Cerita suka duka menjadi guru TK, tantangan mengajar anak kecil, dan pelajaran berharga dari pengalaman mengajar selama lebih dari satu tahun.
Key Takeaways
- Mengajar anak kecil memerlukan kesabaran dan metode khusus untuk menarik perhatian mereka.
- Guru harus mampu menerima ketidaksempurnaan dan belajar beradaptasi dengan situasi yang tidak ideal.
- Pentingnya menghargai usaha dan kemajuan setiap murid secara individual.
- Meminta bantuan dan bekerja sama dengan rekan guru adalah kunci menghadapi tantangan di kelas.
- Guru memiliki dampak besar dalam kehidupan murid dan harus fokus pada tujuan positif pendidikan.
What the video covers
- Podcast membahas pengalaman pribadi Windah sebagai guru TK selama lebih dari satu tahun.
- Windah menjelaskan alasan memilih mengajar anak TK dibandingkan anak yang lebih besar.
- Mengajar anak usia 2-6 tahun membutuhkan metode khusus dan trik untuk menarik perhatian mereka.
- Pengalaman menghadapi tantangan seperti suara yang serak dan kondisi kesehatan selama mengajar.
- Windah berbagi suka duka bekerja dengan anak-anak kecil, termasuk kejadian lucu dan sulit.
- Belajar keluar dari zona nyaman dan menerima ketidaksempurnaan dalam mengajar.
- Pentingnya meminta bantuan rekan kerja dan belajar mengelola masalah di kelas.
- Cerita tentang murid bernama Jack yang menunjukkan usaha meski hasilnya belum sempurna.
- Pelajaran penting tentang menghargai kemajuan individu murid tanpa membandingkan dengan yang lain.
- Ajakan kepada pendengar untuk berbagi pengalaman mereka melalui email atau komentar.
Chapters
- 00:00Pembukaan dan ucapan terima kasih
- 00:56Kondisi suara dan kesehatan selama mengajar
- 02:03Alasan memilih menjadi guru TK
- 03:08Perjalanan karier dan posisi sebagai guru asisten
- 05:13Suka duka mengajar anak kecil
- 05:49Belajar keluar dari zona nyaman dan menghadapi masalah
- 06:54Menguatkan diri dengan meminta bantuan rekan kerja
- 07:44Cerita tentang murid Jack dan pelajaran penting
- 13:04Penutup dan ajakan berbagi cerita
Full Transcript — Download SRT & Markdown
Speaker A
Halo semua, kembali lagi di podcast Bahasa Indonesia bersama Windah. Podcast ini bisa didengarkan di Spotify, YouTube, dan masih banyak platform lainnya. Sebelum kita mulai episode ini, aku mau mengucapkan terima kasih kepada Stepen dan Edwin karena sudah mendukung podcast ini melalui Patreon. Semoga
Speaker A
podcast ini bisa terus membantu kalian belajar bahasa Indonesia, ya. Nah, di episode kali ini aku mau cerita soal suka dukaku jadi guru TK. Susah dan senangnya jadi guru TK.
Speaker A
Sudah 1 bulan lebih aku mengajar di TK sebagai La Semandarin. Jadi, sudah lebih dari 1 tahun mengajar di TK. Nah, aku mau membagikan pengalaman dan perasaanku selama mengajar.
Speaker A
Sebelum itu para pendengar mungkin ada yang merasa belakangan ini suaraku kurang enak, kadang-kadang serak, [berdehem], kadang-kadang bindeng kayak begini.
Speaker A
Itu karena selama jadi La Semandarin, aku pakai suara berjam-jam setiap hari untuk mengajar anak umur 2 sampai 6 tahun. Jadi seringkali setelah mengajar enam kelas di pagi hari, siangnya suaraku hilang. Ditambah lagi sekarang lagi musim batuk pilek. Aku kerja di
Speaker A
tempat yang tertutup dengan anak-anak. Penyakit pasti gampang menular. Aku jadi gampang tertular sakit juga. Sudah pakai masker, sering cuci tangan, tetap saja sakit terus. Jadi, maaf kalau para pendengar ada yang merasa terganggu dengan suaraku. Semoga kita tetap bisa
Speaker A
belajar dan podcast ini tetap bermanfaat untuk para pendengar, ya. Nah, mengajar di TK memang enggak gampang. Kalau begitu, kenapa aku memilih mengajar di TK? Bukan anak yang sudah besar seperti SMA atau orang dewasa.
Speaker A
Jalan ini sebenarnya sudah aku ambil dari saat kuliah bahasa Inggris. Menurutku, mengajar anak-anak itu paling sulit karena butuh metode khusus bahkan trik untuk menarik perhatian anak-anak.
Speaker A
Inilah yang menjadi tantangan tersendiri buat aku. Waktu itu aku berpikir kalau bisa mengajar anak kecil, pasti mengajar anak yang lebih besar atau orang dewasa jadi jauh lebih mudah. Karena itu waktu kuliah aku mengambil teaching English for Young Learners, mengajar bahasa
Speaker A
Inggris untuk anak-anak kecil. Nah, waktu kuliah aku sudah latihan mengajar beberapa kelas di tingkat SD.
Speaker A
Lalu kenapa sekarang mengajar TK? Jawaban singkatnya karena dapatnya ya yang itu. [tertawa] Aku sudah mengirim CV ke banyak sekolah di daerah Muara Karang dari TK sampai SMA. Memang sih aku lebih tertarik dengan TK daripada SMA, tapi itu enggak
Speaker A
terlalu penting. Yang penting sekolahnya dekat dengan rumah. Jadi, begitu aku dapat tawaran untuk bekerja di TK yang ini, tanpa pikir panjang, aku langsung terima tawaran itu. Pekerjaan pertama yang datang.
Speaker A
Awalnya aku dapat posisi admin. Posisi gurunya lagi penuh saat itu. Tiba-tiba mereka bilang, "Aku bisa dapat posisi guru sebagai asisten." Menurutku, posisi ini juga lebih cocok karena aku lebih suka mengajar daripada mengurus administrasi sebagai seorang admin. Nah, dari sekian banyak jalan yang bisa
Speaker A
kupilih, memang jadi guru TK itu enggak mudah. Tapi sejauh ini aku tetap senang. Yang paling bikin senang itu setiap hari ketemu sama anak-anak yang lucu banget.
Speaker A
Siapa sih yang enggak gemas lihat anak-anak yang gemoy banget? Wajah mereka, perilaku, bahkan suaranya gemoy semua. Tapi tentu saja enggak selalu senang-senang terus. Anak-anak kadang bisa menangis.
Speaker A
Ada yang ngompol pipis di celana. Ada yang nakal sama temannya. Dulu aku orangnya sangat perfeksionis.
Speaker A
Semua harus direncanakan dengan matang. Kalau aku enggak yakin 100% aku bisa, aku lebih memilih tidak melakukannya.
Speaker A
Kalau enggak mulus, enggak berjalan sesuai rencana, aku bisa merasa kesal, bahkan malas berhenti di tengah jalan.
Speaker A
Bekerja dengan anak-anak kecil membantu aku keluar dari zona nyaman. Yah, namanya juga anak-anak setiap hari pasti ada aja kejadiannya, tidak pernah mulus semua. Aku jadi belajar bagaimana caranya untuk tetap tenang dan bisa mengambil keputusan di saat keadaan tidak baik-baik saja. Di
Speaker A
saat tidak semuanya berjalan sesuai rencana. Kalau kelas jadi kacau, jadi berisik, atau ada anak yang enggak mengerti, aku kadang bisa minta tolong guru kelas, meminta rekan kerjaku untuk membantu.
Speaker A
Dulu aku orangnya enggak enakan kalau minta bantuan. Rasanya malu, segan, agak takut kalau minta bantuan. Jadi semuanya ditanggung sendiri.
Speaker A
Sekarang aku sudah jadi lebih kuat menghadapi masalah karena bisa minta tolong dan aku juga lebih kuat menghadapi masalah yang membuat rencanaku jadi tidak lancar.
Speaker A
Intinya aku jadi bisa belajar menerima kenyataan dan bersyukur di tengah badai. Memang badai itu enggak enak, tapi kadang-kadang badai juga membuat hari-hariku lebih berwarna.
Speaker A
Setiap hari pulang kerja aku pasti cerita ke mamaku tentang semua yang aku lalui di hari itu, semua kejadiannya.
Speaker A
Setiap hari pasti ada yang baru, enggak pernah bosan-bosan. Aku pikir kalau nanti aku berhenti jadi guru TK, pasti rasanya bosan banget, ya.
Speaker A
Jadi, sekarang aku mau menikmati masa mengajar di TK, semua naik turunnya suka dukanya. Aku juga bersyukur ada banyak pendengar podcast yang mendukung bahkan mengingatkan aku tentang dampak yang aku berikan kepada kehidupan anak-anak.
Speaker A
Jujur aku capek banget ngajar TK, tapi aku mau ingat tujuanku masuk dunia pendidikan memberi dampak positif kehidupan orang lain. Sadar atau tidak, guru itu punya dampak yang besar di kehidupan muridnya.
Speaker A
Contohnya, aku mau cerita nih, ada satu anak laki-laki yang baik banget di kelasku. Nah, untuk menjaga data pribadi kita sebut saja namanya Jack. Jack ini umurnya baru 4 tahun tapi sangat perhatian ke teman-temannya dan juga gurunya.
Speaker A
Pernah ada satu waktu dia bilang ke aku, "Miss, jangan loncat-loncat nanti lututnya sakit." Kok bisa dia ingat aku punya masalah dengan lututku?
Speaker A
Jack ini memang punya sifat yang baik, tapi kalau soal belajar dia sangat kurang. Tidak seperti teman sekelasnya dia belum bisa membaca, menulis juga masih sangat sulit. Banyak guru lain yang bilang ini bukan soal bisa atau tidak. Jack ini manja,
Speaker A
terbiasa dilayani. Apapun diberikan, jadi dia tidak mau berusaha. Pernah ada satu hari anak-anak mengerjakan tugas Mandarin. Nah, setiap tugas harus ditulis tanggalnya.
Speaker A
Karena aku belum mengajarkan cara menulis tanggal dalam bahasa Mandarin, pakai bahasa Inggris dulu. Nah, kebanyakan anak di kelas itu sudah bisa menulis tanggal dalam bahasa Inggris dengan cara mengikuti tanggal yang ada di depan papan tulis misalnya August 5,
Speaker A
2026. Nah, setelah itu tidak lama Jack memanggilku. Dia bilang, "La Windah, aku udah tulis tanggal." Waktu aku lihat kertasnya, ternyata dia cuma tulis 2026.
Speaker A
Tidak ada bulan, tidak ada harinya, cuma tahun 2026. Melihat itu aku cuek aja, enggak terlalu peduli, enggak bilang apa-apa, cuma lihat doang. Aku pikir cuma ada tahunnya, mana tanggal dan bulannya.
Speaker A
Tidak lama kemudian, guru kelasnya masuk lihat kertasnya Jack. Dia kaget langsung tanya ke aku, "Ini Jack yang tulis sendiri?" Aku bilang, "Iya, itu dia yang tulis sendiri."
Speaker A
Emang dia belum pernah tulis sendiri sebelumnya? Di saat itu aku rasanya langsung enggak enak banget. Ternyata Jack sudah berusaha menulis tanggal.
Speaker A
Walaupun cuma tulis tahunnya saja, dia sudah berusaha semampunya. Tapi aku malah cuekin dia. Tanpa sadar aku membandingkan dia dengan anak-anak lain yang sudah bisa menulis tanggal lengkap dengan mudah.
Speaker A
Begitu sadar, aku langsung dekati dia bilang, "Good, Jack. Udah bisa tulis 2026, sekarang kita tulis August 5 ya. La Semandarin bantu."
Speaker A
Sejak itu setiap kali Jack berusaha walaupun hanya sedikit atau hasilnya kurang bagus, aku tetap hargai itu dan aku puji dia dengan kata-kata baik.
Speaker A
Dari sini aku diingatkan lagi, setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda. Yang penting kita punya kemauan, punya usaha untuk maju terus ke depan.
Speaker A
Sebagai seorang pendidik, penting banget buat aku bisa menilai murid bukan hanya dari hasilnya, bukan dengan membandingkan dia dengan murid lain, tapi melihat kemajuannya.
Speaker A
Dibandingkan dengan sebelumnya. Bagaimana dengan para pendengar? Apa pelajaran penting yang pernah kamu dapatkan dari pekerjaanmu?
Speaker A
Kirimkan ceritamu ke [email protected] atau langsung tuliskan di kolom komentar ya.
Speaker A
Jangan lupa dukung podcast ini dengan menjadi sahabat Windah di Patreon dan dapatkan transkrip serta terjemahan untuk semua episode yang ada di podcast ini. Bisa juga dukung podcast ini dengan membagikannya di media sosialmu serta memberikan penilaian di Spotify dan
Speaker A
Apple Podcast supaya semakin banyak orang yang mendengarkan. Sampai jumpa di episode berikutnya dah. Ah.
Topics:guru TKpengalaman mengajarbahasa Indonesiaanak usia dinipendidikan anaktantangan gurumetode mengajarcerita gurumotivasi mengajarpodcast bahasa Indonesia











