Dr. Elving Gunawan membahas proses memulihkan diri secara biologis, psikologis, sosial, dan spiritual untuk kesehatan jiwa yang utuh.
Ask about this video. Answers come from its transcript only — with the timestamp, so you can check them.
Generated from the transcript and can be wrong — check the timestamp.
Key Takeaways
- Pemulihan diri harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya fokus pada satu aspek saja.
- Gaya hidup sehat dan pengelolaan penggunaan gadget penting untuk menjaga kesehatan otak dan fisik.
- Mengenali dan mengelola trauma serta pola attachment dapat meningkatkan kesehatan mental dan hubungan sosial.
- Konseling dan dukungan sosial membantu mengatasi disorganisasi hidup dan masalah emosional.
- Proses spiritual yang konsisten memperkuat ketahanan dan kesejahteraan jiwa.
What the video covers
- Pemulihan diri membutuhkan proses komprehensif meliputi aspek biologis, psikologis, sosial, dan spiritual.
- Kesehatan biologis meliputi kondisi fisik, kesehatan otak, sistem imun, dan pengaruh gaya hidup seperti diet dan penggunaan gadget.
- Penggunaan gadget berlebihan dapat merusak sel otak dan mempengaruhi hormon serta neurotransmitter.
- Kondisi psikologis berkaitan dengan keyakinan dan pengalaman hidup, termasuk trauma dan mekanisme coping maladaptif seperti fight, flight, dan freeze.
- Attachment style atau pola kelekatan mempengaruhi hubungan dan kepercayaan dalam kehidupan dewasa.
- Disorganisasi dalam kehidupan dan ketergantungan pada orang lain sebagai 'obat' masalah harus diatasi melalui konseling.
- Temperamen individu memengaruhi cara seseorang merespon masalah secara emosional dan perilaku.
- Dukungan sosial yang positif penting untuk membangun pola pikir komprehensif dan mengurangi sikap menghakimi.
- Kesejahteraan hidup juga dipengaruhi oleh status ekonomi dan kemampuan mengelola ekspektasi serta proses grieving.
- Proses spiritual harus dijalankan secara konsisten agar nilai-nilai agama dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Chapters
- 00:00Pendahuluan dan tujuan pembahasan
- 01:59Pentingnya olahraga dan diet untuk kesehatan
- 03:49Kesehatan otak, fisik, dan sistem imun
- 05:43Pengaruh gadget dan digital wellbeing
- 07:12Mekanisme coping: fight, flight, freeze
- 08:54Attachment style dan hubungan sosial
- 10:54Disorganisasi hidup dan pentingnya konseling
- 12:06Dukungan sosial dan pola pikir komprehensif
- 13:59Kesejahteraan hidup dan proses grieving
- 16:50Perencanaan mimpi dan tujuan hidup
Full Transcript — Download SRT & Markdown
Speaker A
[Musik] Hai teman-teman Karadir Class dan Mental Hub. Senang banget ketemu lagi bareng aku Dr. Elving Gunawan, spesialis kedokteran jiwa.
Speaker A
Nah, teman-teman, kita mau bahas apa sih? Banyak banget proses belajar yang teman-teman bisa temukan di podcast-nya Healing Room by Mental Hub.
Speaker A
Eh, silakan Anda mengambil materinya, pelajari. Jangan lupa bikin catatan ya, teman-teman. Karena setiap teori yang baik kalau tidak diaplikasikan tetap hanya menjadi pengetahuan tapi tidak akan mengubah hidup Anda.
Speaker A
Nah, sebagai suatu analogi adalah sampai saat ini kita belum pernah nih berhasil menemukan
Speaker A
komposisi obat ataupun racikan-racikan obat, paket-paket obat yang bisa membuat orang menjadi rajin, yang bisa membuat orang jadi berani berkata tidak,
Speaker A
yang bisa membuat orang berani untuk melakukan sesuatu di luar keinginannya atau menantang dirinya dengan pengalaman baru selama orangnya tidak mau. Misalnya,
Speaker A
teman-teman tahu nih kalau misalnya berolahraga itu bisa meningkatkan kesehatan badan. Teman-teman tahu nih kalau mau menurunkan berat badan harus mau mengurangi makanan-makanan manis, mengurangi makanan-makanan tinggi garam dan perasa penguat rasa misalnya.
Speaker A
Tapi selama teman-teman tidak melakukan, maka akan sulit sekali keluar dari lingkaran obesitas. Maupun teman-teman minum berbagai suplemen ataupun melakukan berbagai terapi, tapi kalau tidak di-maintain kan tetap aja berat badannya naik. Sama dengan kesehatan jiwa. Kalau teman-teman tidak melakukan
Speaker A
itu dengan komprehensif, teman-teman hanya melakukan yang teman-teman mau saja, teman-teman tidak mau belajar sesuatu yang baru, teman-teman tidak mau mengubah kebiasaan habit buruk teman-teman, teman-teman tetap menjalankan coping mechanism yang maladaptif, maka sulit sekali untuk mencapai titik pulih. Jadi, mari kita
Speaker A
berproses bersama, ya. Nah, di materi kali ini kita akan belajar apa sih yang namanya proses memulihkan diri? Karena tahap pertama kita harus mendapatkan proses whole self namanya. Bagaimana kita menjadi utuh whole secara diri sendiri, secara kognitif, secara emosi,
Speaker A
secara kontrol perilaku sehingga habit-habit behavior yang kita buat itu adalah habit-habit yang sehat. Nah, keseluruhan diri ini atau whole self ini sebenarnya adalah target dari suatu terapi. Karena di aspek ini kita melihat yang namanya perubahan biologis, perubahan psikologis, perubahan sosial,
Speaker A
dan perubahan kehidupan spiritual kita. Kenapa? Karena kondisi biologis kita itu akan menyebabkan kondisi fisik kita sehat, kondisi fisik kita prima dalam menghadapi masa-masa pemulihan kita.
Speaker A
Kita melihat dari kesehatan otak kita, kita melihat dari fisik yang prima, kita juga melihat dari respon imun kita. Jadi mungkin ada beberapa teman-teman kalau teman yang satunya bersin, kalau di dia malah jadi influenza gitu ya. Atau misalnya yang satu batuk kalau di dia
Speaker A
bisa keluarnya tiba-tiba bronk pneumonia. Nah, atau misalnya bagaimana koneksi antara otak dengan lambung atau saluran pencernaan. Jadi, ada beberapa teman-teman yang mungkin kalau lagi stres lambungnya kambuh, sendawa terus-menerus, rasa perih, rasa ingin muntah, atau ada beberapa yang bahkan
Speaker A
munculnya menjadi diare dan konstipasi. Artinya ada masalah dalam koneksi otak dengan saluran cerna. Lalu ada juga masalah dengan diet lifestyle. Jadi masalah biologis ini di diet lifestyle misalnya kalau teman-teman stres, teman-teman cari makanan-makanan yang prosesnya adalah ultra processing food.
Speaker A
Jadi misalnya yang digoreng dengan minyak panas berulang-ulang, makanan-makanan olahan, makanan-makanan manis, makanan-makanan tinggi penguat rasa, makanan-makanan yang diawetkan untuk waktu yang sangat lama. Tentunya ini akan mengganggu mikrobiom atau mengganggu probiotik di daerah lambungnya. Lalu masalah lain adalah
Speaker A
nervus vagus yang kita tahu ini menjadi salah satu penyebab depresi dan cemas. Lalu ada juga genetik gitu ya. Jadi, teman-teman, ada penelitian yang menarik. Penelitian ini menyatakan kalau kita terlalu lama terpapar oleh proses-proses radiofrekuensi atau intinya mah terpapar oleh
Speaker A
sinyal-sinyal radiofrekuensi dari gadget atau alat-alat elektronik, ternyata itu menyebabkan sel otak mengalami apoptosis atau mengalami masalah-masalah dalam siklus di otaknya.
Speaker A
Jaringan-jaringan otak terganggu ini menyebabkan masalah di hormonal, masalah di neurotransmitter, masalah di kondisi otaknya sendiri. Jadi awasi juga ya penggunaan gadgetmu. Hal termudah adalah teman-teman membuka bagian digital wellbeing. Lalu lihat berapa lama teman-teman berselancar setiap harinya di sosial media. Batasi
Speaker A
ya maksimal 3 jam sampai 4 jam sehari. Nah, beranjak dari kondisi biologis, kita beranjak yang selanjutnya adalah ke kondisi psikologis. Kondisi psikologis sering sekali berkaitan dengan belief atau keyakinan yang kita buat terhadap suatu kejadian atau suatu pengalaman hidup. Nah, belief ini biasanya terjadi
Speaker A
dari muatan-muatan memori dan muatan-muatan pengalaman hidup kita. Entah itu menguntungkan, menyenangkan, atau merugikan atau justru pengalaman-pengalaman buruk. Inilah yang disebut dengan trauma. Suatu kejadian apapun dalam kehidupan kita yang membuat kita mengalami emosi negatif baik itu berkelanjutan ataupun selesai di saat
Speaker A
itu. Belief ini akan membantu teman-teman untuk menghadapi dengan lebih baik atau kita sebutnya resilience ketika teman-teman bertumbuh atau justru yang muncul adalah proses traumatik yang menyebabkan masalah mental emosional.
Speaker A
Kenapa? Karena terjadi penguatan antara fight dan flight. Bagaimana teman-teman melawan atau teman-teman malah kabur setiap ada masalah atau bisa juga teman-teman freeze. Jadi ada beberapa orang yang kalau lagi mengalami masalah itu munculnya adalah bengong atau misalnya munculnya adalah seperti orang
Speaker A
yang tidak berada di momen sekarang. Itu adalah proses dari respon ketika menghadapi masalah fight dan flight ini sebaiknya teman-teman tulis di agenda.
Speaker A
Itulah mengapa kalau teman-teman membuka jurnal ada tahapannya momen yang triggering, lalu respon perilaku dan respon emosinya seperti apa. Kalau teman-teman terlalu banyak fight, mungkin orang akan melihatnya menjadi orang yang sangat arogan karena teman-teman tidak bisa menahan respon dan langsung balik menyerang. Tapi kalau
Speaker A
teman-teman munculnya adalah selalu flight, teman-teman akan dilihat sebagai seorang yang selalu menghindari masalah. Karena setiap ada masalah, teman-teman selalu cenderung kabur dari masalah. Entah dengan cepat segera mengiyakan supaya masalah ini selesai, enggak apa-apa aku yang berkorban atau
Speaker A
teman-teman menghilang. Jadi akhirnya membuat orang lain bingung apa yang terjadi dengan teman-teman. Ketika di-approach mungkin teman-teman akan semakin masuk ke dalam gua dan tidak ingin ditemui. Nah, proses psychological ini juga termasuk ke dalam style attachment atau kelekatan kita. Misal,
Speaker A
ada beberapa teman-teman yang memiliki masalah dengan rasa percaya. Ketika teman-teman punya pengalaman buruk terkait dengan kepercayaan, terkait dengan pengkhianatan, biasanya attachment style ini akan bermasalah ketika kita berelasi sebagai orang dewasa. Ada yang cenderung menghindari komitmen, ada yang tidak bisa menjaga
Speaker A
komitmen, ada yang munculnya adalah ketakutan ketika harus memulai hal yang baru, ketika mendapat tantangan. Itu adalah proses attachment style. Atau ada juga loh teman-teman yang kehidupannya terlalu keos sehingga teman-teman merasa kalau bertemu dengan orang-orang yang baik-baik saja atau orang-orang yang
Speaker A
stabil justru malah bingung, merasa tidak nyaman karena tidak menantang. Mungkin hati-hati jangan-jangan Anda sudah mengalami adiksi kortisol. Jadi teman-teman selalu mencari tantangan-tantangan baru dengan membuat masalah-masalah kehidupan walaupun tahu ada pilihan yang lebih baik. Kalau teman-teman punya masalah hidup yang
Speaker A
terlalu disorganize atau tidak terorganisasi dalam proses kehidupannya, jangan lupa ya, Anda harus konseling supaya proses ini selesai dan tidak ditimpakan pada orang lain. Sering sekali orang itu berharap orang lain menjadi obat untuk masalah hidupnya.
Speaker A
Nah, lalu
Speaker A
Jadi ketika Teman-teman memiliki em pola pikir bahwa pola masalah generasi sebelumnya ini harus selesai diaku, kita menyelesaikan dua masalah. Bagaimana kita menyembuhkan diri kita sendiri.
Speaker A
Yang kedua, kita juga mengubah pola itu ke generasi selanjutnya. Jadi, proses belajar dan healing dilakukan bersama di waktu yang bersamaan tentunya akan melelahkan. Tapi jangan menyerah ya, kita lewatin bareng-bareng. Nah, pola ini juga tentunya mengajarkan kita untuk membuat bonderis. Bagaimana kita tahu
Speaker A
kalau pola ini tidak tepat, pola ini tidak baik, sehingga kita bisa berkata tidak dan stop di saya. Itu juga PR penting, Teman-teman. Karena biasanya pengalaman ketika mendapatkan pola dari orang tua, pola ini akan diulang. dengan kalimat di zaman saya berhasil, di zaman
Speaker A
saya bisa, di zaman saya memungkinkan. Sehingga akhirnya menjadi masalah buat kehidupan kita. Dan orang-orang yang memberikan racun-racun ini atau memberikan pola-pola yang salah ini tentunya akan terus mengulang-ulang kalimat ini ketika mereka tidak sadar dan tidak mau berubah. Lalu juga masalah
Speaker A
kaitannya, masalah psikologis ini juga kaitannya dengan temperamen individual. Kenapa? Karena seseorang itu kalau mengalami masalah temperamental sering sekali sulit untuk menilai apakah ini tepat atau tidak. Jadi cenderung melakukan sesuatu secara perilaku dirive atau didorong oleh emosional tanpa berpikir secara logik ini layak, ini
Speaker A
benar atau ini tepat tidak untuk dilakukan. Untuk teman-teman yang cenderung men-drive dirinya dengan emosi lalu menyesal di akhir, belajarlah untuk meningkatkan kontrol diri. Mungkin hal yang paling simpel adalah bernafaslah lima kali inhale exhale sebelum memutuskan sesuatu. Apalagi kalau hal
Speaker A
tersebut adalah hal yang berat. Sering sekali pasien itu atau klien itu mengambil keputusan di saat emosinya tidak baik-baik aja, di saat dia sedang marah, di saat dia sedang sedih, di saat dia sedang kecewa. sehingga proses pemutusan ee masalah ini tidak dilakukan
Speaker A
dengan sintesis data yang baik, tidak dilakukan dengan kontrol masalah yang tepat, tidak dilakukan dengan em proses analisis yang baik dan akhirnya menyelesaikan masalah dengan membangun masalah baru. Nah, kita lanjut nih yang selanjutnya adalah social life, Teman-teman. Sosial life ini akan sangat
Speaker A
menentukan bagaimana kita berpikir. Kalau kita punya peer group atau teman-teman sebaya atau teman-teman diskusi yang cenderung sehat, cenderung positif, cenderung senang belajar, tentu pola kita sering sekali terbawa. Karena ketika mengambil keputusan kita akan diberikan suatu ee insight atau suatu
Speaker A
pemahaman. Ayo kamu cari sendiri. Ayo, kamu belajar kira-kira apa hal baik dan hal buruk yang terjadi dari masalah itu.
Speaker A
Dengan proses ini, proses pemikiran kita punya kebiasaan untuk melihat segala sesuatu lebih komprehensif. Tapi bayangkan kalau Anda punya peer support yang cenderung men-judge orang lain atau cenderung menghakimi orang lain dengan cepat. Sehingga masalah yang muncul adalah menjadi mudah sekali melihat
Speaker A
segala sesuatu tuh dengan kacamata yang kecil, dengan kacamata kuda. Dan akhirnya proses ini berulang berulang dan akhirnya menjadi habit dari proses pikir kita. Jadi, lingkungi lindungilah dirimu dengan orang-orang yang sehat ya teman-teman. Orang-orang yang membantu kamu menjadi lebih baik. Orang-orang
Speaker A
yang tidak membuat kamu insecure, orang-orang yang menghargai setiap proses kehidupanmu. Dan orang-orang yang mendorong kamu untuk menjadi versi terbaik setiap harinya. Lalu yang kedua adalah situasi keluarga. Nah, bagian dari kehidupan sosial kita tidak putus dari kehidupan berkeluarga. Masalahnya
Speaker A
keluarga kita ini apakah sehat atau tidak? Jangan lupa apalagi kalau teman-teman kali teman-teman punya keluarga yang em kehidupan sosialnya kita tahu sering sekali memberikan banyak kritik, sering sekali memberikan banyak pembanding, sering sekali menjelekkan orang lain untuk merasa oke.
Speaker A
Karena orang yang jealous sering sekali me jelekkan orang lain supaya dia merasa dirinya baik-baik saja. Jadi kalau kita ada di lingkungan situasi keluarga yang tidak baik-baik aja, belajarlah menentukan tembok batasan sejauh mana Anda bisa mentoleransi. Bukan berarti Anda harus memutuskan silaturahmi, tapi
Speaker A
belajar semaksimal mana bisa saya lakukan untuk berinteraksi agar saya tidak mengalami stres. Lalu, kehidupan sekolah. Untuk teman-teman yang masih remaja, pilihlah kehidupan sekolah, teman-teman sekolah yang membuat Anda merasa bahagia. Tidak perlu dikenal banyak orang, tidak perlu menjadi tim A
Speaker A
di mana pun Anda berada, tapi Anda merasa bahagia, Anda merasa cukup, dan Anda merasa sejahtera dengan kehidupan Anda sendiri. Lalu, status ekonomi tentunya untuk teman-teman yang sedang berjuang entah itu menjadi sandwich generation ataupun menjadi bread winner dalam keluarganya, tentukan batasan di
Speaker A
mana status ekonomi Anda juga dalam kondisi yang sehat ya, Teman-teman. Ketika Anda memperbaiki diri Anda, tentu Anda membutuhkan modalitas ekonomi untuk upgrade the skill. Jadi, jangan sampai Anda stres karena masalah ekonomi. Anda punya penghasilan yang banyak, tapi habisnya untuk orang lain. Terus ketika
Speaker A
Anda membutuhkan, tidak ada yang peduli. Ketika Anda membutuhkan, tidak ada yang membantu. Belajarlah untuk mencukupkan diri Anda sendiri. Dan kalau berlebih, bagilah itu untuk orang lain yang layak.
Speaker A
Ya, Teman-teman. Berbuat baiklah di tempat yang tepat supaya Anda tidak mengalami proses yang disebut parasitisme.
Speaker A
Lalu budaya kita dan kalau memang harus bersedih, kalau memang merasa kecewa, izinkan itu terjadi. Terlalu positif atau kita sebut dengan toxic positivity juga mengganggu ya, Teman-teman. Ketika kita mengalami masalah, ketika kita sedih, lalu yang muncul adalah penghakiman buat orang lain. Yang muncul
Speaker A
adalah judgement. Seakan-akan bersedih adalah sesuatu bentuk kita tidak bersyukur atau kita tidak memiliki kehidupan spiritual yang baik. Bersedih adalah proses yang normal ketika kita kehilangan sesuatu yang berharga dan sesuatu yang kita cinta. Bentuknya beraneka ragam. Bisa harga diri, bisa
Speaker A
relasi, bisa pencapaian hidup, bisa ekspektasi, bisa mimpi. Jadi kalau kamu kehilangan sesuatu yang menurut kamu berharga, sesuatu yang menurut kamu adalah hal yang indah, bersedih adalah hal yang normal. Nikmati momen grievingmu supaya kamu bisa kembali dengan lebih baik. Nah, kita mau
Speaker A
membahas yang namanya kehidupan spiritual. Kehidupan spiritual ini penting, Teman-teman, untuk membuat kita punya tujuan dalam kehidupan. Sering sekali orang bingung ketika ditanya, "Apa tujuan kamu hidup?" Kalau bagi aku mungkin bertahan dan bertumbuh. Tapi orang lain ada yang bingung. "Ya, yang
Speaker A
penting jalanin aja, Dok. Seperti daun mengalir di sungai." Nah, hal itu tentu menjadi masalah, Teman-teman. Karena ketika ada masalah, kita kehilangan yang namanya jangkar di masa depan. Kalau kita berjalan dengan kehidupan yang seadanya aja, itu mungkin baik tahap
Speaker A
survival supaya kita tidak stres, kita tidak bermasalah. Tapi kalau kita ingin bertumbuh, simpanlah banyak jangkar di masa depan supaya kita tahu saat kita enggak baik-baik aja, ada banyak yang membantu kita bertahan melawan arus kehidupan yang mungkin sedang enggak
Speaker A
baik-baik aja. Mungkin teman-teman pengin punya mm sekolah gratis, mungkin teman-teman ingin punya LPK yang membantu orang-orang tidak mampu.
Speaker A
Teman-teman ingin punya em startup yang membantu anak-anak muda bertumbuh, jangan berhenti bermimpi ya, Teman-teman. Bikin mimpi itu berjenjang.
Speaker A
Kalau misalnya saya pengin punya sekolah gratis 10 tahun ke depan tentunya dari tahun pertama, tahun kedua, tahun ketiga sampai tahun ke-10 saya harus punya bagaimana saya m-breakdown mimpi ini menjadi mimpi yang bisa saya raih setiap tahunnya. Jadi kalau teman-teman hanya
Speaker A
bikin mimpi terlalu besar tapi tidak bisa m-breakdown-nya, lama-lama jadi putus asa ya teman-teman. Belajarlah untuk m-breakdown mimpi itu supaya kita tahu setiap tahun kita punya progres untuk mencapai sesuatu yang kita mimpikan. Nah, apa sih masalah dengan kehidupan spiritual? Menurut aku,
Speaker A
spiritual ini penting, Teman-teman. Banyak orang bereligi dengan baik, tapi tidak menjalani kehidupan spiritualnya dengan baik. Mereka rajin beribadah, mereka rajin untuk menunjukkan kalau mereka adalah umat beragama. tapi mereka masih mengambil hak orang lain entah itu dengan korupsi atau misalnya ee
Speaker A
mengambil jabatan orang lain dengan menikung dengan cara yang tidak sehat atau misalnya merasa bangga dengan em sesuatu hal yang tidak etis atau tidak sesuai dengan norma hukum. Atau ada juga orang-orang yang rajin ee beragama tapi mulutnya sering sekali meremehkan orang
Speaker A
lain, menghina orang lain. Atau ada juga yang melakukan sesamanya dengan buruk gitu ya. dia hanya melakukan sesamanya yang lebih tinggi, yang lebih berjabat, atau mungkin orang-orang yang lebih kaya dengan lebih baik. Tapi kalau yang setara atau di bawahnya dia
Speaker A
memperlakukan seakan-akan mereka bukan manusia atau kita sebutnya dehumanize. Nah, em banyak sekali momen-momen ini aku temuin dalam konsul-konsul praktik klinik karena akhirnya orang jadi bertanya, "Kenapa ya, Dok, dia beribadah dengan sangat kuat tapi dia memperlakukan sesamanya dengan sangat
Speaker A
buruk?" Artinya kehidupan beribadahnya tidak dilanjutkan ke kehidupan spiritualnya. Kalau dibilang ternyata nilai-nilai yang dia dapatkan di nilai-nilai agamanya ini hanya dijadikan bahan narasi saja untuk khotbah, untuk pembukaan, atau mungkin untuk menasehhati orang lain, tapi dia sendiri tidak bisa menjalankan itu dengan baik.
Speaker A
Kenapa? Karena proses spiritual ini di level kepemimpinan baik itu kepemimpinan diri sendiri atau orang lain tentunya membuat kelekatan antara dia dengan yang maha kuasa. ketika dia merasa bahwa dia melekat atau misalnya dia berharap, dia meyakini bahwa dirinya itu hanya em
Speaker A
ciptaan di balik suatu hal yang besar, di balik Tuhan Yang Maha Kuasa, tentunya dia akan sangat berhati-hati dalam kehidupannya karena dia tahu kekayaan, kekuasaan, hal yang dititipkan pada dia itu bisa diambil dalam hitungan millisek. Jadi ketika kita berhati-hati
Speaker A
dalam kehidupan melakukan sesuatu dengan sangat baik, kita tahu bahwa Tuhan bisa memberikan mungkin kalau di teman-teman muslim hisab ya atau di tempat aku mungkin karma yang berjalan entah mungkin bukan buat aku tapi buat keturunan-keturunanku. Mungkin dia akan menjaga hidupnya dengan lebih baik dan
Speaker A
dia sangat-sangat mengimani dan menghidupi apa yang menjadi nilai-nilai agamanya. Yang kedua adalah dia melihat dan dia memperlakukan sesamanya sama seperti pencipta memperlakukan umatnya.
Speaker A
Jadi kalau misalnya pencipta ini memperlakukannya dengan sangat rahim, dengan sangat baik, dengan penuh kasih sayang, maka dia akan melakukan sesamanya pun seperti itu. Kalau misalnya dia memperlakukan sesamanya dengan baik, tidak perlu ketika ada kamera dia baru berlaku baik. Tapi di
Speaker A
setiap aspek kehidupannya ketika dicobai oleh pengalaman kehidupan, dia melakukan yang sama. Karena otot baiknya atau otot aku biasanya menyebutkannya sebagai otot perilaku, ya. Otot perilaku baiknya ini memang sesuatu hal yang dia bangun, bukan sesuatu hal yang dia tunjukkan
Speaker A
ketika ada momen mencitrakan diri saja. Ada kamera ataupun tidak ada kamera, ada yang melihat ataupun tidak ada yang melihat, dia akan melakukan hal yang sama. di mana ketika Anda memberi dengan tangan kanan, tangan kiri tidak boleh tahu ya, Teman-teman. Lalu yang ketiga
Speaker A
adalah dia punya connection. Dia memiliki koneksi dengan Yang Maha Kuasa. Oleh sebab itu, dia bisa juga berkoneksi dengan sehat dengan sesama manusia. Dia memperlakukan sesama manusia seperti samanya, sama tingginya, sama baiknya, sama bermartabatnya dengan ciptaan-ciptaan yang lainnya. Jadi tidak
Speaker A
perlu diajarkan untuk memperlakukan sesamamu dengan lebih baik. Karena dia sudah mendapatkan itu dalam proses dia bereligi. Dia bisa mentransformasikan apa yang dia baca menjadi suatu perilaku yang di-maintain, dijaga, ataupun dilakukan secara berkala. Ada beberapa orang kalau misalnya dia melihat ini menguntungkan buat dia,
Speaker A
dia akan melakukan itu dengan sangat baik. Tapi kalau dia merasa ini tidak menguntungkan, dia tidak mau melakukan itu. Makanya kenapa kita bisa melihat perbedaan perilaku, perbedaan emosi, tergantung dengan kasta dan tergantung dengan keuntungan yang dia dapatkan. Itu ya, Teman-teman. Dan yang terakhir
Speaker A
adalah dia punya emotional state atau em regulasi emosi yang sangat baik, sangat tenang, tapi bukan untuk memanipulasi atau mengintimidasi orang lain. Karena balik lagi konsepnya, kita sebagai umat manusia adalah orang yang setara. Kita sebagai umat manusia adalah sama-sama
Speaker A
ciptaan yang maha kuasa dan kita harus memperlakukan mereka dengan baik sebagaimana Tuhan memperlakukan kita dengan baik. Oleh sebab itu, proses relationship-nya pun akan sehat. Jadi mungkin ya teman-teman, mungkin kita tidak akan bertemu orang-orang narsisistik ketika dia belajar bahwa
Speaker A
dirinya sama orang lain tuh setara. Dia tidak akan melihat bahwa orang lain adalah objek yang bisa dia manfaatkan.
Speaker A
Karena dia melihat ini sebagai sesama manusia dan sebagai sesama subjek. Jadi gitu ya teman-teman. Untuk sesi hari ini kita sudah belajar apa yang namanya wholesale sebagai suatu proses bertumbuh. Nah, kalau teman-teman penasaran boleh banget ya klik komen di
Speaker A
sini teman-teman mau bertanya apa dan apa yang menjadi pertanyaan teman-teman dari bahasan hari ini atau teman-teman boleh banget ya untuk me-request apa sih yang teman-teman pengin bahas di topik selanjutnya. Jangan lupa subscribe dan jangan lupa feel free untuk men-share
Speaker A
podcast ini supaya bisa menjadi manfaat buat orang lain. Sampai ketemu ya, Teman-teman. Dadah. [Musik]
Topics:pemulihan dirikesehatan jiwaDr. Elving GunawanHealing RoomMental Hub Indonesiatraumaattachment stylegaya hidup sehatkesehatan otakkonseling











