**Mengungkap Asal Usul Weton Dan 5 Pasaran Jawa Fakta Sejarah Kalender Jawa yang Jarang Dibahas — Transcript & Summary | SozAI**
Source: https://sozai.app/transcript/asal-usul-weton-pasaran-jawa/

Mengungkap sejarah dan makna lima pasaran Jawa serta sistem penanggalan yang bertahan hingga era modern.

## Key Takeaways

- Lima pasaran Jawa adalah sistem waktu unik yang menggabungkan siklus 5 dan 7 hari.
- Pasaran memiliki akar sejarah yang kuat dan berfungsi sebagai pengatur kehidupan sosial dan ekonomi.
- Kalender Jawa yang diperkenalkan Sultan Agung memadukan unsur Saka dan Islam tanpa menghilangkan pasaran.
- Makna pasaran bersifat budaya dan kepercayaan, bukan hukum alam yang pasti.
- Pasaran tetap relevan dan bertahan hingga era digital karena nilai budaya dan sosialnya.

## What the video covers

- Orang Jawa mengenal lima pasaran yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon yang merupakan siklus 5 hari.
- Pasaran berasal dari sistem pasar tradisional yang mengikuti rotasi lima harian di Jawa kuno.
- Sistem pasaran menggabungkan siklus 5 hari dan 7 hari membentuk pola 35 hari yang disebut weton.
- Kalender Jawa mengalami perubahan besar pada masa Sultan Agung dengan perpaduan kalender Saka dan Islam.
- Meski kalender berubah, lima pasaran tetap bertahan dan menjadi bagian dari identitas budaya Jawa.
- Pasaran bukan sekadar tradisi mistis, melainkan sistem perhitungan waktu dan pengaturan sosial.
- Makna pasaran berkembang dari waktu ke waktu melalui tradisi, penafsiran masyarakat, dan literatur Jawa.
- Pasaran digunakan dalam berbagai aspek kehidupan termasuk pengambilan keputusan sosial dan waktu pernikahan.
- Pengetahuan pasaran tidak selalu berarti kepercayaan ramalan, melainkan juga ilmu titen dan pengamatan pola alam.
- Pasaran bertahan karena setiap generasi menemukan alasan baru untuk mengingat dan menggunakannya.

## Chapters

1. 00:00 Pengenalan Pasaran Jawa dan Sistem Penanggalan
2. 04:09 Perubahan Kalender Jawa di Masa Sultan Agung
3. 07:43 Makna dan Fungsi Pasaran dalam Kehidupan Jawa
4. 11:21 Pasaran dalam Prasasti dan Tradisi Jawa Kuno
5. 15:11 Pasaran dan Sistem Penanggalan Baru
6. 18:52 Makna Angka dalam Weton dan Pengambilan Keputusan
7. 23:22 Penjelasan Matematis dan Filosofis Pasaran
8. 27:01 Kesimpulan dan Masa Depan Pasaran Jawa

Answers

## Questions about this video

Apa itu pasaran dalam budaya Jawa?

Pasaran adalah siklus lima hari dalam kalender Jawa yang terdiri dari Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon, yang awalnya terkait dengan rotasi pasar tradisional dan kini menjadi bagian penting dari sistem penanggalan dan budaya Jawa.

Bagaimana pasaran Jawa berhubungan dengan kalender Sultan Agung?

Pada tahun 1633, Sultan Agung memperkenalkan kalender Jawa Islam yang memadukan kalender Saka dan Islam, namun lima pasaran tetap dipertahankan sebagai bagian dari sistem penanggalan yang terus digunakan masyarakat Jawa.

Mengapa pasaran Jawa masih relevan hingga zaman modern?

Pasaran bertahan karena memiliki nilai budaya, sosial, dan tradisi yang kuat, serta berfungsi sebagai cara masyarakat Jawa memahami waktu dan mengatur kehidupan sosial, meskipun teknologi modern telah hadir.

## Full Transcript — Download SRT & Markdown

00:00

Speaker A

Pernahkah kalian bertanya mengapa orang Jawa tidak hanya mengenal Senin, Selasa, atau Rabu, tetapi juga Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon? Lima nama ini mungkin terdengar seperti nama hari biasa. Namun, di baliknya tersimpan perjalanan sejarah yang panjang dari pasar-pasar Jawa kuno, sistem penanggalan berabad-abad silam hingga kalender yang dibentuk pada masa Sultan Agung. Yang lebih mengejutkan, kelima pasaran ini ternyata bukan sekadar bagian dari tradisi atau ramalan. Di baliknya terdapat sistem perhitungan waktu yang begitu rumit. Bahkan mampu mempertemukan siklus 5 hari dan 7 hari dalam pola yang terus berulang. Lalu, mengapa sistem yang begitu tua masih bertahan hingga zaman digital? Dan benarkah selama ini kita memahami arti pasaran Jawa dengan cara yang keliru?

00:20

Speaker A

penanggalan berabad-abad silam hingga kalender yang dibentuk pada masa Sultan Agung. Yang lebih mengejutkan, kelima pasaran ini ternyata bukan sekedar bagian dari tradisi atau ramalan. Di baliknya terdapat sistem perhitungan waktu yang begitu rumit. Bahkan mampu mempertemukan siklus 5 hari dan 7 hari

00:39

Speaker A

Tetap simak kisahnya sampai akhir karena jawaban dari pertanyaan itu justru membawa kita pada rahasia terbesar tentang bagaimana masyarakat Jawa memahami waktu. Namun sebelum itu, mari kita dukung channel ini dengan like, comment, dan subscribe. Dan jangan lupa, sebutkan juga dari kota mana kalian menyimak video ini. Sekarang mari kita kembali ke masa ketika waktu belum dihitung dengan jam digital. Ketika sebuah hari bukan hanya memiliki nama, tetapi juga memiliki pasaran.

00:52

Speaker A

Tetap simak kisahnya sampai akhir karena jawaban dari pertanyaan itu justru membawa kita pada rahasia terbesar tentang bagaimana masyarakat Jawa memahami waktu. Namun sebelum itu, mari kita dukung channel ini dengan like, comment, dan subscribe. Dan jangan lupa, sebutkan juga dari kota mana kalian

01:09

Speaker A

Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon. Bayangkan Jawa pada masa ketika belum ada jam digital. Belum ada kalender yang tergantung di dinding rumah dan belum ada telepon genggam untuk mengingatkan seseorang bahwa hari telah berganti.

01:38

Speaker A

umanis pahing pon wage kliwon bayangkan Jawa pada masa ketika belum ada jam digital. Belum ada kalender yang tergantung di dinding rumah dan belum ada telepon genggam untuk mengingatkan seseorang bahwa hari telah berganti.

01:59

Speaker A

Pagi datang bersama cahaya matahari. Malam turun perlahan setelah aktivitas di desa mulai mamah. Namun bagi masyarakat Jawa masa lampau, waktu bukan sekadar pergantian pagi dan malam.

02:13

Speaker A

Waktu memiliki nama dan salah satu sistem waktu itu terdiri dari lima hari. Legi, pahing, Pon, Wage, Kliwon. Kelima nama tersebut membentuk satu siklus yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai pancawara atau yang lebih populer disebut pasaran. Kajian tentang kalender

02:35

Speaker A

Waktu memiliki nama dan salah satu sistem waktu itu terdiri dari lima hari. Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon. Kelima nama tersebut membentuk satu siklus yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai pancawara atau yang lebih populer disebut pasaran. Kajian tentang kalender Jawa menjelaskan bahwa pancawara merupakan siklus 5 hari dan istilah pasaran berhubungan dengan kata pasar.

02:42

Speaker A

Secara historis, pasar-pasar tradisional di Jawa pernah beroperasi mengikuti rotasi lima harian tersebut. Bayangkan seorang pedagang membawa hasil bumi dari desanya. Ia tidak selalu bertanya, "Hari ini Senin atau Selasa." Pertanyaan yang lebih penting mungkin justru, hari ini pasar apa? Sebab ketika tiba hari

03:03

Speaker A

Secara historis, pasar-pasar tradisional di Jawa pernah beroperasi mengikuti rotasi lima harian tersebut. Bayangkan seorang pedagang membawa hasil bumi dari desanya. Ia tidak selalu bertanya, "Hari ini Senin atau Selasa." Pertanyaan yang lebih penting mungkin justru, hari ini pasar apa? Sebab ketika tiba hari tertentu, sebuah tempat berubah menjadi pusat keramaian. Orang-orang datang membawa beras, hasil kebun, ternak, makanan, kain, atau berbagai kebutuhan sehari-hari. Pasar bertemunya bukan hanya penjual dan pembeli, tetapi juga kabar, hubungan sosial, dan kehidupan masyarakat. Dari sinilah kita mulai memahami sesuatu yang sering terlupakan. Pasaran pada mulanya tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang mistis. Ia juga merupakan cara masyarakat mengatur kehidupan. Namun sistem itu memiliki keunikan yang luar biasa.

03:25

Speaker A

terlupakan. Pasaran pada mulanya tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang mistis. Ia juga merupakan cara masyarakat mengatur kehidupan. Namun sistem itu memiliki keunikan yang luar biasa.

03:39

Speaker A

Masyarakat Jawa tidak hanya mengenal siklus 5 hari, mereka juga mengenal siklus 7 hari. Kedua siklus tersebut berjalan bersamaan. Ketika siklus 5 hari bertemu dengan siklus 7 hari terbentuk pola 35 hari. Dalam tradisi Jawa, perpaduan itu kemudian dikenal sebagai weton. Di sinilah kisah lima pasaran mulai menjadi lebih dalam. Karena Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon bukan sekadar nama yang muncul bergantian.

03:57

Speaker A

woton. Di sinilah kisah lima pasaran mulai menjadi lebih dalam. Karena legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon bukan sekadar nama yang muncul bergantian.

04:09

Speaker A

Kelima lama itu bertahan melewati perubahan zaman, perubahan kerajaan, perubahan agama, bahkan perubahan sistem kalender. Berabad-abad kemudian ketika Mataram berada di bawah kekuasaan Sultan Agung, sistem penanggalan Jawa mengalami perubahan besar. Pada tahun 1633, Sultan Agung memperkenalkan kalender Jawa Islam yang memadukan unsur penanggalan Saka dengan sistem kalender Islam. Sementara hitungan tahun Jawa tetap meneruskan angka dari tradisi Saka. Namun, ada sesuatu yang menarik.

04:32

Speaker A

penanggalan Saka dengan sistem kalender Islam. Sementara hitungan tahun Jawa tetap meneruskan angka dari tradisi Saka. Namun, ada sesuatu yang menarik.

04:41

Speaker A

Ketika kalender berubah, lima pasaran itu tidak lenyap. Justru mereka terus hidup. Dan dari sinilah muncul pertanyaan yang jauh lebih besar.

04:52

Speaker A

Bagaimana mungkin l hari sederhana legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon mampu bertahan begitu lama lalu berubah dari penanda aktivitas pasar menjadi bagian dari identitas, tradisi, bahkan kepercayaan masyarakat Jawa. Untuk menemukan jawabannya, kita harus kembali lebih jauh. Jauh sebelum kalender Sultan

05:14

Speaker A

Bagaimana mungkin hari sederhana Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon mampu bertahan begitu lama lalu berubah dari penanda aktivitas pasar menjadi bagian dari identitas, tradisi, bahkan kepercayaan masyarakat Jawa? Untuk menemukan jawabannya, kita harus kembali lebih jauh. Jauh sebelum kalender Sultan Agung, jauh sebelum Mataram Islam. Karena rahasia lima pasaran ternyata telah meninggalkan jejak dari masa Jawa yang jauh lebih tua. Ketika sebuah sistem waktu telah digunakan berulang kali oleh masyarakat, ia perlahan dapat memperoleh makna yang lebih luas dari fungsi awalnya. Begitulah perjalanan lima pasaran Jawa. Di tengah kehidupan masyarakat, nama Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon tidak hanya hadir untuk menandai pergantian hari. Kelimanya kemudian menjadi bagian dari cara orang Jawa membaca hubungan antara waktu, kehidupan sosial, dan berbagai simbol kebudayaan.

05:35

Speaker A

lima pasaran Jawa. Di tengah kehidupan masyarakat nama Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon tidak hanya hadir untuk menandai pergantian hari. Kelimanya kemudian menjadi bagian dari cara orang Jawa membaca hubungan antara waktu, kehidupan sosial, dan berbagai simbol kebudayaan.

05:56

Speaker A

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan. Tidak semua makna yang sekarang dilekatkan kepada pasaran dapat dipastikan berasal dari zaman yang sama.

06:06

Speaker A

Sebagian merupakan hasil perkembangan tradisi, penafsiran masyarakat, dan literatur Jawa yang tumbuh selama berabad-abad. Karena itu ketika kita berbicara tentang watak sebuah pasaran, kita sedang memasuki wilayah budaya dan kepercayaan, bukan sedang membaca hukum alam.

06:26

Speaker A

Sebagian merupakan hasil perkembangan tradisi, penafsiran masyarakat, dan literatur Jawa yang tumbuh selama berabad-abad. Karena itu ketika kita berbicara tentang watak sebuah pasaran, kita sedang memasuki wilayah budaya dan kepercayaan, bukan sedang membaca hukum alam.

06:36

Speaker A

Sistem simbol tersebut menunjukkan bahwa bagi sebagian masyarakat Jawa, waktu bukan sesuatu yang kosong. Setiap bagian dari siklus dapat ditempatkan dalam suatu tatanan kosmologis.

06:48

Speaker A

Dalam sejumlah kajian tentang kalender Jawa, kelima pasaran memang dikaitkan dengan berbagai simbol, termasuk warna, arah mata angin, dan unsur tertentu.

07:06

Speaker A

Dalam tradisi yang berkembang di berbagai daerah Jawa dan nusantara. Perhitungan semacam itu digunakan untuk berbagai keperluan. Salah satunya adalah membaca waktu yang dianggap sesuai untuk kegiatan tertentu. Praktiknya tidak seragam. Setiap daerah dapat mempunyai aturan, penafsiran, dan prioritas yang

07:24

Speaker A

Sistem simbol tersebut menunjukkan bahwa bagi sebagian masyarakat Jawa, waktu bukan sesuatu yang kosong. Setiap bagian dari siklus dapat ditempatkan dalam suatu tatanan kosmologis.

07:35

Speaker A

Namun masyarakat Jawa tidak berhenti pada lima nama tersebut. Mereka mempertemukannya dengan siklus 7 hari.

07:43

Speaker A

Di sinilah dunia pemikiran Jawa menjadi menarik. Sebuah hari dapat memiliki nama. Nama tersebut dapat memiliki nilai hitungan. Nilai hitungan dapat digunakan dalam pitungan dan pitungan kemudian dapat hadir dalam keputusan-keputusan sosial tertentu.

07:52

Speaker A

Keduanya berjalan bersama, tetapi tidak berhenti pada titik yang sama setiap hari. Karena 7 dan 5 tidak memiliki pembagi yang sama selain satu, pasangan yang sama baru akan bertemu kembali setelah 35 hari. Dari sinilah lahir konsep weton. Seorang anak yang lahir

08:10

Speaker A

Dalam tradisi yang berkembang di berbagai daerah Jawa dan nusantara, perhitungan semacam itu digunakan untuk berbagai keperluan. Salah satunya adalah membaca waktu yang dianggap sesuai untuk kegiatan tertentu. Praktiknya tidak seragam. Setiap daerah dapat mempunyai aturan, penafsiran, dan prioritas yang berbeda. Kajian antropologi mengenai pitungan bahkan menunjukkan bahwa setiap nama hari dan pasaran dapat memiliki nilai tertentu yang digunakan dalam perhitungan tradisional.

08:30

Speaker A

angka. Ia dapat mengingatkan seseorang pada hari kelahirannya, keluarga, tradisi, dan rangkaian ritual yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

08:40

Speaker A

Namun masyarakat Jawa tidak berhenti pada lima nama tersebut. Mereka mempertemukannya dengan siklus 7 hari.

08:59

Speaker A

lebih tua menuju Jawa kuno ketika prasasti kerajaan Hind Buddha, dan sistem penanggalan lama menjadi saksi bagaimana orang Jawa mulai menata waktu.

09:09

Speaker A

Bayangkan sebuah roda waktu. Siklus pertama bergerak melalui 7 hari. Siklus kedua bergerak melalui lima pasaran.

09:28

Speaker A

Jejak itu juga muncul dalam prasasti-prasasti Jawa kuno. Salah satu petunjuk penting berasal dari prasasti Cunggrang yang bertarik tahun Saka 851.

09:41

Speaker A

Keduanya berjalan bersama, tetapi tidak berhenti pada titik yang sama setiap hari. Karena 7 dan 5 tidak memiliki pembagi yang sama selain satu, pasangan yang sama baru akan bertemu kembali setelah 35 hari. Dari sinilah lahir konsep weton. Seorang anak yang lahir pada kombinasi tertentu akan memiliki pasangan hari dan pasaran tertentu. 35 hari kemudian kombinasi itu kembali muncul. Secara matematis sederhana, tetapi secara budaya memiliki arti yang jauh lebih dalam. Dan perlahan kalender berubah menjadi ingatan. Tanggal kelahiran tidak lagi hanya menunjuk angka. Ia dapat mengingatkan seseorang pada hari kelahirannya, keluarga, tradisi, dan rangkaian ritual yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

09:55

Speaker A

Temuan seperti ini menunjukkan bahwa siklus 5 hari telah dikenal dalam tradisi penanggalan Jawa kuno jauh sebelum lahirnya kalender Jawa Islam.

10:06

Speaker A

Tetapi dari mana sebenarnya semua kerangka pemikiran itu berasal? Apakah lima pasaran benar-benar lahir dari tradisi Islam di Jawa? Ataukah ia merupakan warisan yang telah ada jauh sebelum Islam datang? Untuk menjawabnya, kita harus meninggalkan dunia Mataram Islam sejenak dan menelusuri jejak yang lebih tua menuju Jawa kuno ketika prasasti kerajaan Hindu Buddha dan sistem penanggalan lama menjadi saksi bagaimana orang Jawa mulai menata waktu.

10:24

Speaker A

Namun nama-namanya tidak selalu persis sama seperti yang dikenal masyarakat sekarang. Dalam sumber Jawa kuno terdapat bentuk nama seperti umanis, pahing, Pon, Wagai, dan Kaliwang.

10:38

Speaker A

Dan di sanalah kisah lima pasaran memasuki lapisan sejarah yang jauh lebih tua. Jauh sebelum Sultan Agung memerintah Mataram, masyarakat Jawa telah mengenal cara yang beragam untuk memahami perjalanan waktu. Buktinya tidak hanya tersimpan dalam cerita turun-temurun.

11:02

Speaker A

sistem 5 hari itu? Pertanyaan tersebut ternyata tidak mudah dijawab. Para peneliti tidak memiliki satu bukti yang dapat menunjuk kepada seorang tokoh sebagai pencipta pancawara. Justru bukti sejarah memperlihatkan bahwa sistem tersebut telah menjadi bagian dari perkembangan kebudayaan Jawa dalam

11:21

Speaker A

Jejak itu juga muncul dalam prasasti-prasasti Jawa kuno. Sala

11:42

Speaker A

siklus 210 hari. Sebuah kajian mengenai kalender Jawa menunjukkan bahwa berbagai siklus tersebut hidup berdampingan dalam sistem penanggalan Jawa.

11:53

Speaker A

Bagi masyarakat agraris, kemampuan membaca waktu tentu bukan perkara kecil. Musim menentukan kapan tanah dikerjakan.

12:02

Speaker A

Perubahan cuaca mempengaruhi perjalanan. Peredaran bulan membantu menentukan waktu tertentu dan pengamatan terhadap alam perlahan membentuk pengetahuan yang diwariskan antar generasi.

12:14

Speaker A

Ketika pengaruh kebudayaan India dan agama Hindu Buddha berkembang di Jawa, sistem penanggalan menjadi semakin kompleks. Tahun Saka digunakan sebagai salah satu dasar pencatatan tanggal dalam berbagai prasasti. Namun prosesnya bukan sekadar mengganti sistem lama dengan sistem baru. Tradisi yang telah

12:33

Speaker A

hidup di masyarakat justru dapat bertahan dan berbaur dengan unsur yang datang kemudian. Karena itulah ketika kita melihat kalender Jawa berabad-abad setelahnya, kita menemukan lapisan sejarah yang bertumpuk, pengetahuan lokal, pengaruh India, tradisi Hindu Buddha, kemudian Islam, dan pada akhirnya semua lapisan itu akan bertemu

12:56

Speaker A

dalam satu keputusan besar. Seorang Raja Mataram akan mengubah sistem kalender yang digunakan kerajaannya. Ia tidak menghapus seluruh warisan masa lalu. Ia justru mempertahankan sebagian fondasinya lalu memasukkannya ke dalam kerangka baru yang bernafaskan Islam.

13:14

Speaker A

Nama raja itu adalah Sultan Agung. Tahun yang akan mengubah perjalanan kalender Jawa adalah 1633.

13:22

Speaker A

Dan keputusan itu kelak membuat lima pasaran Jawa memasuki babak sejarah yang sama sekali baru. Tahun 1633 di Jawa sebuah perubahan besar sedang berlangsung. Di bawah pemerintahan Sultan Agung, Mataram telah berkembang menjadi salah satu kekuatan politik utama di Jawa. Namun di balik urusan

13:43

Speaker A

peperangan, pemerintahan, dan perluasan kekuasaan, ada persoalan lain yang tampaknya sederhana, tetapi ternyata sangat penting. Bagaimana sebuah kerajaan mengatur waktu? Pada masa itu, masyarakat Jawa masih mengenal kalender Saka yang memiliki dasar perhitungan matahari. Sementara Islam menggunakan kalender hijriah yang mengikuti

14:04

Speaker A

peredaran bulan. Perbedaan tersebut menciptakan persoalan praktis. [musik] Hari-hari penting dalam tradisi Islam tidak selalu jatuh pada waktu yang sama dengan perayaan adat Jawa yang mengikuti sistem lama. Sultan Agung kemudian mengambil langkah yang tidak biasa. Ia tidak sekadar [musik] mengganti kalender

14:22

Speaker A

lama dengan kalender baru. Ia memadukan keduanya. Kalender yang kemudian dikenal sebagai kalender Sultan Agungan mempertahankan penomoran tahun Saka, tetapi sistem perhitungannya diubah menjadi mengikuti peredaran bulan sebagaimana kalender hijriah. Dengan cara itu, kesinambungan tradisi Jawa tetap dipertahankan sementara kebutuhan

14:43

Speaker A

kehidupan keagamaan Islam dapat diselaraskan. Keputusan tersebut menjadi titik penting dalam sejarah kebudayaan Jawa. Dan ada sebuah tanggal yang menjadi penanda itu.

14:54

Speaker A

Jumat lagi satu surat tahun Alif 155 Jawa. Tanggal tersebut bertepatan dengan 8 Juli 163 Masehi atau 1 Muharam 1043 Hijriah. Dari titik inilah sistem kalender Sultan Agungan dimulai.

15:11

Speaker A

Perhatikan sesuatu yang menarik. Hari peluncurannya adalah Jumati. Artinya ketika kalender baru memasuki sejarah, pasaran 5 hari tidak dibuang. Ia tetap berada di dalam sistem yang baru.

15:24

Speaker A

Pancawara tetap berjalan bersama Saptawara. Leg, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon tetap menjadi bagian dari cara masyarakat mengenali sebuah hari. Bahkan hingga sekarang, keraton Yogyakarta masih menjelaskan kedua siklus tersebut sebagai bagian dari kalender Jawa Sultan Agungan. Bagi Sultan Agung, penyatuan

15:44

Speaker A

kalender bukan hanya persoalan angka. Kalender menyentuh kehidupan masyarakat. Ia menentukan kapan sebuah perayaan. 35 hari setelah sebuah kombinasi hari dan pasaran muncul, kombinasi yang sama akan kembali. Bagi ilmu matematika, pola itu sederhana. Tuuh hari bergerak dalam satu putaran, lima pasaran bergerak dalam

16:06

Speaker A

putaran lainnya. Keduanya bertemu kembali setelah 35 hari. Dalam tradisi Jawa, pertemuan itu membentuk apa yang dikenal sebagai won atau siklus 8.

16:19

Speaker A

Tetapi bagi masyarakat Jawa, angka 35 bukan sekadar hasil perhitungan. Ia mulai berhubungan dengan manusia.

16:28

Speaker A

Seseorang tidak lagi hanya dikenali berdasarkan tanggal kelahirannya. Hari dan pasaran kelahirannya dapat disebut bersama sebagai identitas waktu.

16:37

Speaker A

Misalnya, seseorang lahir pada Selasa Paing. 35 hari kemudian Selasa Paing akan kembali dan setelah itu pola yang sama terus berulang. Dari sinilah lahir sebuah kebiasaan yang menarik. Hari kelahiran dapat diperingati kembali setiap 35 hari dalam sebagian tradisi masyarakat Jawa. [musik]

16:59

Speaker A

Kajian tentang sistem kalender Jawa juga mencatat bahwa kombinasi saptawara dan pancawara membentuk 35 kemungkinan pasangan hari. Namun semakin lama sistem itu digunakan semakin besar pula makna yang diberikan kepadanya. Hari kelahiran mulai dihitung. pasaran diberi nilai tertentu. Kemudian nilai itu digunakan

17:20

Speaker A

dalam apa yang dikenal sebagai petungan atau pitungan Jawa. Di sinilah batas antara kalender dan kepercayaan budaya mulai menjadi tipis. Petungan bukanlah satu sistem tunggal yang diterapkan dengan cara sama di seluruh Jawa. Aturan dan penggunaannya dapat berbeda menurut daerah, keluarga, dan tradisi yang

17:40

Speaker A

diwariskan. Penelitian antropologi di Pati misalnya menemukan penggunaan petung weton dalam menentukan waktu tertentu dalam tradisi perkawinan.

17:49

Speaker A

Penelitian lain di Cilacap juga mencatat bahwa tukang petung dapat dimintai bantuan untuk menghitung hari yang dianggap sesuai untuk pernikahan, bepergian, membangun rumah, atau kegiatan penting lainnya.

18:02

Speaker A

Karena itu, penting untuk memahami petungan sebagai praktik budaya, bukan sebagai hukum ilmiah yang terbukti menentukan masa depan seseorang. Bagi sebagian masyarakat, perhitungan tersebut memberikan rasa tentram. Bagi sebagian lainnya, ia merupakan bentuk penghormatan terhadap orang tua dan leluhur. Dan bagi generasi yang berbeda,

18:23

Speaker A

sikap terhadapnya dapat berubah. Ada yang mempertahankannya, ada yang menggunakannya secara terbatas, ada pula yang memilih tidak mempercayainya.

18:32

Speaker A

Menariknya, perbedaan itu tidak serta-merta membuat weton menghilang. Dalam kehidupan keluarga Jawa, weton dapat hadir ketika seseorang hendak menikah, menentukan waktu suatu acara, atau mengenang hari kelahiran. Sebuah penelitian tentang masyarakat Jawa di Tulung Agung bahkan menemukan bahwa kepercayaan terhadap pitungan weton

18:52

Speaker A

masih digunakan dalam pengambilan keputusan mengenai waktu pernikahan. Namun pada titik ini muncul pertanyaan yang lebih dalam. Jika weton hanya merupakan gabungan antara 7 hari dan 5 pasaran, mengapa angka-angka di dalamnya kemudian dianggap memiliki makna?

19:09

Speaker A

Mengapa satu kombinasi dapat dinilai berbeda dari kombinasi lainnya? Dan bagaimana masyarakat Jawa mengubah nama hari menjadi angka lalu angka menjadi pertimbangan dalam kehidupan?

19:20

Speaker A

Jawabannya berada di balik satu konsep yang disebut neptu. Di sanalah lima pasaran tidak lagi sekadar menunjukkan hari apa. Masing-masing memperoleh nilai dalam sebuah sistem perhitungan. Dan ketika nilai itu bertemu dengan nilai hari kelahiran, sebuah keputusan dapat mulai dibentuk. Kita kini telah sampai

19:40

Speaker A

pada lapisan paling rumit dari perjalanan lima pasaran. bukan lagi sekadar tentang kapan sebuah hari terjadi, melainkan tentang bagaimana manusia mencoba membaca kehidupannya melalui angka-angka yang diwariskan dari masa lalu.

19:55

Speaker A

Setelah manusia Jawa menghubungkan hari kelahiran dengan hitungan tertentu, sistem penanggalan itu ternyata masih menyimpan lapisan yang lebih besar. Jika weton bekerja dalam putaran 35 hari, kalender Jawa tidak berhenti di sana.

20:11

Speaker A

Waktu terus bergerak menuju siklus yang jauh lebih panjang. Salah satunya adalah pawukon. Pawon terdiri dari 30 wuku dengan keseluruhan siklus mencapai 210 hari. Dalam sistem ini, perhitungan tidak hanya menggunakan pasaran dan 7 hari, tetapi juga berbagai siklus lain

20:32

Speaker A

yang membuat kalender Jawa menjadi sangat kompleks. Kajian mengenai kalender Jawa mencatat bahwa sistem tersebut memang menggabungkan pancawara 5 hari, Saptawara 7 hari, wetonan 35 hari, paukon 210 hari, serta siklus windu dan kurup. Namun masyarakat Jawa kemudian menghadapi persoalan yang lebih

20:55

Speaker A

besar. Bagaimana menghitung tahun? Kalender Sultan Agungan menggunakan tahun lunar. Panjang 1 tahun Jawa berada di sekitar 354 sampai 355 hari. Agar perhitungannya tetap berjalan teratur, tahun-tahun tersebut disusun dalam satu kelompok yang disebut Windu. Satu windu berlangsung selama 8 tahun. Di dalamnya

21:20

Speaker A

terdapat nama-nama tahun seperti alif, ehe jimawal j dal b wau dan jimakir. Masing-masing mempunyai posisi tertentu dalam siklus kalender. Dengan begitu, perjalanan waktu yang sebelumnya terlihat sederhana mulai berubah menjadi seperti roda raksasa. 5 hari bergerak, 7 hari bergerak, 35 hari membentuk

21:46

Speaker A

selapan, 210 hari membentuk paukon, 8 tahun membentuk windu. Tetapi masih ada persoalan lain. Kalender Jawa harus terus berhubungan dengan kalender lunar yang menjadi dasar sistemnya. Karena panjang tahun Jawa tidak persis sama dengan perhitungan astronomis kalender hijriah, perbedaan kecil dapat

22:07

Speaker A

terakumulasi seiring berjalannya waktu. Jika dibiarkan, kalender akan perlahan bergeser. Satu hari mungkin tampak kecil, tetapi dalam sistem penanggalan yang digunakan selama puluhan tahun, satu hari dapat menjadi persoalan besar.

22:23

Speaker A

Karena itulah muncul kurup. Kurup merupakan siklus sekitar 120 tahun atau 15 windu. Dalam periode tersebut dilakukan penyesuaian terhadap perhitungan kalender. Sumber akademik mengenai kalender Sultan Agungan menjelaskan bahwa penyesuaian ini berkaitan dengan perbedaan panjang siklus kalender Jawa dan kalender

22:43

Speaker A

hijriah. Menariknya, perubahan semacam ini tidak selalu terlihat oleh masyarakat biasa. Bagi orang yang pergi ke pasar, hari tetap bernama Legi, Pahing, Pon, Wage, atau Kliwon. Bagi keluarga yang mencatat kelahiran, weton tetap menjadi penanda. Namun, di balik kehidupan sehari-hari itu, para ahli

23:03

Speaker A

penanggalan harus menjaga agar seluruh sistem tetap berada pada jalurnya. Inilah sisi kalender Jawa yang sering luput dari perhatian. Di permukaan ia tampak seperti kumpulan nama hari dan tradisi. Di baliknya terdapat perhitungan matematis yang mengatur hubungan antara hari, bulan, tahun, dan

23:22

Speaker A

siklus panjang. Penelitian modern bahkan menggunakan konsep matematika seperti aritmetika modular untuk menjelaskan bagaimana hari pasaran dapat dihitung.

23:32

Speaker A

Maka lima pasaran ternyata hanyalah pintu masuk. Di belakangnya terdapat sebuah sistem waktu yang mampu menghubungkan satu hari dengan puluhan bahkan ratusan tahun. Dan meskipun zaman berubah, kalender Masehi menjadi standar kehidupan modern serta teknologi menggantikan banyak cara menghitung secara manual, nama-nama pasaran itu

23:54

Speaker A

tetap bertahan. Pertanyaannya sekarang bukan lagi bagaimana sistem itu bekerja. Pertanyaan terakhir jauh lebih manusiawi. Mengapa masyarakat Jawa masih menyimpan lima nama tersebut? hingga hari ini. Untuk menemukan jawabannya, kita harus meninggalkan lembaran kalender dan kembali kepada manusia yang menggunakannya. Karena pada akhirnya

24:16

Speaker A

yang membuat sebuah sistem waktu bertahan selama berabad-abad bukan hanya ketepatan hitungannya, melainkan ingatan manusia yang terus mewariskannya.

24:25

Speaker A

Memasuki zaman modern, kehidupan masyarakat Jawa berubah dengan cepat. Jam mekanis kemudian digantikan oleh jam digital. Kalender Masehi menjadi bagian dari administrasi negara, sekolah, kantor, perdagangan, dan berbagai kegiatan resmi menggunakan sistem penanggalan modern. Namun, perubahan itu ternyata tidak menghapus kalender Jawa.

24:48

Speaker A

Di lingkungan keraton Yogyakarta misalnya, kalender Masehi dan kalender Jawa masih digunakan untuk keperluan yang berbeda. Kalender Masehi membantu menyelaraskan kegiatan keraton dengan kehidupan administratif modern.

25:00

Speaker A

Sedangkan kalender Jawa tetap menjadi pedoman berbagai upacara adat. Dan di tengah perubahan tersebut, lima nama itu masih terdengar. Legi, Pahing, Pon, Wage Kliwon.

25:14

Speaker A

Di sejumlah tempat, nama pasaran bahkan tepat melekat pada nama pasar. Penelitian mengenai pasar tradisional di Bantul menunjukkan bahwa sistem 5 hari pernah menentukan waktu operasional pasar tertentu. Sebagian pasar kemudian dikenal berdasarkan pasarannya seperti pasar Kliwon atau pasar Legi. Tetapi

25:34

Speaker A

warisan itu tidak hanya tinggal di pasar, ia masuk ke dalam keluarga. Ketika seorang bayi lahir, sebagian keluarga masih mencak dan pasarannya.

25:44

Speaker A

Dalam tradisi tertentu, Waton kemudian menjadi bagian dari peringatan kelahiran. Di keraton Yogyakarta misalnya terdapat tradisi yang menggunakan perhitungan nilai hari dan pasaran dalam rangkaian upacara tertentu.

25:57

Speaker A

Di tempat lain, masyarakat menggunakan weton dalam pertimbangan adat. Ada yang menggunakannya ketika membicarakan pernikahan. Ada yang mempertimbangkannya sebelum membangun rumah. Ada pula yang menghubungkannya dengan waktu memulai kegiatan tertentu.

26:12

Speaker A

Universitas Gadjah Mada mencatat bahwa weton dalam kebudayaan Jawa masih digunakan oleh sebagian masyarakat untuk berbagai pertimbangan kehidupan.

26:20

Speaker A

Meskipun cara memahami dan menggunakannya tentu tidak selalu sama. Di sinilah kita harus membedakan antara sejarah dan kepercayaan. Tidak ada dasar ilmiah yang membuktikan bahwa sebuah pasaran secara pasti menentukan nasib manusia. Tetapi kepercayaan terhadap makna hari merupakan fakta budaya yang

26:39

Speaker A

dapat dipelajari. Primbon Jawa misalnya mencatat berbagai bentuk perhitungan yang menghubungkan hari, pasaran, kelahiran perkawinan perjalanan hingga kegiatan masyarakat. Kajian dari Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa primbon merupakan bagian dari pengetahuan tradisional yang diwariskan dan berkembang dalam kebudayaan Jawa.

27:01

Speaker A

Maka setelah perjalanan panjang ini, kita akhirnya kembali kepada pertanyaan awal. Apa sebenarnya rahasia lima pasaran? Jawabannya mungkin tidak sesederhana ramalan. Rahasia itu justru terletak pada kemampuannya bertahan.

27:15

Speaker A

Sistem 5 hari yang pernah berkaitan dengan aktivitas pasar dapat melewati masa kerajaan. Ia bertemu dengan tradisi Hindu Buddha kemudian masuk ke dalam kalender Jawa Islam pada masa Sultan Agung. Setelah itu ia berkembang menjadi bagian dari weton. [musik] primbon,

27:31

Speaker A

upacara, dan berbagai kebiasaan masyarakat. Dan hari ini ketika sebagian besar manusia melihat waktu melalui layar telepon genggam, lima nama tersebut masih mampu bertahan dalam ingatan. Karena sejarah tidak selalu bertahan dalam bentuk istana atau prasasti. Kadang ia bertahan dalam

27:47

Speaker A

sebuah nama yang terus disebut dari mulut ke mulut. Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon. Lima nama sederhana yang menyimpan perjalanan panjang peradaban Jawa.

28:01

Speaker A

[musik] Dan mungkin itulah rahasia sebenarnya. Bukan bahwa kelima pasaran mampu meramalkan masa depan, melainkan bahwa selama manusia masih mengingatnya, sebagian kecil masa lalu Jawa belum benar-benar pergi. Kini kita tiba pada masa ketika hampir semua orang dapat mengetahui tanggal hanya dengan melihat

28:20

Speaker A

layar kecil di tangan. Satu sentuhan menunjukkan hari, satu kalender digital menunjukkan bulan, bahkan ribuan tahun sejarah dapat dicari dalam hitungan detik.

28:32

Speaker A

Namun di tengah perubahan itu, sebagian masyarakat Jawa masih menyebut sebuah hari dengan cara yang berbeda. Bukan hanya Senin, bukan hanya Selasa, melainkan Senin Pon, Jumat Kliwon, atau Minggu lagi.

28:48

Speaker A

Sistem yang dahulu membantu masyarakat mengenali putaran kehidupan ternyata belum kehilangan tempatnya. Di keraton Yogyakarta misalnya, kalender Masehi tetap digunakan untuk menyesuaikan berbagai kegiatan dengan kehidupan masyarakat modern. Sementara kalender Jawa Sultan Agungan masih menjadi patokan untuk berbagai upacara adat

29:08

Speaker A

keraton. Ini menunjukkan bahwa dua sistem waktu dapat hidup berdampingan tanpa harus saling menghapus. Pada tahun 2026 misalnya, keraton Yogyakarta masih menggunakan kombinasi hari dan pasaran dalam pencatatan kegiatan tradisional.

29:24

Speaker A

Salah satu upacara tinggalan Juman Dalam pada tahun tersebut tercatat bertepatan dengan Minggu Kliwon. Pemandangan semacam itu memperlihatkan sesuatu yang menarik. Kalender Jawa bukan sekedar benda peninggalan masa lalu. Ia masih digunakan, tetapi penggunaannya telah mengalami perubahan.

29:43

Speaker A

Jika dahulu pasaran sangat berkaitan dengan aktivitas pasar, kini sebagian masyarakat mengenalnya melalui weton, tradisi keluarga, upacara adat, dan berbagai bentuk pengetahuan budaya.

29:56

Speaker A

Nama-nama pasar juga menjadi bukti bahwa fungsi lama itu tidak sepenuhnya hilang. Di berbagai daerah nama seperti pasar Legi, Pasar Kliwon, Pasar Pon, Pasar Wage, dan Pasar Paing masih dapat ditemukan.

30:10

Speaker A

Dalam penelitian mengenai pasar tradisional Jawa, sistem pasaran bahkan masih terlihat dalam pola keramaian dan penamaan pasar tertentu.

30:19

Speaker A

Namun, generasi modern menghadapi pilihan yang berbeda. Sebagian menerima weton sebagai warisan budaya, sebagian menggunakannya sebagai pedoman adat.

30:29

Speaker A

Sebagian lainnya hanya mengenalnya sebagai bagian dari cerita orang tua dan kakek nenek. Dan ada pula yang memandangnya semata-mata sebagai sistem penanggalan tradisional.

30:39

Speaker A

Perbedaan tersebut tidak perlu dipertentangkan. Sebab nilai sejarah sebuah tradisi tidak bergantung pada apakah seluruh masyarakat modern masih mempercayainya.

30:49

Speaker A

Yang penting adalah memahami mengapa tradisi itu pernah memiliki arti. bagaimana ia berkembang dan mengapa sebagian masyarakat masih memilih untuk mempertahankannya.

31:00

Speaker A

Universitas Gajah Mada juga menekankan bahwa weton merupakan bagian dari kebudayaan Jawa yang digunakan dalam berbagai konteks kehidupan. [musik] Sementara klaim bahwa perhitungan tersebut secara ilmiah menentukan nasib manusia perlu dibedakan dari fakta budaya itu sendiri.

31:17

Speaker A

Maka setelah perjalanan panjang ini, lima pasaran memperlihatkan wajah yang berbeda. Ia pernah menjadi penanda waktu perdagangan. Ia menjadi bagian dari sistem kalender yang diwariskan dari masa Jawa kuno. Ia kemudian bertahan ketika Sultan Agung membangun kalender Sultan Agungan pada abad ke-17 dan

31:37

Speaker A

akhirnya ia memasuki zaman modern sebagai warisan budaya. Tetapi perjalanan itu belum benar-benar selesai. Sebab sebuah tradisi tidak hanya bertahan karena ditulis dalam buku. Ia bertahan ketika manusia masih mengucapkannya. Ketika seorang ibu masih mengingat pasaran kelahiran anaknya.

31:56

Speaker A

Ketika sebuah pasar masih memakai nama pasaran, ketika sebuah keraton masih menentukan upacara berdasarkan kalender Jawa. Dan ketika seorang cucu bertanya kepada kakeknya, "Kakek, sebenarnya apa arti hari kelahiranku?" Mungkin saat itulah sejarah kembali hidup. Bukan sebagai sesuatu yang jauh

32:15

Speaker A

dan membeku di masa lampau, tetapi sebagai percakapan antara generasi. Lima nama itu pun kembali terdengar. Legi, paing, Pon, Wage, Kliwon. Bukan sebagai bukti bahwa masa depan dapat diramal, melainkan sebagai pengingat bahwa manusia Jawa selama berabad-abad memiliki cara sendiri untuk memahami

32:38

Speaker A

waktu. Dan selama nama-nama itu masih diingat, perjalanan panjang pasaran Jawa belum berakhir. Perjalanan lima pasaran belum berhenti ketika kalender Jawa memasuki zaman modern. Justru pada masa inilah muncul perubahan yang paling halus. Tidak ada seorang raja yang memerintahkan masyarakat untuk berhenti

32:59

Speaker A

menggunakannya. Tidak ada perang yang menghancurkan sistem tersebut. Perubahannya terjadi perlahan ketika sekolah pemerintahan perdagangan dan kehidupan sehari-hari semakin menggunakan kalender masehi.

33:14

Speaker A

Namun pasaran tetap menemukan ruangnya di keluarga, di lingkungan adat, di pasar, dan dalam berbagai tradisi masyarakat Jawa. Hal ini memperlihatkan bahwa sebuah sistem penanggalan tidak selalu bertahan karena diwajibkan oleh negara. Kadang ia bertahan karena dianggap berguna untuk menjaga hubungan

33:34

Speaker A

manusia dengan tradisinya. Pada perkembangan berikutnya, teknologi justru memberikan kehidupan baru bagi kalender Jawa. Hari pasaran yang dahulu harus diketahui melalui perhitungan atau kalender tradisional kini dapat ditemukan melalui kalender digital dan aplikasi.

33:52

Speaker A

Perhitungan weton bahkan dapat dilakukan menggunakan algoritma matematika yang memanfaatkan pertemuan siklus 7 hari dan 5 hari. Kajian pendidikan matematika Universitas Negeri Surabaya pada tahun 2026 menunjukkan bahwa struktur weton dapat dijelaskan menggunakan konsep kelipatan persekutuan terkecil dan aritmetika modular.

34:14

Speaker A

Ada sesuatu yang menarik di sini. Teknologi yang tampaknya menjadi lawan tradisi justru membantu tradisi tersebut dikenal kembali. Anak muda yang mungkin tidak pernah belajar menghitung kalender Jawa secara manual dapat mengetahui pasarannya melalui perangkat digital.

34:31

Speaker A

Tetapi pengetahuan mengenai pasaran tidak selalu berarti kepercayaan terhadap ramalan. Ini adalah perbedaan penting. Seseorang dapat mengetahui bahwa dirinya lahir pada Jumat Kliwon tanpa menganggap hari tersebut menentukannya.

34:45

Speaker A

Ia dapat mempelajari weton sebagai bagian dari sejarah keluarganya. Ia dapat mengenal kalender Jawa sebagai warisan kebudayaan. Dan pada saat yang sama ia tetap menggunakan kalender Masehi untuk kehidupan sehari-hari.

34:59

Speaker A

Dalam konteks inilah lima pasaran berubah fungsi. Dahulu ia berkaitan erat dengan ritme pasar dan pengaturan waktu masyarakat. Kemudian ia menjadi bagian dari sistem kalender yang lebih kompleks. Setelah itu ia berkembang menjadi unsur identitas budaya yang diwariskan melalui keluarga dan

35:18

Speaker A

komunitas. Kini ia juga menjadi objek penelitian. Para peneliti tidak hanya bertanya apakah petungan benar atau salah. Mereka bertanya sesuatu yang lebih mendasar. Mengapa manusia mempercayainya?

35:32

Speaker A

Bagaimana sebuah sistem pengetahuan diwariskan? Bagaimana tradisi berubah ketika masyarakat berubah dan bagaimana unsur dari masa lampau dapat hidup berdampingan dengan teknologi modern.

35:44

Speaker A

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat sejarah pasaran menjadi jauh lebih menarik daripada sekedar daftar lima nama. Leg, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon adalah bagian dari sistem yang telah mengalami perjalanan panjang. Kalender Jawa sendiri merupakan hasil pertemuan berbagai tradisi termasuk warisan Saka

36:05

Speaker A

dan sistem lunar Islam dengan pancawara tetap dipertahankan dalam struktur kalender tersebut. Namun, sejarah juga mengajarkan satu hal penting. Tradisi tidak pernah benar-benar diam. Ia berubah mengikuti manusia yang menjaganya. Makna sebuah pasaran pada masa Jawa kuno belum tentu sama dengan

36:24

Speaker A

maknanya pada masa Mataram. Penggunaannya pada masa Sultan Agung tidak sepenuhnya sama dengan kehidupan masyarakat sekarang. Tetapi ada satu benang merah yang tetap bertahan.

36:35

Speaker A

Keinginan manusia untuk memberi makna kepada waktu. Dulu orang menunggu hari pasar. Kemudian mereka mencatat kelahiran. Mereka mengenali weton.

36:45

Speaker A

Mereka menyusun upacara. Dan sekarang sebagian orang membuka layar telepon untuk mengetahui hari pasaran. Alatnya berubah, manusianya berubah, zamannya berubah. Tetapi lima nama itu masih disebut dan mungkin di situlah warisan paling kuat dari kalender Jawa berada bukan pada kemampuan meramalkan masa

37:05

Speaker A

depan, melainkan pada kemampuannya menghubungkan manusia masa kini dengan jejak kehidupan orang-orang yang hidup ratusan tahun sebelumnya. Sebuah jembatan kecil yang dibangun dari lima nama Legi Pahing Pon Wage dan Kliwon. Dan selama jembatan itu masih dilalui, sejarah belum benar-benar

37:25

Speaker A

menjadi masa lalu. Pada akhirnya perjalanan lima pasaran membawa kita kembali kepada satu hal yang paling sederhana, manusia dan waktu.

37:37

Speaker A

Selama berabad-abad, masyarakat Jawa tidak hanya berusaha mengetahui kapan sebuah hari datang. Mereka juga berusaha memahami bagaimana kehidupan seharusnya berjalan di dalam waktu tersebut.

37:51

Speaker A

Itulah sebabnya weton tidak cukup dipahami sebagai ramalan. Universitas Gajah Mada menjelaskan bahwa dalam kebudayaan Jawa, weton merupakan bagian dari pengetahuan tradisional yang terbentuk dari pengalaman masyarakat dalam membaca keadaan sekitar.

38:09

Speaker A

Konsep ilmu titen misalnya berkaitan dengan kebiasaan mengamati pola alam dan kehidupan, kemudian menyimpan pengalaman tersebut sebagai pengetahuan yang diwariskan.

38:22

Speaker A

Dari sudut pandang modern, sebagian tafsir weton memang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah sebagai penentu nasib manusia. Namun, sejarah tidak hanya mempelajari sesuatu berdasarkan benar atau salahnya sebuah kepercayaan.

38:37

Speaker A

Sejarah juga bertanya, "Mengapa manusia mempercayainya?" Jawabannya membawa kita kepada kehidupan masyarakat. Ketika seorang keluarga menghitung weton untuk sebuah acara yang sedang dilakukan bukan hanya perhitungan angka, ada keputusan keluarga, penghormatan terhadap orang tua, ingatan terhadap leluhur, dan keinginan agar

39:00

Speaker A

sebuah langkah besar dilakukan dengan penuh pertimbangan. Di beberapa daerah praktik seperti itu bahkan masih dilakukan hingga masa kini.

39:11

Speaker A

Penelitian antropologi di Cilacap mencatat keberadaan tukang petung, yaitu orang yang dipercaya memiliki pengetahuan untuk melakukan perhitungan weton dalam berbagai keperluan termasuk perkawinan perjalanan usaha dan pembangunan rumah. Tetapi dunia terus berubah. Generasi baru tidak lagi hidup dalam masyarakat yang sama dengan

39:35

Speaker A

leluhurnya. Informasi datang melalui internet. Kalender dapat dihitung secara otomatis. Pasaran dapat diketahui hanya dengan mengetik sebuah tanggal. Anehnya, teknologi tidak selalu membuat tradisi mati. Kadang teknologi justru menyimpannya dalam bentuk baru. Sebuah kalender digital dapat menunjukkan hari kliwon. Sebuah keluarga dapat mencari

40:00

Speaker A

weton kelahiran melalui telepon. Seorang peneliti dapat menghitung pola pasaran menggunakan rumus matematika. Dan seorang anak muda dapat mempelajari sejarah kalender Jawa tanpa harus memiliki sebuah kitab primbon di rumahnya.

40:16

Speaker A

Di titik inilah perjalanan kita menemukan makna terakhir. Tradisi tidak selalu bertahan dengan cara yang sama.

40:23

Speaker A

Ia dapat berubah bentuk. Pasaran dahulu berkaitan erat dengan ritme pasar. Dalam kalender Sultan Agungan, Pancawara tetap menjadi bagian dari struktur penanggalan bersama Saptawara.

40:36

Speaker A

Keraton Yogyakarta bahkan mencatat bahwa nama-nama pasaran seperti Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage masih digunakan dalam sistem tersebut.

40:48

Speaker A

Kemudian masyarakat memberikan makna baru melalui weton dan berbagai tradisi. Sebagian mempertahankannya sebagai adat. Sebagian menjadikannya identitas budaya.

41:00

Speaker A

Sebagian lainnya mempelajarinya hanya sebagai warisan sejarah. Semua itu menunjukkan bahwa lima pasaran tidak memiliki satu makna yang beku. Maknanya bergerak bersama zaman. Dan mungkin justru itulah rahasia terbesar yang selama ini kita cari.

41:18

Speaker A

Bukan rahasia gaib, bukan kemampuan membaca masa depan, melainkan kemampuan sebuah kebudayaan untuk mengingat dirinya sendiri.

41:27

Speaker A

Legi mengingatkan kita bahwa waktu pernah mengikuti denyut pasar, Pahing membawa kita kepada jejak penanggalan Jawa kuno. Pon, Wage, dan Kliwon mengingatkan bahwa sistem tersebut terus berkembang dan diwariskan.

41:44

Speaker A

Kelima nama itu kemudian melewati perubahan kerajaan, pertemuan budaya, masuknya Islam, modernisasi, kolonialisme, hingga kehidupan digital.

41:55

Speaker A

Namun, manusia masih mengucapkannya. Dan selama sebuah nama masih disebut, sejarah di baliknya masih mempunyai kesempatan untuk diceritakan kembali.

42:05

Speaker A

Maka ketika suatu hari seseorang bertanya, "Hari apa kamu lahir?" Mungkin jawaban yang paling lengkap dalam tradisi Jawa bukan hanya menyebut nama hari, tetapi juga pasarannya.

42:18

Speaker A

Karena di balik lima nama sederhana itu tersimpan perjalanan panjang tentang bagaimana manusia Jawa belajar menghitung waktu, membaca kehidupan, dan mewariskan ingatan.

42:30

Speaker A

Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon. Lima putaran kecil, satu warisan besar, dan kisahnya belum benar-benar berakhir selama masih ada manusia yang mau mengingatnya. Memasuki generasi yang tumbuh bersama internet, cara manusia mengenal waktu berubah sekali lagi.

42:52

Speaker A

Tidak diperlukan lagi perhitungan panjang untuk mengetahui sebuah pasaran. Cukup memasukkan tanggal kelahiran ke dalam kalender digital dan dalam beberapa detik muncul jawabannya.

43:04

Speaker A

Tetapi kemudahan itu menghadirkan persoalan baru. Jika teknologi mampu menghitung pasaran secara otomatis, apakah generasi berikutnya masih akan memahami maknanya?

43:15

Speaker A

Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting karena weton bukan hanya persoalan menemukan nama hari. Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa weton merupakan bagian dari pengetahuan tradisional Jawa yang terbentuk melalui pengalaman masyarakat dalam mengamati kehidupan dan lingkungan.

43:33

Speaker A

Dalam konsep ilmu titen, pengalaman tersebut dikumpulkan, dibandingkan, kemudian diwariskan sebagai pengetahuan. Artinya, ketika seseorang hanya memasukkan tanggal kelahiran ke sebuah aplikasi, ia mendapatkan hasil perhitungan, tetapi belum tentu [musik] mendapatkan cerita di baliknya.

43:53

Speaker A

Ia tahu bahwa dirinya lahir pada Kliwon, namun mungkin tidak mengetahui mengapa pasaran pernah berkaitan dengan pasar.

44:01

Speaker A

Ia mengetahui wetonnya, namun belum tentu memahami bagaimana sistem 5 hari dan 7 hari dapat bertemu menjadi siklus 35 hari. Di sinilah generasi baru mempunyai peran yang berbeda. Mereka tidak harus menerima seluruh kepercayaan leluhur sebagai kebenaran mutlak. Mereka juga tidak harus membuangnya hanya

44:23

Speaker A

karena hidup di zaman modern. Mereka dapat mempelajarinya sebagai sejarah. Sebab pengetahuan budaya dapat diwariskan. tanpa harus mengubahnya menjadi klaim ilmiah.

44:34

Speaker A

Penelitian tentang kalender Jawa bahkan memperlihatkan bahwa sistem tersebut memiliki struktur yang dapat dipahami secara matematis. Siklus pancawara dan saptawara menghasilkan 35 kombinasi.

44:47

Speaker A

Sementara sistem kalender Jawa memiliki berbagai siklus lain yang tersusun secara teratur. Dengan demikian, lima pasaran dapat dipelajari dari dua arah sekaligus. Dari sisi budaya, [musik] ia memperlihatkan bagaimana masyarakat Jawa memberi arti kepada waktu. Dari sisi matematika, ia menunjukkan bagaimana

45:07

Speaker A

beberapa siklus dapat berjalan bersamaan dan kembali bertemu pada pola tertentu. Dua pendekatan itu tidak harus bertentangan, justru keduanya membuat gambaran menjadi lebih lengkap.

45:20

Speaker A

Bayangkan seorang anak muda Jawa masa kini yang menemukan catatan kelahirannya. Di sana tertulis nama hari, tanggal, dan pasarannya.

45:29

Speaker A

Ia kemudian bertanya kepada orang tuanya tentang arti nama tersebut. Orang tuanya mungkin mengingat cerita dari kakek dan neneknya. Dari percakapan sederhana itu, sebuah rantai ingatan bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tidak ada prasasti, tidak ada istana, tidak

45:46

Speaker A

ada upacara besar, hanya sebuah percakapan dalam keluarga. Tetapi justru melalui percakapan seperti itulah kebudayaan dapat bertahan. Hal ini juga menjelaskan mengapa kalender Jawa tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu.

46:01

Speaker A

Koleksi perpustakaan Universitas Gadjah Mada menunjukkan adanya almanak Jawa yang diterbitkan pada pertengahan abad ke-20 dan memuat pasaran, wuku, serta berbagai perhitungan tradisional.

46:15

Speaker A

Jadi warisan tersebut pernah berpindah dari prasasti menuju manuskrip, dari manuskrip menuju buku, dan kemudian dari buku menuju layar digital. Medianya berubah, cara menghitungnya berubah, tetapi pengetahuan dasarnya terus menemukan bentuk baru. Dan perjalanan itu membawa kita pada satu kesimpulan

46:34

Speaker A

penting. Lima pasaran tidak bertahan karena waktu berhenti. Ia bertahan justru karena waktu terus bergerak.

46:42

Speaker A

Setiap generasi memberinya cara baru untuk dikenali. Dan ketika generasi berikutnya kembali bertanya tentang Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon, mereka sebenarnya sedang membuka pintu menuju sejarah yang jauh lebih luas.

46:57

Speaker A

Sejarah tentang bagaimana sebuah masyarakat belajar mengenali waktu lalu menjadikannya bagian dari identitas. Namun, masih ada satu pertanyaan yang belum kita jawab sepenuhnya. Jika pasaran telah melewati begitu banyak perubahan zaman, seperti apa masa depannya ketika dunia semakin modern?

47:16

Speaker A

Jawabannya mungkin justru sedang berlangsung sekarang. Kini kita berdiri di sebuah zaman yang sangat berbeda dari dunia ketika pasaran pertama kali digunakan.

47:28

Speaker A

Pasar tradisional telah berdampingan dengan pusat perbelanjaan dan perdagangan daring. Surat kabar digantikan oleh layar. Perhitungan yang dahulu dilakukan secara manual kini dapat diselesaikan dalam hitungan detik.

47:44

Speaker A

Namun pada tahun 2026 kalender Jawa masih dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat. Kalender digital bahkan menampilkan pasaran bersama tanggal masehi dan hijriah. Senin bukan sekedar Senin.

48:00

Speaker A

Sebuah tanggal dapat sekaligus memiliki keterangan legi, pahing, Pon, Wage, atau Kliwon. Media modern juga masih menerbitkan kalender Jawa lengkap dengan weton dan wuku sebagai rujukan masyarakat yang membutuhkan penanggalan tradisional.

48:19

Speaker A

Perubahan ini memperlihatkan sesuatu yang sebelumnya sulit dibayangkan. Pasaran tidak lagi bergantung pada kertas kalender atau ingatan seorang ahli hitungan. Ia telah masuk ke dunia digital. Seseorang yang tinggal jauh dari kampung halaman leluhurnya tetap dapat mengetahui weton kelahirannya.

48:40

Speaker A

Seorang anak yang tidak pernah belajar menghitung pasaran secara manual dapat menemukan jawabannya melalui teknologi.

48:48

Speaker A

Tetapi kemudahan tersebut juga membawa tanggung jawab. Ketika sebuah tradisi dipindahkan ke layar, ada bahaya bahwa manusia hanya mengenal hasilnya tanpa memahami sejarahnya.

49:01

Speaker A

Mereka mengetahui bahwa dirinya lahir pada Jumat Kliwon, tetapi tidak mengetahui bahwa pancawara merupakan bagian dari sistem waktu [musik] yang jauh lebih tua. Mereka mengenal istilah weton, tetapi tidak memahami hubungan antara siklus 5 hari dan 7 hari.

49:18

Speaker A

Mereka membaca ramalan tetapi tidak membedakan antara kepercayaan tradisional dan fakta yang dapat diuji. Karena itu, masa depan pasaran mungkin tidak ditentukan oleh apakah manusia masih mempercayai seluruh tafsir lama.

49:34

Speaker A

Masa depannya justru bergantung pada apakah generasi baru masih mau mempelajarinya. Kalender Jawa adalah contoh menarik tentang bagaimana sebuah kebudayaan dapat berubah tanpa kehilangan seluruh identitasnya.

49:49

Speaker A

Setelah Sultan Agung melakukan pembaharuan penanggalan pada abad ke-17, unsur pancawara tetap dipertahankan. Kajian mengenai kalender Sultan Agungan mencatat bahwa lima pasaran tetap menjadi bagian dari sistem tersebut.

50:05

Speaker A

Kini berabad-abad kemudian pola itu masih dapat dikenali. Bukan berarti kehidupan modern kembali ke masa lalu. Justru sebaliknya, masa lalu sedang dibawa ke masa depan dengan [musik] cara baru. Seorang peneliti dapat mempelajari pasaran menggunakan matematika. Seorang guru dapat menjadikannya bahan pembelajaran budaya.

50:28

Speaker A

Sebuah keluarga dapat mempertahankan weton sebagai bagian dari identitas. [musik] Dan seorang pembuat konten dapat menceritakan sejarahnya kepada jutaan orang melalui internet.

50:39

Speaker A

Di sinilah perjalanan lima pasaran memperoleh makna baru. Ligi, pahing, Pon, Wage, dan Kliwon tidak harus menjadi benda yang dibekukan di museum.

50:51

Speaker A

Ia dapat terus berubah mengikuti masyarakat yang menggunakannya. Yang harus dijaga adalah batas antara warisan budaya dan klaim faktual. Jika seseorang mempercayai petungan sebagai bagian dari adat, itu merupakan wilayah kebudayaan.

51:08

Speaker A

Namun ketika sebuah ramalan dikatakan sebagai kepastian ilmiah tentang masa depan seseorang, klaim tersebut memerlukan bukti yang berbeda. Memahami perbedaan itu bukan berarti merendahkan tradisi. Justru sebaliknya, dengan memahami sejarahnya secara jernih, kita dapat menghormati sebuah warisan tanpa harus mengubah mitos menjadi fakta. Dan

51:31

Speaker A

mungkin inilah bentuk pelestarian yang paling sesuai untuk zaman kita. bukan sekedar menghafalkan lima nama, bukan sekedar mencari weton kelahiran, tetapi memahami perjalanan panjang yang membuat kelimanya mampu bertahan dari masyarakat Jawa kuno menuju Mataram melewati pembaharuan Sultan Agung, masuk ke dalam

51:53

Speaker A

kehidupan keluarga, kemudian berpindah ke buku, kalender, [musik] dan layar digital. Perjalanannya terus maju sebab waktu tidak pernah berhenti.

52:04

Speaker A

Dan selama manusia masih bertanya tentang hari, pasaran akan selalu memiliki tempat untuk diceritakan. Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwan. Lima nama yang mungkin terlihat sederhana, namun di belakangnya terdapat jejak perdagangan kalender kekuasaan agama matematika, tradisi, dan ingatan manusia. Itulah rahasia terakhirnya.

52:32

Speaker A

Pasaran bertahan karena masa lalu menolak pergi. Pasaran bertahan karena setiap generasi menemukan alasan baru untuk mengingatnya. Dan selama generasi berikutnya masih mau bertanya, kisah lima pasaran Jawa akan terus berjalan menuju masa depan.

52:51

Speaker A

Dan akhirnya kita sampai pada ujung perjalanan lima pasaran Jawa. Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Ternyata bukan sekedar lima nama yang diwariskan dari masa lalu. Di baliknya ada jejak pasar-pasar tradisional.

53:11

Speaker A

sistem penangganan Jawa kuno, pertemuan budaya Hindu Buddha dan Islam, pembaruan kalender pada masa Sultan Agung hingga tradisi weton yang masih dikenal sampai hari ini. Tetapi mungkin rahasia terbesar lima pasaran bukanlah tentang kemampuan meramalkan masa depan.

53:31

Speaker A

Rahasianya adalah tentang ingatan. Sebab selama seorang anak masih bertanya kepada orang tuanya tentang weton kelahirannya, selama sebuah keluarga masih menyimpan kalender Jawa dan selama nama Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon masih disebut, maka sebagian sejarah Jawa masih terus hidup.

53:55

Speaker A

Waktu memang berjalan maju, kerajaan telah berganti. Teknologi telah berubah. Cara manusia menghitung hari pun semakin modern. Tetapi ada warisan yang tidak hilang karena zaman. Ia hanya berganti bentuk. Dan mungkin suatu hari nanti ketika kalian melihat kalender dan menemukan nama Kliwon, Legi, Pahing,

54:19

Speaker A

Pon, atau wage, kalian tidak akan melihatnya sebagai sekebar nama pasaran. Kalian akan melihat jejak panjang manusia Jawa yang selama berabad-abad berusaha memahami satu hal yang tidak bisa dihentikan, waktu.

54:36

Speaker A

Jika kisah ini membuka wawasan kalian tentang sejarah dan budaya Jawa, jangan lupa like, comment, dan subscribe agar tidak ketinggalan kisah sejarah berikutnya. dan tuliskan di kolom komentar pasaran kelahiran kalian apa.

54:51

Speaker A

Siapa tahu dari jawaban sederhana itu kita bisa melihat betapa panjangnya warisan sejarah yang masih hidup di sekitar kita. Sampai bertemu di kisah berikutnya. Karena sejarah bukan hanya tentang apa yang telah berlalu. Sejarah adalah tentang apa yang masih kita

55:10

Speaker A

ingat. Yeah.

Topics: pasaran Jawa weton kalender Jawa Legi Pahing Pon Wage Kliwon Sultan Agung tradisi Jawa

Study this video

- [Flashcards from this video](https://sozai.app/tools/ai-flashcard-generator/?from=transcript&id=80537)
- [Quiz on this video](https://sozai.app/tools/quiz-generator/?from=transcript&id=80537)

Free, made by AI from this transcript. No signup.


---
This is the markdown twin of https://sozai.app/transcript/asal-usul-weton-pasaran-jawa/ — the same content, without the markup.
Published by SozAI (https://sozai.app). Reuse and quotation are allowed with attribution and a link back.
Machine-readable index: https://sozai.app/llms.txt · data API: https://sozai.app/api/
