**Diskusi Tentang Pendidikan Indonesia — Transcript & Summary | SozAI**
Source: https://sozai.app/transcript/diskusi-pendidikan-indonesia/

Diskusi mendalam tentang pendidikan Indonesia bersama Mbak Ella, founder Sekolah Cikal, membahas motivasi belajar dan inovasi pendidikan.

## Key Takeaways

- Motivasi belajar adalah kunci utama yang harus dipupuk dalam sistem pendidikan.
- Sistem pendidikan konvensional seringkali mematikan rasa penasaran dan kreativitas siswa.
- Pendidikan harus melibatkan siswa secara aktif dan kontekstual agar bermakna.
- Lingkungan sekolah dan komunitas sangat berperan dalam mendukung proses belajar anak.
- Sekolah yang inovatif seperti Sekolah Cikal dapat menjadi model pendidikan yang lebih manusiawi dan efektif.

## What the video covers

- Pembicaraan diawali dengan perkenalan Mbak Ella sebagai founder Sekolah Cikal dan Abdul Arsyad.
- Mbak Ella berbagi pengalaman pribadi tentang sekolah di Indonesia dan ketidaksenangannya terhadap sistem pendidikan konvensional.
- Dibahas motivasi belajar yang penting dan bagaimana sistem pendidikan saat ini sering mematikan rasa penasaran alami siswa.
- Mbak Ella menjelaskan latar belakang pendirian Sekolah Cikal dan filosofi pendidikan yang diterapkan.
- Diskusi mengenai bagaimana menghadapi siswa yang tampak tidak memiliki motivasi belajar.
- Penjelasan tentang metode pembelajaran yang lebih kontekstual dan melibatkan siswa secara aktif.
- Dibahas juga peran lingkungan sekolah dan komunitas dalam mendukung pendidikan anak.
- Mbak Ella menyinggung pentingnya perpustakaan dan ruang belajar yang mendukung kreativitas anak.
- Cerita tentang alumni Sekolah Cikal yang sukses dan kembali berkontribusi pada sekolah.
- Diskusi berakhir dengan refleksi tentang perubahan dunia dan tantangan pendidikan masa kini.

## Chapters

1. 00:00 Perkenalan dan suasana awal diskusi
2. 02:47 Pengalaman Mbak Ella dan latar belakang Sekolah Cikal
3. 06:43 Filosofi pendidikan dan motivasi belajar
4. 10:13 Metode pembelajaran dan tantangan sistem pendidikan
5. 13:46 Peran lingkungan dan komunitas dalam pendidikan
6. 18:17 Alumni dan kontribusi terhadap Sekolah Cikal
7. 29:11 Refleksi dan tantangan pendidikan masa kini

Answers

## Questions about this video

Siapa Mbak Ella dan apa perannya dalam pendidikan Indonesia?

Mbak Ella adalah founder Sekolah Cikal dan pendiri Yayasan Cinta Keluarga yang fokus pada inovasi pendidikan di Indonesia.

Apa alasan Mbak Ella mendirikan Sekolah Cikal?

Mbak Ella mendirikan Sekolah Cikal karena ia tidak pernah merasa sekolah konvensional memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna, sehingga ingin menciptakan sistem pendidikan yang lebih baik dan memotivasi siswa.

Bagaimana Sekolah Cikal memotivasi siswa yang kurang berminat belajar?

Sekolah Cikal berusaha menumbuhkan motivasi belajar dengan metode pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif, kontekstual, dan menumbuhkan rasa penasaran alami, bukan hanya fokus pada ujian dan nilai.

## Full Transcript — Download SRT & Markdown

00:00

Speaker A

Hari ini kita ngobrol bersama Mbak Najila Siap atau Mbak Ella sebagai founder Sekolah Cikal. Betul. Ada Abdul Arsyad di sini sebagai kolektor mobil.

00:11

Speaker A

[tertawa] Mobilnya ganti mulu. Semua orang curiga jadinya ada apa ya? Ganti mulu mobilnya. Aku bisa nebak sih. Kira-kira kenapa?

00:18

Speaker A

Saya kan jadi guru Cikal. [tertawa] Sejahtera. Oh gitu ya. Iya. Warna apa yang lu bawa sekarang?

00:26

Speaker A

Sama. Masih sama. Masih sama banget. Keren banget mobilnya. Keren ya. Oh, berarti nanti pas keluar aku harus lihat deh. [tertawa] Saya enggak bisa minta anterin pulang.

00:35

Speaker A

Tinggal jalan kaki soal tinggal jalan doang tinggal jalan. Rumah Mbak daerah sini juga di sini kita dekat-dekat.

00:39

Speaker A

Oh, Banana kan memang di sini. Aku tahu sebelah persis. Oh, sebelahan. [tertawa] Semua kita. Aku akamsi kalau di sini. Di sini dari kelas 3 SD.

00:51

Speaker A

Sekolah di madrasah dekat sini. Terus SMP negeri dekat sini yang lu lewatin tiap hari.

00:56

Speaker A

Ya Allah. Benar-benar. [tertawa] Aku anak Pasar Minggu. Sekolah negeri dari SD. Aku enggak pernah sekolah di luar negeri, selalu sekolah negeri sempat madrasah sampai kuliah juga. Jadi sekolah akamsi. [tertawa] Bro. B.

01:10

Speaker A

Ya udah, yuk ke sana yuk. Oh, sebelahan. Terus kalau semuanya sebelahan Abi juga. Kalau Abi juga di sebelahan. Oh, sebelahan-sebelahan semua gitu. Enak banget ya. Mudik tinggal ke rumah sebelah ya. [tertawa] Gordi itu Mbak Mbak juga. Iya, bareng-bareng sama tetangga-tetangga

01:27

Speaker A

Jeruk perut juga kan. Oh, ada coffee shop. Gua suka beli coffee shop di situ. Gordi punyanya Mbak Ella juga.

01:34

Speaker A

Tahu enggak kenapa aku suka habis sana? Kenapa? Karena radius di sini cuman itu yang punya di kaf cofe. Oke.

01:40

Speaker A

Yang lain enggak enggak punya. Jadi kopi yang enggak ada kafeinnya. Kopi enggak ada kafeinnya. Air. [tertawa] Putih itu, Bang.

01:47

Speaker A

Air putih. Kopi ngapain? Ngapain minum kopi? [tertawa] Rasanya rasanya rasa kopi. Rasanya rasa kopi tapi tidak ada warnanya hitam.

01:56

Speaker A

Warnanya hitam dicampur pilkina kali. [tertawa] Enggak enggak bikin degdeg-degdek gitu cuman cuman buat aroma-aroma doang.

02:06

Speaker A

Ada library juga dekat sini. Forward library itu anak-anak. Iya. Semua makanya AKMC udah dibilang AKAMC. [tertawa] Aku kemarin pas lewat sana sini support system. Menarik juga aku.

02:18

Speaker A

Aku pas lewat sana kan kayak wah ini ada ada perpustakaan daerah sini menarik banget.

02:22

Speaker A

Heeh. Ramai loh setiap hari bisa 90 orang. Jadi kita tempat umum dong umum. Anak-anak tetangga banyak yang ke situ.

02:30

Speaker A

Jadi ada tempat ngumpul lah kalau di daerah sini selain masjid ya. Ih keren. [tertawa] Sih. Keren. Keren.

02:35

Speaker A

Keren. Habis dari podcast ini deh saya ke for iya. Ini jangan disewa dulu ya ini. [tertawa] Ya.

02:41

Speaker A

Masih 2 tahun nih nyewa di sini. Jangan diambil dulu ya. Ini tiba-tiba jadi apa gua. [tertawa] Enggak tahu nanti.

02:47

Speaker A

Jangan dong, ini udah cocok nih dari tempat. Oke, kita hari ini ngobrolin soal pendidikan Indonesia, terutama pengalaman Mbak Ela untuk Sekolah Cikal sendiri. Ada Abdur di sini karena anaknya juga baru masuk SD kalau enggak salah dan ada yang baru 1 setengah

03:02

Speaker A

tahun ya lagi disiapin juga pendidikannya. Betul. Kita mulai dari Mbak Ella dulu kali ya.

03:07

Speaker A

Kenapa sih kok bikin sekolah? Maksudnya ada gitu orangnya sekolah ah gitu. Itu tuh gimana ceritanya sih? Aku tuh selalu tadi kan aku bilang ya, aku tuh sekolah full di Indonesia ngerasain yang gua rasain selalu tuh gua tuh suka banget belajar

03:22

Speaker A

tapi enggak pernah senang sekolah. Oke. Wow. Jadi kayak selalu tuh gua anaknya kayak kepo banget dari kecil banyak nanya dan sebagainya gitu. Senang banget baca tapi enggak pernah ngerasa bahwa sekolah tuh jadi pengalaman yang meaningful gitu.

03:38

Speaker A

Enggak pernah boro-boro meaningful gitu. Menyenangkan aja enggak. Kan biasanya meaningful tuh sesudah senang terus menemukan sesuatu gitu ya yang bikin kita tambah ngerasa menikmati gitu. Enggak sama sekali.

03:51

Speaker A

Tapi walaupun kalau secara definisi kesuksesan nih Dit gua tuh ranking satu melulu, lulus seleksi masuk tanpa tes gitu-gitu yang kayak nilai UN sempurna dan sebagainya. Penting. Gua enggak bangga sama sekali sumpah. Karena gua merasa ya yang gua pengin pelajarin tuh

04:09

Speaker A

justru enggak dapat dari pengalaman di sekolah gitu. Terus gua ngelihat banget teman-teman gue yang menurut gua kayak pintar-pintar banget tahu kan yang kayak paling seru diajak ngobrol kalau jam istirahat yang kayak paling pertanyaannya tuh gua juga kiris karena

04:23

Speaker A

gua enggak tahu jawabannya gitu. Sementara kalau pertanyaan guru gua udah tahu semua gitu jawabannya. Kayaknya itu yang selalu dicap anak bandel, anak malas ngerjain tugas. Gua kebetulan aja penurut gitu, jadi kayaknya sukses di sekolah walaupun gua enggak happy. Nah,

04:37

Speaker A

si yang pembangkang-pembangkang yang mungkin kemudian masuk ke industri kreatif kayak lu berdua gini ini tuh. [tertawa] Pembangkang emang pembangkang dia.

04:45

Speaker A

Kenapa saya dong? Tapi tapi yang salah tuh sistemnya. Benar yang salah sistem. [tertawa] Bukan iya jangan jangan ke saya doang dong.

04:53

Speaker A

Dia punya teman pedagang senjata. Iya. Kalau itu memang bangkang itu. [tertawa] Bukan cuman pendidikan negara itu dibangkangi itu sama dia.

05:01

Speaker A

Tapi faktanya tuh yang masuk ke pendidikan. Jadi gua dari kelas 2 SD pengin jadi guru.

05:06

Speaker A

Dari kelas 2 SD pengin jadi guru lebih karena gua ngerasa hmm ada guru-guru yang bikin gua semangat dan gua pengin jadi kayak gitu. Tapi lebih banyak juga guru-guru yang kayak oke kalau gua jadi guru, gua enggak akan jadi guru yang

05:19

Speaker A

kayak gitu gitu. Nah, terus akhirnya masuk psikologi karena gue emang pengin belajar lebih banyak soal pendidikan.

05:28

Speaker A

Heeh. Dan gue tahu bahwa pendidikan tuh kan manusianya kan. Jadi, ya pengin belajar soal manusia sih. Gimana sih manusia belajar, gua belajar kognisi, gimana proses belajar yang benar-benar bikin subjeknya tuh engage gitu ya, terlibat bukan cuma

05:44

Speaker A

dicekokin gimana sebetulnya motivasi internal kayak lu penasaran banget, lu pengin tahu, lu pengin bisa. Itu sebetulnya udah udah ada dari di manusia dari mulai lahir gitu. Tapi justru itu yang dimatiin sama sistem persekolahan karena motivasi lu bukannya makin lama

06:01

Speaker A

makin tinggi justru makin mati kan gitu. Nah, itu dia. Terus ngajar. Sebetulnya gua setahun setengah pertama dari karir gua tuh gua ngajar full time sebagai di Psikologi UI sebagai dosen.

06:14

Speaker A

Sebagai dosen, sebagai tenaga pengajar. Nah, terus habis itu ada cross road lah, ada pilihan jadi PNS apa jadi pegawai UI dan sebagainya. Terus gua putusin, ah kayaknya gua mendingan mempraktikkan apa yang gua ajarkan gitu ya.

06:27

Speaker A

Mempraktikkan apa yang gua pelajari dan bikin ya satuan pendidikan bikin satu institusi langsung tuh berarti ya 22 tahun aku bikin Ciko.

06:37

Speaker A

22 tahun umur 22 tahun pendidik apa? Yayasan pendidikan namanya ya? Yes. Yayasan Cinta Keluarga.

06:43

Speaker A

Yayasan Cinta Keluarga. 22 tahun. Umur 22 tahun. Cuma gue waktu itu enggak berani ngaku umur 22 tahun. Untungnya gua pakai jilbab. Kelihatan lebih tua kalau pakai jilbab. Terus sudah gitu gua pakai kacamata dulu. Terus gua udah punya anak karena gue nikah muda kan

06:57

Speaker A

umur 18 nikah. Jadi umur 22 tuh. Heeh. Itu cerita lain kayaknya podcast. [tertawa] Oke oke oke oke oke.

07:03

Speaker A

Tolong jangan jangan. Jadi gua udah punya anak umur 1 setengah tahun bikin Cikal terus ya ngomong soal ya gimana menurut gua konsep pendidikan yang ideal itu yang gua coba ke anak sendiri.

07:17

Speaker A

Ke anak dan kemudian ya ke murid-murid lain gitu ya. Keren banget. [berdehem] Ya. [tertawa] Lu kanin pendidikan guru kan.

07:23

Speaker A

Iya betul betul. Ini yang mau saya tanya ke Mbak Ela. Mbak Ela tadi tuh bilang baik sebenarnya kalau dari yang saya tangkap tuh kan metode misalnya ceramah yang seperti biasa yang konvensional itu maupun yang misalkan

07:36

Speaker A

mengajak murid turut serta segala macam basicnya itu kan harus ada motivasi dari muridnya kan.

07:41

Speaker A

Betul. Nah, bagaimana kalau kita tuh menemukan murid yang memang motivasi belajarnya tidak ada? Nah, gimana cara kita biar dia tumbuh motivasinya tuh?

07:50

Speaker A

Pertama tuh enggak ada orang yang enggak punya motivasi gitu kan. Udah nge-judge berarti lu udah ngejude.

07:55

Speaker A

[tertawa] Mohon maaf, mohon maaf, mohon maaf murid-murid yang dulu saya ajar ya. Memang kalian kayaknya emang enggak ada motivasi. [tertawa] Belajar kalian me

08:03

Speaker A

Oh, berarti pernah praktik jadi guru juga? Iya, waktu itu saya ngajar tuh kayaknya saya bingung juga ini gimana ya caranya biar biar dia tertarik dengan saya gitu.

08:11

Speaker A

Karena gini, yang lu bilang enggak punya motivasi itu biasanya dia setidak-tidaknya nih dia punya motivasi untuk menghindari yang susah-susah.

08:19

Speaker A

Jadi dia nyari yang gampang doang. Semua orang tuh pasti punya motivasi. Cuma bedanya nih yang kita bilang enggak punya motivasi, a motivasi tuh dia enggak mau ngerjain yang susah. Dia cuma mau yang gampang.

08:28

Speaker A

Yang gampang menurut dia. Yang gampang menurut dia. Oh, jadi dia nge-skip, ngelongkap, nyerah sebelum mendaki dan sebagainya. Itu tuh orang-orang yang seringkiali di kelas.

08:36

Speaker A

Nah, tapi gua tuh selalu percaya banget pas lahir manusia tuh motivasinya tuh luar biasa. Lu bayangin anak-anak lu deh pas lahir. Benar-benar kan itu tadi tadi kita sempat ngobrol sebenar kan proses lahir aja tuh kan udah susah kan.

08:51

Speaker A

I iya iya. Dia enggak bisa dipaksa keluar. Dia punya motivasi untuk dia ee keluar melihat dunia. Habis itu dia merangkak inisiasi menyusu di itu kan enggak ada yang ngasih ranking loh. Emang ada ranking pertama cepat menemukan putih [tertawa] susu ibu gitu. Enggak ada.

09:09

Speaker A

Enggak ada yang nepokin, enggak ada apa. Itu berarti kayak keinginan buat belajar, keinginan buat tumbuh. Itu tuh bawaan lahir sebenarnya.

09:16

Speaker A

Insting ya. Insting dan ya harusnya bisa dinurt terus. Nah, cuma yang terjadi apa? Takut kan. Akhirnya kebanyakan [berdehem] kita tuh bukan dari motivasi internal pengin tumbuh, pengin belajar nih yang benar-benar yang ideal nih yang sebenarnya mau kita pertahankan nih.

09:31

Speaker A

Kita enggak langsung ke enggak punya motivasi, nyerah. Nah, ini kebanyakan kita nih mungkin kalau datanya bilang sekitar 75 sampai 80% orang tuh adanya di zona takut. Jadi dia punya motivasi, tapi motivasinya itu motivasi takut dihukum, motivasi takut enggak dapat

09:48

Speaker A

pujian, motivasi ee kepengin ngerjain sesuatu kalau dapat sogokan dan sebagainya. Dan itu yang dikuatkan oleh sistem persekolahan dan itu yang sejak awal kalau di konsep pendidikan yang pengin gua sebarin ini, itu yang paling dasar harus dilawan. Karena kalau si

10:06

Speaker A

yang belajar tuh enggak jadi subjek, kalau bukan yang belajar itu yang pengin belajar, ya lu mau masukin apapun tuh.

10:13

Speaker A

enggak akan bisa paham paham enggak akan bisa ada ownership gitu. Nah, cuma susahnya sistem kita kayak yang lu bilang tadi gua kasih ujian biar lu mau belajar kata siapa I [tertawa] karena gini baiklah yang saya temukan juga tuh misalnya kayak oke dia dia

10:29

Speaker A

sebenarnya punya motivasi motivasi menghindari yang susah t ya [berdehem] ee pengin yang muda-muda yang dia paham dulu nah tapi di sisi lain tuntutan kurikulum itu semester ini dia harus mengerti kompetensi dasar ini ini itu yang [berdehem] sebagai guru kita

10:44

Speaker A

harus kejar biar eh kau harus paham yang ini yang mudah-mudah tuh nanti dulu deh yang ini [tertawa] dulu nih kayak gitu.

10:49

Speaker A

Enggak, karena lu punya asumsi kalau dia enggak kalau lu maksa dia, he ngegeret dia, itu seolah-olah selesai kan. Padahal ibarat naik gunung nih, ya lu cuma ngedorong dia terus dianya sendiri enggak ada supaya dia punya iya sampai kapan?

11:04

Speaker A

Waktu itu aku kan ngajar di UI kan di produksi media kan. He di kelas pertama gua, gua selalu bilang bahwa ee lu perlakukan kelas ini untuk kepentingan lu aja. Betul.

11:15

Speaker A

Kan aku kan ngajar produksi media nih, terutama buat podcast kan. Ee di industri lu perlakukan industri lu itu butuh apa dari podcast sehingga lu belajar kelas gua bukan yang kayak gua kayaknya enggak butuh ini deh. Jadi gua gua lewatin aja.

11:27

Speaker A

Kayak misalnya kan ada yang di industri gaming ya mungkin lu butuh podcast buat promosi game lo.

11:32

Speaker A

Nah, jadi pertanyaan lu dan nyimak kelas gua itu untuk kepentingan lu pribadi gitu. Nah, itu itu powerful banget karena semua orang tuh kayak harus datang belajar tuh dengan pertanyaan yang relevan buat dia kan. Semua orang kan mau ngapain tuh yang kayak what's in it

11:44

Speaker A

for me? Kenapa gua harus belajar ini? Kenapa gua harus ngerti ini? Gitu. Dan banyak banget guru tuh gagal untuk memantik si motivasi itu.

11:53

Speaker A

Karena yang punya motivasi gurunya kan yang kayak gua harus menyelesaikan ini kalau enggak nanti gua enggak bisa masukin leson plan ini dan sem itu ya el yang termotivasi [tertawa] untuk melakukan itu. Anak aku motivasinya lain termotivasi untuk gimana secepat mungkin

12:07

Speaker A

keluar dari kelas ini gitu kan. Betul. Tapi tuh matanya jadi beda mereka beda banget kan. Oh iya, ini nih buat tugas gua nih. Ini buat ini gua nih.

12:14

Speaker A

Jadi jadi kayak ada rasa kepentingan pribadi yang mereka taruh di kelas yang gua ajar.

12:19

Speaker A

Iya. Ya, akhirnya gua pakai terus tuh. He. Sampai berapa semester gitu. Itu kalau di Cikal kita bilangnya memberdayakan konteks. Jadi kayak di akhir tuh lu tuh bakal pakai apa yang lu pelajari tuh buat apa.

12:31

Speaker A

Oke. Oke. Karena kalau tanpa itu ya lu enggak akan punya cukup gitu untuk kemudian habis ujian pun lu belajar terus gitu. Oh.

12:42

Speaker A

Nah, oke. [tertawa] Ini mumpung mumpung ada juga saya banyak sekali banyak sekali hal yang saya tidak mengerti dan saya tuh senang banget ketemu Mbak. Jadi kayak tadi tuh oke ee pembelajaran berdasarkan konteks.

12:57

Speaker A

Apa yang lu butuhin atau kita kasih tahu ee pertanyaan tadi yang di kepalanya orang-orang kenapa sih saya harus belajar ini dan segala macam itu tuh sangat dialami pada guru-guru matematika menurut saya ya.

13:09

Speaker A

Karena matematika tuh semakin tinggi jenjangnya dia semakin abstrak. Iya. I. Nah, jadi itu tuh sering sekali saya temui waktu waktu saya masih ngajar saya enggak bisa jawab tuh. Ketika mereka tanya, "Pak, ngapain sih saya belajar persamaan kuadrat? Saya juga

13:24

Speaker A

limit algoritma ngapain logaritma gitu." Saya bilang saya juga enggak tahu [tertawa] ya. Disuruh kepala sekolah, disuruh kepala sekolah. Buka buku kalian.

13:34

Speaker A

Gurunya di depan dia juga enggak [tertawa] tahu. Iya. Saya juga enggak tahu kenapa saya ambil jurusan ini dulu.

13:40

Speaker A

Ya, itu itu kagok juga sih saya sebagai guru pada waktu itu ya. Kayak ya saya juga bingung sih ini dipakai di mana di kehidupan.

13:46

Speaker A

Kalau tadi gaming dengan podcast apa itu tuh masih hal yang kita lihatam logaritma apa kita lihat selama di dunia ini gitu.

13:54

Speaker A

Paham paham paham e semakin abstrak karena itu jadi itu sebenarnya enggak harusnya jadi wajib buat semua orang kan. He.

14:01

Speaker A

Karena kalau kita ngomong konteks tuh juga gua selalu mikirnya tuh ya yang dibilang konteksnya cikal sama konteksnya sekolah-sekolah yang ada kayak di pulau terpencil dan sebag itu kan juga beda. Jadi kalau kurikulumnya terus sama semua kan jadinya kayak

14:17

Speaker A

enggak nyambung gitu. Ada hal-hal yang bisa sama, ada yang kita bilang cor kurikulum yang mesti sama. ya. Semua orang harus paham bacaan, semua orang harus kayak si matematika yang dasar harus ee bisa yang berkaitan sama kehidupan sehari-hari. Tapi kayak enggak

14:32

Speaker A

semua orang harus jago masalah lingkungan dari A sampai Z. Ya, tergantung kalau konteks lu isunya polusi, konteks lu isunya sampah gitu ya. Pahlawan juga kayak enggak harus hafal dari A sampai Z. Tapi kalau lu kerja atau sekolah lu di jalan TB

14:46

Speaker A

Simatupang, masa lu enggak tahu sih TB Simat Tupang siapa? Terus lu dipaksa ngfalin tentang si Pangeran di Ponegoro.

14:52

Speaker A

Maksudnya kayak hal yang sederhana banget kayak gitu pun tuh mengkontekstualisasikan kurikulum ke apa yang ada di hidupnya masing-masing anak aja tuh banyak banget yang gagal. Terus habis itu kita nanya, "Kenapa sih murid gua malas belajar?" Ya, orang dia enggak

15:04

Speaker A

tahu manfaatnya apa buat lu. Terus muridnya lagi disalahin. Aku kasihan banget deh sama generasi sekarang disalahin melulu. [tertawa] Nah, itu mohon maaf ya murid-murid saya dulu.

15:14

Speaker A

Nah, itu pondasi kan Cikal ini 26 tahun sekolah Cikal dan di ee daerah sini kan di Lebak Bulus kan tadinya.

15:23

Speaker A

Lebak Bulus. Heeh. Kita ada di Kemang. Sekarang kalau di Jakarta Selatan ya kita ada di Serpong juga, ada di Cipayung Jakarta.

15:32

Speaker A

Dan akhirnya satu Indonesia juga Bandung, [berdehem] Surabaya ada juga. He. Nah, jadi waktu dulu itu ee aku lagi syuting di sekolah cikal juga tuh nginjam lapangannya itu hari libur tuh tapi kayaknya lagi ada ex schol atau gimana.

15:48

Speaker A

Terus pas kita nyampe ada anak kayak mungkin kelas 2 SD 1 SD nyamperin gitu mau ngapain gitu. Kaget juga gua kok ada anak kecil berani datang terus nanya mau ngapain gitu.

15:59

Speaker A

Kalau kita dulu kayaknya enggak ya. Iya enggak berani kan enggak kita mau syuting. Oh syuting apa? Syuting film.

16:03

Speaker A

Oh udah tahu tempatnya di mana? He. Eh, ini apa ini kru apa [tertawa] janj orang lokasi? Orang lokasi.

16:11

Speaker A

Udah, udah, udah, udah. Gitu kita dianterin nanti, nanti di sini aja, Kak. Gini, gini, gini, gini. Oh, ee syutingnya film apa sih? Gini. Oh, film gini. Oh, ya suruh juga ya gitu. Oh, kamu suka film juga ya kadang-kadang

16:23

Speaker A

gitu. Aku ke sana dulu ya, aku lanjut main. Ini siapa sih [tertawa] nih anak?

16:28

Speaker A

Apa penjaga sekolah? Kebetulan masih kecil kan gua engak tahu. Ternyata emang emang ituak dia merasa memiliki karena dia kayak pengin tahu ini sebenarnya ngapain dan sebenarnya. Dan aku sih senang banget dengar dengar cerita itu.

16:39

Speaker A

Pertama pengin tahu, kedua nunjukin ya kayak budaya sekolah yang emang ramah bukan enggak peduli gitu kalau ada orang apa ya kayak ya welcoming gitu kan. Dan menurut gua tuh ya pendidikan yang baik tuh bukan cuma soal fasilitas sekolahnya

16:54

Speaker A

gitu. Gua senang banget karena lu enggak bukannya cerita tadi, oh cikal bagus banget fasilitasnya, tapi kayak anaknya tuh ya kayak practicing si budaya sekolah gitu ya, practicing si kompetensi-kompetensi untuk untuk bangun hubungan sama orang baru dan sebenarnya enggak enggak enggak gampang sama sekali

17:11

Speaker A

loh itu. Dan very inquensitif ya maksudnya sangat sangat mau bertanya, sangat berani dan kalau dia penasaran dia telusuri penasarannya. itu modal loh, modal bangetul.

17:20

Speaker A

Dan kita kalau menurut gua argumen gua anak yang penasaran jalannya akan jauh daripada anak yang pintar karena penasaran yang dicultivate itu dia dia akan nyari dia dia akan telusuri gitu.

17:31

Speaker A

Terus gua gua duduk aja. Jadi [tertawa] kebetulan gua lagi ngerek kan. Jadi gua duduk cuma mikirin tuh anak aja.

17:37

Speaker A

Gila ini anak pintar banget ya gini gini gini gini gini gini. Dan dan kemarin nih 4 hari lalu lagi di Citos habis potong rambut di Citos. Begitu mau keluar ada tiga anak kecil tuh SD tuh lewat terus ngelihatin nyamperin. Kak, aku

17:52

Speaker A

boleh minta foto enggak, Kak? Lu tahu gua dari [tertawa] mana? Perasaan lu terlalu kecil deh buat buat [tertawa] bisa ngikutin podcast apa segala macam gitu ya. Aku tahu aja Kak e tahu K Radit jadi oh iya boleh enggak

18:06

Speaker A

sebentar maaf ya ganggu waktunya. Iya enggak apa-apa terus foto bar habis itu cabut ya dewasa banget.

18:11

Speaker A

Apakah itu ketika 26 tahun yang lalu ee values-values itu yang coba cikal tanamkan untuk menjadi anak-anak yang berani yang inisitif yang yang kayak gitu-gitu? kita selalu bilangnya tujuannya tuh sebetulnya gimana numbuhin talenta-talenta dalam konteks ini sebenarnya bukan cuma murid, gurunya

18:31

Speaker A

juga gitu ya karena kita selalu bilang ya muridnya belajar, gurunya belajar terus orang tuanya juga belajar yang bisa berkontribusi ke sistem yang lebih baik. Jadi pada saat bikin cikal tuh kita tujuannya dua sih. Anaknya tumbuh, si guru dan orang tuanya tumbuh. Jadi

18:46

Speaker A

talentnya tumbuh tapi sistemnya juga tumbuh. Sistem tumbuh itu apa ya beyond cikalnya gitu ya. pengin berkontribusi ke ekosistem pendidikan Indonesia.

18:54

Speaker A

Makanya salah satu misalnya yang banyak banget dikerjain anak cikal dan ada di kurikulumnya tuh cikal aksi-aksi namanya. Semuanya punya project untuk berkontribusi ke dunia nyata. Mereka dunia nyatanya tuh dari mulai kecil kayak sekelasnya dia gitu ya sampai se

19:10

Speaker A

sekolah. Kalau dia belajar makan sehat itu ya enggak cuma buat ngejawab pertanyaan ujian gitu ya. Kalau dia belajar tentang listrik itu enggak cuma buat ee kuis atau di atas kertas, tapi yang bikin plan. Oh, nih bil sekolah kita tuh berapa sih bil listriknya?

19:27

Speaker A

Oh, itu tuh kayak kemahalan kali ya. Terus ada yang jadi kayak Power Rangers yang bagian mati-matiin ee lampu, ada yang kemudian kampanye ke adik kelas, terus kemudian mereka bawa pulang ke rumah untuk lihat bil listrik rumah masing-masing itu ee apa, apa yang bisa

19:43

Speaker A

dilakuin, orang tuanya juga terlibat. Jadi benar-benar ngebawa si pengetahuan yang biasanya cuma sampai hafalan atau jawaban ujian ke konteks nyata. Nah, di situ terus kemudian muncul motivasi lagi kan [berdehem] gitu. Oh, kenapa? Karena gua powerful nih, "Larning makes me

19:57

Speaker A

powerful gitu. Jadi anak-anak yang muncul adalah anak-anak yang berdaya. Dia tahu modalnya pengin tahu jadi bisa gitu ya. Dan bisanya bukan cuma buat diri sendiri tapi bisanya gua ini tuh bisa menyelamatkan lingkungan sekecil.

20:09

Speaker A

Ya memang uang ee belanja ibu gua gitu misalnya buat bayar listrik jadi lebih dikit si sekolahnya. Gimana caranya kita buka jendela lebih sering enggak nyalain AC terlalu sering. Nah, itu buat semua pelajaran tuh kita bikin tuh sebetulnya action-action akhirnya tuh apa. Karena

20:26

Speaker A

yang jadi tolak ukur keberhasilannya tuh aksi nyatanya sih. Itu keren sih. Kompetensi yang dia munculin tuh apa?

20:32

Speaker A

Tapi kan untuk bisa beraksi nih di itu lu enggak bisa cuma tahu kan ya? Lu enggak bisa cuma tahu makanan yang sehat mana. Lu enggak bisa cuma tahu kita harus save energy. Lu harus punya si personality yang ngedukung. Lu harus

20:45

Speaker A

punya kemampuan untuk lihat masalah. Lu harus punya ee [mendengus][berdehem] kemampuan buat kolaborasi sama teman-teman yang lain. Lu harus punya kemampuan riset buat ee lihat ini gimana. Jadi banyak banget [berdehem] sebetulnya potensi yang ke-estretch dan kompetensi yang ee butuh dipakai pada

21:02

Speaker A

saat kita nuntut anak tuh ee nyelesaiin masalah yang nyata dibanding kita nuntut anakfalin soal buat e dan ujungnya ujian banget dan pelajarannya jadi punya konteks dan jadi masuk. Jadi kalau kita mau belajar matematikanya, kita mau belajar ee keuangannya misalnya ekonominya gitu,

21:23

Speaker A

itu langsung ada konteks sehingga sehingga mungkin pertanyaan kayak tadi itu bisa enggak ada tuh.

21:28

Speaker A

Heeh. Karena matematikanya lu pakai buat apanya jadi jelas. He. Kenapa sih lu perlu belajar sudut?

21:35

Speaker A

Ya gua karena kalau enggak paham sudut meja ini oglek. Iya kan? Itu kan iya. Kalau itu tadi yang tadi Mbak Ela bilang, bagaimana dia kemudian dia bawa kontekstual ke rumah dan segala macam, berarti dalam pengertian saya tuh lingkungan sekolah itu dia enggak bisa

21:49

Speaker A

berdiri sendiri kan. Dia ada harus ada lingkungan keluarga yang membantu, lingkungan pada umumnya yang membantu.

21:55

Speaker A

Nah, awal-awal cikelberi 26 tahun lalu mungkin orang belum berpikir begitu 26 tahun lalu. Sekarang pun orang jarang yang berpikir begitu. [tertawa] Nah, itu gimana caranya pihak sekolah untuk ngomong ke orang-orang tua murid.

22:09

Speaker A

Kasarannya gitu loh ngomong k orang tua, "Eh, ayo yuk kita bareng-bareng kita ciptakan lingkungannya nih. Enggak bisa nih sekolah sendirian. Kita harus bareng-bareng semuanya untuk anak-anak kita sukses. Nah, itu gimana caranya membangun itu bareng-bareng gitu?

22:21

Speaker A

Pertama sih kayak being really clear about who we are sih. Gua juga dulu awalnya tuh bahkan enggak pakai kata sekolah sih. Bilangnya kayak pusat pengembangan keluarga gitu. Jadi kita tuh orang mau masuk cikal tuh yang diwawancara tuh sebenarnya orang tuanya.

22:36

Speaker A

Bukan buat milih orang tua bagus apa enggak sih, lebih milih orang tua yang cocok.

22:40

Speaker A

Kita harus lulus tes dulu. [tertawa] Jangan. Bukan tes matematika. Kita harus lulus tes wawancara.

22:47

Speaker A

Enggak. Kalau [tertawa] enggak kami yang dites anak-anaknya yang ditesok. Kalau enggak cocok kasihan anaknya. Jadi kayak tujuan pengasuhan lu di rumah sama tujuan pendidikan lu di sekolah tuh enggak matching. Akhirnya jadi korban kan anak. Karena kita kayak numbuhin tadi rasa pengin tahu gitu ya.

23:03

Speaker A

Anaknya jadi banyak nanya dan sebagainya. di rumah jangan banyak tanya gitu kan misalnya atau kita kayak numbuhin anak yang tadi bisa ngelola emosi. Aku deg-degan sih mau nanya sama si Om Radit nih. Tapi ya udah deh aku beraniin. Kan dia bisa ngelola emosi tuh

23:16

Speaker A

untuk ee datang nanti kalau di-reject gimana kalau ternyata K Radit sombong gimana. Itu kan susah loh buat anak untuk kayak ngedatangin dan ngomong K.

23:24

Speaker A

Nah, tapi kalau di rumah dia bilang, "Jangan nangis, kamu gitu aja enggak bisa atau apa itu susah banget." Nah, kita harus make sure. Gue sih ngelihatnya bukan ya gue rendah hati aja sih. Sekolah tuh bisa melakukan banyak hal, tapi sering banget gagal juga

23:39

Speaker A

mencapai tujuannya kalau enggak dibantu orang tua. Jadi kalau emang enggak bisa dapat bantuan ya susah kasihan anaknya gitu. Mungkin lebih cocok sekolah lain, Bu. Yang tujuannya tuh memang lebih sejalan dengan tujuan pengasuhan Ibu gitu ya. Jadi aku dari [berdehem] awal bilang, nah itu

23:57

Speaker A

yang pertama caranya. Jadi emang bilang dari awal kita samain tujuan dulu yuk. E sebenarnya kepenginnya anak-anak tumbuh dengan kompetensi kayak apa sih gitu.

24:05

Speaker A

Kalau ada yang bilang kepenginnya dapat nilai ujian 100 itu bisa sih Bu, cuma itu Ibu bimbel aja sayang kalau masuk cikal cuma buat itu. Benar enggak?

24:14

Speaker A

Iya kan? Ya udah, karena Cikal tujuannya tuh lebih besar daripada itu gitu. Daripada sekedar lulus ujian 100 sayang. Ngapain sekolahin di sini kalau cuma buat si teknikal kompetensi mata pelajaran tertentu yang ditunjukinnya cuma di kertas gitu. Nah, yang kedua dan ini yang jauh lebih susah

24:34

Speaker A

sih banyak banget pengelola sekolah lain nanya juga ke gua. Kita selalu bilang, "Lu ada di sini tuh bukan cuma buat anak lu, lu ada di sini buat semua anak." Kadang-kadang tuh orang tua kayak mau masukin anak ke satu sekolah supaya anak

24:45

Speaker A

gua jadi yang si paling pintar, si paling jago, si paling ya kayak apa ya? Dia kayak kepengin anaknya tuh berkompetisi dan ee sebagainya. Kita bilang enggak di sini tuh anak-anak tuh dilatih buat kerja sama. Jadi kalau lu tanya

25:00

Speaker A

murid-murid gua tuh kalau ditanya kamu ranking berapa? Itu pasti mereka bingung gitu. Karena mereka ranking tuh apa sih yang paling pintar di kelas kamu? Apa?

25:08

Speaker A

Oh, kalau yang pintar menggambar tuh si ini dia jago banget gambarnya. Kalau aku, aku jagonya ini. Kalau ada temanku yang satu lagi dia jagonya ini. Tapi mereka kayak ngelihat keunikan masing-masing dan lihat. Jadi pas kita, pas kita bikin show gitu ya, pas kita

25:23

Speaker A

bikin show ya ada yang tampil di depan, ada yang ngurusin kostum, ada yang ngurusin tata cahaya dan sebagain dan enggak ada yang kayak ngerasa kalah karena semua ngerasa dapat tempat yang tepat gitu. Dan itu kayak latihan-latihan yang menurut gua ih

25:37

Speaker A

kebawa kebawa udah kita sudah 25 tahun ya. Jadi kita bukan sekolah baru, kita sudah punya alumni banyak banget yang ke perguruan tinggi sudah pada profesional. Bahkan ada sebagian alumni yang sudah balik lagi kerja di Cikal gitu kan. Iya. ada

25:50

Speaker A

yang jadi guru, ada yang jadi konselor, ada yang ee di tim marketing dan sebagain itu.

25:55

Speaker A

Jadi, gue tuh benar-benar lihat alhamdulillah dan bersyukur banget kayak hal-hal yang kita tumbuhin tuh ternyata memang bukan cuma sekedar buat masa sekolah sih, tapi sesuatu yang kayak mereka bawa jadi bagian hidupnya dan kemudian mereka bagiin ke ee komunitas

26:10

Speaker A

terdekatnya, ke sistem apa kantornya dan sebagainya gitu. Jadi kulturnya cikal ini jadi menyeruak masuk ke keluarga juga ya. Dan harus sama ya values antara di sekolah dan di rumah.

26:24

Speaker A

Lu ada kesulitan enggak tapi untuk punya value sendiri di rumah lu gitu dalam konteks ngajarin harusnya lu nanya ke istrinya dia kayaknya.

26:30

Speaker A

Iya. [tertawa] Apa apa enggak enggak [berdehem] enggak terlalu terlibat selama ini terlibat dong. Oh ya enggak tahu kan enggak tahu. Nanya doang nanya doang. [tertawa] Nanyanya tuh seolah-olah kayak kamu suami tidak bertanggung jawab kayak gitu pertanyaannya. Tanya aja [tertawa] kan

26:43

Speaker A

siapa tahu sibuk. I betul. Sibuk juga sih. Tapi sejauh ini sih saya tidak pernah Iya. Tidak pernah merasakan ee tujuan sekolah dengan tujuan kami di rumah beda. Masih sama sih.

26:56

Speaker A

Cuman itu tadi saya tuh merasa bahwa waktu saya sebagai orang tua tuh ee dalam hal ini untuk membantu anak di rumah tuh emang tidak seintens istri saya gitu.

27:07

Speaker A

Hm. He. Jadi kadang-kadang saya bisa bantuin kadang-kadang betul-betul hampir kayak 3 minggu apa 2 minggu saya enggak tahu sama sekali dia sudah belajar apa aja gitu. [tertawa] Ee maksudnya apa aja PR-PR-nya dia yang saya terlewatkan yang saya tidak bisa

27:21

Speaker A

bantu dan segala macam segala macam gitu. Alhamdulillah saya masih bantu. Semalam saya bantu dia hafalin surat Quraisy gitu.

27:28

Speaker A

Oh. Jadi semalam hari ini dia ada setor-setor hafalan gitu sama gurunya. Jadi saya bantuin. Jadi oke ada kalanya saya masih ngikutin ada kalanya sudah lepas gitu.

27:40

Speaker A

Iya. Nah enggak harus setiap hari kok. Yang penting tahu kayak merasa bersalah gitu gua kayak ng saya saya merasa gitu langsung [tertawa] dijud karena tuh itu tadi saya sempat tanya waktu offcam tadi Bang Radit. Saya tuh sebagai orang tua tuh

27:54

Speaker A

ee saya tidak tahu maksudnya mungkin di kondisi anak tuh anak berasa biasa-biasa aja cuman mungkin saya itu kekhawatirannya berlebihan. saya itu bahkan sampai di tahap yang takut takut anak saya itu dibandingin, takut anak saya itu berkompetisi tanpa tanpa sadar

28:09

Speaker A

ya. Iya. Mungkin ada sesuatu yang terjadi di sekolahnya dan segala macam yang dia merasa dia tidak lebih baik dari orang lain. Itu saya takut. Saya takut. Jadi kadang-kadang tuh mungkin jadi saya over protektif atau apa gitu.

28:21

Speaker A

Tapi kan ngobrol aja sama anak ya. Kamu ngerasa gitu enggak di sekolah? Kamu punya perasaan seperti itu enggak?

28:26

Speaker A

Saya takutnya dia bohongin saya gitu. [tertawa] Saya tanya kayaknya dia takut karena dia waktu kecil gitu.

28:32

Speaker A

Iya betul semua baruin. Betul betul kalau ini ya betul banget sih Mbak. Betul banget [tertawa] proyeksi ya lu memproyeksikan.

28:40

Speaker A

Betul. Pengalaman saya tuh kan waktu saya kecil saya tidak pernah membawa masalah sekolah ke rumah.

28:46

Speaker A

Saya selalu menyembunyikan itu saya selesaikan sendiri gitu. [tertawa] Saya takut anak saya kayak gitu. Jadi, tapi itu lu bisa omongin juga ke anak loh dulu ya waktu bapak kecil tuh bapak suka ragu-ragu tuh kalau mau cerita gitu-gitu kalau kamu rasanya gimana

29:00

Speaker A

gituable aja. Hm. He. Soalnya ada ada pikiran bahwa bapak tuh harus tough tough tidak perlu kelihatan lemah gitu kali ya.

29:11

Speaker A

Masih ke bawa gitu ya. Iya tahu dah. Pokoknya kalau saya tanya dia, [tertawa] dia tuh selalu bilang enggak masalah, enggak ada apa-apa, enggak ini gitu. Saya sampai tanya ke gurunya kadang-kadang, "Bu, aman enggak?" Aman semua? Aman semuanya. Cuman saya

29:23

Speaker A

masih merasa kayak jangan-jangan ya gitu ketakutan-ketakutan semua. Tapi emang orang tua sekarang lebih takut sih.

29:28

Speaker A

Iya ya. Karena emang dunianya kan harus diakui lebih menakutkan kan maksudnya iya kan maksudnya gua kayak ngelihat ada kayak mahasiswa melakukan pelecehan seksual itu sumpah gue yangak aduh jangan sampai ada murid gua atau anak gua dan maksudnya kayak contoh buruknya

29:42

Speaker A

tuh jelek banget. yang kayak koruptor apa gitu gue yang [tertawa] kayak aduh tantangannya [mendengus] tuh karena ya itu pengin cepat kaya, pengin cepat ngetop, pengin cepat macam-macam gitu yang si instan-instan itu gitu. Jadi kita kayak lebih ngelihat dunianya lebih

29:56

Speaker A

menantang sehingga kita punya kecenderungan untuk lebih khawatir. Nah, cuma tadi gua bilang juga sama Abdor, kalau lu makin ketakutan itu sebenarnya lu harusnya makin yakin anak lu tuh butuh latihan. Kalau enggak gimana dia ngatasin si tantangan yang besar-besar

30:10

Speaker A

itu kalau di gimana dia kalau dia enggak pernah konflik sama saudaranya, enggak pernah konflik sama temannya, kalau dia enggak pernah berani ngomong sama gurunya buat nyelesaiin masalah, kalau dia enggak ketemu tetangga samping rumah, gimana nanti dia berinteraksi dengan dunia yang jauh

30:25

Speaker A

lebih luas. Jadi, justru begitu kita takut, kita tuh harusnya ngelihat itu sebagai alarm, oh gua perlu ngasih tantangan lebih nih, gagal enggak dia?

30:33

Speaker A

Mungkin aja, mungkin dia jatuh gitu ya pada saat dia naik perosotan. Mungkin dia patah hati gitu, mungkin dia frustasi. Tapi kan justru pas dia masih kecil nih kita bisa ngedampingin gitu pada saat dia gagal.

30:44

Speaker A

Bukannya justru lu jadi overprotective dan kayak anak gua enggak boleh susah, anak gua enggak boleh nangis, [tertawa] anak gua.

30:51

Speaker A

Gua sekarang suka bingung sih si orang tua tuh suka merasa bahwa tugasnya dia tuh adalah anak bahagia dan tidak pernah sedih [tertawa] sama sekali se hidupnya.

30:58

Speaker A

Bukan. Tugas lu tuh anak lu mandiri pada saat lu enggak ada karena bisa-bisa lu besok juga enggak ada gitu.

31:05

Speaker A

Siap enggak anak lu? Tapi makanya kalau dia ada belum [tertawa] artinya artinya tips untuk saya dan mungkin orang-orang tua yang seperti saya semakin banyak kasih anak kesempatan kesempatan termasuk kesempatan salah, kesempatan gagal, kesempatan kalah. Gue tuh senang loh.

31:19

Speaker A

Bahkan kalau kayak anak gua bohong gitu ya misalnya dan bukan berarti dia enggak pernah bohong ya jangan lu pikir gua orang tua yang sempurna atau anak tuan anak yang sempurna gitu. Bohong. Yes, dia bohong.

31:29

Speaker A

Kenapa? Karena mumpung bohongnya tuh kecil gitu loh. Bukan kayak [tertawa] bohong yang gua nakut. Yes. Dia bohong.

31:34

Speaker A

Ini waktu gua itu jadi teachable moments. Waktu gua untuk ngajarin dia susah loh Mami kalau kamu ee bohong gini akan butuh waktu nih sampai Mami percaya lagi bahwa kamu benar-benar les enggak bolos gitu ya dan sebag tapi ya gue yang

31:48

Speaker A

kayak [berdehem] oh nanti kalau dia merantau dan sebagainya itu dia kayak bisa refleksi balik lagi ke si hari ini gitu. Jadi enggak apa-apa takut gua semua orang tua kayak cemas, takut, tapi hati-hati dengan jangan sampai emosi lu itu si ketakutan, si apa

32:03

Speaker A

tadi? Pengin dipuji, takut anak gue enggak dianggap keren sama orang lain dan seb itu membuat lu ngambil tindakan-tindakan yang justru ngerugiin anak lu di masa depan karena lu memproteksi diri lu sendiri gitu.

32:14

Speaker A

I ya. Makanya kayak ee waktu pandemi itu ada omongan bahwa hidup kita ee ketika kita sudah dewasa itu isinya project.

32:25

Speaker A

Lu bikin project special show ini kan podcast juga project tiap satu episode adalah project kecil-kecil sendiri.

32:32

Speaker A

Terus makanya masuk akal kalau di sekolah itu ya anak-anak dibiasain bikin project ee karena kan di situ ada resolusi konflikul ada ada cara kita me-manage deadline gitu-gitu [berdehem] dan itu anak-anak juga belajar dari temannya. Jadi kayak di Cikal tuh kita

32:47

Speaker A

resolusi konflik bukan juga tiap konflik harus gurunya nyelesain. Kita punya peer mediator. Jadi anak-anak yang emang dilatih untuk bisa nyelesaiin iya bisa nyelesaiin konflik antar temannya. Anak-anak kalau sudah ada konflik tuh nyari si pe mediator ini gitu.

33:02

Speaker A

Pir mediator tuh temannya juga. Temannya juga. Heeh. Yang latihan buat itu. Jadi anak-anak tuh dilibatin banget buat ngambil peran di si sistem sekolah.

33:10

Speaker A

Kebayang karena si Pir mediator ini kan juga nanti kalau jadi anggota dewan gitu ya atau jadi politik itu dia sudah punya latihan-latihannya. Library juga gitu.

33:18

Speaker A

Kita ngelihat fasilitas library. Oh, orang masuk ke cikal wah library-nya keren gitu. Bukunya banyak tapi gue yang kayak lu jangan kagum sama si buku banyak. Lu lihat deh studen librarian kita itu. Jadi si murid-murid juga yang jadi librarian mereka terlibat. Kita

33:32

Speaker A

kasih budget ee setiap kelas untuk belanja bukunya sendiri dari apa yang abang ketemu tuh beneran satpam itu anak. [tertawa] juga ya tugas project [tertawa] security.

33:44

Speaker A

Iya project security. Project officer security. Kadang ada loh ada project officer cleaning service, ada food commite yang testing makanan kantin, ada yang bantuin tim IT, ada yang bikin merchandise sama tim marketing. Kalau ada kita ada ee [mendengus] pertunjukan tahunan dan

34:02

Speaker A

sebagain karena kalau enggak ngapain dia belajar? Jadi kan kayak harus dapat pengalamannya gitu kan untuk kemudian mempraktikkan apa yang dia pelajari.

34:10

Speaker A

Jadi ada hasilnya. Either hasilnya buat komunitas sekolah atau ya jadi panitia kurban di masjid dekat ee rumah eh apa dekat sekolah gitu ya. Sebanyak mungkin ee hal-hal yang dipelajari itu enggak cuma berhenti sampai di kelas tapi jadi aksi nyata.

34:25

Speaker A

Betul ya. Ada maksudnya itu alternatif yang lebih baik dibandingkan misalnya di kelas kita belajar tiap hari untuk ujian di ranking dia pintar dia enggak mendingan kita projject-projject gini karena kan kepakai di dunia nyata ini. W enggak sih?

34:39

Speaker A

Iya. Iya kan? Pada akhirnya kan kepakai gitu tapi lebih susah jadi orang tuanya sih.

34:44

Speaker A

Karena kadang-kadang lu kayak kalau ngelihat angka gitu gua tahu anak gua nilainya enggak merah nilainya biru.

34:49

Speaker A

[tertawa] Lu kayak enggak harus lihat lebih dalam kan? Enggak harus observe lebih dalam. Jadi gua gua mau bilang bahwa untuk bisa ngubah si sistem pendidikannya tuh kitanya juga harus belajar karena kita kan enggak pernah kenal sistem yang kayak gini nih, Dit.

35:03

Speaker A

Jadi kita kayak tahu kan kita selalu yang kayak kenapa sih sekolahnya kayak gini? Gua ingat banget tuh pas pertama Cikal kayak hah enggak semua anak dapat LKS gitu. Itu orang tua kayak panik banget gitu yang kayak enggak Bu karena

35:14

Speaker A

ya kalau perlu kita pakai LKS kalau enggak ya enggak. Sumber belajarnya bisa dari mana aja. Hah. enggak ada nilai KKM rata-rata kelas gitu ya yang kayak itu kan jadi kita tuh kayak selalu nganggap sekolah yang bagus itu seringkiali kita

35:29

Speaker A

bandinginnya sama pengalaman kita dulu kan padahal tantangan dunianya beda, anak kita hidup di zaman yang beda banget cuma kita kayak takut berubah kalau dari ide-ide [tertawa] pendidikannya nih Mbak Ela maksudnya ee ini pertanyaan ini kita diskusi-diskusi itu kenapa sekolah-sekolah yang pada

35:49

Speaker A

umum umumnya sekolah-sekolah konvensional biasanya ini kita-kita ini kenapa tidak tidak bisa berubah ke arah sana ya atau sudah cuman kami-kami aja yang tidak merasakan atau tidak tahu gitu.

36:00

Speaker A

lumayan banyak sekolah again dalam konteks yang beragam ya gua bisa nunjukin kalau misalnya ada sekolah di Sanggau, sekolah di Bantaeng, sekolah di Jember, lumayan banyak sebenarnya sekolah-sekolah yang udah makin progresif tapi memang enggak bisa berubah sendirian tanpa support orang

36:19

Speaker A

tua. Jadi kalau lu tanya sama pengelola sekolah banyak banget yang kayak takut sama orang tua. Padahal kan kita yang pendidik profesional ya, yang lihat data, yang lihat sebetulnya tren pendidikan yang dibutuhin anak apa. Tapi itu kayak sederhana perubahan yang

36:34

Speaker A

paling simpel aja deh yang udah kayak puluhan tahun diomongin anak tuh enggak harus cepat-cepat bisa baca. Itu tuh risetnya tuh ya, Dit, kayak udah 50 tahun kali bahwa kalau anak lu bisa baca cepat, itu bukan berarti dia jadi better

36:47

Speaker A

reader di jangka panjangnya gitu kan. He. Karena kan bisa baca sama paham bacaan sama bisa menulis stand up komedi atau apa itu [tertawa] kayak levelnya masih jauh banget kan sebetulnya gitu. Tapi orang tua nuntut anaknya bisa baca. Nah,

37:01

Speaker A

terus sekolah yang kayak mau ngubah metodenya nih kayak cikal enggak maksa setiap anak bisa baca, tapi ya dibacain buku aja terus gitu kan di ee kasih kesempatan di library aja terus gitu aja tuh ketakutan sama orang tua ya.

37:14

Speaker A

Karena kayak sering banget nganggap [berdehem] orang tua tuh customer. Itu tuh satu tren di pendidikan tuh customerization of education. Jadi bukan nganggap orang tua tuh partner yang kayak harus dijelasin lu Bu kenapa sih enggak apa-apa anak Ibu bisa baca umur 7

37:28

Speaker A

tahun juga enggak apa-apa kok. Ini nih tujuan kita jangka panjang membaca nih, Bu. Belajar membaca tuh bukan cuma di kelas 1 SD. Belajar membaca tuh sampai kelas 3 SMA. Dari mulai dia mulai kenal huruf sampai dia bisa menghasilkan karya

37:42

Speaker A

bacaan yang argumentatif yang apa? Expositiony dan sebag itu panjang banget Bu. Jadi mungkin Ibu anak Ibu tuh kelihatan ketinggalan nih di tahap ini.

37:51

Speaker A

Tapi sebenarnya dia akan maju terus kok gitu. Nah itu dan [tertawa] enggak enggak mungkin juga di sekolah engak ujungnya enggak baca juga sih. Iya enggak mungkin gitu. Nah, tapi kalau kan lu jadinya takut entar dipindahin ke sekolah lain gitu. Heeh.

38:04

Speaker A

Nah, kita makanya kita bilang orang tuanya perlu belajar juga karena supaya orang tuanya tuh juga paham nih tujuan jangka panjangnya tuh apa sih yang harus dilakuin di rumah tuh apa. Anakku enggak bisa baca enggak apa-apa. Bukan soal bisa baca dibacain tiap hari enggak tapi

38:16

Speaker A

di rumah. Didongengin enggak di rumah di sekolah ini yang kita lakukan dan sebagain nah itu kita benar-benar nganggap orang tua tuh partner kita dan again partner jangka panjang gitu ya.

38:26

Speaker A

partner jangka panjang untuk mastiin anak tumbuh ee ke stretch potensinya, kompetensinya tuh tumbuh. Saya pernah ngalamin itu tuh ee Bang Radit waktu saya ee anak lu termasuk cepat apa termasuk lambat? Bisa baca kalau dibanding yang lain.

38:40

Speaker A

Jadi sebenarnya ceritanya tuh saya tuh ee pengin gitu kayak udahlah enggak usah enggak usah buru-buru baca udah menikmati aja dulu hidup ini. Saya mikirnya gitu. Pada waktu itu tibalah kami mau daftar SD. [berdehem] Mau daftar SD.

38:56

Speaker A

Terus saya itu baru tahu bahwa teman-temannya dia yang di kelas itu yang akan di tempat itu pada bisa baca semua.

39:02

Speaker A

Pressure pressure pressure. Iya. Saya tuh merasa enggak apa-apa aja, cuman saya takut dianya ngerasa bodoh di kelas gitu.

39:09

Speaker A

Oh, lagi-lagi lu takut anak lu nih. Betul, betul. Saya takut jangan-jangan di kepalanya dia ketika dia lihat teman-temannya sudah pada bisa baca semua, dia enggak bisa, dia ngerasa dia itu anak yang bodoh.

39:20

Speaker A

Akhirnya gara-gara itu di rumahlah, eh ayo kita belajar baca. Ayo belajar baca. Padahal belum tentu anak lu ngerasa bodoh juga.

39:28

Speaker A

Iya, betul betul. Sebenarnya lu harusnya ngomong sama gurunya. Nanya dulu, nanya dulu. Bu, gimana di sini filosofinya buat anak ee belajar baca harus apa enggak dan sebagainya. Anak saya enggak bisa, belum bisa baca nanti Ibu nanganinnya gimana dan sebagainya.

39:43

Speaker A

Gurunya waktu kami wawancara tuh, waktu kami orang tua di wawancara itu sudah bilang gitu juga, "Pak, Bu, ini kami enggak ada enggak ada ujian calistung apa segala macam itu enggak ada gitu." Cuman ya itu saya sendiri yang takut.

39:56

Speaker A

Oh, lagi-lagi ini ya ketakut orang tua ini ya. Iya saya takut kayak enggak apaapa karena saya saya kan itu tadi kan kita proyeksi apa refleksi diri kita di zaman dulu kan. Zaman dulu ketika yang lain sudah hafal perkalian saya belum bisa

40:09

Speaker A

hafal itu saya ngerasa saya paling bodoh di kelas. Sekolah tuh jadi malas. Jadi kayak aduh entar dibilang bodoh lagi di kelas. Aduh emang dibilang bodoh di kelas ya teman-teman saya pasti bilang gitu.

40:21

Speaker A

Oh teman-teman. Heeh. Teman-teman bukan guru, bukan guru. Jadi kan dulu kan hafal perkalian 1 sampai 10 kan di depan kelas tuh.

40:26

Speaker A

Betul. Heeh. Nah, di saya tuh selalu berhenti di tiga doang. Perkalian tiga. Coba sekarang [tertawa] perkalian 4 5 6 angkat tangan. Saya udah du bro. Oh dia sarjana matematik.

40:37

Speaker A

Saya sudah angkat tangan. Jadi pada waktu itu tuh ya teman-teman tuh kayak kamu bodoh banget sih dur gitu-gitu jadi.

40:43

Speaker A

Oh makanya lu jurusan matematika. Heeh. Lu mau ngasih tahu? K enggak enggak enggak bukan [tertawa] gara-gara itu juga. Bukan gara-gara itu juga. cuma itu tadi ketakutan-ketakutan saya tuh kadang-kadang mungkin itu sebenarnya tidak terjadi di anak saya cuman ya gitu ya karena refleksi

40:57

Speaker A

merefleksikan diri saya yang dulu-dulu itu ya soal ketakutan juga [tertawa] si iya tidak tapi benar sekolah tuh saya yang tadi saya tangkap adalah bukan hanya anak yang belajar tapi kami orang tua juga harusnya belajar orang tua. Nah, untuk sekolah cikal nih

41:08

Speaker A

masih ngomongin ketakutan nih. Bagaimana sekolah cikal menghadapi bullying di sekolah? Itu kan isu ini juga nih.

41:16

Speaker A

Heeh. Ee bullying itu kan sebenarnya tiga pihak ya. Ada ee saksinya, ada pelakunya, ada korbannya. Nah, kebanyakan tuh orang kalau ngomong perundungan tuh gua bilangnya kayak pahlawan kesiangan gitu loh. Jadi kayak sesudah ada korban itu baru kayak pada

41:33

Speaker A

ribut ngelakuin sesuatu. Jadi kalau kita tuh strategi utamanya tuh mencegah sih mencegah si perundungan itu terjadi.

41:41

Speaker A

Mencegah perundungan terjadi itu apa? Kita kayak banyak banget strategi supaya interaksi saling pedulinya tuh benar-benar ee kuat.

41:48

Speaker A

Oke. Jadi ee tadi ee kegiatan-kegiatan kolaboratif tuh banyak banget. Semua anak tuh saling ngedukung. Kita tuh kan juga sekolah inklusi ya. sekolahin kursi. Jadi kita nerima anak-anak dengan kebutuhan khusus itu. Jadi emang secara umum murid-murid tuh tahu dari awal

42:04

Speaker A

bahwa masing-masing orang tuh punya keunikan, masing-masing orang tuh mungkin ada yang punya tantangan yang beda dan sebagainya. Jadi interaksinya tuh betul-betul dibikin si anak-anak enggak pakai kekerasan. Terus tadi sier mediator itu juga banyak banget bullying sebetulnya yang terjadi dari konflik yang enggak

42:21

Speaker A

selesai-selesai kan berulang-ulang. Eh, terus kita juga punya house system. Jadi si anak-anak kelas besar tuh mereka tuh bukan cuma bergaul sama anak-anak yang satu tingkatan sama dia, tapi kita bikin kegiatan-kegiatan yang ngelibatin murid-murid dari berbagai jenjang.

42:40

Speaker A

Bahkan mata pelajaran pun tuh ada mata pelajaran-mata pelajaran pilihan yang anak-anak dari jenjang yang berbeda tuh bisa ngambil. Jadi enggak ada tuh istilah kayak senior, eksklusif, takut sama kakal atau apa ya, segen ada gitu ya dan sebagainya. Tapi tuh peduli

42:55

Speaker A

banget juga itu lu ya, lu yang ditakutin ya? Enggak, [tertawa] saya di SMA 70 gimana dong?

43:01

Speaker A

Dulu dulu. Ee sekarang tapi kuncinya tuh si koneksinya sih aku ngelihat si kalau kita ngelihat bullying gitu ya itu pasti isunya tuh bukan cuma di satu dua anak yang jadi pelaku sama korban. Kebanyakan tuh isunya justru di si budaya sekolahnya, di saksinya ini.

43:18

Speaker A

Karena yang bisa nyegah bullying sampai tereskalasi itu saksi. Bullying kenapa sih terjadi sampai udah yang kita lihat ya misalnya kayak sampai masuk rumah sakit sampai benar-benar anaknya depresi [berdehem] parah dan sebagain karena yang ada di sekitarnya diam aja

43:31

Speaker A

kan itu kan. Hm. Jadi kita mau empower semua anak untuk pada akhirnya dia mencegah diri untuk enggak jadi pelaku, mencegah diri untuk enggak jadi korban juga gitu ya. Tetapi yang lebih penting punya kemampuan untuk kalau ngelihat benih-benih ee konflik

43:49

Speaker A

yang sudah tereskalasi banget atau bulik itu dia bisa mencegah supaya itu berhenti gitu. Dan itu kayak benar-benar bahkan dari anak kelas 2 SD aja tuh udah kita lakukan intensif gitu ya buat itu.

44:03

Speaker A

Tapi emang harus bisa ngebedain sih mana yang konflik biasa. Kadang-kadang orang tua tuh juga kayak kecepatan bilang anak gua dibully. Padahal sebetulnya itu ya konflik yang harus dihadapi aja. Namanya juga anak banyak ya, ada beda pendapat dan sebagainya. Nah, justru kesempatan

44:17

Speaker A

buat latihan resolusi konflik terus itu membuat kita kemudian bisa lihat kapan nih power-nya jadi imbalance, kapan repetitif terus. Gue sih biasanya kalau bilang sama orang tua gini, bedanya kalau bullying itu biasanya ada satu orang yang enggak mau konfliknya

44:32

Speaker A

selesai. Kenapa? Karena dia kayak dapat keuntungan dari situ kan. G dia kayak dapat duit si pembulinya tuh dapat uang lah, dapat power lah dan sebagainya.

44:39

Speaker A

Sementara kalau konflik itu sebenarnya dua-duanya enggak senang ada di situasi itu. Dua-duanya kepengin konfliknya cepat selesai gitu. Nah, jadi kalau itu konflik kita biarin ee kita empower anak buat nyelesain sendiri ya guru ee terlibat juga tapi kita enggak bilang

44:56

Speaker A

bully gitu. Nah, kalau bullying nah itu yang kita benar-benar langsung cut kita cegah kalau bisa enggak terjadi sama sekali gitu ya. Terus kita ngelibatin proses-proses penanganan yang lebih ekstensif lah.

45:09

Speaker A

He. Soalnya dulu kalau di zaman saya sekolah dulu itu budaya jadi kayak kelas 3 senior, kelas 1 ininya, kelas 2 di tengah-tengah dan dinormalisasikan pada zaman itu ya. Sekarang mungkin beda, tapi pada zaman itu cukup intens ya. Apalagi kan masih zaman tawuran ya

45:26

Speaker A

dulu ya. Betul. Betul. Jadi the whole vibe itu iya padahal sekolahnya menyenangkan gitu, teman-temannya menyenangkan.

45:33

Speaker A

Iya. Karena mungkin itu juga di sekolah, kalau sekolah saya dulu tuh berasa juga kayak Bang Radit gitu karena memang tidak ada project yang kami kelas bawah dengan yang kelas atas itu bisa berkolaborasi gitu.

45:47

Speaker A

Ada berkolaborasi di OSIS. Di OSIS sama juga ditindas juga. Iya. Iya. dikerjain [tertawa] dikerjain juga di apa di pramuka gitu juga maksudnya di di mana pun tetap senioritas gitu mau di futsal kah di apa gitu tetap kakak kelas

46:01

Speaker A

selalu ini tapi tidak ada yang kegiatan yang benar-benar kayak kita misalkan taruhlah bikin apa kegiatan misalkan ee iya projek bareng lomba apa gitu yang kita semua jadiadi panitia dan segala macam segala macam yang kita project bareng itu kayaknya

46:15

Speaker A

enggak ada deh he sayang ya padahal sebetulnya kesempatannya banyak di sekolah buat ngelakuin itu kadang-kadang Kadang tuh kalau gue ngelihatnya juga gini sih, kan banyak banget nih yang kita mau ajarin ke anak.

46:25

Speaker A

Nah, itu tuh lu juga bisa lihat sebenarnya jadi prioritas sekolah tuh apa gitu. Soalnya kalau ditanya dikasih kesempatan apa enggak, biasanya tuh sekolah tuh mentoknya waktu. Enggak ada waktu buat ngerjain ee itu gitu.

46:39

Speaker A

Misalnya boro-boro project yang [mendengus] ee sama lintas kelas yang project di kelas ini aja rasanya keburu-buru banget gitu kan. Nah, itu lu sebenarnya bisa lihat kalender sekolahnya, bisa lihat jadwal mata pelajarannya untuk lihat benar enggak yang values atau visi misi

46:55

Speaker A

yang katanya lu mau ajarin itu tuh kelihatannya kayak apa sih di jadwal sekolah lu? Contoh paling sederhana nih, orang datang ngelihat, "Wah, lapangannya gede banget ya sekolah ini." Gitu kan.

47:05

Speaker A

Fasilitas lagi biasanya. Tapi lu lupa nanya nih sebenarnya pelajaran olahraganya sering enggak sih? Karena ngapain ada lapangan kalau anak lu juga enggak diajak ke [tertawa] lapangan gitu kan. Itu kan bukan pajangan gitu. itu sesuatu yang harusnya dipakai. Terus habis itu olahraga nih

47:21

Speaker A

semua anak atau cuma anak-anak pilihan aja yang dikasih kesempatan buat jadi ee olahragawan gitu di sekolah lu tuh tujuannya apa sih? Atau oh kalau lagi musim ujian itu pelajaran olahraganya tetap ada apa enggak? Kan kalau secara teori tuh justru orang butuh rilis dan

47:37

Speaker A

nah tapi kayak tahu kan kita tuh cuma berhenti sampai oh sekolah ini lapangannya bagus jadi gua daftarin anak gua di situ. Jadi kayak ngelihat yang tangible doang. Padahal sebenarnya follow up questions-nya tuh banyak banget gitu yang sebenarnya jauh lebih

47:49

Speaker A

ngaruh ke apakah anak lu tuh bisa punya gaya hidup sehat. Apakah dia pada akhirnya belajar sportivitas atau dia ngerasain kayak ah gua malas banget olahraga gua emang enggak jago si anak ini. Beda banget. Padahal yang satu mungkin lapangannya lebih kecil.

48:03

Speaker A

[tertawa] gitu ya. Dan cuma satu, yang satu lapangannya lima. Tapi sebenarnya anak lu belajar jauh lebih banyak di yang si satu lapangan kecil itu tentang si olahraga dan vales-nya.

48:13

Speaker A

Nah, kalau ini kurikulumnya sendiri sekolah cikal seperti apa? Kita ngembangin kurikulum sendiri eh namanya Chikal Five Stars Competencies Curriculum. Itu emang dari awal jadi udah kayak perfected over the years gitu ya si tahun ini dari preschool sampai SMA. Bahkan kita

48:29

Speaker A

punya versi kurikulum buat orang tua juga. Proses belajarnya sebenarnya gimana ee orang tua kemudian ya buat guru juga karena kita punya ee kampus guru cikal yang emang ngelatih guru-guru dari awal. Nah, tapi tuntutan kurikulum nasional itu juga udah ke-cover. Jadi

48:46

Speaker A

jangan khawatir, maksudnya kayak apa-apa aja yang harus diajarin sesuai dengan standar nasional itu sudah masuk ke dalam situ. Terus di beberapa lokasi kita juga pakai kurikulum IB internasional bakalerat. Jadi ada ujian-ujian juga yang harus dilalui yang bukan cuma dari cikalnya, tapi dari

49:05

Speaker A

IB-nya. Terus ada juga lokasi-lokasi yang kita pakai Cambridge eh system. Jadi anak-anak juga punya pilihan untuk ngambil mata pelajaran yang ee apa ya?

49:14

Speaker A

kayak ada exsternal assessment-nya, ujian-ujian ee dari luar dari Cambridge. Tapi pun mau ngikutin semuanya full cikal aja tanpa IB dan tanpa Cambridge-nya pun oke gitu.

49:26

Speaker A

Berarti pengantarnya bahasa Indonesia, kita biling while biling bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tujuannya mastery in bos language. Jadi ee emang apa ya kadang-kadang ada anak yang mungkin karena di rumahnya lebih sering bahasa Inggris terus bahasa Indonesianya patah-patah itu kita tetap

49:40

Speaker A

kayak push untuk ya baca buku-buku sastra Indonesia dan sebag. Jadi kita mau anak tuh memang ee lulus cikal tuh dengan ya dua bahasa yang sama kuatnya Inggris sama Indonesia. Gua sering banget diprotes sih sama murid murid karena kita karena kayaknya kita

49:54

Speaker A

satu-satunya sekolah yang memaksakan bahwa harus fasih di dua-duanya. Oh. Protesnya karena Inggris protesnya karena Inggris aja. Heeh.

50:03

Speaker A

Lebih banyak gitu biasanya [tertawa] kalau udah di level kelas karena kan bukan cuma soal apa yang dibaca di sekolah ya, tapi juga yang interaksi antar mereka tuh lebih banyak yang pakai Inggris aja. Tapi kita tetap maksa dia harus kenal gitu ya, semuanya harus baca

50:15

Speaker A

Pram gitu kan. Ada kayak buku-buku wajib yang harus dibaca di level ter. Tapi itu setiap kali anak kelas 12 lulus ucapan terima kasih yang paling banyak gua dapat adalah itu.

50:27

Speaker A

Makasih ya buelah maksa aku untuk kayak ee [mendengus] menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar juga gitu pada akhirnya gitu ya. Walaupun di awal karena sayang banget masa orang Indonesia enggak lancares bahasa Indonesia apanya kita ngebayangin ya mereka mudah-mudahan jadi calon-calon

50:43

Speaker A

pemimpin gitu kan yang benar-benar bisa ee berkontribusi ke perbaikan sistem kalau ngerasa jauh gitu. Makanya kita kayak upacara bendera, peringatan hari anti korupsi, peringatan hari bumi. Jadi kayak si activism-nya tuh juga kayak benar-benar dibuild culture sekolahnya. Walaupun resikonya

51:04

Speaker A

itu kayak bentar-bentar petisi ke sekolah juga gitu [tertawa] ada. Tapi aku pikir itu kayak latihan yang bagus juga gitu gitu. Demo ada demo cikal masuk. Kenapa? Karena kita mau ngebahas sebetulnya demonya tuh apa. Bukannya kayak jadi ketakutan di rumah

51:19

Speaker A

masing-masing gitu. Enggak. Maksudnya tujuannya dari awal numbuhin anak-anak Indonesia yang bukan cuma keren buat dirinya sendiri. Dan kita kayak sadar banget dari awal kalau komunitas Cikal tuh komunitas yang punya kemewahan-kemewahan.

51:34

Speaker A

Tapi mereka justru anak-anak yang harus sadar bahwa privilege-privileg mereka itu ya bukan untuk sekedar jadi lebih baik dari orang lain gitu. Karena enggak usah masuk cikal pun kalau cuma sekedar mau jadi kaya, mau dapat nilai 100 dan sebagainya tuh bisa di mana aja kan. Gua

51:51

Speaker A

justru kayak pengin banget numbuhin anak-anak yang percaya bahwa ya bisa loh Indonesia tuh punya lingkungan hidup yang lebih baik, iklim demokrasi dan anti korupsi yang lebih baik. Dan itu kayak harus dicontohin di sekolahnya dulu sebelum mereka kemudian bisa bawa

52:07

Speaker A

itu ke sistem-sistem yang lebih besar gitu. Pengin pengin numbuhin chang maker, pengin numbuhin inovator yang bukan playing by the system sekarang gitu ya.

52:20

Speaker A

sama-sama tahu banyak banget isya, tapi betul-betul bisa jadi yang the best for the world, bukan cuma the best of the world gitu.

52:29

Speaker A

Oh, keren ya. 26 tahun Cikal sudah menjalani pendidikan Indonesia dan segala macam nih. Mungkin sudah banyak pencapaiannya. Ada enggak hal yang Mbak A ngerasa cita-cita kita harus bisa sampai di sini nih yang di tingkat apa gitu yang yang mungkin masih jadi Iya. Masih jadi

52:46

Speaker A

impiannya Cikal sudah belum tahun loh. Hm. H super. Cikal tuh salah satu bagian yang paling besarnya tuh kan Yayasan Guru Belajar tuh kita bikin ee temu temu pendidik di daerah, temu pendidik Nusantara. Kalau ditanya setiap tahun gitu ya, itu

53:02

Speaker A

kayaknya festival buat ee guru belajar yang paling gede lah di negeri ini. Bahkan dapat eh HAM dan award-nya UNESCO. Jadi kalau lu tanya cita-cita buat 26 tahun ke depan, gua pengin lebih banyak nyebarin contoh praktik baik yang dilakukan Cika sih. Karena makin lama

53:18

Speaker A

tuh gua bakal apa ya? Gua yakin makin banyak sebenarnya orang tua dan guru tuh yang gelisah bahwa sistem yang lama, sistem yang konvensional tuh ternyata enggak nyiapin anak kita gitu ya buat ee masa depan. Sekarang aja kan udah udah

53:34

Speaker A

kelihatan gitu tadi jumlah anak yang motivasinya melongkap hal yang sulit itu kan makin Iya. makin banyak jumlah anak yang kecanduan, gemar belajar tuh makin dikit, jumlah orang tua yang makin ketakutan tuh makin tinggi. Jadi, obviously the system is not working

53:51

Speaker A

gitu. Nah, cuma susahnya kadang lu mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan sulit tuh ke si yang bawa sistem baru gitu. Padahal sebetulnya si pertanyaan sulit itu harus aj pembela [tertawa] sistem lama. Please deh gitu. Iya kan orangnya enggak di sini [tertawa] kita tuh jadi kalau ketemu hal baru tuh,

54:09

Speaker A

Dit, gitu. Kayak, "Lu kenapa enggak gini? Lu kenapa enggak gini?" Lah, lu yang lama dijelas kagok [tertawa] lu mempertanyakan orang yang mencoba membawa perubahan gitu kan.

54:20

Speaker A

K kepistnya bergerak lebih cepat sih sebetulnya karena gua masih kayak rasanya tuh kadang-kadang kalau ada open house sekolah dan sebagainya tuh pertanyaan yang gua dapat 26 tahun yang lalu tuh pas gua sih umur 20 sekian tahun gitu ya

54:37

Speaker A

sekarang [tertawa] udah udah mau masuk kepala lima gitu itu masih banyak banget yang sama gue kayak gila dunianya tuh udah [tertawa] udah beda banget dan pertanyaan lu tuh masih sama masih sama dengan 20 Artinya secara dunianya berkembang pesat, tapi

54:53

Speaker A

pendidikannya itu gitu-gitu aja. Gimana? Terus habis itu lu surprise kualitas lulusan enggak relevan gitu yang kayak di mana surprise-nya ya? [tertawa] Udah jelas-jelas prosesnya enggak berubah gitu. Terus lu berharap output-nya, kualitas lulusannya berubah.

55:09

Speaker A

Jadi emang ya [mendengus] itu gua pengin nyebarin itu sih dan gua pengin lebih banyak ee gua enggak pengin enggak pengin lebih banyak murid cikal sih sebetulnya. Gua kayak pengin murid Chikal lebih berkontribusi ke banyak sistem gitu ya. Pengin banyak

55:27

Speaker A

murid gua jadi guru gitu kan. enggak harus guru cikal, bisa guru di tempat-tempat lain ataupun dia kerja di bidang profesional atau jadi birokrat dan sebagainya itu dia jadi contoh baik gitu ya di lingkungannya. Dan gua sekarang [berdehem] sudah jauh lebih

55:42

Speaker A

pede sih dibanding gua 26 tahun yang lalu karena [tertawa] kayak I enggak karena buktinya banyak buktinya banyak.

55:49

Speaker A

Heeh. bisa banyak lu mau apa yang yang menarik dari Cikal ini karena konsep anak siap hidupnya kan bukan anak yang paling satu berikutnya. [tertawa] Heeh.

56:00

Speaker A

Jadi anak siap hidup nih menarik banget sih. Karena tadi soft skill tuh kita sering kelewatan.

56:05

Speaker A

Betul. Enggak tahu deh zaman kita sekolah kayaknya soft skill kita nyari sendiri ya. He maksudnya berteman sendiri.

56:10

Speaker A

Gua sebenarnya enggak terlalu suka sama istilah soft skill. Apa tuh? Berarti karena soft skill itu the hardest skill sebetulnyaak [tertawa] sih kayak lu suka kayak kalau lu bilang hard skill sama soft skill tuh kayak si soft skill tuh gampang nanti bisa

56:23

Speaker A

sendiri dan sebagainya. Heeh. Heeh. Terus padahal ya si general competensi kita bilangnya kalau di Chikal tuh itu justru yang paling susah karena itu yang paling kepakai di segala situasi kan. Coba gua mau tanya lu balik itu yang paling

56:36

Speaker A

kepakai apa? Yang lu paling ingat dari zaman sekolah. Dari zaman sekolah yang berguna sampai sekarang dasadarma pramuka. Heeh. [tertawa] Ee dari the whole pengalaman sekolah.

56:45

Speaker A

Dari pengalaman. Heeh. Teman ya networking sih sebenar-benarnya. Jadi cara berteman. Iya. Cara berteman kenal sama siapa ee kita bisa bantu apa, dia bisa bantu apa.

56:56

Speaker A

Tuh kayaknya karena sekolahku kan 400 orang satu angkatan tuh SMA [berdehem] tuh. Dan memang zaman dulu zaman dulu kelas 3 suka marahin kita kalau kita enggak saling kenal.

57:06

Speaker A

Oke. Iya. Karena mungkin angkatannya banyak. Jadi kayaknya itu sih kalau pelajaran ya jujur bahasa Indonesia lagi kalau aku karena guruku lumayan bukan lumayan sangat-sangat baik hati sekali. Aku diajakin ke Taman Ismail Marzuki ngelihat ee sastrawan bacain karya habis itu pulang diajak

57:26

Speaker A

diskusi. Aku dikasih kesempatan sama guruku, "Kamu suka cerpen yang dibacain tadi?" Iya. Kamu bacain dong keliling ke kelas-kelas yang saya ajar disuruh bacain depan ini kecintaanku sama menulis.

57:36

Speaker A

Menulis performing itu muncul itu dari guru bahasa Indonesiaku tuh ee Bu Zaitun namanya di SMA 70. Terima kasih Bu Zaitun menumbuhkan seorang radio aku enggak pernah lupa sih. Enggak pernah lupa sih. Jadi jadi coba lu punya lebih banyak buaitun.

57:51

Speaker A

Iya lagi. Atau kalau kalau lu lihat kayak jam lu dari jam 00 pagi gitu. 30 sampai jam .

57:59

Speaker A

Kalau lu dapat lebih banyak kesempatan buat Iya lagi dia ya melakukan itu sih Taman Ismail Marzuki baca dan sebagainya dibanding hal-hal lain yang mungkin ya tetap penting lu punya gitu ya cuma yang harusnya enggak 4 jam sehari 5 jam sehari kali ya

58:14

Speaker A

aku paham sih maksudnya maksudnya adalah kecintaan dan minat itu tuh jadi jadi terasa karena tidak seperti belajar kan tapi kita belajar sebenarnya betul banget dengan bacain karya-karya orang dengan Lu merasa punya kendali kan? Lu merasa kayak lu kayak menjalani menjalani ini

58:32

Speaker A

karena lu punya tujuannya gitu kan. Jadi si tujuannya Bu Zaitun sama tujuan lu tuh. Gua kayaknya kenal deh si Bu Zaitun itu karena udah ada yang pernah nyebut nama dia sebelumnya. Tapi nanti gua cek deh habis ini.

58:44

Speaker A

Boleh boleh boleh [tertawa] boleh boleh. Tapi masalahnya tuh di pendidikan konvensional tuh gitu kan. Keluar kelas itu sama dengan tidak belajar.

58:51

Speaker A

Maksudnya di dalam Heeh. kepala orang-orang dulu itu karena guru-guru kegeran dipikir dia doang yang bisa menjadi sumber pengetahuan. Nah, itu yang kemudian [tertawa] saya pengin saya pengin tanya ke saya pengin tanya ke Mbak Mbah tadi sudah jelasin kalau dari segi cikalnya

59:05

Speaker A

ada kurikulumnya yang dikembangin sendiri. Kemudian kalau dari segi siswa-siswanya, peserta didiknya segala macam dengan segala macam ee inovasinya cikal di gurunya. Guru tuh kayak gimana untuk biar bisa up to date dengan keadaan? itu sekarang tuh again ya dibanding 26 tahun yang lalu itu kayak

59:26

Speaker A

yang ngelamar jadi guru di Cikal tuh banyak banget. Tahun lalu yang ngelamar 35.000 perc Wow 35.000 [tertawa] orang000 orang ngelamar jadi guru di Cikal. Padahal kita butuhnya cuma sekitar ya 180-an guru.

59:43

Speaker A

Jadi gua tuh alhamdulillah dan yang kalau lu tanya kenapa menurut gua cikal keren gitu ya.

59:48

Speaker A

Walaupun mungkin bisa dibilang subjektif, tapi kan gua juga bukan cuma ngurusin cikal gitu ya. Gua kayak keliling ke banyak banget kelas ee sekolah di seluruh Indonesia dalam berbagai konteks itu karena guru-gurunya tuh luar biasa banget. Jadi kita punya

60:03

Speaker A

kemewahan. Lagi-lagi gua enggak menganggap ini sesuatu yang terjadi di semua sekolah untuk bisa betul-betul milih semua kompetensi yang kita pengin ada di murid-murid kita tuh kita yakini dulu udah dimiliki sama guru-guru kita.

60:17

Speaker A

Tadi komit masuk kelas tuh udah tahu gua mau ngajar apa, kenapa gua harus ngajar ini dan kenapa penting dan mereka milih sendiri. Gua selalu bilang kalau lu, lu bayangin ya, lu guru bahasa Indonesia, lu guru fisika, lu pilih apa yang mau lu ajarin kalau

60:34

Speaker A

cuma punya waktu ngajarin satu hal aja, itu apa yang paling penting diajarin di semester ini. Walaupun nanti dia ngajarinnya lebih ya, tapi dia kayak harus tahu nih sebenarnya apa sih tadi si soft skill atau general competensi atau apapun tuh apa yang

60:48

Speaker A

paling penting. Mereka itu kayak tahu betul itu akan bikin anak lu jadi kayak apa. Terus guru-guru tuh yang kita selalu lihat tuh kayak mandiri banget.

60:57

Speaker A

Mandiri banget dalam arti mereka kemudian kayak bikin bahan ajar terus mereka kolaborasi sama yang lain lintas mata pelajaran terus reflektif banget kalau lu lihat catatan guru-guru cikal ya kita dibantu teknologi gitu kan untuk ee itu supaya kita kayak bisa punya

61:14

Speaker A

dashboard-nya nih si murid ee sampai mana sebetulnya ee tracking progressnya dan sebagainya. Tapi kayak setiap kali habis kelas tuh, oh ini ya yang harus gua lakukan, ini yang harus gua modif.

61:25

Speaker A

Kayaknya si anak ini nih belum ngerti yang bagian ini gua harus sesuaiin. Oh, PR-nya dia. Kalau dia ngasih PR harus rada beda nih sama yang lain dan sebagainya. Dan itu yang dibilang guru profesional tuh sebetulnya kayak gitu gitu. Itu yang

61:39

Speaker A

dan ini tuh macam-macam gitu ya ee latar belakangnya. Tapi banyak banget juga sebetulnya yang bukan dari sekolah keguruan. Cuma kayak kita kasih pelatihan, kita kasih eh pendekatan-pendekatan untuk lebih paham eh content knowledge-nya sebetulnya apa yang mau diajarin. Tapi modalnya tuh

62:00

Speaker A

selalu sama sih si komitmennya, panggilannya untuk jadi guru tuh kayak kuat banget gitu ya. Dan mereka kayak yakin banget bahwa anak-anaknya tuh sebetulnya anak-anak yang bawa sesuatu juga ke dalam kelas kita. Modal pertama kita tuh sih memanusiakan hubungan itu

62:15

Speaker A

sih. Mereka kayak harus punya hubungan yang kuat sama murid-muridnya. Harus sebelum soal apa yang diajarin harus curious tentang anaknya dulu gitu ya. Yang anak ini nih kayak gimana sih dan ee apa yang bisa gua lakukan buat bantu dia harus

62:31

Speaker A

kias soal keluarganya, bisa komunikasi sama orang tuanya dan sebagainya. itu kayak eh [mendengus] kayak the best part about ee usetnya kayak punya ratusan guru yang alhamdulillah gitu ya betul-betul percaya sama visi misi sekolahnya dan berusaha ngejalaninnya dengan lebih baik

62:51

Speaker A

setiap hari. Iya karena guru yang akhirnya ketemu murid dan guru yang ngebelue chical itu ya. Jadi emang harus dari situ juga ya.

62:59

Speaker A

He. Kalau enggak susah, kalau enggak susah kayak dan lu enggak fair sama muridnya juga kan kalau misalnya ee lu kayak enggak ngasih teladan gitu sebetulnya gitu kan.

63:10

Speaker A

Pusing [tertawa] enggak sih, Mbak ngurus ngurus sekolah-sekolah ini? Gua ngebayangnya udah pusing tahu. Banyakan senangnya.

63:15

Speaker A

Iya sih ya, banyakan senangnya. Senang banget. I senang banget sumpah [berdehem][tertawa] senang banget. Gua kayak gua suka bilang sama suami gua. Suami gua kan lawyer ya.

63:21

Speaker A

gue yang kayak setiap ini kayaknya hampir setiap pagi dia [tertawa] udah bosan setiap mandi gitu gua habis selesai mandi kenapa ya enggak setiap orang mau jadi guru karena [tertawa] gua kayak suka banget sama si profesi ini dan gua belajar

63:34

Speaker A

banyak banget dari murid-murid gua jadi kayaknya gua masih ingat banget tuh kayak si 50 murid cikal yang pertama itu sama yang sekarang tuh gua enggak kerasa 26 tahun sih Dit sumpah gua kayak merasanya kayak masih tahun pertama aja gitu yang kayak semangat

63:50

Speaker A

banget masih pernah Pernah ketemu enggak angkatan pertama cikal itu? Oh, masih dong. Salah satunya anakku soalnya. [tertawa] Dan itu mereka si generasi satu itu sekarang udah nikah gitu ya, udah ee pada selesai S2, ada yang sudah selesai S3 dan sebagainya itu masih sering

64:05

Speaker A

ngumpul dan semuanya tuh kayak selalu cerita yang kayak aduh aku kalau enggak di Cikal tuh kayak banyak banget hal yang diulang-ulang. Termasuk salah satu itu si refleksi, kemampuan refleksi gitu.

64:16

Speaker A

itu yang apa yang ee bikin Ba tuh ngerasa bahwa guru-guru cikal tuh pada jadi happy gitu dengan mengajar maksudnya biar siapa tahu guru-guru guru-guru di luar sana termasuk saya mungkin sebetulnya enggak terlalu tidak tidak [tertawa] ketemu nilai itu

64:31

Speaker A

gitu kami tuh gue enggak pernah terlalu suka sama kata happy sih jadi tumbuh sih jadi belajar sih itu poin penting si Heeh karena menurut gua kayak anak sekarang tuh juga kayak selalu merasa hidup harus happy [tertawa] terus Kalau happy kan udah

64:47

Speaker A

selesai ya, udah selesai kayak jadinya lu jadi komen kan jadinya kayak lu ngerasa Heeh.

64:53

Speaker A

puas gitu. Jadi justru kalau lu tanya ya guru-guru gua yang kayak udah 26 tahun dan sebag kenapa sih lu stay di Chik?

64:59

Speaker A

Pasti ini gua bisa tanya sekarang sih buat beberapa yang namanya tapi hampir semua tuh jawabannya karena masih penasaran Bu kita tuh masih nyoba metode baru terus buelah kita kayak enggak pernah puas sama kita refame kurikulum lagi. Kita dapat

65:13

Speaker A

feedback dari murid-murid gitu. Jadi kayak dan kalau lu tanya gue sebenarnya driver utama gua tuh juga si curiosity itu sih gua ngasnya itu kayak belum selesai gitu.

65:22

Speaker A

Berarti yang penasaran bukan cuman murid juga penasar gurunya [tertawa] juga jadi penasaran ketemu penasaran. nyasar dia berdua tuh enggak akan menemukan jalannya karena tumbuh dan kayak tahu susah gampangan mana coba lu jadi guru ngasih nilai cuma tinggal rata-rata gitu

65:41

Speaker A

kan sama jadi guru yang kayak ngobser anak nulis ngelihat tapi jauh lebih gampang jadi kalau lu tanya happy mungkin kebanyakan guru yang di sistem konvensional lebih happy dalam arti kerjaannya lebih dikit [tertawa] lu tanya guru juga banyak kerjaannya susah

65:57

Speaker A

iya betul betul iya tapi emang Ini profesi yang enggak buat orang nyari gampang, buat orang nyari susah.

66:04

Speaker A

Iya. Dan kalau kita enggak punya rasa penasaran itu kita enggak punya drive untuk memecahkan kesusahannya. Lu coba lu bisa keren gini apa? Lu pasti banyak banget penasarannya kan dalam.

66:12

Speaker A

Oh iya banget. Iya banget. Masalah ini aja [tertawa] bukan masalah kerennya ya. Ini udah pada ketawa aja bukan ada tuntutan yang belum bisa dipenuhin.

66:20

Speaker A

[tertawa] Pasasin soal kerennya ya. Tapi penasarannya iya kayak kayaknya diganti begini aja. Kita mikirin tuh waktu itu kayak ini kayaknya ee ada cara lebih baik buat tamu. Jadi enggak usah terlalu gini deh ngomongnya ya gitu. Kita ganti aja yuk pakai tangkai kayak gini.

66:34

Speaker A

Makudnya hal-hal kayak gitu tuh masih menyenangkan. Itu kemampuan observasi kan kayak ngelihat nih kayaknya ada yang enggak pas kemampuan buat berempati. Si tamu nih gimana sih? Kira itu kayak banyak banget yang lu bilang soft skill tadi tuh yang

66:46

Speaker A

kepakai. Karena sebenarnya gua murid nolnya Chika. Heh. Sebenarnya sebenarnya sebelum ituara lu yang tu dulu. He contoh contoh lu berdua sih sebetulnya.

66:58

Speaker A

Thank you [tertawa] ya. Saya yang terima kasih. Saya dapat banyak hal hari ini. Sama aku juga banyak dapat.

67:03

Speaker A

Tapi benar juga kata tadi yang penasaran itu bisa kita ambil untuk kita juga ya, Bang ya.

67:08

Speaker A

Heeh. Maksudnya ini saya merefleksikan diri saya jadi kayak dengan tuntutan pekerjaan dan segala macam itu akhirnya kemudian saya itu merasa bahwa apapun yang saya kerjakan itu hanya berpindah dari satu kesibukan kesibukan yang lain untuk mengisi mengisi hari mencari uang

67:23

Speaker A

dan segala macam. Kadang-kadang saya lupa bahwa harusnya saya mulai dengan rasa penasaran itu ya.

67:28

Speaker A

Soalnya lu dulu pas dari suci kan ada rasa penasaran itu. Gimana ya kalau gua jadi juara begitu lu udah kelar suci gimana ya kalau gua bikin nasib dengan tangan gua sendiri?

67:37

Speaker A

Gimana ya kalau gue iya kan ada ada drive itu kan dan itu bikin hidup jadi seru kan.

67:41

Speaker A

Betul. Betul. Harusnya harusnya rasa itu yang saya kembalikan lagi biar saya jadi pelajar sepanjang.

67:47

Speaker A

Iya. Jadi terus bertumbuh. Terus tumbuh. Iya. I. Oke. Kalau ininya [tertawa] digitalisasi di sekolah cikal sendiri pemanfaatan teknologinya seperti apa tuh?

67:56

Speaker A

Kita ini banyak orang suka kita tuh font free. Font font free enggak enggak boleh pakai handphone sama sekali. K phone free. Kita pakai teknologi pada saat perlu gitu kan. Ee tapi pada prinsipnya teknologi itu lebih banyak dipakai sama guru sebetulnya untuk

68:14

Speaker A

mastiin si proses belajar mengajar tuh proses quality assurance-nya tuh bagus. Heeh. Nah, kalau murid itu kita bertahap banget, bertahap banget ngenalin teknologinya karena banyak hal-hal yang kita percaya itu sebetulnya lebih baik dipelajari analog dulu sebelum lu pindah ke digital. Jadi kayak buku gitu

68:33

Speaker A

misalnya kayak baca buku hard copy tuh kita masih kayak wajib nulis gitu ya dan enggak semuanya di ee layar gitu dan sebai jadi kita kayak hati-hati banget karena risetnya tuh 5 tahun belakangan tuh sebenarnya makin nunjukin bahwa ya memang si proses

68:47

Speaker A

[mendengus] kerja otak berhadapan sama layar sama kayak nulis gini tuh beda bangetul pemahaman pada saat baca buku ee kertas sama buku di layar pun ee beda gitu ya. Jadi ee ya buat level-lever kalau kita ngasih tugas yang dia boleh pakai AI itu biasanya kita

69:05

Speaker A

kasih tahu yang kayak ya untuk tugas ini yang bagian ini riset ini kamu boleh pakai AI tapi side eh source-nya apa yang kamu ee pakai dan sebagainya. Kalau yang enggak ya enggak ya. Dia kayak ya nulis tangan dan riset ke perpustakaan.

69:19

Speaker A

Jadi kita kayak berusaha mindful banget kapan memang teknologi itu membantu proses belajar dan kapan sebenarnya teknologi itu kayak jadi joki gitu loh yang men-take over proses ee ee belajar gitu. Sama aja kan sama kayak kita zaman dulu kapan pakai kalkulator kapan enggak

69:35

Speaker A

tuh kan kayak kalau enggak lu pakai kalkulator terus akhirnya enggak bisa tuh kayak ngfalin ee perkalian gitu kan.

69:41

Speaker A

Nah, itu yang perubahan yang mungkin dalam 5 tahun terakhir tuh banyak banget kita lakukan. Tapi di satu sisi ya kita kayak course ee buat komputer ee sains dan sebagainya itu juga banyak. Kalau ngajarin coding itu kita masih ada yang pakai aplikasi

69:58

Speaker A

tapi banyak banget juga coding yang analog sebenarnya enggak perlu pakai gawai gitu ya. lebih kayaknya itu diajarin karena makin lama kita juga makin lihat ya bukan soal bisa codingnya kan sekarang aduh benar-benar [tertawa] pakai enggak perlu jago coding gua juga

70:14

Speaker A

pakai enggak usah sebut merek itu kayak bisa nyelesaiin masalah jadwal gitu masukin sendiri AI yang nyelesaiin tapi kan itu baru bisa gua pakai sesudah dewas sesudah gua tahu kayak oke nih sebenarnya rules-nya apa aja sih gua mau ada jarak berapa antar

70:29

Speaker A

meeting dan sebag jadi kemampuan pemecahan masalahnya yang harus harus diselesaiin dulu yang anak-anak harus punya dulu kemampuan analisanya, pemecahan masalah, nyari idenya, itu yang harus mereka miliki. Baru kemudian mereka pada akhirnya bisa di memberdayakan teknologi, bukan diperdaya sama.

70:47

Speaker A

Jadi teknologinya jadi alat doang, algoritmanya sudah di kepala kita gitu. Betul, betul, betul. Dan itu yang gimana caranya memastikan phone free itu?

70:54

Speaker A

Maksudnya dia nyetor handphone di awal. Oh, nyetor handphone di awal. Awalnya kita ditentang pas awal kita font free.

71:00

Speaker A

Apalagi kan murid-murid gua beli handphone merek apa aja juga bisa ya [tertawa] sebenarnya. Bukan bukan font free karena terpaksa tapi fone free by eh by choice gitu awalnya. Jadi tantangannya tantangannya pertama anak-anak kayak ya karena banyak juga yang sudah kecanduan

71:15

Speaker A

kan yang kayak jadi mereka datang tuh pegang HP cuman di sekolah ditaruh. Iya, dikumpulin pas pulang baru boleh ngambil lagi. Sekarang tapi mereka udah kalau tanya gitu ya, karena udah ngerasain manfaatnya itu kayak tahu kan playground rame terus mereka ngerasa

71:32

Speaker A

kayak nyelesaiin tugas tuh lebih cepat rentang konsentrasinya. Kalau enggak pakai multitasking itu juga kelihatan kualitasnya beda dan sebagainya.

71:40

Speaker A

Sekarang mereka justru kampanye ke sekolah-sekolah lain. Kita bantu ee sekarang sekitar 40-an sekolah di Jakarta yang mau coba adopsi ee font free juga. Itu yang jadi ambasador-ambassadornya murid-murid kita keliling ke sekolah lain. Ya, gua tahu sih lu pasti susah gitu. Tapi gua juga

71:58

Speaker A

dulu tahun lalu gua juga kayak gitu gitu ya. 2 tahun yang lalu gua juga gitu. itu terus akirnya malah kita bikin kesepakatan sama-sama dan ini dan itu again itu gimana kita nyebarin praktik baik kita ke yang lain sih

72:10

Speaker A

karena kalau di luar tuh ada yang dimasukin pouch terus diiniin pouch-nya harus dial. Heeh. Kita sih berusaha supaya enggak kelihatan mata sih. Jadi karena kalau dia kelihatan mata ya sama aja sih nih gua ke seandainya di sini ada handphone gua, gua pasti susah

72:23

Speaker A

banget tuh Dit untuk kayak enggak ngecek gitu kan. Jadi emang di ee tempat lain supaya anak-anak tuh bisa fokus buat belajar. Tapi lagi-lagi ya literasi digitalnya tetap ee tumbuh kayak kemampuan risetnya tetap diajarin.

72:37

Speaker A

Cuma ya enggak harus dengan berarti harus ya kayak di layar berjam-jam gitu. Banyak banget yang nanya yang kayak, "Lu punya smartboard berapa di sekolah lu?" Enggak ada. [tertawa] Hah? Sekolah kayak gitu enggak punya?

72:48

Speaker A

Emang enggak ada. Enggak perlu. Oke. Nah, untuk yang [tertawa] di rumah yang pengin tahu lebih banyak soal sekolah cikal bisa ke mana, Mbak El?

72:57

Speaker A

Bisa lihat ke mana? Eh, ada website cikal.co.id, ada medsos ee sekolah cikal, ada yang rumah main cikal juga yang buat ee preschool ke bawah, ada pendidikan inklusi cikal. Kalau buat yang berkebutuhan khusus dan emang nyari sekolah buat anak-anaknya, kalau enggak

73:14

Speaker A

DM aku juga boleh. Oke, DM [tertawa] ke Instagram aku entar yang DM R5.000 lagi.

73:20

Speaker A

Kenapa saya enggak dilulusin sih, Bu? P P P [tertawa] P P P P P P P Per P loker PER gitu. Pak guru sebanyak mungkin juga ngelamar senang.

73:30

Speaker A

Siap. Terima kasih sudah mampir ke sini. Makasih.

Topics: pendidikan Indonesia Sekolah Cikal motivasi belajar inovasi pendidikan guru sistem pendidikan anak pembelajaran kontekstual psikologi pendidikan pendidikan kreatif


---
This is the markdown twin of https://sozai.app/transcript/diskusi-pendidikan-indonesia/ — the same content, without the markup.
Published by SozAI (https://sozai.app). Reuse and quotation are allowed with attribution and a link back.
Machine-readable index: https://sozai.app/llms.txt · data API: https://sozai.app/api/
