secara biologis, rasa takut kehilangan adalah mekanisme pertahanan diri yang buat manusia bisa bertahan sampai sekarang. Cuma bentuknya agak
31:45
Speaker A
beda. Dulu bentuknya adalah sistem satu yang cepat banget soal deteksi bahaya kayak binatang buas atau makanan beracun. Sampai sekarang pun ini masih berlaku. Pasti lebih gampang buat kamu nemuin kecoa dalam tumpukan buah ketimbang buah dalam tumpukan kecoa.
32:02
Speaker A
Meski sebenarnya punya tujuan baik, rasa takut kehilangan juga sering malah buat kita jadi salah ambil keputusan. Yang paling jelas adalah efek kepemilikan.
32:12
Speaker A
Ini adalah konsekuensi langsung dari rasa takut kehilangan. Karena ada rasa takut tadi, kita seringkiali enggak rela lepasin barang milik sendiri. sistem satu buat kita mikir kalau barang itu nilainya jauh lebih tinggi ketimbang nilai pasar yang dalam kenyataannya ya
32:28
Speaker A
belum tentu juga. Dalam eksperimen klasik [musik] tahun 1990, Daniel Kahneman beserta rekannya Jack Knatch dan Richard Taller menguji efek kepemilikan ini di mahasiswa Universitas Cornell New York. [musik] Kahneman bagi para mahasiswa ini jadi tiga grup. Grup pertama adalah penjual dan mereka
32:47
Speaker A
masing-masing dapat sebuah muk dengan dekorasi unik. Terus mereka nentuin berapa nilai jual terendah dari muk itu. Grup kedua [musik] adalah pembeli. Sesuai namanya, mereka ceritanya jadi calon pembeli.
33:02
Speaker A
Mereka bisa lihat-lihat muknya terus bilang mau keluarin uang berapa banyak. [musik] Nah, grup 3 ini adalah pemilih yang fungsinya sebagai acuan. Mereka nentuin harga jual kayak grup satu, tapi muknya bukan mereka yang punya. [musik] Hasilnya mungkin sudah bisa kamu tebak.
33:20
Speaker A
Grup penjual mau lepas muk di harga [musik] 7,12 US Do. Sedangkan grup pembeli maunya beli di harga 2,87 US Do.
33:29
Speaker A
Di sini kelihatan kalau penjual maunya lepas di harga yang dua kali lipat dari keinginan pembeli. Loh, tapi kan memang gitu kalau proses jual beli. [musik] Nah, di sini masuk peran grup pemilih tadi. Mereka juga nentuin harga jual, tapi mereka itu hitungnya [musik]
33:45
Speaker A
netral. Karena bukan yang punya barang, mereka enggak ada kena pengaruh rasa takut kehilangan dan efek kepemilikan.
33:52
Speaker A
[musik] Dan jawaban mereka ada di angka 3,12 US dar yang lebih dekat ke harga pembeli.
34:00
Speaker A
Inilah yang kemudian buktiin kalau efek kepemilikan ini sangat berpengaruh dalam hidup kita. Karena takut kehilangan muk, akhirnya grup penjual pasang harga tinggi. [musik] Contoh populer dari rasa takut kehilangan adalah fenomena yang terjadi di kalangan pemain golf profesional.
34:17
Speaker A
Duo ekonom Devin Pop dan Mauris Wazer nemu sesuatu yang unik setelah analisa lebih dari 2,5 juta pukulan dari berbagai pemain golf level pro. [musik] Mereka nemuin kalau pemain-pemain golf profesional ini jauh lebih akurat ketika ada dalam posisi harus menghindari
34:33
Speaker A
kekalahan. [musik] ketimbang pas mereka ada dalam momen bisa ngejar keuntungan. Pop dan Schzer [musik] punya kesimpulan kalau dorongan takut kehilangan sangat intens jadinya maksa atlet buat kasih konsentrasi ekstra. [musik] Ini juga nunjukin kalau bukan cuma orang biasa kayak kita yang secara enggak
34:51
Speaker A
sadar kena jebakan mental ini. Ternyata orang-orang terbaik dalam bidangnya juga bisa kena. Pertanyaannya sekarang adalah apakah ada cara buat melawan jebakan mental ini?
35:05
Speaker A
Jawabannya susah, [musik] tapi enggak mustahil. Susah karena memang ini bawaan sistem satu dan enggak bisa kita mati nyalain sesuka hati. Solusi terbaik adalah ngelatih sistem dua kita untuk ngelihat sesuatu [musik] secara gambaran besarnya. Misal nih dalam kasus belanja
35:22
Speaker A
kalau kita cuma fokus ke satu barang yang stoknya sisa satu atau diskonnya udah mau habis pasti jadi panik dan buru-buru beli. Tapi coba sekarang kamu berhenti sebentar terus lihat ke depan.
35:34
Speaker A
Kalaupun kamu enggak dapat barang ini, pasti masih bisa restock lagi bulan depan atau tahun depan. Atau malah nanti kamu bisa ketemu barang yang lebih bagus atau diskonnya lebih gede. Intinya jangan buru-buru untuk ambil keputusan, apalagi keputusan yang penting.
35:53
Speaker A
Jebakan tujuh, pengalaman atau ingatan. Sekarang kita sampai ke jebakan terakhir di video ini. Sebelum lanjut, mari simak cerita liburan ini. Kartini adalah seorang pekerja kantoran di Jakarta.
36:08
Speaker A
Untuk ngabisin liburan akhir tahunnya, ia mutusin buat liburan ke Labuat Bajo. Awal perjalanan cukup melelahkan.
36:16
Speaker A
Kartini naik pesawat jam .00 Subuh transit di Bali selama 3 jam. Baru lanjut perjalanan 2 jam lagi sebelum sampai Bandara Internasional Komodo di Bajo. Pas sampai di hotel, dia langsung tidur karena udah capek banget. Hari kedua adalah waktunya buat keliling dan
36:33
Speaker A
lihat-lihat pulau yang ada. Pulau pertama keren banget. Kartini senang banget sama view-nya. Masuk ke pulau kedua terus ketiga. Rasa kerennya udah ggak kaya yang pertama tadi. Karena udah siang, mataharinya trik banget. Kulit Kartini mulai terasa kebakar karena paginya dia kurang banyak pakai sunblok.
36:53
Speaker A
Pas lanjut ke pulau keempat dan kelima, Kartini udah bosan karena pemandangannya mirip-mirip. Yang ada dia malah kena mabuk laut pas perjalanan pulang karena terlalu lama di laut dan kapalnya terlalu goyang. Malamnya Kartini pun muntah-muntah di hotel. Masuk hari
37:10
Speaker A
ketiga, waktunya berkunjung ke Pulau Padar. Butuh waktu 45 menit buat naik dari bawah sampai atas bukit.
37:18
Speaker A
Mataharinya terik dan medannya cukup menantang. Sesampainya di atas, Kartini udah ngos-ngosan dan kakinya pegal. Dan akhirnya [musik] cuma foto-foto enggak sampai 10 menit terus turun lagi. Sisa harinya Kartini pakai buat istirahat aja di hotel sebelum besoknya terbang balik ke
37:34
Speaker A
Jakarta. Pas udah masuk kerja lagi, teman-temannya pada nanya, "Gimana liburan kamu di Labuhan Bajo." Kartini langsung jawab, "Seru banget kemarin itu. View-nya bagus banget, pengen balik lagi." Yang Kartini ingat cuma yang bagus-bagusnya aja. Foto di puncak Pulau Padar, warna air laut yang biru, lihat
37:54
Speaker A
komando gede dan ngerasain sunset pas di kapal. yang dia lupain ada flight subuh, perjalanan jauh, kulit terbakar matahari, mual terus muntah, sampai kaki yang super pegal. Pengalaman aslinya sebenarnya 65% capek dan 35% senang.
38:12
Speaker A
Tapi kenangan yang Kartini ingat adalah 90% senang dan cuma 10% capeknya. Cerita ini adalah contoh paling umum dari perbedaan persepsi dalam otak kita.
38:23
Speaker A
Kahneman bilang manusia itu seringkiali gak bisa bedain antara pengalaman sama ingatan yang mana punya pengaruh krusial buat nentuin kebahagiaan.
38:32
Speaker A
Pas kamu baca cerita si Kartini tadi, kamu pasti heran kenapa dia bisa jawab gitu. Tapi Khaneman bilang kamu pun pasti bakal kasih jawaban yang sama.
38:41
Speaker A
Buat tahu alasannya, kamu harus tahu dulu soal eksperimennya. Di tahun 1993, Danil Kahneman bersama tiga rekannya melakukan sebuah percobaan bernama eksperimen tangan dingin. [musik] Intinya, peserta harus masukin tangan mereka ke dalam wadah berisi air dingin suhu 14 derajat Celcius dengan dua
39:00
Speaker A
skenario berbeda. [musik] Skenario pertama adalah skenario pendek. Peserta masukin tangan ke air 14 derajat Celcius selama 60 detik. Skenario kedua adalah skenario panjang. Awalnya sama kayak tadi, peserta masukin tangan selama 60 detik, [musik] tapi sekarang durasinya tambah 30 detik. Nah, selama 30 detik
39:23
Speaker A
ini suhu airnya naik jadi 15 derajat Celcius. Masih dingin, tapi lebih mending. Setelah itu semua peserta dapat pertanyaan. Kalau bisa milih, kamu mau ngulang yang mana? Kalau secara logika semua harusnya lebih milih yang pertama karena lebih sebentar. Kahneman dan
39:42
Speaker A
rekannya juga awalnya mikir gitu, tapi hasil eksperimennya justru sangat mengejutkan. 80% peserta lebih milih buat ngulang skenario kedua alias yang lebih panjang. Alasannya mereka bilang kalau skenario panjang ngasih pengalaman yang lebih tidak menyakitkan.
40:00
Speaker A
Emang iya pengalamannya lebih baik di skenario [musik] 2. Sudah tentu tidak. Kalau secara pengalaman tentu yang kedua sebenarnya lebih buruk. Sayangnya seperti yang sudah kita bahas tadi, manusia susah buat bedain antara pengalaman dan ingatan. Walaupun peserta bilangnya pengalaman, sebenarnya jawaban
40:20
Speaker A
mereka asalnya adalah dari memori. Menurut Kahneman dan timnya, ingatan manusia punya dua aturan soal rasa sakit dan kebahagiaan.
40:29
Speaker A
Pertama, ada aturan puncak akhir. Otak kita bakal ingat suatu pengalaman itu baik atau buruk berdasarkan momen paling intens dan momen penutupan aja atau kerennya momen klimx dan ending. Aturan kedua, durasi itu enggak punya pengaruh.
40:45
Speaker A
Jadi mau lama atau sebentar semua bakal kembali ke aturan pertama tadi. Dalam kasus eksperimen tangan dingin, skenario kedua tentu punya momen klimx dan ending yang lebih baik karena suhunya naik jadi kerasa enggak begitu dingin. Walaupun mereka harus naruh tangan di air lebih
41:02
Speaker A
lama. Sedangkan dalam cerita Kartini meski lebih banyak waktunya keisi sama pengalaman buruk, ngelihat pemandangan indah bajo dan dapat foto keren di puncak padar adalah momen kunci yang berkesan. Jebakan mental ini sekilas kelihatan enggak gimana-gimana banget, tapi sebenarnya ini lebih filosofis dari
41:20
Speaker A
yang kamu duga. Paham tentang perbedaan antara pengalaman dan ingatan punya pengaruh kuat buat nentuin kebahagiaan.
41:27
Speaker A
Dalam hidup, seringkiali ending yang buruk buat kita merasa pengalaman itu rusak. Contohnya ya pas nonton film.
41:34
Speaker A
Kalau endingnya jelek, kamu bakal bilang experience-nya [musik] buruk. Padahal sebenarnya ada momen 1 jam lebih kamu enjoy nonton film itu. Pas neliti soal kebahagiaan, Kahneman nemuin kalau hal kayak pendapatan besar atau gelar keren cuma buat kamu bahagia dari segi
41:50
Speaker A
ingatan. Sedangkan [musik] dari segi pengalaman hidup sehari-hari, hal-hal gitu enggak tentu buat moodmu selalu senang. Uang memang bisa beli kebahagiaan, tapi cuma sampai tahap tertentu aja. Kalau kamu sudah capai titik itu, kebahagiaan datang dari hal-hal kecil yang buat [musik] kamu
42:07
Speaker A
tersenyum tiap harinya. Jangan percaya otak 100%. [musik] Setelah ngebahas semua jebakan mental yang Kahneman ungkap, ada satu pelajaran besar yang harus kamu ingat. Kita sebagai manusia ternyata enggak serasional yang kita kira.
42:25
Speaker A
Sistem satu yang cepat, efisien, tapi gampang kena jebakan ternyata punya peran penting dalam mempengaruhi kita membuat keputusan. Sedangkan sistem dua yang seharusnya rasional sering terlalu malas untuk ngecek karena butuh banyak energi. Tapi ini bukan berarti kita enggak berdaya. Dengan memahami
42:42
Speaker A
bias-bias ini, kita bisa lebih sadar dan tahu harus nyalain sistem dua di saat-saat yang krusial.
42:49
Speaker A
Ini adalah beberapa strategi praktis yang bisa kamu terapin. Yang pertama, pelan-pelan. Ketika menghadapi keputusan penting, paksa dirimu untuk melambat.
42:59
Speaker A
Kasih waktu sistem dua untuk beneran mikir. Yang kedua, [musik] cari yang berlawanan. Aktif cari bukti yang bertentangan dengan kesan pertama. Lawan kecenderungan untuk cari konfirmasi.
43:12
Speaker A
Yang ketiga, sadar akan jangkar. Ketika estimasi [musik] sesuatu, sadari angka-angka yang mungkin menjadi jangkar penilaianmu tanpa alasan valid. Keempat, waspada wisiati. Selalu tanya informasi apa yang hilang dan apa yang enggak aku tahu. Yang kelima, sadari substitusi.
43:33
Speaker A
Ketika jawab pertanyaan, pastikan kamu beneran jawab pertanyaan yang ditanya, bukan pertanyaan yang lebih gampang.
43:41
Speaker A
Yang terakhir, pisahkan pengalaman dan kenangan. Ingat bahwa kenangan bukan cerminan akurat dari pengalaman yang sebenarnya terjadi. Pelajaran terpenting adalah tetap rendah hati. Akui [musik] bahwa bias-bias ini adalah bawaan dalam sistem operasi pikiran manusia. Bahkan mengetahuinya pun enggak sepeduhnya
44:00
Speaker A
melindungi kita. [musik] Tapi kesadaran adalah langkah pertama. Dengan latihan kita bisa jadi sedikit lebih rasional dari yang evolusi udah rancang untuk kita. [musik] Buku Thinking Fast and Slow sebenarnya adalah buku tanpa gendre pasti. Ada yang bilang ini buku
44:16
Speaker A
psikologi. Ada juga yang masukin dalam kategori buku ekonomi perilaku. Yang pasti buku ini bakal ngubah cara kamu memahami pikiran manusia. Kahneman ngabisin seumur hidupnya untuk mempelajari kesalahan sistematis dalam penilaian manusia. dan dia berhasil ngumpulin semuanya dalam satu bacaan
44:36
Speaker A
yang bisa semua orang akses. Kalau kamu mau menyelami lebih dalam soal semua penelitian dan eksperimen yang mendukung semua temuan ini, kamu sudah tentu enggak boleh kelewatan buat baca bukunya. [musik] Sebelum kamu lanjut video lain, coba pikirin pertanyaan ini. Seberapa sering
44:53
Speaker A
kamu buat sebuah keputusan tanpa benar-benar kamu sadari? Kalau kamu rasa video ini bermanfaat, jangan lupa like dan share ke teman-temanmu yang mungkin perlu ilmunya. Terima kasih sudah menonton dan sampai bertemu lagi di episode selanjutnya.
45:09
Speaker A
[musik] Bo won't go all the way,
Topics:Daniel KahnemanThinking Fast and Slowjebakan mentalbias kognitifSistem 1 dan Sistem 2psikologikeputusanefek haloWYSIATIbias substitusi

Get More with the SozAI App

Transcribe recordings, audio files, and YouTube videos — with AI summaries, speaker detection, and unlimited transcriptions.

Or transcribe another YouTube video here →