Kisah legenda Majapahit tentang sayembara memilih pendamping Diah Ayu Pusparini dan asal usul Gunung Kelud yang penuh misteri.
Key Takeaways
- Sayembara sebagai simbol ujian dan pemilihan pendamping yang layak di kerajaan Majapahit.
- Legenda Lembu Suro sebagai tokoh utama yang membawa perubahan dan asal usul Gunung Kelud.
- Nilai kejujuran, keberanian, dan kekuatan batin lebih penting daripada kekayaan dan ketampanan.
- Cerita ini menghubungkan sejarah dan mitos dalam budaya Jawa yang kaya dan penuh makna.
- Peran penting Prabu Brawijaya sebagai raja bijaksana yang memikirkan masa depan kerajaan dan putrinya.
What the video covers
- Cerita berlatar kerajaan Majapahit dengan raja Prabu Brawijaya dan putrinya Diah Ayu Pusparini yang sangat cantik dan bijaksana.
- Diah Ayu belum tergerak hati untuk menikah meski banyak lamaran dari berbagai kerajaan datang.
- Prabu Brawijaya mengadakan sayembara dengan syarat mengangkat busur pusaka Kiai Garuda Yaksa dan gong pusaka Kiai Sekar Delima sebagai ujian.
- Sayembara ini menjadi ujian luar biasa yang hanya bisa dilewati oleh seseorang yang benar-benar sakti dan kuat.
- Lembu Suro, pemuda berkepala lembu, berhasil melewati ujian tersebut dan dinyatakan pemenang sayembara.
- Diah Ayu merasa gelisah dan khawatir dengan hasil sayembara dan sosok Lembu Suro.
- Syarat tambahan diberikan agar Lembu Suro membuat sumur di puncak Gunung Kelud dalam satu malam sebagai tempat mandi sang putri.
- Lembu Suro menghadapi tantangan berat dalam memenuhi syarat tersebut, yang berujung pada legenda dan sumpah yang mengakar di masyarakat sekitar.
- Kisah ini diwariskan turun-temurun sebagai asal usul Gunung Kelud dan nilai kejujuran serta keberanian.
- Video menyajikan cerita penuh misteri, budaya, dan sejarah yang kaya dari tanah Jawa.
Chapters
- 00:00Pendahuluan dan Latar Kerajaan Majapahit
- 03:00Kehidupan Diah Ayu Pusparini dan Lamaran Para Pemuda
- 05:30Pengumuman Sayembara dan Ujian Pusaka
- 08:30Persiapan dan Kegelisahan Diah Ayu
- 11:36Pelaksanaan Sayembara di Alun-Alun Majapahit
- 18:36Kemenangan Lembu Suro dan Reaksi Kerajaan
- 25:11Syarat Tambahan dan Tantangan di Gunung Kelud
- 36:30Legenda Lembu Suro dan Asal Usul Gunung Kelud
Full Transcript — Download SRT & Markdown
Speaker A
[musik] Dahulu kala di bumi Jawa yang subur dan penuh misteri berdiri dengan megah sebuah kerajaan yang namanya Harum Semerbak hingga ke ujung.
Speaker A
[musik] Kerajaan itu adalah Majapahit, sebuah peradaban yang memancarkan cahaya kejayaan, kekuatan, dan kebanggaan. Di sinilah di antara tembok-tembok keraton
Speaker A
yang kokoh dan taman-taman bunga yang mekar sepanjang tahun, kisah ini bermula. Di singgasana tertinggi Majapahit duduk seorang raja yang sangat dihormati oleh segenap rakyatnya.
Speaker A
Namanya adalah Prabu Brawijaya. [musik] Seorang pemimpin yang dikenal bijaksana, adil, dan penuh welas asih kepada seluruh rakyatnya.
Speaker A
Setiap keputusan yang beliau ambil selalu ditimbang dengan matang dan mengutamakan kesejahteraan rakyat. [musik] Namun di balik semua kemegahan itu, Prabu Brawijaya menyimpan kebahagiaan yang jauh lebih berharga dari seluruh hartanya. Kebahagiaan itu bernama Diah Ayu Pusparini, putri tunggal kesayangannya.
Speaker A
Sang putri tumbuh menjadi gadis yang luar biasa cantik. Wajahnya bagaikan bulan yang baru keluar dari balik awan.
Speaker A
Kulitnya bersih bercahaya seperti sutra putih dan senyumnya mampu membuat siapapun yang memandangnya seakan lupa akan [musik] segala beban hidup. Kabar tentang kecantikan Diah Ayu Pusparini bagaikan angin yang terbawa jauh ke mana-mana menembus batas-batas desa dan kota melewati sungai-sungai dan pegunungan
Speaker A
hingga terdengar di berbagai pelosok Nusantara. Dari berbagai penjuru negeri, para pemuda bermimpi untuk bisa menjadikannya sebagai pendamping hidup. Maka [musik] tidak mengherankan bila setiap waktu selalu ada utusan dari berbagai kerajaan yang datang membawa lamaran. Ada pangeran dari kerajaan sebelah dengan
Speaker A
rombongan besar. Ada pemuda dari tanah seberang yang rela menempuh perjalanan berhari-hari. [musik] Ada pula bangsawan-bangsawan muda yang terkenal gagah dan berilmu. Namun semuanya pulang dengan tangan hampa dan hati yang [musik] pilu. Diah Ayu Pusparini memang belum tergerak hatinya
Speaker A
untuk menikah. Di usianya yang masih mekar, ia lebih suka belajar merawat taman-taman bunga di keraton dan menikmati keindahan alam sekitar istana.
Speaker A
Melihat hal itu, Prabu Brawijaya mulai dihantui kegelisahan. Sebagai raja sekaligus seorang ayah, beliau memikirkan masa depan putrinya dan [musik] masa depan kerajaan. Malam demi malam, Sang Prabu terjaga, pikirannya berputar mencari jalan keluar. [musik] Hingga pada suatu malam, sebuah gagasan muncul dalam benaknya
Speaker A
bagaikan kunang-kunang yang menyala di kegelapan. Sang [musik] Prabu memutuskan untuk mengadakan sebuah sayembara. Malam itu angin berhembus lembut di sekitar keraton Majapahit. Lampu-lampu minyak di sepanjang koridor istana memancarkan cahaya keemasan yang hangat.
Speaker A
Di dalam sebuah ruangan yang tenang, Prabu Brawijaya duduk berhadapan dengan putrinya. [musik] Suasana terasa begitu khidmat. Seolah bintang-bintang di langit pun ikut menahan nafas. Sang Prabu memulai pembicaraan dengan penuh kelembutan, menatap putrinya dengan sorot mata, penuh kasih sayang, namun menyimpan
Speaker A
ketegasan yang tak bisa diabaikan. Ananda, aku mengerti betul bahwa engkau menginginkan seorang suami yang benar-benar layak.
Speaker A
Bukan sekadar tampan atau kaya, tetapi seseorang yang sakti mandraguna, [musik] tangguh, dan mampu menjadi pelindung bagimu dan bagi kerajaan kita.
Speaker A
Diah Ayu hanya mendengarkan. Dia sudah merasakan bahwa malam ini ada sesuatu yang penting akan disampaikan.
Speaker A
Ayahanda memiliki sebuah gagasan. [musik] Kita akan mengadakan sayembara besar. Bukan sekadar adu kekuatan biasa, melainkan ujian sejati yang hanya bisa dilewati oleh seseorang yang benar-benar [musik] luar biasa.
Speaker A
Ayahanda memiliki sebuah gagasan. Kita akan mengadakan sayembara besar. Bukan sekadar adu kekuatan biasa, melainkan ujian sejati yang hanya bisa dilewati oleh seseorang yang benar-benar luar biasa. Siapapun laki-laki yang [musik] mampu merentangkan busur pusaka Kiai Garuda Yaksa dan sekaligus [musik]
Speaker A
mengangkat gong pusaka Kiai Sekar Delima, maka dialah yang berhak mempersunting [musik] Diah Ayu Pusparini.
Speaker A
Mendengar hal itu, [musik] sang putri terasa seperti disambar petir. Hatinya bergejolak. Ada terkejut yang luar biasa bercampur dengan rasa tidak rela. Namun Diah Ayu [musik] adalah putri yang tahu diri dan sangat menghormati ayahnya. Dia tidak berani menolak, apalagi melawan
Speaker A
secara terang-terangan. Dengan menahan seluruh perasaan yang bergemuruh di dadanya, sang putri akhirnya mengangguk dan menyanggupi. Keesokan harinya, Prabu Brawijaya memerintahkan para juruwarta kerajaan untuk menyebarluaskan berita sayembara ke seluruh penjuru Majapahit dan kerajaan-kerajaan di sekitarnya.
Speaker A
Dalam waktu singkat, berita itu sudah menjadi perbincangan di mana-mana. [musik] Sementara berita sayembara bergulir ke seluruh penjuru negeri, di dalam kamar pribadinya, [musik] Diah Ayu Pusparini menghabiskan hari-harinya dalam kegelisahan yang semakin berat. Sang putri yang biasanya ceria kini sering
Speaker A
duduk merenung sendirian. Matanya menatap jauh ke langit-langit seolah mencari sesuatu [musik] yang tidak ada di sana. Di satu sisi, hatinya merasa sedikit lega. Karena siapapun yang tahu tentang Kiai Garuda Yaksa dan Kiai Sekar Delima pasti tahu bahwa kedua pusaka itu
Speaker A
[musik] bukan barang sembarangan. Kiai Garuda Yaksa adalah busur panah yang dibuat oleh para empu pilihan, [musik] dari bahan-bahan langka dan telah melewati proses tempa dan ritual yang sangat panjang. [musik] Busur itu memiliki kekuatan gaib yang luar biasa sehingga dibutuhkan lebih dari sekadar
Speaker A
kekuatan fisik untuk bisa merentangkannya. [musik] Banyak kesatria tangguh yang pernah mencoba dan gagal bahkan sebelum menarik talinya setengah jalan. Sementara Kiai Sekar Delima adalah gong besar dari logam-logam pilihan. Ukurannya jauh melampaui gong-gong biasa. Beratnya bisa membuat lutut pria dewasa yang paling
Speaker A
kuat sekalipun gemetar dan menyerah. Sang putri berharap tidak akan ada satu pun peserta yang mampu melewati kedua ujian itu. [musik] Namun di sisi lain ada kekhawatiran lain yang mengganggunya. [musik] Bagaimana bila ada seseorang yang ternyata benar-benar mampu? Siapakah orang itu dan apakah dia
Speaker A
benar-benar pantas untuk menjadi pendampingnya? [musik] Sang putri berulang kali berusaha menenangkan dirinya sendiri. [musik] Dia berkata bahwa seorang yang mampu melewati ujian seberat itu pastilah seseorang yang luar biasa. Mungkin seorang pangeran atau kesatria muda yang tersembunyi di balik
Speaker A
kesederhanaan, [musik] namun menyimpan potensi luar biasa. Barangkali takdir sedang menyiapkan sesuatu yang indah untuknya. Tetapi hatinya yang resah tidak juga mau tenang. Ada bisikan-bisikan halus dari naluri terdalamnya yang terus memperingatkan bahwa sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya akan terjadi. [musik] Hari
Speaker A
yang telah ditentukan akhirnya tiba. Pagi itu, matahari bersinar dengan cerahnya. [musik] Langit biru tanpa satu pun awan yang menghalangi. Alun-alun kerajaan Majapahit telah disulap menjadi sebuah arena yang megah. Umbul-umbul, berwarna-warni berkibar tertiup angin.
Speaker A
Para penjaga berbaris dengan tegap di sepanjang pinggiran lapangan dan kerumunan rakyat yang datang untuk menyaksikan sayembara ini padat [musik] hingga sesak. Di atas singgasana yang dihiasi dengan kain-kain indah berwarna keemasan, [musik] Prabu Brawijaya duduk dengan penuh wibawa. Di sisi kanannya
Speaker A
duduk sang permaisuri dan di sebelah sang permaisuri duduklah Diah Ayu Pusparini. Sang putri tampil dengan kebaya dan kain batik terbaiknya.
Speaker A
Mahkota bunga menghiasi rambutnya yang hitam legam. Namun siapapun yang memperhatikannya dengan seksama bisa melihat bahwa ada kegelisahan yang tersembunyi di balik senyum tipisnya. Di tengah lapangan, para pengawal telah menyiapkan kedua pusaka yang menjadi inti dari sayembara ini. Busur Kiai
Speaker A
Garuda Yaksa berdiri tegak pada tumpuannya memancarkan kilau keemasan yang mencolok di bawah sinar matahari pagi. Di sebelahnya, [musik] Kiai Sekar Delima berdiri dengan angkuhnya. Ukurannya yang besar dan beratnya yang luar biasa sudah cukup membuat banyak peserta menelan ludah
Speaker A
sebelum bahkan mendekatinya. [musi
Speaker A
kedua mencoba nasib. Lalu yang ketiga. Yang keempat, satu persatu mereka maju dengan semangat dan keyakinan masing-masing. Dan satu persatu pula mereka mundur membawa kegagalan. Ada yang berhasil menarik tali busur sedikit lebih jauh, namun tetap tidak mampu merentangkannya hingga penuh. Ada yang
Speaker A
bahkan tidak mampu menggeser busur itu dari tempatnya sama sekali. Kemudian tibalah giliran para peserta mencoba [musik] Kiai Sekar Delima dan hasilnya tidak jauh berbeda. Gong raksasa itu seolah-olah tertancap kuat di bumi.
Speaker A
Tidak mau bergerak sedikit pun meski sudah dicoba oleh orang-orang yang terkenal memiliki tenaga besar. Bahkan beberapa orang mengalami nasib yang tidak mengenakan. Ada yang pinggangnya terasa seperti hampir tak akibat memaksakan diri mengangkat beban yang jauh melampaui batas kemampuannya. Ada
Speaker A
pula yang pergelangan tangannya ke Seleo ketika mencoba mencengkeram bagian bawah gong. Waktu terus berlalu. Matahari sudah mulai condong ke arah barat. Satu persatu peserta telah mencoba dan gagal.
Speaker A
Para penonton yang tadinya penuh semangat dan kegembiraan mulai terlihat bosan dan sedikit kecewa. Prabu Brawijaya sendiri mulai mengerutkan dahinya. Wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa kini diwarnai oleh kegelisahan yang susah disembunyikan.
Speaker A
Beliau mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa sayembara ini akan berakhir tanpa satuun pemenang. Di kursinya [musik] dia Ayu Pusparini menyaksikan semua itu dengan perasaan yang campur aduk. Ada sedikit kelegaan karena hingga saat ini belum ada yang berhasil. Namun, ada juga
Speaker A
rasa iba melihat para peserta yang berjatuhan dan cedera demi sebuah mimpi yang [musik] tidak terwujud. Sang Prabu berdiri dari singgahsananya. tangannya sudah hampir menjangkau gong yang ada di dekatnya siap untuk dipukul sebagai tanda bahwa sayembara telah resmi ditutup tanpa pemenang dan kemudian
Speaker A
semuanya berubah dari arah kejauhan dari pinggiran kerumunan penonton muncul sebuah sosok yang langsung membuat seluruh suasana [musik] yang tadinya mulai lesu itu kembali menegang dalam sekejap sosok itu berjalan [musik] dengan langkah yang mantap dan penuh keyakinan kerumunan yang secara naluriah membuka
Speaker A
jalan bagi sosok yang satu ini. Sosok itu adalah seorang pemuda. Tubuhnya tegap, bahunya lebar, dan cara dia berjalan memancarkan aura kekuatan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Namun, ada satu hal yang membuat seluruh pandangan mata di alun-alun itu terpaku
Speaker A
padanya. Membuat bisik-bisikan langsung merebak di antara para penonton. membuat beberapa orang tanpa sadar mundur selangkah ke belakang. Pemuda itu memiliki kepala seekor lembu. Ya, Anda tidak salah dengar. [musik] Di atas tubuh manusia yang kokoh itu bertengger sebuah kepala lembu yang sempurna,
Speaker A
lengkap dengan tanduk yang kuat dan menonjol. Mata yang besar dan hitam mengkilap, dan nafasnya yang berat saat menghembuskan udara dari lubang hidungnya yang besar. [musik] Suasana alun-alun yang tadinya sudah mulai ribut kembali berubah menjadi hening yang sangat aneh. [musik] Sebuah
Speaker A
keheningan yang terasa seperti semua orang sedang menahan nafas pada saat yang bersamaan. Pemuda berkepala lembu itu terus berjalan maju dengan tenang tanpa terganggu sedikit pun oleh tatapan-tatapan heran dan ketakutan [musik] yang ditujukan kepadanya dari segala penjuru. Dia berjalan hingga ke depan
Speaker A
berhenti [musik] di jarak yang cukup hormat dari Singgasana Prabu Brawijaya. Kemudian membungkuk dengan sopan. Ampun wahai Gusti Prabu," [musik] katanya dengan suara yang berat namun jelas dan sopan.
Speaker A
"Apakah hamba diperkenankan untuk mengikuti sayembara yang mulia ini? Ada jeda hening. Beberapa detik, Prabu Brawijaya menatap sosok di depannya dengan mata yang tajam, menilai dan mempertimbangkan.
Speaker A
Para pengawal di sekitar singgah sana sudah memegang senjata mereka dengan lebih erat. Kewaspadaan mereka meningkat drastis. Kamu ini siapa, Ki Sanak?" [musik] tanya Sang Prabu. Akhirnya suaranya terdengar lebih seperti pertanyaan yang serius daripada sekadar basa-basi. "Hamba biasa dipanggil lembu
Speaker A
Suro, "Gusti Prabu," jawab pemuda itu dengan tenang. Prabu Brawijaya terdiam sejenak dalam hatinya beliau meremehkan sosok di depannya. Bagaimanapun juga ini adalah seorang manusia berkepala lembu.
Speaker A
Meskipun kedua pusaka itu belum bisa ditaklukkan oleh siapapun sepanjang hari ini, Sang Prabu tetap merasa yakin bahwa makhluk seperti lembu Suro tidak mungkin mampu melewati ujian [musik] yang sudah membuat para kesatria pilihan pun bertekuk lutut. Heh, baiklah, kamu boleh
Speaker A
mengikuti sayembara ini," kata Sang Prabu akhirnya [musik] dengan nada yang mengandung sedikit kesewenangannya sebagai raja. Para penonton mulai berbisik-bisik. Ada yang menggelengkan kepala dengan rasa tidak percaya. Ada yang tertawa kecil. Ada pula yang justru menatap Lembu Suro dengan rasa penasaran
Speaker A
yang besar. Ingin [musik] tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Lembu Suro berjalan mendekati busur Kiai Garuda Yaksa dengan langkah yang tenang dan mantap. Tidak ada keraguan sama sekali dalam setiap langkahnya. [musik] Tidak ada ketegangan yang terlihat di tubuhnya. Seolah-olah bagi dirinya ini
Speaker A
bukanlah sesuatu yang luar biasa. Lembu Suro membungkuk, tangannya menjangkau busur pusaka itu. [musik] Dan kemudian dengan gerakan yang tampak sangat wajar dan tidak terlalu memaksakan diri, dia merentangkan busur Kiai Garuda Yaksa sepenuhnya sempurna. Seluruh alun-alun meledak dengan suara riuh yang
Speaker A
menggelegar. Tepuk tangan dan sorak-sorai para penonton bergemah hingga ke langit. Bahkan para pengawal yang tadinya tegang pun tidak bisa menyembunyikan rasa takjub mereka. Busur yang tidak bisa ditaklukkan oleh puluhan kesatria sepanjang hari ini berhasil direntangkan oleh lembu Suro.
Speaker A
Seolah-olah itu hanyalah busur kayu biasa yang bisa ditemukan di mana-mana. Di kursinya dia Ayu Pusparini merasakan jantungnya terasa seperti berhenti berdetak. Wajahnya yang semula cantik berseri kini pucat pasi. Tangannya mengepal erat di atas pangkuannya.
Speaker A
[musik] Matanya memandang ke arah lembu Suro dengan tatapan yang bercampur antara ketidakpercayaan dan ketakutan yang mulai merayap naik dari dalam dadanya.
Speaker A
[musik] Tidak, tidak mungkin. Bisiknya pelan. Nyaris tidak terdengar oleh siapapun. Namun kenyataan tidak peduli dengan bisikan harapan sang putri.
Speaker A
Lembu Suro sudah berhasil di ujian pertama [musik] dan kini dia berbalik menghadap Gong Kiai Sekar Delima.
Speaker A
Keheningan yang berbeda kini turun menyelimuti alun-alun. Ini bukan lagi keheningan yang muncul karena takjub atau heran.
Speaker A
Ini adalah keheningan yang muncul karena semua orang yang ada di sana dari penonton biasa hingga para pengawal kerajaan dari para peserta sayembara yang sudah gagal hingga Prabu Brawijaya sendiri semuanya menahan nafas dan memusatkan seluruh perhatian mereka pada apa yang akan terjadi selanjutnya.
Speaker A
Karena semua orang tahu bahwa jika lembu Suro berhasil mengangkat Kiai Sekar Delima, maka [musik] segala sesuatunya akan berubah selamanya. Dia Ayu Pusparini merapatkan jari-jarinya hingga sendi-sendinya memutih. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia berdoa dengan sungguh-sungguh. Dia berdoa
Speaker A
kepada seluruh kekuatan gaib yang ada di alam semesta ini [musik] agar lembu suro gagal. Agar gong raksasa itu tetap tidak bergerak meski dicoba oleh sosok yang sudah berhasil merentangkan busur Kiai Garuda Yaksa dengan begitu mudahnya.
Speaker A
Namun doa sang putri seberapa [musik] tulus dan seberapa sungguh-sungguh pun dipanjatkan tidak bisa mengubah apa yang sudah menjadi takdir. Lembu membungkuk.
Speaker A
Kedua tangannya melingkar di bawah gong kiai Sekar delima yang besar dan berat. [musik] Ada hembusan nafas panjang yang dia keluarkan. Dan kemudian dengan tenaga yang mengalir dari seluruh penjuru tubuhnya, dia mengangkat gong itu. Gong Kiai Sekar Delima terangkat ke udara.
Speaker A
Alun-alun kembali pecah dengan sorakan yang jauh lebih keras dari sebelumnya. Para penonton berteriak kegirangan, bertepuk tangan dengan gempita, saling berpandangan dengan ekspresi tidak percaya, namun penuh kegembiraan karena akhirnya ada yang berhasil memenangkan sayembara yang sudah hampir dianggap tidak mungkin dimenangkan oleh siapun.
Speaker A
Lembu Suro meletakkan gong itu kembali ke tempatnya dengan perlahan dan hati-hati. Kemudian dia berdiri tegak menatap ke arah singgahsana Sang Prabu menunggu. Di atas singgasananya, Prabu Brawijaya terdiam cukup lama. [musik] Beliau menatap lembu suro dengan tatapan yang tidak bisa dibaca dengan mudah. Di
Speaker A
dalam benaknya berkecamuk begitu banyak pikiran dan pertimbangan. Namun pada akhirnya seorang raja sejati tidak bisa mengingkari perkataannya sendiri.
Speaker A
Sayembara sudah diumumkan secara resmi. Aturan mainnya sudah jelas dan pemenangnya sudah ada. Di sebelahnya, Diah Ayu Pusparini sudah tidak lagi bisa menahan air matanya. Dengan mata yang berkaca-kaca dan wajah yang menunduk, sang putri perlahan berdiri dari kursinya tanpa mengatakan sepatah kata
Speaker A
pun kepada siapun. Dia berjalan meninggalkan tempat upacara dengan langkah yang berat. Seolah-olah setiap langkahnya harus melawan gravitasi yang mendadak terasa berlipat ganda.
Speaker A
Orang-orang yang melihatnya pergi hanya bisa saling berpandangan dengan perasaan [musik] yang tidak nyaman. Suara sorakan dan kegembiraan yang tadi begitu ramai perlahan mengecil digantikan oleh bisik-bisik yang penuh kepedulian tentang sang putri yang pergi dengan air mata di pipinya. Prabu Brawijaya
Speaker A
memandangi kepergian putrinya dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Hatinya seperti terbelah menjadi dua. Separuhnya hati seorang raja yang harus menepati janji dan menjaga kehormatan takhta. [musik] Separuhnya lagi hati seorang ayah yang melihat anaknya pergi dengan air mata
Speaker A
[musik] dan hati yang hancur. Demi martabat seorang raja dan kehormatan Majapahit, Prabu Brawijaya akhirnya mengumumkan bahwa Lembu Suro adalah pemenang sayembara. Sesuai aturan yang telah ditetapkan, Lembu Suro berhak untuk memperistri Diah Ayu Pusparini.
Speaker A
Berita itu menyebar ke seluruh kerajaan dalam waktu singkat. Hari-hari berikutnya menjadi hari-hari yang sangat berat bagi Diah Ayu Pusparini. [musik] Sang putri mengurung dirinya di dalam kamar, menolak makan, menolak berbicara dengan siapun. Kamarnya yang biasanya semerbak harum bunga-bunga pilihan kini
Speaker A
terasa pengap dan sunyi. Sang putri hanya berbaring menatap langit-langit. terkadang menangis tanpa suara, terkadang hanya diam dengan tatapan kosong yang membuat semua orang yang melihatnya merasa ngeri sekaligus sedih.
Speaker A
Para dayang dan pengasuh mencoba mendekatinya, membawa makanan, dan menghiburnya. [musik] Namun semuanya ditolak. Sang putri tidak ingin dihibur karena menurutnya tidak ada penghiburan yang bisa mengubah kenyataan pahit yang harus dihadapinya. Namun ada satu orang yang tidak menyerah. Seorang inang
Speaker A
pengasuh tua yang sudah merawat Diah Ayu sejak bayi. Perempuan yang mengenal seluk-beluk kepribadian sang putri lebih dari siapun. Perlahan [musik] dia mendekati sang putri, duduk di sisi ranjangnya dan berbicara dengan suara yang lembut namun penuh kearifan. Tuan putri bisik sang inang dengan penuh
Speaker A
kasih. Hamba tahu betapa beratnya beban di hati tuan putri. Hamba tidak akan menghibur dengan kata-kata manis yang kosong. Tetapi hamba memiliki sebuah saran. Sang putri melirik ke arahnya dengan mata yang masih sembab dan merah, tidak berkata apa-apa. Namun tatapannya
Speaker A
menunjukkan bahwa dia mendengarkan. [musik] Tuan putri bisa mengajukan satu syarat lagi kepada lembu Suro, kata Sang Inang perlahan. sebuah syarat sebagai bukti kesungguhannya sebelum pernikahan berlangsung. Dan syarat itu haruslah sesuatu yang sangat sulit bahkan mustahil untuk diselesaikan dalam waktu
Speaker A
semalam. Sang putri perlahan duduk tegak. [musik] Matanya yang tadinya kosong mulai menunjukkan secercah cahaya harapan.
Speaker A
Syarat apa yang Inang maksudkan? [musik] Tanyanya pelan. Inang pengasuh itu mendekatkan dirinya ke telinga sang putri. dan berbisik. Semakin lama sang putri mendengarkan, semakin besar cahaya harapan yang muncul di matanya.
Speaker A
Syaratnya adalah ini. Lembu Suro harus membuatkan sebuah sumur di puncak Gunung Kelud sebagai tempat mandi sang putri kelak. Dan yang terpenting [musik] seluruh pekerjaan itu harus selesai dalam satu malam sebelum Fajar menyingsing putri segera menyampaikan syarat itu kepada Lembu Suro. Dan Lembu Suro tanpa
Speaker A
berpikir panjang, tanpa menunjukkan keraguan sedikit pun langsung [musik] menyanggupinya. Ada sesuatu dalam cara Lembu Suro menerima syarat itu yang seharusnya membuat siapapun waswas.
Speaker A
Seolah-olah tantangan yang bagi manusia biasa terdengar mustahil. Baginya tidak lebih dari sekadar pekerjaan ringan sehari-hari. Maka pada sore harinya rombongan besar pun berangkat menuju Gunung Kelut. Di depan rombongan berjalanlah lembu suro dengan langkah tegap dan mantap. Di belakangnya para
Speaker A
pengawal dan pembesar kerajaan. Serta di antara mereka dalam tandu yang tertutup kain halus. Duduklah dia Ayu Pusparini dengan hati yang kembali bergemuruh oleh campuran harapan dan ketakutan. Ketika matahari akhirnya terbenam dan langit berubah menjadi kanvas gelap berbintang, rombongan itu tiba di puncak Gunung
Speaker A
Kelut. Angin di puncak gunung bertiup kencang dan dingin membawa aroma belerang yang tajam menusuk hidung.
Speaker A
Tanpa banyak kata, Lembu Suro langsung memulai pekerjaannya. Dia menurunkan dirinya ke tanah dan kemudian mulai menggali dengan menggunakan kedua tanduknya yang kuat sebagai alat penggali. Suara tanduknya membentur tanah dan batu. Terdengar berdentam-dentam memecah kesunyian malam. Dan ternyata dia menggali dengan
Speaker A
kecepatan yang luar biasa. Dalam waktu yang terasa sangat singkat, lubang sumur itu sudah terbentuk. Tidak lama kemudian, lubangnya sudah semakin dalam.
Speaker A
Lembu Suro terus menggali tanpa jeda, tanpa henti, [musik] tanpa menunjukkan tanda-tanda lelah sama sekali. Dari dalam lubang itu, suara dentaman tanduknya membentur lapisan tanah yang semakin keras, semakin ke bawah, terus terdengar berirama di tengah malam. Para pengawal dan rombongan yang menunggu di
Speaker A
atas permukaan tanah saling berpandangan dengan ekspresi yang semakin menegang. Mereka menghitung waktu. Mereka menilai seberapa jauh pekerjaan lembu suro sudah berjalan. Dan kesimpulan yang mereka dapatkan sama-sama membuat bulu kuduk mereka merinding. Lembu suruh akan selesai sebelum fajar tiba. [musik]
Speaker A
Berita itu segera sampai ke telinga Diah Ayu Pusparini yang sedang duduk tidak jauh dari tempat penggalian [musik] terbungkus dalam selimut tebal melawan angin malam yang dingin. Wajahnya yang sudah pucat semakin pucat mendengar laporan itu. Jari-jarinya menggenggam sudut selimutnya dengan erat hingga
Speaker A
buku-buku jarinya memulih. Panik itu kemudian mengalir dari sang putri ke [musik] ayahnya. Dia Ayu mendatangi sang prabu dengan mata yang memelas, wajah yang dipenuhi keputusasaan, dan [musik] suara yang bergetar.
Speaker A
Ayahanda, tolong tolong hentikan ini. Tolong jangan biarkan dia selesai. Tolong. Prabu Brawijaya memandang putrinya. Di dalam hati yang paling terjadi pertempuran yang sangat sengit.
Speaker A
Pertempuran antara keadilan, kehormatan, dan cinta seorang [musik] ayah kepada anaknya. Sebuah pertempuran yang tidak ada pemenangnya. Karena apapun pilihan yang diambil selalu [musik] ada yang akan tersakiti. Namun cinta seorang ayah ternyata memiliki kekuatan yang melampaui segalanya. [musik] Bahkan
Speaker A
melampaui rasa keadilan yang selama ini menjadi pegangan hidupnya. Sang Prabu berpaling kepada para pengawalnya dengan suara yang pelan, namun mengandung ketegasan yang tidak bisa dibantah.
Speaker A
[musik] Beliau memberikan sebuah perintah. Timbun sumur itu, para pengawal saling berpandangan. [musik] Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang berani membantah. Perintah sudah dikeluarkan dan sebagai pengawal yang setia, [musik] tugasnya hanyalah melaksanakan.
Speaker A
Mereka segera mengumpulkan batu-batu besar dan tanah yang ada di sekitar tempat itu. Dengan gerakan yang cepat dan terkoordinasi, mereka mulai melempar batu dan gumpalan tanah ke dalam sumur yang digali [musik] oleh Lembu Suro. Dari dalam lubang yang semakin tertimbun, suara kerja keras
Speaker A
Lembu Suro tiba-tiba terhenti. Kemudian terdengar suaranya berat dan sedikit bingung bertanya, "Ada apa di atas sana?
Speaker A
Para pengawal tidak menjawab. Mereka terus menimbun. Batu demi batu, gumpalan tanah demi gumpalan tanah, semuanya dilempar ke dalam lubang. Suara lembu Suro berubah. Dari yang semula bingung [musik] menjadi panik. Dari yang panik menjadi teriakan minta tolong. Namun [musik] tidak ada yang merespons
Speaker A
teriakannya. Tidak ada yang berhenti. Penimbunan terus berlangsung. Suara teriakan lembu Suro yang memohon pertolongan dari dalam lubang [musik] itu terdengar semakin sayup-sayup seiring semakin dalamnya penimbunan yang dilakukan. [musik] Dan akhirnya ketika lapisan batu dan tanah sudah memadati seluruh lubang sumur itu, suara teriakan
Speaker A
itu pun lenyap. Gunung Kelut kembali sunyi. Hanya angin malam yang berhembus membawa aroma belerang. Seolah-olah alam pun ikut merasakan kesedihan dan kengerian atas apa yang baru saja terjadi. [musik] Namun, kesunyian itu tidak berlangsung lama.
Speaker A
Dari bawah timbunan batu dan tanah itu, sesuatu yang mengguncang jiwa terjadi. Sebuah suara [musik] mulai terdengar. Bukan suara teriakan minta tolong lagi, bukan suara kesakitan. Ini adalah sebuah suara yang berbeda sama sekali. Suara yang keluar dengan berat dan penuh kepedihan.
Speaker A
[musik] Namun juga mengandung kedalaman amarah yang tidak tergambarkan. Suara lembu Suro. Dengan suara yang semakin melemah, namun terdengar dengan jelas oleh semua orang yang berdiri di sana.
Speaker A
[musik] Lembu Suro mengucapkan sumpahnya yang terakhir. Wahai orang-orang Kediri, wahai seluruh rakyat yang berada di negeri ini, dengarkanlah sumpahku yang aku ucapkan dari dalam liam kubur yang [musik] kalian ciptakan untukku dengan pengkhianatan dan ketidakadilan.
Speaker A
Angin mendadak [musik] berhenti berhembus. Seolah-olah seluruh alam ikut membisu untuk mendengarkan kata-kata yang keluar dari bibir makhluk yang dikubur hidup-hidup itu. Suatu hari nanti kalian semua akan mendapatkan balasanku. Balasan yang setimpal dengan apa yang kalian lakukan kepadaku malam
Speaker A
ini. Kediri akan tenggelam menjadi sungai. Blitar akan berubah menjadi daratan yang luas dan Tulungagung akan menjadi perairan yang dalam. Dan kemudian [musik] seiring dengan kata terakhir yang diucapkannya, suara itu pun lenyap untuk selamanya. [musik] Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang berbicara.
Speaker A
Seluruh rombongan yang berdiri di puncak Gunung Kelut itu terpaku di tempat masing-masing. Mereka menatap satu sama lain. Wajah mereka diterangi oleh cahaya bintang yang terasa lebih redup dari biasanya malam itu. Dan kemudian seseorang mulai menangis pelan menyusul yang lain dan yang lain lagi. Prabu
Speaker A
Brawijaya adalah orang yang bijaksana. [berdehem] Beliau tahu bahwa sumpah yang baru saja diucapkan oleh lembu Suro bukanlah sekadar kata-kata orang yang marah dan putus asa. Di jagat Jawa yang penuh dengan kekuatan gaib dan mistis, sumpah yang diucapkan dengan sebesar itu oleh
Speaker A
seseorang yang memiliki kekuatan setara lembu suro. Dan dalam kondisi yang sedemikian menyedihkan itu bukanlah hal yang bisa dianggap enteng. Sang Prabu [musik] segera bermusyawarah dengan para penasehat dan pemuka agama kerajaan.
Speaker A
[berdehem] Berbagai langkah ditempuh untuk menangkal sumpah itu [musik] agar tidak menjadi kenyataan. Salah satunya adalah membangun tanggul-tanggul pengaman yang kokoh di sekitar kawasan yang disebutkan dalam sumpah lembu suro.
Speaker A
[musik] Tanggul itu dibuat sedemikian besar hingga menyerupai gunung buatan. Dan konon itulah yang hingga hari ini dikenal [musik] sebagai Gunung Pegat.
Speaker A
Selain itu, Sang Prabu juga memerintahkan upacara tolak bala dengan melarung sesaji ke kawah Gunung Klud secara rutin. Upacara ini dilakukan dengan harapan roh lembu Suro yang tersekap di dalam perut gunung bisa ditenangkan dan kemurkaannya diredam.
Speaker A
Selama bertahun-tahun bahkan ratusan tahun kemudian, tradisi larung sesaji ke kawah Gunung Kelud terus dilakukan oleh masyarakat setempat secara turun-temurun. Bukan sekadar ritual kosong, tetapi sebagai ungkapan rasa hormat, permohonan keselamatan, dan pengakuan bahwa di dalam perut gunung yang selalu mengepulkan asap itu ada
Speaker A
sebuah cerita yang tidak boleh dilupakan. Dan kemudian sesekali tidak terduga, tidak bisa diprediksi dengan pasti, Gunung Kelut bergolak, kawahnya mendidih, asapnya membubung tinggi ke langit. Dan pada waktu-waktu tertentu gunung itu meletus dengan dahsyat. Lava panas mengalir menuruni lereng-lerengnya.
Speaker A
Abu Vulkanik berterbangan ke mana-mana, menutupi langit, dan menyelimuti desa-desa di sekitarnya dengan lapisan abu keabu-abuan.
Speaker A
Setiap kali Gunung Klud erupsi, masyarakat di sekitarnya selalu teringat pada kisah lembu Suro. Mereka percaya bahwa setiap letusan adalah amukan lembu Suro, ungkapan amarahnya yang tidak pernah padam, [musik][berdehem] balas dendam atas pengkhianatan yang dilakukan Prabu Brawijaya dan putrinya di malam
Speaker A
gelap di puncak gunung itu. Dan demikianlah sahabat, kisah ini sampai kepada kita. Kisah tentang Lembu Suro dan Gunung Kelut bukan sekadar cerita yang hidup di buku-buku tua berdebu. Kisah ini hidup di dalam denyut nadi masyarakat Jawa Timur, khususnya
Speaker A
mereka yang tinggal di sekitar Kediri, Blitar, [musik] Tulungagung, dan kawasan Gunung Kelut itu sendiri. Diwariskan dari mulut ke mulut, dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan penuh rasa hormat akan kekuatan sebuah legenda yang tidak lekang oleh zaman. Di balik kisah
Speaker A
ini tersimpan pelajaran-pelajaran berharga yang relevan. Bukan hanya untuk zaman dahulu, tetapi juga untuk kita hari ini. Ada pelajaran tentang janji.
Speaker A
Bahwa sebuah janji yang diucapkan secara terbuka memiliki beban moral yang sangat berat. Prabu Brawijaya telah mengumumkan sayembara dengan aturan yang jelas.
Speaker A
Ketika lembu Suro memenangkannya secara sah, janji [musik] itu mestinya ditepati dengan hati yang lapang. Mengingkari janji demi kepentingan pribadi. Betapa pun beratnya selalu membawa konsekuensi yang tidak bisa dihindari. Ada pula pelajaran tentang keadilan. Dia Ayu Pusparini tidak salah karena tidak
Speaker A
mencintai lembu Suro. Tidak ada yang bisa dipaksa mencintai seseorang. Namun [musik] cara yang ditempuhnya menjebak lembu suro dalam syarat yang mustahil dan kemudian mengizinkan sang ayah menguburnya hidup-hidup. adalah sesuatu yang jauh melampaui batas kemanusiaan.
Speaker A
Dan [musik] ada pelajaran tentang alam, bahwa alam tidak pernah lupa. Bahwa setiap tindakan selalu meninggalkan jejaknya dalam keseimbangan yang lebih besar. Gunung Kelut yang sesekali meletus bukan sekadar fenomena geologis.
Speaker A
Bagi masyarakat yang mewarisi kisah ini, setiap letusan adalah pengingat bahwa ada hal-hal yang tidak bisa begitu saja dikubur dan dilupakan meski ratusan tahun telah berlalu di atasnya. Legenda lembu adalah cermin. Di dalamnya kita melihat pantulan watak manusia yang
Speaker A
tidak pernah berubah. [musik] Rasa cinta, rasa takut, ketidakadilan, pengkhianatan, amarah, dan pada akhirnya konsekuensi.
Speaker A
Gunung Kelud masih berdiri kokoh hingga hari ini. Menjulang tinggi di tengah-tengah Jawa Timur. [musik] Kawahnya masih mengepulkan asap secara berkala. Dan sesekali ketika bergolak, dia masih mengingatkan semua orang di sekitarnya bahwa di dalam perutnya tersimpan sebuah kisah yang tidak boleh
Speaker A
dilupakan. [musik] Kisah seorang pemuda berkepala lembu bernama Lembu Suro yang datang dengan harapan, menang dengan kejujuran, [musik] dan pergi dengan sebuah sumpah yang bergema hingga menembus waktu.
Speaker A
Dahulu kala kisah ini terjadi dan selama Gunung Kelud masih berdiri, selama tanah Jawa Timur masih subur dan hijau, selama masyarakat di sekitarnya masih mewarisi ingatan leluhur, [musik] kisah ini tidak akan pernah benar-benar berakhir.
Speaker A
Demikianlah kisah legenda lembu Suro dan asal-usul Gunung Kelud. Kisah yang diwariskan oleh para leluhur sebagai pengingat bahwa keadilan, kejujuran, dan menepati janji adalah nilai-nilai yang tidak boleh pernah kita tinggalkan. Jika kalian menikmati kisah seperti ini, jangan lupa [musik]
Speaker A
tekan tombol suka dan berlangganan channel ini agar tidak melewatkan kisah-kisah legenda Nusantara lainnya yang tidak kalah menarik dan penuh makna. Sampai jumpa di kisah berikutnya, sahabat. Salam budaya.
Speaker A
Salam Nusantara.
Topics:MajapahitPrabu BrawijayaDiah Ayu PusparinisayembaraLembu SuroGunung Keludlegenda Jawapusakacerita rakyatkerajaan Jawa











