Monolog Balada Sumarah mengisahkan perjuangan hidup Sumarah sebagai TKW dan pengalaman pahitnya dalam menghadapi stigma dan kesulitan.
Key Takeaways
- Stigma sosial dan prasangka dapat menghancurkan hubungan dan kehidupan seseorang.
- Perjuangan perempuan TKW sering kali penuh penderitaan dan ketidakadilan.
- Nilai-nilai luhur bangsa Indonesia seringkali tidak terealisasi dalam kehidupan nyata.
- Pentingnya memberi ruang bagi korban untuk bersuara dan didengar tanpa dipotong.
- Monolog sebagai media teater dapat mengangkat isu sosial yang sensitif dan penting.
What the video covers
- Monolog ini dibawakan oleh karakter bernama Sumarah yang menceritakan kisah hidupnya di hadapan Dewan Hakim.
- Sumarah mengaku menjadi budak dan mengalami penindasan sejak kecil di desanya, Karangsari.
- Ia menyebutkan stigma negatif terhadap keluarganya terkait organisasi PKI yang dianggap biadab.
- Sumarah jatuh cinta pada seorang tentara bernama Mas Edi, namun hubungan mereka kandas karena latar belakang keluarganya.
- Ia memutuskan menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) dengan harapan hidupnya berubah.
- Namun, pengalaman menjadi TKW penuh penderitaan, termasuk penyiksaan dan gaji yang tidak dibayar selama setahun.
- Monolog ini menyinggung nilai-nilai bangsa Indonesia seperti keadilan, gotong royong, dan kekeluargaan yang idealnya dijunjung tinggi.
- Sumarah berjuang membuka suara dan membela diri di hadapan Dewan Hakim, menolak dipotong ucapannya.
- Cerita ini menggambarkan konflik sosial dan ketidakadilan yang dialami oleh perempuan pekerja migran.
- Monolog diiringi musik dan tepuk tangan yang menambah dramatisasi cerita.
Full Transcript — Download SRT & Markdown
Speaker A
[Musik] Yang terhormat Dewan Hakim, yang terhormat Dewan Hakim, yang terhormat. Perkenalkan, saya ralat ucapan jaksa. [Musik] Nama saya Sumarah. Menjadi budak buruk dan bambu sudah menjadi pilihan hidup saya bertahun-tahun, dilatih kaki orang terlantar. [Musik] Saya tahan mulut saya, saya lipat lidah saya agar tidak bicara karena bicara. [Musik] Pula bagi para masjid kan, jadi tolong Dewan Hakim yang terhormat kali ini perkenalkan saya berdoa dan membuka suara. Jangan ditanya dan jangan dipotong jika buktinya berhenti. Sejak kecil saya tidak pernah berani mendengarkan wajah, apalagi di Karangsari, desa tempat saya dilahirkan. Guru madrasah saya pernah menerangkan. [Musik] Para jenderal itu dilakukan oleh sekelompok orang yang sangat kecil, orang-orang yang tergabung dalam organisasi PKI. PKI itu benar-benar biadab. Oleh karena itu dihapus dan dilarang berkembang lagi seluruh antar PKI di hotel. Bapak saya bukan PKI. [Musik] Benar kata Simbah, siapa pada usahalah nyetor gula dan Warto. [Musik] Setelah dan waktu di. [Tepuk tangan] [Musik] Suatu hari saya bekerja bersama. [Musik] Jadi bekerja bersama juragan beras, saya berkenalan dengan seorang lelaki yang kemudian saya jatuh cinta kepadanya. Mas Edi dia seorang tentara. Cinta saya semakin bersemi. Mereka sama saya tahu teringat Kang Mas Edi juga menaruh hati kepada saya. Rasanya, rasanya hati saya melambung tinggi sekali tapi untuk kemudian kembali tercepat dan jatuh ke jurang. Saya tidak bisa, saya tidak bisa menjadikan Mas eh dia mundur teratur setelah mengetahui istilah keluarga saya. [Musik] Melalui perantara seorang cowok selain mendaftar menjadi seorang TKW segala syarat saya begitu saya Sumarah. [Musik] Hafalkan Undang-Undang Dasar 45 dari pembukaan pasal hingga ayat-ayatnya hingga ke titik. [Musik] Kan itu tentang pribadi bangsa Indonesia yang adiluhung, ramah tamah, gotong royong, kekeluargaan. [Musik] Ternyata segalanya hanya bisa diberikan uang, Pak Hakim. Saya pikir dengan menjadi seorang TKW hidup saya akan berubah. Ternyata cuma ya disiksa, gaji saya 1 tahun hilang hanya bahagia. [Musik] Pagi saya harus. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Yang terhormat. [Musik] Saya. [Tepuk tangan]
Speaker A
saya agar tidak bicara karena bicara [Musik] pula bagi para masjid kan jadi tolong dewan Hakim yang terhormat kali ini perkenalkan saya berdoa dan membuka suara Jangan Ditanya dan jangan dipotong jika buktinya berhenti sejak kecil saya tidak pernah berani
Speaker A
mendengarkan wajah apalagi di Karangsari Desa tempat saya dilahirkan guru madrasah Saya pernah menerangkan [Musik] para Jenderal itu dilakukan oleh sekelompok orang yang sangat kecil orang-orang yang tergabung dalam organisasi PKI PKI itu benar-benar biadab Oleh karena itu dihapus dan dilarang berkembang lagi
Speaker A
seluruh antar PKI di hotel Bapak saya bukan PKI [Musik] Bener kata Simbah siapa pada usah lah nyetor gula dan Warto [Musik] setelah dan waktu di [Tepuk tangan] [Musik] suatu hari saya bekerja bersama [Musik] jadi bekerja bersama juragan beras saya
Speaker A
berkenalan dengan seorang lelaki yang kemudian saya jatuh cinta kepadanya Mas Edi Dia seorang tentara cinta saya semakin bersemi mereka sama saya tahu teringat Kang Mas Edi juga menaruh hati kepada saya rasanya rasanya hati saya melambung tinggi sekali tapi untuk kemudian kembali tercepat dan
Speaker A
jatuh ke jurang saya tidak bisa saya tidak bisa menjadikan Mas eh dia mundur teratur setelah Mengetahui istilah keluarga saya [Musik] melalui perantara seorang cowok selain mendaftar menjadi seorang TKW segala syarat saya begitu saya sumarah [Musik] hafalkan undang-undang Dasar 45 dari
Speaker A
pembukaan pasal hingga ayat-ayatnya hingga ke titik [Musik] kan itu tentang pribadi bangsa Indonesia yang adiluhung ramah tamah gotong royong kekeluargaan [Musik] ternyata segalanya hanya bisa diberikan uang Pak Hakim saya pikir dengan menjadi seorang TKW hidup saya akan berubah
Speaker A
ternyata cuma ya disiksa gaji saya 1 tahun hilang hanya bahagia [Musik] pagi saya harus [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] yang terhormat [Musik] saya [Tepuk tangan]
Topics:monologBalada Sumarahteater alegorisTKWstigma sosialperempuan pekerja migranPKInilai bangsa Indonesiakisah perjuanganSMAN 1 Ngadiluwih











