ADA APA DENGAN PESTA BABI ❓ FULL MOVIE ❗❗ — Transcript

Film dokumenter tentang perjuangan suku asli Papua melawan proyek pemerintah yang mengancam hutan dan tanah adat mereka.

Key Takeaways

  • Proyek pangan dan energi pemerintah Indonesia mengancam eksistensi suku asli Papua dan hutan adat mereka.
  • Simbol salib merah dan palang adat menjadi alat perlawanan budaya dan perlindungan tanah adat.
  • Intimidasi dan tekanan hukum digunakan untuk memaksa masyarakat adat melepaskan tanah mereka.
  • Kepunahan budaya dan peradaban asli Papua sedang terjadi akibat kolonialisasi dan pembangunan yang tidak berkelanjutan.
  • Film ini memberikan suara kepada masyarakat Papua yang selama ini terpinggirkan dan menghadapi ancaman besar.

Summary

  • Film ini mengangkat perjuangan suku Auyu, Muyu, Marin, Yi, dan suku asli Papua lainnya dalam mempertahankan tanah dan hutan adat dari proyek pangan dan energi pemerintah Indonesia.
  • Proyek pemerintah membuka 2,5 juta hektar hutan Papua untuk sawit, tebu, padi, dan peternakan dengan pengawasan militer dan perusahaan besar.
  • Suku Auyu menggunakan salib merah sebagai simbol perlawanan terhadap penguasaan tanah oleh pemerintah dan perusahaan.
  • Pesta adat suku Muyu yang langka diadakan sebagai bentuk gerakan sosial dan perlindungan budaya di tengah ancaman kehilangan tanah.
  • Film menyoroti dampak negatif proyek terhadap kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat asli Papua, termasuk intimidasi aparat dan kesulitan bertahan hidup.
  • Lima tokoh utama dari berbagai suku Papua mewakili jutaan orang yang terancam eksistensinya akibat proyek ini.
  • Film juga mengangkat isu hilangnya status kewarganegaraan bagi sebagian masyarakat asli Papua di daerah perbatasan.
  • Hutan Papua digambarkan sebagai supermarket alam dan lumbung pangan yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup suku asli.
  • Salib merah dan palang adat bukan hanya simbol agama, tapi juga alat perlindungan terhadap masuknya negara dan perusahaan ke tanah adat.
  • Film ini memperingatkan tentang kepunahan budaya dan peradaban asli Papua yang sedang berlangsung akibat kolonialisasi dan proyek pembangunan.

Full Transcript — Download SRT & Markdown

00:18
Speaker A
Geser kau geser nanti masuk masuk masuk. Iya, masuk. Iya. Kayu besi rawa sepanjang 17 m ini disiapkan untuk membuat salib.
00:35
Speaker A
Melihat panjangnya, timbul pertanyaan, siapakah yang akan disalib? Siapapun itu pasti sesuatu yang lebih besar dari mereka.
00:51
Speaker A
Tapi Frankie Woro, Kasimilus Awe, dan warga suku Auyu di Papua Selatan ini tak akan melukai siapapun.
01:00
Speaker A
Mereka memakai salib ini sebagai tanda perlawanan. Yang mereka lawan memang lebih besar, yaitu pemerintah Republik Indonesia.
01:24
Speaker A
Pemerintah sedang mengincar 2,5 juta hektar hutan orang Papua untuk proyek tanaman industri pangan dan energi.
01:37
Speaker A
Ratusan kilometer dari salib orang-orang Auyu itu, orang Muyu sedang menyiapkan gerakannya sendiri. Tapi kali ini dalam bentuk sebuah pesta.
01:54
Speaker A
Pesta yang disiapkan oleh Marga Kimko Jinibjo selama 10 tahun. Sosok di marga ini adalah Willem Kimko.
02:09
Speaker A
Orang asli Papua yang tak punya kartu identitas kewarganegaraan manapun. Pesta adat ini sudah cukup langka. Tak hanya di Papua, bahkan di kawasan Pasifik dan peradaban Melanesia.
02:35
Speaker A
Dan ada gagasan dan gerakan sosial di balik pesta orang-orang Muyu ini. Sama dengan gerakan salib merah yang dimulai orang-orang Auyu.
02:54
Speaker A
Salib ini akan menjadi yang terbesar dari 1800 salib merah yang telah ditancapkan berbagai suku di Papua Selatan dalam 10 tahun terakhir.
03:07
Speaker A
Ribuan salib merah yang dipadukan dengan palang adat adalah tanda larangan yang menyatukan unsur-unsur adat dan agama. E kami percaya bahwa kalau memang kami sudah tidak mampu untuk menyelesaikan persoalan ini dalam hal ini perusahaan tidak bisa masuk berarti kami minta
03:23
Speaker A
bantuan kepada nenek moyang dan Tuhan kita. Atribut perang orang Awu ini diukir atau dilukis digampar di ee batang salib ini ee dengan tujuan bahwa kami larang dengan sangat keras. Jadi apabila siapapun baik dari antara kita sendiri yang melanggar batas ataupun pihak lain
03:43
Speaker A
yang mau mengganggu ee keselamatan hak tanah adat kami, maka kami siap untuk melakukan ancaman peran.
03:53
Speaker A
Salib-salib ini tidak ditancapkan di halaman-halaman gereja, melainkan di tanah dan hutan adat, di dusun-dusun sagu, dan di tempat-tempat yang disakralkan.
04:05
Speaker A
Sebab 1800 palang adat dan salib ini memang bukan semata tentang agama, tapi untuk mencegah negara dan perusahaan memasuki tanah dan hutan adat mereka.
04:17
Speaker A
Papua bukan di zaman TikTok ini. Kami ingin menceritakan semua ini lewat film yang pendek.
04:42
Speaker A
Tapi kami jelas gagal. Di planet ini ada lima pemilik hutan hujan tropis terluas yang tersisa.
05:38
Speaker A
Kongo di Afrika, Brazil, Peru, Bolivia, dan Indonesia. Di Indonesia, satu-satunya pulau yang hutannya masih terjaga adalah Papua, pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland.
06:01
Speaker A
Lewat sejarah kolonialisme yang panjang, pulau ini kini dikuasai dua negara. Bagian barat oleh Indonesia yang juga dikenal sebagai West Papua dan bagian timur menjadi Papua Nugini.
06:15
Speaker A
Dan tepat di perbatasan ini di bagian Indonesia sedang terjadi proyek pemusnahan hutan terbesar di dunia.
06:37
Speaker A
Pemerintah Indonesia sedang membuka lebih dari 2,5 juta hektar hutan untuk sawit, tebu, padi, dan peternakan.
06:47
Speaker A
Ini disebut proyek strategis nasional untuk lumbung pangan dan energi yang jadi ambisi tiga presiden.
06:55
Speaker A
Bagian terbesar direncanakan untuk mencetak sawah seluas 1,3 juta hektar. Lalu bagian lain akan ditanami tebu seluas 560.000 hektar untuk gula dan bioetanol.
07:08
Speaker A
Setiap liter bensin di Indonesia akan dicampur bioetanol 10%, atau E10. Ada 10 perusahaan di proyek ini dan semuanya dimiliki oleh satu keluarga saja.
07:27
Speaker A
Berikutnya ada areal sawit seluas 400.000 hektar untuk biodiesel. Targetnya mencampur 50% solar dengan minyak sawit atau B50.
07:40
Speaker A
Dan terakhir pemerintah akan membuka peternakan seluas 380.000 hektar. Jadi apa yang salah dengan proyek pangan dan energi ini?
07:56
Speaker A
Lima orang Papua dalam film ini akan menjawabnya. Yang pertama adalah Yasinta Moen dari suku Marin.
08:20
Speaker A
Yasinta dan warga di Distrik Ilway di Merauke sudah menjadi korban. Hutan dan rawa sebagai sumber pangan dan ekonominya telah dihancurkan.
08:31
Speaker A
Jalan sepanjang 135 km sedang dibuat dan di kiri kanannya akan dicetak 1 juta hektar sawah.
08:43
Speaker A
Mereka sulit menolak atau melawan. Salib sudah digeser. Masih datang lagi dengan senjata ni mereka nih.
08:50
Speaker A
Karena proyek ini juga dijaga tentara. Macam-macam senjatanya. Senjatanya. Yang kedua adalah Natalis Buer di distrik Tanah Miring Merauke.
09:14
Speaker A
Petani milenial ini merasa ditelantarkan. Sebab setelah hutannya diubah menjadi sawah, sebagian sawah-sawah ini tak tergarap.
09:26
Speaker A
Orang asli Papua seperti Natalis tak punya modal untuk benih, pupuk, perawatan, hingga ongkos panen.
09:43
Speaker A
Orang ketiga adalah Vin Quipalo dari suku Yinan di distrik Jebob, Merauke. Vin dan suku Yi sedang menjadi korban.
09:56
Speaker A
Hutan adat orang-orang Yi sedang dihancurkan untuk perkebunan tebu dan bioetanol. Tanah mereka juga diincar untuk markas-markas militer, pasukan yang akan menjaga proyek pangan dan energi ini.
10:20
Speaker A
Yang keempat adalah Frankie War dari suku Auyu di distrik Fovi, Kabupaten Bovendigul. Hutan dan tanah mereka terancam perluasan perkebunan sawit untuk campuran biodiesel atau B50.
10:39
Speaker A
Orang-orang dari suku Auyu ini adalah calon korban. Merekalah salah satu pelopor gerakan palang adat dan salib merah. Meski kadang berseberangan dengan gereja yang mereka anggap lebih mendukung pemerintah dan perusahaan.
10:57
Speaker A
Mereka bahkan sedang merencanakan gerakan yang lebih besar dengan salib yang lebih besar. Tanah milik Somu Sobisiba itu ee bahwa tanah ini diciptakan oleh Tuhan dan memberikan warisan kepada kami. Kami ini hanya hak jaga.
11:24
Speaker A
Sosok kelima adalah Willem Kimko dari suku Muyu di Bovendigul. Tokoh adat dari Muyu ini hidup di garis belakang proyek negara sehingga belum menjadi korban.
11:38
Speaker A
Tapi mereka sedang bersiap menghadapi segala kemungkinan. Tinggal di belantara dan perbatasan membuat sebagian mereka tak punya status kewarganegaraan.
11:48
Speaker A
Tapi mereka telah hidup jauh sebelum ada Indonesia atau Papua Nugini. Kelimanya mewakili jutaan orang asli Papua yang sedang terancam eksistensinya.
12:09
Speaker A
Jika kita merasa kepunahan peradaban Neandertal di Eropa, Astek dan Inka di Amerika, atau Aborigin di Australia adalah sejarah masa lalu, film ini menceritakan bagaimana pemusnahan sebuah bangsa dan kepunahan sebuah peradaban sedang terjadi di masa hidup kita.
12:30
Speaker A
Kepunahan bukan karena kerusakan lingkungan dan ruang hidup semata, juga karena dihantam 60 tahun operasi militer.
12:41
Speaker A
Selalu Frankie Woro dan orang-orang Auyu sedang berburu. Tapi lokasi perburuan mereka mulai dikuasai perusahaan perkebunan sawit.
13:30
Speaker A
Iya Om. Kita akan menuju arah ke Inabesi. Di sana kami akan masuk di wilayah ee konsesi perusahaan ee PT Indoasiana Lestari dan di situ ya ee ada survei-survei mereka yang mereka pernah lakukan, tapi juga kami ada lakukan tanda-tanda sasi di sana.
14:04
Speaker A
Bignya ke sini dapat dengan yang induknya. Tapi karena induknya dia lari down terlambat kerja, akhirnya yang bisa kita dapat ee dia punya anak ini saja.
14:35
Speaker A
Kalau pakai bahan pakai, Pak. Pohonnya yang mana, Pak? Pohon ini pohon bitanggur. Dia punya ee kayu ini kita biasa gunakan untuk kerja perahu ee dan juga kulit depo getanya itu kita pakai untuk kerja ini panah-panah ini lemadikan lem ini panah-panah.
15:10
Speaker A
Hutan ini adalah supermarket bagi suku Auyu juga lumbung pangan atau bank untuk menyimpan deposito kekayaan alam.
15:20
Speaker A
Hutan juga tempat yang penuh dengan sejarah suku, situs budaya, dan tempat-tempat sakral. Inilah yang sedang mereka pertahankan dari incaran pemerintah dan perusahaan.
15:33
Speaker A
Untuk semua alasan ini, mereka menancapkan ribuan salib merah. Tapi dari kampung, warga suku Auyu memberi kabar pada Frankie tentang intimidasi oleh aparat negara agar mereka melepas tanah ke perusahaan sawit dan berhenti memasang palang adat dan salib merah.
15:59
Speaker A
Ee ada beberapa titik yang saya sudah siap tetapi ee di sini energensi dari saya terutama di Kampung Sokangon PT Dam Timber dia mengganggu saya iya iya mengganggu saya dengan menggunakan ee kekerasan maupun pihak hukum dan kemari saya ada penolakan
16:24
Speaker A
pernyataan penolakan secara resmi tapi masih tetap menggunakan pihak hukum untuk masuk untuk harus dituntut saya untuk harus diterima perusahaan itu.
16:39
Speaker A
Kita di situ ada 15 marga tetapi 15 marga juga tida
16:58
Speaker A
Oh, sebagai sosok yang aktif dalam gerakan, warga AU terus memberi informasi lapangan kepada Franky yang tak selalu berada di kampungnya.
17:09
Speaker A
Eh, pernyataan yang mereka ee paksa saya untuk tanda tangan itu. Tapi sementara saya tidak tanda tangan. Data semua ada di tangan saya.
17:20
Speaker A
Iya. Baik. Itu ee itu lebih bagus karena ee tanda tangan itu yang berbahaya. Iya. Iya. Iya.
17:32
Speaker A
Tanda tangan itu yang lebih berbahaya karena sekarang dunia sekarang ini modern dan canggih. Dan itu yang mereka biasa pakai untuk di Musliat. Mereka biasa pakai itu di tanda tangan itu.
17:45
Speaker A
Betul. E dari Bandisa juga dial dia masuk untuk memaksakan kami marga untuk harus menerima perusahaan itu. Tapi kemarin kami sudah menolak nama bosku.
18:00
Speaker A
Bab nama bosku. Itu yang sekarang strategi militer yang sekarang mereka pakai. Jadi yang penting ee apa ee masyarakat itu yang benar-benar mau menolak siap dukung ee ketua marga siapa yang nanti tampil.
18:24
Speaker A
Ini adalah peta konsesi sawit untuk biodiesel dalam proyek strategis nasional. Dan di distrik FOVI inilah orang-orang Auyu hidup dari sungai dan hutan.
18:35
Speaker A
Tapi Frankie di Bovendigul masih lebih beruntung. Setidaknya dibandingkan Yasinta Moyen di Merauke yang sudah kehilangan hutan dan rawanya.
19:03
Speaker A
Yasinta dari suku Marin adalah petani sayur di Kampung Wanam, Distrik Ilway, Merauke. Memanfaatkan lahan yang ada, ia berkebun dan menjual hasilnya ke pasar kampung.
19:19
Speaker A
Ini ekonomi warga di Wanam untuk menghasilkan uang. lalu memberi barang kebutuhan yang tak bisa mereka produksi sendiri. Tapi kehidupan sebenarnya ditopang oleh ekosistem hutan dan rawa.
19:32
Speaker A
Inilah sumber pangan utama dan peradaban mereka. Namun ketenangan ini diusik ketika tiba-tiba pada Mei 2024 di Pelabuhan Wanam datang ratusan alat berat untuk proyek pangan dan energi pemerintah.
20:05
Speaker A
Kami masyarakat setempat kami tidak tahu. Kami kaget pagi-pagi kapal sudah ada di pelabuhan kami.
20:19
Speaker A
Yasinta Moiwen atau Enrika Gebze dan warga lainnya tak pernah diajak bicara atau dimintai pendapat.
20:28
Speaker A
Seakan-akan Papua adalah tanah kosong. Kita su kaget yang bawa turun alat alat berat. Alat berat domba turun. Kita kaget masyarakat dia orang sub bongkar itu kayu-kayu.
20:50
Speaker A
Bersamaan dengan alat-alat berat itu juga berdatangan tentara Indonesia untuk mengawal proyek pembukaan hutan milik Yasinta.
21:01
Speaker A
Hilangkanlah rasa susah. 2000 alat berat didatangkan dari Cina ke Papua oleh perusahaan bernama John Lyn Group sebagai kontraktor pemerintah.
21:18
Speaker A
Ini disebut sebagai pesanan ekskavator terbesar di dunia dengan nilai R triliun. Misinya membuka hutan dan rawa milik orang Marin. Salah satunya untuk membangun jalan sepanjang 135 km.
21:33
Speaker A
Sementara di kiri kanannya akan dicetak sawah yang ditargetkan seluas 1,3 juta hektar. Jalan berupa garis lurus ini bukan rute tradisional ekonomi masyarakat. Jalan ini akan menghubungkan kawasan perkebunan sawit dan tebu di sebelah timur juga untuk mobilisasi pasukan militer.
21:56
Speaker A
John Lyn Group adalah perusahaan yang dimiliki Andi Samsuddin Arsyad atau yang dikenal dengan Haji Isam. Sebagian orang mengenalnya sebagai pengusaha yang hobi balapan mobil.
22:19
Speaker A
Tapi di Kalimantan ia berbisnis batu bara, perkebunan sawit, pengolahan karet penerbangan perkapalan dan biodiesel.
22:28
Speaker A
John Lyn Group kini juga menjadi pemilik perkebunan tebu dan pabrik gula terbesar di Indonesia. Sayapnya melebar dari Kalimantan hingga ke Bombana, Sulawesi Tenggara.
22:39
Speaker A
Perkebunan tebu pabrik gula dan industri bioetanol inilah yang juga sedang dikembangkan di Papua. Foto ini adalah momen ketika Isam bersama kerabatnya Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan Menteri Pertahanan Syafri Syamsuddin meluncurkan program biodiesel atau B50 di Kalimantan Selatan.
23:00
Speaker A
B50 artinya setiap 1 liter solar 50%nya akan dicampur minyak sawit. perusahaannya PT John Lyn Agraya menjadi salah satu pemainnya.
23:17
Speaker A
Sepanjang tahun 2025, saham PT John Lyn Agro Raya pernah naik hingga 700%. Perusahaan sawitnya yang lain, PT Pradiksi Gunatama sahamnya bahkan pernah naik 4.000% hanya dalam 1 tahun. Dari harga saham ini saja, nilai kekayaan keluarga Isam diperkirakan mencapai
23:44
Speaker A
Rp100 triliun lebih. menjadikannya salah satu keluarga terkaya di Indonesia dan salah satu pemain penting industri bioenergi.
23:55
Speaker A
Dan di Papua Selatan inilah sebagian sawit-sawit untuk mendukung program B50 akan ditanam. Inilah tanah orang-orang Wambon, Muyu, Marin, Yi atau Auyu seperti Frankie War.
24:14
Speaker A
Haji Isam pernah menjadi tim kampanye nasional Presiden Joko Widodo dalam Pemilu 2019 saat melawan Prabowo.
24:21
Speaker A
Bintang Mahaputra Utama diberikan kepada Saudara Andi Syamsudin Arsyad. Beliau berjasa luar biasa dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.
24:31
Speaker A
Setelah menjadi presiden, Prabowo memberi gelar kehormatan bintang Mahaputra Utama pada Islam. Sejumlah Menteri Prabowo juga kerabat dan orang-orang yang pernah bekerja di perusahaan Islam.
25:00
Speaker A
Lawan sebesar inilah yang sedang dihadapi Yasinta di Kampung Wanam Merauke atau petani perempuan lain seperti Enri Gebze.
25:12
Speaker A
Jadi alam kita ini sudah rusak. Jadi kita itu biasa jalan dari sini itu harus pasang jerat di situ, harus cari makan di situ lagi. Itu tempat-tempat itu pasang-pasang jerat, tempat babi rusa.
25:25
Speaker A
Sekarang sudah tidak ada lagi. Masuk masuk. Rekaman ini memberi gambaran bagaimanakah suari kehilangan rumah di bekas hutan dan rawa yang telah dibabat.
26:03
Speaker A
Keterlibatan tentara dalam proyek pangan dan energi di Papua memakai dalih bahwa ancaman terhadap negara kini tak hanya perang secara militer.
26:14
Speaker A
tapi juga melalui pangan dan energi. Kementerian Pertahanan pun terlibat karena proyek ini dianggap operasi militer selain perang.
26:27
Speaker A
Jadi tugas kamu adalah menjaga sumber cadangan pangan nasional. Macam-macam senjatanya. senjatanya. Proyek ini menambah panjang alasan mempertahankan kehadiran tentara di Papua dalam 60 tahun terakhir.
26:47
Speaker A
Saat ini jumlah tentara Indonesia di Papua mencapai 56.000 personel atau ada satu tentara untuk setiap 100 orang Papua.
26:57
Speaker A
Bandingkan dengan rata-rata nasional di mana hanya ada satu tentara untuk 696 penduduk Indonesia. itu belum termasuk polisi. Artinya satu orang Papua dijaga lebih banyak senjata dari rata penduduk Indonesia.
27:15
Speaker A
Tanah dan diambil secara sepihak untuk kepentingan pembangunan batalion dan bandar antariksa. Ini bentuk perampasan masyarakat. Ada penolakan kehadiran markas-markas militer terjadi di sejumlah tempat di Papua.
27:32
Speaker A
Tak hanya karena trauma dan ketakutan, juga karena mengambil tanah-tanah adat. Salah satu alasan mengapa militer terus ditambah di Papua karena masih ada perlawanan dari organisasi Papua Merdeka atau OPM selama 50 tahun terakhir.
27:59
Speaker A
Tebak, teak, teak. Ayo. Yo. Tapi kekuatan militer OPM diperkirakan hanya 1430 personel dan 360 pucuk senjata.
28:12
Speaker A
Selebihnya mereka menggunakan senjata tradisional. Dengan demikian, kekuatan tentara dan polisi di Papua 58 kali lebih besar dari geriliawan organisasi Papua Merdeka.
28:44
Speaker A
Senjata senjata sebagian tentara berada di garis depan pertempuran. Tapi sebagian besar lainnya terlibat operasi non tempur menjaga proyek pemerintah dan investor swasta.
29:07
Speaker A
Seperti batalyon infanteri teritorial pembangunan di distrik Jagebob Merauke ini. Lokasinya bersebelahan dengan konsesi lahan tebu untuk gula dan bioetanol milik PT Murni Nusantara Mandiri.
29:21
Speaker A
Baik perusahaan maupun markas militer keduanya mengambil hutan milik suku Yi dari Marga Kuipalo. Tapi dia orang datang tanam ini saja di sini. tanam papan nama ini.
29:35
Speaker A
Victor Kuipalo menunjukkan apa yang terjadi. Jadi kita juga kaget ini. Nah, kalau ini papa nama ini memang ini papa nama ditanam tapi bukan haknya mereka yang ini. Ini hak kami di sini. Hak dusun kami Marga Kuipalo yang punya hak dusun
29:54
Speaker A
ini. Setelah memasang patok, alat berat mulai bekerja untuk membangun markas militer di tanah orang Y.
30:14
Speaker A
PT itu masuk. Keadilan markas militer mengkhawatirkan warga yang pernah mengalami trauma. Takut kenapa? Kalau macam yang awal macam sekarang Bu kampung ngidupin ini kan aman. Terus kenapa harus didirikan korem di sini?
30:33
Speaker A
Bukankah dengan adanya korem semakin aman ada tentara di sini? Loh kalau untuk buuk kampung kayaknya tidak bisa aman. Kalau ada cintara paling masyarakat dipukul itu ini. Kalau Bu kampung hidup begini malah saya sejahtera dan saya punya masyarakat.
30:49
Speaker A
Apa pernah ada pengalaman buruk sebelumnya dengan tentara di daerah sini? Ada yang cerita waktu pos-pos di sini toh di 13 12 itu zaman katanya Patimurah. Memang kasihan malah kita punya orang ini yang dia niaya betul dipukul.
31:11
Speaker A
disuruh kerja bakti tidak mau atau lama mencari namanya kita pangkur sagu itu butuh waktu satu minggu kalau lama begitu ya paling diseret pukul itu.
31:24
Speaker A
Operasi militer Indonesia di Papua dimulai tahun 1962 lewat operasi Trikora. Tapi perlawanan bersenjata pertama di Papua baru dilakukan tahun 1965 di Manokwari.
31:43
Speaker A
Nanti tanggal 1 Mei jam 12.30 pemerintahan di Ian Barat mutlak akan jatuh di tangan.
32:02
Speaker A
Sejak itu selama 60 tahun operasi militer untuk menaklukkan Papua terus dilakukan. Salah satu operasi militer paling berdarah adalah operasi wibawa untuk memenangkan Indonesia dalam jajak pendapat tahun 1969.
32:22
Speaker A
643 orang tewas di Paniai. Lalu disusul 4146 korban tewas antara tahun 1977 hingga 1978.
32:36
Speaker A
Operasi militer ini menimbulkan gelombang pengungsian hingga kini. Dewan Gereja Papua mencatat 103.000 orang menjadi pengungsi pada tahun 2025 dan nyaris tak diberitakan media-media Jakarta.
33:02
Speaker A
Jumlah pengungsi terbesar tercatat di duga yang mencapai 20.000 jiwa. Banyak di antaranya yang sedang hamil seperti Jubiana, salah satu pengungsi duga.
34:00
Speaker A
L bulan Maret April mana kantan barang Jubiana lalu menamai anaknya pengungsi Kogoya. Selain Jubiana juga ada Ema dari Mibrat yang melahirkan di hutan.
34:25
Speaker A
Sampai di kampung begini katanya bilang ada tentara yang bangun jembatan capek itu juga pun masih tahan. Kembali lagi ke hutan lagi sampai saya jatuh di tengah jalan banting di kayu semuanya rasa sakit begitu. Nama lengkapnya tuh Domik Sherli Pengungsi Wako
34:46
Speaker A
masyarakat sipil. dari kampung sementara mengungsi karena kampungnya sementara dikuasai oleh Por ribu pengungsi di Papua saat ini jauh melampaui jumlah yang mengungsi ke Papua Nugini tahun 1984 yaitu 10.000 orang karena menghindari operasi militer.
35:19
Speaker A
Bersamaan dengan operasi militer, eksploitasi sumber daya alam Papua juga dilakukan sejak masuknya tambang emas dan tembaga Freeport pada tahun 1967.
35:33
Speaker A
Disusul perkebunan sawit awal tahun 1980-an. Lalu ada perburuhan buaya untuk diambil kulitnya. Sebelumnya ada eksploitasi gas alam di Teluk Bintuni. Pencarian besar-besaran kayu gaharu atau pembukaan hutan tanaman industri.
35:51
Speaker A
Ini belum termasuk perburuan dan perdagangan ikan arwana di selatan Papua, penebangan kayu merbau dari hutan-hutan Jayapura, emas di Blok Wabu Intan Jaya, bahkan nikel di pulau-pulau kecil Raja Empat.
36:05
Speaker A
Dan kini dalam skala yang belum pernah terjadi dalam sejarah, Papua dipaksa mencetak sawah, tebu untuk bioetanol, dan sawit untuk biodiesel.
36:57
Speaker A
Inilah yang sedang menimpa keluarga Vincen dan Victor Quipalo di Merauke. Hutan mereka diambil untuk markas militer dan industri perkebunan PT Murni Nusantara Mandiri.
37:11
Speaker A
Satu dari 10 perusahaan yang diberi konsesi untuk menanam tebu dan memproduksi gula serta bioetanol seluas 52.000 hektar.
37:29
Speaker A
Perusahaan ini dianggap mengambil hutan dan tanah orang-orang Y, terutama Marga Kuipalo yang memiliki hak adat terhadap 2.300 hektar hutan.
37:47
Speaker A
Heh, tentara. Oh, iya. Tentara. keluarga Gakipalo sedang melihat apakah perusahaan semakin mengancam tanah mereka dan kekhawatiran itu terbukti.
38:28
Speaker A
Ih, makanya tadi saya bilang ini dari sini saja dekat. Ini sudah masuk di dalam ujung lapang ini. Ini hutan yang ini nih hutan yang dia orang ada bongkar sekarang ini. Ini sudah ini sudah punya alat tu dekat ini
38:42
Speaker A
dekat sekali ini. Ini di ini sini nacau kelapa kelapa itu yang jalan lama jalan setapak ini.
38:57
Speaker A
Dari udara terlihat alat-alat berat semakin mendekati tanah orang-orang Y warga Kuipalo. Keesokan harinya, Victor dan kerabatnya memberi tanda cat merah di pohon-pohon yang berada di batas tanah mereka.
39:50
Speaker A
Tapi tanda peringatan adat ini tak diindahkan perusahaan. 2 bulan kemudian perusahaan tetap memasuki tanah marga Kuipalo.
40:07
Speaker A
Sabar sabar kami manusia kau lihat hati sekali saya kasih tahu ini masih baik kalau berubah tangan kami juga punya tangan hanya beda rambut misteri itu juga woi ada masukin jadi ya untuk itu seperti saya katakan tadi apakah lebih baik kita tidak usah
41:33
Speaker A
adaakah atau bagaimana kita bisa kan bisa kah dari negara ini kah jangankan tuh saya kemarin bicara sama danun datang sama saya dengan persoalan ee kodam ini. Saya bilang, "Pak dan kalau lebih baik saya apa saya ngongsi ke Papua."
41:54
Speaker A
Dia bilang, "Aduh, Bapak jangan begitu." Ya memang kalau tidak bisa menghargai kami lebih baik pilihan yang yang itu yang saya memilih lebih baik saya pindah dari sini saya mengungusi ke Pak Poniguni di negara tetangga masih ada yang lain.
42:08
Speaker A
Apa? Oh ini mana? Tapi saya bilang sama Kak Puls, "Pak, Pak Agustus ini 17 Agustus saya tidak kasih naik bendera merah putih. Saya bendera ada nanti saya taruh di meja bendera saya ada." Karena saya punya pikiran percuma kita ini merasa bahwa
42:26
Speaker A
kita hidup di bawah naungan merah putih. Ternyata merah putih tidak lindungi kami, tidak anggap kami sebagai kami rakyatnya. dia lambang negara dan kami ee menghargai lambang negara itu.
42:44
Speaker A
Ternyata lambang negara ini kita bernaung di bawah lambang negara ini kita tidak dilindungi. kita tidak dihargai.
43:20
Speaker A
Marga Kuipalo dari suku Y terus mendapat teror dan intimidasi agar melepas tanah mereka yang hanya dihargai Rp300.000 per hektar, tapi mereka tidak berjualan tanah.
43:34
Speaker A
Makanya mama itu tidak suka untuk lepas tanah. Untuk apa? Baru kita baru di dalam hutan itu ada obat-obat tradisi itu sudah sih segala macam apa macam ada sayur juga kita ambil sayur yang dia tumbuh sendiri.
43:49
Speaker A
Jadi kita ini mau ke mana? Kalau itu sudah digusur ya habis kita ini jadi penonton.
43:59
Speaker A
Jangan sampai kita ini duduk minta di jalan. Jadi kita tidak mau seperti itu. Makanya tanah itu kita tidak melepas.
44:10
Speaker A
Tapi mungkin orang lain tuh dia senang saja. Lebih baik saya pegang uang merah dulu.
44:17
Speaker A
Saya bisa beli-beli itu ini nanti datang uang sudah habis. Gembel mau cari ke mana lagi hutan sudah habis mau makan ikan di mana kali sudah hancurak seperti Yasinta di Wanam suara dan gerakan kaum perempuan Papua sangat nyaring dan tak bisa diabaikan.
44:42
Speaker A
Saya sebagai perempuan tolak untuk perusahaan masuk di sini. Karena kalau saya terima anak-anak saya, saya mau dikemanakan, mau tinggal di mana. Apapun yang terjadi saya tetap tolak. Demi tanah ini, saya akan berjuang demi saya punya anak-anak.
45:00
Speaker A
Eh, cenyum cenyum kecil yang katanya mengutamakan anak Papua. nyatanya yang kerja kebanyakan ya orang-orang Jawa. Saya sendiri orang Jawa tapi bukan mau bicara yang tidak-tidak. Memang kenyataannya seperti orang apa orang-orang Papua itu diterbelakangkan, kurang diutamakan gitu.
45:30
Speaker A
Proyek food estate seperti mencetak sawah. Bukannya tak diikuti warga Papua. Salah satunya natalis buer di distrik Tanah Miring Merauke.
45:58
Speaker A
Setelah menghabisi hutan, pemerintah Indonesia mencetak sawah untuk tanaman padi karena beras mulai menjadi makanan pokok menggantikan sagu.
46:08
Speaker A
Sebagian besar penggarapnya adalah warga transmigran yang datang sejak era 1980-an. Bahkan petani transmigran sudah ada sejak Belanda membuka proyek padi kumbe di Distrik Kurik. Lokasi yang sering jadi langganan pejabat Indonesia memamerkan sawah di Papua.
46:31
Speaker A
Tapi Natalis juga ingin belajar menanam padi atau bersawah. Namun ia kesulitan karena dibutuhkan modal untuk benih, pupuk hingga pemeliharaan dan panen.
46:44
Speaker A
Lalu sawah-sawah ini pun mulai dikuasai pendatang. Tapi sejauh ini di kampung kami ini yang saya lihat ee memang ada kelompok kami punya di sini yang sudah tergabung dalam gapok tani kemudian masuk dalam ee optimalisasi lahan. Tapi baru saya anak
47:06
Speaker A
asli yang punya lahan di sini. Mereka tidak punya. Pemerintah dalam hal ini adalah Kementerian Pertanian bersama-sama Kementerian Pertahanan yang dalam hal ini pada garis di bawahnya adalah TNI Angkatan Darat memberikan support yang maksimal kepada masyarakat khususnya di Meraoke dalam rangka
47:32
Speaker A
saya kemarin habis R juta. R juta ya? Iya. R juta karena dia sudah tidak dipakai toh. Dia sudah perempuan Papua seperti Filomina juga mau bertani.
47:45
Speaker A
Pemerintah memberi bantuan Rp900.000 per hektar lewat program optimalisasi lahan atau OPL. Tapi dibanding biaya produksi dan harga jual gaba, Filomina mengaku berkali-kali rugi dan kini memutuskan tak lagi menggarap sawahnya.
48:01
Speaker A
Terus kita harus cari uang. Betul untuk kombe. Betul. karung kita beli, karung beri sendiri lagi.
48:08
Speaker A
Tenda kita beli. Ini dari yang offline ini Don tidak siapkan. Tidak ada. Tidak ada ya. Jadi mama itu yang saya ada bilang Rp900.000 itu itu modal untuk untuk kerja sawah. Ini mulai dari kerja sampai nanti panen.
48:26
Speaker A
Panen. Wih ngeri sekali. Iya lucu toh. Tidak dapat itu. Betul. Demangkut begini. Kalau disuruh tanam ubi berhektar-hektar, mari mari datang. Kita kita tahu cara rawatnya bagaimana, tanamnya bagaimana, tanam model bagaimana sepeda penghasilnya model begitu. Kita tahu kalau yang ini
48:50
Speaker A
ini ini kan kita baru belajar. Sebagian hutan milik warga Senayu di Merauke sudah dibuka untuk sawah dan kebun tebu oleh PT Global Papua Abadi.
49:01
Speaker A
Proyek pertanian ini dikerjakan oleh Kodim Merauke. Mereka melepas sebagian tanah karena ingin belajar bertani. Saya tet nenek moyang tidak ajar saya tanam padi, tapi saya mau berubah.
49:16
Speaker A
Generasi saya yang berikut ini besok lusa tidak bisa makan pisang sag. Namun program optimalisasi lahan yang dijanjikan dengan berbagai bantuan tak dirasakan Filomina.
49:30
Speaker A
Obat rumput beli, obat padi beli, jonder kita bayar. Bahkan bibit masih kurang cari bibit lagi beli.
49:45
Speaker A
Jadi saya memang kalau program pemerintah saya sama sekali saya tidak suka baku tipu saya.
49:58
Speaker A
Mereka merasa ditinggalkan sendiri. jatuh bangun belajar bertani padi. Sementara sumber pangan dan air yang semula mudah didapat kini telah berganti sawah dan kebun tebu.
50:10
Speaker A
Dulu kita masih bisa jalan nanti masak dikali pakai air kali. Air minum pakai air kali. Sekarang kok mau masak tidak ada. Tidak ada air air sudah susu mau minum tidak bisa sudah dengan obat semprot itu saja drone drone yang
50:31
Speaker A
semprot saya lihat di itu. Heeh. Jadi kita dron yang terbang di atas tu dia semprotempot dong lempar pupuk di bawah ya dia mengalir ke mengalir ke tali ke rawa-rawa.
51:03
Speaker A
Seperti pertanian sawah bagi orang Bali atau Toraja, bagi orang Auyu dan suku-suku lainnya di Papua Selatan, sagu juga bukan semata tentang pangan.
51:18
Speaker A
Bagi orang Auyu dan Marin, sagu adalah kerabat. Sosok orang tua, sosok nenek moyang yang harus dijaga dan dilindungi.
51:30
Speaker A
Lagi bikin apa, Mama? Ini mama tokok. Kami diingatkan oleh leluhur sagu itu tidak boleh digusut dan tidak boleh diganggu dengan cara apapun dan dalam rangka kepentingan apapun tidak boleh.
51:53
Speaker A
Kamu harus bela bahkan sampai nyawa pun harus menjadi taruan demi membela keselamatan keberatan sagut di atas tanah ini.
52:30
Speaker A
kemarin saja. Jadi dia tidak menurut Natalis, pemerintah di Jakarta mendefinisikan lumbung pangan semata urusan beras dan mencetak sawah.
52:43
Speaker A
Sebenarnya orang Papua itu bukan tidak bisa bertani. Kami tanam ubi itu bagian dari pertanian. Nah, pertanian yang dimaksud oleh pemerintah itu harusnya selalu ee itu kalau bisa pemerintah harus spesifikkan pertanian apa yang dimaksud, pertanian tanam padi atau pertanian tanam ubi, petas dan
53:03
Speaker A
lain-lain. Ini yang harus diesifikkan dulu begitu. Sehingga tidak menjustifikasi kami orang asli Marin bahwa kami tidak bisa bertani bukan kami buka kebun besar-besar di sana bahkan bermeter-meter ratus-ratus meter pakai skop bukan pakai eksavator tapi ini pakai skop itu pertanian begitu
53:27
Speaker A
bagi natalis alih-alih memaksimalkan sawah-sawah yang sudah ada untuk petani Papua, pemerintah selalu membuka hutan baru seperti dikerjakan perusahaan John Lin Group dan melibatkan tentara.
53:44
Speaker A
Padahal sejarah keterlibatan militer dalam proyek Food Estate atau cetak sawah adalah sejarah kegagalan yang bertubi-tubi empat presiden selama 30 tahun terakhir.
54:05
Speaker A
Papua bukan yang pertama menjadi proyek lumbung pangan yang melibatkan tentara. Kalimantan telah menjadi korban 30 tahun sebelumnya.
54:21
Speaker A
Ini adalah bekas hutan yang sudah dibuka di Pulang Pisau Kalimantan Tengah. Tahun 1996 di era Presiden Jenderal Soeharto, ia menghabisi 1 juta hutan di lahan gambut untuk mencetak sawah demi memenuhi ambisi swasmada beras, bukan swasmada pangan.
54:42
Speaker A
Hutan tropis Kalimantan dihabisi dalam skala yang belum pernah terjadi dalam sejarah. Di bawah rezim militaristik, tak ada yang berani melawan keinginan Soeharto, termasuk orang Dayak seperti Kuneng.
54:56
Speaker A
Enggak bisa dihalangi itu. Enggak boleh dihalangi. Iya. Iya. I ya. Kalau ada kata-kata aja menghalangi, sudah kita diseret ke anu ke ke Buusian dulu atau bisa langsung dipki-an.
55:07
Speaker A
Iya dipki- gitulah. Jadi kita itu enggak berani apa-apa dulu tuh. Iya. I apanya? Apa maunya aja? Misal bilangnya a a setahun setelah pengundulan hutan skala besar itu tahun 1997 untuk pertama kalinya Kalimantan mengalami kebakaran lahan dan kabut asap terbesar dalam
55:27
Speaker A
sejarah. Sebagai ilustrasi ini kondisi kabut asap tahun 2015. Proyek 1 juta hektar sawah Jenderal Soeharto itu gagal. Bendungan dan saluran irigasi mangkrak hingga kini.
56:03
Speaker A
Mei 1998, rezim Soeharto tumbang 2 tahun setelah ia menumbangkan jutaan hektar pohon di Kalimantan.
56:12
Speaker A
Setiap tahun lokasi ini menyumbang kebakaran dan kabut asap yang merugikan jutaan orang. Sawah yang berhasil di Kalimantan justru bukan sawah yang dibangun Jenderal Soeharto, melainkan yang dirintis para transmigran sejak era 1980-an.
56:29
Speaker A
Sawah-sawah inilah yang ikut digarap oleh militer di era Presiden Joko Widodo. Dan hasil dari proyek food estate Presiden Jokowi itu sama sekali jong nih enggak ada harapan lagi sudah seperti ini.
56:43
Speaker A
Tapi Jokowi terus memperluas area food estate hingga 16.000 hektar. Presiden Jokowi juga menyerahkan urusan lumbung pangan ini kepada Prabowo yang saat itu menjadi Menteri Pertahanan.
57:00
Speaker A
Salah satunya di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Untuk membuka perkebunan singkong seluas 31.000 hektar, Food Estetkong Jenderal Prabowo ini dimulai dengan membuka 600 hektar hutan di Tawai Baru. Proyek singkong untuk bioetanol ini pun dijaga tentara.
57:20
Speaker A
Dan seperti Jenderal Soeharto, proyek Jenderal Prabowo ini pun gagal. Dengan reputasi ini, Joko Widodo dan Prabowo justru sedang membuka 2,5 juta hektar di Papua.
57:47
Speaker A
Setelah Jenderal Soeharto, Presiden Jenderal Susilo Bamang Yudoyono juga mencoba membuka food estate di Papua sejak tahun 2010. namanya Maraoke Integrated Food and Energy Estate atau MIV. Proyek ini juga gagal.
58:04
Speaker A
Lalu di lokasi yang sama Jokowi berusaha meneruskan dengan proyek mencetak sawah 1,2 juta hektar yang juga gagal.
58:12
Speaker A
Sekarang yang paling siap adalah 1,2 hektar yang 1,2 juta hektar. Dan kini Prabowo yang pernah gagal dengan 600 hektar singkong di Kalimantan justru akan mengulangi di Papua dengan skala 2,5 juta hektar.
58:36
Speaker A
Di daerah Papua pun harus ditanam kelapa sawit supaya bisa menghasilkan juga BBM dari kelapa sawit.
58:44
Speaker A
Dalam setiap proyek pangan dan energi di Papua, yang lebih menonjol bukan tanaman pangannya, melainkan untuk energi atau bahan bakarnya.
58:54
Speaker A
Sawit untuk biodiesel dan tebu untuk industri bioetano. Ada 10 perusahaan yang diberi konsesi hingga seteng juta hektar untuk tebu.
59:07
Speaker A
Dan 10 perusahaan itu dimiliki oleh satu keluarga saja. Para perempuan Auyu di Bovendigul akan berangkat memancing.
59:35
Speaker A
Priska Benny membantu menyiapkan perahu. Mereka akan mengumpulkan bahan pangan di hutan untuk persiapan acara penancapan salib merah berikutnya.
59:56
Speaker A
Priska sudah mengambil posisi memancing. 1800 salib merah telah dipasang di wilayah adat berbagai suku di Papua Selatan untuk menghalau perusahaan sawit dan tebu.
60:19
Speaker A
Maria Tebung yang paling muda datang membawa hasil dua ekor ikan gastor alias gabus Toraja dapat sebagai generasi Z pendidikannya sampai sekolah dasar di perusahaan perkebunan seperti sawit atau tebu ijazah SD hanya bisa menjadi buruh kasar tapi ia tak tertarik
60:44
Speaker A
karena kita hidup itu kalau dari alam kita pancing juga di darat bawa an bawa anjing terus bikin pagar sagu dapat babi bawa baru kita makan jadi kita tidak mau terusan masuk tidak sementara masih mencari peruntungan tapi baginya menjadi nelayan di sungai
61:13
Speaker A
masih lebih baik daripada bekerja 9 tahun di perkebunan sawit. Sudah pengalaman jadi kita tidak mau lagi.
61:22
Speaker A
Berapa lama ketika kerja itu ketika? I lama di sana. Tahun 9 tahun di sana.
61:27
Speaker A
9 tahun. Saya baru pulang dari perusahaan. Selama 9 tahun kerja di sawit bisa punya rumah kah atau tidak?
61:36
Speaker A
Motorkah tidak? Johnson kah? Tidak. Cuma makan saja. Pendapatan juga kan tidak lebih. Habis dimakan satu minggu libur berapa hari?
61:54
Speaker A
Tidak libur. Minggu tetap kerja tetap kerja tidak bisa ke gereja hari minggu kerja. Minggu kerja hari minggu juga kerja.
62:03
Speaker A
Jadi tidak mengenal agama perusahaan itu. Di grup perusahaan Sawit Korindo, Priska digaji R2 juta per bulan dan tinggal di mes karyawan.
62:14
Speaker A
Tapi gaji itu dipotong bahan makanan atau bama rata-rata Rp1 juta setiap bulan. Korindo adalah grup perusahaan yang salah satu usahanya adalah hutan tanaman industri dan sawit di Bovendigul dan Merauke.
62:31
Speaker A
Di Papua mereka memakai bendera PT Tunas Sarwa Ema. Perusahaan ini pernah memberi bantuan pada keuskupan Agung Merauke.
62:40
Speaker A
Keuskupan Merauke belakangan mengeluarkan pernyataan mendukung proyek strategis nasional di Papua. Umat Katolik yang memprotes sikap gereja tersebut ditangkap polisi.
62:55
Speaker A
Jadi selama 9 tahun ter bisa nabung? Tidak. Makan saja. Makan saja. Makan saja. Mau nabung bagaimana? Keperluan banyak.
63:02
Speaker A
Sudah sampai. Habis di anak-anak uang sekolah uang R juta itu mana sampai mau nabung juga tidak cukup sudah pengalaman jadi kalau di sini perusahaan mau masuk Tidak.
63:21
Speaker A
Tidak. Dan menu makan siang seperti ini agaknya sulit bagi buruh sawit atau tebu yang digaji Rp2 juta per bulan.
63:52
Speaker A
Generasi Z seperti Maria Tebung atau generasi milenial seperti Priska Benny punya matematika ekonominya sendiri.
64:01
Speaker A
Sawit untuk biodiesel atau tebu untuk bioetanol tak akan ada bedanya bagi mereka. a Tik perkebunan tebu seteng juta hektar di Merauke adalah ide tiga presiden untuk menggenjot penggunaan bioenergi sebagai campuran bahan bakar fosil.
65:17
Speaker A
Selain suaada pangan, sua sembada energi di daerah Papua pun harus ditanam kelapa sawit supaya bisa menghasilkan juga ee BBM dari kelapa sawit juga. Ee tebu menghasilkan etanol, singkong kasafa juga untuk menghasilkan etanol.
65:42
Speaker A
Bioetanol adalah bahan bakar nabati atau tumbuhan yang dapat dicampur dengan bensin. Sama dengan program biodiesel yang mencampur solar dengan minyak sawit.
65:57
Speaker A
Pertamina saat ini sudah menjual BBM bioetanol dengan campuran 5% yang dipasarkan dengan merek Pertamax Green 95.
66:07
Speaker A
Tapi pemerintah ingin menaikkan kadarnya menjadi 10% atau E10. Maka ke depan kita akan mendorong untuk ada E10.
66:17
Speaker A
Kemarin malam sudah kami rapat dengan Bapak Presiden. Bapak Presiden sudah menyetujui untuk direncanakan mandatori 10% etanol.
66:30
Speaker A
Idenya untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang diimpor dan menimbulkan polusi. Tapi bioetanol bukannya tak mengorbankan lingkungan, hutan, rawa, dan manusia.
66:49
Speaker A
Karena program E10 membutuhkan 7,3 miliar liter bioetanol, maka lahan yang dibuka untuk menanam tebu bisa mencapai 1,3 juta hektar.
67:01
Speaker A
Sementara saat ini luas perkebunan tebu di Indonesia hanya 500 sampai 600.000 hektar. Artinya butuh lahan baru hingga 800.000 hektar untuk menanam tebu dan 500.000 hektar di antaranya sedang dibuka di Papua.
67:19
Speaker A
Hutan yang tadinya untuk menumbuhkan pangan berubah jadi tanaman untuk bahan bakar di jalanan. Kecepatan pulihnya hutan beradu dengan jumlah dan kecepatan kendaraan di jalanan.
67:38
Speaker A
Dahaga terhadap energi tak pernah bisa dipuaskan. Setelah minyak sawit untuk biodiesel, dunia kini merambah singkong, jagung, dan tebu untuk bioetanol.
67:51
Speaker A
Benua Amerika, Eropa, sebagian Afrika, hingga separuh Asia kini mulai memakai bioetanol sebagai campuran bahan bakar.
68:05
Speaker A
Selain perebutan lahan, masa depan dunia juga dibayangi semakin mahalnya harga pangan karena persaingan antara perut manusia dengan tangki kendaraan.
68:14
Speaker A
Ini adalah lokasi perkebunan tebu dan bioetanol PT Murni Nusantara Mandiri yang mengancam tanah Vin Cuipalo dan orang-orang Yi di Merauke.
68:24
Speaker A
Beberapa kilometer di selatan adalah PT Global Papua Abadi yang mengancam tanah orang-orang Muyu dan Marin.
68:32
Speaker A
Dua perusahaan ini adalah bagian dari 10 perusahaan yang mendapat konsesi lahan untuk tebu dan bioetanol di Merauke.
68:40
Speaker A
Batas konsesi mereka bahkan sama dengan batas negara Indonesia dengan Papua Nugini. Salah satu ciri bahwa peta konsesi ini dibuat di Jakarta dari atas meja.
68:52
Speaker A
Sama seperti kolonial Inggris dan Belanda ketika mereka membagi pulau Papua dengan garis lurus pada abad 19.
69:00
Speaker A
Seakan Papua adalah tanah kosong. Bedanya meski peta konsesi ini mengatur batas 10 perusahaan, tapi perusahaan-perusahaan ini sebenarnya dimiliki oleh satu keluarga saja.
69:15
Speaker A
Ini nama 9 dari 10 perusahaan tebu dan bioetanol di Merauke, Papua. 99% saham mereka dimiliki sebuah perusahaan bernama PT Merauke Nusantara Manis.
69:28
Speaker A
Sementara 1% sisanya dimiliki PT Merauke Gula Mandiri. Tapi saham kedua perusahaan ini dimiliki PT Merauke Sugar Group dan perusahaan ini 90% sahamnya dimiliki pengusaha bernama Angelia Bonaventure Sudirman serta perusahaan bernama Zikotrust dan Resource Harvest.
69:51
Speaker A
Lalu 10% lainnya dikuasai PT Papua Energi Abadi yang pemiliknya adalah Dudi Christian dan Angel Medelin.
70:00
Speaker A
Sekarang mari kita lihat siapa mereka. Angelia Sudirman adalah keponakan dari salah satu konglomerat sawit Indonesia Martias Fangiono.
70:11
Speaker A
Sembilan perusahaan di Papua ini berada di bawah bendera Merauke Sugar Group. dan Merauke Sugar Group hanya satu dari tujuh grup perusahaan milik keluarga Vangiono.
70:30
Speaker A
Ini Martias Fangiono. Seperti Haji Isam, Martias selama ini dikenal sebagai pengusaha sawit yang kini merambah bisnis tebu dan bioetanol.
70:42
Speaker A
Ini momen saat penanaman perdana tebu di Merauke bersama Presiden Joko Widodo Juli 2024. Di sini juga ada anak Martias Fangiono, yaitu Wirastuti Fangiono.
70:55
Speaker A
Wirastuti adalah salah satu yang menonjol dari keluarga Fangiono. Tahun 2025, Forbes mencatatnya sebagai konglomerat termuda dengan kekayaan Rp23 triliun yang mengendalikan dua grup usaha, FAP Agri dan Surya Dumai Industri. Keduanya adalah perusahaan sawit dan biodiesel.
71:16
Speaker A
Anak dan bapak ini adalah investor utama bagi Jokowi dan Prabowo untuk proyek tebu dan bioetanol di Papua.
71:24
Speaker A
Sementara yang ini adalah Martua Sitorus, pemilik raksasa agribisnis dunia Wilmar International yang juga memegang konsesi sawit di Papua lewat berbagai perusahaan.
71:36
Speaker A
Tapi Martua kini memakai bendera baru yaitu KPN Corporation atau Karunia Prima Nastari. KPN inilah yang memiliki kelindan bisnis dengan keluarga Fangiono untuk proyek Tebu Merauke. Apalagi grup Wilmar yang didirikannya juga pemain gula utama di Australia.
71:56
Speaker A
Tahun 2010, Wilmar membeli 100% saham perusahaan gula terbesar Australia, Sukrogin. Akuisisi senilai 1,5 miliar dolar Amerika ini langsung menjadikan Wilmar pemain tebu terbesar kelima dunia.
72:13
Speaker A
Sebagian bibit tebu yang ditanam di Merauke adalah varietas yang dikembangkan lembaga riset gula Australia atau Sugar Research Australia.
72:23
Speaker A
Sugar Research Australia lalu menjalin kontrak pengembangan bibit dengan PT Global Papua Abadi milik Fangiono.
72:30
Speaker A
Tapi masalahnya Sugar Research Australia adalah badan publik yang tugasnya memajukan petani tebu dan sebagian dananya berasal dari pajak warga Australia.
72:41
Speaker A
Itu artinya warga Australia membiayai pengembangan bibit tebu untuk investor dan pemerintah Indonesia. Dokumen ini menunjukkan bahwa lembaga yang dibiayai warga Australia itu pernah memiliki kontrak penyediaan bibit dengan PT Global Papua Abadi milik keluarga Vangiono.
73:01
Speaker A
Kontrak itu baru berakhir pada November 2024. Artinya saat Presiden Jokowi dan keluarga Fangono menanam bibit tebu pada Juli 2024 ini, kontrak itu masih berlaku.
73:14
Speaker A
Nama lain dalam keluarga ini adalah Siliandra Vangiono yang pada tahun 2024 dijuluki raja sawit termuda dengan kekayaan Rp39 triliun dalam catatan Forbes. Ia mengendalikan grup First Resources.
73:33
Speaker A
Secara umum, keluarga Fangiono memiliki 20 perusahaan di Sumatera, 32 perusahaan di Kalimantan, satu di Jakarta, dua di Singapura, dan 25 perusahaan di Papua.
73:45
Speaker A
Di Papua perusahaannya tersebar dari Sorong, Mapi hingga Merauke. Para politikus dan pejabat Indonesia terus membesarkan konglomerasi meski Martias Fangiono pernah divonis 1 seteng tahun penjara karena kasus pembalakan liar dan kebun sawit ilegal tahun 2007.
74:05
Speaker A
Sementara tahun 2022, Wilmar terlibat kasus korupsi ekspor minyak sawit dan divonis mengembalikan kerugian negara 11,8 triliun.
74:17
Speaker A
Tumpukan uang ini disebut sebagai pembayaran dari grup Wilmar yang diterima secara simbolis oleh Presiden Prabowo pada Juni 2025 lalu. Tapi peran raksasa biodiesel dan bioetanol dunia ini belum akan surut di Indonesia.
74:32
Speaker A
Bahkan sebaliknya, sebuah dokumen presentasi bisnis dari Wilmar International Limited pada tahun 2010 ini bisa menjadi petunjuk.
74:44
Speaker A
Presentasi ini bagian dari proses pembelian 100% saham raksasa tebu Australia Sukrogin. Dalam presentasi ini, Wilmar mengaku ditawari konsesi lahan 200.000 1000 hektar di Papua atau dulu disebut Irian Jaya untuk menanam tebu.
75:03
Speaker A
Dengan penerbangan hanya 2,eng jam dari kantor Sukrojin di kota Townsville ke Merauke, Wilmar akan mengawinkan bisnis gula dan bioetanolnya menjadi pemain dunia.
75:15
Speaker A
Dan lokasi yang diincar oleh Wilmar adalah distrik Ilway Wayap di Merauke, kampung halaman Yasinta Moen.
75:23
Speaker A
Dan persis di sinilah 14 tahun kemudian ribuan ekskavator John Lyn Group milik Haji Isam mulai membuka hutan sebagai kontraktor pemerintah.
75:34
Speaker A
Presentasi dan gagasan ini dibuat oleh Wilmar pada Juli tahun 2010. Sebulan kemudian, Agustus 2010, Pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudoyono meluncurkan proyek lumbung pangan dan energi Merauke atau Merauke Integrated Food and Energy Estate.
75:51
Speaker A
Targetnya membuka lahan 1 juta hektar dalam lima kluster yang masing-masing 200.000 hektar. Angka yang sama dengan presentasi Wilmar.
76:03
Speaker A
5 tahun kemudian 2015 giliran Presiden Joko Widodo yang mau melanjutkan proyek pangan dan energi 1,2 juta hektar.
76:13
Speaker A
Menjelang pensiun sebagai presiden, Jokowi kembali menggencarkan proyek ini dan melibatkan Prabowo sebagai Menteri Pertahanan.
76:21
Speaker A
Jokowi lalu mendukung Prabowo sebagai presiden berpasangan dengan anaknya Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden.
76:30
Speaker A
Kini setelah menjadi presiden, giliran Prabowo yang melanjutkan proyek bioetanol dan biodiesel dengan memobilisasi militer dan melibatkan pejabat-pejabat yang juga para elit partai koalisinya.
77:05
Speaker A
He 300 tahun lalu, hutan-hutan di Pulau Jawa dalam waktu singkat berubah menjadi perkebunan tebu di bawah rezim kolonial Belanda.
77:59
Speaker A
Orang Jawa menjadi buruh dan petaninya dipaksa menanam tebu. Dari kolonialisme dan politik tanam paksa itu, Belanda memperkaya negara dan para investornya.
78:13
Speaker A
Tak puas membuka hutan untuk perkebunan di Jawa dan Sumatera, kolonial Belanda menanam tebu hingga di Suriname dan mengerahkan ribuan orang Jawa sebagai buruh pada tahun 1890.
78:27
Speaker A
Inggris yang sudah menguasai negara seluas India dan Papua Nugini pun masih menanam tebu jauh di tengah samudera Pasifik di tanah orang-orang Fiji lalu memindahkan puluhan ribu orang India menjadi buruh di sana.
78:42
Speaker A
200 tahun sebelumnya, ratusan ribu orang Afrika bahkan diperbudak untuk bekerja di perkebunan-perkebunan tebu Spanyol dari selatan Eropa hingga Karibia, Kuba, atau Jamaika.
78:55
Speaker A
Jika dulu tebu menjadi gula atau emas putih, kini cerita kolonialisme tebu berlanjut di Papua untuk bahan bakar nabati atau bioetanol.
79:06
Speaker A
Dan seperti semua cerita tentang kolonialisme, akan ada yang berpesta. dan ada yang membayar. Dalam setiap cerita pesta kolonialisme baik di Jawa, Karibia atau di Papua selalu melibatkan para elit lokal dari pejabat, perwira hingga agamawan. Tapi dalam setiap kolonialisme juga selalu
79:29
Speaker A
ada cerita tentang mereka yang mempertahankan diri dan melawan. Kami tidak punya kekuatan kami dipai kami dipadahi.
80:09
Speaker A
Dalam sejarah Gereja Katolik banyak pemimpin-pemimpin yang adalah tanda petik itu adalah Judas-Judas juga. Jadi itu sudah pasti karena itu adalah manusia ya. Satu sisi sebagai manusia dalam perjalanan digoda apalagi ada dalam posisi-posisi jabatan ya mungkin banyak tawaran-tawaran lain. Lalu di
80:29
Speaker A
situlah terjadi pergeseran keberpihakannya kepada kepada misi gereja tadi itu untuk umaat untuk mereka yang tertindas.
80:40
Speaker A
Yesus orang kirim eksovator, orang kirim tentara, orang kirim polisi. Pukul kami. Kami bukan pencuri. Kami tidak pernah mencuri orang bebaran. Kami tidak pernah menangis ke orang lain. Kami tidak pernah menangis kita bapak mamu. Kami menangis kepadamu Tuhan. Kan di lemah
81:00
Speaker A
tidak hijau orang datang ke pangsar kami wilayah kami untuk kasih habis kami ya hakiman dehi ya hakiman dehi bodoh ya hadul dehi bodoh ya hadi dehi kita buat sasi seperti begini ini untuk menolak perusahaan apapun yang masuk di
81:30
Speaker A
tanah kami. Kalau kita kasih, kita bikin rusak sekarang, kita punya generasi berikutnya mau dapat ke mana? Jadi kita nyatakan sikap di sore hari ini kami tolak.
81:41
Speaker A
Tolak. Apa yang dilakukan pemerintah untuk PSN adalah adalah kejahatan. Pemerintah bagian dari kejahatan, aktor perusak dan pembunuh terhadap ee negara eh apa?
81:52
Speaker A
Terhadap alam, hutan, terhadap ee manusia. Jadi negara, jadi akur pembunuh jadi pilatus. Pilatusnya siapa? Negara pemerintah Jakarta. Ini tana bukanong.
82:04
Speaker A
Masyarakat tanat kami berusahan tolak tolak tolak biasa. Jika tanah adat dan hutan adat hilang, kami mau hidup di mana? Maka di sini saya mau bilang negara jangan tipu-tipu kami lagi.
83:06
Speaker A
Alah Yahwe ala sampanim ala wuliwa. Kalau kami dianggap orang Papua itu bagian daripada republik, tolong hargai kami.
83:26
Speaker A
Dengan adanya PSN PT John Lindr yang sudah menerobos tanah kami dan hutan kami, merusak alam kami, itu yang kami datang ke Jakarta jauh-jauh dari Papua.
83:41
Speaker A
Kami mau bersuara kepada Bapak Presiden Prabowo Sugianto di mana keadilan untuk masyarakat Papua. Tolong lihat masyarakat Papua yang sudah mati.
84:02
Speaker A
Kami bersepakat menyatakan satu gereja-gereja di Indonesia mendukung masyarakat adat yang menolak proyek strategis nasional di tanah Papua. Dua, gereja-gereja di Indonesia menolak militarisme dan otoritarianisme di Indonesia.
84:41
Speaker A
Kita sering merasa banyak hal buruk sudah jadi cerita sejarah. Dan kita sekarang hidup lebih baik, lebih beradab, atau mustahil melakukan kejahatan seperti di masa lalu.
84:55
Speaker A
Kita tidak lagi menghukum mati orang dengan memenggal kepalanya. Kita menembaknya atau menyuntik racun agar tertidur dan mati.
85:05
Speaker A
Tapi ada hal-hal yang tak berubah. Salah satu pembantaian yang kuat di ingatan kita adalah kejahatan Nazi atau genosida di Rwanda.
85:16
Speaker A
Padahal pembantaian juga sedang terjadi di masa kita seperti di Gaza, Palestina. Penghancuran sebuah peradaban seperti Indian di Amerika atau aborigin di Australia juga kita anggap masa lalu.
85:32
Speaker A
Sekarang kita merasa lebih baik dan lebih toleran. Padahal proses penghancuran bahkan pemusnahan yang sama sedang terjadi terhadap bangsa Melanesia di Papua.
85:46
Speaker A
Begitu juga dengan praktik kolonialisme. Kita merasa penjajahan seperti dilakukan Portugis, Inggris atau Belanda sudah menjadi sejarah dan Indonesia tidak mungkin menjajah.
86:00
Speaker A
Padahal itulah yang sedang terjadi dan dirasakan di Papua. Yup. Ukaya man. Jalannya sejarah ini disadari Willam Kimko di pedalaman Bovendig Papua.
86:25
Speaker A
Hidup terpencil dan tak tersentuh urusan negara bukan berarti selalu aman. Untuk sampai di tempat ini, orang-orang Muyu menempuh dua hari berjalan kaki mengarungi hutan, lembah, dan sungai, termasuk mereka yang datang dari perbatasan Papua Nugini.
86:47
Speaker A
Mereka berkumpul untuk memenuhi undangan pesta adat yang disebut Awon Atatbon atau pesta babi. Yang mengundang adalah marga Kimko Jinjo.
86:59
Speaker A
Yang dituakan di marga ini adalah Willem Kimko. Ia tak punya kartu tanda penduduk dan kewarganegaraan manapun, baik Indonesia atau Papua Nugini.
87:13
Speaker A
Tahun 1984, 10.000 Ribu orang Papua terutama suku Muy mengungsi ke Papua Nugini untuk menghindari operasi militer Indonesia termasuk William Kimko.
87:29
Speaker A
Apa yang membuat pesta adat ini istimewa? Apa bedanya dengan acara serupa yang dihadiri pejabat, tokoh agama, LSM atau yang direkam oleh kru televisi dan konten kreator 13 14 15 16 17 18.
87:45
Speaker A
Pertama, untuk membuat pesta babi, orang Muyu perlu persiapan selama 10 tahun. Sebab babi-babi yang akan jadi bagian dari pesta ini tak boleh dibeli alias harus dipelihara sendiri.
88:01
Speaker A
Babi-babi ini bukan bantuan pejabat pemerintah, gereja atau LSM. Yang kedua, babi-babi ini tidak dipelihara di kandang.
88:16
Speaker A
Jadi punya nama babi ini kah? Harimau, harimau, harimau. Harimau. Depu kulit dengan ini bulu harimau macam harimau begituang kasih nama harimau.
88:31
Speaker A
Setelah diberi nama, mereka dilepas liarkan di hutan sejak kecil. 10 tahun kemudian, jika tiba saatnya pesta, para pemburu akan mencari mereka di dalam 479 hektar hutan milik marga Kimko. Suku atau marga lain tak akan mencurinya di hutan karena mereka sudah
88:53
Speaker A
punya babi dan wilayah masing-masing. Itu artinya mereka harus tetap menjaga dan mempertahankan hutannya agar babi-babi bisa hidup.
89:03
Speaker A
Demikian juga dengan lahan pangan mereka yang menumbuhkan sagu, keladi, atau aneka sayuran. Yang ketiga, dalam awon atat bon atau pesta babi, binatang ini tidak dimakan secara gratis.
89:27
Speaker A
Setiap marga atau klan dalam suku Muyu akan membayar jerih payah tuan rumah menjaga hutan dan memelihara babi.
89:50
Speaker A
Ini seperti arisan untuk menjaga budaya dan lingkungan. bagian dari budaya dan ekonomi timbal balik yang ditandai dengan siklus memberi dan menerima.
90:05
Speaker A
Ini juga cara orang muyu membangun dan memperluas aliansi. Oh e men di Jika Willem Kimko dan marganya bisa menjaga hutan dan wilayahnya, marga lain ikut diuntungkan sebagai sebuah ekosistem. Demikian juga sebaliknya.
91:02
Speaker A
Alasan keempat mengapa pesta babi ini memiliki tempat khusus dalam peradaban orang Muyu. Karena Willem Kimko khawatir peradaban mereka akan punah menyusul ancaman terhadap ekosistem dan hutan.
91:14
Speaker A
Setiap marga atau klan harus mengkonsolidasi diri dan membangun aliansi. Y y kekhawatiran Willem dan orang-orang Muyu tak berlebihan. Ruang hidup mereka bersinggungan dengan proyek bioetanol dan biodiesel pemerintah Indonesia.
91:47
Speaker A
Mereka juga tahu apa yang telah dan sedang menimpa suku lain seperti Auyu di Bovendikul atau Yainan dan Marin Anim di Merauke.
92:02
Speaker A
Jika suku-suku lain menggunakan palang adat dan salib merah sebagai gerakan perlawanan, orang-orang Muyu memakai pesta babi untuk mempersiapkan diri dan konsolidasi.
92:13
Speaker A
Sebab berbeda dengan saat mengungsi tahun 1984, kali ini yang datang ke tanah orang-orang muyu tak hanya tentara, juga alat-alat berat bersama para pebisnis pangan dan energi.
92:30
Speaker A
U Woi situ. Iukas Iwo iwo asusa Sawi taka asuwa asu Sawahi Papua iwo iwo i asuwa sawwa Asusa asusa Papua Papua Nasori O
Topics:Papuasuku asli Papuasalib merahtanah adatproyek pangan dan energideforestasiperlawanan adatpembangunan berkelanjutanintimidasi aparatbudaya Papua

Frequently Asked Questions

Apa tujuan utama penggunaan salib merah oleh suku Auyu dalam film ini?

Salib merah digunakan sebagai simbol perlawanan dan tanda larangan untuk mencegah pemerintah dan perusahaan memasuki tanah dan hutan adat mereka.

Mengapa proyek pemerintah Indonesia di Papua dianggap bermasalah oleh masyarakat adat?

Proyek ini mengancam hutan dan tanah adat yang menjadi sumber pangan dan budaya masyarakat asli Papua, serta disertai intimidasi dan pengawasan militer.

Siapa saja tokoh utama yang diceritakan dalam film ini dan apa peran mereka?

Film ini menampilkan lima tokoh dari suku Marin, Yi, Auyu, Muyu, dan lainnya yang mewakili perjuangan masyarakat Papua mempertahankan tanah dan budaya mereka.

Get More with the Söz AI App

Transcribe recordings, audio files, and YouTube videos — with AI summaries, speaker detection, and unlimited transcriptions.

Or transcribe another YouTube video here →