BEDAH STRATEGI TRADING ft. David Noah

Full Transcript — Download SRT & Markdown

00:00
Speaker A
owner-nya itu beneran tajir, view-nya long term, retail-nya itu dikasih makan.
00:06
Speaker A
Lu kalau bandar dada enggak suka sama gua, ngomong aja.
00:11
Speaker B
Oke, jadi tadi kita sudah bahas banyak banget ya, tentang mulai dari strategi, filosofi, apa namanya, psikologi, segala macam.
00:29
Speaker B
Jadi sekarang kita akan lanjut ke segmen selanjutnya, yaitu Q&A dari beberapa teman-teman, dan mungkin sambil gua bacain kali ya, beberapa pertanyaan yang masuk nih, dan kita sudah kurasi juga, karena banyak banget pertanyaan yang masuk dan thank you banget teman-teman semua untuk antusiasmenya ya.
00:48
Speaker B
Jadi mungkin kita akan mulai dari pertanyaan pertama dulu nih. Pertanyaan pertama, gimana cara kita tahu saham sudah mendekati momentumnya, Bro?
00:58
Speaker B
Kalau dari lu gimana nih?
00:59
Speaker A
Momentum turun atau momentum naik nih?
01:01
Speaker B
Eh, maybe both ya.
01:03
Speaker A
Oke. Momentum naik ya, sebenarnya cara trading itu kan basically kalau kita saham cuma ada tiga, pertama reversal, kedua continuation, ketiga sideways sebenarnya, selain itu kan sebenarnya sudah enggak ada cara lain.
01:55
Speaker A
Masing-masing approach to momentum itu beda-beda ya, kalau reversal sudah jelas ya, kita harus ngelihat seller-nya siapa, seller-nya sudah mulai mereda atau belum, terus di-cover buy-nya di area berapa, terus structure-nya apakah sudah berubah dari downtrend menjadi uptrend, itu untuk kita menentukan momentum pembalikan arah gitu.
02:31
Speaker A
Continuation juga sama ya, apakah dia keep making higher high, dia breaking last high-nya, terus apakah ada continuation flow, ada flow lanjutan, terus story-nya masih panjang atau enggak kayak gitu. Kalau sideways juga sama ya, kita identifying strong demand, strong supply area, terus kita perhatiin di area-area situ kalau di sideways itu pasti banyak fake out, jadi kita perhatiin ada fake out-fake out, udah sih, momentum gampang ya kalau beli ya, jual rada tricky.
03:32
Speaker B
Actually gua sampai detik ini gua masih mempelajari cara paling optimal buat jualan sahamnya.
03:37
Speaker A
Gua juga selalu ngomong yang sama lagi.
03:40
Speaker A
Karena jual itu menurut gua jauh lebih susah, karena gini, beli itu gampang, kenapa? Karena risk gua itu strict banget, maksudnya let's say gua maksimum 5%, sudah selesai.
04:02
Speaker A
Gua cuma cut kalau dia turun 5% di bawah harga rata-rata average gua kayak gitu.
04:24
Speaker A
Cuma kalau jual kan gua bisa naik 50%, 100%, 200%, jual itu jauh lebih tricky. Jadi apa yang gua lakukan adalah gua bisa trimming sih. Jadi kalau gua merasa sudah overshoot, terus gua paling suka indikatornya gua lihat Broxum lah.
05:18
Speaker A
Kalau gua momentum gitu, lu gimana nih?
05:21
Speaker B
I see. Kalau dari gua sebenarnya mirip-mirip ya, prinsip utamanya yang pertama market structure, kayak yang tadi lu bilang kan ada uptrend, sideways, dan downtrend.
05:32
Speaker B
Gitu kan. Jadi menurut gua, kalau pertanyaannya tadi kan gimana caranya kita detect momentum kan.
05:45
Speaker B
Jadi menurut gua momentum itu adalah perubahan dari market structure yang sideways jadi uptrend atau downtrend, gitu kan.
06:02
Speaker B
Nah, jadi otomatis pertama kita harus identify dulu sideways-nya, ya kan, sideways box-nya lah, sideways area-nya, ya kan. Sideways-nya ini sideways bagus apa sideways distribusi gitu.
06:49
Speaker B
Jadi ya dari situ kita cek dulu Broxum-nya. Broxum-nya itu kayak gimana, sudah yang tadinya naikin sahamnya atau kalau misalnya sahamnya belum naik gitu kan, masih dalam akumulasi atau enggak.
07:10
Speaker B
Apakah pengendali-pengendalinya atau broker-broker yang punya kepentingan dengan saham tersebut, mereka itu ngapain gitu. Kedua, retail-nya apakah mereka beli atau mereka jual gitu.
07:37
Speaker B
Biasanya gua selalu menerapkan prinsip kalau retail-nya keluar, gua masuk, ikutan dengan smart money. Kalau misalnya masih kanibal gitu ya, masih antar retail makan retail, gua masih avoid. Lalu untuk precise-nya ya, precise entry dan exit itu gua selalu pakai bit offer.
08:26
Speaker B
Dan ini gua juga ya gua enggak malu-malu untuk gua gua bilang bahwa gua murid Remora, gua selalu ya itu ilmu bit offer gua benar-benar dari Remora aja, dan sampai sekarang masih gua pakai gitu.
08:58
Speaker B
Jadi untuk menentukan momentumnya selalu yang pertama dari market structure, yang kedua untuk precise-nya kapan bisa tahu momentum itu akan hadir, itu dari bit offer. Ketika bit offer-nya itu misalnya contohnya let's say ada saham resistance-nya di harga 1.000 gitu kan, itu kan level psikologis harganya bulat gitu.
09:55
Speaker B
Biasanya itu retail-retail pada umumnya, mereka kalau sudah ngelihat harga 1.000, mereka tertarik kan untuk jual di harga tersebut. Basically cuma karena harganya sudah 1.000, mereka pengen jual. Betul, offer-nya bakal tebal tuh. Betul, offer-nya tebal, terus kalau gua lihat lot size-nya juga kecil-kecil gitu kan. Nah, itu biasanya yang gua lihat dari bit offer gitu.
10:31
Speaker B
Kalau misalnya itu sudah tembus dan tembusnya dengan cepat, itu biasanya yang gua cari untuk sebagai entry point gua. Jadi itu adalah deciding factor di mana dia akan momentum atau enggak.
11:00
Speaker B
Dan itu yang gua lakuin sama Supa kemarin kan.
11:01
Speaker B
Supa itu tiba-tiba dia waktu itu range-nya itu masih di 900 sampai 910, dia cuma gerak di situ doang, habis itu tiba-tiba dia keluar range tersebut, mulai bergerak di 920 sampai 930, tapi masih bolak-balik gitu kan.
11:20
Speaker B
Tapi the point is dia sudah mulai keluar range-nya, dia sudah ada akumulasinya di masa sideways-nya, dan ketika dia sudah mulai di range yang lebih di atas itu, gua cari breaking point-nya lagi, dan gua lihat bit offer-nya emang ada offer-offer retail, ya sudah habis itu hajar aja gitu kan.
11:40
Speaker B
Itu cara gua nentuin momentum ya.
11:41
Speaker A
Ya.
11:42
Speaker B
Lalu kita bisa ke pertanyaan selanjutnya.
11:43
Speaker B
Pertanyaan selanjutnya itu adalah apa kesalahan terbesar dalam trading atau investing di saham, Bro?
11:50
Speaker A
Oke. Kesalahan terbesar trading dan investing adalah orang enggak tahu dia trader apa investor.
11:55
Speaker A
Hmm.
11:56
Speaker A
Itu rancu tuh.
11:57
Speaker A
Karena orang bilang, gua beli saham ini.
12:00
Speaker A
Entar target gua 1.100.
12:05
Speaker A
Tapi pas turun dia bilang, kan valuasi masih murah.
12:09
Speaker A
Gua hold aja.
12:10
Speaker B
Nyari kebenaran ya.
12:11
Speaker A
Nyari dia membenarkan.
12:14
Speaker B
Ya, ya, ya.
12:15
Speaker A
Jadi dia enggak mau mengakui kesalahan gitu.
12:18
Speaker B
Yes.
12:19
Speaker A
Sedangkan kalau lu sudah profesional,
12:20
Speaker A
lu sudah tahu nih, lu sudah identifying.
12:24
Speaker A
Oh, gua pengen masuk sebagai seorang trader.
12:26
Speaker A
Gua tahu plan gua, kira-kira upside-nya berapa.
12:30
Speaker A
Risk gua di berapa.
12:33
Speaker A
Ketika kena hit risk gua, ya sudah lu move on.
12:36
Speaker A
Lu accept kekalahan lu gitu.
12:38
Speaker A
Sedangkan para trader dan investor pemula itu, pertama mereka confuse.
12:43
Speaker A
Mereka itu masuk untuk long term atau mereka masuk untuk short term.
12:46
Speaker A
Yang kedua, mereka enggak punya plan.
12:50
Speaker A
Ataupun kalau punya plan, mereka enggak disiplin.
12:52
Speaker A
Mereka denial.
12:53
Speaker B
Ya.
12:54
Speaker A
Jadi pas rugi 5%, takut-takut, enggak mau cut loss.
13:00
Speaker A
Eh, sahamnya turun 50%, akhirnya mereka frustrasi, mereka jual.
13:04
Speaker A
Terus bilang saham bikin gua bangkrut gitu.
13:06
Speaker B
Ya.
13:07
Speaker A
Atau misalkan influencer A bikin saya bangkrut.
13:10
Speaker A
Padahal salah lu sendiri siapa suruh lu.
13:12
Speaker A
Lu enggak cut loss kayak gitu kan.
13:13
Speaker B
Jempol jempol lu sendiri gitu.
13:15
Speaker A
Jempol jempol lu sendiri ya kan.
13:16
Speaker A
Terus sudah dikasih tahu lagi misalkan, eh cut loss 5%.
13:20
Speaker A
Dia enggak cut loss gitu.
13:21
Speaker A
Berarti kan dia bandel kayak gitu kan.
13:22
Speaker B
Ya.
13:23
Speaker A
Tapi kalau rugi gede ditahan, untung tipis dia jual.
13:27
Speaker A
Sepersekian, 2%.
13:28
Speaker A
Aduh, saya takut turun lagi, dijual.
13:30
Speaker A
Jadi pas sahamnya rally dia kelihatan upside, pas sudah rally dia kejar atas, jebol sahamnya.
13:34
Speaker B
Ya.
13:35
Speaker A
Itu kan sering terjadi juga.
13:38
Speaker B
Ya.
13:39
Speaker A
Saham-saham kayak misalkan Raja, BRMS.
13:42
Speaker B
Ya.
13:43
Speaker A
Jadi retail itu instingnya ya, instingnya belum dilatih sih.
13:50
Speaker A
Jadi dia mereka masih banyak ngelakuin kesalahan-kesalahan pemula lah.
13:52
Speaker B
Oke.
13:53
Speaker A
Menurut lu gimana ya?
13:54
Speaker B
Kalau dari gua, ini pertanyaannya gua jawab purely from trading point of view ya.
14:00
Speaker B
Karena gua enggak bisa ngomong investing karena gua bukan investor.
14:03
Speaker B
Gua enggak investing sama sekali.
14:05
Speaker B
Gua pure trading gitu.
14:06
Speaker B
Eh, jadi kalau dari gua, I think the biggest mistake is orang-orang biasanya belum menemukan jadi jati dirinya sendiri.
14:11
Speaker A
Hmm.
14:12
Speaker B
Karena menurut gua enggak ada satu strategi untuk trading yang bisa dipakai untuk semua orang.
14:20
Speaker A
Betul.
14:21
Speaker B
Satu strategi ini tuh masih harus cocok-cocokan gitu loh, tergantung kepribadian lu seperti apa.
14:30
Speaker B
Waktu yang bisa lu tuang ke market itu seberapa besar.
14:36
Speaker B
Apakah lu bisa mantengin dari jam 9 sampai akhir market.
14:41
Speaker B
Atau lu masih punya pekerjaan gitu kan.
14:43
Speaker B
Jadi kalau misalnya emang jagonya itu scalping, ya sudah scalping aja, jangan dipaksa untuk swing gitu.
14:50
Speaker A
Betul.
14:51
Speaker B
Kalau emang jagonya swing, jangan tiba-tiba scalping.
14:53
Speaker A
Scalping.
14:54
Speaker B
Gitu.
14:55
Speaker A
Benar, benar.
14:56
Speaker B
Ya kayak teman gua sendiri, teman gua emang jagonya scalping, terus dia pengen belajar untuk swing, menurut gua enggak usah emang lu sudah jago apa namanya scalping gitu kan.
15:05
Speaker B
Sudah profitable banget, kenapa harus diubah-ubah gitu?
15:08
Speaker B
Why fix something that's not broken?
15:10
Speaker A
Ya.
15:11
Speaker A
Berarti teman kita sama nih.
15:12
Speaker B
Nah, dan yang kedua, menurut gua, kesalahan terbesar di trading adalah ketika orang enggak bisa mengakui kesalahan karena egonya terlalu tinggi.
15:13
Speaker A
Ego terlalu tinggi, betul.
15:14
Speaker B
Yes. Jadi trading itu kan kita by nature emang transaksinya jauh lebih besar dibandingkan investor, maksudnya secara frekuensi ya.
15:27
Speaker B
Secara frekuensi itu bakal lebih sering kan. Jadi kalau misalnya kita itu harus selalu trading.
15:35
Speaker B
Kalau misalnya kita enter a position, kita sudah build a thesis before we enter the position.
15:40
Speaker B
Jadi ketika sahamnya turun, kita itu harus sudah mengakui bahwa mungkin tesis kita itu salah.
15:45
Speaker A
Ya.
15:46
Speaker B
Dan menurut gua banyak orang yang enggak bisa mengakui dirinya salah.
15:53
Speaker B
Dan mereka itu hold position mereka karena ada harapan.
16:00
Speaker B
Ada harapan bahwa mereka itu sebenarnya betul.
16:04
Speaker B
Jadi mereka sangat-sangat susah untuk ngaku salah dan merealisasikan loss mereka.
16:11
Speaker B
Karena as long as you have an open position.
16:14
Speaker B
Itu kan loss-nya belum belum terealisasikan kan.
16:17
Speaker B
Belum solid gitu, belum belum material.
16:20
Speaker B
Masih bisa naik turun gitu.
16:22
Speaker B
Ketika lu cut loss itu sudah fix, lu hilang duit sekian juta gitu misalnya.
16:26
Speaker B
Nah, itu mungkin yang susah gitu untuk dilakuin dan itu emang butuh certain mental state yang harus dilatih gitu ya.
16:32
Speaker B
Jadi kalau menurut gua itu dua kesalahan yang cukup fatal.
16:35
Speaker B
Dan akan sangat-sangat mempengaruhi equity growth in the long term.
16:40
Speaker A
Betul.
16:41
Speaker B
Gitu.
16:42
Speaker B
Jadi kita lanjut lagi nih ke pertanyaan selanjutnya.
16:45
Speaker B
Untuk pertanyaan selanjutnya, strategi manajemen risiko terbaik untuk mengantisipasi major correction saat bull trend.
16:50
Speaker B
Wah, ini menarik sih menurut gua.
16:51
Speaker B
Kalau menurut lu gimana, Pak?
16:52
Speaker A
Strategi manajemen risiko terbaik untuk mengatasi major correction dalam bull trend.
16:57
Speaker A
Oke, gua kasih prinsip gua yang pertama dulu.
17:00
Speaker A
Yang pertama, kalau saham lagi naik jangan mikir turun, kalau saham lagi turun jangan mikir naik.
17:05
Speaker B
Gua lumayan setuju karena prinsip gua trend following.
17:06
Speaker A
Benar.
17:07
Speaker A
Jadi gini, saham mengantisipasi correction pertama gua simpel.
17:10
Speaker A
Ngapain lu antisipasi?
17:11
Speaker B
Ya.
17:12
Speaker A
Major correction gua tinggal cut loss.
17:14
Speaker A
Kalau uptrend structure ke break gua tinggal buang.
17:17
Speaker A
Ngapain lu antisipasi?
17:18
Speaker A
Nih, gua punya prinsip, most money itu hilang karena lu mengantisipasi.
17:23
Speaker B
Hmm.
17:24
Speaker A
Koreksi dari koreksi itu sendiri.
17:26
Speaker A
Contoh deh ya, Dewa, sorry, ya Dewa di 400, Bumi di 200.
17:30
Speaker B
Ya.
17:31
Speaker A
Bumi di 200 itu sudah naik dua kali lipat lah.
17:33
Speaker A
Dewa di 400 sama sudah naik bahkan dari cepek lu sudah naik empat kali lipat kayak gitu kan.
17:37
Speaker A
Lagi bull market.
17:38
Speaker A
Terus dia, oh saya mau antisipasi, saya mengantisipasi major correction.
17:42
Speaker A
Pertama emang lu dukun, lu tahu kapan major correction datang.
17:44
Speaker A
Kedua, correction is a black swan, no one knows kapan itu datang.
17:47
Speaker A
Yang ketiga, lu missing out.
17:50
Speaker A
Lu missing out Bumi-nya begger, lu missing out Dewa-nya begger.
17:52
Speaker A
Padahal kalau lu trade, lu maksimum lu cuma hilang 5%.
17:56
Speaker A
Tapi gara-gara lu nunggu the perfect timing, the perfect moment, which is itu never happens anyway.
18:03
Speaker A
Karena ketika koreksi lu juga enggak akan berani beli.
18:05
Speaker A
Lu jadi missing out begger-nya.
18:06
Speaker A
Makanya lagi naik jangan mikir turun, lagi turun juga jangan mikir naik.
18:10
Speaker A
Gua udah enggak, never jangan dimikirin naiknya.
18:12
Speaker B
I see.
18:13
Speaker A
Sampai ada perubahan arah kayak gitu.
18:15
Speaker B
Kesimpulannya, tugas kita itu untuk react, bukan predict.
18:17
Speaker A
Benar, dan believe on market data lah.
18:20
Speaker A
Jangan believe on your feelings kayak gitu.
18:22
Speaker B
Ya.
18:23
Speaker A
Jangan jadi dukun lah istilahnya.
18:24
Speaker A
Walaupun kita harus punya view, kita harus punya predictions, kita harus punya strategi.
18:28
Speaker A
Tapi gua kalau lihat orang, ini bisa ke berapa, contoh Dewa, bisa ke berapa?
18:32
Speaker A
Enggak tahu gua.
18:33
Speaker A
Kalau dia turun entar gua jual aja.
18:35
Speaker A
Bumi bisa ke berapa?
18:36
Speaker A
Enggak tahu, selama naik gua pegang.
18:38
Speaker A
Selama turun gua jual, sudah very simple, very simple strategy.
18:40
Speaker B
Kalau dari gua, manajemen risiko.
18:41
Speaker B
Kalau manajemen risiko itu dari gua ya.
18:45
Speaker B
Kayak misalnya kayak kemarin nih, kan ada tiba-tiba berita tentang US Venezuela gitu kan.
18:52
Speaker B
Nah, itu gua langsung mengantisipasi ke depannya in case something happens, gua enggak mau over exposure ke market.
19:01
Speaker B
Jadi yang hal pertama gua lakuin adalah gua clear semua limit dan margin gua.
19:05
Speaker B
Jadi sekarang most of the time gua cuma pegang posisi-posisi dalam cash.
19:10
Speaker B
Kalau misalnya gua ada limit atau margin pun itu biasanya cuma buat day trading aja.
19:15
Speaker B
Gitu.
19:16
Speaker B
So that's the first thing.
19:17
Speaker B
Yang kedua.
19:18
Speaker B
Eh, menurut gua sendiri, all in itu bukan sorry, bukan all in ya.
19:25
Speaker B
Position sizing doesn't always equal risk management.
19:28
Speaker A
Ya.
19:29
Speaker B
Dalam artian kalau lu all in, bukan berarti risk management lu itu jelek.
19:35
Speaker A
Betul.
19:36
Speaker B
Tapi risk management jelek itu ketika lu enggak berani cut loss lagi-lagi gitu.
19:40
Speaker A
Benar.
19:41
Speaker B
Jadi ya gua selalu promote ya.
19:43
Speaker B
Gua open-openan aja kan, gua all in, iya.
19:46
Speaker B
Cuma gua juga berani cut loss kalau misalnya sudah enggak sesuai sama apa yang gua mau.
19:52
Speaker B
Prediksi apa namanya pergerakan harganya itu enggak kondusif.
19:55
Speaker B
Gua enggak ragu-ragu, enggak pakai mikir, enggak babibu, langsung gua hajar aja kiri lagi.
20:00
Speaker B
I'm not afraid of taking losses gitu kan.
20:02
Speaker B
I'm afraid of yang tadinya 2%.
20:05
Speaker B
Jadi 3%, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, wah tiba-tiba itu kan langsung kataput ke bawah.
20:10
Speaker B
Lama-lama itu recovery-nya sulit gitu.
20:12
Speaker A
Betul.
20:13
Speaker B
Jadi itu sih yang yang harus dilakuin untuk manage risiko adalah berani mengakui salah dan berani cut loss.
20:19
Speaker B
Cut loss-nya harus cepat gitu.
20:20
Speaker A
Ya.
20:21
Speaker B
Dan kalau misalnya all in, no problem, yang penting bisa cut loss gitu.
20:25
Speaker A
Dan terakhir sih, menurut gua ya.
20:27
Speaker A
The best risk management itu justru happen sebelum lu beli sahamnya.
20:30
Speaker A
Hmm.
20:31
Speaker A
Jadi stock picking-nya sih.
20:32
Speaker B
Nah, I see.
20:33
Speaker B
Benar, benar.
20:34
Speaker A
Lu harus very selective di stock picking-nya.
20:36
Speaker B
Ya, ya, ya, ya.
20:37
Speaker B
Oke, next question.
20:38
Speaker B
Ada yang nanya, IHSG akan naik atau turun setelah sampai target 9.000?
20:47
Speaker B
Dan kalau penurunan maksimal ke berapa, Bro?
20:50
Speaker A
Gua kadang gini ya, gua gua semakin lama di market ya.
20:51
Speaker A
Terus gua makin lama jadi public figure.
20:55
Speaker A
Gua merasa orang itu menganggap kita dukun, Bro.
20:57
Speaker A
Hmm.
20:58
Speaker A
Orang itu expect kita itu tahu segala hal gitu.
21:00
Speaker A
Jujur ya.
21:01
Speaker A
Jujur gua juga enggak tahu.
21:02
Speaker A
Gua tuh benar-benar typical orang yang kayak.
21:04
Speaker A
Terus pertama IHSG.
21:06
Speaker A
Gua juga enggak peduli IHSG.
21:07
Speaker A
Saham-saham yang gua pegang juga relatively alpha to IHSG lah.
21:10
Speaker A
Ya kita pegang Dewa, Bumi, Petro, IMPC, VKTR, Bull.
21:16
Speaker A
Maksudnya pegangnya itu bukan kayak Telkom.
21:20
Speaker A
Ya kan.
21:22
Speaker A
AC ya kan.
21:23
Speaker A
Kalau kita lihat top 10 market cap IHSG aja sekarang kan 7 out of 10 itu saham-saham konglomerat.
21:28
Speaker A
Ya which is itu kan inflated karena kepentingan sebenarnya kan.
21:32
Speaker A
Jadi gua enggak ngelihat IHSG ini sebagai suatu yang spesial lagi sebenarnya.
21:35
Speaker A
Ya karena IHSG year to date 2025 21%.
21:40
Speaker A
LQ45-nya cuma 2,5%.
21:42
Speaker A
Jadi sebenarnya ada gap gede di situ gara-gara saham konglomerat yang mendominasi.
21:47
Speaker A
Kayak DSA, DCII, BRIN and everything kayak gitu kan.
21:50
Speaker A
Pani.
21:51
Speaker A
Jadi gua sekarang lebih ngelihatnya stock by stock sih, gua ngelihat saham per sahamnya.
21:55
Speaker A
Karena mau IHSG koreksi, seringkali saham gua hijau-hijau aja tuh gitu.
22:00
Speaker A
Atau kalau IHSG yang hijau, kadang saham gua juga merah-merah aja.
22:03
Speaker A
Jadi gua lebih mentingin ke per sahamnya sih.
22:06
Speaker A
Jadi IHSG mau ke mana, jujur gua juga enggak gitu peduli sih.
22:08
Speaker B
Benar sih, gua setuju.
22:09
Speaker B
Gua juga bukan dukun ya.
22:11
Speaker B
Gua juga enggak tahu IHSG bakal ke mana.
22:13
Speaker A
Koreksi ke mana.
22:14
Speaker B
Cuma ya.
22:15
Speaker B
Gua dengerin pahlawan gua aja, kalau Pak Purba ya bilang 10.000.
22:20
Speaker A
Sekarang sudah 10.000 kan.
22:21
Speaker A
Dia bilang 12.000, Bro.
22:22
Speaker B
Oh, ya 12.000.
22:23
Speaker B
Terserah Pak Purba ya.
22:25
Speaker B
Kalau dia bilang 12.000, ya sudah 12.000.
22:27
Speaker B
Jadi maybe that's it for today.
22:30
Speaker A
Thank you, guys.
22:31
Speaker B
Thank you semuanya untuk sudah nonton dan thank you juga Bro David sudah datang.
22:37
Speaker A
Thank you.
22:38
Speaker B
Eh, semoga bermanfaat, semoga kalian bisa mendapatkan sesuatu dari segmen podcast kita kali ini.
22:44
Speaker B
Dan stay hungry, stay cuan, jangan takut cut loss.
22:50
Speaker A
Salam cuan.

Get More with the Söz AI App

Transcribe recordings, audio files, and YouTube videos — with AI summaries, speaker detection, and unlimited transcriptions.

Or transcribe another YouTube video here →